Minggu, 27 November 2011

Sejuta Langkah dari Kasihmu



WARNING: This is an overdramatical true story. I mean I WROTE THIS FOR A COMPETITION SO I GOTTA MAKE IT AS DRAMATIC AS POSSIBLE 'KAY. Spare me some mercy, I already want to kill myself writing this so please don't mock me (1/2/2014)



“Putri Anda menderita kelainan pertumbuhan tulang.”
“Ti, kaki bayinya bengkok.”
“... Bukan karena ibu yang kekurangan kalsium dalam masa kehamilan. Kadang hal seperti ini memang terjadi di luar perkiraan.”
“Tulangnya masih lunak, mungkin kita dapat melakukan tindakan untuk memperbaikinya, tapi...”
“...ada kemungkinan dia tidak akan bisa berjalan normal...”
.
.
.
~.~
~ . ~ . ~ . ~ .~
Sejuta Langkah dari Kasihmu
Kisah tentang cinta ibu yang mengubah hidup putri kecilnya.
Dipersembahkan untuk Kontes Ibu Tercinta (Please Look after Mom) Gramedia
Copyright © 2011 Reisa Devi Maharani. All Rights Reserved.
~ . ~ . ~ . ~ .~
~ .~
.
.
.
Aku terlahir dengan kaki kiri membengkong ke arah dalam.
Itu membawa kekecewaan besar pada keluarga dari pihak Ayah. Sebagai anak perempuan pertama yang lahir dalam kurun dua setengah dasawarsa, aku diharapkan menjadi bayi cantik jelita. Nona mungil dengan mata besar lucu seperti Bambi dan kulit seputih pualam yang bisa dipamerkan dalam acara keluarga, si imut yang jadi bahan pujian para tetangga. Alih-alih, mereka mendapatkan ini: bayi seberat tiga koma delapan pon yang harus dilindungi inkubator, diletakkan di ruang khusus dengan korden senantiasa tertutup agar orang lain tak mengintip dan berjengit melihat telapak kakiku yang membengkok aneh seperti huruf L terbalik.
Dokter memvonis kemungkinan besar aku tak akan bisa berjalan selayaknya anak-anak lain, dan semua orang menyalahkan Ibu.
Tidak peduli bahwa mereka sesungguhnya ingat bagaimana Ibu merelakan uang belanja kemejanya untuk memesan susu formula ibu hamil yang dulu belum ada di kotaku. Atau bagaimana beliau menggadaikan kalung dan gelang hadiah pernikahan ketika penghasilan Ayah tidak cukup lagi untuk membeli suplai nutrisi untuk calon putrinya. Ibu selalu memberikan yang terbaik untukku bahkan sebelum aku lahir ke dunia, namun jari-jari itu tetap menuding kejam, menuduhnya tidak becus menjaga janin hingga hadirlah ketidaksempurnaan yang disebut Aku.
Para dokter tidak berani melakukan operasi untuk membetulkan susunan tulangku. Usia minimal operasi pada masa itu adalah tiga tahun, dan jika menunggu selama itu, tulangku sudah akan mengeras. Sesaat nampaknya kasusku sudah tak tertolong, dan mereka hanya memberi pertolongan semampunya. Pada usia nol bulan, sementara bayi-bayi lain dibarut dengan kain-kain lucu berwarna pink, kakiku dibarut gips pelurus lunak yang membuat penampilanku seperti boneka versi Korban Kecelakaan. Lagi, semua orang pesimis akan hasil dari perawatan itu, tapi Ibu tetap percaya padaku.
“Aku akan membuat anak ini berjalan dan berlari lebih cepat daripada anak lain! Kalau dokter di kota ini tidak sanggup membantu putriku, aku akan mencari di mana yang sanggup. Dia akan mempunyai kaki yang normal, dan saat besar nanti, kalian akan lupa kalau dia bahkan pernah begini.”
Begitulah yang dikatakan Ibu. Usianya baru dua puluh dua, namun beliau mengutarakan itu dengan berani di depan para dokter dan kedua mertua. Ibu tidak mau disuruh menyerah oleh mereka yang tidak tahu apa-apa tentangku, putri yang telah ia kandung sembilan bulan lamanya. “Aku yakin dia mewarisi semangatku, dan maka aku tahu dia akan mampu sembuh sebagaimana mestinya!” tegas Ibu tiap kali ada yang meragukan tekadnya.
Maka dimulailah perjuangan Ibu mencari kesembuhanku, perjuangan yang merupakan satu dari bukti tak terhitung betapa ia sungguh mengasihiku. Setiap pagi, dikorbankannya waktu sarapan sebelum kerja untuk membawaku jalan-jalan, menikmati sinar matahari pagi bervitamin D untuk menyehatkan tulangku. Siang sepulang kerja; masih dengan baju kantor dan bahkan belum sempat duduk beristirahat, dibawanya aku mengejar angkutan kota ke Rumah Sakit untuk diganti gips dan dipijat oleh dokter. Malam hari, sementara aku pulas dalam boks berkasur khusus untuk mendukung pertumbuhanku, Ibu tak pernah lelah berdoa dan mengaji memohon yang terbaik bagiku.
Biaya perawatanku setiap hari tidak sedikit. Penghasilan Ayah yang baru menjadi PNS selama setahun, jauh dari cukup untuk membiayai pengobatan, biaya kontrol dan penggantian gips, belum lagi susu istimewa penguat tulang yang harus kuminum alih-alih ASI dari ibuku. Demi aku Ibu berkorban luar biasa: hanya makan beras jadah—beras paling murah—yang lembek, kuning, bau, dan di rumah nenek hanya untuk pakan ayam. Mondar-mandir ke luar kota mencari produk susu yang langka; kerja sambilan sebagai pedagang pakaian, seprai, hingga taplak meja. Puncaknya Ibu mengundurkan diri dari pekerjaannya—pekerjaan impian yang ditarget semenjak hari pertama beliau menduduki bangku kuliah. Semua dilakukan demi melihatku terbebas dari masa depan yang sudah dilabelkan padaku, masa depan sebagai anak dengan keterbatasan fisik yang tak mampu berjalan dengan baik apalagi mengikuti maraton sekolah.
Ibu tidak pernah main-main dalam urusan merawatku. Banyak orang menyarankan untuk membawaku ke tempat pengobatan alternatif yang lebih murah, daripada mengunjungi dokter yang mahal dan proses pengobatannya lambat. Namun Ibu tidak pernah mau, kecuali tempat itu sudah mendapat sertifikat resmi dan benar-benar terbukti kemampuannya.
“Anakku bukan bahan percobaan,” katanya selalu, “aku memang mencari cara menyembuhkannya, dan aku tahu maksud kalian baik; tapi aku belum cukup putus asa untuk membiarkan sembarang orang mencoba membantunya.”
Karena sikapnya yang dinilai keras kepala, Ibu semakin sering diremehkan. Ketika anak-anak lain sudah bisa tengkurap dan berguling, aku yang tak bisa menggerakkan sebelah kaki hanya dapat berbaring. Semua menyindir dengan nada satir bahwa keputusan Ibu menuruti dokter malah berbalik merugikanku. Bahkan ada yang tega mengatakan ujung-ujungnya yang cacat bukan hanya kakiku, tapi seluruh tubuhku karena tidak pernah bergerak. Sampai-sampai menakut-nakuti bahwa bayi yang tak pernah bergerak sepertiku otaknya tidak akan berkembang dan menjadi bodoh! Mendengar ini Ibu tentu kesal, tapi beliau mencoba bersabar. Semakin rajin beliau berkonsultasi pada dokter tentang cara mendukung perkembanganku meski dalam kondisi serba terbatas; dibacanya buku-buku cara merawat bayi dengan kebutuhan khusus agar aku tidak hanya sehat, melainkan juga mendapat perlakuan yang benar.
Sampai suatu kali, pada malam menjelang lebaran ketika usiaku enam bulan, Ibu mendengarku menangis keras. Kala itu Ayah tengah ikut takbiran di masjid dan kami hanya berdua, dan Ibu terkejut aku yang biasanya tenang tiba-tiba menjerit-jerit dan menghantam-hantamkan tangan ke kasur boks. Ketika diperiksa, rupanya gips pelurusku telah melorot, membuat telapak kakiku terkunci dalam posisi seperti penari balet.
Saat itu, kata Ibu, ia menghadapi kebimbangan luar biasa. Orang bodoh pun tahu: tidak bijak melepas gips tanpa bantuan ahli medis. Namun mencari bantuan adalah tak mungkin—di malam besar seperti itu dokter tentulah libur, lagipula itu sudah menjelang tengah malam. Tapi di sisi lain, Ibu tak tega melihatku menderita. Tentu aku sungguh kesakitan, sungguh tak nyaman hingga menangis meronta-ronta sampai seluruh wajahku memerah begitu.
Akhirnya, Ibu mengikuti suara hatinya. Diraihnya gunting besar dari laci lemari, dan dibukanya gips lunak yang membalut paha hingga ujung kakiku dengan hati-hati sembari terus berdoa.
“Ya Allah, jadikanlah keputusanku ini yang terbaik bagi putriku. Lindungilah dia, Ya Allah, jangan biarkan perjuangannya sia-sia...”
Ketika akhirnya gips itu terbuka, menampakkan kakiku yang pucat tak pernah terkena sinar mentari; Ibu menciumnya penuh sayang; kemudian mengolesinya dengan sedikit minyak kayu putih dan memijit-mijit lembut, seperti yang dilakukan para dokter setiap hari. Lalu dihabiskannya sepanjang malam memegangi telapak kakiku dalam posisi yang benar, menggantikan tugas gips pelurusku; sembari menyanyikan lagu nina bobo pada aku yang gelisah dan rewel oleh hilangnya beban familiar di kakiku.
Pagi harinya, hal pertama yang ia lakukan adalah melarikanku ke Rumah Sakit. Beruntung, dokterku mau dipanggil meski saat itu harusnya beliau tengah menikmati santap lebaran bersama keluarga. Ibu sudah siap ditegur oleh Dokter karena bertindak gegabah, namun rupanya beliau justru dipuji. Ternyata, kalau tidak segera ditangani gips itu akan menegangkan otot-otot kakiku. Aku bisa terkilir, atau lebih parah, susunan tulangku bisa goyah dan makin tidak karuan. Keberanian Ibu mengambil keputusan dan pengorbanannya menegakkan kakiku sepanjang malam telah menyelamatkanku.
Pada tanggal 13 Juni 1993; tepat setahun sejak aku pertama kali dijatuhi vonis pesimistik dan banyak anggota keluarga lain mengerutkan kening melihat kondisiku, gips pelurus terakhirku dilepas. Aku mendapatkan kaki yang lurus dan normal sebagai hadiah ulangtahun, yang pada saat itu tak begitu kumengerti apa pentingnya namun sekarang tak pernah berhenti kusyukuri. Ayah membelikanku sepatu pertama, sepatu lucu berwarna kuning cerah dengan hiasan bunga matahari besar, dan memakaikannya tepat setelah gips-ku dilepas. Para dokter dan perawat bertepuk tangan untukku, dan sampai sekarang foto momen itu masih dipajang di lemari kaca keluarga. Dua bulan kemudian aku sudah bisa berlari dan berputar memamerkan rokku yang mengembang, sementara beberapa teman sepermainanku masih menjalani tahap dititah alias belajar berjalan. Tidak ada lagi yang memandangku dengan kasihan. Semua memanggilku Etha Si Anak Ajaib, panggilan sayang yang masih melekat padaku sampai sekarang.
Begitulah cinta dan keteguhan ibuku, mengubah hidupku seutuhnya. Seandainya dulu beliau menyerah oleh vonis dokter dan membiarkanku tumbuh apa adanya; aku tak mungkin menjadi seperti sekarang—seorang remaja normal yang berkuliah di Sekolah Tinggi yang menuntut kesempurnaan fisik, dan pernah menjuarai lomba estafet berkelompok dalam PORDA. Aku memang masih terlalu kecil untuk mengingat usaha keras ibuku dulu; yang membuatku percaya kisah itu benar-benar nyata hanyalah kumpulan foto kenangan dalam album. Namun untuk setiap langkah yang kuambil, setiap jalan yang kulalui sambil berlari; aku diingatkan. Ada jerih payah Ibu di sana. Ada malam-malam berhias doa, ada pijatan-pijatan sayang, ada kepercayaan bahwa aku pasti mampu melakukan yang terbaik meski semua orang berhenti percaya.
Ibuku adalah orang yang selalu mempertahankan apa yang menurutnya benar, dan beliau mendidik aku dan adikku seperti itu. Dengarkanlah suara hatimu karena suara orang lain belum tentu sejalan dengan caramu. Dengan gigih dihadapinya cobaan, dikalahkannya keputusasaan dengan satu hal: cinta tanpa batas seorang ibu, cahaya matahari dan tanah berpijak bagi putrinya. Setiap ayunan langkahku, kuperoleh dari kasihnya yang tak terhingga, dan aku percaya bahwa itu akan membimbingku ke jalan yang benar.
.
.
.

.
.
.
“A mother's love for her child is like nothing else in the world.
It knows no law, no pity; it dares all things and crushes down remorselessly all that stands in its path.”
~ Agatha Christie

0 komentar :

Posting Komentar