MIRROR IMAGE
Summary: Alec and Ben McDowell became orphan at the age of eight. Went straight to adoption, both boys were forced to get separated.
Eight years later, with the help of a friend, Alec, a freshman student of Juilliard reunited with brother Ben, a shy baseball player from an un-mapped small town.
And the adventure begins...
Character:
Jensen Ackles: Dean Winchester, Alec Winchester, Ben Anderson (benar, saya pake ketiga karakter Jensen. Bunuh saya sekarang)
Jared Padalecki: Sam Winchester
Samantha Smith: Mary Winchester
Jeffrey Morgan: John Winchester
Meghan Ory: Rachel Berrisford
Adrianne Palicki: Jessica Berrisford
Cindy Sampson: Lisa Braeden
Emmanuelle Vaugier: Madison 'Maddie' Mulligan
Alec dan Ben McDowell menjadi anak yatim di usia delapan tahun tiga bulan.
Ayah mereka meninggal setelah tiga bulan dirawat di Rumah Sakit, ketika ginjalnya yang bermasalah akhirnya tak lagi berfungsi. Alec dan Ben tak sempat mengucapkan selamat tinggal, tidak duduk di kamar pasien bersama ibu mereka, menunggu pria yang dicintainya menghembuskan nafas terakhir. Begitu dalam rasa cintanya hingga ia tak sanggup menelepon ke rumah, menyampaikan berita duka pada dua putra kecilnya, yang amat mirip dengan sang almarhum suami, membuat hatinya makin sakit hanya dengan mengingat wajah polos mereka.
Seorang petugas Rumah Sakitlah yang akhirnya mengetuk pintu rumah keluarga McDowell di pagi buta, memberitahu si pengasuh untuk menyiapkan pakaian berkabung bagi kedua anak yang diasuhnya. Pengasuh itu, seorang wanita tua berdarah Spanyol, turut menangis. Akan jadi apa kedua anak asuhnya nanti? Alec dan Ben anak yang cemerlang, semua tahu itu. Mereka mewarisi bakat musik dari sang ibu, seorang pianis di masa mudanya, dan ketekunan sang ayah dalam mendidik membuat prestasi keduanya menonjol di usia sangat belia. Bahkan saat ayah mereka di Rumah Sakit pun, Alec dan Ben tetap tekun berlatih musik, Alec memainkan piano dan Ben memegang biola. Si pengasuh juga tahu, hanya satu lagu yang terus menerus mereka ulang, disempurnakan melodinya. Lagu karangan sang ayah. Lagu yang ingin mereka mainkan untuk menyambut kepulangannya. Lagu yang tak pernah dipersembahkan.
Rumah keluarga McDowell masih penuh dengan musik setelah itu, Mrs McDowell-lah yang meneruskan tugas suaminya. Nada-nada klasik berkumandang merdu setiap hari, suara piano dan biola, dan terkadang vokal sang ibu menyatu dalam harmoni. Hanya saja jika kau mendengarnya lebih seksama, musik itu kehilangan sedikit warna, suatu formula yang tadinya telah begitu melekat hingga kau tidak menyadari keberadaannya hingga bagian itu menghilang. Bagian yang lenyap bersama dengan hilangnya satu anggota orkes mungil itu.
Dan Mrs McDowell akhirnya merasakan kehilangan dalam harmoni kehidupannya juga, perasaan itu terus dan terus memakannya hingga di suatu hari yang cerah di pertengahan musim semi, lima bulan tiga hari setelah pemakaman suaminya, sebuah ambulans datang untuk mengangkat jenasahnya yang tergantung menyedihkan di langit-langit kamar tidur, seperti boneka tali yang ditinggalkan pemainnya. Kalau ada satu hal yang bisa dibilang baik dalam situasi ini, adalah fakta bahwa bukan Alec atau Ben yang menemukannya, melainkan seorang pembantu rumah tangga.
Alec dan Ben McDowell menjadi yatim piatu di usia delapan tahun, delapan bulan, dan tiga hari.
Mereka dikirim ke Panti Asuhan segera setelah pemakaman, dan memulai sesi dengan beberapa petugas sosial hingga akhirnya menemukan orangtua asuh.
Keduanya akan mendapat Mom dan Dad baru, orangtua yang akan membesarkan mereka dan mendukung cita-cita mereka menjadi musisi. Orang yang akan membiayai sekolah, memberi mereka rumah, memberi mereka kasih sayang seperti dulu lagi, sebelum Dad pergi dan Mom menyusul.
Hanya ada satu masalah: ada dua orang ayah dan dua orang ibu dan dua negara bagian dan dua orang anak. Dan semuanya harus dibagi rata.
* * * * *
8 tahun kemudian
“Jangan yang ini. Terlalu mencolok, kau tahu, aku ingin warna matanya yang menonjol, bukan warna kemejanya. Bisa kau bawakan yang lain?” Mary Winchester bertanya pada pramuniaga yang membawakan setumpuk kemeja.
“Bagaimana kalau kelabu-biru? Warna pastel, tapi tidak terlalu feminin,” saran si pramuniaga bersemangat. Biasanya ia tidak suka melayani pelanggan cerewet seperti ini, tapi anak wanita itu demikian tampan hingga ia ingin mereka berlama-lama di tokonya.
“Atau mungkin putih polos? Apa akan terlihat formal?”
“Tidak jika Anda menambahkan dasi berwarna cerah, merah misalnya?”
“ Dan mungkin blazer yang sesuai....”
“Mom, aku capek nih,” sela Alec, memotong diskusi asyik keduanya. Dua wanita itu menoleh. Alec berdiri di depan cermin, ekspresi kesal kentara di wajahnya. Ia telah menghabiskan satu jam terakhir bergonta-ganti sandangan, dari sweater sampai kemeja, dan berputar-putar di depan cermin seperti balerina bodoh tanpa tutu, mengikuti keinginan ibunya. Memang baju macam apa sih yang diinginkan Mom?
“Tunggu sebentar sayang, kita kan belum menemukan baju yang cocok untukmu,” jawab Mary, mendekat untuk merapikan rambut Alec yang berantakan saking seringnya ganti baju.
“Toh tidak ada yang memerhatikan,” gumam Alec pelan, tapi tidak cukup pelan hingga Mary masih bisa mendengarnya.
“Semua orang akan terpesona dengan permainan pianomu, aku tahu, tapi penampilan juga penting, ” kata Mary. “Bisa kau bawakan kemeja-kemeja itu?” sambungnya pada si pramuniaga yang tengah melipat kemeja-kemeja korban keselektifan pelanggannya. Segera setelah pramuniaga itu pergi, Mary mencubit pipi putranya, gemas. “Aku ingin semua orang melihat betapa manisnya kamu.”
Kuping Alec memerah. Di sinilah dia, seorang remaja cowok yang sebentar lagi genap enam belas tahun, berdiri dalam Ruang Pas sebuah butik beraroma melati, mengepas kemeja untuk pertandingan pianonya bersama seorang ibu yang masih mencubit pipinya dan menyebutnya manis. Pantas saja Dean dan Sam memanggilnya Bayi.
“Ini bukan pertama kalinya aku ikut pertandingan,” desah Alec.
“Tapi ini berbeda sayang. Ini pertandingan bergengsi.” Mary membantu putranya melepas blazer hitam kaku yang dipakainya. “Pertandingan yang akan membawamu ke Juilliard.”
Alec menghela nafas. Sebenarnya ia ingin menjawab, Dean dan Sam juga sering ikut kompetensi bergengsi tapi mereka tidak diperlakukan seperti Barbie, tapi tidak jadi. Dia paling tidak suka membuat Mom sedih, dan lebih daripada itu, ia tidak ingin keluarganya tahu bahwa sekarang ia tak lagi berminat dengan Juilliard, sekolah seni terkemuka di Amerika. Keluarganya telah menghabiskan banyak waktu, dukungan, dan uang untuk terus mendukung bakat musiknya, dan meraih beasiswa itu adalah satu-satunya cara untuk membalas budi – walaupun John dan Mary Winchester tidak mencari balas budi dari anak asuh mereka – tapi ada sesuatu yang disebut dengan ‘tahu diri’. Alec ingin membuat orangtuanya merasa berhasil mendidiknya. Masalah ia suka atau tidak, yah, dia sudah lama belajar untuk menyukai apa yang HARUS dilakukannya.
“Oww, coba lihat siapa yang sedang mematut diri di depan cermin?”
“Apa Anda sudah menemukan gaun yang cocok, Putri Aleciana?”
Alec menoleh pada dua orang yang menggodanya. Siapa lagi kalau bukan abangnya, Sam, dan pacarnya, Maddie. Keduanya tergelak menertawakan sambil menunjuk-nunjuk Alec dari balik kaca display, seperti anak kecil menonton pertunjukan lucu di pameran. Ditambah lagi, mereka berdua – yang baru pulang kencan dan menunggui Alec dan Mary – masih membawa popcorn sisa dari bioskop. Lengkap sudah, Alec benar-benar merasa seperti gajah konyol di pentas sirkus.
“Anak-anak, jangan iseng!” tegur Mary sambil kembali menyeleksi setidaknya selusin setelan baru yang dibawa si pramuniaga.
“Sori Mom, cuma memastikan tidak ada monster dalam lemari ganti yang mengganggu adik kecilku,” cengir Sam, disambung high-five dengan Maddie.
“Minggat sana,” gumam Alec dongkol.
“Alec, bahasamu,” tegur Mary. “Ayo, coba kemeja yang satu ini. Pakai dasinya sekalian, ya,” lanjutnya, menyodorkan sepotong kemeja putih garis-garis dan dasi merah.
Alec memutar bola mata. Ini akan jadi hari yang sangaaat panjang.
* * *
“Oi Ben, pacarmu nunggu tuh!” teriak Dany ketika memasuki ruang ganti Tim Baseball.
“Untuk keseribu kalinya kukatakan, dia bukan pacarku,” Ben, yang baru saja selesai mandi, balas berteriak sambil menghanduki rambutnya yang basah.
“Oh yeah, dia cuma musuh masa kecil....” sahut Cormac,
“.... yang akhirnya jadi sahabatmu gara-gara kalian bareng di Klub Musik,” sambung Josh, saudara-lain-ibu Cormac. Keduanya lalu saling menjedutkan kepala, gaya toss nyentrik yang mereka lakukan untuk tampil beda. Yah, tanpa adu kepala begitu pun mereka sudah kelihatan beda, kok, dengan rambut merah mencolok itu. Merekanya saja yang aneh, pikir Ben.
“Serius, aku masih tak habis pikir bagaimana dulu kau memutuskan bergabung di klub itu,” kata Greg, yang lokernya persis di samping Ben. “Maksudku, itu kan Klub anak kuper – Boleh pinjam aftershave-mu? Trims,” sambungnya, menyabet botol dari loker rekannya.
“Yeah, bayangkan anak cowok main piano dan biola. Si Ceking McTwain itu malah main flute! Banci banget,” dengus Dany mengejek. Tawa meledak di ruang sempit itu.
Telinga Ben memerah, ia mencengkeram handuknya erat-erat untuk menenangkan diri. Sudah satu setengah tahun sejak ia bergabung di Klub Baseball, mengikuti harapan ayah angkatnya, dan masih saja belum terbiasa mendengar mantan klubnya dihina. Bermain biola sama sekali bukan banci. Itu membutuhkan bakat, kesabaran, ketekunan, dan jiwa, tidak seperti baseball yang asal kau mau berlari sepuluh kilometer tiap hari dan bergulat dalam lumpur lama-lama juga bisa. Bermain musik tidak hanya pakai otot, tapi juga perasaan. Dan Ben terpaksa menumpulkan perasaannya yang peka, yang susah payah diasah kedua orangtua kandungnya, demi menyenangkan hati orang yang mengasuhnya sekarang.
“Tapi aku senang kau sekarang sadar, Benny Boy,” lanjut Dany lagi, menepuk-nepuk bahunya. “Cowok sejati ya harus seperti kita ini. Ingat, cewek suka cowok perkasa.” Ia menunjukkan otot lengannya yang berbonggol-bonggol, diiringi sorak setuju anggota timnya.
Cowok perkasa yang dungu, batin Ben, tapi alih-alih menyuarakannya ia memaksakan senyum dan berkata, “yeah. Aku beruntung punya teman seperti kalian, yang menarikku dari Masa Kegelapan.” Sungguh aneh bahwa kata-kata yang kau keluarkan bisa menyakiti hatimu sendiri, tapi itulah yang dirasakan Ben. Apalagi ketika tawa teman-temannya kembali menggelegar atas komentarnya yang dianggap lucu. Ia jadi merasa malu atas dirinya sendiri, menghina obsesi almarhum ayahnya seperti itu. Andai Alec mendengarnya, ia pasti kecewa.
Tak lama kemudian, yang serasa bagai berjam-jam bagi Ben yang terpaksa menyimak cemooh kawan-kawannya, cowok itu keluar dari Ruang Ganti. Di podium lapangan tampak seorang cewek berambut ikal tebal tengah membaca sejilid partitur, jari-jarinya yang panjang ramping bergerak tanpa sadar, memainkan piano imajiner di bangku podium.
“Rachel!” panggil Ben, berlari mendekat.
Cewek itu menengadah dan tersenyum lebar. Buru-buru ia bangkit berdiri. “Hei. Bagaimana latihanmu?” tanyanya ketika Ben sudah menjajarinya. Mereka berjalan beriringan keluar lapangan.
“Yah, Pelatih Brooke cuma berteriak beberapa kali, dan hanya ada satu hidung berdarah – untung saja bukan hidungku – jadi bisa dibilang, latihan ini lumayan,” jawab Ben. Ia menunjuk jilidan partitur yang masih dipegang sahabatnya. “Materi baru?”
“Uh-huh. Ini materi untuk Pentas Akhir Tahun.”
“Pentas akhir tahun? Kita baru mau libur musim panas.”
“Yeah, Madam Lane ingin persiapan kami benar-benar matang. Katanya Pentas tahun depan bakal lebih meriah, jadi konser musik pun harus lebih megah.”
“Pasti asyik banget,” ujar Ben, nada iri tanpa sengaja menyelimuti kata-katanya.
“Kau tahu, kau masih bisa bergabung dengan kami,” kata Rachel, menyadari kesedihan temannya.
“Yeah, dan mengecewakan Dad? Jadi cadangan saja tidak cukup bagus baginya, apalagi kalau aku sampai keluar dari Tim.”
“Kau bisa ikut keduanya!”
“Dan dimusuhi keduanya. Kau tahu bagaimana Tim Baseball memperlakukan anak-anak Musik dan bagaimana anak-anak Musik mengutuk mereka. Kalau aku bergabung di keduanya, aku enggak bakal punya teman lagi sepanjang SMA.”
“Kau selalu punya aku,” cengir Rachel, menonjok lengan Ben.
“Kau tidak dihitung,” balas Ben, menjambak rambut Rachel. Cewek itu menjerit dan tertawa, lalu memukul sahabatnya dengan partitur.
“Jadi,” engah Ben, setelah mereka capek saling menggoda satu sama lain, “apa rencanamu untuk liburan ini?”
“Uh, aku akan ke Juilliard,” jawab Rachel agak rikuh. Sebenarnya dia tidak ingin mengungkit-ungkit tentang musik lebih jauh, tapi persahabatannya dengan Ben telah mencapai taraf saling-jujur-apapun-yang-terjadi.
“Mmm, kudengar mereka akan mengadakan pertandingan besar memperebutkan bangku kuliah,” komentar Ben, berusaha agar nada suaranya ringan. “Apa kau mau ikut pertandingan itu?”
“Tidak, tentu saja tidak!” tukas cewek itu buru-buru. Hal terakhir yang diinginkannya adalah Ben cemburu padanya. “Aku akan menonton Jess. Dia menjadi salah satu pembuka acara itu.” Jess adalah kakak Rachel yang berhasil menembus sekolah seni itu tahun lalu.
“Oh.”
“Yeah.”
“Itu bagus. Maksudku, Jess. Dia benar-benar hebat.”
“Benar.” Rachel berdeham untuk menghilangkan kecanggungan. “Katanya ada taman bermain baru, cuma tiga jam dari sini. Bagaimana kalau liburan ini kita coba ke sana?”
“Kayaknya asyik,” senyum Ben. Sekali lagi ia merasa beruntung punya sahabat sepengertian Rachel. “Jadi... kapan kira-kira kita berangkat?”
* * *
Dean Winchester mengotak-atik kerangka robot buatannya, mata hazelnya menyipit penuh konsentrasi. Peluh mengalir di keningnya ketika ia berusaha memasang sekrup berdiameter nol koma dua milimeter dalam tubuh robot berbentuk lumba-lumba itu. Inilah bagian tersulit. Satu kesalahan saja dan ia harus mengulang dari tahap awal....
“Dean, di sini kau rupanya!” suara menggelegar diiringi bantingan pintu mengejutkan cowok itu. Ia terlonjak, sekrup jatuh ke lantai, menghilang di antara tumpukan alat mekanik.
“Sialan Herb, kau nyaris menggagalkan karya besarku!” serapah Dean, melempar teman satu apartemennya itu dengan kain bernoda oli.
Yang dimarahi cuma mengibaskan tangan tak peduli. “Ah, sudahlah. Seperti kau sudah kepepet saja. Kau harusnya menyelesaikan proyek Dolphie itu...”
“DLP-19.”
“Yeah, oke. Proyek DLP-19 itu di tahun terakhir kuliah, bukan hari terakhir tahun ketiga. Kau masih punya tujuh ratus hari lagi, Bung.” Ia lalu mengangkat tangan yang satu lagi, menunjukkan bungkus kertas fast food. “Sekarang berhentilah bercinta dengan lumba-lumba artifisialmu dan makan burger. Aku sudah mintakan bawang ekstra untukmu.”
Dean mendumal tak jelas, tapi toh mengikuti ajakan temannya. Mereka duduk berhadap-hadapan di meja makan kecil yang sengaja disiapkan pihak universitas bagi mahasiswa yang lembur di bengkel. Herb membawa cukup makanan untuk disantap enam orang, agaknya ia memutuskan untuk menghabiskan sisa uang sakunya sebelum libur musim panas.
“Kau mau pulang, atau melanjutkan si Dolphie?” tanya Herb, meraup satu genggam kentang goreng dan menjejalkan langsung ke mulutnya. Ia jadi terlihat seperti cacing penghisap.
“DLP-19. Tentu saja pulang. Mom bakal menjemputku dengan konvoi polisi kalau aku tidak setor muka. Dia bakal mengira aku dimutilasi mantan pacarku atau apa,” jawab Dean, mengunyah hamburger dengan cara yang sama menjijikannya dengan Herb. “Kau?”
“Akan jadi tukang bersih-bersih sepanjang liburan. Mom dan Dad mau ke Texas mengunjungi nenekku.” Herb bergidik. “Aku sudah bisa mendengarnya berteriak-teriak menyuruhku ‘merapikan’ kandang kudanya. Ugh.”
“Selamat berjuang saja, kalau begitu,” kekeh Dean.
“Ah, tapi di sana aku bisa ketemu Carol.” Herb mendesahkan nama cewek itu seolah itu adalah nama terindah di dunia.
“Buset, kau masih naksir idola masa SMP-mu?”
“Tak akan pernah bosan,” sahut Herb sok puitis, “dia semakin cantik saja setiap kali aku melihatnya. Rambut coklat puding itu, mata besar itu, oh, dan dia seksi banget kalau lagi berkuda....” wajahnya berseri-seri, seakan matahari Texas tiba-tiba berpindah ke atas kepalanya dan menyinarinya. Dean hanya mendengus.
Mereka ngobrol kesana kemari selama satu jam selanjutnya, mulai dari Dolphie yang telah dioperasi tiga kali, robot Herb yang bahkan belum dikumpulkan bahan-bahannya, pertandingan sepakbola, dan hal-hal tidak bermutu lain yang langsung terlupakan begitu selesai dibahas. Mereka juga membahas Carol lagi, demi kesenangan Herb, dan ketika Dean menertawakan sikap mabuk cinta sahabatnya, ia jadi mangkel.
“Memang bagaimana denganmu?” cetusnya agak galak.
“Bagaimana denganku?”
“Jangan pura-pura blo’on deh. Kau dan Lisa. Bagaimana dengan kalian?”
“Biasa saja,” kata Dean, mengangkat bahu. “Akhir-akhir ini dia sibuk ikut Klub Yoga.”
“Aku heran bagaimana kalian bisa mempertahankan hubungan macam itu.”
“Hubungan macam apa?”
“Pacaran tanpa kencan, dan aku bahkan tidak melihatmu jalan bareng dia sebulan ini. Kau tidak takut dia diambil orang?”
Dean mendengus tertawa. “Percaya deh, aku satu-satunya cowok yang tahan dengan sikapnya. Dan bukannya tidak mau, kami cuma tidak sempat kencan.”
“Yeah, kau terlalu sibuk menggerayangi Dolphie dan dia sibuk berlarian kesana kemari mencari berita. Pasangan gila kerja. Kalian bakal serasi seumur hidup,” sindir Herb.
“Jangan sinis begitu dong. Kami sudah merencanakan kencan yang oke liburan ini.”
“Taruhan, pasti berhubungan dengan teater, atau gaun dan tuksedo.” Herb bergidik lagi. Ia lalu mengambil ayam goreng terakhir dari wadah kardus sebelum si lawan makan sempat meliriknya.
“Tidak, kami kapok nonton teater. Tapi memang ada hubungannya dengan gaun dan tuksedo. Kami mau nonton pertandingan pianonya Alec, di Juilliard,” ujar Dean antusias. Bukan rahasia lagi kalau ia sangat bangga pada adik bungsunya itu.
“Oh, bunuh aku sekarang,” erang Herb.
Dean terkekeh sambil geleng-geleng kepala. “Kau bilang begitu karena belum pernah dengar permainannya. Man, dia itu anak ajaib,” ujarnya sambil membereskan bungkus-bungkus makanan dan membuangnya ke tempat sampah.
“Terserah kau sajalah. Kurasa sekarang waktunya pergi,” kata Herb, berjalan ke pintu. Sebelum keluar ia menoleh pada sobatnya yang sudah mulai merakit mahakaryanya lagi. “Jangan kemalaman, Deano. Katanya kalau malam di sini ada hantu Terminator. Boo-hoo!”
“Enyahlah.”
“Aku sudah mengingatkan, lho.” Dan dengan seringai terakhir, ia menutup pintu.
* * *
Sebuah mobil Honda hibrid silver meluncur mulus di jalan aspal yang panas, mengitari sebuah lapangan rumput luas di mana sekelompok anak laki-laki bermain baseball dan anak-anak cewek duduk-duduk di bangku, makan es krim atau berteriak menyemangati pacar mereka. Alec melirik dari balik kaca mobil itu dengan iri. Mereka baru saja selesai belanja (Alec tidak bisa percaya semua tas di bagasi belakang itu berisi baju barunya) dan mengantar Maddie pulang, dan entah sengaja atau tidak, Sam membawa mobilnya melintasi lapangan itu. Kelihatannya sih, dia sengaja, agar adiknya tergoda pada permainan anak-anak itu. Dan dia berhasil. Alec mengalihkan pandang ke ibunya di jok penumpang depan.
“Mom....”
“Tidak, Alec.”
“Aku belum bilang apa-apa!”
“Kau ingin ikutan main baseball. Seperapa sulit sih, untuk menebak itu?”
“Seberapa sulit sih, untuk mengizinkanku main?”
“Kau bisa mematahkan tanganmu, Alec.”
“Kemungkinannya satu banding sejuta.”
“Yeah, dan kau cukup beruntung sudah mengalaminya dua kali,” Mary menginterjeksikan kata ‘dua kali’ sedemikian rupa sampai-sampai Sam tertawa.
“Yeah, dan sangat beruntung karena kau juga pernah meretakkan kakimu. Aku masih menunggu berita kau gegar otak gara-gara kena bola, jujur saja,” cemooh Sam, mematuhi kodratnya sebagai kakak laki-laki brengsek.
“Kau diam saja deh,” rutuk Alec, menendang bagian belakang jok kakaknya.
“Alec!”
“Sam mulai duluan, Mom.”
“Tuh kan, makanya aku ingin kau gegar otak, biar enggak jadi tukang ngadu....”
“Sam!”
“Memang kenyataannya begitu, kok,” jawab Sam, mengangkat bahu.
“Kalian berdua membuatku sakit kepala,” keluh Mary, memijit-mijit keningnya.
“Aku tidak akan ribut kalau Mom mengizinkanku keluar dan main baseball. Satu ronde saja. Please?” Alec bisa dibilang merengek.
“Tidak. Pertandinganmu empat hari lagi, Alec. Jaga tanganmu baik-baik.”
“Please? Please please please please?”
“Alec...”
“ Pleasepleasepleasepleasepleasepleasepleaseplease....”
“Oke, oke!” Mary menggerakkan tangannya seolah frustasi. Dia harus menghentikan rentetan permohonan itu atau tekanan darahnya bakal naik. Dan dokter bilang dia harus menjaga agar tekanan darahnya tetap stabil kalau mau hidup lama. “Kau boleh main. Tapi hati-hati, oke? Dan ingat janjimu, cuma satu ronde.”
“Thanks Mom!” seru Alec gembira, memeluk ibunya dari belakang. Ia langsung melompat keluar sebelum mobil benar-benar berhenti, membuat Mary berteriak-teriak khawatir, tapi ia tak peduli. Biar Sam yang meladeni ocehan Mom. Ia berlari menyongsong teman-teman dan olahraga yang amat disukainya. Oke, mungkin dia adalah pianis keluarga dan tangannya sama berharganya dengan nyawa, tapi hei, bahkan si jenius musik pun butuh bersenang-senang, kan?
TBC
Rabu, 07 Juli 2010
Label:
Alec
,
AU
,
Ben
,
Dark Angel
,
Dean
,
Fanfiction
,
Sam
,
Supernatural
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
0 komentar :
Posting Komentar