Senin, 23 Agustus 2010

SEASON IN THE SUN CHAPTER 1


DISCLAIMER: Characters aren’t mine. Same old, same old.
SUMMARY: Follow Alec and Ben's adventure to sail around the world!



Keluarga besar Winchester telah bersahabat dengan laut sejak buyut dari kakek mereka, begitulah cerita yang beredar di antara penduduk kota.

Semua orang tahu tentang keluarga bermata zamrud itu. Mereka menjadi semacam ikon, legenda di kota pelabuhan kecil yang tak pernah banyak menarik wisatawan bahkan di musim liburan terpanjang sekalipun. Keluarga Winchester tersohor dengan anggota-anggotanya yang pemberani. Dari Bruce Winchester, sang kapten kapal yang konon pernah menaklukan bajak laut Pasifik; sampai Hannah, John, dan Luke, tiga keturunan Bruce yang memiliki perusahaan kapal dagang HJL Corp. Jika keluarga lain menuang whisky berumur seratus tahun sebagai perayaan dewasanya anak-anak mereka, para Winchester menandainya dengan mengirim anak-anak itu berlayar mengarungi samudera. Bahkan Jessica, salah satu gadis kebanggaan keluarga, sukses memperoleh gelar sebagai circumnavigator – pelaut yang berlayar keliling dunia – wanita termuda di ulangtahun keenambelasnya. Darah pelaut tak pernah pudar dari nadi mereka.

Kali ini, keluarga besar merangkap Tim Pendukung Perjalanan yang terdiri dari dua puluh tiga orang termasuk para menantu itu tengah berdiri di pinggir pelabuhan Del Rey, California. Masing-masing bergiliran mengucapkan salam selamat jalan bagi sepasang remaja yang tak henti-hentinya tersenyum lebar. Alec dan Ben, pria termuda dalam klan Winchester saat ini, akan memulai perjalanan mereka keliling dunia meneruskan tradisi keluarga.

“Selamat jalan, Kembar,” kata Rachel, adik pertama Jess. Gadis itu sempat merajuk ketika mendengar kedua saudaranya yang hanya lebih tua dua tahun akan pergi berpetualang, sementara dia sendiri masih dianggap terlalu muda. Dia berhenti bicara pada semua orang selama hampir sebulan; sampai akhirnya orangtuanya menyerah dan mengizinkannya ikut Jess berlayar ke Eropa. Tidak bisa dibandingkan dengan jarak yang akan ditempuh si kembar, tapi dari cara Rachel memeluk mereka sekarang, tampaknya gadis itu sudah cukup puas. “Jangan sampai nyasar, ya,” lanjutnya sambil menyeringai.

“Kalau ada aku, sih, enggak mungkin nyasar,” jawab Ben percaya diri, “kalau Alec sendirian, baru deh, kalian harus khawatir.”

“Idih, baru dikasih Pearl Wings saja pedenya selangit,” cetus Alec kesal.

“Bilang saja kau iri karena enggak memegang perahu legenda kita,” seringai Ben setengah bercanda setengah congkak.

Alec memutar bola mata. Dia tidak mengakui, tapi jauh dalam hati menyadari kebenaran kata-kata Ben. Dia iri, bahkan hampir dengki, ketika Dad menunjuk kembarannya sebagai navigator Pearl Wings. Itu adalah perahu layar kesayangan keluarga Winchester. Dengan panjang lima belas meter, berwarna putih keabu-abuan bagai mutiara dan dua layar seputih salju, Pearl tampak sangat mencolok di tengah birunya lautan. Perahu itu jugalah yang telah menemani Dean, kakak sulung mereka, dalam perjalanan solonya mengitari dunia.

“Enggak masalah kau membawa perahu mana, yang penting adalah bagaimana kau mengendalikannya,” bela Sam yang berdiri tak jauh di belakang mereka. Dulu dia juga tidak boleh membawa Pearl Wings, mendapat perahu mungil sepanjang sebelas meter sebagai gantinya, jadi dia juga agak sensitif kalau mendengar Ben berbangga-bangga.

“Dan itu membuktikan kalau aku lebih cakap. Enggak semua orang bisa menavigasi Pearl, dengan berat dan panjangnya itu,” dengus Ben, “kalau kau tidak bisa mengatur keseimbangan layarnya, dia bisa terbalik.”

“Semua perahu juga begitu kali,” gumam Alec jengah. Dia paling malas kalau Ben sudah mulai menyombong – terutama karena yang disombongkannya bukan omong kosong. Ia memang selalu selangkah lebih maju daripada Alec, dari teori dasar sampai praktek lapangan.

“Tapi menavigasi Dusan juga butuh kelincahan. Perahu kecil artinya mudah terpengaruh ombak, hanya yang berpengalaman yang bisa mempertahankan jalurnya.”

Mereka menoleh ke si pemilik suara. Rupanya Dean, yang baru saja turun dari Dusan The Red Hawk – perahu merah milik Alec – sambil menggendong Seara, putri kecilnya. Balita itu menggeliat-geliut usil dalam pelukan sang ayah, mengangkat tangan mungilnya ke arah Lisa, ibunya, yang masih di atas perahu mengecek ransum.

“Sebentar, manis, sebentar lagi Mommy turun,” kata Dean, membetulkan posisi Seara yang melorot. Ia lalu tersenyum pada Alec. “Dusan perahu yang hebat. Kau beruntung bisa mendapatkannya.”

“Yeah,” jawab Alec, tersenyum masam. Dia tahu Dean cuma berusaha menghibur, karena siapa sih, yang akan melirik Dusan, perahu mini macam kutu busuk (bahkan nol koma empat meter lebih pendek dari perahu Sam!) kalau ada Pearl Wings berjalan gagah di depannya, memimpin laiknya kapten besar? Tapi dia sedikit senang dengan fakta bahwa Dean dan istrinya memilih menjadi pengecek perahu Alec daripada Pearl Wings.

Tak beberapa lama, Lisa bergabung dengan mereka, disusul Mary dan John yang baru selesai mengecek Pearl. Setelah yakin kondisi kedua perahu memadai, termasuk ransum untuk delapan bulan, alat komunikasi, dan peralatan medis, kini waktunya melakukan konferensi pers kecil-kecilan yang (terpaksa) diadakan keluarga mereka karena berita tentang cowok kembar berencana menaklukan lautan tiba-tiba tersebar di internet. Sisi baiknya, mereka mendapat sponsor tanpa kesulitan. Sisi buruknya, mereka harus terus menjaga imej.

“Boleh kami mengambil foto untuk NY Times?” tanya seorang wartawan wanita dengan potongan pembawa acara gosip.

“Uh, tentu,” ujar Alec, yang sebenarnya tak perlu. Wartawan itu sudah menggeret lengannya bahkan sebelum cowok itu menjawab, agar ia bersanding dengan Ben di samping (tentu saja) Pearl Wings. Bahkan Dusan tidak cukup gagah untuk dipajang di halaman koran.

Setelah itu acara foto-foto berkembang jadi wawancara. Dua jam kemudian, John, Dean, dan Luke ayah Rachel terpaksa menyudahi tanya jawab yang makin lama makin melenceng dari topik (“apa kalian punya pacar yang menanti kepulangan kalian?”, “apa kalian akan bersaing untuk mencapai finish terlebih dahulu?”) dan memisahkan para wartawan dari si kembar yang tengah bersiap-siap. Sanak saudara sekali lagi mendoakan keberuntungan, Mary memberi kecupan selamat jalan, John menyelipkan kaki kelinci untuk keberuntungan saat bersalaman dengan kedua putranya, Sam menempeleng kepala mereka, Seara mencium Ben dengan berisik dan menjambak rambut Alec (bocah itu tidak pernah mau akrab dengannya, entah kenapa). Lisa memeluk mereka erat-erat sambil berurai airmata. Istri Dean itu memang paling melankolis dalam keluarga, mungkin karena dia satu-satunya yang tidak punya garis keturunan pelaut.

Ben naik ke perahunya penuh gaya, dan Alec, setelah memutar bola mata dan menjulurkan lidah pada kembarannya, juga memposisikan diri dalam perahu yang selama delapan bulan ke depan akan menjadi rumahnya.

Mesin dinyalakan, suaranya keras memekakkan telinga. Hanya mereka yang paham bisa membaca bahwa kondisi kedua perahu sangat prima – secara teoritis sanggup membawa para navigator muda itu melintasi samudera tanpa hambatan. Tapi, tentu saja, kau tidak bisa mengandalkan teori jika berhadapan dengan laut; sudah merupakan prestasi jika Dusan dan Pearl mampu menempuh setengah perjalanan tanpa harus berhenti untuk tune-up ataupun reparasi.

Sesuai kesepakatan, Ben bergerak duluan. Bagai pelayar profesional, ia memisahkan badan besar Pearl dari deretan perahu lain dengan mulus. Alec menyusul setelah tercipta jarak yang cukup, berlabuh diiringi sorak sorai dan siulan pelaut ala keluarganya.

“Maju, Winchester! Taklukan lautan, kembali dengan kejayaan!” John mendentumkan motto nenek moyang mereka, suaranya menembus seruan riuh rendah di sekitarnya dengan mantap.

Ben menoleh, memberi salut sambil berteriak, “aye, aye, Sir!” meskipun ayahnya tak akan mendengar. Di belakangnya Alec juga melakukan hal yang sama. Fotografer mengambil foto dengan rakus, kilatan kamera mereka nyaris membuat pelabuhan itu tampak seperti gundukan permata.

Alec tersenyum lebar. Kalau belum apa-apa saja sudah heboh, ia tak sabar untuk kembali ke pelabuhan ini di musim gugur, saat ia telah resmi menyandang predikat circumnavigator. Semua pasti akan mengaraknya bagai pahlawan.

Menatap bentangan luas membiru di hadapannya, cowok itu mengeratkan pegangan ke setir perahu, tersenyum penuh tekad. Inilah dia, klimaks dari segala persiapan dan latihan yang ia lakukan selama dua tahun. Jawaban dari panggilan jiwa Winchester sejati, petualangan tak terlupakan yang akan diceritakan turun temurun dalam keluarganya. Adrenalinnya terpacu, jantung berdebar penuh antisipasi membayangkan perjalanan yang menegangkan, penuh rintangan, ombak ganas, dan badai.

Menjelajah samudera benar-benar menggairahkan.

* * *


Menjelajah samudera benar-benar membosankan.

Setelah euforia keberangkatan memudar, Alec mendapati dirinya menguap lebar menatap air biru menari-nari tak ada habisnya, hanya diselingi pemandangan Pearl Wings yang melaju pasti tiga ratus meter di depan. Cuaca hari ini bagus, matahari bersinar terik di atas kepala, angin berdesir kuat tapi aman, sama sekali tidak mengindikasikan datangnya badai. Fakta yang membuat Alec makin mengantuk saja.

Ia masuk lagi ke kabin, lebih karena kurang kerjaan daripada yang lain, dan untuk kesekian kalinya mengecek fasilitas Dusan. Sama sekali tidak mengalihkan kejenuhan sebab pada dasarnya ia sudah hafal bagian-bagian perahunya di luar kepala. Tidak banyak yang bisa dilihat dalam perahu layar sepanjang sepuluh meter yang didesain secara fungsional – cuma ada jaket penyelamat, bangku tidur, alat komunikasi sekaligus navigasi, dan celah-celah kosong dirancang untuk tempat menyimpan makanan. Rasanya seperti masuk ke dalam gudang penyimpanan sempit alih-alih sebuah perahu bersertifikat internasional seharga tiga ratus lima puluh ribu dolar – seperenamnya dibayar tabungan seumur hidup Alec plus sumbangan sekolah.

Alec mengambil radio kecil yang tergeletak dalam ruang navigasi. Berbeda dengan alat-alat lain yang sudah terpasang dalam perahu dan berfungsi untuk mengontak dunia luar, radio portabel seukuran walkie-talkie ini dipasang sendiri oleh Alec dan Ben sebagai alat komunikasi khusus mereka berdua. Menggunakan pemancar domestik yang diletakkan di atas tiang perahu, radio ini bisa terus digunakan bahkan ketika cuaca begitu buruk hingga mereka tidak mampu menggunakan satelit – yang diandalkan oleh GPS dan internet – asalkan Dusan dan Pearl berjarak cukup dekat.

“Di sini, Alec, copy,” kata cowok itu sambil berjalan kembali ke dek.

Terdengar kelotak keras ketika radio Ben jatuh, disusul rentetan umpatan pelan, dan kemudian, “jangan tiba-tiba ngomong gitu, dong! Bikin kaget saja, kan!”

“Sori,” jawab Alec tanpa penyesalan. Berbeda dengan saudaranya yang cenderung cuek dan menyepelekan hampir semua hal, Ben selalu menanggapi segalanya dengan serius. Jelas dia tegang sekali di Pearl Wings sana, sampai-sampai dengar suara kecil radio saja terkejut.

“Ada apa?” tanya Ben gusar.

“Enggak apa-apa,” jawab Alec, mengangkat bahu meski Ben tidak bisa melihatnya. “Aku bosan, nih.” Ia meletakkan radionya di besi penyangga setir agar bisa terus bicara tanpa menghambat aktivitasnya.

“Kau mengontakku hanya untuk bilang itu?”

“Uh, sejujurnya iya,” jawab Alec, menggosok belakang lehernya dengan salah tingkah. “Malas saja, kan, menggunakan komunikasi satelit cuma untuk bilang begitu pada orang di rumah?”

Ben tidak menjawab. Alec mengasumsi dia cuma sedang mengambil sesuatu di kabin atau memprediksi kecepatan angin atau apa, tapi setelah sepuluh menit tak ada jawaban, cowok itu mengontak lagi.

“Ben?”

“Apa?”

“Ngomong dong!”

“Malas,” ceplos Ben apa adanya. “Apa kau enggak ada kerjaan lain selain menggangguku?”

Mendengar ini Alec memutar bola mata. Dia sebal sekali kalau Ben bersikap sok dewasa begitu. Seolah Alec adalah anak dari playgroup-nya Seara yang mengekorinya kemana-mana dan mengganggu, padahal yang diinginkan cowok itu hanyalah teman ngobrol. Apa salahnya, sih, ingin ngobrol dengan saudara kembarmu sendiri? Terutama ketika kau hanya berdua saja di tengah lautan, terpisah dari peradaban, tanpa orang lain untuk bergantung.

“Hei, menurutmu kita sudah sampai laut lepas?” Alec berusaha mencari topik yang menarik.

“Kita bahkan belum keluar ZEE. Baca peta yang benar, dong,” kata Ben datar.

Alec mengatupkan bibir rapat-rapat, mencegah lenguhan bosan meluncur dari mulutnya. Rasanya sudah lama sekali, dan mereka belum mencapai jarak dua ratus mil?

“Kapan kira-kira kita sampai samudera?” tanya Alec lagi, meski tahu itu akan membuat Ben mencelanya lebih parah. Masih lebih baik daripada tidak ada teman bicara sama sekali.

“Ampun deh, Alec. Masa kau enggak bisa kira-kira sendiri, sih?”

“Um, bisa sih.” Kalau melakukan tugas itu saja belum fasih, John tidak akan mengizinkannya memegang setir perahu. “Tapi, kan sudah ada kamu. Ngapain repot-repot?”

Ben menggerundel tak jelas, Alec menangkap kata ‘terlalu santai’ dan ‘kurang tanggung jawab’. “Kalau anginnya bagus, dan kita mau sedikit kerja keras, mungkin tengah malam ini.”

“Tengah malam, ya,” ulang Alec, berusaha tidak terdengar seperti tukang ngeluh. Yang gagal total.

“Itu sudah paling bagus. Dengan sifat malasmu itu, kurasa kita malah baru sampai besok pagi.”

“Aku enggak malas.”

“Jangan membohongi diri sendiri.”

Sabar, sabar, batin Alec dalam hati. Walau sudah hidup bersama selama tujuh belas tahun, kadang sulit untuk tidak mengambil hati sarkasme Ben yang menjadi bagian dari dirinya seperti jantung yang berdetak.

“Apa menurutmu kita akan diikuti lumba-lumba? Seperti di dongeng-dongeng? Apa mereka akan menolong kalau perahu kita tenggelam?”

“ALEC!”

“Cuma tanya saja, kok.”

“Jangan ngomong yang aneh-aneh. Kita harus bersyukur dengan kondisi stabil ini….”

Membosankan, maksudmu?”

“Lebih sedikit masalah, lebih baik,” kata Ben, tidak menghiraukan interupsi saudaranya. “Dan aku enggak tahu bagaimana denganmu, tapi ‘tenggelam dan ditolong lumba-lumba’ enggak masuk dalam agenda perjalananku. Lagipula, sekarang bukan musimnya lumba-lumba.”

“Yaaaah…..”

“Berhentilah mengeluh!” Ben mulai senewen. Alec hampir bisa memvisualisasikan alisnya yang berkerut seperti orangtua dan cuping hidungnya yang membesar, ekspresi khasnya kalau sedang marah. “Dengar, aku tidak memasang radio itu untuk mendengarkanmu merewel. Kalau ada sesuatu yang tidak memuaskan – yang aku yakin hampir semuanya, karena kau sangat kekanakan – ambil pena dan curhatlah di diari!”

Alec berjengit oleh bentakan saudaranya yang sampai membuat radio berkeresek sedikit. “Beeen…. Jangan marah doong….” Rengeknya. Hal terakhir yang ia inginkan adalah Ben mematikan sambungan radio karena Alec terlalu rewel. Padahal menurutnya, tidak juga tuh. “Aku kan cuma ingin ngobrol,” tambahnya memelas.

Sejenak Ben tak menjawab, dan Alec yakin mendengar suara kekeh geli di latar belakang, agak tersamar deburan ombak.

Ketika bicara lagi, nada bicara Ben berubah drastis – lebih lembut dan bersahabat, seperti saat ia bermain dengan Seara. “Kesepian, nih?” tanyanya menggoda, “belum apa-apa sudah kesepian, dasar anak mami.”

Gantian Alec yang menggerundel. “Enggak, tuh!”

“Iya. Kau kelewat manja, sih.”

“Daripada kau, sok keren.”

“Aku memang keren.”

“Jelek.”

“Bawel.”

“Kolot.”

“Estulto.”

“Ha?”

“Bahasa Spanyol untuk ‘dungu’.”

“Sialan,” kata Alec, meski dengan cengiran menghiasi wajah. Untung radio mereka tidak ada fasilitas 3G-nya, sehingga Ben tidak bisa melihat betapa girangnya dia karena saudaranya itu mau mengikuti permainan lempar-ledekan. Seperti yang sudah-sudah, permainan ini biasanya akan berujung ke adu kosakata, dan itu lebih dari cukup untuk mengisi waktu luang, mengingat sifat Ben yang tidak pernah mau kalah dan selalu ingin menggilas lawan habis-habisan.

Tidak sadar saja dia kalau sudah dijadikan hiburan bagi Alec.

* * *

Senja pertama di laut, ketika ia sudah jontor kebanyakan ngomong dengan Ben, barulah Alec mengaktifkan sistem komunikasi satelitnya. Ia disapa pertama kali oleh John, yang mengajukan pertanyaan standar macam kondisi mesin, cuaca, dan jarak tempuh. Kemudian Jess nimbrung untuk menanyakan pendapat Alec tentang matahari tenggelam di garis jauh lautan. Sebagai seorang cewek dengan selera ‘cewek banget’, bagi Jess itu termasuk pemandangan terindah yang pernah ia saksikan selama melintasi samudera. Bagi Alec, itu tak ada bedanya dengan menyaksikan langit temaram dari jendela kamarnya – hanya saja lebih luas. Tapi dia tidak bilang begitu pada sepupu perempuannya, tentu.

Sesuai perhitungan Ben, mereka berhasil keluar ZEE pada pukul satu dinihari. Badan Alec kaku-kaku setelah seharian bermanuver mengendalikan setir – andai tidak diejek Ben saja, dia sudah minta istirahat dari tadi. Cowok itu ingin membuktikan bahwa, biarpun sedikit, ia sudah mulai berubah. Bukan lagi anak manja yang kerjaanya bermalas-malasan dan main melulu, melainkan pria muda yang cakap, sang penakluk samudera. Alec cengar-cengir sendiri membayangkan predikat keren itu.

Usai menyimpan jaket dan kacamata anti airnya, Alec praktis merambat masuk ke kabin, yakin bakal mati kecapekan kalau tidak segera merebahkan diri ke kasur. Namun baru menarik nafas mencium bau bantal yang menggoda, dia sudah dikejutkan oleh suara radio yang tiba-tiba aktif di sabuk belakang celananya (Alec sengaja menggantung radio itu di situ agar tidak kelupaan).

“Alec, sebelum kau berencana menggulung diri dalam selimut sampai tengah hari besok, tandai dulu peta jalurmu – buat garis merah agar kita bisa melihat sejauh apa jarak tempuh hari ini. Jangan lupa hitung skalanya,” perintah Ben rinci, seperti bicara pada anak buah yang imbisil.

Alec bahkan tidak punya tenaga untuk tersinggung. Ia mengerang penuh derita macam paus sekarat, berharap Ben akan mengira dia sakit dan mengizinkannya langsung tidur malam ini. Matanya sudah setengah menutup, sayang kalau diajak pusing-pusing menghitung skala – pasti nanti dia jadi insomnia.

“Besok kurapel saja, deh,” rengeknya, segala tekad untuk menjadi pelaut sejati terlupakan. Sekarang dia hanya ingin menjadi manusia sejati, dan manusia sejati tidak menyiksa tubuh mereka sendiri dengan memaksa bangun ketika seluruh sistemnya menjerit minta tidur.

“Enak saja. Kerjakan sekarang, Alec. Demi kebaikanmu sendiri.” Sesaat Alec merasa bicara dengan versi cowok dari ibunya.

“Kalau kurang istirahat, artitis rematikku bisa kumat,” kilah Alec sambil menguap lebar.

“Sejak kapan kau kena rematik?”

“Sejak sekarang. Aduh, sudah mulai nih pegalnya,” kata Alec. Memang benar kok, sekujur tubuhnya serasa diinjak-injak gajah. “Cuma malam ini saja, deh. Janji. Pweaseee?”

“Tidak boleh.”

“Kalau aku sampai sakit, kan, kau juga yang repot.” Alec mengeluarkan kartu terakhirnya. Hal yang paling dibenci Ben adalah direpotkan orang lain – yang ironisnya selalu terjadi karena ia bersaudara dengan Alec.

Ben berpikir lama, cukup lama hingga Alec setengah tidur menanti jawabannya. Ketika akhirnya ia mendesah, Alec terbangun kaget.

“Terserahlah. Aku enggak nanggung kalau kau nyasar, lho.”

“Eng….. nggak mungkin kanada k’mu, bilang s’ndiri,” jawab Alec, nyengir mengantuk. Pada saat begini, dia bersyukur berlayar mengikuti Ben, bukannya berjalan solo. Setidaknya masalah jalur, ada yang bisa diandalkan.

Saudaranya menggumamkan protes dari seberang, tapi Alec tidak mendengar lagi. Ia tertidur bahkan sebelum kepalanya menyentuh bantal.

* * *

Dengan desah keras, Ben mematikan radio mininya dan meletakkan benda itu di samping bantal. Dasar, dia sudah mengira Alec bakal kelewat santai dan menyerahkan semua tugas pada dirinya, dan Ben sudah bersumpah akan mendisiplinkan Alec dalam perjalanan ini; tapi tetap saja dia tidak sanggup menolak kalau kembarannya itu sudah memohon-mohon. Pakai mengancam bakal sakit segala, lagi.

Cowok itu mengecek peta jalurnya sekali lagi. Agak kecewa juga melihat garis merah pendek yang tertoreh di sana. Padahal rasanya dia sudah berjuang habis-habisan hari ini, melaju tiga puluh dua mil lebih jauh dari kuota harian mereka, tapi begitu digambar, garis itu bahkan hampir tak terlihat di tengah warna biru tua yang mendominasi kertas. Saking tidak percayanya, Ben sampai mengulang perhitungan skala tiga kali. Sebenarnya salah satu alasan dia menyuruh Alec menggambar adalah agar mereka bisa bertukar pendapat, benar atau tidak mereka hanya merangkak sependek itu dari tadi, tapi seperti biasa, saudaranya itu tak dapat diandalkan. Jangan salahkan John kalau dia memilih Ben sebagai pemimpin ekspedisi.

Ben menggulung peta itu dan meletakkannya di keranjang kecil yang menempel di meja. Ia mengulet meregangkan otot, ingin sekali melompat ke kasur yang sedari tadi memanggil-manggilnya. Tapi masih ada satu hal yang harus ia lakukan sebelum tidur: menulis catatan perjalanan di blog; sesuai janjinya pada media massa yang menanyakan bagaimana cara mereka mengikuti ‘Petualangan Si Kembar’, begitu istilah mereka. Istilah yang kurang nyaman di telinga Ben, sebab itu membuat mereka terdengar seperti tokoh kartun.

Sambil mengunggah beberapa foto matahari terbenam dan video Dusan meluncur menuruni ombak setinggi dua puluh satu kaki (Alec berteriak-teriak kegirangan sepanjang pengalaman itu), Ben mengetik catatan pendek untuk memuaskan keingintahuan para komentator yang sudah menanyakan macam-macam tentang kesan pertama di laut.

16 Januari 2010
SEE YA, ZEE!

Hari pertama perjalanan, cuaca cukup bersahabat. Dengan kecepatan angin 20 knot Pearl dan Dusan melaju pasti membelah laut. Suasana tenang sampai lewat tengah hari, di mana kami berhadapan dengan ombak setinggi 21 kaki. Pearl melewatinya tanpa masalah ( bagaimana aku mengendalikan setirnya, itu lain lagi :P), dan Dusan, dengan ukurannya yang kecil meluncur cantik seperti koki –

Ben berhenti. Oke, menurut opini pribadinya, Dusan memang terlihat seperti koki di tengah laut – kecil tapi lebar, berwarna cerah pula. Tapi sepertinya kurang bijak mengemukakannya dalam blog yang dipublikasikan secara umum, bisa-bisa mereka mengira dia menghina Alec (um, tidak menghina sih, cuma meledek sedikit, tapi sama saja di mata mereka). Ben pun menghapus satu huruf ‘k’ agar nama ikan perumpamaannya jadi lebih ‘jantan’.

– koi merah. Klik DI SINI untuk menonton manuver Dusan dan Alec yang luar biasa.

Selain itu, pagi ini, tepatnya pukul satu lebih tujuh menit, kami resmi keluar ZEE! Yay! Air laut tampak sama saja, tapi ada sensasi tersendiri ketika perahu kami berlayar di laut lepas, sangat mendebarkan XD

Ben memutar bola mata membaca tulisannya sendiri. Dia kok, jadi terdengar seperti Alec, sih?

Tampaknya kami akan menjalani beberapa hari tenang di sini. Tak ada tanda-tanda kecepatan angin akan naik, tetap stabil antara 20-30 knot – tidak menghantam layar terlalu keras, tapi juga menjaga ombak tetap tenang.

Yang artinya aku juga bisa tidur sampai siang, pikir Ben senang.

Kami akan bisa melaju sekitar 600 mil sebelum memasuki perairan berangin kencang. Semoga saja tidak ada badai dadakan atau gempa bawah laut. Pengalaman berkesan pasti, tapi itu akan membuat kami sibuk luar biasa.

Belum lagi kerusakan yang bisa disebabkannya, tambah Ben dalam hati, tapi tidak menambahkannya ke tulisan. Bukan dia yang jadi tukang ngeluh di sini.

Menguap lebar, Ben memasukkan kalimat penutup pendek sebelum mengepos catatan itu.

Oke, semakin larut di sini. Alec dan Dusan sudah tidur satu jam lalu, waktunya aku dan Pearl menyusul. See ya! B.W.

TBC

0 komentar :

Posting Komentar