MIRROR IMAGE CHAPTER 9
Semua orang yang mengenal keluarga Winchester akan setuju bahwa Mary adalah ibu yang overprotektif. Baginya, melepaskan anak-anak ke dunia luar, atau bahkan ke luar kota, sama susahnya dengan mengeluarkan mereka dari rahim – secara literalis, sebab Dean dan Sam dua-duanya lahir lewat operasi caesar setelah proses alami selama delapan jam tidak membuahkan hasil. Mary jadi tidak tenang dan hawanya dapat firasat buruk terus jika satu saja dari tiga buah hatinya lepas dari pandangan.
Parahnya, firasat buruk itu – yang beberapa kali jadi kenyataan – kadang sampai menimbulkan serangan panik. Apalagi didukung kecenderungan ketiga pemuda Winchester untuk menarik masalah ke jalan mereka. Lebih dari sekali anak-anak itu harus masuk Rumah Sakit, kemudian Mary menyusul beberapa jam setelahnya, bukan untuk menjemput tapi untuk sama-sama memperoleh penanganan dokter. Seperti waktu Dean terserempet mobil, atau waktu Alec patah tulang pertama kali, atau waktu pihak sekolah mengabarkan Sam harus diopname gara-gara keracunan makanan saat ikut lomba debat di California. Yang terakhir itu malah sampai membuat Mary harus ikut terapi meditasi hingga dua bulan setelah Sam dipulangkan.
Jadi, ketika pagi itu Mary dengan perasaan tidak enak melongok kamar si bungsu dan mendapati ranjang putranya kosong, tanpa Alec terlihat di mana pun, kau bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya di rumah itu.
* * *
Lisa baru selesai mandi, masih menghanduki rambutnya yang basah dan berbau shampoo hotel ketika ponselnya berdering. Ia mengerutkan dahi melihat nama Dean terpampang di layar. Pacaran dua tahun membuatnya paham bahwa cowok itu hampir tidak mungkin menelepon di luar jadwal ngobrol mereka, yaitu tiga jam di malam minggu.
“Halo?”
“Lisa? Lisa, apa Alec ada di tempatmu?”
“Alec? Tidak,” jawab Lisa, makin bingung dengan nada bicara Dean yang seperti hampir menangis. “Dean, apa semua baik-baik saja?”
“Tidak. Alec kabur.”
Tiga kata itu diucapkan dengan putus keputusasaan, kemarahan, sekaligus ketakutan yang begitu intens hingga mengirim jarum-jarum es ke hati Lisa. Ia hanya mampu berbisik, “apa maksudmu?”
“Alec kabur. Dia meninggalkan rumah tanpa pesan tadi pagi,” jawab Dean, dan Lisa tidak menyangka pacarnya itu bisa terdenagr begitu merana. “Please, Lisa. Bantu aku.”
Dean Winchester, si independen yang lebih mementingkan robot daripada kehidupan percintaannya, yang tidak pernah meminta pertolongan siapapun, memohon bantuan Lisa seolah gadis itu satu-satunya yang bisa diandalkan. Cewek itu tak bisa menolak.
“Aku segera ke sana.”
Setengah jam kemudian, cewek itu turun dari taksi di depan rumah Winchester yang ramai. Beberapa mobil diparkir sepanjang jalan, banyak diantaranya berwujud atau berwarna aneh. Ia melihat John tengah bicara pada dua orang polisi. Mempertimbankan pria itu sedang sibuk, Lisa langsung masuk rumah.
Atmosfer tegang langsung terasa begitu Lisa melalui pintu depan. Di ruang tamu, Mary duduk dikelilingi beberapa wanita, cangkir besar berisi sesuatu yang tampaknya teh kental tercengkeram erat di tangannya yang gemetar. Ia bicara sambil sesenggukan tentang bagaimana seharusnya ia tidak menekan Alec, bagaimana harusnya ia tahu ini akan terjadi. Ibu-ibu di sekelilingnya menggumamkan kata-kata penghibur, dan Lisa, memutuskan Mary sudah ditangani, melanjutkan perjalanan ke dapur.
Dean berdiri dekat pintu yang mengarah ke halaman belakang, serius memberi instruksi pada delapan atau sembilan pemuda. Mereka pastilah teman-teman Dean yang akan ikut membantu pencarian, sekaligus memenuhi jalan depan dengan mobil-mobil eksentrik mereka.
Setelah pemuda-pemuda itu pergi untuk menelusuri rute masing-masing, Dean berbalik untuk melakukan tugas pencariannya sendiri. Ia terkejut melihat Lisa berdiri diam di pojokan dekat konter.
“Kau datang,” ujar Dean, seolah tak menyangka Lisa benar-benar menurutinya.
“Kau memintaku,” tanggap Lisa, mengangkat bahu.
“Aku akan mencari Alec. Kau temani Mom, ya.”
“Tidak. Aku ikut denganmu.” Karena sementara Mary punya selusin orang yang menawarinya tisu, Dean tidak punya siapa-siapa untuk bersandar dan dia tampak seperti bisa hancur kapan saja.
Sejenak Dean tampak akan protes, tapi kemudian cuma mengangguk, mengajak pacarnya keluar lewat pintu depan.
Di Impala, Dean menstarter berkali-kali, tapi mobil kesayangannya itu tak mau jalan juga. Di usahanya yang ketujuh, ia tidak sengaja menjatuhkan kunci ke bawah jok, membuatnya mengumpat keras.
“Brengsek! Dasar mobil tak berguna!” gerungnya, memukul setir dengan frustasi.
“Dean. Tenang,” kata Lisa tegas. Dia mampu bersikap otoriter kalau diperlukan.
Dean langsung lemas, menyandarkan punggung sambil mengusap wajah. Ekspresinya seperti orang tersesat yang tak tahu harus berbuat apa. “Sori,” bisiknya serak, “aku cuma…. Harusnya aku lebih menjaga Alec.” Ia tercekat. “Padahal aku tahu ada yang tidak beres dengannya…. Seandainya aku mengoreknya sedikit saja.” Dean menatap Lisa, matanya berkaca-kaca. “Bagaimana kalau sesuatu terjadi padanya? Ini semua gara-gara aku.”
“Tidak begitu,” tukas Lisa, “tidak ada yang tahu apa yang akan dilakukan Alec – bahkan dia sendiri mungkin tidak tahu apa yang dilakukannya. Sekarang bukan waktunya menyalahkan diri sendiri, Dean. Kau harus fokus. Fokus untuk menemukan Alec.”
Dean menarik nafas panjang. “Yeah. Fokus. Aku harus fokus,” katanya pada diri sendiri sambil mencengkeram setir. Setelah cukup tenang, ia kembali menyalakan mesin, langsung berhasil kali ini. Ia langsung tancap gas tanpa buang-buang waktu lagi.
Mereka menyusur tiap sudut kota, mengamati tiap orang yang lewat. Sesekali Lisa mencuri-curi pandang pada Dean dalam diam. Selama ini, ia tidak pernah berada dalam peringkat lima besar prioritas Dean. Posisinya jauh di bawah impian, jauh di bawah robot, dan jelas jauh di bawah keluarga. Dan melihat bagaimana Dean memperlakukan Alec…. Bagaimana ia mempertahankan prioritasnya, membuat Lisa cemburu, namun pada saat bersamaan juga makin mencintainya. Dia yakin Dean adalah orang yang tepat, sosok penuh kasih sayang yang akan menjaganya dan keluarga baru mereka andai ia dan Dean menikah nanti.
Lisa hanya berharap, sesekali Dean mau menunjukkan rasa sayang sebesar itu bahkan sebelum ia menyandang nama Winchester.
* * *
Sebuah Honda Hybrid silver, mobil yang dirancang untuk bisa melesat cepat namun tetap ramah lingkungan, merayap pelan membelah lalu lintas Lawrence yang cukup padat. Pengguna jalan lain yang mangkel meneriaki pengendaranya, tapi si pengendara sendiri tampak tak peduli, malah sibuk menengak-nengok, memeriksa torotar dan pinggir jalan.
Sudah dua jam sejak Sam mengeluarkan mobilnya dari garasi dan berkeliling kota mencari Alec, tapi batang hidung adiknya itu belum nampak juga. Dia sudah beberapa kali mengontak para pencari lain, tapi sejauh ini belum ada yang beruntung. Kemungkinan besar Alec sudah di luar kota.
Sam menghela nafas. Ada saja masalah yang menimpanya. Baru tiga hari lalu dia bertengkar – dan belum baikan – dengan Maddie. Sekarang gantian Alec menghilang tanpa jejak. Belum ditambah rambut eksotis mahakarya Dean, yang terpaksa disembunyikannya di balik topi baseball. Sam tidak suka pakai topi sejak Maddie mengatainya culun.
Maddie. Sam benar-benar kangen padanya. Kangen suara tawanya, tubuh kecilnya yang tenggelam dalam pelukan Sam, bahkan rengekan dan omelannya. Sejujurnya, Alec bukan yang pertama bilang dia mabuk cinta pada orang yang salah. Selain Mary yang selalu menunjukkan kerut tidak setuju di keningnya tiap kali Maddie berkunjung, teman-temannya pun mengusulkan Sam cari pacar lain. “Maddie itu hippie, Sam. Carilah cewek dengan gaya hidup lebih stabil,” begitu kata mereka. Tapi Sam tidak percaya, baginya pribadi seseorang tidak hanya ditentukan dari ideologi yang dianutnya. Ia tetap tak bisa berpaling dari Madie, dan saat ini, tidak ada yang lebih ia inginkan selain cewek itu, duduk di sampingnya dan menyuplai kata-kata motivasi sementara mereka terus mencari.
Mungkin itulah yang harusnya kulakukan, Sam tiba-tiba mendapat ilham. Mungkin aku memang harus ke tempat Maddie dan minta bantuan. Ini lebih mudah jika dilakukan berdua, dan Maddie punya penglihatan tajam.
Memantapkan niat, Sam memutar mobilnya ke jalan menuju apartemen pacarnya. Dia sudah siap minta maaf kalau perlu. Yang penting cewek manis itu kembali ke sisinya.
Sam bergegas menaiki tangga ke lantai tiga, di mana apartemen Maddie adalah satu-satunya yang terisi. Ia langsung berhenti, tapi, ketika mendengar dua orang bercakap-cakap.
“Jangan pergi,” suara wanita yang amat dikenal Sam mendengkur manja. “Ayo kita bersenang-senang dulu, Sayang.”
“Aku harus kerja, Manis,” jawab seorang pria dengan suara serak, macam perokok berat. “Jangan khawatir, aku tak akan lama. Dan setelah itu kesenangan yang sebenarnya akan dimulai.” Pria itu mengakhiri kalimatnya dengan nakal, membuat si wanita terkikik.
Penasaran, Sam melanjutkan naik tangga dan tiba di ujung koridor lantai itu tepat pada saat Maddie, Maddie-nya yang hanya memakai kaos putih transparan di atas bikini hitam, berciuman erotis dengan pemuda lain – si penjaga toserba kepada siapa Sam hampir setiap hari membayar keripik rasa bayam kesukaannya. Jantung Sam serasa terbakar. Hilang sudah niatnya untuk minta maaf.
“Maddie!”
Cewek itu terlonjak kaget, Sam berharap ia menggigit lidah si cowok saking kagetnya. Mata cewek itu melebar melihat siapa yang memergokinya. Si cowok toserba, sebaliknya, tampak sedikit puas dan sombong.
Sam berbalik dan menuruni tangga dengan cepat. Maddie mengejar sambil memanggil-manggil namanya.
Saat Sam tiba di bibir tangga ke lantai satu, Maddie berhasil menyusul. Ia menarik tangan Sam untuk mencegahnya terus berjalan. Namun cowok itu melepaskan diri, tiba-tiba jijik pada tangan putih mulus yang dulu selalu digandengnya.
“Sam, aku bisa jelaskan….”
“Jelaskan apa, Maddie – bahwa kau bercinta dengan siapapun yang nganggur sementara kita bertengkar, huh?”
Pipi Maddie memerah oleh cercaan itu, tapi bukan karena malu. “Beraninya kau bilang begitu tentangku!”
“Oh, percayalah Maddie, kau beruntung aku tidak mengeluarkan semua hinaan yang ada di kepalaku! Karena kau tahu apa? Karena aku, kejutan, masih punya perasaan, tidak sepertimu! Dasar cewek jalang!”
“Kau….!” Maddie kehilangan kata-kata. Kemudian, secepat lampu yang mati setelah saklar dipencet turun, ia berubah taktik dari agresif ke defensif. “Sam, please. Aku tidak tahu apa yang kulakukan. Aku sangat kesepian tanpamu, Sam. Aku benar-benar minta ma…”
“Simpan maafmu untuk pacar selanjutnya, Maddie,” tukas Sam. Ia mungkin penyayang, tapi ia membenci cewek pembohong sebagaimana ia membenci ikan asin. Keduanya sama-sama menjijikkan. “Kita putus!” Dan ia kembali menuruni tangga.
“Tapi…. Sam! SAM!” Maddie mengejar, tapi Sam tidak memperlambat langkah. Akhirnya cewek itu menyerah dan berteriak dari pintu depan apartemennya, seperti cewek maniak, “baik! Silahkan kalau mau putus! Aku tidak butuh kamu, dasar banci! Kau bahkan tidak tahu apa itu bercinta! Enyahlah, dan jangan kembali lagi!”
Telinga Sam memerah mendengarnya, tapi ia tak membalas. Dia masuk mobil, menyalakan mesin, dan keluar dari area apartemen secepat yang ia bisa.
Bertambah satu lagi daftar hal yang dibencinya: hippie.
* * *
Alec jelas sedang dalam suasana hati buruk hari ini. Dia menyalahkan Ben, yang marah-marah terus ketika mereka bertukar kembali di bandara – padahal harusnya Alec yang marah karena dia belum menikmati barang separuh dari surga-seminggunya – sehingga dia ikut-ikutan senewen. Cowok itu bahkan sampai membentak pramugari seusia Mary yang menawarinya minuman di pesawat.
Jadi, ketika ia sampai di rumah, hari sudah hampir gelap, badan capek dan hati panas, Alec benar-benar tidak terima disembur amarah oleh keluarganya yang, dari keadaan kursi-sofa yang kacau balau serta belasan gelas bekas tersebar di tempat-tempat yang tak seharusnya, baru saja menerima banyak tamu.
“Dari mana saja kau?!” gelegar John murka.
“Bukan urusan kalian,” jawab Alec agak sewot. Mary, yang duduk di sofa dengan selimut rajut menutupi punggungnya, terisak pelan. Andai Alec tidak sedang capek dan dongkol, dia mungkin – pasti – akan merasa bersalah. Tapi saat ini, yang ada di pikirannya hanyalah tidur di kasur yang hangat dan berharap hari esok lebih baik.
Dia berusaha naik ke kamar untuk mewujudkan keinginan itu, tapi Dean mencegahnya.
“Oh, tidak. Kau tidak akan kemana-mana sebelum menjelaskan semuanya pada kami,” kata kakaknya itu tajam.
“Apa yang perlu dijelaskan?” tukas Alec habis sabar. “Dengar, aku minta maaf aku pergi tidak bilang-bilang….” yang pada dasarnya bukan salahku, melainkan saudara kembarku yang tak sabar ingin mencium tembok rumahnya “….tapi sekarang aku sudah pulang. Masalah selesai, kan?”
“Masalah selesai katamu?” geram John berbahaya. Dia terlihat seperti beruang grizzli kalau sedang marah, dengan berewok dan postur kekar itu. “Ini jauh dari selesai, Alec. Kemana saja kau seharian ini?”
“Aku kan sudah bilang, itu bukan….”
“Alec, jawab!”
Alec terdiam, kaget. Sepanjang sejarah ia menjadi seorang Winchester, belum pernah John membentak begitu, menerapkan apa yang dulu menjadi kesehariannya di militer. Namun Alec tetap keras kepala, seperti biasa, dan mengunci mulut seolah kalau bicara sedikit saja, ia bakal dihukum gantung. Dean-lah yang akhirnya menemukan petunjuk.
“Apa ini?” tanyanya, menyabet sepotong kecil kertas dari saku adiknya. Mata Alec melebar. Oh, sial, dia lupa membuang itu!
“Airport tax. Dari bandara New York,” Dean membaca datar tulisan yang tertera. Ia mengangkat satu alis, ekspresi yang biasa ditunjukkannya kalau sedang penasaran, hanya saja kali ini diwarnai kemarahan terpendam. “Bisa jelaskan ini, Alec?”
“Pasti dari penerbangan kemarin.” Alec mengangkat bahu.
“Yeah, kecuali bahwa tanggalnya hari ini.”
“Alec?”
“Sayang, bicaralah pada kami.”
“Jawab, Alec.”
Cowok itu menatap satu-satu anggota keluarganya, menangkap berbagai emosi dari marah sampai sedih. Akhirnya ia mendesah, menyerah. “Oke, oke. Aku habis dari New York.”
Urat di kening John berkedut. “Apa yang kau lakukan di sana?”
“Tidak ada.” Yang secara teknis benar. Alec cuma sempat sarapan roti jagung dan susu, lalu masuk bandara, bertengkar dengan Ben, dan pulang.
“Alec!”
“Benar, aku enggak bohong!” teriak Alec kesal, menghentakkan kaki. Sungguh kebiasaan yang kekanakan, tapi ia tak pernah bisa menahan diri. “Kenapa sih, kalian enggak percaya padaku?!”
“Kenapa kami tidak percaya padamu? Apa jawabannya belum jelas?!” dentum John, nyaris memecahkan gendang telinga orang-orang di ruang itu. “Kau bersikap aneh belakangan ini – jadi pendiam dan praktis menjauh dari kami! Dan tadi pagi, tiba-tiba saja kau pergi ke New York – New York, Demi Tuhan! – tanpa pamit! Kau yang normal tidak akan berbuat seperti itu!
“Yeah, dan kalau kau memang enggak ngapa-ngapain, kenapa kau marah waktu ditanyai?” timbrung Sam.
“Oh, diamlah Sam. Kau juga bakal jengkel kalau baru pulang dari perjalanan jauh dan langsung dimarahi! Aku sudah cukup kehilangan hal yang kuinginkan hari ini, jangan nambah-nambah masalahku lagi, deh!” bentak Alec pada Sam, tapi sebenarnya ditujukan ke semua orang.
“Apa maksudmu, ‘hal yang kuinginkan’?”
“Bukan urusanmu!” Dia tidak bisa mengadukan empat harinya yang ditarik Ben.
“Bukan urusanku! Tentu saja ini urusanku! Ini urusan kami!” teriak Dean, “apa, kau tidak berhasil bertemu pengedarmu?!”
Mary terpekik kecil. Sam dan John tergugu. Alec mengerutkan dahi.
“Pengedar a….” ia tak menyelesaikan pertanyaannya ketika menyadari apa yang dimaksud Dean. Ia memandang kakaknya tak percaya, kemudian ke seluruh anggota keluarga, ekspresinya terluka. “Ini pasti bercanda. Aku bukan pemakai!”
“Yah, tingkah lakumu jelas tidak menunjukkan itu.”
“Bisa-bisanya kalian menduduhku begitu!”
“Kami tidak akan menuduh kalau tak melihat tanda-tandanya, Alec!”
“Ini salah paham!”
“Kalau begitu, kita buktikan. Kita buktikan kau benar-benar bersih dengan tes urin dan darah besok, karena yeah, gara-gara petualangan kecilmu tadi, kita jadi batal Tes Kesehatan.”
“Aku tidak…. Jangan konyol, aku tak butuh tes apapun!”
“Tapi kami butuh, Alec!”
“SUDAH CUKUP!”
Perdebatan memanas itu langsung berhenti. Semua menoleh ke si peneriak, Mary, yang entah sejak kapan telah bangkit dari posisi duduknya. Ia menatap orang-orang yang dicintainya dengan mata sembab dan bengkak.
“Cukup,” katanya sedih, “jangan bertengkar lagi.”
“Mary….”
“Tidak, John,” potong Mary, “kita tidak akan melanjutkan ini sekarang. Alec, masuk kamar.”
“Mom!”
“Jangan ikut campur, Dean. Masuk kamar, Alec.”
Semua memandang dalam diam ketika Alec mematuhi perintah ibunya. Cowok itu menunduk, tidak membalas satupun tatapan mereka. Barulah ketika sampai di kamar dan menutup pintu, ia berani mengangkat kepala, mengusap rambutnya yang berminyak oleh keringat.
Jadi, narkoba, huh? Dari semua masalah yang diprediksi Alec, ini sama sekali bukan salah satunya.
“Aku benar-benar mampus.”
* * *
Hal pertama yang disadari Ben begitu tiba di rumah adalah: Alec pasti membuat masalah. Kesadaran itu begitu tajam, seperti aroma tumis bawang bombay yang menyengat bahkan dari jarak lima puluh meter. Hanya saja ini lebih gawat daripada masakan andalan ibunya itu. Ben merasakan sesuatu yang besar telah terjadi di kehidupan yang ditinggalkannya selama tiga hari, dengan tanda-tanda bertebaran di sekelilingnya.
Tanda pertama muncul ketika ia menerima pesan suara dari sang ayah. Ed Anderson bicara cepat sekali sampai-sampai awalnya Ben tidak menangkap kata-kata pria yang dipanggilnya ‘Dad’ itu. Ia harus mengulang pesan tiga kali, pertama tidak dengar, kedua dengar tapi tidak yakin, dan di ulangan ketiga, Ben seperti tersambar petir mendapati telinganya tak salah dengar. Ed menyampaikan selamat atas kesuksesan Ben masuk tim inti, dan bilang harusnya Ben tak perlu merahasiakan ‘cara licik anak muda’-nya hingga Ed harus mendengar cerita itu dari rekannya yang kebetulan kenal Pelatih, sebab, kata Ed sambil terkekeh, dia dulu juga melakukan hal yang sama. Ben tidak tahu apa maksud perkataan itu, tapi dari istilahnya saja sudah pasti bukan sesuatu yang bagus.
Tanda kedua adalah segerombol anak berpotongan macam pegulat yang mengepungnya saat Ben pergi mengisi perut. Anak-anak itu mengancam akan membuat perhitungan, baik untuk Mario maupun untuk pertandingan yang sembilan puluh delapan persen bakal ia kacaukan. Mereka bahkan mengambil crepes yang dibelinya. Ben pulang dengan perasaan tidak enak membebani pundak.
Tanda ketiga, dan yang paling gawat, menyusul cepat setelah tanda kedua. Ben menelepon Rachel untuk mencari informasi apa sebenarnya yang terjadi antara dia – atau lebih tepatnya Alec Si Biang Onar – dan Mario. Reaksi yang ia dapatkan sungguh di luar dugaan. Sahabatnya itu menjerit, “jangan hubungi aku lagi!” dan menutup telepon keras-keras sampai telinga Ben sakit. Saat itulah Ben tahu ia harus meminta penjelasan langsung dari kembarannya.
“Halo?”
“Sialan kau Alec, apa yang kau lakukan padaku, huh?”
“Hei, hei, hei. Apa-apaan nih?!” Alec terdengar sewot. Agaknya ia juga mengalami hari yang buruk.
“Kau bilang kau enggak meninggalkan masalah! Terus kenapa, secara tiba-tiba, aku punya Mario dan gengnya sebagai musuh, dan ayahku menelepon memberi selamat atas posisiku di tim inti?! Omong kosong macam apa itu!”
“Oh,” kata Alec tertegun, “soal itu. Dia enggak sengaja mematahkan pergelangan tangannya sendiri waktu berkelahi denganku – dengarkan dulu dong! – dia sedang menggencet anak lain! Aku enggak bisa diam saja!”
“Tapi aku bisa, Alec! Aku bukan kau yang suka mengumpankan diri pada masalah, harusnya kau ingat itu!”
“Yeah, akan kucatat,” jawab Alec sinis. “Tapi masalah dengan dia sudah selesai, dan kau bahkan dapat bonus masuk tim inti….”
“Aku enggak memintamu memasukkanku ke tim inti!”
“Tapi kau mengeluh jadi cadangan!”
“Yeah, tepatnya adalah, jadi cadangan saja aku ngeluh, apalagi harus main! Sadar enggak, kau baru saja menghancurkan tim baseball-ku, dan hidupku sepanjang SMA?!”
“Itu enggak akan terjadi kalau kau main bagus!”
“Dan aku enggak punya komponen ‘main bagus’ itu! Sebenarnya kau pernah mikir dulu enggak sih, sebelum bertindak?!”
Hinaan itu jelas menyulut amarah Alec, karena setelah itu, nada bicaranya jadi makin tinggi dan kasar. “Tanyakan itu pada dirimu sendiri, Ben! Kau pakai otak enggak sih, waktu pura-pura jadi aku?!”
“Apa! Tentu saja! Aku enggak membuatmu bermusuhan dengan siapapun, atau memasukkanmu ke tim pengoleksi perangko atau apa!”
“Kau membuat keluargaku berpikir aku kena narkoba, Ben! Narkoba! Semua gara-gara kau terlalu pendiam dan pasif! Ngomong sedikit apa susahnya, sih?!”
“Yah, sori deh kalau aku enggak suka buang-buang tenaga untuk ngomong enggak penting!”
“Mereka menyuruhku tes urin besok pagi!”
“Dan apa yang membuatmu khawatir soal itu, huh?! Kau enggak kecanduan. Yang harus kau lakukan tinggal pergi ke toilet, mengambil sedikit urin ke dalam tabung kaca dan menunggu keluargamu minta maaf di kakimu! Tapi apa yang harus kulakukan?!”
“Kau bisa berhenti mengeluh dan mulai latihan.”
“Pertandingannya tinggal empat hari lagi, Alec! Dan yeah, aku bisa saja melakukan latihan ekstra bersama Rachel – dan membunuh diriku sendiri dengan kelelahan, kuharap – tapi hebatnya, dia juga marah padaku. Apa ini ada hubungannya denganmu juga?!”
“Berhenti menggunakan nada menuduh itu padaku, aku sudah kenyang mendengarnya hari ini! Bukan salahku kalau dia terlihat manis di bianglala itu dan membuatku ingin menciumnya!”
“KAU MENCIUM RACHEL?!” teriak Ben begitu keras, sampai Caesar yang tiduran di bawahnya menggonggong kaget.
“Mau bikin aku tuli, ya?! Yeah, aku menciumnya – walaupun lebih tepat cuma menyentuh bibirnya – memang kenapa?!”
“Memang kenapa? Memang kenapa?! Kau melakukannya sebagai aku, idiot! Aku tidak mencium sahabatku, dan sekarang, gara-gara otak dengkulmu, aku kehilangan dia!”
“Oh, jangan sok melankolis deh. Itulah masalahmu, Ben! Kau terlalu takut mencoba sesuatu yang baru, tidak pernah mengambil kesempatan! Kau kehilangan kesempatan jadi pemain inti hanya karena kau tidak mau berusaha dalam baseball! Kau kehilangan kesempatan jadi pacar Rachel karena kau tidak mau bergerak dari status aku-bukan-pacarnya yang menyedihkan. Kalau bukan karena aku, kau enggak akan jadi apa-apa di hidupmu yang datar dan membosankan, dan ayahmu bahkan enggak bakal memujimu!”
Mengibaratkan Ben tertampar, itu belum cukup. Ia merasa seolah ada seribu petinju memukulnya telak, kemudian menyuruh selusin kuda menginjak-injaknya. Hatinya sakit, dan dalam beberapa detik yang konyol ia bertanya-tanya apa seseorang bisa mati karena terlalu sakit hati. Sungguh menyedihkan, bagaimana saudara kembarnya sendiri pun bisa menerka betapa payah dirinya hanya dalam tiga hari.
Alec tampaknya juga menyadari kata-katanya kelewatan, ia gelagapan berusaha meralatnya. “Ben, aku tidak….”
“Sudahlah. Kau memang benar,” kata Ben pahit, dingin. “Yeah, aku memang tak pernah mengambil kesempatan. Kau tahu kenapa? Karena yang datang padaku bukan kesempatan yang kuinginkan. Sama sepertimu yang menganggap remeh Juilliard karena kau sudah melupakan masa lalu kita, huh, Alec?”
“Kenapa kau melemparkan ini padaku? Aku masuk Juilliard, kau tahu itu!”
“Yeah, tapi hatimu tidak. Sekarang kau lebih memilih baseball, meniru kakak-kakakmu. Dan kukira kau belum berubah.”
“Aku tidak berubah!” lengking Alec emosi, “memang kenapa kalau aku tak bercita-cita menjadi pianis lagi? Yeah, benar, sudah tidak sejak usiaku dua atau tiga belas, tapi itulah proses, Ben! Aku tumbuh dewasa, dan harusnya KAU juga!”
Ben tertawa kasar. “Kau bukan tumbuh dewasa. Kau cuma melupakan masa lalu kita. Melupakan Mommy dan Daddy. Melupakan aku, karena siapa yang butuh Benny yang tidak pernah mengambil kesempatan kalau ada kakak-kakak berisik yang sepenuh hati mendukung cita-citamu? Benar kan, Alec?”
“Ben, aku tidak…. Kenapa kau jadi memojokanku seperti ini?!”
“Aku tidak memojokanmu.”
“Oh ya, kau melakukannya! Kau memutar pembicaraan ini agar aku merasa bersalah, kau pikir aku bodoh?! Aku benci cara seperti itu! Aku benci kamu, Ben!”
“Yeah. Aku juga benci kamu.” Ben memutuskan telepon.
TBC
Rabu, 18 Agustus 2010
Label:
Alec
,
AU
,
Ben
,
Dark Angel
,
Dean
,
Fanfiction
,
Sam
,
Supernatural
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
0 komentar :
Posting Komentar