SEASON IN THE SUN CHAPTER 2
Special Interview With Twinchester
Lena (L): Halo, Alec, Ben. Sebentar lagi waktu keberangkatan kalian akan tiba. Bagaimana perasaan kalian?
Alec(A) : Aku enggak sabar menanti momen ini. Aku bahkan menandai kalenderku setiap hari, seperti menunggu ulangtahun saja! (tertawa) Ini akan menjadi sejarah besar dalam hidupku, aku ingin segera melakukannya.
Ben (B): Yeah, setelah kerja keras bertahun-tahun, akhirnya kami berhasil mendapat kesempatan ini. Ini seperti mimpi yang jadi kenyataan. Aku sangat senang.
L: Sejak kapan, sih, kalian bercita-cita menjadi circumnavigator (pelayar yang mengelilingi dunia.red)?
B: Kami berasal dari keluarga pelaut. Kami besar dengan melihat kakak-kakak kami (Dean dan Sam Winchester)berlayar mengarungi samudera. Perjalanan mereka memberi pengaruh besar bagiku, sejak kecil aku tidak memiliki ambisi lain selain mengikuti jejak mereka.
A: Yeah. Aku sudah ingin (menjadi circumnavigator) sejak…. Sejak aku bisa mengingatnya, kurasa. Mimpi itu sudah tertanam bahkan sebelum aku menyadarinya.
L: Apa ada target khusus dalam perjalanan kalian? Memecahkan suatu rekor, misalnya?
A: Tidak, tidak. Kalau mau memecahkan rekor, harusnya kami berangkat waktu umur empat belas. Untuk mengalahkan Jess, kau tahu (Jessica, circumnavigator termuda saat ini, yang juga adalah sepupu si kembar.red)
B: Ini bukan perjalanan mengejar rekor, tapi semacam tradisi keluarga. Seperti Upacara Orang Dewasa di Jepang, atau orangtua yang menuang whisky pertama anak-anak mereka. Kami berlayar untuk membuktikan kedewasaan kami (Alec terkekeh, Ben tersenyum). Tapi bukan berarti kami santai-santai. Kami punya target untuk menyelesaikan ini maksimal delapan bulan. Dan sebisa mungkin berlayar non-stop – ini akan sulit, tapi kami akan berusaha.
L: Delapan bulan! Wow, itu waktu yang lama untuk ‘bergoyang’ di atas laut (si kembar tertawa). Apa saja persiapan kalian untuk perjalanan ini?
B: Banyak orang yang mempertanyakan kesiapan kami, tapi percaya deh, kami sudah menyiapkan segalanya. Bahkan sebelum mengetahui kapan akan berangkat, kami sudah berlatih dalam pelayaran-pelayaran jarak pendek. Kami punya Twinchester Team – mereka Tim Pendukung Perjalanan yang akan memantau kondisi dan menjalin komunikasi secara rutin. Untuk kebutuhan hidup, kami membekali diri dengan makanan dan tangki air berkapasitas tiga ratus liter, plus mesin penyuling air laut untuk keadaan mendesak. Perahu kami beserta perlengkapannya sudah lolos standar keamanan, jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan.
L: Lalu bagaimana kalau kalian kesepian dan kangen keluarga?
B: Oh, yeah… Itu termasuk isu besar kalau kau berlayar sepuluh tahun lalu (nyengir). Tapi sekarang dengan internet dan ponsel, keluarga hanya berjarak satu panggilan telepon. Kami memasang kamera di komputer, jadi tetap bisa bertatap muka dengan mereka. Sekarang, itu bukan masalah lagi.
A: Kurasa akan ada saatnya kami kangen sekali pada rumah…. dan tempat tidur yang nyaman. Tapi kalau kesepian sih, enggak kali ya. Kita ‘kan, berlayar berdua. Setidaknya ada teman senasib, deh. (nyengir pada Ben, Ben memutar bola mata).
L: Oke, pertanyaan terakhir. Apa kalian punya pacar yang menunggu kepulangan kalian? (tersenyum nakal)
A&B: (tertawa salah tingkah)
A: Tidak…. Itu bakal terlalu sinetron.
B: Yeah, kami belum punya pacar (wow, cewek-cewek! Kesempatan nih!). Kasihan kan, dia harus nunggu cowoknya main-main keliling dunia. Yang ada nanti dia cemburu lagi sama Dusan dan Pearl (tertawa). Pokoknya, aku mau fokus ke pelayaran dulu.
A: Aku juga. Kalau sudah pulang nanti, baru deh, aku coba nge-date dengan cewek. Semoga saja dia enggak bosan sama aku yang bisanya ngomong soal kapal melulu, hehehe….
Kalau cowoknya kayak Alec dan Ben sih, enggak bakal bosan ya girls? (LeHan)
(dikutip dari wawancara Lena Hansen, reporter majalah Seventeen! dengan Alec dan Ben Winchester)
* * *
Semakin hari Alec semakin kecewa saja dengan pelayarannya. Awalnya dia mengira bagian laut berangin pelanlah penyebabnya – membuat Dusan berlayar stabil, ombaknya mengayun-ayun badan perahu dengan pelan sehingga bikin ngantuk. Tapi ternyata, ketika sampai di daerah yang anginnya lebih kencang pun, tak ada tantangan berarti. Paling cuma Dusan yang makin bandel dikendalikan, maunya belok-belok keluar jalur terus, dan ombak jahat yang mengguyur dek ketika Alec melepaskan jaket anti airnya – meninggalkan dia basah kuyup macam anjing tercebur kolam. Atau lebih parah, membasahi pakaiannya yang sedang dijemur di tali tiang layar – tega benar sih, padahal Alec kan mencucinya dengan susah payah!
Tidak banyak yang bisa dilakukan untuk membunuh waktu kalau kau dikepung air asin sejauh mata memandang. Alec pernah mencoba memancing mengikuti saran Ben, berharap akan mendapat tangkapan spektakuler – minimal ikan tuna. Tapi dia langsung ngambek begitu mendapati hasil menunggu dua jamnya hanya seekor cumi-cumi. Menggerecoki Ben juga tidak asyik lagi. Tadinya gampang sekali membuat saudaranya itu tersulut hanya dengan pertanyaan omong kosong bernada serius seperti “hei Ben, menurutmu mana yang lebih bergizi untuk makan siang, kornet atau sarden kaleng?” dan “Ben, mungkin enggak ya, kalau kita ketemu The Flying Dutchman?” mendengarkan Ben mencak-mencak di radio lebih menghibur daripada mendengarkan lima ribu lagu di iPod-nya. Tapi kemudian pertanyaan-pertanyaan itu mulai basi dan Ben mulai kebal, sehingga sekarang kalau Alec bertanya sesuatu yang benar-benar penting pun (dalam hal ini, misalnya bagaimana cara mengeringkan baju tanpa diterjang ombak terus-terusan; dan bagaimana menghilangkan bau amis campur garam yang seperti menempel di badannya, tak peduli betapa sering ia mandi) Ben cuma menjawab dengan kalimat-kalimat singkat-padat-jelas. Membosankan.
Orang-orang rumah pun sama payahnya. Berdiskusi soal mekanisme perjalanan dengan mereka memang oke, tapi begitu topik beralih ke kehidupan sehari-hari, yang ada cuma bikin senewen. Alec kapok curhat ke Mary gara-gara disodori kuliah legendaris yang dimulai dengan kata ‘kau harusnya bersyukur!’ ketika ia mengeluh betapa menjemukannya pelayaran itu. Sam jarang bisa dihubungi karena sedang sibuk-sibuknya membuat skripsi. John tidak tertarik membicarakan hal lain selain kondisi Dusan; sedangkan Dean, orang yang paling enak diajak ngobrol, akhir-akhir ini sering digerecoki Seara yang cemburu jika ayahnya bicara dengan Alec, sehingga mereka tidak bisa berbincang lama-lama. Alec sampai heran, salah apa sih dia sama anak itu, sampai-sampai Seara begitu memusuhinya.
Akhirnya, ketika kejenuhan cowok itu sampai pada titik tergoda melompat ke dalam laut hanya untuk cari sensasi, ia menjajal saran (perintah) Ben yang selama ini tidak dihiraukan: ikut mengisi blog. Satu-satunya yang dikeluhkan sang navigator Pearl Wings itu sejauh ini adalah bagaimana Alec tidak mau membantunya meng-update blog, padahal nama blog-nya ‘twinchester’s journal’, yang artinya milik mereka berdua dan HARUSNYA diisi mereka berdua juga.
Jadi sore itu, sambil menenggak minuman penambah energi, Alec membuka internet dan masuk ke halaman blog. Ia langsung disambut catatan-catatan singkat-tapi-informatif buatan Ben. Untuk sesaat Alec hanya bengong menatap deretan kalimat di layar. Mana mampu dia membuat catatan harian seperti itu! Nilai bahasanya di sekolah saja mepet – dia lulus dengan mengerjakan tugas tambahan menulis makalah, yang dibantu (dan diedit habis) oleh Ben. Kalau sampai dia mencoba, bisa-bisa hasilnya dalah tulisan panjang tak bermakna yang tidak jelas maksudnya apa (menyadur pendapat Mrs Thompson, guru Bahasa Inggris; tentang karangan Alec).
Namun berhubung dia terlanjur menyanggupi perintah Ben, Alec berusaha memosting sesuatu yang sekiranya layak. Ia mengambil buku sketsanya yang tersembunyi di bawah bantal (kebiasaan di rumah untuk menyimpan gambar-gambar berharga agar tidak ditertawakan Sam dan Ben benar-benar sudah mengakar), dan sibuk memilah-milah lukisan yang ia buat selama pelayaran. Memang tidak sebagus karya-karya yang menumpuk di rumah – menggambar sambil terayun-ayun dalam perahu dan tanpa alat gambar memadai bukan sesuatu yang mudah – tapi ada beberapa sketsa yang cukup memuaskan. Ia memilih dua lukisan yang membuatnya tersenyum geli, memfotonya, lalu mengunggahnya.
Lukisan pertama diberi judul Pelayaran yang Kubayangkan; memuat Dusan terombang-ambing di tengah ombak ganas dengan sirip-sirip ikan hiu mengelilinginya dan Alec (diilustrasikan sebagai pria muda berotot macam Hercules) berjuang keras mengendalikan layar. Lukisan kedua berjudul Pelayaran yang Sesungguhnya, menggambarkan Dusan mengambang tenang di atas laut tanpa ombak, dan Alec yang melongok keluar – lengkap dengan mata sipit, tulisan ‘zzzz’ dan muka super bosan. Gambar yang jujur, sangat mendeskripsikan keadaan sejauh ini.
Di luar dugaan, orang-orang menganggap gambar Alec sangat kocak dan dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, ia sudah mendapat seribu dua puluh komentar yang memuji bakatnya. Itu bahkan dua kali lebih banyak daripada komentar untuk Ben dan ulasan ilmiahnya tentang salah satu spesies ikan yang bermigrasi pada musim dingin.
Ben tidak mau berkomunikasi dengan Alec selama seminggu setelah itu.
* * *
Kejadian luar biasa datang pada suatu malam di bulan ketiga pelayaran.
Malam itu tak ada angin sama sekali, kedua perahu hanya menggelincir dari bukit ombak satu ke bukit ombak lain – kalau tidak terbiasa, dijamin sudah mabuk laut. Alec berusaha memanfaatkan jam tidurnya semaksimal mungkin tanpa menghiraukan posisi perahu yang miring kesana kemari tidak keruan, sampai-sampai beberapa barang berjatuhan ke lantai.
Tiba-tiba radio berkeresak hidup, membangunkan cowok itu dari tidur-tidur ayamnya. Sambil menggerutu, ia menggapai-gapai mencari alat itu, sebelum akhirnya menemukannya terjepit di antara bangku tidur dan meja. Masih setengah tidur, Alec tanpa sadar menempelkan radionya ke telinga, seperti kalau sedang bertelepon. Ia langsung berjengit dan melempar radio itu begitu Ben bicara, suaranya melaung memekakkan.
“Kau ini ngapain, sih?” tanya Ben heran saat Alec sudah sadar sepenuhnya dan memungut kembali radio itu.
“Harusnya aku yang tanya begitu,” balas Alec sewot sambil menggosok-gosok kupingnya yang masih berdenging. Dia baru menyadari bahwa ternyata Ben kalau ngomong keras sekali. “Ngapain kau ngontak malam-malam begini? Ganggu orang tidur saja.”
“Maaf, deh, kalau aku ganggu,” jawab Ben, tidak terdengar menyesal sama sekali. “Padahal aku cuma ingin menunjukkan sesuatu yang hebat.”
“Sesuatu yang hebat apa?” kuap Alec. Ia terhuyung sedikit dan harus berpegangan pada meja ketika sebuah ombak menghantam sisi perahunya. Laut tanpa angin memang menyebalkan.
“Cepat ke geladak, kau bakal tahu sendiri,” kata Ben, seperti biasa menggunakan nada ikuti-saja-kata-kataku-kalau-mau-hidup-nya yang mengesalkan.
Alec mengambil jaket dan topinya, lalu berjalan terseok-seok keluar kabin menuju udara luar yang dingin dan lembab – cuaca malam khas samudera. Tanpa penghangat tubuh, dia bisa kena paru-paru basah.
Atmosfer di luar terasa menyeramkan. Kegelapan begitu pekat seolah ada kelambu hitam yang membungkus Dusan erat-erat, menekan dan menyesakkan. Bunyi kecipak air menambah cekam suasana – Alec merinding teringat film tentang gurita raksasa yang menyerang sebuah kapal. Bulan sudah tinggi, cahaya redupnya terpantul di air yang beriak-riak. Tak ada yang menarik dari suasana ini. Alec tak habis pikir kenapa Ben membangunkannya hanya untuk merasakan ‘momen horor’ di tengah laut.
“Apanya yang hebat, sih?” tanya Alec gondok sambil menatap Pearl yang merapung tenang di depan. Perahu putih itu tampak menakutkan di malam hari, melayang tanpa beban seperti hantu berjubah. Secara refleks Alec berdoa semoga yang mengontaknya adalah Ben sungguhan dan bukan setan laut iseng.
“Sssh, diam,” bisik Ben pelan suara nafasnya menderu di radio. Alec menghela nafas lega. Setan mana mungkin bisa nafas segala. “Dengarkan baik-baik, deh.”
Alec menajamkan telinga. Awalnya ia tidak mendengar apa-apa selain celepak air ditingkahi derit badan perahu yang bergerak perlahan. Tapi kemudian ia menangkap suara lain: lenguhan berat yang menggema di kejauhan, seolah ada kapal berbunyi di bawah permukaan laut. Kemudian, tanpa aba-aba, muncul semburan air, saling menyusul satu sama lain, bagai air mancur di taman kota. Hanya ada satu makhluk yang bisa menciptakan keunikan itu. Itu…. Itu….
“PAUS!” teriak Alec terpana-pana, matanya melebar, mulutnya melongo besar membentuk ekspresi yang nyaris komikal. “Itu paus! Ben! Kau lihat itu? Gerombolan paus!” Paus-paus itu melenguh keras seolah mengkonfirmasi keberadaan mereka, beberapa bahkan melempar diri ke udara terbuka untuk menunjukkan siluet mamalia besar, persis seperti paus di film Free Willy. Alec begitu terpukau sampai mau pingsan rasanya. Ada rombongan paus sungguhan melintas hanya beberapa kilometer dari tempatnya berdiri! Bahkan Dean pun tidak menjumpai pengalaman sehebat ini.
“Yeah, aku tahu,” ujar Ben, ada geli dalam suaranya. “Untung kau kubangunkan, kan?”
“Yeah.” Alec mengangguk gembira walau Ben tidak melihatnya. Ia nyengir dari kuping ke kuping. “Keren. Makasih, Ben. Kau memang paling top, deh.”
Ben terdiam sejenak, kemudian menjawab dalam gumaman salah tingkah, “Uhm. Tak masalah. Makasih juga…. Uh, untuk pujiannya.”
Cengiran Alec tambah lebar membayangkan ekspresi Ben, tapi ia tak menjawab lagi. Keduanya menonton paus-paus itu bermigrasi dalam keheningan yang menyenangkan, sampai mereka menghilang ke daerah gelap di luar jangkauan pandang.
* * *
Badai pertama menghajar Pearl dan Dusan tiga belas hari setelah malam paus. Angka sial itu memang ada.
Alec dan Ben hampir melintasi separuh rute keliling dunia mereka saat itu. Hari sedang cerah, bukan jenis terang-tapi-berkabut yang lebih sering mewarnai cuaca laut lepas, tapi cerah dengan matahari bersinar terik sampai-sampai si kembar meninggalkan jaket mereka dan berlayar hanya dengan celana pendek – mereka bahkan tidak repot-repot memakai kaos (didukung kenyataan persediaan kaos bersih mereka makin menipis – sulit membuat cowok di daratan untuk merutinkan kegiatan cuci baju, cowok di laut apalagi). Angin memang berhembus lebih kencang dari batas normal, tapi tidak cukup dahsyat bagi mereka untuk menyangka bakal ada badai.
Sampai kemudian, pukul satu siang, ketika Alec sedang berusaha menyelamatkan sarden makan siangnya yang gosong dan Ben mengobrak-abrik kulkas mencari selada beku; mereka menerima sinyal dari NAVTEX – sebuah sistem penyiaran otomatis yang memantau keadaan laut – tentang badai yang menghadang sekitar dua puluh jam dari posisi mereka.
Bisa dibayangkan betapa sibuknya si kembar sepanjang sisa hari itu. Mereka mengontak non-stop Tim Pendukung Perjalanan, meteorologis, dan mendiskusikan ploting posisi badai – kira-kira mereka bisa pindah haluan dan menghindarinya, atau tetap menembusnya. Karena badai itu tidak termasuk besar dan mengambil jalur memutar beresiko bertemu badai susulan yang lebih ganas, akhirnya diputuskan Alec dan Ben tetap menempuh jalan lurus.
Pukul tujuh keesokan harinya, cuaca mulai berubah. Kabut tebal turun begitu rendah, langit biru muda yang kemarin berubah warna menjadi kelabu gelap. Alec mengecek persiapan perahunya sekali lagi, memastikan alat komunikasinya berfungsi dengan baik, lalu mengenakan kostum khusus menghadapi badai: jaket merangkap pelampung, topi, kaus tangan tebal, kacamata anti air, dan sepatu karet untuk berjalan di dek licin. Dusan dan Pearl diset semi-autopilot, untuk meringankan beban navigatornya tetapi masih mungkin disetir menghindari ombak.
Ombak pertama menerjang kedua perahu layar itu pukul delapan lewat empat puluh menit. Bagai sebuah pertarungan yang baru dibuka, setelah itu laut langsung mengamuk, air berputar dan bergejolak, seolah ada sendok raksasa mengaduk-aduknya. Angin mendera dari segala penjuru, berderu seperti seribu kipas angin tua, ditadah layar yang menggelebat keras. Pearl dan Dusan terpaksa menjaga jarak lebih jauh agar tidak ada resiko bertabrakan.
Alec bergumul persis seperti karakter yang digambarkan dalam lukisannya. Tangannya memegangi setir erat-erat, seluruh ototnya menegang dalam usaha mempertahankan Dusan di tengah deraan angin dan hujan. Sebuah ombak besar mendorong bagian belakang perahu kecil itu, dan detik berikutnya, Alec menatap laut yang menggila dari kemiringan hampir sembilan puluh derajat, layaknya salah satu adegan dalam klimaks film Titanic. Ia berteriak sekencang-kencangnya, menghabiskan udara dalam paru-paru, ketika Dusan menukik turun bersama dengan ombak yang bergulung-gulung. Untuk sesaat cowok itu mengira dia akan mati, kemudian Dusan terhempas keras ke air. Bayangan gelap menutupi perahu itu, dan Alec sadar bahwa ia berada di bawah ombak, seperti para peselancar di Hawaii, hanya saja posisinya saat ini lebih mengancam nyawa daripada mereka. Buru-buru ia memutar setir, berlomba dengan waktu untuk keluar dari jangkauan ombak sebelum air yang tingginya dua kali Dusan itu menelannya.
Namun sia-sia. Dengan gemuruh keras ombak itu mengguyur Dusan secara brutal, membasahi setiap senti perahu itu, bahkan sampai kabin-kabinnya. Alec megap-megap, terbatuk dan muntah-muntah, mengerjapkan mata dari air asin yang membuat mata pedih, sambil terus berusaha mengemudikan Dusan. Suara cemas Ben mengumandang dari radio komunikasinya yang tergantung di sabuk dan terbungkus pelindung plastik.
“ALEC! ALEC, KAU ENGGAK APA-APA?! HEI! JAWAB!”
“Y-yeah,” sengal Alec, mengelap mulut. “Cuma ombak biasa. Kami enggak apa-apa, kok,” katanya, menunjuk dirinya dan Dusan.
Ben menghela nafas lega. Dia hampir kena serangan panik waktu melihat Dusan menghilang di balik ombak. Ia meletakkan radio kembali ke sakunya dan berkonsentrasi pada masalahnya sendiri. Sementara Dusan membutuhkan navigator yang lincah untuk menghindari ombak, Pearl butuh navigator yang kuat untuk menjaga keseimbangan. Di hari-hari biasa, Ben harus bekerja fisik lebih keras daripada kembarannya untuk menjalankan perahu yang beratnya minta ampun, tapi di tengah badai begini, rasanya seluruh sendinya hampir copot hanya untuk membelokkan Pearl ke arah yang tepat.
Tiba-tiba ombak besar menghantam sisi kanan Pearl, dan Ben kurang cekatan memutar setirnya. Perahu putih itu oleng dengan bunyi lenguh keras, seperti bunyi air ditumpahkan dari kuali tembaga. Ben tergelincir dari posisi berdirinya, jantungnya melompat ke tenggorokan waktu kedua kakinya tercebur ke air laut yang dingin. Untung refleksnya bagus, ia segera menyambar tali baja khusus yang dirancang untuk menyelamatkan navigator dari bahaya jatuh ke laut, mengangkat tubuhnya ke dek dengan susah payah sementara Pearl terempas kesana-kemari.
Baru separo berdiri dengan satu tangan meraih setir dan yang lain tetap erat berpegangan pada tali, ombak baru muncul, kali ini tingginya tepat mencapai ujung tiang layar Pearl. Ben hanya sempat berpikir, ‘Oh, Tuhan….’, dan kemudian ombak itu mengguyurnya bagai seorang ibu mengusir kucing dengan seember air. Begitu besar debit airnya hingga selama beberapa detik Ben tidak bisa bernafas maupun melihat, hanya ada air dan air menghajar Pearl tanpa ampun. Cowok itu bahkan tidak yakin apa dia masih berada dalam perahu atau sudah terseret ombak dan tenggelam. Baru ketika ombak itu menyurut dan Pearl kembali berdiri gagah di atasnya, Ben membuka mata dan memposisikan diri dengan layak di belakang setir.
“Alec, bagaimana keadaanmu?” tanya Ben, berharap Dusan tidak ikut terserang ombak barusan.
“Oke,” jawab Alec, dan dia memang terdengar oke, tidak ngos-ngosan seperti tadi. “Kami enggak kena ombak itu. Aku menghindar tepat waktu. Kau?”
“Hampir tercebur ke laut, tapi bisa kuatasi.” Mata Ben mengecek cepat kondisi sekitarnya, mencari kalau-kalau ada kerusakan. “Pearl juga aman-aman saja, sepertinya.”
“Bagus. Kurasa aku mulai terbiasa dengan badai ini,” kata Alec, dan dalam situasi begini, Ben bisa menangkap nada puas diri dalam kata-kata adik kembarnya. “Selama badai ini tidak memburuk, kurasa aku bakal selamat.”
“Yeah, aku juga” sahut Ben sambil bermanuver menghindari ombak yang siap mengguncang perahunya lagi. Ha! Dia tak akan melakukan kesalahan dua kali.
Sisa badai itu dilewati dengan cukup mulus, Dusan ‘hanya’ tertelan ombak dua kali lagi dan Pearl nyaris membelok memblokir jalur Dusan karena Ben kehabisan tenaga mengendalikannya, tapi semua bisa ditangani dengan baik. Mereka keluar dari area badai dengan selamat, tanpa cedera maupun kerusakan parah, dan kedua navigator itu menghabiskan waktu tenang mereka berhibernasi, memulihkan kondisi tubuh yang capek, sekaligus menahan rasa mual yang terus-terusan muncul setelah enam jam dikocok dalam badai.
* * *
3 Mei 2010
CATATAN PASCA BADAI
Terkait masalah badai kemarin, kami menerima banyak sekali email yang menanyakan kondisi kami. Aku, Alec, bersama Dusan dan Pearl, baik-baik saja dan berhasil melalui badai itu tanpa hambatan berarti. Ada sedikit kerusakan di layar utama Pearl, bagian ujungnya sobek karena terhantam ombak, tapi itu bukan masalah besar – aku akan memperbaikinya segera setelah kecepatan angin menurun. Sementara itu, Dusan tetap utuh seperti baru, hanya beberapa alat elektronik Alec, seperti iPod dan ponsel yang tidak anti air, rusak ketika ombak masuk ke kabin.
Kelembaban udara saat ini sangat tinggi, kami harus menyimpan gadget-gadget sebagai tindakan preventif terhadap lebih banyak kerusakan. Karena itu, untuk sementara ini aku dan Alec tidak akan mengepos foto maupun video. Walaupun begitu, komputer bawaan perahu didesain khusus untuk perjalanan laut, jadi *semoga* masih tetap berfungsi dengan baik dan kami tetap bisa mengepos jurnal harian.
Terimakasih atas semua doa dukungan kalian, baik dari email, komentar, maupun telepon ke Twinchester Team. Kami benar-benar menghargai dukungan kalian. B.W.
TBC
Senin, 30 Agustus 2010
Label:
Alec
,
AU
,
Ben
,
Dark Angel
,
Dean
,
Fanfiction
,
Sam
,
Supernatural
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
0 komentar :
Posting Komentar