MIRROR IMAGE CHAPTER 7
Kesan Alec ketika berangkat latihan di hari kedua berbeda seratus delapan puluh derajat dengan latihan perdananya. Kemarin dia datang penuh semangat seperti orang baik mau masuk surga, tetapi sekarang, ia lebih mirip penjahat yang digiring ke tiang eksekusi, atau orang bego yang melemparkan diri ke kandang macan. Andai tidak bertekad untuk membereskan masalah Mario sebelum pulang saja, dia pasti masih sembunyi di rumah Ben, bolos latihan. Tapi Alec bukan pengecut yang meninggalkan masalah untuk saudaranya, terima kasih. Dia akan membetulkan kekacauan ini sebaik yang ia bisa.
“Aku akan menunggumu di podium,” kata Rachel ketika mereka memarkirkan sepeda. Cewek itu berkeras ingin menemani sahabatnya latihan pagi. Alec tahu dia takut ‘Ben’ dihajar seluruh anggota tim (yang kemungkinan besar iya), dan sepertinya, Rachel juga sudah membawa peralatan pertolongan pertama di ranselnya untuk jaga-jaga.
Setelah mengantar Rachel duduk di posisi strategis (baca: posisi yang bisa memantau kondisi Alec), cowok itu masuk ke ruang ganti. Tatapan yang ditujukan padanya oleh anggota tim benar-benar menciutkan nyali. Tapi Alec tetap berjalan gagah menuju lokernya di deret paling belakang ruang ganti, tidak menunjukkan kegentaran sedikitpun meski kakinya terasa seperti gumpalan jeli. Tidak boleh ada yang tahu dia takut, karena itu hanya membuat mereka makin menuduhnya bersalah – padahal itulah satu-satunya senjata Alec saat ini: keyakinan bahwa ia tidak bersalah, bahwa Mario cedera atas kebodohannya sendiri.
“Kau cari gara-gara apa sama Mario, sih? Anak-anak di sini kayaknya pingin banget menggorokmu!” desis Keith sambil mengedip-kedip cepat seperti anak tupai begitu Alec selamat sampai lokernya.
Alec mengerling para anggota tim sejenak, memastikan tidak ada yang membawa gorok betulan, sebelum menjawab, “cuma mempertahankan idealismeku saja, kok.”
Sebelum Alec bisa menjelaskan lebih jauh tentang idealismenya, sang pelatih muncul. Pria itu, seorang laki-laki tinggi besar berkepala botak yang cuma dipanggil ‘Sir’ atau ‘Pelatih’ sehingga Alec tidak tahu namanya, tampak bagai banteng siap mengamuk bahkan dalam suasana hati baik. Bayangkan seperti apa mukanya kali ini, ketika tahu pemain andalannya cedera gara-gara anak cadangan yang bahkan tidak becus memegang tongkat pemukul.
“Anak-anak!”gerungnya keras. Suaranya menggema dan diperbesar dua kali oleh ruang ganti yang berbentuk lorong, hingga kalau Alec tidak melihatnya, ia bakal mengira yang ngomong itu raksasa. Anggota tim otomatis berkumpul dan berdiri tegak penuh perhatian, layaknya prajurit di bawah perintah jenderal.
“Seperti yang mungkin kalian sudah tahu, aku datang dengan membawa berita buruk,” lanjut Pelatih, berjalan mondar-mandir di antara anak-anak didiknya. “Kemarin aku menerima kabar bahwa Mario Aidle, jagoan tim kita, Sang Serigala Hitam, MENGALAMI PATAH PERGELANGAN TANGAN GARA-GARA SALAH SATU MAKHLUK CADANGAN TAK BEROTAK INI MEMUTUSKAN UNTUK BERKELAHI DENGANNYA!” Ia mendelik marah pada Alec, yang ditiru seluruh anggota kecuali Keith. “APA KAU SUDAH GILA, ANDERSON?!”
Alec bisa merasakan Keith gemetar dari ujung rambut hingga ujung kaki di sampingnya, dan entah bagaimana jadi merasa agak tenang. Mungkin karena tahu dia bukanlah orang yang paling ketakutan di ruang ini, seperti sebagaimana seharusnya. Tiba-tiba dia mendapat keberanian untuk membela diri.
“Tidak, Sir!” jawab Alec tegas dan lantang, tanpa mengurangi sikap hormat.
Ujung mulut Pelatih berkedut sedikit, jelas tidak menyangka anggota cadangan yang biasanya pendiam itu berani menjawabnya. Amarahnya makin tersulut. “KALAU BEGITU OTAKMU MELELEH KEPANASAN! Kau tahu apa akibatnya tindakan heroik kampunganmu itu pada tim kita, huh?!” Pelatih mencak-mencak, Alec bisa melihat hidungnya kembang kempis kayak naga. Untung dia tidak bisa menyemburkan api. “Pertandingan tinggal menghitung hari! Kita tidak bisa cari anggota baru lagi, sialan! Sekarang aku terpaksa memakai tuyul cadangan yang lembek, banci, payah!” teriaknya. Alec agak kasihan pada anak-anak yang berdiri dekat Pelatih dan ‘kehujanan’.
Semua mata kini tertuju padanya, dan andai tatapan bisa membunuh, Alec bakal lebih mati daripada kain pel saat ini. Meski demikian, diam-diam ia senang juga. Keabsenan Mario memberi kesempatan dia mengisi bangku inti! Barangkali kalau dia bisa mencetak beberapa angka untuk tim, dia bakal diampuni. Kau tidak memusuhi bintang dalam timmu, begitu aturan tak tertulis dalam permainan baseball. Tambah lagi, memenangkan pertandingan itu akan jadi hadiah perpisahan yang manis untuk Ben.
“Parker! Kau masuk!” tunjuk Pelatih, membuyarkan jalinan rencana Alec. Ia melongo menatap Keith, yang tersenyum begitu lebar sampai mulutnya seperti hampir sobek. Di sekitarnya, para anggota inti menepuk dahi putus asa.
“Sir, Anda tidak bisa memutuskan begitu saja!” protes Alec. Bisa-bisanya Pelatih merekrut Keith yang kemampuan mainnya kalah sama anak perempuan!
“Maksudmu kau tidak setuju denganku, Anderson?” geram Pelatih berbahaya. Kalau yang bicara benar-benar Ben, dia pasti sudah mundur dan minta maaf. Tapi Alec jauh lebih keras kepala dibanding saudaranya, dan salah atau tidak salah, dia paling tidak terima diperlakukan tidak adil.
“Ya, Sir. Anda harusnya menyeleksi kami dulu sebelum memilih siapa yang pantas jadi tim inti,” jawab Alec, tanpa sengaja terdengar menggurui.
“Dengan sikap kurang ajarmu itu, kau beruntung tidak kudepak dari tim, Anderson,” kata Pelatih tertahan, Alec bisa melihat pembuluh darah berkedut-kedut di pelipisnya. Cowok itu kurang setuju dengan kalimat sang pelatih, karena dia cukup pintar untuk tahu bahwa Pelatih tidak mengeluarkannya karena tidak mau. Dia tidak bisa dikeluarkan karena pertandingan tinggal beberapa hari lagi dan mereka butuh pemain cadangan untuk dipajang.
“Keith bahkan tidak bisa melihat arah bola dengan benar! Anda serius mau mengandalkannya?!” Alec meledak. Di sampingnya, Keith yang sedari tadi bingung mau memihak siapa, tampak seperti disambar petir. Dia memandang Alec dengan tersinggung, tapi cowok itu tidak peduli.
“Jangan mempertanyakan kebijakanku, Anderson! Setidaknya Parker tidak cukup bodoh untuk mematahkan tangan Aidle.”
“Dia mematahkan tangannya sendiri, Sir!”
“Gara-gara kau memancing emosinya. Berhenti merecokiku dengan rengekan tak bermutumu ini.”
“Tapi Sir….!”
“Tidak ada tapi-tapian. Keputusanku sudah final.” Pelatih mengangkat tangan mengakhiri argumen.
Alec menggertakkan gigi dengan marah. Tidak bisa begini. Kalau mereka memasang Keith, dia tidak akan bisa mengembalikan keadaan seperti semula, dan Ben akan kembali dengan satu tim membencinya. Tambah lagi, kalau Keith yang main, mereka bakal kalah di putaran pertama, demi Tuhan!
Cowok itu memutar otak mencari jalan keluar sebelum tim ke lapangan untuk latihan pagi. Tak satupun dari mereka tampak bersemangat, agaknya biarpun dendam pada ‘Ben’, mereka punya pendapat yang sama atas dimasukkannya Keith dalam tim. Alec mengamati wajah loyo tiap anggota, berharap bisa menemukan inspirasi. Matanya terhenti pada Josh dan Cormac, sepasang bersaudara yang lagi menggerundel bersama. Keduanya selalu mengingatkan Alec pada Sam dan Dean.
Dan Sam dan Dean selalu mengingatkan Alec pada ide-ide jenius gila.
Alec menyeringai. Oh yeah, dia akan menggunakan cara yang satu itu.
“Oh, baiklah kalau begitu,” kata Alec keras-keras sambil menggendong kembali ranselnya. Seluruh anggota tim dan Pelatih yang sudah separo keluar dari ruang ganti menoleh padanya. “Mulai hari ini aku enggak akan ikut latihan. Percuma, toh ujung-ujungnya juga bakal kalah.”
Sunyi lama setelah kata itu terucap, semua orang menatapnya dengan ekspresi campuran antara marah, kaget, dan buset-kesambet-apa-sih-dia-berani-bener terpampang jelas bagai iklan di baliho. Detik-detik berlalu dengan semua orang mematung tak percaya, sampai akhirnya Pelatih angkat bicara.
“Apa maksudmu?” tanyanya dingin.
“Oh, Anda tahu,” Alec mengangkat bahu, “selama ini saya bekerja keras karena permainan anggota tim inti yang baik, dan saya tidak mau mengacaukan permainan seandainya harus masuk lapangan. Tapi jika kualitas tim inti saja sudah… Yah, kehilangan Serigala Hitam dan digantikan oleh pemain yang tidak sebagus dia, saya ragu apa kita bisa bertahan cukup lama untuk berganti pemain.”
Pelatih tampak seolah seseorang baru saja menampar atau meludahinya. Andai Mom tahu apa yang Alec katakan, dia pasti sudah dijewer. Tapi Mom berada ribuan mil jauhnya dari ruang ganti ini dan Alec bisa melancarkan serangannya tanpa ampun. Ia berjalan keluar melewati Pelatih dengan penuh gaya, seperti orang kaya yang tak sabar ingin minggat dari motel murahan.
“Oh, dan satu lagi,” katanya, menoleh. Dia jadi merasa seperti lakon utama dalam film tentang pria macho. “Terimakasih sudah menempatkan saya di bangku cadangan, Sir. Setidaknya saya bisa sembunyi dari komentar penonton tentang bagaimana uniknyastandar tim kita dalam memilih pemain.”
Alec berbalik, berjalan pelan-pelan menikmati tatapan heran rekan-rekannya, sekaligus menunggu keputusan Pelatih. Senyum tersungging di bibirnya, sudah tahu bunyi keputusan itu seolah ia bisa telepati. Cowok itu menghitung mundur menanti deklarasi sang pelatih. Empat, tiga, dua, sa….
“Anderson!”
Yes!
“Ya, Sir?”
“Seleksi akan dilakukan siang nanti, setelah latihan pagi selesai. Kau dan Parker latihan di tempat terpisah untuk mempersiapkan diri.”
“Baik, Sir. Terimakasih.”
Menunduk agar tak terlihat orang lain, Alec mengulum senyum. Teknik psikologi terbaliknya memang paling jitu!
* * *
Siaran berita pagi baru saja selesai ketika Ben turun dari kamarnya, rapi dan wangi, sementara dua anak laki-laki Winchester masih mendengkur di kasur masing-masing. Payah juga, gara-gara terbiasa latihan pagi, ia selalu terbangun otomatis pada jam yang sama, tak peduli ada latihan atau tidak. Padahal sekali-sekali dia juga ingin tidur pulas sampai tengah hari.
Ada sebuah kotak instrumen tergeletak manis di meja ruang tamu, tempat biola kalau dilihat dari bentuknya. Sambil bertanya-tanya kapan tempat penyewaan alat musik mengantarkan benda itu, Ben membuka dan mengintip isinya.
Ben menarik nafas dalam-dalam, terkesan oleh penampilan biola itu. Dilihat dari warnanya saja sudah ketahuan itu biola mahal, pembuatannya sangat halus hingga kayunya terasa selembut sutra. Jari-jari Ben menggelenyar tak nyaman hanya dengan membayangkan dia akan memainkan alat musik cantik itu di depan orang yang baru dua hari ini dikenalnya.
“Lho, kau sudah bangun, Alec?” tanya Mary lembut, membelok dari tujuan utamanya ke dapur dan menjejeri Ben. “Bagaimana, kau suka biolanya?”
“Biola yang cantik,” komentar Ben, mengelus permukaannya penuh khidmat. “Aku tidak tahu apa permainanku pantas untuk biola sebagus ini, Mom.”
Mary memegang kedua pipi cowok itu dengan sayang. “Jangan bilang begitu, kamu tidak pernah mengecewakan kami sebelumnya. Dan sekarang pun aku percaya padamu, Sayang.” Setelah mengatakan itu matanya jadi berkaca-kaca, seolah ada maksud lain di balik kata-katanya.
Ben jadi tambah grogi. “Uh, terimakasih, Mom,” katanya canggung.
Wanita itu tersenyum lembut, lalu mengalihkan perhatian ke biola di atas meja. “Bagaimana kalau kau main sekarang?”
“Se… sekarang?”
“Iya, pumpung kakak-kakakmu masih tidur. Katanya kau malu kalau ditonton mereka, hmm?”
“Uh, iya sih.” Tapi bukan berarti aku tidak malu memainkannya di depanmu! Ben merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya. Aneh sekali, padahal waktu kecil dia paling suka unjuk bakat di depan orang-orang, tapi sekarang, memikirkannya saja sudah bikin demam panggung. Mungkin itu akibatnya kalau tidak tampil solo selama bertahun-tahun. “Aku siap-siap dulu, ya.”
“Siap-siap?” Mary mengangkat alis heran.
Ben berusaha nyengir. “Ya, biar permainanku lebih mantap.” Dan dia buru-buru kabur ke kamar mandi sebelum pingsan saking groginya.
Setelah cuci muka, tarik-hembus nafas berkali-kali untuk menenangkan diri, memastikan dia ingat tips-tips memaksimalkan perfoma dari Mr Berrisford, dan mengulang-ulang mantra “aku adalah Alec yang punya muka badak” di kepalanya, Ben kembali ke ruang tamu. Mary masih setia menunggu, kini ia duduk di salah satu sofa dengan tangan terlipat di paha, seperti bangsawan menanti pertunjukan elit.
“Sudah siap?”
“Yeah,” jawab Ben yang lebih mirip desah pasrah, dan mengambil biola. “Jangan tertawa kalau jelek, ya Mom.” Ia memejamkan mata agar tidak perlu bertatapan dengan Mary, dan mulai menggesek senarnya.
* * *
Dean terbangun oleh suara musik dari lantai satu. Ia berbaring nyalang sejenak, memastikan lantunan lagu klasik itu bukan mimpi, sebelum bangkit dan turun untuk melihat siapa yang mengganggu tidurnya – secara konotasi, karena sesungguhnya alunan mendayu-dayu itu sama sekali tidak mengusik, bahkan Dean yang menyukai musik aliran keras pun menikmatinya.
Di ambang pintu ruang tamu, Dean melihat Sam, sama seperti dirinya masih pakai setelan boxer-singlet dan dengan rambut kayak hutan habis diterjang badai; berdiri bersidekap sambil menyandarkan diri ke tembok. Dean menjawil adiknya.
“Ada apa, sih?”
“SI Bayi lagi pamer, tuh,” ujar Sam rada sinis, menganggukkan kepala ke ruang tamu. Dia memang uring-uringan sejak kemarin, dan entah kenapa juga bermusuhan dengan Alec.
Mencondongkan diri agar bisa melihat dari balik tubuh bongsor adiknya, Dean tidak menyangka akan mendapati pemandangan seabsurd itu. Di ruang tamu, di hadapan Mary dan John yang duduk bangga di sofa, ada Alec yang dengan luwesnya bermain biola. Dean memang bukan pemain musik, tapi datang ke pertandingan maupun resital adiknya berkali-kali membuatnya mengerti bahwa gerakan-gerakan untuk memfokuskan nada itu bukan milik pemula. Sejak kapan Alec bisa membawakan lagu pakai biola?!
Selesai bermain, Alec membuka mata dan tersentak sedikit menyadari seluruh keluarga telah berkumpul untuk menontonnya. Merah menjalar dari pipi ke kupingnya, dan ia langsung menunduk malu, seperti anak sekolah yang kepergok berbuat nakal oleh gurunya.
“Uh, sori, aku mengganggu kalian,” gumamnya, menyebabkan Dean dan Sam berpandangan sambil mengangkat alis. Alec main biola, lalu minta maaf atas sesuatu yang dulu jadi hobinya? Apa lagi nanti, dia bakal pakai sepatu balet dan mempertunjukkan The Nutcracker?
“Sama sekali tidak, Sayang,” bantah Mary, bangkit dari posisinya dan memeluk putranya. “Tadi itu luar biasa, Alec. Tidak ada yang merasa terganggu dengan permainanmu, kami semua kagum. Iya kan?” Ia menoleh ke anak-anak dan suaminya meminta persetujuan.
“Yeah,” jawab mereka berbarengan, mengangguk. Yeah, permainannya sih tidak mengganggu. Yang mengganggu itu sikap pemainnya yang bertolak belakang dengan biasanya. Dean memandang ekspresi tiap orang, semuanya menyerukan pertanyaan yang sama: ada apa dengan Alec?
* * *
“Anderson! Giliranmu!”
Teriakan Pelatih itu menjadi aba-aba bagi Alec untuk masuk lapangan. Ia berjalan penuh percaya diri, berkebalikan dengan Keith yang lesu. Jelas saja, dari dua belas kali lemparan, cowok ceking itu cuma bisa memukul dua.
“Ayo, Ben! Kau pasti bisa!” seru Rachel, melambai-lambai ala pemandu sorak dari podium.
Alec nyengir dan membalas dengan acungan dua jempol. Ia berpapasan dengan Keith yang menatapnya penuh kemarahan dan sengaja menabraknya, walaupun sama sekali tak berpengaruh karena Alec hampir dua kali lebih besar daripada Keith.
Tak bisa dipungkiri lagi, permainan Alec memang jauh dibandingkan Keith. Dia lolos tes memukul, bahkan ketika bolanya sengaja dimelencengkan oleh si pelempar. Alec tersenyum congkak pada anggota tim, karena setelah pembuktian itu, mereka tidak punya pilihan lain selain memilihnya.
Usai seleksi, Pelatih memanggil anak-anak untuk berkumpul di sekelilingnya membentuk lingkaran. “Oke anak-anak. Dari hasil seleksi tadi, sudah kuputuskan,” katanya, membuat sedikit catatan di notes pelatih yang selalu dibawanya. “Pemain pengganti Mario Aidle adalah Ben Anderson.” Mau tidak mau ia harus bersikap sportif, melihat keunggulan anak itu dibanding Parker. Ia mungkin marah, tapi ia tak mau mengorbankan kesempatan tim untuk menang.
“Terimakasih, Sir!” seru Alec riang. Anak-anak lain – kecuali Keith tentu, mendesah kesal sekaligus lega.
“Tapi awas, Anderson,” ancam Pelatih tegas, “sekali lagi kau bikin masalah, aku akan memastikan kau tidak bisa main baseball lagi di kota ini. Camkan itu.”
“Ya, Sir!”
“Oke, bubar! Kita bertemu lagi besok pagi!” perintah Pelatih lalu berbalik pergi, sementara timnya berjalan ke arah lain lapangan menuju ruang ganti, Alec paling depan.
Keith berhadap-hadapan dengannya saat ganti baju, tapi alih-alih mengajak ngobrol dan bisik-bisik menjelek-jelekan anggota lain seperti biasanya, ia mencibir sebagus yang ia bisa dan berkata, “ternyata bukan cuma otakmu saja yang meleleh, Ben. Hatimu juga menguap kepanasan.” Ia membanting pintu lokernya dan berjalan dengan langkah lebar ke pintu.
Alec memandang kepergian Keith, ada sedikit rasa bersalah di hatinya. Tapi apa boleh buat, dia butuh media untuk memecahkan masalah dan mengembalikan nama baik Ben, dan kalau Keith memang sahabat yang baik, dia pasti mau memaafkan, kan?
* * *
Siang itu terasa membosankan di rumah keluarga Winchester. Mary pergi entah ke mana, John sedang bekerja di bengkel – atau jadi sopir istrinya, Dean sibuk merakit ulang lumba-lumbanya yang semalam error lagi (sekitar jam dua belas Ben terbangun oleh suara teriakannya), dan Sam, meskipun sama kurang kerjaannya dengan Ben, memilih bertapa di kamar daripada ngobrol dengan orang yang telah menghina Maddie.
Jadi, Ben sendirian di ruang tengah, minum jus dan kue buatan Mary sambil nonton acara televisi tentang memancing, yang bikin dia menguap lebar-lebar. Kalau di rumah, sekarang dia pasti sedang main frisbee sama Caesar atau bersepeda dengan Rachel. Mungkin kata-kata Alec ada benarnya. Hidupnya memang tidak pernah sepi dengan dua orang kakak dan ibu yang kelewat memanjakan, dan dia selamat dari kepelikan masalah sosial dengan teman-teman sebaya, tapi di luar semua itu, kesehariannya membosankan. Digarisbawah.
Bel pintu berbunyi tepat pada saat acara memancing berganti ke kuis, dan Ben hampir melompat saking senangnya ada pengalih perhatian. Ia membukakan pintu bagi tukang susu, tukang pos, salesman, atau siapapun itu dengan harapan bisa sedikit mengusir kepenatan.
Di depan pintu, berdiri seorang gadis muda cantik dengan potongan tubuh seorang pesenam lantai. Sebuah tas kertas dengan logo toko roti dan beberapa map memenuhi kedua tangannya.
“Hai, Alec,” sapanya manis, “Dean ada?”
“Hai Lisa,” jawab Ben, mau tak mau menilai penampilan Lisa. Kelihatannya dia bukan cewek yang suka selingkuh. “Ada tuh, lagi main-main sama robotnya. Biar kupanggilkan.”
“Enggak usah,” cegah Lisa cepat, menghentikan Ben yang sudah berbalik. “Umm, aku cuma mau mengantar ini. Tart apel, oleh-oleh dari New York.”
“Kau jauh-jauh ke sini dari New York? Cuma demi tart apel?”
Lisa tertawa malu-malu. “Ya enggak dong. Aku baru selesai dengan tugas meliput di sana, dan langsung terbang kemari untuk meliput berita baru. Kupikir sekalian saja aku antarkan kue ini.”
“Oh, begitu,” tanggap Ben, mengangguk-angguk. Ia minggir ke belakang daun pintu mempersilahkan Lisa masuk. “Mau minum teh dulu? Kau pasti capek habis dari New York.”
“Makasih, tapi aku mau langsung berangkat,” tolak Lisa halus, menyerahkan tas kuenya. “Berikan saja ini pada Dean, ya.”
“Paling tidak temui dia dulu.”
“Kami belum janjian, Alec.”
“Ayolah, aku memaksa,” pinta Ben, “kalian kan enggak perlu janjian tiap kali mau ketemu.”
Lisa memutar bola mata. “kau seperti enggak kenal kakakmu saja,” komentarnya pelan sambil tersenyum. “Oke, tapi sebentar saja, ya.”
Setelah membuatkan teh untuk Lisa – yang membuat cewek itu kaget, tentu – Ben naik ke lantai dua dan mengetuk kamar Dean. Tidak sopan rasanya kalau Lisa datang jauh-jauh dari New York, membawakan kue yang kelihatannya mahal segala, dan Dean bahkan tidak menunjukkan diri untuk bilang terimakasih.
“Apa?” tanya Dean begitu membuka pintu. Penampilannya kusut sekali, rambutnya awut-awutan seperti kebanyakan digaruk, dan tampangnya kayak orang nyaris depresi. Kelihatannya keeroran DLP-19 kali ini cukup parah.
“Lisa datang, tuh.”
“Lisa?” Dean mengerutkan kening, dan sesaat Ben mengira dia bakal bertanya, ‘Lisa siapa?’ tapi ternyata dia malah bilang, “ngapain dia ke sini?”
“Omonganmu kasar banget, sih. Dia datang bawain kue, tahu.”
“Oh.” Begitu saja tanggapan Dean, seolah pacarnya menempuh perjalanan empat jam pakai pesawat untuk menyerahkan kue kesukaannya adalah hal biasa. “Bilang terimakasih, dong.”
“Kau yang harusnya bilang terimakasih, Dean. Temui dia dulu sana.”
“Sori, aku lagi sibuk.”
“Sibuk? Dia datang jauh-jauh dari New York!” Ben sengaja meninggalkan bagian ‘untuk meliput berita baru’ agar memberi kesan dramatis.
“Dan aku harus membetulkan DLP-19 sebelum kerusakannya menjalar. Lagian dia enggak kabar-kabar mau datang, jadi enggak masalah aku enggak mau menemuinya.”
“Aturan dari mana itu?”
“Aturan yang kami buat biar pacaran ini enggak mengganggu aktivitas lain.”
“Dia pacarmu, bersikap manis sedikit kenapa?”
“DLP-19 proyekku biar bisa lulus kuliah. Lisa bakal lebih memilih cowok sukses daripada cowok gagal gara-gara kebanyakan bersikap manis ke pacarnya.”
“Tapi Lisa…”
“Sudah setuju dengan aturan ini. Sudah, ah. Kau membuang-buang waktuku saja.” Dean membanting pintu di depan hidung Ben, lalu menyalakan tanda ‘DILARANG MASUK’-nya.
Ben mendesah dan turun menemui Lisa dengan rikuh, tapi cewek itu cuma tersenyum maklum.
“Dia enggak mau menemuiku, ya?” tanyanya santai sambil menyeruput teh lemonnya.
“Apa? Tidak, bukan begitu, kok. Dia cuma….” Ben berusaha mengarang alasan, tapi melihat mata Lisa yang berbinar geli dia meringis minta maaf. “Sori, kayaknya dia lagi sibuk banget sampai-sampai ngomong makasih pun enggak sempat. Terimakasih untuk kuenya, omong-omong.”
Tawa Lisa berderai, seolah Ben baru saja mengucapkan lelucon dan bukan permohonan maaf. Ia menepuk-nepuk sofa di sampingnya, mengisyaratkan agar Ben duduk. Cowok itu menurut.
“Harus kubilang sekali lagi, kau seperti tidak kenal Dean saja.”
Memang tidak, jawab Ben dalam hati. “Aku benar-benar minta maaf.”
“Aww, Alec. Kok tiba-tiba kamu jadi manis begini, sih. Kau makan apa di Juilliard? Siapa tahu aku bisa kasih ke Dean juga,” canda Lisa.
Ben tersenyum. Ia menunjuk map-map Lisa di atas meja. “Liputanmu?”
“Yeah,” jawab Lisa, mengambil salah satu map dan mengeluarkan beberapa foto. “Mulai semester depan, aku mau mengisi kolom hiburan dan seni.”
“Ini bagus,” komentar Ben, mengagumi hasil jepretan pacar Dean. Dia punya bakat fotografi. “Bukannya ini pameran lukisan di galeri seni dekat Time Square itu? Aku ke sana waktu Tur kemarin.”
“Oh ya? Bagaimana menurutmu?” tanya Lisa tertarik. Mungkin ia bisa menambahkan pendapat orang lain sebagai masukan.
“Kaku,” jawab Ben simpel, membuat Lisa tertawa.
“Itu juga yang kupikirkan!” kekehnya geli, “kupikir aku yang tidak tahu seni!”
Mereka pun berbincang-bincang seru tentang kesenian New York dan liputan Lisa. Melihat keantusiasan cewek itu, Ben berasumsi ia tidak pernah mendapat cukup penghargaan atas kerja kerasnya, dan Dean juga tidak terlalu memperhatikan apa yang digelutinya. Ben berusaha sebaik mungkin menyenangkan hati Lisa, karena ia sendiri tahu betapa berartinya pengakuan dari orang lain atas apa yang kau lakukan dengan sepenuh hatimu. Lisa rupanya menganggap Ben teman ngobrol yang oke, karena setelah topik jurnalistik selesai, ia merambah ke masalah yang lebih pribadi, dan secara implisit curhat pada Ben bahwa betapapun ia memahami sifat Dean, ia juga ingin dimanja sekali-sekali.
Lisa pamit sekitar pukul empat sore, karena sebentar lagi Festival Budaya yang jadi objek liputannya akan dimulai. Ben mengantarnya sampai halte bus, dan gadis langsing itu bilang berkali-kali bahwa ia senang berbincang dengannya hari ini, bahwa sudah lama sekali ia tidak ngobrol sepuas itu. Ben hanya tersenyum saja.
Sambil menyaksikan Lisa masuk ke bus yang akan membawanya ke pusat kota, Ben kembali menyelipkan ‘bicara dengan salah satu anak Winchester’ dalam daftar pekerjaan yang harus dilakukannya. Sungguh ironis, padahal Sam dan Dean bersaudara, tapi cara mereka memperlakukan pacar bagai langit dan bumi. Sam kelewat memuja sedang Dean kelewat cuek, dan karena kebetulan yang menyebalkan (dan karena sifatnya yang tidak tahan melihat masalah), Ben terpaksa membantu menyadarkan mereka.
Itulah sebabnya dia tidak mau buru-buru punya pacar.
Hubungan percintaan memang rumit.
* * *
Dean duduk berhadap-hadapan dengan ayah dan ibunya di ruang makan. Saat itu sudah jam satu malam, dia baru saja mau tidur ketika Mary memintanya turun. Semula cowok itu mengira orangtuanya tahu ia ‘meminjam’ salah satu komponen dalam dari DVD player untuk menyembuhkan robotnya, dan sudah menyiapkan sejuta alasan serta sumpah bahwa besok dia bakal mengganti komponen itu. Apa yang mereka beritahukan padanya, bagaimanapun juga, sangat di luar dugaan.
“Alec enggak mungkin kena narkoba,” kata Dean datar, yakin, tak terbantahkan.
“Kami juga berharap begitu, tapi….” Mary menggigit bibir, mencari kata-kata yang tepat. “Kau lihat perubahan tingkah lakunya? Dia jadi pendiam dan menjauh dari kita. Suka mengurung diri di kamar….”
“Sam mengurung diri di kamar hampir setiap waktu dan Mom tidak mempermasalahkan itu.”
“Itu karena dia Sam, Dean. Tapi ini Alec. Dia tidak bisa diam di satu tempat lebih dari lima menit.”
“Menurutku itu saja tidak cukup untuk menuduhnya kecanduan,” celetuk John. Dean tersenyum kecil pada ayah yang berada di pihaknya. “Psikiater tadi juga bilang kita tidak perlu menuduh berlebihan, kan?”
“Kalian pergi ke psikiater?” tanya Dean kaget. Seberapa seriuskah masalah ini?
“Psikiater itu tolol. Aku berani bertaruh dia tidak punya anak remaja yang perlu dikhawatirkan,” geram Mary, “dia tidak punya anak hiperaktif yang mendadak jadi sediam patung dan bisa main biola.”
“Apa salahnya bisa main biola? Bukankah itu bagus?”protes Dean. John mengangguk menyetujui.
“Tidak bagus kalau seminggu sebelumnya dia bahkan tidak bisa membedakan biola dengan banjo!”
“Alec bisa membedakan itu.”
“Kau tahu maksudku, John. Jangan pura-pura bodoh. Apa kalian pernah dengar tentang doping?”
“Itu cuma dipakai atlet tak berbakat untuk dapat medali, Mom.”
“Tepatnya, obat itu digunakan untuk memaksimalkan kemampuan seseorang. Sebagai pendengar musik rock kau harusnya tahu banyak pemain band pakai narkoba sampai teler sebelum menciptakan lagu legendaris.”
“Alec tidak seperti itu!” tukas Dean meski dalam hati mengakui Alec memang jadi aneh sejak Juilliard. Tadi sore dia bahkan mengajak Dean bicara baik-baik tentang bagaimana seharusnya memperlakukan cewek, terutama cewek semanis Lisa. Munafik kalau Dean bilang dia tidak berpikir Alec lagi mabuk saat itu.
“Tadi pagi sebelum main biola, dia permisi sebentar ke kamar mandi. Siapa yang tahu apa yang dilakukannya di sana?!”
“Mom!”
“Mary!”
Mereka bertiga berpandangan, keheningan hanya dipecah oleh deru nafas dan dengung pelan lemari es. Mary mengusap wajahnya frustasi, airmata bergelimang di matanya yang indah, mata yang ia wariskan pada kedua putranya.
“Oh Tuhan, apa yang terjadi pada anakku?” bisiknya sedih, terluka. John mendekapnya penuh kasih, dan Dean sangat ingin membangunkan Alec saat itu juga agar mereka mendapat penjelasan langsung, agar ibunya tak lagi dihantui kekhawatiran.
“Kita cari tahu sama-sama,” kata Dean akhirnya. Dia tahu itu bukan usul yang baik, tapi cuma itu saja yang ada di pikirannya sekarang. “Kita bisa… entahlah, menggeledah kamarnya. Menyuruhnya ikut tes di Rumah Sakit. Apalah.”
“Sebenarnya aku ingin kau bicara dulu padanya, Dean,” kata Mary, suaranya masih agak bergetar.
“Kenapa harus aku?”
“Kau kakaknya. Dia akan merasa lebih nyaman bicara denganmu daripada dengan kami,” jelas Mary masuk akal. Sejak dulu, Dean memang perantara curahan hati adik-adiknya.
“Aku tidak bisa mengkonfrontasi dia, Mom,” desah Dean. Mana tega dia bertanya pada Alec, ‘hei Alec. Cuma mau tanya. Apa di New York kemarin kau mencoba suatu obat ajaib berawalan ‘N’?’? Betapapun mencurigakannya gelagat sang adik, Dean tetap ingin percaya bahwa dia tidak terjerumus ke jalan yang salah. Jika sampai begitu, maka bukankah ia, sebagai seorang kakak, juga bersalah karena gagal membimbing adiknya?
“Tak perlu langsung bertanya. Dekati dia pelan-pelan, Dean. Temukan cara,” Mary bisa dibilang memohon. “Kita harus bertindak cepat sebelum terlambat.”
Dean menatap ibunya, lalu ayahnya, sekali lagi merasakan beban yang harus dipikulnya sebagai anak sulung, sebagai Si Perantara. Kadang ia ingin menyerahkan tanggung jawab itu pada orang lain, Sam misalnya, kemudian ingat bahwa Sam pun masih membutuhkan dia.
Cowok itu menghela nafas berat, lalu mengangguk enggan. “Akan kucoba.”
TBC
Rabu, 07 Juli 2010
Label:
Alec
,
AU
,
Ben
,
Dark Angel
,
Dean
,
Fanfiction
,
Sam
,
Supernatural
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
0 komentar :
Posting Komentar