Rabu, 18 Agustus 2010

MIRROR IMAGE CHAPTER 10

“Katakan padaku Anderson, apa yang bisa membuatmu mengerti bahwa kita memakai tongkat, BUKAN MUKA, UNTUK MENAMPIK BOLA BASEBALL?!”

Teriakan Pelatih mengirim rangsangan menyakitkan ke kepala Ben, membuatnya makin pusing. Di sekelilingnya anggota tim berdiri sambil bersidekap, rahang terkatup rapat dalam ekspresi garang. Tak ada seorang pun, bahkan Keith pun tidak, yang mau membantunya berdiri dan memapahnya ke Klinik untuk mengobati matanya yang berdenyut-denyut kena bola.


“Maaf, Sir,” gumam Ben, masih menggosok-gosok matanya yang serasa mau copot. Yeah, dia bakal punya memar impresif besok pagi.

“Maaf?! MAAF KATAMU?!! MAAF??!!”

Pelatih sampai kehilangan kata-kata. Dia menggerung, suaranya sampai seperti guntur saking kerasnya, dan membanting topi baseballnya penuh emosi.

“PERTANDINGANNYA BESOK! APA KAU BERENCANA MEMBADUT DAN MEMPERMALUKAN KAMI SEMUA?!!”

Ben menunduk dalam-dalam. Sungguh bukan sesuatu yang menyenangkan, dimarahi habis-habisan di depan tim saat hal yang paling diinginkannya adalah berbaring dan mengompres mata dengan es sebanyak-banyaknya. Mungkin dia bakal butuh kompres untuk seluruh wajahnya juga setelah ini, mengingat bagian itu kini juga serasa terbakar.

“Maaf, Sir.” Hanya itu yang bisa diucapkannya karena, apa lagi? Dia tak bisa begitu saja bermetamorfosis jadi bintang baseball hanya dalam empat hari. Dan andai bisa bermetamorfosis pun, dia lebih memilih jadi ngengat dan terbang pergi dari hidup-yang-habis-dijamah-Alec-nya yang mengerikan.

“KAU….!” Pelatih mengepalkan tangan, sesaat Ben mengira ia akan menonjoknya, tapi ternyata ia cuma berteriak, “ISTIRAHAT!” kemudian pergi ke ruang Pelatih, untuk mengompres kepalanya juga, barangkali.

Satu persatu anggota tim berjalan meninggalkan Ben, cowok itu bisa mendengar gumaman-gumaman macam “tolol” dan “tak punya kesempatan” dan “pengacau” di antara mereka. Cowok itu menghela nafas berat dan menyusul rekan-rekannya, berusaha menjaga jarak karena yeah, siapa juga yang mau jalan bersama si hama perusak tim? Andai itu bukan dirinya sendiri, Ben juga tak akan mau.

Tiga hari sudah Ben kembali ke posisinya sebagai Ben Anderson, cowok terlupakan dari kota terlupakan dekat New Jersey. Tiga hari bagai neraka, bukan hanya karena saat-saat itu termasuk fase terpanas di musim panas yang membuat kulitnya pedih tersengat matahari, tapi juga karena kekacauan yang dengan sangat murah hati dilimpahkan Alec. Ben tidak menyangka pertukaran tiga hari itu membawa perubahan besar dalam skenario hidupnya – dan sayangnya perubahan itu malah membuat naskah yang tadinya sudah payah jadi makin parah.

Ben bukan hanya jadi musuh geng Mario, melainkan seluruh anggota tim. Keith tidak mau bicara dengannya, terus menyindir-nyindir tentang ‘melihat bola dengan benar’ dan mengatainya kualat, entah kenapa. Rachel masih tidak mau dihubungi, kali terakhir Ben mencoba datang ke rumahnya untuk minta maaf, dia harus mendapat pelajaran tidak terlupakan dari Mr Berrisford yang membuatnya bersumpah tidak akan menyakiti hati cewek jika pacaran nanti – terutama cewek yang punya ayah macam ayahnya Rachel.

Untuk pertama kalinya sejak masuk SMA, Ben merasa sendiri. Rasanya sudah lama sekali sejak dia punya Rachel untuk ditelepon saat butuh penghiburan, untuk mendengarkan keluh kesahnya. Orang yang menjadi pegangan dalam situasi menyedihkan seperti ini, ketika matanya lebam dan sakit dan tak ada seorangpun yang peduli padanya. Rachel selalu ada untuknya. Dialah yang berdiri bukan hanya di samping, tapi di depan Ben layaknya tameng tiap kali ada yang menentangnya. Pengusir rasa kesepian karena tinggal sendiri dan berpisah dari saudara kembar. Pemberi tepukan semangat tiap kali Ben merasa terpuruk; satu-satunya yang tersenyum dan berseru, “kamu hebat, Ben!” meskipun Ben sendiri tidak yakin pencapaiannya cukup bagus. Baginya, Rachel adalah orang yang paling mendekati saudara, paling mendekati Alec. Ironis, pikir Ben, bahwa justru Alec sendirilah yang akhirnya membuat Rachel menjauh. Dasar biang masalah.

Sambil mengambil kompres dari lemari es Klinik yang terletak di samping Ruang Ganti, Ben memikirkan lagi hidupnya. Dia sudah kehilangan sahabat, teman dalam tim, dan menyatakan benci pada saudara kesayangannya – yang mungkin saat ini mendekati benar. Matanya bengkak dan hitam macam panda, dan tak ada yang bertanya apa dia baik-baik saja. Oh, dan sebentar lagi dia juga harus menghadapi seluruh sekolah yang siap menghukumnya gara-gara mengacaukan pertandingan. Dia tak punya siapapun sebagai pembela.

Skenario hidupnya tak mungkin lebih buruk lagi, kan?

* * *

Beberapa hari ini rumah keluarga Winchester terus diliputi kesuraman, kontras dengan sinar matahari yang menyirami halaman rumah itu dengan cahaya keemasan. Masing-masing anggota keluarga tenggelam dalam dunianya sendiri, cenderung saling bertengkar jika mencoba berkomunikasi satu sama lain. Baru kemarin terjadi perdebatan sengit hanya gara-gara giliran memakai kamar mandi dan kuah daging yang terlalu gurih.

Ribut-ribut masalah narkoba sudah selesai. Seperti kata Ben, yang perlu dilakukan Alec hanyalah buang air kecil, dan beberapa jam kemudian orangtuanya menawarinya macam-macam, dari makan di restoran mewah sampai skateboard, sebagai tanda permintaan maaf. Tapi itu tidak mengubah suasana hati Alec. Ia tetap pasang muka kaku dan bersikap dingin pada siapa saja. Itu menjadikan Mary merasa bersalah, dan sekarang wanita itu menangis di kamar atau melakukan terapi meditasi, bukan lagi karena merasa tidak menjaga putranya dengan baik, melainkan menyesali tuduhan kejam yang menurutnya telah mengganggu psikis putra bungsunya.

Sam, setelah melewati masa terbakar amarah, kini memasuki masa patah hati. Kerjaannya cuma mengurung diri dan menyetel lagu-lagu mellow yang lebih dari sekali membuatnya berselisih dengan Dean. Dia menolak makan pai buah karena itu adalah makanan kesukaan Maddie. Dia jadi uring-uringan tiap jam lima sore ketika opera sabun yang pemeran utamanya aktor idola Maddie – dan menurut cewek itu hidungnya mirip Sam – diputar. Ada sebuah kardus di depan kamarnya, berisi benda-benda kenangan termasuk barang-barang yang diusulkan John untuk diberikan ke Maddie tapi tidak lolos seleksi. Sam muak melihat barang-barang itu di kamarnya, tapi belum siap melemparnya ke gudang.

Sedang Alec, tidak ada yang tahu bahwa dia terus-terusan cemberut bukan karena masalah ‘N’. Dia masih kepikiran tentang Ben, bagaimana mereka – bagaimana dia -- mengakhiri percakapan dengan buruk. Baru kali ini Alec percaya bahwa mulut yang bekerja lebih cepat daripada otak bisa menimbulkan bencana besar. Rasa bersalahnya makin membesar saja setelah ia berusaha menelepon Ben tapi ponsel saudaranya tidak pernah aktif. Dan kalau ingat Ben harus menghadapi masalah sendirian… rasanya dia ingin memukul kepalanya sendiri – yang berhenti ia lakukan gara-gara kepergok Mary dan menyebabkan wanita itu mulai berasumsi tentang ‘kecenderungan bunuh diri’. Dia tidak butuh diinterogasi macam-macam lagi, terima kasih. Apalagi sampai dipesankan psikiater seperti yang kemarin nyaris dilakukan Mom.

Dengan kondisi keluarga diambang krisis, proyek DLP-19 Dean juga jadi tersendat. Dia bisa saja bersikap acuh tak acuh dan mengunci diri di kamar seperti Sam, menulikan telinga dari hiruk pikuk rumah dengan suara alat-alat mekaniknya, tapi dia tidak mau. Dia tidak sanggup mendengar Mary menangis sendirian lama-lama karena anggota keluarga yang lain sudah menyerah menghadapinya. Dia tidak tega kalau John pulang dan tidak ada yang menanyai , “bagaimana harimu hari ini?” karena fokus sang istri sedang tidak pada pekerjaannya. Dan betapapun dia risih dengan sikap melankolis Sam, beberapa kali Dean menyempatkan diri mengetuk pintu adiknya, menawarkan diri jadi tempat curhat – yang biasanya malah berakhir dengan pertengkaran karena Sam tidak mau diganggu dan saraf kesabaran Dean bisa mendadak putus kalau dengar lagu menye-menye yang keluar dari sound speakernya Sam.

Jauh dalam lubuk hati, di bagian yang tidak mau diakuinya, Dean tahu ini semua gara-gara Alec. Ada ikatan kuat dalam keluarga Winchester, termasuk ikatan merugikan yang disebut ‘rantai masalah’. Satu anggota keluarga tidak beres, cepat atau lambat yang lain pasti ketularan – entah karena masalah lain macam Sam, atau yang berhubungan macam Mary.

Satu-satunya cara mengembalikan keadaan adalah menyelesaikan problema Alec dulu. Jika dia kembali jadi bocah berapi-api yang biasanya, Mary akan berhenti khawatir dan perhatian lagi pada keluarganya. Itu akan membuat John senang dan kalau John sedang senang, dia akan berusaha menularkan kesenangan itu pada yang lain – termasuk Sam yang sedang putus cinta. Memang dari luar tidak terlihat, tapi sang kepala keluarga itu pandai merangkai kata-kata motivasi kalau dibutuhkan, dan dari ketiga anaknya, Sam-lah yang paling terpengaruh nasehatnya – mungkin karena dia sendiri menyukai jalan diplomasi dalam menghadapi masalah. Lambat laun Sam akan merangkak dari lubang kemeranaannya juga. Kemudian Dean bisa mengurus robotnya lagi dan kalau beruntung, sudah menyelesaikan tiga perempatnya begitu musim panas berakhir.

Yeah, keluarganya benar-benar merupakan lingkaran sinergis. Dean cuma perlu menemukan alat yang tepat untuk menyambungnya.

Dan alat itu ia temukan secara tidak sengaja, ketika sedang bertelepon dengan Lisa. Ceweknya itu jadi sering menelepon setelah insiden hilangnya Alec, untuk memastikan semua baik-baik saja.

“Bagaimana keadaanmu, Dean?” tanya Lisa mengawali pembicaraan. Jelas, pertanyaan ini merupakan kode agar Dean cerita habis-habisan ke Lisa. Yang tidak akan terjadi.

“Oke,” jawab Dean, mendesah capek. Tapi dia tidak bohong – yah, tidak sepenuhnya. Ini kali pertama dalam tiga hari terakhir keluarga Winchester tidak mengawali hari dengan debat-sarapan.

“Sam?”

“Masih meratapi Maddie.”

“Ibu dan ayahmu?”

“Dad sudah berangkat. Mom sedang meditasi di kamar.”

“Alec?”

“Entah sedang apa.” Yang terakhir ini diucapkan dengan dengusan kesal. “Aku heran sama dia.”

“Kenapa?” pancing Lisa. Dean adalah jenis orang yang cuma curhat sepotong-sepotong dan harus diajak main ‘seribu pertanyaan’ sebelum kau mendapat ceritanya secara utuh.

“Entahlah – maksudku, kenapa dia jadi begitu, sih?” Dean menyisir rambut cepaknya dengan frustasi. “Sampai sekarang kami belum tahu apa tepatnya yang dia lakukan di New York. Oke, jelas bukan narkoba – syukurlah – tapi itu juga membuat semua makin membingungkan. Kalau tidak ada yang salah dengannya, kenapa sifat Alec tiba-tiba berubah?”

“Mungkin ada masalah?” usul Lisa hambar.

“Yeah. Salah satu masalahnya adalah dia tidak mau terbuka pada kami,” gerutu Dean, “dia seperti orang lain saja. Seperti bukan Alec.”

“Kalau soal itu aku setuju.”

“Maksudmu?” tanya Dean, mengerutkan dahi.

“Ingat waktu aku datang mengantarkan kue untukmu?” tanya Lisa, dan Dean tanpa sadar mengangguk meski tahu cewek itu tak bisa melihatnya. “Alec yang menemuiku. Dia membuatkanku teh lemon….”

Alec membuatkanmu teh lemon?!” Oke, absurd.

“Itu belum apa-apa. Kami ngobrol banyak tentang pameran lukisan yang kuliput. Entah bagaimana dia tahu banyak pelukis terkenal dan hafal gaya-gaya mereka. Aneh, kan?”

“Yeah,” jawab Dean, “dia enggak tahu apa-apa soal seni rupa. Satu-satunya pelukis yang dikenalnya dalah Picasso – dan itu karena lukisan mereka berdua mirip.” Mereka mau tak mau tertawa pelan.

“Satu lagi. Dia juga umm… apa ya… Apa istilah ‘pendengar yang baik’ cocok untuk Alec yang normal?”

“Sama sekali tidak.”

“Oke. Jadi, dia yang waktu itu adalah pendengar yang baik.”

“Aneh.”

“Yeah.”

Kemudian sesuatu terlintas di benak Dean. “Lisa. Waktu kau bilang ‘ngobrol’, apa itu berarti percakapan lebih dari lima menit?”

“Tentu saja. Lebih dari dua jam, malah.” Lisa terdiam sebentar. “Tapi itu biasa, kan? Dia enggak pernah berhenti bicara.”

“Sekarang dia malah enggak pernah berhenti diam,” koreksi Dean, “pada kami paling cuma bilang ‘ya’ atau ‘tidak’. Kalau ngomong panjang, pasti isinya marah-marah. Kau orang pertama yang bisa membuatnya bicara selama itu – dalam minggu ini, paling tidak.”

“Oh.”

“Lisa, maukah kau membantuku?” pinta Dean, “mungkin dia memang punya masalah yang enggak bisa diceritakan ke keluarga. Mungkin dia lebih nyaman bercerita padamu?” Saat mengatakan itu, Dean meringis sendiri. Dia benar-benar mirip Mary.

“Tentu!” jawab Lisa, terdengar lebih bersemangat dari seharusnya, mengingat ini adalah permohonan bantuan serius. Ia lalu berdeham untuk memperbaiki nada bicara. “Uh. Maksudku, oke. Aku akan datang secepatnya. Kau mau aku datang secepatnya, kan?”

“Yeah,” jawab Dean, tersenyum kecil. “Datanglah setelah makan siang, Lise. Aku mengharapkanmu.”

“Kau bisa mengandalkanku,” sahut Lisa, tak bisa menyembunyikan semangatnya. Ini kedua kalinya Dean meminta bantuannya dalam seminggu – bukankah itu berarti, walaupun sedikit, pacarnya mulai menyadari keberadaannya?

* * *

Siang itu Alec duduk-duduk di beranda belakang rumah, pikirannya melantur kemana-mana. Dia benar-benar mempertimbangkan pergi ke rumah Ben, sekedar minta maaf, tapi kemudian teringat kalau uang tabungannya sudah minus dan yeah, dia barangkali akan memberi seluruh rumah serangan jantung kalau mencoba kabur lagi.

“Boleh duduk di sini?”

Alec terlonjak oleh suara yang tiba-tiba dari belakangnya itu. Ia menoleh. Lisa tersenyum enigmatis dan mendudukkan diri di samping Alec, kakinya yang jenjang menjuntai ke rumput di bawah mereka.

“Tumben kau kemari,” celetuk Alec, mengangkat satu alis. “Enggak nyari-nyari Dean lagi.”

“Aku sudah ketemu dia. Lagipula aku ingin bicara denganmu, kok.” Lisa mengangkat bahu.

“Bicara soal apa?” Alec jadi curiga. Kalau sampai Lisa ikut-ikutan menginterogasinya….

“Kau enggak membuatkanku teh lemon dulu?” canda cewek itu, matanya bersinar jenaka.

“Huh?”

“Teh lemon. Aku suka teh buatanmu yang kemarin.”

Ah, ya. Ben memang sempat cerita bagaimana ia berbincang dengan ‘ceweknya Dean yang dicuekin’. Tapi dia tidak menyebut-nyebut teh lemon segala, itu artinya Alec harus mengeluarkan jurus berkelit, seperti yang akhir-akhir ini ia gunakan untuk menutupi sikap-sikap aneh yang sempat ditunjukkan Ben – termasuk kesukarelaan membantu Mom menyiapkan sarapan.

“Aku lagi malas,” jawab Alec tanpa memandang lawan bicaranya.

“Oookee… tak masalah,” ujar Lisa, dengan nada yang sama sekali tidak menjiwai frasa ‘tak masalah’. Ia lalu membuka tasnya – yang Alec tahu adalah hadiah ulangtahun dari Dean, karena ia sendiri yang membuntuti Mom putar-putar supermarket mencari tas itu – dan mengeluarkan sebuah stofmap tebal.

“Aku sudah bikin artikel lain, nih. Masih tentang pameran seni itu, tapi ada juga tentang Festival Budaya yang kuceritakan. Coba, bagaimana menurutmu?” Lisa menyodorkan berlembar-lembar kertas ke Alec, yang menerimanya dengan bingung. Apa sih, yang dibicarakan cewek ini?

“Um, kau ingin aku membaca ini?” Dia bukan tipe orang yang suka melahap bacaan, apalagi artikel non-fiksi. Melihat tulisan Lisa yang kecil-kecil saja sudah membuatnya mengantuk.

“Tentu saja. Mana bisa kasih penilaian kalau kau enggak baca?” cewek itu memutar bola mata. “Pendapatmu kemarin oke banget. Benar-benar berguna untuk mengimprovisasi tulisanku. Sekarang aku mau kau meninjau ini juga.”

Sambil dalam hati merutuk Ben dan entah-apa yang ia lakukan pada tulisan Lisa, Alec pun dengan terpaksa mulai membaca. Seperti dugaan, liputan tentang seni lukis modern dan festival akulturasi itu terlalu berat baginya. Cowok itu tidak memahami sebagian besar kosakata kuncinya, dan referensi nama-nama serta peristiwanya bahkan seperti belum pernah ada. Mata Alec berair setelah membaca separuh halaman pertama, dan setelah itu ia cuma pura-pura menggerakkan mata penuh konsentrasi, membolak-balik halaman padahal sebenarnya tidak membaca sama sekali.

“Nah?” tuntut Lisa penuh ekspektasi begitu Alec menyerahkan kembali kertasnya. “Bagaimana?”

“Umm… bagus?” Alec mengajukan komentar, terdengar seperti murid kelas satu yang tidak yakin menjawab pertanyaan gurunya. “Tulisanmu sangat…. Realistis.”

“Realistis?”

“Yeah. Seperti benar-benar berdasarkan fakta.”

“Ya memang berdasarkan fakta, namanya juga artikel.”

“Oh. Yeah, maksudku….” Alec mencoba menjelaskan, tapi karena pada dasarnya cuma asal ceplos, dia tidak tahu harus bilang apa. Akhirnya ia cuma mengangkat bahu dan berkata, “kau tahulah maksudku.”

Lagi-lagi Lisa memutar bola mata, tapi tidak mengejar lebih jauh. Alec hampir menghela nafas lega.

Hampir.

“Lalu, bagaimana dengan perbandingan karya Alfred Sisley dan lukisan ‘Di Bawah Naungan Senja’ yang kuulas? Apa cukup masuk akal?”

Karya siapa dan lukisan apa? Alec menggigit bibir menahan panik. Satu-satunya yang dia ketahui adalah si Sisilia… eh, Silley, atau siapalah itu, pasti bukan komponis. Namanya tak pernah tercantum dalam lagu-lagu yang ia mainkan. Dan memangnya ada lukisan yang diberi judul selain Mona Lisa?

“Uh, tentu. Masuk akal sekali,” jawab Alec, memasang muka sok tahu. “Aku sangat setuju dengan um… poin-poin perbandinganmu,” ia menambahkan agar terdengar sedikit lebih intelek.

“Oh, syukurlah kalau begitu. Sisley memang pelukis realis yang hebat, benar, kan?”

“Yeah! Aku paling suka karya-karyanya.” Alec nyengir lebar.

Cengiran yang langsung pudar begitu melihat Lisa menelengkan kepala, ekspresi nah-ketahuan-kamu terukir jelas di wajahnya. Alec hafal ekspresi itu karena begitulah wajah Mary kalau melihatnya merogoh toples permen tidak pada waktunya. Yang sering ia lakukan, omong-omong.

“Sisley bukan pelukis realis, Alec. Dia masuk aliran impresionis. Kau sendiri yang kasih tahu aku.”

Mampus.

“Dan kau paling menyukai karya Monet lebih dari siapapun.”

Dua kali mampus.

Saat itu, yang bisa dilakukan Alec hanyalah menatap Lisa dengan pandangan separo-kosong separo-pasrah. Jika saat itu ada sumur tak berdasar, dia akan menjatuhkan diri ke dalamnya. Jika saat itu ada Ben dan sumur tak berdasar, dia akan menjatuhkan Ben. Pendiam darimana, saudara kembarnya itu jelas telah bercuap-cuap mengenai dunia seni lebih banyak dari yang pernah dilakukan Alec sepanjang hidupnya.

“Alec, kau ini kenapa, sih?”

Alec memejamkan mata, tangan mengepal menahan marah. Harusnya dia tahu ke mana Lisa akan menggiringnya dengan topik obrolan yang di luar jangkauan pengetahuannya itu. Harusnya dia lebih waspada, menyadari bahwa Dean pasti akan menghalalkan segala cara untuk mengorek keterangan, termasuk menjadikan Lisa sebagai mata-mata. Dia sudah muak mendengar pertanyaan ‘kau ini kenapa sih’ yang telah diajukan setidaknya seratus kali dalam tujuh puluh dua jam terakhir, dengan sekitar dua puluh variasi kata dan intonasi oleh orang-orang yang berbeda. Dan Alec belum menemukan jawaban yang tepat pula.

“Enggak kenapa-napa,” jawab Alec datar, defensif.

“Yeah, kayak aku bakal percaya saja,” dengus Lisa, “kau sangat berbeda dengan Alec yang kukenal, Alec. Seperti orang lain saja,” keluhnya, dan Alec merasakan desir was-was di perutnya. “Ada apa sebenarnya, kau jatuh dari kasur dan gegar otak?”

Sindiran yang klise. Kreasi sindiran Dean dan Sam telah melampaui itu, kerasukan setan dan skizofrenik adalah dua yang paling bisa dinalar.

“Mungkin,” tanggap Alec samar.

“Ayolah, Alec,” erang Lisa, “kau tak bisa diam terus selamanya. Itu cuma bikin keadaan tambah ruwet. Sikapmu bisa membuat orang lain kena masalah juga, tahu.”

Kalimat terakhir itu memberi pukulan lebih besar daripada yang diduga Lisa. Bukan hanya ‘bisa’, pikir Alec kecut, tapi ‘sudah’. Dia sudah menjerumuskan Ben dalam situasi yang jauh dari nyaman. Jika dipikir lagi, alasan satu-satunya – oke, bukan satu-satunya tapi yang paling kuat – yang menahan Alec terbang menolong Ben adalah tidak ada yang tahu persis duduk perkaranya. Tidak ada yang sadar kalau dalam seminggu ini ada dua orang yang sama sekali berbeda, berusaha memainkan peran sebaik mungkin tapi hasilnya malah sebaliknya. Mungkin kalau ia menjelaskan, entah bagaimana keluarganya akan paham dan mengizinkannya ke tempat Ben. Atau mereka akan marah makin besar dan mengurungnya seumur hidup. Satu diantara itu.

“Alec?” desak Lisa.

“Ceritanya panjang.”

“Aku punya banyak waktu.”

Cowok itu menghela nafas. Kadang, dalam hidup kau harus mengambil resiko. “Tapi janji kau enggak akan bereaksi yang aneh-aneh,” ia mewanti-wanti, pencegahan kalau-kalau Lisa ternyata seperti Mom, tidak bisa dengar cerita bombastis.

“Iya, deh, janji.” Cewek itu mengacungkan dua jari. Suaranya terdengar kalem, tapi Alec tahu ia tengah menekan penasaran yang amat sangat.

“Oke,” kata Alec, menarik nafas mengambil ancang-ancang. “Semuanya dimulai dari Kompetisi Juilliard….”

* * *


Suara berisik dari lantai bawah menarik Ben dari tidurnya – yang ada bagusnya juga mungkin, mengingat ia sedang mimpi dihujami bola baseball oleh penonton se-stadion yang wajahnya semua mirip Mario. Tapi bulu romanya langsung berdiri begitu melihat jam digital menyala dalam gelapnya menunjukkan pukul sebelas malam. Siapa yang menyusup ke rumahnya malam-malam begini? Karena tidak mungkin itu Caesar – ada suara-suara yang Ben yakin adalah bisikan tertahan, dan kelontangan piring yang tak mungkin dijamah seekor anjing.

Ben meraih tongkat baseball dari samping lemari untuk melindungi diri (lagi-lagi ironis) dan keluar kamar sepelan mungkin. Mengendap-endap, cowok itu menuruni tangga sambil terus mendengarkan. Di koridor ia melihat bayangan hitam bergerak-gerak.

“Caesar?”

Anjing itu menyalak dan menghampirinya. Ben menggaruk telinga peliharaan sekaligus penjaganya itu, terheran-heran. Kalau ada orang asing di rumah, kenapa Caesar yang sensitif pada siapapun – apapun – yang tidak dikenalnya ini diam saja?

“Caesar, siapa yang….”

Belum sempat cowok itu menyelesaikan pertanyaannya, lampu di sepanjang koridor menyala. Ben mengerjap-ngerjap silau, sementara Caesar menggonggong dan dua suara yang sangat dikenal Ben menjeritkan namanya.

“Ini dia jagoan kita!” seru dua orang, satu pria dengan seragam ala penjaga taman safari, dan satu lagi wanita dengan baju super-ketat serta make-up yang hanya cocok untuk pentas panggung. Mereka nyengir super lebar sampai-sampai ujung bibir mereka nyaris menyentuh telinga.

“Dad? Mom?!” Ben ternganga. “Sedang apa kalian di sini?”

“Memberimu selamat dong, anak bodoh,” tawa Naomi Anderson, maju untuk memeluk putra tunggalnya. “Kami ingin menontonmu di pertandingan besok.”

“Kalian tidak perlu repot-repot,” kelit Ben. Jika saja hari masih siang, itu juga akan menjadi usiran halus. “Bukannya Dad harus menunggui anak-anak Kamp? Dan Mom, bagaimana filmnya?”

“Oh, lupakan itu,” jawab Brian Anderson, melambaikan tangan seolah mengusir lalat. “Aku tidak akan melewatkan pertandingan anakku untuk menjaga anak orang.” Itu hanya berlaku untuk pertandingan baseball, Ben menyadari dengan pahit, karena waktu dia ikut pertandingan biola dulu (yang dapat juara dua, sekaligus juara terakhir yang diperolehnya), ayahnya malah lebih mementingkan negoisasi saham pabrik.

“Dan aku mengambil cuti khusus untuk menontonmu, bebe,” lanjut Naomi sambil mencium kedua pipi Ben. “Aku langsung terbang dari L.A. begitu Brian mengabari soal ‘keberuntungan kecil’mu.” Ia mencubit hidung putranya sambil terkikik. “Kau makin mirip ayahmu saja.”

Ben tidak tahu harus menjawab apa, jadi dia cuma tersenyum saja.

“Oh, dan kami punya kejutan untukmu,” seringai Brian, menunjuk ruang makan yang menyala lebih terang dari koridor. “Tadinya kami berencana menunjukkannya tepat jam dua belas malam, tapi kau keburu bangun. Kau berisik terus, sih,” ia menambahkan pada istrinya.

“Enak saja, kan kau yang tanya-tanya terus ‘ini dipasang di mana, ini dipasang di mana’,” tukas Naomi, cemberut. Brian tertawa dan menciumnya. “Sudahlah. Ayo kita lihat kejutan untukmu, bebe.” Wanita itu menggandeng tangan Ben ke ruang makan.

Kalau tadi Ben terkejut, sekarang dia syok berat. Ruang makan yang biasanya hampa itu mendadak penuh warna, ada balon dan kertas krep menggantung di langit-langit, dan sebuah roti tart besar yang sangat mengingatkannya pada hari pertama di rumah keluarga Winchester terletak di tengah meja. Ben merinding membaca tulisan di roti itu: BEN ANDERSON, BASEBALL GOD dengan gambar anak laki-laki dari krim tengah memukul bola (kemungkinan besar replikanya, yang wajahnya akan mirip besok setelah Ben menerima ‘ganjaran’).

“Ini sungguh tidak perlu….” Gumam Ben lirih. Dia tidak mau orangtuanya terlalu bersemangat dan akhirnya kecewa, tapi juga tidak sampai hati mengatakan dengan jujur bahwa selama tiga hari ini dia berhasil memukul satu bolapun tidak.

“Kau memang tidak berubah, Ben. Santailah sedikit, nikmati apa yang pantas kau dapatkan,” kata Brian, mengacak rambutnya. “Sekarang, cepat potong kuenya. Aku sudah lapar.”

Ketika Ben memotongkan kue untuk ayah dan ibunya – dia sendiri tidak makan, dengan alasan menjaga stamina agar disetujui orangtuanya, tapi alasan sebenarnya karena dia bakal merasa sangat bersalah kalau makan kue perayaan-terlalu-cepat itu; Naomi mengambil sebuah bungkusan besar dari kopernya yang masih tergeletak begitu saja dekat mesin pembuat kopi. Senyum di wajah ibunya membuat perasaan Ben makin tidak enak.

“Coba lihat apa yang kubuat untukmu,” kata Naomi penuh semangat. Ben jadi teringat Alec dan Rachel, dan bertanya-tanya dalam hati sambil sedikit kesal: kenapa sih dia harus hidup dengan orang-orang hiperaktif di sekelilingnya?

Naomi membuka bungkusan itu, berisi sebuah kaos ketat berwarna putih. Hanya saja itu bukan kaos biasa. Sang ibu memegang lengan kaos agar Ben bisa melihat jelas tulisan di dadanya: BEN’S MOM. Pipi Ben langsung memerah membayangkan ibunya datang ke pertandingan dengan baju begitu.

“Mom….”

“Aku akan memakai ini besok! Biar semua tahu akulah ibu si pemenang!” seru Naomi, dan Brian bertanya sedikit merengek kenapa dia tidak dibuatkan kaos ‘BEN’S DAD’.

Ben tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia cuma pasang senyum kaku. Sepanjang pesta pra-pertandingan itu ia tak berani menatap mata kedua orangtuanya, mengamini saja harapan mereka tentang pukulan bersejarah dan catatan rekor baru.

Skenario hidupnya benar-benar busuk.

TBC

0 komentar :

Posting Komentar