Rabu, 07 Juli 2010

MIRROR IMAGE CHAPTER 2


Rachel benci gaun sutra.

Gaun itu licin dan membuat sekujur tubuhnya geli dan dia nyaris terserimpet sandangan berwarna pink cerah itu kemanapun ia berjalan. Kesengsaraannya berlipat ganda ketika sang ibu memutuskan untuk mengirimnya ke belakang panggung pertunjukan Juilliard yang maha megah, mengantarkan sebuket besar mawar merah pada kakak perempuannya yang berhasil memukau penonton – atau setidaknya memukau keluarga Berrisford – di pentas pembukaan tadi. Sungguh tidak masuk akal, karena Jess juga akan ikut pulang bersama mereka usai pertunjukan ini, dan tentunya akan lebih praktis jika mereka memberikan bunga mawar itu di mobil, tapi tidak, ibunya ngotot agar bunga itu diterima sebelum Jess keluar Balai Kesenian, agar memberi kesan ia punya penggemar. Yeah, penggemar perempuan yang dipanggilnya ‘adik’ dan berjalan mengangkat gaun panjangnya, bersusah payah menyelip di antara kerumunan orang beraura musisi. Awas saja kalau Jess sampai bilang, “Race, kau membuatku malu!”

“Permisi,” engah Rachel pada seorang yang tampaknya petugas pengatur peserta. “Bisakah Anda memberitahu di mana ruang pemain pembuka?” Karena dia sudah berkeliling sampai pusing dan bahkan sempat dimarahi gara-gara menjatuhkan terompet tapi batang hidung Jess belum nampak juga.

“Sedang apa kau di sini?!” bentak si petugas sebesar beruang itu.

“Uh, saya….”

“Selain peserta dan petugas dilarang masuk! Kau tidak baca peraturannya ya?!” ia menunjuk sebuah plang dekat pintu masuk panggung yang entah bagaimana terlewatkan oleh Rachel.

“Eh, maaf kalau begitu. Terimakasih!” ujar Rachel malu. Untung tempat itu remang-remang jadi si petugas tidak melihatnya salah tingkah. Ia celingukan mencari pintu keluar, tapi pada saat yang bersamaan Tim Choir Juilliard telah usai membawakan lagu-lagu mereka dan berduyun-duyun keluar dari panggung. Panik, cewek itu membuka pintu pertama yang dilihatnya dan masuk ke dalam.

Ternyata itu adalah toilet pria.

Dan hal pertama yang dilihatnya adalah seorang cowok sedang membetulkan celananya, kentara sekali habis buang air.

Kalau di situ ada lubang yang langsung menuju pusat bumi, Rachel akan dengan senang hati melompat ke dalamnya.

“Sori!” seru Rachel, langsung menutupi mukanya dengan buket bunga. Ada hikmahnya juga ia belum menyampaikan bunga itu, walaupun kalau sudah itu berarti ia tidak akan mengalami kejadian memalukan macam ini. Buru-buru ia membalikkan badan, namun sebelum membuka pintu, otaknya berhasil meregister siapa cowok itu. Ia pun menoleh kembali untuk memastikan. Tak salah lagi, mata hijau cemerlang itu….

“Ben?”

Cowok itu mengerjap. “Maaf?”

“Ben, sedang apa kau di sini? Kau ikut pertandingan?” tanya Rachel tak habis pikir.

“Errr….”

“Kenapa kau tak bilang-bilang?”

“Engg… Maaf…”

“Harusnya kau bilang biar aku mendukungmu. Kenapa bohong padaku? Kau pikir aku akan marah? Aku tidak akan marah seandainya kau memberitahu tapi karena kau merahasiakan ini aku jadi ma….”

“Maaf!” seru cowok itu, memotong berondongan monolog Rachel. “Namaku bukan Ben.” Ia menunjuk tag nama peserta yang terpasang di blazernya: A. Winchester.

Untuk kedua kalinya dalam dua menit, Rachel ingin mengubur diri hidup-hidup.

“Oh,” kata cewek itu geragapan. Sekarang wajahnya pasti semerah bunga di tangannya. “Ehm, maaf, soalnya kau mirip sekali dengan temanku, jadi….” Ia pasang senyum paling lebar yang bisa diusahakannya. “….sekali lagi, maaf sudah mengganggu. Bye-bye!”

Ia kembali memunggungi cowok tiruan Ben itu, berusaha keluar dari setting toilet petaka ini secepat yang ia bisa. Namun seolah belum cukup menyaksikan kekonyolan cewek bego bergaun sutra pink yang tanpa ba-bi-bu masuk toilet pria dan memarahinya, cowok itu memanggilnya.

“Tunggu dulu!”

Rachel menoleh enggan. “Yeah?”

“Errr… kau kenal Ben?”

* * *

Alec sangat yakin ada yang disebut faktor keberuntungan dalam setiap kemenangan yang diraihnya. Seperti saat ia mengikuti Kompetisi Musik Junior pertamanya, dan tiba-tiba saja saingan terberatnya tidak bisa hadir karena flu. Atau saat ia berlomba di Jerman dan mengalami jetlag dan tidak bisa berkonsentrasi penuh pada permainan pianonya, tapi tetap mendapat juara ketiga. Kali ini pun Dewi Fortuna masih berpihak padanya. Ia berhasil menjadi Juara Utama, mengalahkan ratusan peserta lain yang lebih menginginkan posisi itu daripada dia. Walaupun demikian, yang membuatnya tersenyum sepanjang sore bukanlah fakta bahwa ia kini resmi diterima sebagai mahasiswa Juilliard, tapi sebuah keberuntungan besar yang membawanya menemukan apa yang selama delapan tahun ini dicarinya. Dan dari segala hal, keberuntungan itu berwujud seorang gadis bergaun pink yang nyasar ke toilet cowok.

“Permainanmu tadi indah sekali,” ujar Mary untuk yang kesekian kalinya. Mereka sekeluarga, ditambah Lisa pacar Dean, sedang makan malam di sebuah restoran Italia untuk merayakan kemenangan Alec.

“Kau sudah bilang, Sayang,” kata John geli, walaupun matanya juga menatap putra bungsunya penuh bangga.

“Memang begitu, kok,” balas Mary, mengelus rambut Alec. “Kau benar-benar memukau mereka. Aku sudah yakin kau bakal menang begitu lagumu selesai.”

“Mom….” Desah Alec malu.

“Yeah, dan dia juga dapat hadiah bonus dari belakang panggung,” goda Dean. Ia dan Sam lalu terkekeh-kekeh. Lisa hanya memutar bola mata, meskipun dari ekspresinya kentara sekali ia juga terhibur.

“Hadiah bonus apa maksudmu?” tanya Mary curiga.

“Si Kecil Alec dapat kenalan,” seringai Sam, “siapa cewek bergaun pink itu, Dik?”

“Taruhan kau pasti bakal menghabiskan malam ini telepon-teleponan dengannya.”

“Yeah, terus kalian bakal mulai bertukar foto….”

“Kencan….”

“Terus….”

“Namanya Rachel,” jawab Alec cepat, memotong ocehan kedua kakaknya sebelum Mom sempat berasumsi yang tidak-tidak. “Kami bertemu waktu dia mau mengantar bunga untuk kakaknya.” Sebenarnya dia mau menambahkan, cewek itu nyasar ke toilet pria, tapi tidak jadi.

“Manis sekali,” puji Mary.

“Anaknya juga lumayan manis lho, Mom. Bolehlah untuk ukuran….Ouch!” Dean berjengit saat Alec menendangnya di bawah meja.

“Sayang dia tidak bisa ikut tur keliling New York bersamamu seminggu ini. Dia bukan salah satu peserta yang menang, kan?”

“Dia bahkan tidak ikut lombanya, Mom.” Dan cowok itu ingin mencibir atas kebanggaan ibunya yang berlebihan. Yeah, oke, masuk Juilliard memang hebat, tapi hadiah keliling kota New York tidak cukup keren untuk digembar-gemborkan. Kedengarannya malah agak kampungan.


Sisa makan malam itu berlangsung cukup damai, tidak ada insiden yang menghebohkan, kecuali Dean tidak sengaja menumpahkan anggur ke gaun Lisa bisa dibilang insiden. Mary mengulang-ulang cerita Juilliard setiap kali ada tamu baru yang lewat di samping mereka, sementara yang lain sudah menyerah menanggapinya dan hanya mengangguk-angguk saja. Barulah sekitar jam sepuluh malam, persis setelah si pelayan mengantarkan makanan penutup, ponsel Alec bergetar. Ia melirik Sam dan Dean yang sedang asyik mendiskusikan robot buatan Dean sebelum membukanya di bawah meja.

SMS dari Rachel.

‘Cm ksh tw. Q dh smp. Bsk mw k t4 Ben. Selamat ats prestasiny, y. Nite!
:D
RCL’

Alec nyengir. Nah, ini baru hadiah yang sempurna.

* * *

“Ben!! Benny!! Cepat buka pintu ada kabar penting! Beennyyy!!!” lolongan Rachel membahana di pagi buta, diiringi gedoran pintu yang sama kerasnya. Dari dalam rumah terdengar derap langkah di atas lantai kayu, kemudian pintu menjeblak terbuka menampakkan sosok bangun tidur Ben dengan rambut jabrik awut-awutan dan piyama tergulung. Caesar, anjing rottweiler miliknya, ikut melongokkan kepala.

“Race! Apa-apaan sih?! Kau mau membangunkan seluruh kompleks, ya?!” desisnya marah. “Untung saja Dad sedang lembur, kalau tidak kau bakal dilempar wajan!”

“Bawel amat sih,” dengus Rachel, mendorong Ben kembali ke rumah dan menutup pintu tanpa menggubris protes sahabatnya itu. “Aku punya berita bagus untukmu. Tapi pertama, gosok gigi dulu sana. Mulutmu bau comberan.” Ia menepuk-nepuk bahu Ben lalu nyelonong masuk ke ruang utama, Caesar mengekor di belakangnya.

Ketika Ben kembali dari gosok gigi, Rachel sudah duduk di kursi dapur dengan kedua kaki menggelitik anjingnya, dan dua cangkir susu mengepul di meja. Ia memberikan satu pada Ben, yang menerimanya sambil menguap.

“Kuharap ini benar-benar penting. Kau tahu kemarin aku latihan ekstra sampai jam sepuluh malam.” Ben menggerakkan lehernya, menimbulkan bunyi ‘krek’ keras. “Badanku kaku semua nih.”

“Kayak orangtua saja,” cetus Rachel. Ia menyeruput susunya sebelum melanjutkan, “kemarin aku ke Juilliard.”

“Oh wow, berita besar. Rasanya aku pernah dengar, kapan ya? Oh yeah, awal liburan kemarin!” Ben anak yang baik, tapi dia bisa jadi ketus kalau sedang capek.

“Dengarkan dulu dong! Nah, kemarin waktu aku ke Juilliard – panggung pementasannya gede banget, lho – kami nonton Jess main piano, terus tiba-tiba saja Mom dapat ide untuk membelikannya bunga, jadi dia keluar untuk beli buket mawar merah super besar dan berat di butik bunga di seberang jalan. Kukira dia mau mengantarkannya sendiri, tapi ternyata dia malah menyuruhku pergi ke belakang panggung dan memberikan bunga itu… dan itu susah banget soalnya bunga itu besar dan aku pakai gaun sutra panjang, dan….”

“Race, Race,” potong Ben, menopangkan kepalanya ke meja. “Langsung ke intinya saja, oke?” Ocehan sahabatnya itu membuat kepalanya makin berdenyut-denyut.

“Oh, oke. Oke, jadi aku mau menyerahkan bunga itu, tapi Jess kucari enggak ketemu-ketemu, aku bahkan sempat menjatuhkan terompet dan dimarahi….”

“Race!”

“Iya, iya, pemarah banget sih!” Rachel ikut-ikutan senewen. “Waktu itu aku enggak sengaja masuk ke toilet pria….”

“Bukan pertama kalinya.”

“Diamlah. Nah, di dalam toilet ini aku ketemu seseorang, tebak siapa?”

“Siapa, cicitnya Beethoven?”

“Bukan. Aku ketemu anak cowok bernama Alec.”

Rachel menikmati keheningan yang menyusul, hanya ditingkahi suara nafas Caesar yag terengah-engah. Ben langsung duduk tegak dengan mata terbuka lebar, ekspresi mengantuk terhapus dari wajahnya. “Siapa?”

“Alec. Anak cowok berumur enam belas tahun, dengan mata hijau-hazel, rambut coklat gelap, tinggi sekitar seratus tujuh dua senti dan.. oh, dia main piano. Terdengar familiar?” seringai Rachel.

Untuk sesaat tampaknya Ben kehabisan kata-kata, ia hanya menatap Rachel sambil agak ternganga. Kemudian, seolah masih tidak yakin itu nyata, ia berbisik, “kau bertemu kembaranku?”

* * *

“Maddie… aku tahu kau bilang begitu, tapi…”

“Yeah, aku memang sudah janji…”

“Bisakah…”

“Alec masih tinggal seminggu lagi di sini, mungkin dia bisa… Maddie? Maddie! Sialan.” Sam menutup ponselnya sambil mengumpat.

“Kenapa lagi sekarang?” tanya Dean, yang sudah menguping adiknya sejak pertengahan pembicaraan. Yah, sebenarnya sih dia tidak berniat begitu, tapi salah sendiri Sam bertengkar dengan pacarnya di toilet bandara. Siapapun yang masuk kesitu pasti bisa menyimak dengan baik, apalagi yang sedang buang air besar seperti Dean. Dia jadi gampang kebelet kalau mau naik pesawat, phobia ketinggiannya tidak pernah benar-benar hilang.

“Bukan urusanmu,” geram Sam emosi.

“Yeah, aku juga malas mengurusi hal begituan. Cuma sedikit mengamati, kalian berdua kelihatannya sering bertengkar sejak Natal kemarin.” Dean mengingat-ingat kali terakhir ia pulang ke rumah, disambut muka menekuk Sam yang sedang diam-diaman dengan pacarnya. “Kayaknya hubungan kalian makin rumit saja.”

“Lebih baik daripada hubunganmu yang tidak maju-maju,” dengus Sam, melewati kakaknya keluar dari toilet pria.

Dean mengangkat alis dan mencibir. “Aku dan Lisa tidak suka terburu-buru,” gumamnya, mengikuti adiknya menuju ruang tunggu.

Di tempat keluarga Winchester seharusnya duduk hanya ada dua orang. Lisa berpisah dengan mereka karena mau mengunjungi sebuah galeri seni sebagai bahan tulisan majalah kampus. John juga entah di mana, kemungkinan besar sedang berburu souvenir di toko-toko aneh. Kalau beruntung, Sam bisa meminta salah satu souvenir itu, yang tidak terlalu abnormal, dan menghadiahkannya ke Maddie sebagai ganti scarf ala gipsi yang dipesannya – dan gagal ditemukan Sam. Sedangkan Mary, seperti yang bisa diduga, tengah memberi wejangan penuh kekhawatiran pada putra bungsunya. Ia berkali-kali menanyakan apa Alec sudah membawa jaket dan sweater (yang tidak bakal mungkin dipakai di tengah musim panas, namun kelihatannya dia tidak sadar), memastikan ia mendapat cukup uang saku, dan apakah dia ingat jalan pulang dari bandara ke hotel.

“….Ingat ya, jangan tidur kemalaman. Makan yang teratur. Jangan mau diajak ke tempat aneh-aneh sama siapapun teman barumu. Hati-hati menyeberang jalan, ya Tuhan, jalan raya di sini ramai sekali, lewatlah jembatan penyebarangan….”

“Mom, aku sudah enam belas tahun.”

“Tidak sebelum Oktober. Dan kecelakaan tidak mengenal umur, Alec.” Mary mengelus pipi putranya, matanya berkaca-kaca. “Oh Tuhan, aku akan meninggalkanmu sendirian. Di New York. Bagaimana kalau terjadi apa-apa? Mungkin sebaiknya aku tetap di sini menemanimu. Atau mungkin kau ikut pulang saja, dan kembali akhir musim panas, tidak usah ikut tur ini…..”

“Mom! Minggu depan aku juga pulang. Ini cuma tur biasa.”

“Yeah, tidak usah khawatir begitu Mom. Dia toh enggak bakal hilang lagi di Deno’s Wonder Wheel,” seloroh Dean, mereferensi peristiwa yang terjadi waktu umur Alec sepuluh tahun.

“Kalau perlu, Mom telepon saja orang Juilliard, suruh mereka merantai Alec biar nggak kesasar,” sambung Sam.

“Ha-ha. Lucu sekali,” tukas Alec sebal. Kalau Mom tidak dalam jarak pandang, ia pasti sudah main fisik – atau berusaha melakukannya, paling tidak.

Selang beberapa saat John datang, kedua tangan memeluk tas-tas kertas dalam berbagai macam ukuran, roman mukanya seolah ia baru saja menemukan harta karun. Sam mengintip salah satu tas itu dan langsung putus asa melihat sebuah topeng ala Afrika di dalamnya. Yeah, andalkan John Winchester untuk menemukan souvenir khas benua lain di kota New York. Dan apa itu yang di dalam kantung berlubang-lubang? Kelihatannya seperti palem India. Yah, nampaknya ia harus siap-siap berargumen dengan Maddie begitu sampai di Lawrence nanti.

Menjelang keberangkatan, Dean jadi semakin gelisah. Ia mondar-mandir di hadapan keluarganya, menghabiskan tiga gelas kopi – lebih seandainya Mary tidak menghentikannya, tangannya basah oleh keringat. Ini membuat Mary sejenak melupakan Alec dan gantian menggerecoki Dean. Harusnya ini juga merupakan momen berharga bagi Alec karena dia bisa balas mengejek kakaknya, tapi Mary dengan tegas memperingatkan untuk tidak ‘menertawakan kelemahan orang lain’. Dean bahkan terlalu gelisah untuk meralat istilah ibunya, memberikan cukup alasan bagi adiknya untuk tetap diam. Oke, Alec memang bisa brengsek, tapi dia tidak kejam. Ia pun menghabiskan waktu duduk diam sambil mengamati keluarganya, dari John yang dengan gembira mengamati koleksi souvenir barunya, ke Mary yang mengelus-elus punggung Dean dan menawarinya balsem, ke Dean yang kelihatannya seperti mau muntah, lalu ke Sam yang sedang komat-kamit mempersiapkan alasan yang tepat untuk Maddie.

Tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah nomor tak dikenal berkedip-kedip di layar.

“Halo?”

Hening sejenak.

“Halo? Siapa ini?”

Terdengar suara samar gonggongan anjing, bisik-bisik panik, kelotakan misterius seperti sebuah telepon dioper-operkan dan kemudian, sebuah suara yang membuat Alec ingin menangis saking kangennya berkata ragu, “Err… Alec? Ini Ben. Apa kabar?”


TBC

0 komentar :

Posting Komentar