Rabu, 18 Agustus 2010

MIRROR IMAGE CHAPTER 11

Ben berbaring nyalang di kasur, satu tangan melintang menutupi mata, sementara yang lain mengelus-elus bulu pendek-kasar Caesar yang telah lama lelap di sampingnya. Ia tidak bisa kembali tidur setelah pesta – satu lagi cara untuk tampil tidak fit besok pagi. Atau lebih tepatnya nanti pagi, sebab hari sudah hampir subuh. Di kejauhan terdengar suara kereta pertama, jenis suara yang menimbulkan keinginan untuk pergi ke suatu tempat, melarikan diri dari kehidupanmu yang sekarang. Keinginan yang makin besar saja di hati dan pikiran Ben seiring berdetiknya jarum jam.


Cowok itu menghela nafas berat, lalu melompat bangun. Ia menggosok muka untuk menghilangkan kantuk, hati-hati agar tidak menekan memar besar di matanya. Kalau dia tidak bisa beristirahat lagi sebelum pertandingan (empat jam lagi! Menakutkan), maka ia harus minum kopi kental dan mandi air dingin untuk setidaknya mengusir penat.

Ia terkejut ketika turun ke dapur sambil memikirkan berapa banyak kopi yang harus ia masukkan agar menciptakan rasa yang kuat, dan mendapati Naomi sudah di sana. Sungguh sesuatu aneh, menyaksikan ibunya itu berkutat dengan alat-alat dapur sambil bersenandung pelan, tangannya yang biasanya hanya sibuk mengutak-atik make-up bergerak lincah memotong wortel dan selada. Rasanya seperti masuk ke dunia Coraline dan bertemu dengan Ibu Yang Lain.

“Kok Mom sudah bangun?” celetuk Ben terheran-heran. Di rumah, Naomi terkenal dengan pola tidurnya yang seperti anak remaja. Tidur tengah malam, bangun kesiangan. Ben-lah yang biasa mendapat tugas membuat sarapan, bukan sebaliknya.

“Aku enggak bisa tidur. Terlalu bersemangat,” cengir Naomi malu. “Daripada cuma tidur-tiduran dan mendengarkan dengkuran Brian – semakin keras saja dari hari ke hari, aku heran – kupikir ide bagus kalau aku menyiapkan sarapan spesial untuk hari spesialmu. Kau sendiri, kenapa pagi sekali?”

“Siap-siap,” jawab Ben, mengangkat bahu.

“Susu?” Naomi menawarkan teko penuh susu ke putranya.

Ben menggeleng. “Kopi,” katanya sambil mengambil cangkir terbesar yang bisa ditemukannya dan meletakkan benda itu di bawah mesin pembuat kopi. Naomi cuma mengangkat alis dan mengangguk, tidak repot-repot menguliahi Ben tentang efek kafein bagi kesehatan, seperti yang pasti akan dilakukan Mary.

“Bagaimana matamu?” tanya Naomi sambil memarutkan keju di atas adonan kuenya sementara Ben mendudukkan diri di kursi makan, sengaja memilih posisi yang memunggungi ibunya.

“Lumayan,” jawab Ben sekenanya. Semalam ibunya sudah mengoleskan salep di bagian yang membiru, tapi butuh waktu sampai cedera itu benar-benar kempes. Ia tidak meralat asumsi Brian tentang memar itu sebagai bukti ‘perkelahian antar pria’ yang membawanya ke tim inti.

“Bagus. Jadi kau enggak bakal ada masalah melihat bola, kan?”

“Uh-huh.” Ben menunduk menatap cangkirnya, saling pandang dengan refleksi dirinya di cairan hitam pekat. Bayangannya itu seolah mengejek, menertawakan ketidakberaniannya untuk berterus terang. Ben menelan ludah.

“Uh, Mom?”

“Mmm?”

“Aku….” Ben menggigit bibir. “Tidak jadi, deh.”

Naomi menoleh. “Ada apa?”

“Tidak apa-apa.”

“Benny?”

“Tidak, aku cuma….” Ben menghela nafas, matanya tiba-tiba sangat tertarik pada kertas-kertas pengingat yang ditempel di pintu kulkas dengan hiasan magnet. “Kau dan Dad, kalian sangat ingin aku menang?”

“Jelas dong. Kami ingin yang terbaik bagimu,” jawab Naomi, menarik kursi dan duduk di samping Ben, masakannya terlupakan.

Yeah. Termasuk memasukanku ke ekstrakurikuler yang ‘lebih baik’ untuk cowok. “Bagaimana kalau aku enggak bisa?”

“Apa?”

“Bagaimana kalau aku….” Cowok itu menyisir rambutnya frustasi. Ia mengucapkan kalimat selanjutnya dengan cepat untuk mengurangi rasa malu, “….bagaimana kalau aku gagal? Bagaimana kalau aku menyebabkan kekalahan tim. Kalian mau apa?”

“Tidak mungkin begitu. Kau pasti bisa.”

“Bagaimana kalau tidak?!” nada bicara Ben meninggi tanpa sengaja. Ia langsung rikuh melihat ekspresi kaget sang ibu. “Maaf,” gumamnya, memutar-mutar cangkir kopi dengan salah tingkah.

Cowok itu terlonjak sedikit ketika tangan ibunya jatuh ke rambutnya, mengelus-elus dengan sayang. Ia melirik ke samping, kepada Naomi yang tersenyum lembut.

“Jadi itu yang membuatmu gelisah?” tanyanya penuh kasih.

“Aku tidak – aku cuma…. Bagaimana kau tahu?”

“Kau enggak pernah menatap orang lain kalau sedang cemas.” Naomi mengulum senyum, seolah kebiasaan putranya itu lucu.

Ben mau tak mau ikut tersenyum. Yeah, kebiasaan itu sudah tumbuh sejak dia masih kecil dan ia tak pernah bisa melepaskan diri darinya.

“Kau enggak perlu takut, bebe,” lanjut Naomi, masih mengelus-elus Ben. “Apapun yang terjadi, kami akan tetap bangga padamu.”

“Aku takut kalian kecewa,” desah Ben sedih, “aku enggak sebaik yang kalian kira.”

“Terus kenapa?” tukas Naomi lembut, “kau pikir kami akan berhenti bangga padamu hanya karena kau kalah dalam pertandingan kecil? Kau enggak perlu membuktikan apa-apa. sejak awal kami sudah tahu kau hebat. Apa yang kau raih, itu bonus untukmu sendiri.”

“Yeah, tapi enggak begitu bagi Dad.”

“Dia mungkin akan mengungkit-ungkitnya beberapa waktu. Brian memang begitu,” Naomi mengangguk setuju, “tapi dia enggak pernah benar-benar kecewa padamu. Bahkan ketika kau memutuskan untuk ikut grup musik, bukan baseball, di tahun pertamamu masuk SMA – waktu itu dia marah besar, ingat?”

Ben mengangguk pelan. Kenangan yang pahit.

“Tapi di luar, dia cerita dengan bangga pada teman-temannya. Dia bilang kau pemain biola yang luar biasa, mungkin nantinya bakal menandingi Enya.”

Ben tidak tahu ayahnya tahu Enya segala. “Dia bilang begitu?”

“Yeah. Brian enggak pernah tahu banyak tentang musik. Itulah sebabnya dia menyuruhmu ikut baseball. Bukan karena dia menganggap seni itu jelek, melainkan karena dia merasa enggak bisa membimbingmu di bidang itu – beda dengan olahraga yang praktis dihafalnya luar dalam. Brian enggak pernah bisa melepaskanmu sendirian, dia ingin selalu menjagamu, mengarahkanmu. Dan dia enggak bisa melakukan itu kalau cara memegang biola saja enggak ngerti, kan?” Naomi tertawa.

“Yeah,” jawab Ben sedikit terharu. “Aku enggak tahu dia begitu.”Selama ini ia menyangka ayahnya malu karena Ben tidak bisa setangkas anak-anak lain. Dia mengira Brian menyuruhnya ikut baseball karena itulah yang dilakukan anak teman-temannya. Brian bukan jenis orang yang suka bicara hati-ke-hati dan Ben terlalu malu untuk bertanya, sehingga alasan sebenarnya terkubur dalam-dalam di antara mereka.

“Jangan khawatir, Ben. Nikmatilah pertandingan nanti, jangan pikirkan menang atau kalah. Bukan itu yang membuat kami bangga padamu. Kami bangga karena kamu adalah kamu.”

“Thanks, Mom,” kata Ben tulus. Hatinya terasa lebih ringan setelah bicara dengan ibunya. Mungkin dari luar Naomi tampak kekanakan, tapi dia tetap seorang ibu.

“Tapi,” tambah Naomi, “aku juga enggak ngerti kenapa kau begitu gelisah. Kau TIDAK MUNGKIN kalah. Aku sudah dapat firasat dari awal. Makanya kubuat kaos ini.” Ia membuka kancing kemejanya dan menampakkan kaos ‘BEN’S MOM’ yang menyebalkan itu, layaknya Superman mau berubah wujud. “Yang barusan kita bicarakan akan jadi cerita lucu setelah kau membawa tropi nanti.”

Dan beban pun kembali terhempas ke pundak Ben, sepuluh kali lebih berat dari sebelumnya.

* * *

“Enggak bisa lebih cepat lagi?”

“Tidak bisa, Alec. Ini sudah sampai batas kecepatan.”

“Pertandingannya satu jam lagi, Dad!”

“Yeah, dan kita harusnya sudah sampai di sana seandainya kau tidak telat bangun. Sekarang duduk tenang dan biarkan aku menyetir.”

Alec menggerung kesal dan menghempaskan diri di jok belakang, di antara Sam yang mendengarkan iPodnya dengan headset sampai tidak menyadari dunia luar (dia makin autis saja sejak putus dengan Maddie) dan Dean yang geleng-geleng kepala melihat tingkahnya. Kakaknya itu, sama seperti anggota keluarga yang lain, masih belum percaya apa yang sudah dilakukan Alec beberapa hari terkahir ini.

Kemarin sore, yang rasanya sudah lama sekali, Alec mengaku dosa pada Lisa. Cewek itu cuma bisa melongo mendengar tuturannya soal pengalaman musim panas sebagai orang lain – agak-agak mirip pertukaran pelajar jika kau melihatnya dari sisi optimis, hanya saja tidak membanggakan – dan setelah itu, sifat ember yang tampaknya telah melekat pada diri wanita menguasai Lisa dan dia, tanpa sepengetahuan Alec, mengadu pada Dean layaknya anak TK yang bangga memergoki kesalahan temannya.

Sidang keluarga yang menyusul setelah itu sangat tidak menyenangkan untuk diingat. Alec duduk di sofa tunggal, merasa ciut dan dikhianati; berhadapan dengan seluruh anggota keluarga yang tampak siap menggerusnya. Cowok itu menolak untuk mengulang cerita, jadi Dean, bertugas sebagai juru bicara, mengulang kisah petualangan Alec dan Ben persis sama seperti yang diceritakan Alec pada Lisa – termasuk adegan ciumannya dengan Rachel, yang sukses menghentikan sidang itu sejenak agar Mary bisa menenangkan hati dan pikiran.

Kemarahan yang ditujukan pada Alec tak perlu dideskripsikan lagi, apalagi setelah mengetahui dialah pelopor ide bertukar-tempat itu, dan Ben cuma korban malang yang akhirnya harus tertimpa masalah lain gara-gara kembarannya berulah. Alec divonis hukum kurung sepanjang sisa musim panas– lebih ringan dari prediksinya yang berjangka seumur hidup – tapi tetap saja menyiksa karena harus dijalani tanpa ponsel, laptop, iPod dan televisi. Tapi yang membuatnya kaget sekaligus senang, hukuman itu akan diberlakukan SETELAH ia menyelesaikan masalah Ben.

“Kau yang memulai semua kekacauan itu, Alec,” kata John, sambil membongkar-bongkar lemari mencari kopernya. “Maka kau yang harus membereskannya, dan kau juga harus minta maaf pada Ben.”

Begitulah, akhirnya pukul enam sore keluarga Winchester terbang ke New York untuk menemui keluarga Anderson. Mereka sampai bandara larut malam, harus menginap di hotel dulu sebelum melanjutkan perjalanan besok paginya, yang diprotes Alec habis-habisan. Pertandingannya akan diadakan pagi hari dan mereka bisa telat! Tapi John mengangkat tangan menyuruh Alec diam, menjelaskan bahwa tidak mungkin mereka pergi ke sana jam segitu sebab tempat penyewaan mobil sudah tutup, dan mengingatkan putranya bahwa ia sudah menekan keberuntungannya sampai garis limit sehingga ia tidak boleh menentang keputusan APAPUN lagi. Mereka akan berangkat besok pagi, titik. Tidak ada argumen, tidak ada tapi-tapian. Yang membuat Alec bersungut-sungut karena esok paginya, DIA sendirilah yang menyebabkan mereka telat – terimakasih pada alarm ponsel yang entah kenapa tidak bunyi tepat waktu. Dia harus diam menerima kritik pedas seluruh keluarganya, termasuk Mary; sementara dalam hati juga ingin mencak-mencak tapi tidak tahu pada siapa.

“Apa yang akan kau katakan pada Ben?” tanya Dean berbasa-basi, mengusir keheningan tegang dalam mobil sewaan yang terasa sempit dengan lima orang berjejalan di dalamnya.

“Mudah saja. MAAF,” tukas Alec, yang sebenarnya hanya merupakan alasan agar Dean diam. Karena memikirkan apa yang harus ia katakan, atau lakukan, membuat perutnya mulas. Lebih baik dia menghadapi segalanya secara spontan, sebab itu tidak menyisakan celah untuk ber-grogi ria.

“Omong-omong soal minta maaf,” timbrung Mary, menoleh pada putra bungsunya. “Aku tidak tahu kau ada rencana begini atau tidak, tapi untuk jaga-jaga karena hanya Tuhan yang tahu kapan kau bakal melakukan hal gila lagi, aku tidak mengizinkan, kutekankan sekali lagi, TIDAK MENGIZINKANMU mengambil alih posisi Ben di pertandingan nanti.”

“APA?! Mom!” Alec praktis berteriak ke telinga ibunya.

“Dan itu kuanggap sebagai konfirmasi bahwa kau telah merencanakannya,” gumam Dean.

“Diamlah, Dean. Mom, kau tak bisa melarangku. Ben bahkan enggak bisa memegang tongkat dengan benar! Kalau dia main, tim mereka bakal kalah telak!”

“Dan itu mengajarkanmu untuk tidak bersikap seenaknya sendiri, Alec.”

“Bagaimana dengan Ben? Dia bakal dihajar habis-habisan!”

“Bahasamu, Alec. Dan kurasa akan lebih buruk baginya jika kali ini dia menang tapi selanjutnya kalah. Kau tidak bisa selalu ada untuk membantunya, kan?”

Alec menggeram gemas. “Kalian menghancurkan hidup kami!” teriaknya emosi.

“Tidak, kau yang menghancurkannya,” ralat Dean.

“JANGAN IKUT CAMPUR!” bentak Alec keras-keras, menyebabkan Mary menatapnya dengan pandangan menegur, tapi cowok itu tidak peduli. Dia duduk bersidekap, bibir manyun menunjukkan suasana hatinya.

Dean mengangkat bahu sambil bergumam, “Sensi bener sih.” Lalu menyandarkan diri, memandang ke rumah-rumah mungil ala kota kecil yang berlalu cepat di balik jendela.

Anggota keluarga lain juga tampaknya tidak tertarik membuka obrolan baru, suasana kembali hening, hanya terdengar deru mesin tua yang dipaksa untuk berlari kencang (John sesekali mengomel tentang kualitas barang-barang sewaan di pinggir kota New York, dan bagaimana mereka harusnya mencontoh caranya melayani konsumen). Alec menghela nafas keras-keras. Jika, secara ajaib, ia bisa menamatkan dengan baik kisah Parent Trap versinya sendiri ini, ia bersumpah tidak akan melakukan pertukaran tempat lagi, walau demi merasakan enaknya jadi anak desainer baju pengantin atau petani anggur sukses. Dan dia jelas harus mengurangi porsi nonton Disney Channelnya, karena selain dia sudah terlalu tua (dan terlalu cowok) untuk itu, film-film Disney juga terbukti memberi rangsangan buruk pada otak kreatifnya. Kalau menyadur film anak kembar yang bertukar kehidupan sudah serepot ini, Alec tidak mau suatu hari nanti ia dapat ide meniru Hannah Montana.

* * *

Pukul delapan kurang seperempat, berkat pembalap kelas wahid bernama John, mobil sewaan keluarga Winchester tiba di depan rumah keluarga Anderson. Bahkan Sam yang sedari tadi tidak ngeh dengan dunia luar pun ternganga melihat rumah kayu besar di hadapan mereka. Alec melompat turun dari mobil sebelum kendaraan itu benar-benar berhenti, diiringi pekikan khawatir ibunya.

Cowok itu berlari melintasi lapangan rumput dan memencet bel sementara ayahnya sibuk berputar-putar di sekitar kompleks mencari lahan parkir yang tepat (Mary termasuk orang yang beranggapan bahwa parkir sembarangan di pinggir jalan adalah tindak kriminal, dan John, sebagai suami yang baik, harus menuruti perkataan istrinya). Terdengar teriakan “buka pintunya!” dan “tidak, kau yang buka!” dan “aku lagi sibuk!” dari dalam rumah, sangat mengingatkan Alec pada situasi di rumahnya sendiri tiap kali bel berdering dan jadi agak malu menyadari betapa tidak sopannya itu terdengar. Dia juga bertanya-tanya siapa gerangan yang berteriak-teriak begitu di rumah Ben, karena terkahir kali ia mengecek, rumah itu hanya dihuni Ben dan Caesar (atau Alec dan Caesar, lebih tepatnya) dan saudara kembarnya jelas bukan orang yang ribut hanya karena masalah pintu.

Seakan menjawab pertanyaan Alec pintu terbuka. Mata cowok itu membelalak oleh sosok yang berdiri di hadapannya. Seorang wanita akhir duapuluhan – jika dilihat dari lekuk tubuhnya tapi, sebab wajahnya nyaris tertutup make-up ala penonton Piala Dunia – dengan potongan rambut yang sedang tren menurut majalah infotaintment langganan Mom dan baju yang sepertinya dua ukuran kekecilan sehingga menampilkan separo pusar (yang ditindik dengan anting warna pink – bukannya Alec memperhatikan). Alec melongo membaca tulisan hitam besar di bagian dada kaos itu.

“Benny! Kenapa balik lagi, bebe? Ada yang ketinggalan?” lengking Mrs Anderson.

“Uh… Eng, anu….” Alec terbata-bata. Terang saja Ben susah deg-degan kalau dekat-dekat cewek, biasa melihat ibunya bersandang begini!

Dari belakang, Alec mendengar John, Mary, dan Sam memasuki gerbang rumah – Dean kemungkinan besar ditinggalkan untuk mengurusi parkir karena John sudah menyerah, seperti biasa. Mary menarik nafas kaget dan berbisik keras, “Demi Tuhan!” yang pasti ditujukan pada sang tuan rumah.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Mrs Anderson sambil merangkul Alec ke sampingnya agar bisa melihat para ‘orang asing’ lebih jelas. Dia tentu menyadari pandangan mencela Mary terhadapnya – hanya orang buta yang tidak – tapi sama sekali tak peduli. Mungkin kerja sebagai artis Hollywood membuatnya bebal terhadap kritik kolot.

“Kami mencari Ben Anderson,” jawab Mary ketus, sementara dua pria di kanan-kirinya agaknya sama seperti Alec, kehilangan kata-kata.

“Oh. Kau kenal mereka, bebe?” tanya Mrs Anderson pada Alec, mengangkat alis.

“Um. Sebenarnya,” kata Alec sambil bergeliut melepaskan diri dari rangkulan sang mirip-Madonna itu. “Saya bukan Ben Anderson.”

“Oh, yeah. Aku lupa. Kau Ben, Sang Dewa Baseball!” pekik wanita itu bangga dan memeluk Alec. Cowok itu melirik keluarganya memohon bantuan.

Mendengar ribut-ribut di pintu depan, Mr Anderson memutuskan untuk ikut menemui siapapun yang menghambat persiapan dia dan istrinya pergi ke pertandingan. Sayangnya, pria itu lupa melepas topi bergambar maskot sekolah Ben (serigala yang berdiri dengan dua kaki dan membawa tongkat baseball), dan tidak seperti istrinya, rupanya dia masih sedikit punya malu. Pipinya memerah dan ia buru-buru menyembunyikan topi itu di saku belakang celananya.

“Hai. Ada tamu rupanya,” senyum Mr Anderson penuh kharisma, berbeda seratus delapan puluh derajat dengan dirinya dua detik sebelumnya. Pria itu menunduk menatap istrinya dan bertanya, “temanmu?”

“Bukan. Mereka mau bertemu Ben,” jawab sang istri, tersenyum. Ia lalu menyorongkan Alec ke keluarga Winchester seperti menyajikan hidangan penutup. Mary langsung ganti memeluk putranya dengan gestur memiliki, layaknya anak kecil mendapatkan kembali mainan kesayangannya yang direbut anak nakal.

John berdeham. “Kami benar-benar minta maaf datang pagi-pagi begini….”

“Tidak apa-apa, kami juga baru mau berangkat. Bagaimana kalau kita pergi sama-sama?” potong Mrs Anderson, “Benny, kau bareng kami saja ya. Kalau naik sepeda nanti kau telat. Nah, sekarang ambil barangmu yang ketinggalan dulu, sana.” Ia bergeser dari depan pintu untuk memberi jalan pada Alec.

“Saya bukan Ben,” ulang Alec, lebih tegas dari sebelumnya. Mr dan Mrs Anderson berpandangan, dan ketika mereka membuka mulut dengan senyum berseri-seri, Alec buru-buru melanjutkan, “Alec. Saya Alec Winchester.”

Senyum suami istri itu langsung menghilang.

“Alec?”

“Yeah,” desah cowok itu, “saudara kembar Ben. Ini orangtua saya, Mary dan John Winchester, dan kakak saya, Sam.” Ia mengedarkan tangan sambil lalu untuk menunjukkan keluarganya. “Saya perlu bertemu dengan….”

“Ya ampun, jadi kau yang namanya Alec?” potong Mrs Anderson penuh semangat, dan sebelum Alec menyadari apa yang terjadi, wanita itu sudah mencubit kedua pipinya dengan gemas. “Aku selalu penasaran seperti apa kembarannya Ben. Astaga, kalian mirip sekali! Bahkan freckles kalian juga sama banyaknya! Brian, coba lihat nih! Dia manis sekali, seperti Benny kita….”

Entah karena tidak tahan atau tidak terima, tiba-tiba Mary maju dan menepis tangan Mrs Anderson. “Alec harus bertemu dengan Ben. Segera,” katanya dingin.

Mrs Anderson menatapnya, sesaat Alec menduga bakal terjadi percekcokan besar antar ibu-ibu yang akan membuang-buang waktu, tapi ternyata Mrs Anderson hanya tersenyum lebar, sama sekali tidak tersinggung dengan sikap tamunya. Ia berkata pada Alec, “Benny sudah berangkat satu jam yang lalu, Sayang.”

“Satu jam lalu?!” seru Alec kaget, “ngapain dia datang secepat itu?”

“Lho, dia kan harus persiapan, Sayang,” tawa Mrs Anderson geli, dan Alec melihat dari sudut matanya Mary panas dingin mendengar Alec dipanggil ‘Sayang’ oleh seseorang yang, menurut kriteria Mary, tidak pantas jadi seorang ibu.

“Aku harus pergi,” kata Alec cepat, menatap kedua orangtuanya. “Aku harus menyusul Ben sebelum pertandingan!”

“Tapi….”

“Dad, aku pinjam mobilnya, ya! Kalian bareng sama ayah-ibunya Ben, ya!” seru Alec sambil berlari menjauh, menyambar lengan Sam yang tengah berdiri sambil mengangguk-anggukan kepala mengikuti irama musik, lagi-lagi tidak memperhatikan drama kehidupan yang terjadi di hadapannya.

“Eh, mau ke mana?!” tanya Sam kaget, nyaris tersandung kakinya sendiri. Di belakang, Mrs Anderson bertanya riang pada pasangan Winchester, ‘bagaimana kalian tahu Benny tinggal di sini?’

“Ke tempat Ben!”

“Lho, bukannya….?”

“Sudah, ikut saja deh!”

Tanpa memperhatikan panggilan Mary (John sedang menjelaskan versi sederhana dari petualangan si kembar), Alec terus berlari menggeret Sam mencari mobil mereka. Di tikungan mereka hampir saja menabrak Dean, yang berjalan bersiul-siul sambil memutar-mutar kunci mobil di antara jemarinya.

“Dean! Ayo balik ke mobil! Kita harus menyusul Ben!”

“Apa?! Tapi….”

“Ben sudah berangkat, ayo cepat kita susul!” Alec menarik kakak sulungnya dengan tangan yang masih bebas.

“Aku baru saja berhasil memarkir mobil itu!” protes Dean, belum siap merusak hasil kerja kerasnya memasukkan raksasa itu ke celah sempit di antara dua toko.

“Ya dikeluarin lagi,” jawab Alec tak sabar. Ia melompat masuk ke jok belakang, dan ketika kedua kakaknya hanya berdiri terpaku di luar, ia melongok dari jendela mobil dan membentak, “AYO CEPAT, JANGAN LAMBAN!”

Menggerutu, kedua cowok itu pun masuk mobil dan menuruti keinginan sang adik yang tak pernah bisa ditunda-tunda.

* * *

“Woah… stop, stop, stop, DEAN, STOP DI SINI!” Alec berteriak ke nyaring persis ke kuping kakaknya.

“Iya, iya. Enggak usah gonor gitu kenapa sih? Kupingku sakit nih!” Dean menggerundel dan meminggirkan mobilnya ke bahu jalan. “Apa lagi sekarang? Jangan bilang kau kebelet.”

“Itu rumah Rachel!” tunjuk Alec ke rumah ala vila di atas bukit.

“Terus?”

“Aku harus ketemu dia,” kata Alec lebih pada dirinya sendiri ketimbang pada Dean. Dia membuka pintu mobil dan melompat turun, berlari menaiki bukit.

“Katanya mau nyusul Ben! Oi!” panggil Dean kesal.

“Sebentar saja, kok!” balas Alec dari jalan menanjak yang telah seperempat ia daki. Cowok itu melihat jam tangan dan mengacungkan lima jari pada kakaknya untuk mengisyaratkan waktu yang ia butuhkan.

Dean mendengus dan menyandarkan diri ke jok. Habis pulang dari sini, dia harus memberitahu Mom untuk tidak terlalu memanjakan Alec, biar anak itu tidak bertingkah seenak udel. Dan agar Mom menyuruh Sam mengurangi penggunaan headsetnya, dengan alasan itu bisa merusak pendengaran, walau alasan sebenarnya adalah karena headset itu bocor dan sayup-sayup Dean bisa mendengar lagu patah hati yang diputar adiknya. Memperparah suasana saja.

Lima menit kemudian Alec kembali dengan peluh bercucuran dari pelipis dan nafas tersengal-sengal. Ia mengetuk jendela pintu Sam, mengejutkan sang kakak. Sam menurunkan kaca dan bertanya, “sudah selesai?”

“Belum! Aku butuh bantuanmu,” kata Alec, membuka pintu mobil dan, untuk kedua kalinya, menyeret keluar abangnya.

“Adududuh! Apaan sih, dari tadi narik-narik melulu!” marah Sam, menarik lengan dari cengkeraman adiknya.

“Pintu gerbangnya digembok! Kau harus membantuku!” rengek Alec.

“Aku enggak bisa buka gembok pakai kawat! Enggak punya kawatnya, lagi.”

“Siapa bilang kau harus buka pakai kawat? Sudah, ayo ikut saja!” Alec menggeret Sam kembali ke rumah Rachel. Ia menoleh sejenak untuk melambai pada Dean yang mengangkat alis dengan ekspresi habis sabar, berteriak, “sebentar ya, Dean!” lalu mendaki bukit dengan kecepatan mengagumkan, mengingat ia jarang olahraga.

Dean mengomel sendirian. Dasar anak manja!

* * *

Meski banyak yang meledeknya dengan sebutan ‘jerapah’ dan ‘Sasquatch’, Sam selalu bangga akan postur tubuhnya. Badan jangkung memberi banyak keuntungan – dia hampir selalu menang dalam perebutan barang dengan Dean dan Alec, menjauhkan benda-benda itu dari jangkauan mereka semudah mengikat tali sepatu.

Tapi kali ini, ia benar-benar menyesali kelebihannya itu.

“Lebih tinggi lagi dong, Sam!” perintah Alec yang berdiri di pundak Sam dengan semena-mena sambil menunduk menatap kakaknya. “Kau kupanggil Sasquatch bukan tanpa alasan!”

“Ini juga sudah jinjit!” omel Sam, merasa terhina. Ia berpegangan pada besi-besi pagar supaya kakinya yang gemetaran bisa menopang berat mereka berdua. Kalau Alec tidak cepat-cepat memanjat pagar, dia bakal menderita kram. “Dan jangan bicara padaku terus – air liurmu netes, tahu!” Sam mengernyit jijik pada cairan memanjang yang mengalir dari bibir adiknya ke tanah, hanya beberapa senti dari wajahnya. Dia tidak percaya dia mau saja disuruh Alec menjadi batu loncatan – ini namanya eksploitasi terhadap tinggi badannya!

Alec mendengus tapi tidak membalas, kembali memfokuskan diri pada tugasnya: memanjat masuk pagar rumah keluarga Berrisford. Mereka pastilah paranoid sekali sampai-sampai memasang pagar dua kali tinggi Sam, atau ayah Rachel sengaja membangunnya setinggi itu sebagai rintangan bagi cowok-cowok nekat seperti Alec yang ingin mendekati putri-putrinya. Alec bersyukur mengetahui keluarga Berrisford tidak punya anjing ganas yang menantinya di balik pagar segala.

Dengan gerungan tertahan, Alec mengangkat tubuhnya ke atas. Namun dia segera kehilangan keseimbangan begitu menggantung di pagar, tangannya yang berkeringat terpeleset dan ia bergelantungan macam bayi orangutan, Sam berada tiga puluh senti di bawah jangkauan kakinya.

“Eh… eh… Sam! Tolong!” serunya panik.

“Turun saja! Turun!” jawab Sam, sama sekali tidak membantu. Tentu saja Alec mau turun, yang jadi masalah adalah bagaimana caranya.

“Ya memang mau turun! Kau jinjit dong biar aku ada pijakan!”

“Ini aku sudah jinjit! Sudah, kau lepas saja peganganmu!”

“Apa?! Enggak mau!” Alec menunduk ketakutan. Pada saat ini, dua meter lebih sedikit rasanya tinggi sekali.

“Bakal langsung kupengangi, kok! Percaya deh!”

“Yakin, nih?”

“Iya, yakin!” Sam memajukan dua tangan dalam posisi siap menerima tubuh Alec.

“Uh, oke deh. Siap, ya? Satu, dua, tiga! Aaah!” Alec menjatuhkan diri.

“Aaaaaaah!”

Sam, di luar dugaan, tidak mampu menahan berat tubuh Alec yang tiba-tiba jatuh ke pelukannya. Mereka berdua jatuh berguling-guling di tanah, menghindar tepat waktu ketika mereka menyenggol penyangga pot berbentuk pilar kecil, menjatuhkan pot palem di atasnya.

* * *

“Kau yakin enggak mau nonton pertandingan?”

Jess bertanya dari tempatnya berdiri di depan konter, sibuk menata irisan persik di atas painya. Rachel cuma menggumam tak jelas dari sofa di mana ia tidur-tiduran sambil membolak-balik majalah, berusaha tidak mempedulikan jam ding-dong antik di pojok ruangan, bandulnya berdetak keras menuju waktu pertandingan. Ia juga tidak mau mengakui kecemasan yang berseliweran di lubuk hatinya jika membayangkan Ben harus turun ke lapangan seorang diri, dengan geng Mario melemparkan cercaan – atau bahkan kaleng minuman – ke arahnya, dan cowok itu tidak punya siapapun untuk membela. Yah, salah sendiri dia memperlakukan Rachel dengan tidak tahu diri!

“Sampai kapan sih, kau mau terus nyuekin Ben? Kasihan dia, kan.”

Rachel membanting majalahnya ke lantai dan bangkit menatap kakak perempuanya. “Salah dia sendiri!” tukas cewek itu senewen. Dia agak tidak suka karena, tidak seperti anggota keluarga lain – terutama ayahnya – yang ikut-ikutan murka pada Ben tiap kali Rachel membicarakan ‘kecelakaan itu’ (dia akhirnya curhat pada keluarganya pagi hari setelah insiden, dan sukses mengacaukan suasana sarapan mereka), Jess tampaknya memiliki pandangan lain dan cenderung berada di pihak Ben. Rachel tambah tidak suka, karena alasan dia tidak menyukai pembelaan Jess adalah karena dia lega ada orang yang tidak melihat itu sebagai sesuatu yang buruk. Segalanya akan jauh lebih mudah jika seluruh keluarganya membenci Ben, sehingga Rachel tinggal mengikuti arus dan melupakan perasaannya sendiri.

“Kurasa dia sudah menyadari kesalahannya, Race. Kau tahu berapa banyak pesan minta maaf yang dia kirim ke telepon kita?”

“Cukup untuk membuat Dad tambah naik darah.”

“Yeah, dan dia tetap mengambil resiko itu demi mempertahankan persahabatannya denganmu. Oh, apa kau tahu dia bahkan nekat datang ke sini kemarin?”

Rachel menggeleng. “Apa Dad menghajarnya?” dia berusaha terdengar berharap, walau dalam hati mengaitkan jari tengah dan telunjuk, berharap sebaliknya.

“Enggak. Tapi dia menerima cukup ceramah untuk sepuluh tahun ke depan. Dan umm….” Jess memain-mainkan sendok buahnya, mencari cara yang tepat untuk menceritakan peristiwa yang disaksikannya beberapa hari lalu. “….Umm… Dad menodongkan… uh, pistol antiknya yang sudah dikokang dan bilang kalau sampai Ben menyentuhmu lagi, dia akan….” Jess merinding. “Kurasa Dad bikin Ben kapok nembak cewek.”

“Dad melakukan itu?” tanya Rachel ternganga. Terakhir kali Dad menunjukkan ‘ancaman pistol’nya yang terkenal adalah saat pasangan prom Jess datang menjemputnya. Dan saat itu, cowok yang berpotongan gahar itu sampai mengkeret saking takutnya. Tidak terbayang bagaimana Ben menghadapi ancaman yang sama. Untung dia tidak pingsan.

“Kau masih enggak mau memaafkan Ben setelah dia berusaha habis-habisan begitu?”

Rachel terdiam. Dia tidak bisa bilang pada Jess bahwa poin terpenting dalam kasus ini bukanlah memaafkan Ben, melainkan bagaimana Rachel menghadapi sahabatnya itu, karena dia tidak bisa bersikap seperti dulu lagi seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka. Cewek itu jelas punya perasaan terpendam terhadap Ben (dia belum siap menyebutnya ‘naksir’, tapi) dan tentu akan memalukan kalau dia terlihat seperti cewek kesengsem sedang Ben biasa-biasa saja – siapa yang tahu kalau ciuman yang ia berikan itu tidak berarti apa-apa baginya?

Melihat adiknya tenggelam dalam ‘momen kebimbangan’-nya, Jess menghela nafas dan melanjutkan tugasnya. Dia menuangkan jeli pelapis di atas adonan sebelum memasukkannya ke oven. Pai itu akan segera matang tepat sebelum Mom, Dad, dan Sarah pulang dari wisata pagi mereka naik balon udara di kota sebelah.

Jess tengah mengelap meja dari sisa-sisa tepung ketika terdengar teriakan keras di luar, disusul bunyi pot pecah dan erangan kesakitan. Cewek itu berputar menatap adiknya yang mematung dengan mata bulat saking kagetnya.

Mereka saling bertanya bersamaan, “siapa itu?!”

* * *

“Aduuh….” Erang Alec kesakitan, “katanya mau megangin! Gimana sih?!”

“Sudah, kau saja yang keberatan!” salak Sam, bangkit berdiri sambil menggosok-gosok pantat dan punggungnya yang nyeri. Sikunya luka lumayan dalam gara-gara tergores penyangga pot.

Keduanya menoleh oleh suara gembok diputar, disusul pintu gerbang yang mengayun terbuka. Rachel dan Jess menyeruak keluar, masing-masing membawa penggiling adonan kue dan pememar daging dalam posisi siap siaga. Ekspresi mereka berubah dari takut-campur-waspada ke kaget begitu melihat Sam dan Alec.

“Ben?! Sedang apa kau di sini? Nanti kau telat!” tanya Rachel agak panik.

“Uh, hai Rachel,” sapa Alec, seterhormat yang bisa dilakukannya dalam keadaan habis jatuh dari pagar. “Um, ada yang mau kubicarakan denganmu,” tambahnya tanpa basa-basi, terburu-buru dikejar waktu.

“Kau mau minta maaf dulu biar tenang di pertandingan? Manis sekali,” puji Jess.

“Oh, benarkah begitu?” tanya Rachel sinis, bersidekap dengan sikap defensif. Sementara itu, perhatian Jess teralih pada Sam yang masih meringis sambil memegangi luka sikunya.

“Yeah, pertama, aku memang mau minta maaf,” jawab Alec, menggosok belakang lehernya dengan salah tingkah. “Tapi bukan sebagai Ben, melainkan sebagai Alec.”

“Maaf?” Rachel mengangkat alis. Jess yang tengah memeriksa luka Sam mendongak sejenak menatap mereka, tapi lalu kembali mencermati luka itu.

“Begini, aku ini Alec. Ceritanya panjang, tapi intinya, yang uh, pergi ke Taman Bermain bersamamu kemarin itu bukan Ben. Itu aku. Yang ribut dengan Mario dan ikut seleksi juga aku. Sebenarnya, yang kau anggap Ben sejak pulang dari New York itu aku. Singkat kata, kami umm… bertukar tempat selama tiga hari kemarin.”

Rachel hanya menatapnya dalam diam selama beberapa detik. Sam masih ber-aww-aww karena lukanya dipegang-pegang Jess, dan Jess masih sibuk mengecek luka itu sambil membersihkan tanah yang menempel di sekitarnya.

“Kau bercanda,” kata Rachel akhirnya.

Alec tertawa pasrah. “Kuharap juga begitu,” katanya nelangsa, “tapi tidak. Aku Alec Winchester.”

“Siapa Alec Winchester?” timbrung Jess, menatap adiknya dan cowok yang dia pikir adalah Ben bergantian dengan bingung.

“Kembaran Ben,” jawab Sam, Rachel, dan Alec bersamaan.

“Kau benar-benar Alec? Yang bertemu denganku di Juilliard?”

“Di toilet pria, yeah. Alec yang itu.”

“Di toilet pria? Kau masuk toilet pria, Race? Kau enggak cerita!”

“Nanti, Jess. Kau menggantikan Ben selama tiga hari?”

“Uh, begitulah….” Alec bergerak-gerak tidak nyaman di bawah tatapan memicing dan pertanyaan Rachel yang, entah kenapa, terdengar menakutkan.

“Dan kau menciumku, membuat Ben yang enggak bisa baseball ikut pertandingan, lalu pergi begitu saja?”

“Sebenarnya rencana awal kami tukeran selama seminggu, tapi Ben….”

Sebelum Alec menyelesaikan kalimatnya, Rachel melangkah maju…. Dan menamparnya. Sam dan Jess mengerjap kaget.

“Hei, untuk apa itu?” protes Alec, menggosok-gosok pipinya yang panas.

“Untuk apa itu? Untuk apa itu? Kau menciumku dan membuatku tidak bisa tidur empat hari karena kukira aku naksir sahabatku, dan aku enggak mau datang ke pertandingan untuk mendukungnya karena aku bingung harus bersikap bagaimana, dan kau masih bertanya untuk apa itu?!” Rachel meledak.

Alec harus diam beberapa detik agar rentetan kata-kata itu mengendap di otaknya. Kemudian, dari semua jawaban, yang terceplos dari mulutnya adalah, “berarti kau naksir aku juga?”

Mendengar ini, bukan Rachel saja yang wajahnya berubah merah seperti kepiting rebus, tapi Alec juga. Bahkan kuping Jess jadi agak merah jambu, dia dan Sam saling bertukar pandang dan nyengir penuh arti. Melihat adik-adikmu saling memberi sekaligus menerima pernyataan cinta – walau tidak secara langsung – selalu memberi kesan tersendiri.

“Aku…. Apa…. Tentu saja tidak!” sembur Rachel, mengerahkan seluruh kemampuan untuk menutupi rasa malunya. Ia mengerling galak pada Jess yang menutupi mulut menahan tawa, lalu kembali ke Alec yang tampak masih syok dengan perkataannya sendiri. “Mana mungkin aku naksir orang yang sudah bikin Ben kena masalah – kau membuatnya jadi musuh Geng Mario! Dan ya ampun, harusnya aku curiga waktu dia jadi lebih bawel dari biasanya….”

“Hei, aku enggak bawel!”

“…. Dan waktu melihatnya tiba-tiba bisa mukul bola dan sekarang dia harus main di tim inti padahal sebenernya enggak mampu! Dan aku enggak di sana untuk membelanya kalau terjadi apa-apa!” Rachel menyelesaikan monolognya tanpa mengindahkan Alec, matanya melebar sebesar bola golf membayangkan apa yang akan terjadi pada sahabatnya. Untung tidak ada yang salah pukul.

Cewek itu menggeleng-gelengkan kepala seakan berusaha menyingkirkan kabut imajiner yang memenuhi otaknya, mencegahnya berpikir jernih. “Aku mau nyusul Ben,” katanya kemudian, sambil menarik nafas dalam-dalam menenangkan diri. “JESS, AKU MAU NYUSUL BEN!” serunya pada sang kakak, seolah dengan menegaskan begitu ia bisa langsung berteleport ke lapangan pertandingan.

“Eh, ya silahkan,” tanggap Jess blo’on. Ia masih memegangi tangan Sam erat-erat seperti petani memegang singkong kebanggannya, tapi tampaknya tidak menyadari hal itu.

Rachel sudah mau mengambil sepedanya dari garasi, tapi Alec menarik tangannya.

“APA?!” bentak cewek itu, mengibaskan tangan melepaskan diri.

“Kami bawa mobil,” kata Alec takut-takut. Ternyata cewek seram juga kalau lagi marah. “Ikut kami saja. Lebih cepat naik mobil.”

Sambil menggumamkan sesuatu yang kedengarannya sangat mirip ‘enggak bilang dari tadi’, Rachel melengos melewati Alec untuk turun ke jalan besar di bawah rumah mereka. Alec cuma memutar bola mata dan mengedikkan kepala pada Sam, mengajaknya mengikuti Rachel. “Ayo, Sam. Sudah dulu, ya, Jess.”

“Eh, tunggu dulu. Kau enggak boleh pergi,” cegah Jess, menolak melepaskan tangan Sam.

“Tapi pertandingannya sebentar lagi mulai!”

“Dan kau punya luka yang belum berhenti berdarah.” Jess menunjuk luka Sam yang sempat terlupakan oleh cowok itu, dan mulai menyengat lagi begitu ia melihatnya.

“Aku enggak apa-apa.”

“Sekarang kau bisa bilang begitu. Gimana kalau nanti infeksi?”

“Enggak mungkin.”

“Jangan meremehkan luka gores. Ini cukup dalam dan tadi kemasukan tanah. Kita harus mencucinya pakai antiseptik, atau kotorannya bisa masuk aliran darah dan kau berakhir di Rumah Sakit. Dan tanganmu bisa diamputasi. Kau enggak bakal bilang enggak apa-apa lagi kalau sudah begitu.”

Sam menelan ludah. Peringatan Jess terdengar irasional, jenis peringatan yang akan dikeluarkan Mom tiap kali ia ingin melakukan sesuatu yang ‘berbahaya’, seperti hiking misalnya. Namun setidak masuk akal apapun, biasanya Sam tetap percaya karena dia jenis yang menganut paham ‘lebih baik mencegah dariapada mengobati’ dan bukannya ‘diobati yang penting happy’ layaknya kedua saudaranya. Dan kali ini pun ia tidak mau meresikokan kehilangan tangan – tangan kanan pula – demi sebuah urusan yang sebenarnya tidak ada sangkut paut dengan dirinya.

“Iya deh,” kata Sam, menghela nafas. Di sampingnya Jes tersenyum puas. “Kau duluan saja. Nanti aku nyusul.”

Alec mengangkat bahu. “Ya sudah. Terserah.” Ia pun berlari menuruni jalan aspal kecil ke bawah, menyusul Rachel yang sudah masuk mobil.

* * *

Dean menoleh begitu mendengar pintu belakang dibuka, siap mengeluh soal bagaimana ia harus menunggu lebih dari waktu yang dijanjikan Alec (cuma lebih delapan menit sepuluh detik, tapi tetap saja) namun keluhannya langsung bertransformasi jadi pertanyaan begitu melihat siapa yang kini duduk di jok belakang.

“Lama se…. Siapa kau?”

Cewek berambut coklat tua yang mengombak begitu hebat sampai nyaris seperti surai singa itu menatapnya dengan tatapan garang. “Rachel,” geramnya macam predator menakuti mangsa. Jangan-jangan dia memang siluman singa.

Menyadari suasana hati cewek asing itu sedang jelek – dan Dean punya cukup pengalaman untuk tidak mencari masalah dengan cewek dalam tantrum – cowok itupun kembali menghadap depan sambil menunggu dua adiknya.

Tak lama kemudian Alec melompat masuk ke kursi penumpang depan, dan Dean tidak merasa perlu bertanya kenapa kemeja adiknya kotor penuh tanah. Bukan Alec namanya kalau berhasil melakukan sesuatu seperti ‘melewati pagar terkunci’ dengan bersih.

“Lama banget sih?” gerutu Dean sambil men-starter mobil. “Mom sudah telepon, dia kira kita nyemplung jurang atau apa.”

Alec memutar bola mata. “Kami ngomong-ngomong sedikit dulu. Tahulah,” ujarnya sambil mengibaskan tangan macam mengusir nyamuk yang mengganggu. Ia melirik Rachel lewat spion. “Sudah kenalan sama Rachel?”

“Sudah,” jawab Dean singkat. “Mana Sam?” tambahnya begitu sadar adik satunya tidak muncul-muncul juga.

“Kakaknya Rachel lagi mengobati sikunya biar enggak perlu diamputasi,” jawab Alec sambil lalu. Melihat ekspresi kakaknya ia buru-buru melanjutkan, “enggak seserius itu, kok. Biasalah, dia kan rada-rada mitokondria (“hypochondria,” ralat Dean). Nanti juga nyusul. Sudah, ayo cepat jalan, kita bisa telat nih!”

“Aku merasa kayak supir,” gumam Dean dongkol, tapi toh sekali lagi menuruti perintah adiknya.

TBC

0 komentar :

Posting Komentar