Rabu, 07 Juli 2010

MIRROR IMAGE CHAPTER 5

Ben tidak menyangka dia bakal kena karma.


Pagi tadi ia bercanda dengan Alec, memperingatkannya biar jangan nyasar. Dan sekarang di sinilah dia, berdiri di depan bandara dengan dua koper, tak tahu harus ke mana. Tidak seperti Ben yang menjelaskan secara rinci apa-apa yang harus dilakukan saudaranya agar tiba di rumah dengan selamat, Alec cuma bilang habis naik pesawat dia tinggal naik taksi. Masalahnya, Ben tidak menemukan taksi sejauh mata memandang, dan yeah, misalpun ketemu, dia beruntung kalau si sopir taksi bisa membaca tulisan ceker ayam kembarannya yang dibuatnya subuh tadi, sambil separo bermimpi. Kenapa sih Alec tidak bilang saja alamatnya, bukan menuliskannya? Oh yeah, Ben sendiri yang minta, biar tidak lupa. Dan Alec tak bisa dihubungi, paling-paling lagi tidur menebus bangun cepatnya tadi pagi. Sial. Seribu kali sial.

Cowok itu celingukan beberapa kali, siapa tahu ada orang yang juga sedang mencari taksi dan dia bisa ngikut, tapi nihil. Semua orang agaknya punya penjemput yang sudah menunggu, bahkan ada yang bawa-bawa papan nama segala.

Mendesah panjang, Ben mengambil ponsel dan mencari nama-nama di kontak Alec. Dia tidak suka merepotkan orang, tapi kalau tidak minta dijemput, bisa-bisa dia mengering di bandara. Lagipula, sekarang kan dia berperan sebagai Alec, yang pekerjaan utamanya bikin repot orang, dan dia harus menghayati peran, kan?

Cukup lama ia mencari-cari nomor yang diinginkan (serius, Alec harus menata kontak dan mengganti nama-namanya dengan nama asli, bukan julukan macam Sasquatch, Batman, TINTINA, dan… ya ampun, cewek macam apa yang sampai dijuluki Lady Gaga?!) sebelum akhirnya menemukan nomor yang kelihatannya adalah nomor rumah – dinamai Nest. Ia memanggil dan mendengarkan nada tunggu pribadi, Fur Elise kalau tak salah, sebelum telepon diangkat.

“Keluarga Winchester,” jawab suara wanita ramah, jenis suara yang kau dengar saat menelepon layanan servis konsumen.

Ben menelan ludah. “Uh…. Mom?”

* * *

Dean Winchester menyambung kabel-kabel dalam kepala robot buatannya dengan keseriusan tingkat tinggi. Wajahnya hanya berjarak beberapa inchi saja dari objek penemuannya itu, agar bisa melihat dan mengecek semua komponen dengan teliti. Inilah bagian terpenting. Salah sedikit saja, DLP-19 tidak akan bisa memproduksi suara lumba-lumba yang mampu merangsang otak penderita autisme, dan gagallah sudah mahakarya Dean….

“Dean!” Jerit Mary sambil membuka pintu keras-keras, menjatuhkan kotak perkakas di belakangnya. Dean terlompat kaget, tangannya secara otomatis menyambungkan kabel yang salah, menimbulkan percikan api kecil. Artinya, dia harus memereteli kabel yang terbakar itu dan menggantinya dengan yang baru.

“Oh, brengsek!” umpat Dean, lalu menoleh ke ibunya. “Mom! Berapa kali harus kubilang, jangan masuk ke kamarku sebelum tanda ‘DILARANG MASUK’nya kulepas? Dan jangan membuka pintu keras-keras!”

Mary tidak menghiraukan protes anak sulungnya, bahkan tidak menegur umpatannya. Ia berdiri gemetar di depan pintu, kedua tangan mencengkeram telepon erat-erat, mata membulat ketakutan. “Dean, antar Mom menjemput Alec. Sekarang!”

“Apa? Ada apa?” Dean mulai cemas. Mom panik sampai tidak menggubris umpatannya? Pertanda buruk.

“Alec kecelakaan!”

“APA?!”

“Di… dia tertabrak mobil di bandara. Oh, Alec….” Rintih Mary.

Melupakan robotnya, secepat kilat Dean menyambar kunci mobil dari meja di samping tempat tidur. Ia membimbing Mary yang terguncang ke Impala kesayangannya sambil mengucapkan kata-kata menenangkan, meski hati dan pikirannya sendiri jauh dari tenang. Tangannya gemetar hebat hingga harus mencoba lima kali sebelum kunci mobilnya masuk starter, dan tanpa pemanasan yang layak langsung membawa mobil kesayangannya itu ngebut.

Itu terjadi empat puluh lima menit yang lalu.

Sekarang, Dean menyetir balik ke rumah, bibir manyun lima senti, ngambek. Di jok belakang, Alec, bocah tengil yang bikin jantungnya empot-empotan itu, duduk tenang dan sehat walafiat, suci dari lecet maupun luka. Gila apa, Dean sudah mengorbankan DLP-19 dan mesin Impalanya demi menjemput anak itu, yang ternyata lagi duduk santai di bandara sambil minum jus, jauh dari jangkauan mobil yang berlalu lalang, apalagi sampai tertabrak. Bukannya Dean ingin adiknya celaka, tapi saat ini, dia benar-benar ingin memukul sesuatu saking mangkelnya.

“Kok, dia masih utuh, Mom? Katanya ketabrak mobil?” geramnya pada Mary yang tengah membaca majalah, kelihatannya sudah melupakan apa yang dikatakannya belum genap sejam lalu.

“Jangan mendoakan yang tidak-tidak pada adikmu, Dean.”

“Tadi Mom bilang sendiri….!”

“Yah, ternyata Mom salah. Bersyukur, dong,” katanya, lalu mengecek Alec. “Kau tidak apa-apa, kan Alec? Kalau capek tidur saja dulu.”

“Uh, enggak usah, makasih Mom,” jawab Alec, lebih manis dari biasanya.

“Kau tidak mual habis naik pesawat, kan?”

“Enggak Mom.”

“Yah, bagus kalau begitu, aku enggak mau kau muntah di mobilku! Seperti kau belum bikin dia menderita saja. Sayangku ini harusnya dipanasin dulu sebelum dipakai ngebut, mesinnya bisa rusak, tahu!” omel Dean.

“Dean, jangan bentak-bentak adikmu!” tegur Mary, “Alec kan tidak salah. Dia memang butuh dijemput, iya kan sayang? Kau terdengar ketakutan sekali di telepon, Mom sampai panik. Mom pikir ada apa-apa,” ia memberitahu anak bungsunya, tersenyum lembut. “Untung kamu tidak kenapa-napa.”

“Kayak anak kecil saja, tidak bisa pulang sendiri. Berapa kali sih, kau sudah mondar-mandir bandara-rumah? Kebangetan," gerundel Dean.

“Maaf,” kata Alec penuh rasa bersalah, dan Dean harus meliriknya dari kaca untuk memastikan dia tidak salah dengar. Alec minta maaf? Jangan-jangan sebentar lagi jalan raya ini terbelah dan dunia kiamat, persis 2012.

“Tuh, Alec sudah minta maaf. Jangan marah-marah lagi, dong,” senyum Mary, mengelus rambut Dean dengan sayang. Pemuda itu masih merepet tak jelas, tapi tidak berkomentar apa-apa lagi.


Sampai di rumah, Dean cepat-cepat keluar, berniat langsung membetulkan robotnya, tapi Mary memanggil sebelum ia menginjak tangga teras pertama.

“Dean! Bawakan kopernya Alec, dong!”

“Apa? Kenapa harus aku?”

“Alec kan baru saja pulang, pasti capek. Kasihan.”

“Di pesawat toh dia cuma duduk-duduk saja, mana mungkin capek!”

“Dean!”

“Tidak usah, Mom,” sela Alec, lagi-lagi dengan nada anak manis yang aneh. “Aku bisa bawa sendiri, kok.” Dia mengambil kedua kopernya dari bagasi dan menjinjingnya tanpa mengeluh keberatan.

“Tapi….”

“Tidak apa-apa, Mom. Sungguh.”

Mary mengangkat alis heran, tapi kemudian mengangguk. “Ya sudah kalau begitu,” katanya lalu masuk rumah.

Saat melewati Dean yang masih berdiri bengong di depan teras, Alec tersenyum kecil dan berkata, “maaf ya sudah merepotkan. Lain kali aku enggak akan minta jemput lagi, kok.” Ia diam sejenak menunggu respon dari kakaknya, yang tampaknya tidak akan datang. Dean hanya memandanginya aneh. Alec jadi salah tingkah. “Uh, dan terimakasih sudah menjemputku.” Dan buru-buru masuk rumah mengikuti ibunya.

Dean berdiri diam di posisinya selama beberapa saat, terperangah. Alec, si manja yang tidak ingin dianggap anak kecil itu, dan tidak mau disebut ‘manja’; tiba-tiba minta dijemput di bandara, minta maaf ke Dean dua kali, menyia-nyiakan kesempatan memperbudaknya, dan bilang terimakasih. Ditambah lagi, cara ngomongnya jadi manis begitu. Jangan-jangan dia memang dapat kecelakaan lagi, waktu di pesawat kejatuhan koper atau apa. Sambil terus bertanya-tanya, Dean pun masuk menyusul keluarganya.

* * *

Hal pertama yang dilihat Ben begitu masuk kediaman Winchester adalah kepala singa. Kepala singa dengan ukuran asli, mulut terbuka memamerkan taring-taring tajam, dan dipajang di atas tembok depan pintu masuk. Selama sekian detik ia mengira bakal terkena serangan jantung. Darimana John Winchester – Ben yakin sekali pria itu yang membelinya – mendapatkan benda sangar macam itu?

Hal kedua yang menarik perhatian, tentu saja deretan piala dan medali yang terpampang gagah di meja hias, tembok, dan lemari. Sebagian diukiri nama even-even musik ternama; sebagian menggunakan istilah macam ‘Karya Ilmiah’ atau ‘Inovasi’ atau ‘Robot’; dan sebagian lagi mengandung kosakata berat bidang politik. Ada pula beberapa foto kebanggaan, di antaranya Sam bersama – apa Ben tidak salah lihat? – Menteri Hukum dan Keamanan. Keluarga Winchester pastilah sarangnya orang-orang cerdas.

“Kau yakin tidak mau kubawakan kopernya?” tanya seseorang tiba-tiba, membuat Ben terkejut untuk kedua kalinya. Dean menatapnya dengan satu alis terangkat.

“Uh, tidak. Aku bisa bawa sendiri. Enteng, kok,” ceplos Ben tanpa bisa benar-benar mengendalikan lidahnya. Ia memaksakan senyum yang malah membuat ujung bibirnya berkedut. Semoga Dean tidak sadar.

“Oookeee kalau itu maumu,” ujar Dean, mengangkat bahu. “Kau masih ingat kamarmu, kan?”

“Ya, kamar paling ujung di lantai dua, kan?” jawab Ben otomatis, terlambat menyadari bahwa pertanyaan Dean itu dimaksudkan untuk bercanda, dan harusnya ia memberi jawaban ala-Alec, bukan jawaban denotasi.

Roman muka Dean makin curiga. “Alec, kau benar enggak mabuk di pesawat?”

“Enggak! Aku… aku mabuk gara-gara naik mobilmu!” Ben melontarkan komentar paling jitu yang bisa ia pikirkan, dan buru-buru kabur ke lantai dua ditingkahi protes Dean.

Ada empat kamar tidur di lantai dua, Ben mengingat-ingat sambil tersaruk-saruk menggeret dua kopernya yang berat. Kamar pertama untuk tamu, pintunya hampir selalu tertutup. Kamar kedua punya Dean, ada rambu-rambu bertuliskan ‘DILARANG MASUK’ mendominasi pintunya dan stiker band rock bertebaran di sekitarnya. Kamar ketiga dihuni Sam, yang dari suara-suara dari dalamnya, agaknya sedang bertelepon mesra dengan sang pacar. Ben lewat dan melongok (lebih tepatnya menoleh dan langsung melihat Sam, karena pintunya dibuka selebar mulut gua), tapi si kakak kedua itu tetap saja marah.

“Jangan ganggu privasi orang!” bentaknya, membanting pintu keras-keras di depan hidung Ben.

Tiba di kamar kembarannya, Ben mengunci pintu dan menghempaskan diri ke kasur dengan desah lega. Payah, baru satu jam dia pura-pura jadi Alec dan Dean langsung sadar ada yang tidak beres. Apa kemampuan aktingnya memang separah itu, atau sikap saudaranya yang di luar batas wajar?

Ben berguling dan bertemu pandang dengan wajah nyengir Alec dalam bingkai foto di atas meja.

“Aku bakal berusaha sebaik mungkin jadi kau, Alec,” desahnya putus asa, “kuharap kau punya nalar yang sama.”

* * *

Makan malam adalah saat di mana Ben menyadari, keluarga Winchester adalah versi cowok keluarga Berrisford. Sama ributnya, sama jumlah anggotanya, bahkan makanannya pun sama enaknya. Mary pastilah memutuskan kepulangan si bungsu perlu dirayakan, ia memasak hidangan untuk menjamu satu tim sepakbola (ada kue tart bertuliskan Selamat Datang, Mahasiswa Juilliard pula) dan praktis meletakkan separuh hidangan itu ke piring Ben.

“Makan yang banyak, Alec. Apa mereka tidak memberimu cukup makan? Kau kayaknya kurusan,” ujar Mary penuh perhatian sambil menimbun piring Ben dengan sayur dan makarel.

“Curang! Makarel itu harusnya buatku!” tunjuk Dean dari seberang meja. Ia melirik jatah makarel Sam yang masih ada dua potong dan mencomotnya.

“Hei!”

“Telat. Sudah ketelan,” kata Dean dengan mulut penuh.

Sam membalas dengan melahap sosis kakaknya. Dean merebut kentang goreng Sam dan mengunyahnya bersama makarel. Sam melotot dan mengulurkan garpu ke piring kakaknya, siap mencuri apapun yang bisa diraih, tapi Dean keburu menjauhkan piringnya.

“Apa kita masih punya acar mentimun, Sayang?” sela John di antara kompetisi ambil-makanan-lawanmu yang cepat memanas di antara Sam dan Dean.

“Ada, di kulkas,” jawab Mary tanpa menoleh, masih sibuk mengambil-ambilkan Ben makanan. “Dean, ambilkan acar buat Dad.”

“Sori Mom, aku masih harus mempertahankan quiche ini!”

“Sam…”

“Sama, Dean lagi ngincer selada tumisku!”

“Ambil sendiri, Johny.”

“Ayolah, posisiku sudah nyaman nih. Selera makanku bisa hilang kalau harus pergi ngambil acar.”

“Biar kuambilkan,” Ben menawarkan diri, melompat dari kursi. Ia siap melakukan apa saja untuk menghindari Mary. Bukannya tidak senang dicurahi perhatian seorang ibu yang jarang didapatkannya, tapi wanita itu menatap wajahnya terus, membuat Ben grogi. Jangan sampai Mary tahu dia tidak punya bekas luka di dahi.

Ketika kembali dari dapur dengan menenteng setoples acar mentimun, Ben mendapati ruang makan berubah sunyi, semua orang menatapnya. Bahkan persaingan Dean dan Sam pun berhenti di tengah jalan, seperti film yang di-pause. Cowok itu tersenyum salah tingkah dan berjalan memutari meja ke samping John, membukakan toples, meletakkan beberapa potong acar di atas piring kecil, dan menghidangkannya dengan sopan. “Silahkan, Dad.”

“Terimakasih, umm… Alec,” kata John, agak-agak tercengang.

“Sama-sama.” Ben kembali ke tempat duduknya, menghadapi piring yang kini lebih mirip tempurung kura-kura dari lauk.

“Wow,” celetuk Sam memecah kesunyian.

“Hebat,” sambung Dean. Ben jadi teringat Cormac dan Josh, dua temannya yang suka ngomong saling nyambung seperti keponakannya Donal Bebek.

“Aku tidak tahu Juilliard juga mengajari table manner.”

“Atau mengajari jadi pelayan restoran, tepatnya!” Dua cowok itu tergelak dan ber-toss.

“Anak-anak, jangan iseng,” tegur Mary. Lalu pada Ben, “Oh ya, omong-omong soal Juilliard, kau belum cerita pengalamanmu di New York. Bagaimana di sana?”

“Yeah, kulitmu sampai terbakar begitu, kau pasti bersenang-senang, ya?” sambung John tanpa mengalihkan perhatian dari acarnya.

“Oh. Ya. Bagus sekali, di sana memang menyenangkan.”

“Menye…nangkan?” tanya Mary, ekspresinya menunjukkan ia masih menunggu anaknya bercerita lebih jauh. Di seberang meja, Sam mengangkat alis pada Dean, yang membalasnya dengan angkatan bahu. Bahkan John pun berhenti menyantap acarnya dan menatap Ben dengan heran.

Cowok itu menelan ludah. Oke, jadi Alec yang asli tidak mungkin hanya bilang ‘oh ya. Bagus sekali, di sana memang menyenangkan’ setelah tujuh hari penuh kebebasan sekaligus kebosanan di New York. Dia barangkali bakal ngoceh seratus kata per detik, menggunakan semua gerak tangan yang diketahuinya untuk menggambarkan segala sesuatu yang menarik perhatiannya di New York – termasuk air mancur warna-warni setinggi dua meter di taman kota itu, dan kemudian cemberut dan mengeluh soal si resepsionis hotel yang memarahinya atau bagaimana mereka harusnya pergi ke lebih banyak Taman Bermain. Ben harus mengulang berkali-kali dalam kepalanya bahwa ia telah berjanji akan bersandiwara sebaik mungkin, dan itu berarti harus mengatakan apa yang harus dikatakan, bukannya kabur dari meja makan saat itu juga.

Alec dan Rachel bercerita secepat kilat sepanjang waktu. Ini tidak akan terlalu sulit, ia meyakinkan diri. Menarik nafas dalam-dalam, Ben memulai, “yah, oke. Lumayan. Maksudku, bagus. Banget. Kami pergi ke banyak tempat dan umm… nonton banyak konser dan teater, seperti….” Kepalanya tiba-tiba terasa kosong, ia tidak bisa mengingat satu pun judul teater yang disimaknya dengan baik di tiap gedung opera. “…. Misalnya… uh, teater kontemporer. Dan teater klasik. Terus ada air mancur keren ini di taman kota, warnanya berubah-ubah. Dan kami ke Taman Bermain, naik jet coaster….”

“Ah. Apa kau nyasar lagi?” potong Dean, nyengir penuh arti.

“Sori?”

“Err… uh, apa kau nyasar lagi? Di Taman Bermain? Kau pernah nyasar di Deno’s Wonder Wheel gara-gara nonton badut, ingat?” Dean menjelaskan gurauannya seolah bicara pada orang amnesia.

“Oh!” seru Ben, walaupun ia sama sekali tidak punya bayangan tentang apa yang sedang dibicarakan Dean. Yah, siapa yang tahu kalau keluarga ini suka mengungkit-ungkit kejadian masa lalu, yang sama sekali tidak direferensikan Alec. Ben benar-benar harus improvisasi. “Oh, itu. Ya, eh. Tidak, tentu saja tidak. Aku kan sudah nggak nge-fans sama badut lagi!” ia berusaha melucu, yang akhirnya gagal total. Keluarga Winchester hanya menatapnya dengan senyum lebar dibuat-buat, tapi sorot mata mereka jelas kebingungan.

Ben menunduk, mendadak sangat tertarik pada gundukan makanan di hadapannya, padahal selera makannya sudah hilang. Andai saja saat ini ia bisa bertukar tempat dengan ikan makerel di piringnya itu….

“Baiklah,” kata Dean setelah beberapa detik suasana hening, mengganti topik pembicaraan menyelamatkan adiknya. “Sekarang, mari kita dengar kisah Sammy minggu ini. Jadi, Sam, akhirnya kau rujuk kembali dengan pacarmu?”

“Tidak usah ikut campur deh, Dean.”

“Ups, sori, bukannya ikut campur. Tapi kau benar-benar harus mengecilkan suaramu saat bertelepon, Dik. Seluruh rumah tahu detail pembicaraanmu dengan Maddie. Kami bahkan tidak perlu pasang penyadap.”

John terkekeh, Mary geleng-geleng kepala. Bahkan Ben pun tersenyum.

“Oke. Kami baikan, puas?” erang Sam.

“Apa itu berarti jimat cinta Aborigin pemberianku meluluhkan hatinya?” timbrung John. Ia sendiri yang memilihkan jimat itu untuk Sam, agar ia bisa memberikannya sebagai ganti selendang atau apalah yang diminta Maddie.

“Uh, begitulah,” jawab Sam, mengangkat bahu. Gengsi dong kalau ia memberitahu bahwa sebenarnya mereka berdebat tiga hari dan diam-diaman sebelum akhirnya Sam menyerah dan membongkar tabungannya untuk membelikan Maddie scarf dari toko online. Jimat cinta dari Dad? Masih tersimpan rapi di laci meja belajarnya. Maddie bisa-bisa tak sudi bertemu dengannya lagi kalau jimat berbentuk tapir itu sampai diberikan.

Selanjutnya makan malam dihabiskan dengan mendengarkan Dean mengejek Sam dan John bercerita tentang salah satu kliennya yang tampaknya sebentar lagi mau menjual mobil antiknya. Ia meminta pendapat seluruh keluarga tentang apakah ia harus membeli mobil itu untuk koleksi pribadi, yang mendapat respon negatif. Meskipun begitu, dari gelagatnya pun sudah ketahuan John pasti akan membelinya.

Selesai makan, dan Ben sungguh heran karena seluruh hidangan ludes – kecuali miliknya, tentu – Mary membagi-bagi tugas membersihkan piring dan meja. Ia membebastugaskan Ben dan menyuruhnya pergi tidur, takut ia sakit gara-gara kecapekan, yang dipatuhi cowok itu dengan senang hati. Apapun untuk menghindari berinteraksi dengan keluarga Winchester – dia sudah merasa sangat malu sampai mau mati rasanya. Ben harus cepat-cepat menelepon Alec untuk meminta kisah lengkap tentang masa kecilnya, biar kecanggungan seperti tadi tak terjadi lagi. Tanpa menunggu lebih lama, ia menghilang ke lantai dua, tidak menyadari pandangan khawatir yang mengikutinya.

* * *

Segera setelah adik mereka terlepas dari jangkauan pendengaran, Dean dan Sam yang dapat tugas cuci piring langsung berspekulasi seru tentang apa yang menyebabkan Alec, anak yang tidak pernah berhenti bicara – orang yang seringkali ngomong hanya karena senang mendengar suaranya sendiri, berubah menjadi sosok pendiam dan penurut. Dan pemalu.

“Gegar otak.”

“Flu babi.”

“Hipnotis.”

“Sariawan.”

“Terbentur lemari terus trauma otak.”

“Sama saja dengan gegar otak kali.”

“Kangen rumah.”

“Dia sudah di rumah, Dean. Patah hati.”

“Memangnya kamu.”

“Enak saja. Oh, jangan-jangan dia lagi jatuh cinta!”

“Satu-satunya hal yang dia ketahui tentang cinta adalah itu dieja C-I-N-T-A.”

“Mungkin saja kan, ingat cewek bergaun pink itu?”

Mary membersihkan meja makan sambil mendengarkan keduanya, makin lama makin gelisah. Apa yang terjadi pada putra bungsunya? Terakhir kali ia melihat Alec, anak itu baik-baik saja. Bahkan kemarin malam, saat Mary menelepon, dia masih mendongeng macam-macam dengan logat naik turun penuh semangat. Kenapa sekarang, begitu sampai rumah, dia berubah seratus delapan puluh derajat? Yah, sejujurnya wanita itu punya beberapa dugaan, tapi terlalu takut mengakuinya.

Akhirnya, ketika spekulasi Dean dan Sam menjalar ke penculikan alien dan shape-shifter, Mary tak bisa membendung rasa penasarannya lagi. Ia meninggalkan pekerjaannya lalu naik ke kamar Alec.

Wanita itu masuk ke kamar putranya dengan mudah, sekali lagi bersyukur John tidak memasang kunci selain di kamar tamu. Alec sedang mondar-mandir dengan ponsel di telinga, menyerapah pelan, tidak menyadari kehadiran Mary.

“Kau sedang menelepon siapa?”

Cowok itu terlonjak kaget, mukanya langsung memucat. Ia buru-buru mematikan ponsel dan memasukannya ke saku. “Mom! bikin kaget saja!”

Mary hanya mengangkat alis dan mendudukkan dirinya ke tempat tidur. “Siapa yang kau telepon? Temanmu?” ia teringat cewek kenalan Alec di Juilliard – Rachel – dan bertanya-tanya apa anak itu membawa pengaruh buruk bagi putranya.

“Uh, bukan, itu….” Alec gelagapan, kakinya bergerak-gerak gelisah dan matanya menuju ke manapun selain Mary. “…. Guru biolaku. Aku menelepon guru biolaku.”

“Guru biola? Sejak kapan kau belajar biola?”

“Sejak Juilliard?” Alec mengatakan itu seolah tidak yakin jawabannya benar. “Aku ingin mencoba sesuatu yang baru,” ia menambahkan cepat-cepat.

“Apa tidak mengganggu pelajaran pianomu?” tanya Mary curiga.

“Tidak, Mom. Umm… latihannya tiga kali seminggu. Seperti ekstrakurikuler.”

“Baiklah,” kata Mary tak percaya. Sejak dulu anak-anaknya tidak pandai berbohong, Alec apalagi. Dia seperti buku yang terbuka. “Kalau begitu, maukah kau menunjukkan permainan biolamu pada kami?”

“Apa?”

“Kau kan sudah latihan tiga kali, benar? Paling tidak bisa dong satu-dua nada.” Kalau Alec berbohong, dia pasti bakal mati kutu.

Cowok itu menggigit bibir. “Kita enggak punya biola.”

“Oh, bisa diurus. Kita sewa satu malam.”

“Aku enggak yakin bisa….”

“Cuma melihat seberapa kemampuanmu.”

“Permainanku bikin kuping sakit, Mom.”

“Ah, seperti di rumah ini tidak banyak polusi suara saja.”

“Nanti Sam sama Dean ngejek.”

“Mom akan menghukum mereka kalau begitu. Tenanglah, Alec, Mom cuma pingin mendengar permainanmu. Mom yakin kau selalu bisa melakukan yang terbaik, kau berbakat di bidang apa saja.”

Alec menghela nafas, dan untuk sepersekian detik Mary mengira dia bakal mengaku. Tapi ternyata dia bilang, “oke. Tapi jangan tertawa kalau jelek, ya.”

Agak terkejut dengan jawaban di luar dugaan itu, Mary kehabisan kata-kata. Ia tidak punya taktik cadangan pula. “Oke. Bagus kalau begitu,” katanya akhirnya, menyerah. Dia akan mencoba mengkonfrontasi Alec lagi besok. “Sekarang, tidurlah. Jangan sampai masuk angin.”

“Ya, Mom,” Alec menurut tanpa protes ‘aku bukan anak kecil’ yang biasanya, bikin tambah khawatir saja.

“Malam, Alec,” kata Mary, berjinjit sedikit untuk mencium pipinya.

“Malam, Mom.”

Mary tersenyum, menepuk-nepuk pundak putranya dan berjalan menuju pintu. Namun sebelum ia keluar Alec memanggil, “uh… Mom?”

“Ya?” wanita itu berbalik dengan semangat. Mungkin Alec tidak tahan bohong lama-lama?

“Apa aku sudah bilang aku beruntung punya ibu sepertimu?”

Oke, benar-benar di luar dugaan. “Belum, tapi aku senang mendengarnya, Alec,” tanggap Mary, memasang senyum selembut mungkin. Andai situasinya tidak begini, dia pasti bakal senang sekali.

Alec tersenyum malu-malu, sama sekali tidak seperti dirinya. “Yeah. Cuma pingin bilang saja.”

“Selamat tidur, Sayang. Malaikat akan selalu menjagamu.” Mary meninggalkan ruangan dan menutup pintu, bertekad akan mencari apa yang salah dengan bocah itu.

* * *

Segera setelah Mary keluar, Ben menghela nafas lega. Hampir, hampir saja ketahuan! Ugh, jantungnya masih berdebar-debar saking tegangnya. Ada untungnya juga Alec belum menjawab telepon (walaupun harus diakui, Ben masih dongkol, sedang apa sih saudaranya itu sampai ditelpon dua puluh kali tidak menjawab?!). Bayangkan jika Mary masuk dan mendapatinya sedang ngobrol dengan Alec! Situasi bisa tambah runyam. Dan untung juga, kali ini dia bisa mengarang alasan yang pas dalam kondisi terjepit. Coba tadi dia ngomong sedang menelepon guru – katakanlah – terompetnya, dan Mary menantangnya memainkan instrumen itu besok. Mungkin saat ini dia sedang mencari tali buat gantung diri.

Ia mengeluarkan ponsel dan meletakkannya di meja samping tempat tidur, persis di depan foto Alec. Lalu melepaskan pakaian sampai tinggal pakai boxer dan menyusup ke balik selimut. Percakapannya dengan Mary membuatnya ngantuk beneran, dan lagipula, mungkin saja sekarang kembarannya sudah lelap, mengingat jam telah menunjukkan pukul sepuluh.

Berjanji akan bangun pagi dan menelepon Alec sebelum ia berangkat latihan pagi (semoga saja dia tidak lupa), Ben bergelung di kasur dan memejamkan mata, berdo’a semoga ia bisa bertahan selama seminggu tanpa kekacauan katastropik, dan tertidur.

TBC

0 komentar :

Posting Komentar