THE BRIDGE OF DISTANCE
Summary: Sungguh ganjil apa yang kurasa ini. Perasaan yang begitu asing, baru, membuaiku dalam pelukannya yang misterius. Menggodaku, menggelitik hasratku dengan cara yang belum pernah kutahu. Kurasa aku jatuh cinta padamu.
Warning: Lack of narration beware. Main character death.
ruby_genes: hei Dean :D
j_dean: hey Ruby.
j_dean: gimana jalan2nya?
ruby_genes: asik <3 Kita main di pantai sampai basah kuyup.
ruby_genes: terus ke tempat konservasi penyu.
ruby_genes: sayang enggak bisa ikut nglepasin penyu ke laut >,<
j_dean: kenapa?
ruby_genes: belum musimnya
j_dean: Oooh.
j_dean: emang kapan musimnya?
ruby_genes: katanya sih, tiga bulan lagi.
ruby_genes: nunggu semua burung camar migrasi.
ruby_genes: biar enggak dimakan gitu.
j_dean: kamu mau ke sana pas itu?
ruby_genes: iya dong! Biar pengalaman xD
j_dean: titip salam buat bayi2 penyu ya ;)
ruby_genes: eh Dean.
ruby_genes: kamu ikut aja!
ruby_genes: sekalian kita ketemuan.
ruby_genes: Hehe….
j_dean: :(
j_dean: sori, Ruby.
j_dean: Aku enggak bisa.
ruby_genes: yah :’(
ruby_genes: aku nangis nih.
j_dean: yee… cengeng.
ruby_genes: biarin!
ruby_genes: kenapa enggak pernah mau ketemuan ma aku sih? >,<
ruby_genes: aku kan penasaran.
j_dean: gimana ya….
j_dean: aku takut kamu enggak suka sama aku setelah kita ketemu.
ruby_genes: kenapa?
q
j_dean: umm….
j_dean: tapi kamu bisa jaga rahasia kan?
ruby_genes: apaan sih?
j_dean: bisa enggak?
ruby_genes: bisa dong.
ruby_genes: kamu kan sahabatku.
ruby_genes: apaan sih pakai rahasia2 segala?
j_dean: sebenernya….
j_dean: aku ini….
j_dean: alien dari Mars yang lagi ngumpet di bumi.
ruby_genes: 0_o ?!
ruby_genes: ngaco.
ruby_genes: kirain apaan serius amat.
ruby_genes: huh!
j_dean: hehehe….
j_dean: ngambek ni yee….
ruby_genes: aku off aja ah >:I
j_dean: eits… jangan dong!
j_dean: masa gitu aja marah.
j_dean: nanti cepet tua lho.
ruby_genes: off beneran nih.
j_dean: eeeh… enggak, enggak bercanda ^^v
j_dean: maaf ya, Ruby yang cantik, lucu, baik hati….
j_dean: ….suka menolong, rajin menabung….
ruby_genes: muji kalau ada maunya aja ==a
j_dean: hehehehe….
j_dean: dimaafin dong?
ruby_genes: iya deh.
ruby_genes: aku kan pemaaf.
j_dean: lalalala…. Gak baca….
ruby_genes: AKU KAN PEMAAF.
j_dean: dudududu…
ruby_genes: kalo pura-pura enggak bisa baca…
ruby_genes:…ntar buta huruf beneran lho.
ruby_genes: hayo looo….
j_dean: biarin buta huruf
j_dean: yang penting enggak buta keyboard.
j_dean: week!! :P
ruby_genes: hahahaha….
ruby_genes: konyol kamu.
ruby_genes: tapi beneran lho.
ruby_genes: aku masih penasaran sama kamu.
ruby_genes: kita kan hampir setahun chattingan.
ruby_genes: masa belum ketemu sekalipun?
ruby_genes: aku pingiiiiin banget.
j_dean: aku beneran enggak bisa, maaf ya
ruby_genes: sekaliii…. Aja.
ruby_genes: please?
ruby_genes: biar kita tambah akrab gitu.
ruby_genes: ya ya ya?
ruby_genes: hoi Dean.
ruby_genes: Deeean….
ruby_genes: halo… halo… ada orang di sana?
ruby_genes: tingtong… tingtong… kok diem aja sih?
ruby_genes: tes… tes.. di sini Ruby.
ruby_genes: haloooo….!
ruby_genes: ketiduran ni pasti.
ruby_genes:bw ==
j_dean: masih di sini kok.
ruby_genes: egh, kaget!
j_dean: hahahaha….
j_dean: kamu lucu kalau sendirian.
j_dean: ngomong sendiri.
ruby_genes: ck… kamu sih diem aja.
ruby_genes: jadi malu :-s
j_dean: hooo… punya malu toh.
ruby_genes: emangnya badak enggak punya malu =_=
ruby_genes: jadi?
j_dean: jadi apa?
ruby_genes: mau ketemuan, kan?
ruby_genes: tadi kamu berhenti lama lagi mikir, kan?
ruby_genes: tahu deeeh…
j_dean: ih, sok tahu.
ruby_genes: tapi bener kan?
j_dean: hmmmph.
j_dean: iya deh.
ruby_genes: yihaaa! XD
j_dean: mau ketemu kapan?
ruby_genes: lusa gimana?
j_dean: enggak sekalian besok?
ruby_genes: enggak, besok aku ada acara.
ruby_genes: jadi pembicara di penyuluhan.
j_dean: oh, gitu.
j_dean: emang penyuluhan apa?
ruby_genes: tentang Global Warming.
ruby_genes: penyuluhannya pakai film pendek yang aku bikin kemarin dulu itu lho.
j_dean: keren!
j_dean: kirimi filmnya dong!
ruby_genes: iya, ntar deh.
ruby_genes: jadi gimana?
j_dean: oke deh, lusa.
j_dean: di mana?
ruby_genes: tahu kedai kopi yang baru buka itu?
j_dean: yang dekat stadion itu?
ruby_genes: bingo!
ruby_genes: di sana ya?
ruby_genes: jam 10.
j_dean: oke deh.
j_dean: kamu jangan ngaret, ya.
ruby_genes: emang aku pernah ngaret?
ruby_genes: tahu darimana?
j_dean: kamu kan cerita sendiri.
j_dean: yang waktu kamu ketinggalan kemping….
j_dean: …gara-gara telat setengah jam.
j_dean: inget?
ruby_genes: oh, iya ya.
ruby_genes: yaaah ketahuan deh.
ruby_genes: >,<
j_dean: hehehehe….
j_dean: jangan ngaret lho pokoknya.
ruby_genes: siap grak! Eh, siap boss!
j_dean: lol
j_dean: eh, udahan dulu ya.
j_dean: ngantuk nih (_ _ )zzZZ
ruby_genes: yee… baru juga jam sembilan.
ruby_genes: kek anak TK aja.
ruby_genes: ya udah.
ruby_genes: bye.
j_dean: bye, Ruby.
ruby_genes is offline.
j_dean is offline.
* * *
“Jensen, disuntik dulu ya.”
‘Enggak mau. Suntik bikin ngantuk. Masih mau ngobrol sama Jarhead.’
“Enak aja Jarhead. Suntik aja dia, Daneel.”
‘Sialan kau, Jarhead. PENGKHIANAT. Teganya kau memilih Daneel Bawel ini daripada sobatmu?’
“Maaf ya kalau aku bawel. Tapi aku harus melakukan tugas ini, kalau enggak aku bakal dikeluarin. Kau enggak mau, kan, aku dikeluarin?”
‘Oh, itu bakal jadi hadiah terindah dalam hidupku.’
“Yakin? Perawat lain enggak bakal mau membawakanmu Cadbury tiap malam Sabtu, lho.”
Jared tertawa. “Kena kau, Jenny.”
‘Kalian berdua bersekongkol melawanku! Aku, Jensen yang lemah dan sakit! Dasar enggak berperikemanusiaan.’
“Terserah kau mau menyebutku apa. Aku masih harus memberikan obat ke sepuluh kamar lain, jadi jangan buang-buang waktuku.”
‘Dasar cewek berhati dingin. Kok bisa sih Rumah Sakit ini memperkerjakanmu?’
“Karena aku pintar, Jensen. Dan tegas. Dan bisa menghadapi orang keras kepala sepertimu.”
‘Dan sombong dan terlalu bangga akan diri sendiri.’
Daneel cuma memutar bola mata. Dia tidak akan termakan omongan Jensen, tahu cowok itu cuma memanas-manasi agar dia ngambek dan meninggalkan kamar tanpa menyuntik – yang jelas tak akan terjadi. Seorang perawat harus melakukan tugas walau si pasien melemparinya dengan pispot berisi.
Jensen menatap Daneel yang mulai memijat-mijat selang infusnya dengan ngeri. Cewek satu ini benar-benar disiplin, tidak akan menunda waktu suntik barang setengah jam saja. Padahal Jensen masih harus memberitahu Jared sesuatu yang penting. Bertindak cepat, ia pun mengeset laptopnya ke volume maksimal dan menyalakan musik tepat sebelum Daneel menyuntikkan obat ke infus.
“Jensen! Bikin kaget saja!”
‘Ha-ha. Kena kau, Nona Bawel.’
“Suntikannya jadi pecah nih!”
‘Ih, jatuh-jatuhin sendiri nyalahin orang. Makanya jadi orang jangan latah.’
Lagi-lagi Jared terbahak, yang langsung terhenti oleh lirikan sadis Daneel. “Uh, sepertinya kau harus ambil suntikan baru, deh.”
“Terimakasih atas sarannya, Jarhead,” kata Daneel sinis. Ia membersihkan serpih-serpih suntikan sambil mengomel pelan tentang waktu yang terbuang sia-sia. Kemudian, setelah selesai, perawat itu mendorong troli obatnya keluar ruangan. “Aku akan kembali setelah selesai memberi obat yang lain. Jangan pikir kau bisa lolos lagi, Jensen,” katanya, mengacungkan jari tanda mengancam sembari menutup pintu.
Jensen menyetel suara kuda meringkik sebagai jawaban, membuat Jared harus mengigit buku-buku jari agar tak tertawa terlalu keras.
“Kau iseng banget sih sama Daneel,” katanya setelah tawanya mereda.
‘Biarin. Dia juga sih, sukanya datang pas kita lagi asyik-asyiknya ngobrol. Nah, sampai di mana tadi?’
“Aku menang undian wisata tiga hari dari popcorn rasa nanas itu.”
‘Eww… Enggak heran deh kau menang. Taruhan, cuma kau saja yang mau ngembat makanan kayak gitu.’
“Oh, Jenny. Kata-katamu melukai hatiku.”
‘Setidaknya tidak merusak lidahmu seperti popcorn menjijikkan itu.’
“Heh, dasar orang enggak tahu seni makanan enak.”
‘Kalau itu definisi makanan enak, aku memilih jadi vegetarian ekstrim yang cuma makan selada.’
“Akan kusampaikan pesanmu ke dapur bangsal. ‘Permisi, mau kasih tahu, Jensen yang di kamar 104 itu, ya, yang sukanya komplain soal rasa bubur, memutuskan untuk berhenti makan apapun kecuali selada. Yeah, akhirnya dia mau mengikuti takdirnya sebagai keturunan kelinci.’ Oh, aku juga akan beritahu Daneel untuk tidak membawakanmu Cadbury lagi.”
‘Pengkhianat.’
“Terima kasih.”
Mereka berpandangan lalu tertawa. Air liur Jensen menetes membasahi dagu dan pipinya. Jared mengelapnya dengan tisu.
‘Kapan kau berangkat?’
“Untuk wisata? Dua minggu lagi.”
‘Jangan lupa kirimi aku foto-foto pemandangannya, ya.’
“Beres.”
Keduanya lalu terdiam, menikmati bunyi-bunyi Rumah Sakit dalam keheningan. Samar-samar terdengar jeritan anak kecil disusul kelontangan cawan medis. Jared menyeringai membayangkan Daneel yang pasti sedang kewalahan. Beberapa perawat berjalan di koridor luar, kelotak sepatu berhak tinggi mereka menggema di udara, ditingkahi bisikan-bisikan halus obrolan. Mesin oksigen Jensen berdengung konstan, hingga kau tidak menyadari lagi bunyi itu ada di sana. Jared begitu terserap dalam suasana damai-tapi-menyesakkan itu, hingga ketika Jensen mengetik lagi, ia terlonjak sedikit.
‘Jarhead, boleh minta tolong sesuatu?’
“Jared. Tentu, minta tolong apa?”
‘Aku punya teman. Namanya Ruby. Bukan nama sebenarnya sih, tapi aku memanggilnya begitu.’
“Pasti kenalanmu dari forum serial Paranormal itu.”
‘Supernatural.’
“Apalah. Heran deh, bisa-bisanya kau suka acara begituan.”
‘Lebih baik daripada serial vampir playgirl favoritmu itu. Setidaknya tokoh Supernatural cowok semua.’
“Jangan bilang kau ngefans sama pemainnya.”
‘Ya enggaklah, dasar bego. Mereka keliling Amerika naik mobil keren. Nonton acara itu rasanya kayak jalan-jalan.’
Perasaan sedih bercampur bersalah yang familiar menyergap Jared begitu membaca jawaban Jensen. Ia menelan ludah lalu berkata sekasual mungkin, “lalu, apa hubungannya dengan Ruby?”
‘Ruby itu salah satu tokoh di –‘
“Itu sih aku tahu. Kalian memakai nama tokoh dalam serial, kan, Dean?” Jared memutar bola mata. “Maksudku, ada apa dengan temanmu itu?”
‘Dia….’ Jensen berhenti sebentar, kemudian menulis lagi, ‘…ingin bertemu denganku.’
“Jensen, kau tahu aku tidak bisa –“
‘Aku tidak memintamu membawaku kabur atau apa,’ potong Jensen. Cuma dia yang bisa memotong omongan orang dengan tulisan. ‘Aku ingin kau menemuinya menggantikanku.’ Pipi pucat Jensen memerah sedikit usai menulisnya.
“Kau bercanda.”
‘Aku serius.’
“Yang benar saja, aku bukan kamu.”
‘Pura-pura sedikit apa susahnya, sih?’
“Bukan itu masalahnya. Enggak enak dong, aku bohong sama orang yang enggak kukenal.”
‘Kau enggak enak bohong sama siapa saja.’
“Nah itu tahu. Jadi jangan paksa aku.”
‘Please, Jared, please…. *puppy eyes*’
“Kenapa kau enggak menolaknya, sih?”
‘Aku sudah menolak berkali-kali. Kasihan dia.’
“Lebih kasihan lagi kalau kau bohongi, kan?”
‘Jared please, tolong aku.’ Dan Jared bisa mendengar permohonan itu, merasakan kesedihan di dalamnya, seolah Jensen benar-benar membisikkannya. ‘Dia teman baikku. Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku punya teman akrab. Aku tidak mau mengecewakannya.’
Jared menatap sahabatnya bimbang.
‘Please? Kau tidak boleh mengecewakan sahabatmu, kan?’ Mata ekspresif Jensen menatap dengan memelas, sedikit berkaca-kaca. Walaupun Jared tahu yang terakhir itu kemungkinan besar hanya akting, tetap saja dia tidak tega.
“Oke deh. Apa yang harus kulakukan?”
* * *
Jared melihat jam tangan untuk ke seratus kalinya, ia yakin. Jensen sudah bilang kalau Ruby suka terlambat, tapi belum muncul empat puluh lima menit setelah waktu yang dijanjikan tanpa memberi kabar, itu sih kelewatan.
Baru saja Jared berpikir untuk meninggalkan kedai, tiba-tiba seorang cewek berambut hitam menyeruak masuk sambil terengah-engah – jelas sekali habis lari blingsatan. Ia hampir menabrak bapak-bapak kantoran yang berdiri dekat pintu, Jared geli menonton cewek itu minta maaf lalu celingukan mencari seseorang.
Jared melambaikan tangan, dalam hati berpikir Jensen pastilah sangat mengenal Ruby sampai-sampai dari deskripsi abstraknya saja Jared tahu yang mana orangnya. Atau mungkin Jared yang pandai menerka. Atau Ruby yang terlalu transparan.
Cewek itu mendekat ragu, Jared mengulum senyum melihat gaya berpakaiannya yang seperti berkiblat pada Indiana Jones.
“Dean?”
“Hai, Ruby.” Jared menggerakkan tangan mempersilahkan duduk. “Seingatku aku minta agar kau jangan ngaret?”
“Sori!” engah Ruby rikuh sambil menghempaskan diri ke kursi di hadapan Jared. Nafasnya masih menderu cepat. “Aku lupa aku kebagian tugas membereskan perlengkapan rafting.”
“Kau ikut rafting?”
“Yeah, kemarin habis dari pantai, kami langsung rafting. Pumpung cuacanya bagus.”
Jared tidak mengerti bagaimana cuaca akhir musim gugur bisa dibilang bagus untuk rafting, tapi tidak berkomentar.
Ruby mengamati Jared dari atas ke bawah. “Jadi…. Kau Dean?”
Bukan, sahabatnya yang jadi korban kebegoannya. “Sudah terlambat untuk berpikir kau salah orang.”
Ruby terkikik. “Kau lebih tinggi dari dugaanku.”
“Memang seberapa tinggi dugaanmu?”
“Segini.” Ruby mengulurkan tangan setinggi meja.
“Ya ampun, aku ini Dean bukan Dopey.”
Cewek itu tertawa lagi. “Sekarang enggak mungkin salah orang. Komentar lucumu itu enggak ada yang nyamain.”
“Yeah?”
“Yap.”
“Kau juga, ngaretmu itu benar-benar jadi ciri khas.”
“Ih, apaan sih. Aku kan cuma telat sekali.”
“Kita juga baru ketemuan sekali.”
Ruby manyun. “Bawel, ah.”
“Satu-kosong!”
“Mengalah dari Dopey artinya pintar.”
“Ah, bisa aja kamu!” tawa Jared. Ruby ikut tertawa.
Mereka terus ngobrol setelah itu, Jared bersyukur dia tidak melakukan kesalahan fatal, bahkan rasanya dia sudah berteman dengan Ruby sejak lama. Mungkin benar kata orang, ia dan Jensen adalah perwujudan dari kata mutiara – sahabat adalah satu jiwa dalam dua tubuh. Siapa yang dikenal Jensen, akan dikenal Jared juga.
* * *
“Kau payah banget main tembak-tembakan.”
“Mengalah dari cewek artinya sopan. Aku menghargai emansipasi wanita, tahu.”
“Menghargai…. Atau jangan-jangan kamu cewek beneran?”
“Jangan-jangan kamu lagi yang cowok.”
“Huh, mana ada cowok ngambil boneka sebagai hadiah?”
“Ada, kamu tuh!”
Ruby melempar muka Jared dengan boneka kelinci merah jambu yang baru saja dimenangkannya. Seandainya Jared lebih pendek, dia yakin cewek itu bakal menjitaknya. Kemudian Ruby mulai mencubit-cubit tangan Jared.
“Aww! Apaan sih? Pedih tahu!”
“Aku enggak akan berhenti sebelum kamu bilang, ‘Ruby adalah cewek sejati dan penembak jitu, lebih hebat daripada Dean.’”
“Ih, males ba – ayayayaya! – Iya deh, iya. Ruby adalah – aduh! – cewek sejati yang suka nyubit – aww! – maksudku, penembak jitu.”
“Yang lebih hebat dari….?”
“Kau enggak lebih hebat dari – adaw! – dari Dean! Lebih hebat dari Dean! Udah dong, sakit nih!”
Ruby menghentikan penyiksaannya dan nyengir penuh kemenangan. Jared menggosok-gosok tangannya yang memerah, cemberut. Tapi cemberutnya tidak bertahan lama karena Ruby lalu menempelkan kelincinya ke hidung Jared – dia harus berjinjit, tentu saja -- dan bilang dengan suara kecil dibuat-buat, “jangan cemberut, Deano. Kau jadi makin mirip troll.”
Jared terbahak.
“Omong-omong,” kata Ruby setelah tawa Jared mereda, “jangan panggil aku Ruby terus dong.”
“Tentu, dengan senang hati. Kebetulan, dari tadi aku ingin memanggilmu Bauksit.”
Ruby menabok Jared, memutar bola mata. “Serius nih. Panggil aku dengan nama asli saja, kita kan sudah temenan.”
“Beneran boleh?”
“Iya.” Ruby tersenyum kecil. “Panggil aku Genie.”
“Oke, Genie. Boleh aku sebutkan permintaan pertama?”
“Tidak sebelum kau sebutkan nama aslimu, Tuan Yang Menggosok Lampu.”
“Oh.” Jared terdiam sejenak, bimbang. Jensen tidak menyuruhnya memberikan nama asli, tapi tidak melarangnya juga. Tapi saat ini, dia, Jared, yang sedang jalan dengan Genie, dan kalau dia bilang namanya ‘Jensen’, maka itu bukan nama asli, kan? Dan bagaimana kalau suatu hari – mungkin saja – Genie bertemu dengan Jensen yang sebenarnya? Atau mungkin – Jared tidak ingin berharap yang aneh-aneh tapi mau tak mau kepikiran juga, terutama karena dia mulai menyukai Genie; sebagai teman tentu! – cewek itu mencarinya setelah ini, dan tidak bisa menemukan seorang pemain rugby dengan tinggi enam kaki bernama ‘Jensen’?
“Halo, Tuan?”
“Huh?”
“Namamu?”
“Oh. Yeah. Umm… namaku dimulai dengan huruf ‘J’,” kata Jared, berusaha mengulur waktu untuk memutuskan, nama mana yang akan ia sebutkan: Jensen atau Jared?
“Sudah kuduga. James!”
“Apa? Bukan!”
“Lho, bukan?” Genie tampak bingung. “Tapi namamu kan j_dean. Kukira….”
“Tebak lagi deh.”
“Umm… Jake?”
“Uh-uh.”
“Jason?”
“Bukan.”
“Jeff? Jay? Justin?”
“Bukan. Bukan. Dan jelas bukan. Amit-amit punya nama sama kayak penyanyi banci itu.”
“Eh, enak saja! Justin imut tahu!” protes Genie, sekarang gantian dia yang cemberut. “Terus, namamu siapa?”
“Namaku….” Jared menimbang-nimbang, dilema berkecamuk dalam dirinya. Genie menatapnya dengan mata besar ingin tahu, dan Jared tak tahan lagi. Dia tidak ingin membohongi mata itu.
“Jared. Namaku Jared, Genie.”
* * *
‘Bagaimana kemarin?’
“Dia ngaret empat puluh lima menit.”
‘Tumben enggak kau tinggal.’
“Aku baru mau pergi pas dia datang.”
‘Terus?’
“Kami ngobrol sambil makan cake kopi – iya, yang kayak kubawakan ini. Dia kayak Tarzan cewek.”
‘Yeah. Orangtuannya pendaki gunung profesional.’
“Pantes! Dia semangat banget kalau diajak ngomong soal alam.”
‘Habis itu?’
“Kami tadinya mau nonton, tapi karena penuh, akhirnya kami jalan-jalan. Lagi ada karnaval dekat gedung SD yang ditutup itu, lho.”
‘Kau kalah main tembak-tembakan ya? Menurunkan pamorku saja.’
“Eh, tahu darimana?”
‘Dia ngungkit-ungkit itu terus pas kita chattingan semalem.’
“Bukan salahku. Aku oke kok, dianya aja yang enggak normal. Masa anak cewek bisa nembak 20/20?”
‘Enggak normal darimana. Kau yang payah, masa cuma bisa 5/20?’
“Jen, kau melukai lubuk hatiku yang terdalam.”
‘Memang kau punya hati.’
“Oh, oh. Sakitnya.” Jared memegangi dada, matanya dibuat berkaca-kaca. Tidak terlalu berhasil, tapi. Jensenlah sang aktor di antara mereka.
Jensen memutuskan untuk tidak menanggapi rajukan sahabatnya. Ia malah bertanya, ‘menurutmu Ruby bagaimana? Selain kayak Tarzan.’
“Orangnya ramai, cerdas, tapi agak sinis. Enggak heran kalian cocok.” Jared nyengir, entah karena komentarnya atau karena membayangkan cewek itu. “Mukanya lucu kalau lagi makan, atau manyun. Dan matanya…. Wow.” Mata Jared yang menerawang berbinar. “Omong-omong, nama aslinya Genie, lho. Jadi inget Aladin.”
‘Oh, sudah sampai tukeran nama asli toh? Kau mengaku sebagai aku?’
“Umm… soal itu. Sebenarnya….” Jared menggosok belakang leher dengan salah tingkah. Harusnya dia tak usah bilang-bilang. Kenapa sih mulutnya selalu bekerja lebih cepat dari otaknya? “Aku umm…. Aku bilang namaku Jared. Maaf, kamu jangan marah, ya! Kemarin aku bingung dan kamu belum bilang aku boleh kasih tahu namamu, dan kalau kamu mau, aku bisa bilang kok ke dia aku bohong dan ngasih namamu. Jangan marah padaku, please?” Jared memberondong cepat dan mengakhirinya dengan tatapan memelas.
Mata Jensen berkilau geli, seolah Jared sedang melucu. ‘Santai saja, Jare. Kau boleh kok, terus pakai namamu sendiri.’
“Bener, nih?”
‘Yep. Lagipula, aku enggak mau kau menyatakan cinta padanya atas namaku.’
Kuping Jared memerah sedikit. “Menyatakan cinta apa?” tanyanya pura-pura polos.
‘Ah, enggak usah ditutup-tutupi deh. Kau naksir dia, kan?’
“Enggak tuh.”
‘Dari cara ngomongmu tentang dia saja sudah ketahuan. Dan kupingmu merah. Sadar?’
“Aku cuma kagum.”
‘Kagum apa kagum?’
“Ugh, Jen! Berhenti ngomong yang enggak-enggak.”
Jensen menyalakan suara kuda meringkik favoritnya, meledek Jared. ‘Salting nih yee.’ Ia berusaha menyeringai, yang hanya membuat pipinya berkedut tak terkontrol selama beberapa saat. ‘Ada rencana ketemuan lagi?’
“Dia ngajak aku ketemuan besok minggu sebetulnya – matikan suara kuda sialan itu! – tapi aku belum memutuskan.”
‘Kok?’
“Umm… aku mau minta persetujuanmu dulu.” Jared mengangkat bahu. “Dia kan, temanmu. Aku bertemu dia cuma sebagai wakilmu.”
‘Ya ampun Jare. Kau bebas ketemu dia kapan saja. Temanku temanmu juga.’ Kalau bisa memutar bola mata, Jensen pasti sudah melakukannya.
“Bener, nih?”
‘Yeah, kau kayak minta izin sama orangtuamu saja. Lagipula, kalian harus sering jalan kalau mau jadian.’
“Oh, diamlah.”
* * *
“Genie, kau suka nonton apa?”
“Horor! Action juga boleh, sih. Atau komedi. Terserahlah. Kau?”
“Umm…. Aku juga pingin horor.”
“Oke, kita nonton horor kalau gitu. Yang thriller?”
“Yap. Makin sadis makin oke.”
“Setuju. Kau beli tiket, aku beli popcorn. Ketemu di pintu studio, ya.”
“Oke!”
* * *
“Aku enggak tahu kau suka Oreo siram saus kacang.”
“Yeah, orang bilang ini menjijikan, tapi mereka cuma tidak tahu seni makanan enak.”
“Kupikir cuma aku yang mikir begitu!”
“Kau suka juga?”
“Yeah! Dan popcorn nanas!”
“Oh, Tuhan. Terimakasih telah mengirim orang yang mengerti aku.”
“Enggak disangka kita sama hampir di tiap hal. Film, makanan, omongan….”
“Dan olahraga. Rugby selalu nomor satu.”
“Rugby lebih jantan dari sepakbola.”
“Rugby olahraga dewa.”
“Hei, besok ada siaran langsung pertandingan Rugby dari Austin, ingat?”
“Tak mungkin lupa.”
“Bagaimana kalau kita nonton bareng di kedai kopi yang waktu itu? Mereka memutarnya di sana. Sekalian ngemil popcorn nanas. Mungkin aku bisa menang hadiah wisata juga.”
“Ide bagus. Umm… mau kujemput di rumahmu atau….?”
“Kau mau menjemput? Tentu! Eh, ehm… maksudku, tapi enggak merepotkan, kan?”
“Enggak. Kujemput jam tujuh, ya.”
“Oke.”
“Jangan ngaret, lho.”
* * *
“Cinta pertamaku waktu kelas satu SMP. Dia penari balet dan selalu pakai baju pink ke sekolah.”
“Ewww….”
“Yeah, aku tahu. Aku sendiri juga malu. Bagaimana denganmu?”
“Kelas enam. Namanya Larsen. Aku berhenti menyukainya ketika melihatnya menendang kucing di jalan. Ironis, padahal aku suka mata hijaunya yang seperti kucing.”
“Mataku juga hijau, lho. Kau suka, dong?”
“Aku enggak bilang begitu.”
“Tapi suka, kan?”
“Nuh-uh.”
“Ngaku aja, mataku memang bagus, kok.”
“Ih, narsis. Bagaimana denganmu? Kau suka mataku?”
“Yeah. Birunya cantik.”
“Oh, well… kalau kau bilang begitu. Matamu juga bagus.”
“Yeah?”
“Yeah.”
“Umm… makasih. Aku senang mendengarnya.”
“Aku juga.”
* * *
“Kapan kau dapat ciuman pertama?”
“Errr… entahlah. Kayaknya waktu TK dulu ada anak cewek yang tiba-tiba nempel…. Apa itu dihitung?”
“Kalau iya, yang selanjutnya sudah berapa kali?”
“Aku yakin aku mencium seseorang saat permainan Truth or Dare waktu kelas tiga. Lalu SMP dan SMA… Entahlah. Banyak. Yang serius empat kali. Kau sendiri?”
“Mmm…. kayaknya waktu TK dulu ada anak cowok yang tiba-tiba nempel…. Apa itu dihitung?”
“Kalau iya, yang selanjutnya sudah berapa kali?”
“Aku yakin aku mencium seseorang saat permainan Truth or Dare waktu kelas tiga. Ditambah SMP dan SMA…Banyak. Yang serius empat kali.”
“Ada rencana yang kelima?”
“Entahlah. Kau?”
“Ummm…. Ada.”
“Aku juga ada, kalau begitu.”
“Kapan kira-kira?”
“Bagaimana kalau… sekarang?”
* * *
ruby_genes: Dean, kamu kapan pulang?
ruby_genes: aku kangen nih >.<
j_dean: hai rby.
ruby_genes: kok cuma hai, sih?
ruby_genes: aku kan tanya kapan kamu pulang?
ruby_genes: katanya cuma wisata tiga hari.
ruby_genes: ini udah seminggu, lho.
ruby_genes: kamu keasyikan ya, di sana?
j_dean: iua
ruby_genes: o.0 ??
ruby_genes: iua?
ruby_genes: apaan tuh?
ruby_genes: nama makanan khas sana?
j_dean: ya.
ruby_genes: ngomongnya yang jelas dong!
ruby_genes: gak ngerti nih aku
j_dean: sori
ruby_genes: Dean?
ruby_genes: kenapa sih?
ruby_genes: kamu marah sama aku?
ruby_genes: hei.
ruby_genes: kok enggak bawel kayak biasanya sih, kamu?
j_dean: engak.
ruby_genes: ? ? ?
ruby_genes: ngelindur atau apa sih ini orang?
j_dean: suka
ruby_genes: ha?
j_dean: kkkkauyiu
ruby_genes: ? ? ? *confused as hell*
j_dean: egaxjiloejroaj48ruiiiiiiii AA
j_dean: RAEST+RUTJOLRT
j_dean: SNXRUWAI6BRCJIARRFJSskasjakukisnxk
j_dean:aguiiiiiiiiiigsau7ggggggggggnisdfr
ruby_genes: Dean?!
j_dean is offline.
* * *
“Halo?”
“Jared? Jared! Oh, Nak….”
“Mama Ackles? Ada apa?”
“Ini tentang Jensen.”
“Jensen?! Kenapa – dia baik-baik saja, kan?”
“Jare, Jensen. Semalam dia kolaps dan sekarang… Oh, Tuhan….”
“Mama Ackles, tenang. Please. Aku akan – aku akan segera pulang. Tunggu aku. Apa yang lain sudah di sana?”
“Ayah dan ibumu sedang dalam perjalanan. Aku bersama Alan. Jared, please. Cepatlah. Aku tidak tahu kapan Jensen –“
“Dia akan baik-baik saja, Mama. Dia akan baik-baik saja. Aku segera ke sana.”
* * *
Mereka semua duduk di atas perahu kecil. Jared berada di antara kedua orangtuanya, berhadap-hadapan dengan suami istri Ackles. Alan memegangi pundak istrinya, dan Donna menaburkan abu putra tunggalnya sambil berurai airmata.
“Kau bilang kau akan datang ke acara wisudaku. Lihat siapa yang pengkhianat sekarang.”
Pikiran itu terus berkecamuk dalam hati Jared ketika ia memandang hampa pada air laut di bawah mereka. Menjelang musim dingin seperti ini, air tampak kelabu, menelan abu orang yang mereka cintai begitu saja seperti lubang hitam yang menakutkan. Kecuali fakta bahwa itu tidak menakutkan bagi Jensen. Baginya, laut selalu berarti kebebasan, tak peduli apa warnanya.
Jared mengusap mata keras-keras. Dia heran bagaimana airmatanya tak habis-habis juga. Dia sudah banyak menangis. Di perjalanan, ketika teringat Jensen terbaring koma. Di bandara, ketika Mama Ackles mengabarkan dia sudah terlambat. Di Rumah Sakit, ketika dia mendapati Jensen terbaring dingin tak bergerak. Di tempat kremasi, ketika ia sadar ia tak akan melihat Jensen lagi.
Padahal Jared sengaja pergi lebih lama demi mendapatkan foto pemandangan untuk Jensen. Padahal dia belum cerita tentang kencan terakhirnya dengan Genie, betapa manis itu berakhir. Padahal dia ingin Jensen menyambutnya dengan mata berbinar penasaran ketika ia pulang.
Jared merogoh saku dan mengeluarkan sebuah flashdisk, teringat batapa banyak foto yang tersimpan di dalamnya. Ia terisak pelan.
Kerja kerasnya untuk Jensen kini sia-sia.
* * *
“Jensen ingin kau membawa Brunette.”
“Tapi –“
“Ini satu dari beberapa keinginan terakhirnya, kau tahu. Lewat Brunette kalian tetap bisa berbincang-bincang. Dia ingin kau menjaganya.”
Jared menerima laptop coklat itu dari Mama Ackles. Dielusnya dengan sayang stiker yang tertempel di tengahnya, bertuliskan: BJJ: Best Jriend Jorever. Ia tersenyum kecil.
“Terimakasih, Mama Ackles. Akan kujaga dengan baik.”
* * *
Membuka Brunette serasa mengenal Jensen lebih dalam. Jared sudah berteman dengannya dan begitupun masih banyak yang ternyata ia tidak tahu. Dia tidak tahu Jensen masih menyimpan foto mereka saat kelas lima SD, atau ternyata sahabatnya itu suka mendownload lagu-lagu billboard. Tapi yang paling mengejutkan, ia tidak tahu Jensen, si sinis yang sepertinya tidak ada romantis-romantisnya itu, mempunyai sebuah folder berjudul ‘Treasure of My Heart’.
Jared membukanya. Ada beberapa file Word, semuanya diberi judul dengan tanggal.
19 Maret 2010
Dear Ruby,
Semenjak chatting pertama kita, kudapati diriku terpikat padamu. Terus kunanti pesanmu bagai benih kecil merindukan hujan, dan ketika kau datang, kurasakan getar bahagia dalam sanubariku. Kehadiranmu mengubah suara terbising pun menjadi nyanyian malaikat, mengubah persembunyian suramku ini jadi firdaus di muka bumi. Aku begitu ingin merengkuhmu dan tidak membiarkanmu pergi.
Sungguh ganjil apa yang kurasa ini. Perasaan yang begitu asing, baru, membuaiku dalam pelukannya yang misterius. Menggodaku, menggelitik hasratku dengan cara yang belum pernah kutahu.
Rubyku sayang,
Kurasa aku jatuh cinta padamu.
1 Juli 2010
Dear Ruby,
Hari ini hari pertama musim panas. Kau begitu gembira, melihat matahari bersinar cerah di kebun belakang rumahmu. Aku gembira untukmu, namun ketahuilah, hari-hariku telah bersinar sejak detik pertama aku mengenalmu.
Sinarmu menghangatkan hatiku, kaulah cahaya lembut yang menerangi padang hidupku. Kata-katamu menghangatkan tiap sudut taman jiwaku, menebarkan bunga warna-warni yang cantik, secantik dirimu.
Matahariku, Ruby,
Aku mencintaimu.
28 Agustus 2010
Dear Ruby,
Kutulis surat ini sambil memandangi rintik-rintik hujan menerpa jendela kamarku. Aku pun mulai bertanya-tanya, pernahkah kau menangis? Dibalik ceria dan semangat yang berkobar itu, semangat yang membuatku iri akan duniamu, pernahkah kau menumpahkan tetes-tetes duka dari mata indahmu?
Aku ingin menjadi seseorang yang berarti bagimu. Seseorang yang hidup untuk memelukmu dan menghapus airmatamu dan membuatmu tersenyum sepanjang waktu. Karena tanpa kau tahu, kau telah memberikan banyak hal padaku. Gelora cinta ini hanya salah satu.
Kuharap suatu hari nanti, akan tiba saatnya aku bisa berjalan dengan gagah, ksatria yang memenangkan perangnya, merengkuh Sang Putri dalam dekapan sayang. Membawamu ke buaian cinta sejati, selamanya.
Permataku, Ruby,
Peluk cintaku untukmu selalu.
6 September 2010
Dear Genie,
Genie. Andai aku bisa, kan kumainkan namamu di bibirku, menikmatinya bergulir dari lidahku. Sebab namamu begitu indah, seindah jiwamu.
Pagi ini kudengar sahabat terbaikku memujamu. Memperhatikan getar penuh cinta di wajahnya ketika membisikkan namamu. Hatiku sakit, lebih sakit daripada sejuta jarum yang menghujam tiap senti kulitku, lebih sakit dari ketidakberdayaan yang menunggangi setiap detik hidupku.
Dan malam ini, ketika kusadari kau pun memujanya, duniaku runtuh, hancur menjadi puing sedih tak berarti.
Namun begitupun, Sayangku, aku takkan pernah berhenti mencintaimu. Kaulah darah yang mengalir dalam nadiku, mahkota di kerajaan mimpiku.
Jika kau telah memilih pangeranmu, Genie-ku, maka aku akan tersenyum untukmu. Untuk sahabatku. Kalianlah belahan jiwaku, aku tak bisa kehilangan salah satu.
Namun ingatlah, tambatan hatiku,
Cintaku selalu bersamamu.
Untuk keentahberapakalinya, Jared menangis.
* * *
Sepasang kekasih berjalan bergandengan tangan di tepi pantai, angin kencang awal musim dingin tak mengurungkan niat mereka menyusur tanah berpasir putih.
“Aku senang akhirnya kau ikut bersamaku.” Genie tersenyum ke sepasang mata hijau yang dikaguminya. “Menyenangkan kan, melepas penyu? Mengetahui ada mahluk-mahluk kecil yang bisa hidup karena bantuan kita?”
Jared mengangguk tanpa suara. Diajaknya Genie duduk di hamparan pasir, tepat di pinggir batas ombak. Sesaat keduanya menatap deburan ombak dalam diam, tenggelam dalam benak masing-masing.
“Kau tahu, laut selalu mengingatkanku pada seseorang,” kata Jared akhirnya, memecah kesunyian.
“Oh ya? Siapa?”
“Namanya Jensen. Dia sahabatku sejak… entahlah, sejak aku bisa mengingatnya, kurasa.” Jared tersenyum kecil. “Kami selalu ke mana-mana berdua. Banyak yang mengira dia adikku karena tubuhnya yang kecil.”
“Atau karena kau yang kelebihan tinggi.”
Jared cuma tertawa dan menjambak rambut Genie sedikit. “Yeah, mungkin juga. Kami pergi ke sekolah yang sama, dan berjanji untuk kuliah bersama juga. Tapi….” Jared menarik nafas.
“…Dia tidak bisa. Jensen mengidap distrofi otot….” Cowok itu melirik lawan bicaranya untuk memastikan Genie tahu maksud perkataannya. “….kelainan bawaan yang menyebabkan ototnya mengecil. Dia berhasil melewati sepuluh tahun dengan baik-baik saja, tapi kemudian….”
Jared menghela nafas. “… kemudian Jensen harus dirawat di Rumah Sakit.”
Genie hanya menatapnya penuh perhatian, dan Jared berterimakasih untuk itu. Pada bagian ini, biasanya orang-orang akan bertanya penasaran dan tidak beretiket tentang kondisi Jensen, yang membuat Jared tidak nyaman.
“Tapi itu tidak menyulutkan semangatnya, kau tahu. Kadang aku sampai merasa malu padanya. Waktu kecil, dia bercita-cita jadi pilot agar bisa keliling dunia.” Jared tertawa kecil mengingat kenangan itu. “Dia menempel gambar tempat-tempat yang ingin ia kunjungi di dinding kamarnya, dan sering meledek ukuran kakiku dengan bilang, ‘kalau aku ke Himalaya, akan kubelikan kau sepatu Yeti’.”
Mereka berdua terkekeh pelan. “….bahkan ketika dia terbaring di Rumah Sakit pun, dia tidak menyerah pada mimpinya. Dan aku berusaha sekuat tenaga untuk membantunya. Aku pergi ke berbagai tempat, mengambilkan foto-foto, souvenir, video….” Selaput tipis airmata membayangi mata Jared yang menerawang. “….Sampai saat ini, aku masih berharap bisa menunjukkan lebih banyak tempat padanya. Tapi ternyata, dia memutuskan untuk berpetualang sendiri.”
Genie menelengkan kepala bingung, dan Jared menjawab sambil menatap laut dengan rindu.
“Jensen sudah pergi. Orangtuanya mengkremasi dan menaburkan abunya ke laut.”
Sunyi lama setelah itu, Genie tidak mengucapkan kata-kata penghibur, dan Jared juga tidak mengharapkannya. Mereka hanya duduk berdampingan memandangi laut kelabu ala musim dingin.
“Dia akan menjaga penyu-penyu kita, kan?” celetuk Genie, membuat Jared menunduk menatapnya. Gadis itu tersenyum. “Dia akan menjaga penyu-penyu kita. Sambil keliling dunia. Karena penyu kita penyunya juga.”
“Yeah,” tanggap Jared, setengah menangis setengah tertawa. “Yeah, dia akan melakukan itu.” Diremasnya jemari mungil Genie, merasakan lembutnya tangan seseorang yang begitu istimewa, yang menghangatkan hati dua pria.
Dan akan kujaga pertamamu yang paling berharga, Jensen, bisik Jared dalam hati, ketika bibirnya mengecup lembut dahi kekasihnya. Akan kujaga, karena cintamu cintaku juga.
END
Rabu, 07 Juli 2010
Label:
Character death
,
Jared Padalecki
,
Jensen Ackles
,
RPF
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
0 komentar :
Posting Komentar