Kamis, 02 Januari 2014

You're Never Too Old to Start (Re)Blogging



Phew, it's been so long since I last visited any blogging site (tumblr is an exception, thatthing isn't a blog, it's a fangirl's deepest, most gruesome sin, but we aren't here to discuss that).

Blogger.com sure has changed a lot! I got this Microsoft Word-ish page when I clicked on the "new post" button, very easy to use; such vast difference with the abomination that is the old blogger layout. You know, the one whose features were too simple that you find it hard to edit anything in it and choose to type your post in document instead and then upload it afterwards? Yeah, that one. Also the agonizingly slow internet (freakin' dial-up connection, if you still remember that jargon) that accompanied it like a leech. If you can recall it, congratulations, you're either a pro blogger, or--you know--getting too old, like me.

If you can't... well, you're either a novice, or too young to visit this adult blog.

Read more...

CHERIA WISATA: Jalan-jalan? Siapa takut!!!




Siapa yang tak suka jalan-jalan? Menikmati pemandangan indah menawan yang dapat melepas penat dalam pikiran. Terlebih dengan tren travelling yang semakin menjamur di Indonesia, kini jalan-jalan bukan lagi suatu kemewahan—itu kebutuhan! Dari pegawai kantoran hingga mahasiswa, baik pria maupun wanita, semua ingin merasakan senangnya berwisata.

Namun terkadang, seakan ada halangan bagi kaum muslim untuk menikmati aktivitas wisata. Travel agent yang menyediakan fasilitas premium dengan harga bersaing memang banyak, namun belum semua memfasilitasi kebutuhan beribadah, khususnya kaum muslim. Mulai dari tempat dan sarana ibadah, kecermatan memilih konsumsi selama perjalanan, seakan masih menjadi tanggung jawab individu. Wah, sudah ikut travel agent kok masih repot ya?
Read more...

Minggu, 27 November 2011

Sejuta Langkah dari Kasihmu



WARNING: This is an overdramatical true story. I mean I WROTE THIS FOR A COMPETITION SO I GOTTA MAKE IT AS DRAMATIC AS POSSIBLE 'KAY. Spare me some mercy, I already want to kill myself writing this so please don't mock me (1/2/2014)

Read more...

Senin, 30 Agustus 2010

SEASON IN THE SUN CHAPTER 2

Special Interview With Twinchester

Lena (L): Halo, Alec, Ben. Sebentar lagi waktu keberangkatan kalian akan tiba. Bagaimana perasaan kalian?
Alec(A) : Aku enggak sabar menanti momen ini. Aku bahkan menandai kalenderku setiap hari, seperti menunggu ulangtahun saja! (tertawa) Ini akan menjadi sejarah besar dalam hidupku, aku ingin segera melakukannya.
Ben (B): Yeah, setelah kerja keras bertahun-tahun, akhirnya kami berhasil mendapat kesempatan ini. Ini seperti mimpi yang jadi kenyataan. Aku sangat senang.


L: Sejak kapan, sih, kalian bercita-cita menjadi circumnavigator (pelayar yang mengelilingi dunia.red)?
B: Kami berasal dari keluarga pelaut. Kami besar dengan melihat kakak-kakak kami (Dean dan Sam Winchester)berlayar mengarungi samudera. Perjalanan mereka memberi pengaruh besar bagiku, sejak kecil aku tidak memiliki ambisi lain selain mengikuti jejak mereka.
A: Yeah. Aku sudah ingin (menjadi circumnavigator) sejak…. Sejak aku bisa mengingatnya, kurasa. Mimpi itu sudah tertanam bahkan sebelum aku menyadarinya.

L: Apa ada target khusus dalam perjalanan kalian? Memecahkan suatu rekor, misalnya?
A: Tidak, tidak. Kalau mau memecahkan rekor, harusnya kami berangkat waktu umur empat belas. Untuk mengalahkan Jess, kau tahu (Jessica, circumnavigator termuda saat ini, yang juga adalah sepupu si kembar.red)
B: Ini bukan perjalanan mengejar rekor, tapi semacam tradisi keluarga. Seperti Upacara Orang Dewasa di Jepang, atau orangtua yang menuang whisky pertama anak-anak mereka. Kami berlayar untuk membuktikan kedewasaan kami (Alec terkekeh, Ben tersenyum). Tapi bukan berarti kami santai-santai. Kami punya target untuk menyelesaikan ini maksimal delapan bulan. Dan sebisa mungkin berlayar non-stop – ini akan sulit, tapi kami akan berusaha.

L: Delapan bulan! Wow, itu waktu yang lama untuk ‘bergoyang’ di atas laut (si kembar tertawa). Apa saja persiapan kalian untuk perjalanan ini?
B: Banyak orang yang mempertanyakan kesiapan kami, tapi percaya deh, kami sudah menyiapkan segalanya. Bahkan sebelum mengetahui kapan akan berangkat, kami sudah berlatih dalam pelayaran-pelayaran jarak pendek. Kami punya Twinchester Team – mereka Tim Pendukung Perjalanan yang akan memantau kondisi dan menjalin komunikasi secara rutin. Untuk kebutuhan hidup, kami membekali diri dengan makanan dan tangki air berkapasitas tiga ratus liter, plus mesin penyuling air laut untuk keadaan mendesak. Perahu kami beserta perlengkapannya sudah lolos standar keamanan, jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan.

L: Lalu bagaimana kalau kalian kesepian dan kangen keluarga?
B: Oh, yeah… Itu termasuk isu besar kalau kau berlayar sepuluh tahun lalu (nyengir). Tapi sekarang dengan internet dan ponsel, keluarga hanya berjarak satu panggilan telepon. Kami memasang kamera di komputer, jadi tetap bisa bertatap muka dengan mereka. Sekarang, itu bukan masalah lagi.
A: Kurasa akan ada saatnya kami kangen sekali pada rumah…. dan tempat tidur yang nyaman. Tapi kalau kesepian sih, enggak kali ya. Kita ‘kan, berlayar berdua. Setidaknya ada teman senasib, deh. (nyengir pada Ben, Ben memutar bola mata).

L: Oke, pertanyaan terakhir. Apa kalian punya pacar yang menunggu kepulangan kalian? (tersenyum nakal)
A&B: (tertawa salah tingkah)
A: Tidak…. Itu bakal terlalu sinetron.
B: Yeah, kami belum punya pacar (wow, cewek-cewek! Kesempatan nih!). Kasihan kan, dia harus nunggu cowoknya main-main keliling dunia. Yang ada nanti dia cemburu lagi sama Dusan dan Pearl (tertawa). Pokoknya, aku mau fokus ke pelayaran dulu.
A: Aku juga. Kalau sudah pulang nanti, baru deh, aku coba nge-date dengan cewek. Semoga saja dia enggak bosan sama aku yang bisanya ngomong soal kapal melulu, hehehe….

Kalau cowoknya kayak Alec dan Ben sih, enggak bakal bosan ya girls? (LeHan)

(dikutip dari wawancara Lena Hansen, reporter majalah Seventeen! dengan Alec dan Ben Winchester)


* * *

Semakin hari Alec semakin kecewa saja dengan pelayarannya. Awalnya dia mengira bagian laut berangin pelanlah penyebabnya – membuat Dusan berlayar stabil, ombaknya mengayun-ayun badan perahu dengan pelan sehingga bikin ngantuk. Tapi ternyata, ketika sampai di daerah yang anginnya lebih kencang pun, tak ada tantangan berarti. Paling cuma Dusan yang makin bandel dikendalikan, maunya belok-belok keluar jalur terus, dan ombak jahat yang mengguyur dek ketika Alec melepaskan jaket anti airnya – meninggalkan dia basah kuyup macam anjing tercebur kolam. Atau lebih parah, membasahi pakaiannya yang sedang dijemur di tali tiang layar – tega benar sih, padahal Alec kan mencucinya dengan susah payah!

Tidak banyak yang bisa dilakukan untuk membunuh waktu kalau kau dikepung air asin sejauh mata memandang. Alec pernah mencoba memancing mengikuti saran Ben, berharap akan mendapat tangkapan spektakuler – minimal ikan tuna. Tapi dia langsung ngambek begitu mendapati hasil menunggu dua jamnya hanya seekor cumi-cumi. Menggerecoki Ben juga tidak asyik lagi. Tadinya gampang sekali membuat saudaranya itu tersulut hanya dengan pertanyaan omong kosong bernada serius seperti “hei Ben, menurutmu mana yang lebih bergizi untuk makan siang, kornet atau sarden kaleng?” dan “Ben, mungkin enggak ya, kalau kita ketemu The Flying Dutchman?” mendengarkan Ben mencak-mencak di radio lebih menghibur daripada mendengarkan lima ribu lagu di iPod-nya. Tapi kemudian pertanyaan-pertanyaan itu mulai basi dan Ben mulai kebal, sehingga sekarang kalau Alec bertanya sesuatu yang benar-benar penting pun (dalam hal ini, misalnya bagaimana cara mengeringkan baju tanpa diterjang ombak terus-terusan; dan bagaimana menghilangkan bau amis campur garam yang seperti menempel di badannya, tak peduli betapa sering ia mandi) Ben cuma menjawab dengan kalimat-kalimat singkat-padat-jelas. Membosankan.

Orang-orang rumah pun sama payahnya. Berdiskusi soal mekanisme perjalanan dengan mereka memang oke, tapi begitu topik beralih ke kehidupan sehari-hari, yang ada cuma bikin senewen. Alec kapok curhat ke Mary gara-gara disodori kuliah legendaris yang dimulai dengan kata ‘kau harusnya bersyukur!’ ketika ia mengeluh betapa menjemukannya pelayaran itu. Sam jarang bisa dihubungi karena sedang sibuk-sibuknya membuat skripsi. John tidak tertarik membicarakan hal lain selain kondisi Dusan; sedangkan Dean, orang yang paling enak diajak ngobrol, akhir-akhir ini sering digerecoki Seara yang cemburu jika ayahnya bicara dengan Alec, sehingga mereka tidak bisa berbincang lama-lama. Alec sampai heran, salah apa sih dia sama anak itu, sampai-sampai Seara begitu memusuhinya.

Akhirnya, ketika kejenuhan cowok itu sampai pada titik tergoda melompat ke dalam laut hanya untuk cari sensasi, ia menjajal saran (perintah) Ben yang selama ini tidak dihiraukan: ikut mengisi blog. Satu-satunya yang dikeluhkan sang navigator Pearl Wings itu sejauh ini adalah bagaimana Alec tidak mau membantunya meng-update blog, padahal nama blog-nya ‘twinchester’s journal’, yang artinya milik mereka berdua dan HARUSNYA diisi mereka berdua juga.

Jadi sore itu, sambil menenggak minuman penambah energi, Alec membuka internet dan masuk ke halaman blog. Ia langsung disambut catatan-catatan singkat-tapi-informatif buatan Ben. Untuk sesaat Alec hanya bengong menatap deretan kalimat di layar. Mana mampu dia membuat catatan harian seperti itu! Nilai bahasanya di sekolah saja mepet – dia lulus dengan mengerjakan tugas tambahan menulis makalah, yang dibantu (dan diedit habis) oleh Ben. Kalau sampai dia mencoba, bisa-bisa hasilnya dalah tulisan panjang tak bermakna yang tidak jelas maksudnya apa (menyadur pendapat Mrs Thompson, guru Bahasa Inggris; tentang karangan Alec).

Namun berhubung dia terlanjur menyanggupi perintah Ben, Alec berusaha memosting sesuatu yang sekiranya layak. Ia mengambil buku sketsanya yang tersembunyi di bawah bantal (kebiasaan di rumah untuk menyimpan gambar-gambar berharga agar tidak ditertawakan Sam dan Ben benar-benar sudah mengakar), dan sibuk memilah-milah lukisan yang ia buat selama pelayaran. Memang tidak sebagus karya-karya yang menumpuk di rumah – menggambar sambil terayun-ayun dalam perahu dan tanpa alat gambar memadai bukan sesuatu yang mudah – tapi ada beberapa sketsa yang cukup memuaskan. Ia memilih dua lukisan yang membuatnya tersenyum geli, memfotonya, lalu mengunggahnya.

Lukisan pertama diberi judul Pelayaran yang Kubayangkan; memuat Dusan terombang-ambing di tengah ombak ganas dengan sirip-sirip ikan hiu mengelilinginya dan Alec (diilustrasikan sebagai pria muda berotot macam Hercules) berjuang keras mengendalikan layar. Lukisan kedua berjudul Pelayaran yang Sesungguhnya, menggambarkan Dusan mengambang tenang di atas laut tanpa ombak, dan Alec yang melongok keluar – lengkap dengan mata sipit, tulisan ‘zzzz’ dan muka super bosan. Gambar yang jujur, sangat mendeskripsikan keadaan sejauh ini.

Di luar dugaan, orang-orang menganggap gambar Alec sangat kocak dan dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, ia sudah mendapat seribu dua puluh komentar yang memuji bakatnya. Itu bahkan dua kali lebih banyak daripada komentar untuk Ben dan ulasan ilmiahnya tentang salah satu spesies ikan yang bermigrasi pada musim dingin.

Ben tidak mau berkomunikasi dengan Alec selama seminggu setelah itu.

* * *

Kejadian luar biasa datang pada suatu malam di bulan ketiga pelayaran.

Malam itu tak ada angin sama sekali, kedua perahu hanya menggelincir dari bukit ombak satu ke bukit ombak lain – kalau tidak terbiasa, dijamin sudah mabuk laut. Alec berusaha memanfaatkan jam tidurnya semaksimal mungkin tanpa menghiraukan posisi perahu yang miring kesana kemari tidak keruan, sampai-sampai beberapa barang berjatuhan ke lantai.

Tiba-tiba radio berkeresak hidup, membangunkan cowok itu dari tidur-tidur ayamnya. Sambil menggerutu, ia menggapai-gapai mencari alat itu, sebelum akhirnya menemukannya terjepit di antara bangku tidur dan meja. Masih setengah tidur, Alec tanpa sadar menempelkan radionya ke telinga, seperti kalau sedang bertelepon. Ia langsung berjengit dan melempar radio itu begitu Ben bicara, suaranya melaung memekakkan.

“Kau ini ngapain, sih?” tanya Ben heran saat Alec sudah sadar sepenuhnya dan memungut kembali radio itu.

“Harusnya aku yang tanya begitu,” balas Alec sewot sambil menggosok-gosok kupingnya yang masih berdenging. Dia baru menyadari bahwa ternyata Ben kalau ngomong keras sekali. “Ngapain kau ngontak malam-malam begini? Ganggu orang tidur saja.”

“Maaf, deh, kalau aku ganggu,” jawab Ben, tidak terdengar menyesal sama sekali. “Padahal aku cuma ingin menunjukkan sesuatu yang hebat.”

“Sesuatu yang hebat apa?” kuap Alec. Ia terhuyung sedikit dan harus berpegangan pada meja ketika sebuah ombak menghantam sisi perahunya. Laut tanpa angin memang menyebalkan.

“Cepat ke geladak, kau bakal tahu sendiri,” kata Ben, seperti biasa menggunakan nada ikuti-saja-kata-kataku-kalau-mau-hidup-nya yang mengesalkan.

Alec mengambil jaket dan topinya, lalu berjalan terseok-seok keluar kabin menuju udara luar yang dingin dan lembab – cuaca malam khas samudera. Tanpa penghangat tubuh, dia bisa kena paru-paru basah.

Atmosfer di luar terasa menyeramkan. Kegelapan begitu pekat seolah ada kelambu hitam yang membungkus Dusan erat-erat, menekan dan menyesakkan. Bunyi kecipak air menambah cekam suasana – Alec merinding teringat film tentang gurita raksasa yang menyerang sebuah kapal. Bulan sudah tinggi, cahaya redupnya terpantul di air yang beriak-riak. Tak ada yang menarik dari suasana ini. Alec tak habis pikir kenapa Ben membangunkannya hanya untuk merasakan ‘momen horor’ di tengah laut.

“Apanya yang hebat, sih?” tanya Alec gondok sambil menatap Pearl yang merapung tenang di depan. Perahu putih itu tampak menakutkan di malam hari, melayang tanpa beban seperti hantu berjubah. Secara refleks Alec berdoa semoga yang mengontaknya adalah Ben sungguhan dan bukan setan laut iseng.

“Sssh, diam,” bisik Ben pelan suara nafasnya menderu di radio. Alec menghela nafas lega. Setan mana mungkin bisa nafas segala. “Dengarkan baik-baik, deh.”

Alec menajamkan telinga. Awalnya ia tidak mendengar apa-apa selain celepak air ditingkahi derit badan perahu yang bergerak perlahan. Tapi kemudian ia menangkap suara lain: lenguhan berat yang menggema di kejauhan, seolah ada kapal berbunyi di bawah permukaan laut. Kemudian, tanpa aba-aba, muncul semburan air, saling menyusul satu sama lain, bagai air mancur di taman kota. Hanya ada satu makhluk yang bisa menciptakan keunikan itu. Itu…. Itu….

“PAUS!” teriak Alec terpana-pana, matanya melebar, mulutnya melongo besar membentuk ekspresi yang nyaris komikal. “Itu paus! Ben! Kau lihat itu? Gerombolan paus!” Paus-paus itu melenguh keras seolah mengkonfirmasi keberadaan mereka, beberapa bahkan melempar diri ke udara terbuka untuk menunjukkan siluet mamalia besar, persis seperti paus di film Free Willy. Alec begitu terpukau sampai mau pingsan rasanya. Ada rombongan paus sungguhan melintas hanya beberapa kilometer dari tempatnya berdiri! Bahkan Dean pun tidak menjumpai pengalaman sehebat ini.

“Yeah, aku tahu,” ujar Ben, ada geli dalam suaranya. “Untung kau kubangunkan, kan?”

“Yeah.” Alec mengangguk gembira walau Ben tidak melihatnya. Ia nyengir dari kuping ke kuping. “Keren. Makasih, Ben. Kau memang paling top, deh.”

Ben terdiam sejenak, kemudian menjawab dalam gumaman salah tingkah, “Uhm. Tak masalah. Makasih juga…. Uh, untuk pujiannya.”

Cengiran Alec tambah lebar membayangkan ekspresi Ben, tapi ia tak menjawab lagi. Keduanya menonton paus-paus itu bermigrasi dalam keheningan yang menyenangkan, sampai mereka menghilang ke daerah gelap di luar jangkauan pandang.

* * *

Badai pertama menghajar Pearl dan Dusan tiga belas hari setelah malam paus. Angka sial itu memang ada.

Alec dan Ben hampir melintasi separuh rute keliling dunia mereka saat itu. Hari sedang cerah, bukan jenis terang-tapi-berkabut yang lebih sering mewarnai cuaca laut lepas, tapi cerah dengan matahari bersinar terik sampai-sampai si kembar meninggalkan jaket mereka dan berlayar hanya dengan celana pendek – mereka bahkan tidak repot-repot memakai kaos (didukung kenyataan persediaan kaos bersih mereka makin menipis – sulit membuat cowok di daratan untuk merutinkan kegiatan cuci baju, cowok di laut apalagi). Angin memang berhembus lebih kencang dari batas normal, tapi tidak cukup dahsyat bagi mereka untuk menyangka bakal ada badai.

Sampai kemudian, pukul satu siang, ketika Alec sedang berusaha menyelamatkan sarden makan siangnya yang gosong dan Ben mengobrak-abrik kulkas mencari selada beku; mereka menerima sinyal dari NAVTEX – sebuah sistem penyiaran otomatis yang memantau keadaan laut – tentang badai yang menghadang sekitar dua puluh jam dari posisi mereka.

Bisa dibayangkan betapa sibuknya si kembar sepanjang sisa hari itu. Mereka mengontak non-stop Tim Pendukung Perjalanan, meteorologis, dan mendiskusikan ploting posisi badai – kira-kira mereka bisa pindah haluan dan menghindarinya, atau tetap menembusnya. Karena badai itu tidak termasuk besar dan mengambil jalur memutar beresiko bertemu badai susulan yang lebih ganas, akhirnya diputuskan Alec dan Ben tetap menempuh jalan lurus.

Pukul tujuh keesokan harinya, cuaca mulai berubah. Kabut tebal turun begitu rendah, langit biru muda yang kemarin berubah warna menjadi kelabu gelap. Alec mengecek persiapan perahunya sekali lagi, memastikan alat komunikasinya berfungsi dengan baik, lalu mengenakan kostum khusus menghadapi badai: jaket merangkap pelampung, topi, kaus tangan tebal, kacamata anti air, dan sepatu karet untuk berjalan di dek licin. Dusan dan Pearl diset semi-autopilot, untuk meringankan beban navigatornya tetapi masih mungkin disetir menghindari ombak.

Ombak pertama menerjang kedua perahu layar itu pukul delapan lewat empat puluh menit. Bagai sebuah pertarungan yang baru dibuka, setelah itu laut langsung mengamuk, air berputar dan bergejolak, seolah ada sendok raksasa mengaduk-aduknya. Angin mendera dari segala penjuru, berderu seperti seribu kipas angin tua, ditadah layar yang menggelebat keras. Pearl dan Dusan terpaksa menjaga jarak lebih jauh agar tidak ada resiko bertabrakan.

Alec bergumul persis seperti karakter yang digambarkan dalam lukisannya. Tangannya memegangi setir erat-erat, seluruh ototnya menegang dalam usaha mempertahankan Dusan di tengah deraan angin dan hujan. Sebuah ombak besar mendorong bagian belakang perahu kecil itu, dan detik berikutnya, Alec menatap laut yang menggila dari kemiringan hampir sembilan puluh derajat, layaknya salah satu adegan dalam klimaks film Titanic. Ia berteriak sekencang-kencangnya, menghabiskan udara dalam paru-paru, ketika Dusan menukik turun bersama dengan ombak yang bergulung-gulung. Untuk sesaat cowok itu mengira dia akan mati, kemudian Dusan terhempas keras ke air. Bayangan gelap menutupi perahu itu, dan Alec sadar bahwa ia berada di bawah ombak, seperti para peselancar di Hawaii, hanya saja posisinya saat ini lebih mengancam nyawa daripada mereka. Buru-buru ia memutar setir, berlomba dengan waktu untuk keluar dari jangkauan ombak sebelum air yang tingginya dua kali Dusan itu menelannya.

Namun sia-sia. Dengan gemuruh keras ombak itu mengguyur Dusan secara brutal, membasahi setiap senti perahu itu, bahkan sampai kabin-kabinnya. Alec megap-megap, terbatuk dan muntah-muntah, mengerjapkan mata dari air asin yang membuat mata pedih, sambil terus berusaha mengemudikan Dusan. Suara cemas Ben mengumandang dari radio komunikasinya yang tergantung di sabuk dan terbungkus pelindung plastik.

“ALEC! ALEC, KAU ENGGAK APA-APA?! HEI! JAWAB!”

“Y-yeah,” sengal Alec, mengelap mulut. “Cuma ombak biasa. Kami enggak apa-apa, kok,” katanya, menunjuk dirinya dan Dusan.

Ben menghela nafas lega. Dia hampir kena serangan panik waktu melihat Dusan menghilang di balik ombak. Ia meletakkan radio kembali ke sakunya dan berkonsentrasi pada masalahnya sendiri. Sementara Dusan membutuhkan navigator yang lincah untuk menghindari ombak, Pearl butuh navigator yang kuat untuk menjaga keseimbangan. Di hari-hari biasa, Ben harus bekerja fisik lebih keras daripada kembarannya untuk menjalankan perahu yang beratnya minta ampun, tapi di tengah badai begini, rasanya seluruh sendinya hampir copot hanya untuk membelokkan Pearl ke arah yang tepat.

Tiba-tiba ombak besar menghantam sisi kanan Pearl, dan Ben kurang cekatan memutar setirnya. Perahu putih itu oleng dengan bunyi lenguh keras, seperti bunyi air ditumpahkan dari kuali tembaga. Ben tergelincir dari posisi berdirinya, jantungnya melompat ke tenggorokan waktu kedua kakinya tercebur ke air laut yang dingin. Untung refleksnya bagus, ia segera menyambar tali baja khusus yang dirancang untuk menyelamatkan navigator dari bahaya jatuh ke laut, mengangkat tubuhnya ke dek dengan susah payah sementara Pearl terempas kesana-kemari.

Baru separo berdiri dengan satu tangan meraih setir dan yang lain tetap erat berpegangan pada tali, ombak baru muncul, kali ini tingginya tepat mencapai ujung tiang layar Pearl. Ben hanya sempat berpikir, ‘Oh, Tuhan….’, dan kemudian ombak itu mengguyurnya bagai seorang ibu mengusir kucing dengan seember air. Begitu besar debit airnya hingga selama beberapa detik Ben tidak bisa bernafas maupun melihat, hanya ada air dan air menghajar Pearl tanpa ampun. Cowok itu bahkan tidak yakin apa dia masih berada dalam perahu atau sudah terseret ombak dan tenggelam. Baru ketika ombak itu menyurut dan Pearl kembali berdiri gagah di atasnya, Ben membuka mata dan memposisikan diri dengan layak di belakang setir.

“Alec, bagaimana keadaanmu?” tanya Ben, berharap Dusan tidak ikut terserang ombak barusan.

“Oke,” jawab Alec, dan dia memang terdengar oke, tidak ngos-ngosan seperti tadi. “Kami enggak kena ombak itu. Aku menghindar tepat waktu. Kau?”

“Hampir tercebur ke laut, tapi bisa kuatasi.” Mata Ben mengecek cepat kondisi sekitarnya, mencari kalau-kalau ada kerusakan. “Pearl juga aman-aman saja, sepertinya.”

“Bagus. Kurasa aku mulai terbiasa dengan badai ini,” kata Alec, dan dalam situasi begini, Ben bisa menangkap nada puas diri dalam kata-kata adik kembarnya. “Selama badai ini tidak memburuk, kurasa aku bakal selamat.”

“Yeah, aku juga” sahut Ben sambil bermanuver menghindari ombak yang siap mengguncang perahunya lagi. Ha! Dia tak akan melakukan kesalahan dua kali.

Sisa badai itu dilewati dengan cukup mulus, Dusan ‘hanya’ tertelan ombak dua kali lagi dan Pearl nyaris membelok memblokir jalur Dusan karena Ben kehabisan tenaga mengendalikannya, tapi semua bisa ditangani dengan baik. Mereka keluar dari area badai dengan selamat, tanpa cedera maupun kerusakan parah, dan kedua navigator itu menghabiskan waktu tenang mereka berhibernasi, memulihkan kondisi tubuh yang capek, sekaligus menahan rasa mual yang terus-terusan muncul setelah enam jam dikocok dalam badai.

* * *

3 Mei 2010
CATATAN PASCA BADAI

Terkait masalah badai kemarin, kami menerima banyak sekali email yang menanyakan kondisi kami. Aku, Alec, bersama Dusan dan Pearl, baik-baik saja dan berhasil melalui badai itu tanpa hambatan berarti. Ada sedikit kerusakan di layar utama Pearl, bagian ujungnya sobek karena terhantam ombak, tapi itu bukan masalah besar – aku akan memperbaikinya segera setelah kecepatan angin menurun. Sementara itu, Dusan tetap utuh seperti baru, hanya beberapa alat elektronik Alec, seperti iPod dan ponsel yang tidak anti air, rusak ketika ombak masuk ke kabin.

Kelembaban udara saat ini sangat tinggi, kami harus menyimpan gadget-gadget sebagai tindakan preventif terhadap lebih banyak kerusakan. Karena itu, untuk sementara ini aku dan Alec tidak akan mengepos foto maupun video. Walaupun begitu, komputer bawaan perahu didesain khusus untuk perjalanan laut, jadi *semoga* masih tetap berfungsi dengan baik dan kami tetap bisa mengepos jurnal harian.

Terimakasih atas semua doa dukungan kalian, baik dari email, komentar, maupun telepon ke Twinchester Team. Kami benar-benar menghargai dukungan kalian. B.W.


TBC
Read more...

Rabu, 25 Agustus 2010

JERAWAT, WAW WAW!

Pagi hari, Tari masuk kamar mandi, masih setengah tidur. Dia nguap lebaaar banget, sampai ada lalat yang tergoda untuk masuk ke dalam ‘ Gua’ nya. Untung tuh mulut sudah nutup lagi sebelum si lalat sempat menclok, kalau nggak, si lalat pasti menemui ajalnya gara- gara aroma maut mulut belum terbilas odol. Pertama- tama, Tari ngaca dulu di cermin peninggalan buyutnya. Apa yang terlihat? Biasa. Pup ( ups, sorry)nya mata yang gede- gede, upil kering di permukaan hidung, dan, tentu saja, noda putih panjang jalur iler semalam. Tapi.... hei! Ada penghuni baru di wajahnya sekarang. Ia tinggal di antara kedua alis tebal, diatas hidung.

Apakah itu? Ini petunjuknya: dia bulat, berwarna merah. Para gadis takut padanya, walau ia cuma sebesar manik- manik. Nah, apa Anda sudah menemukan jawabannya? Yak, benar! Itu adalah JERAWAT!!! Deng deng deng!


“ AAAAARRRRGGGHH!!!!”

Seisi rumah langsung heboh. Bi Darmi yang latah, langsung deh nuangin setengah botol minyak ke wajan sambil teriak, “ e lha, lha, lha, lha, lha!”. Adek yang lagi gosok gigi, jadi nelen busa odol. Papi kesandung kakinya sendiri pas jogging di tempat. Mami lebih parah, jatuhin semangkuk penuh sup buat sarapan gara- gara kaget. Cuma Mbak Adis aja yang nggak keganggu. Maklum, telinganya emang rada- rada gimanaaa.... gitu!

Mami, adek, dan Bi Darmi tergopoh- gopoh ke kamar mandi. “ Ada apa sih, Ri?”

“ Mam, lihat, nih!” adu Tari, menunjuk jerawatnya.

“ Hahahaha!!” tawa adek meledak. Brul! Brul! Odol menghambur kemana- mana.

“ Iiih, jorok tau! Lagian ada orang kena musibah kok diketawain! Jahat nih!”

“ Habis.... hehehe... habis.... gyahahahahaha!!!!”

Pipi Tari merona merah. Dia tahu persis kenapa adiknya tertawa. Tuh jerawat memang nggak kira- kira nongolnya. Masa dia pilih tempat pas ditengah- tengah dahi? Kan jadi kayak orang India acha-acha!

“ Mam, gimana, dong?”

“ Gimana apanya? Orang sudah punya jerawat, tandanya sudah gede!”

“ Iya juga, ya. Eeh.. tapi, masa Tari harus ke sekolah dengan muka begini?”

“ Lha, emang biasanya mukamu kayak apa?”

“ Mam, please! Maksudnya, ini jerawat diapain gitu lho biar nggak kelihatan!”

Mami diam sejenak, berpikir. Tari mengharap banyak, soalnya air muka Mami tumben serius. “ Yah, ditutupin aja!” katanya kemudian.

Gubrak! Kirain usulnya lebih canggih dari ini. “ Ditutup pakai apa, Mam?”

“ Tau. Mau poni kek, mau sorban kek, terserah. Sekarang Mami mau aerobik dulu, ya. Kamu mandi sana, keburu siang!”

Dan Mami berjalan ke ruang TV untuk menyetel kaset aerobik barunya, meninggalkan Tari sendirian, kerepotan sendiri gara- gara jerawat pertamanya.

* * *

Walhasil, pagi itu Tari berangkat sekolah dengan topi menutupi separuh wajahnya. Kasihan si topi, harus kerja keras menjangkau seluruh permukaan kepala Tari yang gedenya ya ampuuun!

Untungnya, hari ini termasuk satu dari segelintir hari langka, dimana Tari beruntung. Jam pertama dan kedua kosong, soalnya Bu Ika penataran. Fiuh! Padahal beliau guru killer yang belum pernah izin sebelumnya. Anak- anak pada gila- gilaan ngerayain rekor ini. Ada yang syukuran pakai nasi bungkus, nyanyi- nyanyi walau suaranya super fals, sampai joged- joged nggak jelas di depan kelas. Kegembiraan mereka memuncak saat diberi tahu bahwa pelajaran ketiga juga kosong. Berarti nggak ada pelajaran sampai istirahat dong! Yippi.....

Bagi Tari pagi itu berjalan amat sangat menyenangkan. Dia bisa ngobrol sampai kram mulut sama Uwi, teman sebangkunya, dan pastinya, untuk sementara ini, jerawatnya gagal nampang.

Pas istirahat, anak- anak sudah pada capek plus laper, jadi mereka semua langsung menyerbu Parman’s Shop alias Warung Pak Parman di belakang sekolah sana. Semua anak, kecuali Uwi dan Tari. Uwi mengeluarkan lunch box dari tasnya. Dia satu- satunya anak di kelas, dan mungkin juga di sekolah, yang masih bawa bekal dari rumah. Bukannya cupu or alergi sama makanan kantin, tapi Uwi nggak pernah sempat sarapan di rumah. Habis, tiap pagi dia harus menempuh jarak 8 km naik angkot! Jam berapa berangkatnya, coba? Tari sih nggak keberatan Uwi bawa bekal, dia toh nggak terganggu. Malah, kadang- kadang Tari untung, soalnya kalau Uwi lagi bolong, dia dengan sukarela membagi bekalnya. Lumayan juga kan buat ngirit!

“ Uuuuwiiii, bagi dong mie gorengnya,” pinta Tari bernafsu. Dalam hati ia berdoa, semoga hari ini Uwi nggak pelit.

“ Tumben jam segini kamu udah lapar,” kata Uwi heran.

“ Em... aku tadi nggak sarapan, sih,” kata Tari memelas. Memang benar, Tari sekeluarga tadi berangkat dari rumah dengan perut kosong. Gimana mau sarapan, orang supnya sudah jatuh, dan telur dadarnya kerendem minyak?

Uwi jadi iba ( sekaligus ngeri) melihat ekspresi Tari pas ngeliatin bekalnya. Akhirnya dia memutuskan untuk berbagi bekal sama sahabatnya itu.

“ Horeee.... matur thanks ya,” sorak Tari. Ia segera menyerbu mie goreng Uwi.

Tapi dasar Uwi jahil, dia tarik topi Tari sampai lepas. Emang dari tadi Uwi penasaran banget, kok si Tari nggak mau nglepas topi. Uwi sampai curiga, jangan- jangan Tari kena bisul di kepala. Hihihi...

“ Uwiii!!! Nggak usah jahil!!!”

“ Hah! Hwahaha!” Uwi terpingkal- pingkal. “ Ohok! Ohok!” dia tersedak, mie gorengnya keluar dari hidung, kayak cacing uget- uget. Tari puas tapi jijik juga melihatnya.

“ Rasain, makanya nggak usah gitu deh Wi!”

Uwi nggak dengerin. Usai batuk- batuk dia nglanjutin tertawa. Jerawat Tari lucu banget, sih. Udah bulat sempurna, merah, pas ditengah kepala pula. Padahal wajah Tari kan putih mulus. Jadi kayak tombol lampu!

* * *

Hari demi hari berlalu. Jerawat Tari masih tetap bandel, nggak mau minggat. Tari makin lama makin frustasi aja menghadapinya. Dia merasa sudah kalah telak.

“ Uh, Wi... aku pencet aja kali ya nih jerawat. Bikin sebel! Huh-huh-huh!”

“ Eh, jangan, nanti bekasnya bolong, lho,” tegur Uwi.

“Bolong? Kayak abis ditembak gitu?”

“Yep.”

“ Uh, kalau gitu sih mending nggak dipencet sekalian. Terus gimana dong?”

“ Nah, karena aku ini karibmu, aku cariin obat biar tuh jerawat gone with the wind tanpa meninggalkan bekas. Bentar....” Uwi mengaduk- aduk isi tasnya, lalu mengeluarkan kertas yang teremas mengenaskan. Uwi meratakannya di meja.

Disitu tertulis obat tradisional bernama aneh yang bisa mengobati semuaa penyakit kulit dari panu sampai bisul, semua bisa diatasi.

“ Wow, keren! Ini bener- bener manjur, nih?”

“ Iya dong, mujarab banget,” jawab Uwi ngasal. Orang dia sendiri belum pernah nyoba kok ditanyain.

“ Hmm... oke deh. Besok anterin aku ke Kantor Pos ya, buat kirim wesel. Aku mau pesen satu,” ujar Tari yakin. Harganya mahal banget sebetulnya, tapi karena Tari udah nggak betah hidup bareng si jerawat, ya udah, relain aja uang saku sebulannya.

* * *

“ Uuuuwiiiiiii!!!!!”

Uwi terlonjak kaget. PR yang dia kerjain jadi kecoret. Dasar, siapa sih yang ribut- ribut pagi- pagi begini? Jelas, jawabannya ya si Tari.

“ Ri, ngapain sih teriak- teriak segala?”

“ Wi, liat, gara- gara kamu jadi gini deh!”

Tari membuka topinya. Seperti biasa, tawa Uwi meledak, hanya kali ini lebih keras. Di dahi Tari sekarang ada dua jerawat bulat merah, seperti mata kelinci.

“ Uwi! Ada orang susah kok diketawain!” Tari kedengaran hampir nangis. Iyalah, dia kan sudah keluar banyak duit buat beli obat tradisional itu, yang dikirim empat hari lalu. Tari berharap tuh jerawat segera musnah dengan bantuan obatnya, tapi harapan tinggal harapan. Bukannya hilang, si jerawat malah ngajak temannya singgah ke kediamannya segala.

“ Hehe... eh, umm... obatnya nggak terlalu manjur, ya?” Uwi tergagap.

“ Nggak terlalu manjur?? Uwi, bangun dong! Nih jerawat malah tambah subur, tahu! Lihat, sampai beranak segala! Pokoknya kamu harus tanggung jawab!” Tari meledak.

“ APA?! Eh, i..iya deh, jangan nangis dong! Oke, nanti sore kita ke mall, ya. Aku cariin obat jerawat lain!”

* * *

Sorenya, seperti yang sudah mereka sepakati, Uwi dan Tari bakal ketemuan di depan mall. Uwi jadi nyesel nunjukin brosur sialan itu ke Tari. Padahal maksudnya mau membantu, eh, sekarang dia malah harus mengganti rugi pada Tari, membelikannya obat baru.

“ Wi, udah lama nunggunya?” tanya Tari. Dia muncul tiba- tiba entah darimana.

“ Kamu bikin kaget aja! Hah, kamu pakai apaan?” tanya Uwi shock. Gimana nggak, sobatnya pakai ikat kepala norak warna kuning. Iiih, pantas orang- orang dari tadi ngliatin. Mereka mengira Tari pendekar nyasar dari negeri antah berantah.

“ Ini bandana, Wi. Aku pakai gini buat nutupin jerawat. Kamu kan tahu aku nggak punya topi selain buat seragam, dan katanya jerawat nggak boleh ditutupin pakai poni. Nah ditutup pakai ini aja. Keren, kan? Eh, udah yuk, cepetan, nanti keburu malam!”

Tari berjalan masuk ke mall. Uwi mengikuti di belakangnya, berusaha menjaga jarak. Jangan sampai ada orang, apalagi cowok cakep, yang tahu bahwa dia adalah sahabat cewek sinting yang pakai bandana buat nyembunyiin jerawat.

Sore itu menjadi sore paling seru bagi Tari, sekaligus paling sengsara bagi Uwi. Sadar kalau dirinya dibayari, Tari langsung belanja macam- macam. Mulai dari sabun, scrub, kertas penyerap minyak, dan pasukan pembasmi jerawat lain. Nggak tanggung- tanggung, Tari beli yang king size. Alasannya sih, biar nggak usah beli lagi.
Padahal motif sebenarnya ya... buat balas dendam ke Uwi! Waduh!!!

* * *

Pagi hari, Tari masuk kamar mandi, masih setengah tidur. Dia nguap lebaaar banget, sampai ada lalat yang tergoda untuk masuk ke dalam ‘Gua’nya. Untung tuh mulut sudah nutup lagi sebelum si lalat sempet menclok. Kalau nggak, si lalat pasti menemuai ajalnya gara- gara aroma terapi maut dari mulut yang belum dibilas odol. Pertama- tama ia ngaca dulu di depan cermin peninggalan buyutnya. Apa yang terlihat? Biasa. Pup ( ups, sorry) nya mata yang gede- gede, upil kering di permukaan hidung, dan tentu saja, noda putih panjang, jalur iler semalam. Tapi.... hei! Ada yang baru di wajah Tari. Si jerawat telah menemui ajalnya. Kempes. Tewas. Lenyap tak bersisa.

“ HOREEEEEEEEEEEE!!!!!!!”

Seisi rumah langsung heboh. Bi Darmi yang latah, langsung deh nuangin setengah botol minyak ke wajan sambil teriak, “ e.. lha.. lha.. lha.. lha.. lha..!”. adek yang lagi gosok gigi, jadi nelen busa odol. Papi kesandung kakinya sendiri pas jogging di tempat. Mami lebih parah, njatuhin semangkuk penuh sup gara- gara kaget. Cuma Mbak Adis yang nggak keganggu. Maklum, telinganya emang rada- rada gimanaaa.... gitu!

Mai, adek, dan Bi Darmi tergopoh- gopoh ke kamar mandi. “ Ada apa sih, Ri?”

“ Mam, jerawatnya ilang! Jerawatnya ilang, Mam! Jerawatnya IIILLLAANGG!!”

* * *

Siangnya Tari slametan. Aslinya dia mau ngajak Uwi aja, tapi keluarganya emang usil berat. Waktu Tari nelpon Uwi, Mbak Adis dan adek nguping. Terpaksa deh mereka juga ikut ditraktir, makan sepuasnya di warung pojok. Tapi untuk kali ini nggak apalah. Toh Tari juga sedang senang luar biasa. Jerawatnya sudah angkat kaki, membuat wajahnya kembali halus, sehat berseri. Satu pesan buat jerawat: sekali- sekali mampirlah ke wajah Uwi, biar Tari bisa gantian ketawa. Hihihihi!

“ Mbak, mbak! Baksonya satu lagi, ya. Yang banyak gajihnya. Oh iya, es klamudnya juga satu!” kata Mbak Adis antusias.

“ Mbak, udah, dong! Nanti uangnya nggak cukup! Lagian, kok nggak malu, sih. Cantik- cantik eh, makannya seabrek!” tegur Tari setengah jengkel. Heran, kakaknya ini model, putri sekolah yang tampak anggun, langsing, cantik pula. Tapi nafsu makannya, wuih, gila! Kalau nggak ditahan bisa ngalahin Papi. Tadi dia sudah melahap lima tempe goreng, empat tahu isi, dua mangkuk bakso, semangkuk mie ayam, tiga ketupat, tiga pisang goreng, dua gelas es buah, segelas soda gembira, eh, sekarang masih nambah lagi! Jangan- jangan perut Mbak Adis seperti kasih ibu, tak ada batasnya. Tari, Uwi, dan adek saja sampai kenyang cuma dengan melihat Mbak Adis makan.

Setelah semua orang puas ( sebenarnya Mbak Adis belum), Tari mendatangi Pak Parnocoro, yang konon fobia kecoa. Pak Parnocoro menyerahkan bon pada Tari, yang melotot melihat jumlah angkanya. Lima angka diawali angka lima. Glek!

Tari sudah akan membayar ketika.....

...... dia menyadari......

........ bahwa dia bokek! Nggak punya uang sama sekali. Klepek- klepek. Kok, Tari bisa lupa kalau jatahnya bulan ini sudah kandas buat beli obat aneh pengundang jerawat? Huh, dasar jerawat terkutuk! Sudah hilang, masih juga menyisakan derita.

Tari berpikir keras. Mau pinjam uang Mbak Adis, nggak mungkin, dia aja Credit Queen. Adek apalagi, kantongnya kering terus! Uwi, dia sudah bangkrut karena beli obat jerawat yang belum habis dipakai. Gimana nih? Masa mau kredit di warung? Nggak level atuuhh..........

“ Ada apa sih, Ri, kok lama lama bener?” tanya Uwi, melongok dompet Tari. Kosong melompong. Tepat saat itu, kesetresan Tari mencapai puncaknya.

“ AAAAARRRRGGGHH!!!!!!!!!”

“ HAHAHAHAHAHAHAHAHA!!!!!!!”

Read more...

HEROES

Ketika mendengar suara penuh kegembiraan dari taman belakang, aku segera mendapat firasat buruk. Hal-hal yang membuat keluargaku begitu gembira biasanya merupakan bencana bagiku. Khawatir sekaligus penasaran, aku melangkah masuk ke taman, dan mendapati Mama, Papa, serta kakak perempuanku sedang mengerubuti sesosok tanaman berdaun mirip kuping gajah.


“Dan, coba lihat apa yang dibawa Papa!” kata Mama sekaligus sebagai kata sambutan.

Anthurium crytallinum lho Dan!” seru kakak, seolah aku tahu saja makna di balik nama itu.

Aku mengerutkan dahi, mengamati gerombolan daun dalam pot itu. Tanaman itu bahkan tidak berbunga. Apa sih yang membuat mereka begitu tertarik? Oh iya, aku lupa, keluargaku kan punya Gen Pecinta Tanaman – sesuatu yang tidak menurun kepadaku. Entah aku harus sedih atau bersyukur karenanya.

“Berapa harganya?’ tanyaku curiga. Terakhir kali, Papa membawa bonsai yang harganya setara dengan laptop Apple versi terbaru.

“Papa beruntung punya kenalan yang mau kasih murah. Cuma sepuluh juta,” jawab Papa berpuas diri.

Aku terkesiap. “APA?! Tapi Ma, katanya bulan ini aku mau dibeliin motor?” protesku, mulai merasakan hawa-hawa tidak beres.

“Motor?” ulang Mama bingung.

“Iya, Mama udah janji kan?”

“Oh,” kata Mama, “motornya besok-besok aja ya, Sayang. Sekarang Anthurium-nya dulu. Tuh, cantik banget, kan? Mending juga Anthurium daripada motor. Lagian kamu kan masih bisa numpang Papa ke sekolah.” Mama mengatakan hal itu dengan sangat enteng, tanpa menyadari efeknya bagiku.

Aku menatap Mama tak percaya, lalu mengalihkan pandang pada Papa dan kakak yang kini berdiskusi seru tentang berbagai tumbuhan sejenis. Ingin sekali aku menendang pot itu, menginjak-injak si Kuping Gajah, dan berteriak, “anybody sane here?!”

*

“Kesimpulannya, kamu dikalahin sama Anthurium crytallinum nih?” kekeh Tia usai mendengar ceritaku. Kami berdua berjalan melintasi lapangan menuju halte bus – sesuatu yang tak perlu kulakukan andai tidak ada genus Anthurium di muka bumi.

“Kuping Gajah,” tukasku jengkel. Aku menolak menyebut atau mendengar nama tanaman yang lebih canggih daripada namaku. Teristimewa karena tanaman itu telah menghancurkan hidupku. “Please deh, gara-gara DAUN aku harus bersumpek ria di bus sampai bulan depan. Kadang aku nggak habis pikir sama jalan pikiran keluargaku.”

Tia terkekeh lagi. Oh ya, gampang memang menertawakan orang. Coba dia yang ada di posisiku, bagaimana perasaannya, aku mau tahu?

“Tapi Dan, paling nggak kamu mengurangi emisi yang bisa memperparah Global Warming,” hiburnya.

Global Warming itu kan....?” aku berusaha sebisa mungkin menutupi nada bertanya dalam kalimatku.

Oke, silahkan panggil aku Dana Dungu. Boleh saja aku ngenet sama seringnya dengan Tia, tapi sementara dia sibuk meng-update berita tentang Obama dan Hillary Clinton, aku sibuk meng-update Friendster-ku. Satu-satunya berita internasional yang kubaca adalah dari perezhilton.com. Jadi, waktu kata Global Warming hinggap di telingaku, yang terbayang adalah.... ehm. Perang Dunia Ketiga. Jangan tanya kenapa.

“Iya, Pemanasan Global, kerasa banget kan, kalau belakangan ini udara tambah panas?”
sahut Tia. Aku bersyukur dia tidak mendengar otakku berseru, oh, jadi Global Warming itu hubungannya sama LINGKUNGAN toh?

“Kenapa nggak punya motor bisa bikin cuaca jadi nggak panas?” tanyaku. Tanpa kata ilmiah macam ‘emisi’, tapi setidaknya sesuai topik.

Sahabatku lalu mengoceh tentang emisi karbon yang dihasilkan kendaraan bermotor sekaligus andilnya dalam pencemaran udara. Aku cuma manggut-manggut, persis boneka anjing pitbull di dasbor mobil Papa. Aku heran kenapa Tia harus berkutat dengan kata-kata rumit untuk mengatakn sesuatu yang intinya ‘asap motor menyebabkan polusi udara’.

Tia masih mengungkit-ungkit Global Warming saat bus kami datang. Jujur, aku telah kehilangan makna dari tiga perempat monolognya, bahkan sampai menangkap kata ‘vampir’ segala – yang jelas merupakan indikasi bahwa aku tidak menyimak (apa kaitan musuh Van Helsing dengan Pemanasan Global?).

Namun aku sempat memikirkan, dan tidak setuju, pada pendapat Tia bahwa tanpa motor aku bisa memperlambat kerusakan bumi. Memang apa pengaruhnya satu motor? Kalaupun aku berkorban sebagai penumpang bus, tetap ada jutaan orang di luar sana yang menghasilkan polusi dari kendaraan mereka – dan aku sama-sama menanggung akibatnya. Kenapa juga aku harus sok jadi pahlawan – yang akhirnya sia-sia?

*

Sorenya aku bela-belain nongkrong di alun-alun buat OL gratis. Nggak lucu dong, kalau Tia tahu sebenarnya aku tak tahu apa-apa soal world issue yang kayaknya lagi booming banget, berdasarkan reaksi kakak dan Mama waktu kutanyai tadi. Aku memang tidak suka mengurusi sesuatu yang ‘sulit’, tapi aku lebih tidak suka jika harus kalah dari Tia.

Kuketik keyword ‘Global Warming’ dan kagetlah aku. Result menunjukkan ada empat puluh delapan juta topik, termasuk di dalamnya polusi, krisis sumber daya alam, pencairan es di kutub dan bla... bla.... bla... istilah-istilah yang aku tidak mengerti maksudnya apa. Hebat. Ini bahkan empat kali lebih banyak daripada result untuk ‘Gossip Girl’. Aku memilih topik yang sekiranya paling gampang dimengerti dan mulai membaca.

*

Dua jam kemudian, aku benar-benar tenggelam dalam Dunia Pengetahuan – region yang baru bagiku (bukan berarti aku tak pernah belajar, tapi kau tahulah maksudku). Makin banyak aku membaca, makin bodoh aku merasa. Betapa cueknya aku selama ini! Dengan fanatik aku memuja parfum dan hairspray, tanpa menyadari ‘pengkhianatan’ mereka. Sama sekali tak terlintas di benakku bahwa benda-benda yang membuatku cantik dan tambah percaya diri, ternyata mengancam orang-orang di negara tropis meninggal karena kepanasan hanya dalam tempo beberapa dekade ke depan. Dan aku juga tidak salah dengar tentang ‘vampir’ rupanya. Ada istilah Energi Vampir, definisinya membuatku bersumpah akan mencabut semua charger nganggur saat sampai di rumah nanti.

Sekarang aku paham kenapa Tia begitu bangga naik angkutan umum. Tanpa motor pribadi, seseorang bisa mengurangi BERTON-TON emisi dari muka bumi. Rasanya tolol sekali orang yang menganggap itu hal sia-sia – dalam hal ini, sayangnya, aku salah satu dari mereka.

Mendadak aku bersyukur belum dibelikan motor. Dengan begitu aku mendapat kesempatan untuk membuka mata. Aku mendapat kesempatan untuk berubah, menjalani hidup yang lebih baik, bukan hanya untukku, tapi juga generasi masa depan. Andai Tia dan Si Kuping Gajah bisa mendengarku sekarang, keduanya pasti akan melambung bangga, sebab diam-diam aku berterimakasih pada mereka.

*

“Apa, coba bilang lagi?”

Aku dan Tia melintasi lapangan yang biasa, menuju halte yang biasa, seperti biasa menunggu bus. Hanya kali ini sahabatku tidak terkekeh, melainkan melongo, matanya membeliak sebesar piring.

“Iya Tia Sayang, aku batal beli motor,” aku menegaskan, gantian terkikik melihat ekspresi Tia yang sama persis dengan keluargaku kemarin. Mereka bagai tersambar petir waktu aku bilang tidak berminat lagi pada motor, dan malah minta diantar ke toko bunga. Yah, wajar saja sih, aku sendiri kaget dengan pilihanku. Mungkin Gen Pecinta Tanaman yang selama ini resesif mulai muncul ke permukaan.

“Tapi Non, masa kamu beli tanaman hias seharga..........”

“Sebelum kamu selesai, nggak, aku nggak beli tanaman itu,” potongku. Meski sudah mulai menyukai tumbuhan, bukan berarti aku mengikuti cara keluargaku yang bisa dikatagorikan sebagai pemborosan tingkat tinggi. “Aku beli bibit pohon terus kusumbangin ke kampung, itung-itung buat reboisasi. Oh, aku juga ikut program... apa itu namanya... yang melihara pohon lewat internet....”

“My Baby Tree?” bantu Tia, tersenyum kecil mendengar deskripsiku.

“Ya, itu. Terus sisa uangnya kutabung, soalnya aku pingin bikin taman kecil deket kamarku,” aku menyelesaikan penjelasan dengan bangga, bukan hanya karena telah melakukan tindakan ramah lingkungan, tapi juga karena mampu menyebut-nyebut ‘reboisasi’ dalam percakapan. Sebuah kemajuan besar bagi seorang cewek yang tadinya tidak tahu Global Warming itu apa.

“Wah, keren Dan. Kamu bener-bener pecinta alam sejati,” puji Tia kagum. Aku meringis. Ada hal-hal yang harus kau rahasiakan dari sahabatmu selamanya, dan keblo’onanku dulu jelas merupakan salah satunya.

Tepat saat itu bus kami datang. Kendaraan jingga dengan angka lima terpampang besar-besar di atapnya – sosok yang dulu aku sangat malu menaikinya – kini tampak sangat keren di mataku. Aku masuk dan melempar senyum pada para penumpang lain yang, sama halnya denganku sebulan lalu, tidak menyadari betapa mereka telah menjadi pahlawan. Bahwa hanya dengan naik sebuah bus, kami semua menyelamatkan bumi dari krisis mengerikan. Mungkin, suatu hari nanti, bakal ada penghargaan khusus bagi para penumpang angkutan umum. Mungkin kami bakal mendapat kesempatan menjajal Hybrid Car secara gratis. Who knows?
* *

Read more...

Senin, 23 Agustus 2010

SEASON IN THE SUN CHAPTER 1


DISCLAIMER: Characters aren’t mine. Same old, same old.
SUMMARY: Follow Alec and Ben's adventure to sail around the world!



Keluarga besar Winchester telah bersahabat dengan laut sejak buyut dari kakek mereka, begitulah cerita yang beredar di antara penduduk kota.

Semua orang tahu tentang keluarga bermata zamrud itu. Mereka menjadi semacam ikon, legenda di kota pelabuhan kecil yang tak pernah banyak menarik wisatawan bahkan di musim liburan terpanjang sekalipun. Keluarga Winchester tersohor dengan anggota-anggotanya yang pemberani. Dari Bruce Winchester, sang kapten kapal yang konon pernah menaklukan bajak laut Pasifik; sampai Hannah, John, dan Luke, tiga keturunan Bruce yang memiliki perusahaan kapal dagang HJL Corp. Jika keluarga lain menuang whisky berumur seratus tahun sebagai perayaan dewasanya anak-anak mereka, para Winchester menandainya dengan mengirim anak-anak itu berlayar mengarungi samudera. Bahkan Jessica, salah satu gadis kebanggaan keluarga, sukses memperoleh gelar sebagai circumnavigator – pelaut yang berlayar keliling dunia – wanita termuda di ulangtahun keenambelasnya. Darah pelaut tak pernah pudar dari nadi mereka.

Kali ini, keluarga besar merangkap Tim Pendukung Perjalanan yang terdiri dari dua puluh tiga orang termasuk para menantu itu tengah berdiri di pinggir pelabuhan Del Rey, California. Masing-masing bergiliran mengucapkan salam selamat jalan bagi sepasang remaja yang tak henti-hentinya tersenyum lebar. Alec dan Ben, pria termuda dalam klan Winchester saat ini, akan memulai perjalanan mereka keliling dunia meneruskan tradisi keluarga.

“Selamat jalan, Kembar,” kata Rachel, adik pertama Jess. Gadis itu sempat merajuk ketika mendengar kedua saudaranya yang hanya lebih tua dua tahun akan pergi berpetualang, sementara dia sendiri masih dianggap terlalu muda. Dia berhenti bicara pada semua orang selama hampir sebulan; sampai akhirnya orangtuanya menyerah dan mengizinkannya ikut Jess berlayar ke Eropa. Tidak bisa dibandingkan dengan jarak yang akan ditempuh si kembar, tapi dari cara Rachel memeluk mereka sekarang, tampaknya gadis itu sudah cukup puas. “Jangan sampai nyasar, ya,” lanjutnya sambil menyeringai.

“Kalau ada aku, sih, enggak mungkin nyasar,” jawab Ben percaya diri, “kalau Alec sendirian, baru deh, kalian harus khawatir.”

“Idih, baru dikasih Pearl Wings saja pedenya selangit,” cetus Alec kesal.

“Bilang saja kau iri karena enggak memegang perahu legenda kita,” seringai Ben setengah bercanda setengah congkak.

Alec memutar bola mata. Dia tidak mengakui, tapi jauh dalam hati menyadari kebenaran kata-kata Ben. Dia iri, bahkan hampir dengki, ketika Dad menunjuk kembarannya sebagai navigator Pearl Wings. Itu adalah perahu layar kesayangan keluarga Winchester. Dengan panjang lima belas meter, berwarna putih keabu-abuan bagai mutiara dan dua layar seputih salju, Pearl tampak sangat mencolok di tengah birunya lautan. Perahu itu jugalah yang telah menemani Dean, kakak sulung mereka, dalam perjalanan solonya mengitari dunia.

“Enggak masalah kau membawa perahu mana, yang penting adalah bagaimana kau mengendalikannya,” bela Sam yang berdiri tak jauh di belakang mereka. Dulu dia juga tidak boleh membawa Pearl Wings, mendapat perahu mungil sepanjang sebelas meter sebagai gantinya, jadi dia juga agak sensitif kalau mendengar Ben berbangga-bangga.

“Dan itu membuktikan kalau aku lebih cakap. Enggak semua orang bisa menavigasi Pearl, dengan berat dan panjangnya itu,” dengus Ben, “kalau kau tidak bisa mengatur keseimbangan layarnya, dia bisa terbalik.”

“Semua perahu juga begitu kali,” gumam Alec jengah. Dia paling malas kalau Ben sudah mulai menyombong – terutama karena yang disombongkannya bukan omong kosong. Ia memang selalu selangkah lebih maju daripada Alec, dari teori dasar sampai praktek lapangan.

“Tapi menavigasi Dusan juga butuh kelincahan. Perahu kecil artinya mudah terpengaruh ombak, hanya yang berpengalaman yang bisa mempertahankan jalurnya.”

Mereka menoleh ke si pemilik suara. Rupanya Dean, yang baru saja turun dari Dusan The Red Hawk – perahu merah milik Alec – sambil menggendong Seara, putri kecilnya. Balita itu menggeliat-geliut usil dalam pelukan sang ayah, mengangkat tangan mungilnya ke arah Lisa, ibunya, yang masih di atas perahu mengecek ransum.

“Sebentar, manis, sebentar lagi Mommy turun,” kata Dean, membetulkan posisi Seara yang melorot. Ia lalu tersenyum pada Alec. “Dusan perahu yang hebat. Kau beruntung bisa mendapatkannya.”

“Yeah,” jawab Alec, tersenyum masam. Dia tahu Dean cuma berusaha menghibur, karena siapa sih, yang akan melirik Dusan, perahu mini macam kutu busuk (bahkan nol koma empat meter lebih pendek dari perahu Sam!) kalau ada Pearl Wings berjalan gagah di depannya, memimpin laiknya kapten besar? Tapi dia sedikit senang dengan fakta bahwa Dean dan istrinya memilih menjadi pengecek perahu Alec daripada Pearl Wings.

Tak beberapa lama, Lisa bergabung dengan mereka, disusul Mary dan John yang baru selesai mengecek Pearl. Setelah yakin kondisi kedua perahu memadai, termasuk ransum untuk delapan bulan, alat komunikasi, dan peralatan medis, kini waktunya melakukan konferensi pers kecil-kecilan yang (terpaksa) diadakan keluarga mereka karena berita tentang cowok kembar berencana menaklukan lautan tiba-tiba tersebar di internet. Sisi baiknya, mereka mendapat sponsor tanpa kesulitan. Sisi buruknya, mereka harus terus menjaga imej.

“Boleh kami mengambil foto untuk NY Times?” tanya seorang wartawan wanita dengan potongan pembawa acara gosip.

“Uh, tentu,” ujar Alec, yang sebenarnya tak perlu. Wartawan itu sudah menggeret lengannya bahkan sebelum cowok itu menjawab, agar ia bersanding dengan Ben di samping (tentu saja) Pearl Wings. Bahkan Dusan tidak cukup gagah untuk dipajang di halaman koran.

Setelah itu acara foto-foto berkembang jadi wawancara. Dua jam kemudian, John, Dean, dan Luke ayah Rachel terpaksa menyudahi tanya jawab yang makin lama makin melenceng dari topik (“apa kalian punya pacar yang menanti kepulangan kalian?”, “apa kalian akan bersaing untuk mencapai finish terlebih dahulu?”) dan memisahkan para wartawan dari si kembar yang tengah bersiap-siap. Sanak saudara sekali lagi mendoakan keberuntungan, Mary memberi kecupan selamat jalan, John menyelipkan kaki kelinci untuk keberuntungan saat bersalaman dengan kedua putranya, Sam menempeleng kepala mereka, Seara mencium Ben dengan berisik dan menjambak rambut Alec (bocah itu tidak pernah mau akrab dengannya, entah kenapa). Lisa memeluk mereka erat-erat sambil berurai airmata. Istri Dean itu memang paling melankolis dalam keluarga, mungkin karena dia satu-satunya yang tidak punya garis keturunan pelaut.

Ben naik ke perahunya penuh gaya, dan Alec, setelah memutar bola mata dan menjulurkan lidah pada kembarannya, juga memposisikan diri dalam perahu yang selama delapan bulan ke depan akan menjadi rumahnya.

Mesin dinyalakan, suaranya keras memekakkan telinga. Hanya mereka yang paham bisa membaca bahwa kondisi kedua perahu sangat prima – secara teoritis sanggup membawa para navigator muda itu melintasi samudera tanpa hambatan. Tapi, tentu saja, kau tidak bisa mengandalkan teori jika berhadapan dengan laut; sudah merupakan prestasi jika Dusan dan Pearl mampu menempuh setengah perjalanan tanpa harus berhenti untuk tune-up ataupun reparasi.

Sesuai kesepakatan, Ben bergerak duluan. Bagai pelayar profesional, ia memisahkan badan besar Pearl dari deretan perahu lain dengan mulus. Alec menyusul setelah tercipta jarak yang cukup, berlabuh diiringi sorak sorai dan siulan pelaut ala keluarganya.

“Maju, Winchester! Taklukan lautan, kembali dengan kejayaan!” John mendentumkan motto nenek moyang mereka, suaranya menembus seruan riuh rendah di sekitarnya dengan mantap.

Ben menoleh, memberi salut sambil berteriak, “aye, aye, Sir!” meskipun ayahnya tak akan mendengar. Di belakangnya Alec juga melakukan hal yang sama. Fotografer mengambil foto dengan rakus, kilatan kamera mereka nyaris membuat pelabuhan itu tampak seperti gundukan permata.

Alec tersenyum lebar. Kalau belum apa-apa saja sudah heboh, ia tak sabar untuk kembali ke pelabuhan ini di musim gugur, saat ia telah resmi menyandang predikat circumnavigator. Semua pasti akan mengaraknya bagai pahlawan.

Menatap bentangan luas membiru di hadapannya, cowok itu mengeratkan pegangan ke setir perahu, tersenyum penuh tekad. Inilah dia, klimaks dari segala persiapan dan latihan yang ia lakukan selama dua tahun. Jawaban dari panggilan jiwa Winchester sejati, petualangan tak terlupakan yang akan diceritakan turun temurun dalam keluarganya. Adrenalinnya terpacu, jantung berdebar penuh antisipasi membayangkan perjalanan yang menegangkan, penuh rintangan, ombak ganas, dan badai.

Menjelajah samudera benar-benar menggairahkan.

* * *


Menjelajah samudera benar-benar membosankan.

Setelah euforia keberangkatan memudar, Alec mendapati dirinya menguap lebar menatap air biru menari-nari tak ada habisnya, hanya diselingi pemandangan Pearl Wings yang melaju pasti tiga ratus meter di depan. Cuaca hari ini bagus, matahari bersinar terik di atas kepala, angin berdesir kuat tapi aman, sama sekali tidak mengindikasikan datangnya badai. Fakta yang membuat Alec makin mengantuk saja.

Ia masuk lagi ke kabin, lebih karena kurang kerjaan daripada yang lain, dan untuk kesekian kalinya mengecek fasilitas Dusan. Sama sekali tidak mengalihkan kejenuhan sebab pada dasarnya ia sudah hafal bagian-bagian perahunya di luar kepala. Tidak banyak yang bisa dilihat dalam perahu layar sepanjang sepuluh meter yang didesain secara fungsional – cuma ada jaket penyelamat, bangku tidur, alat komunikasi sekaligus navigasi, dan celah-celah kosong dirancang untuk tempat menyimpan makanan. Rasanya seperti masuk ke dalam gudang penyimpanan sempit alih-alih sebuah perahu bersertifikat internasional seharga tiga ratus lima puluh ribu dolar – seperenamnya dibayar tabungan seumur hidup Alec plus sumbangan sekolah.

Alec mengambil radio kecil yang tergeletak dalam ruang navigasi. Berbeda dengan alat-alat lain yang sudah terpasang dalam perahu dan berfungsi untuk mengontak dunia luar, radio portabel seukuran walkie-talkie ini dipasang sendiri oleh Alec dan Ben sebagai alat komunikasi khusus mereka berdua. Menggunakan pemancar domestik yang diletakkan di atas tiang perahu, radio ini bisa terus digunakan bahkan ketika cuaca begitu buruk hingga mereka tidak mampu menggunakan satelit – yang diandalkan oleh GPS dan internet – asalkan Dusan dan Pearl berjarak cukup dekat.

“Di sini, Alec, copy,” kata cowok itu sambil berjalan kembali ke dek.

Terdengar kelotak keras ketika radio Ben jatuh, disusul rentetan umpatan pelan, dan kemudian, “jangan tiba-tiba ngomong gitu, dong! Bikin kaget saja, kan!”

“Sori,” jawab Alec tanpa penyesalan. Berbeda dengan saudaranya yang cenderung cuek dan menyepelekan hampir semua hal, Ben selalu menanggapi segalanya dengan serius. Jelas dia tegang sekali di Pearl Wings sana, sampai-sampai dengar suara kecil radio saja terkejut.

“Ada apa?” tanya Ben gusar.

“Enggak apa-apa,” jawab Alec, mengangkat bahu meski Ben tidak bisa melihatnya. “Aku bosan, nih.” Ia meletakkan radionya di besi penyangga setir agar bisa terus bicara tanpa menghambat aktivitasnya.

“Kau mengontakku hanya untuk bilang itu?”

“Uh, sejujurnya iya,” jawab Alec, menggosok belakang lehernya dengan salah tingkah. “Malas saja, kan, menggunakan komunikasi satelit cuma untuk bilang begitu pada orang di rumah?”

Ben tidak menjawab. Alec mengasumsi dia cuma sedang mengambil sesuatu di kabin atau memprediksi kecepatan angin atau apa, tapi setelah sepuluh menit tak ada jawaban, cowok itu mengontak lagi.

“Ben?”

“Apa?”

“Ngomong dong!”

“Malas,” ceplos Ben apa adanya. “Apa kau enggak ada kerjaan lain selain menggangguku?”

Mendengar ini Alec memutar bola mata. Dia sebal sekali kalau Ben bersikap sok dewasa begitu. Seolah Alec adalah anak dari playgroup-nya Seara yang mengekorinya kemana-mana dan mengganggu, padahal yang diinginkan cowok itu hanyalah teman ngobrol. Apa salahnya, sih, ingin ngobrol dengan saudara kembarmu sendiri? Terutama ketika kau hanya berdua saja di tengah lautan, terpisah dari peradaban, tanpa orang lain untuk bergantung.

“Hei, menurutmu kita sudah sampai laut lepas?” Alec berusaha mencari topik yang menarik.

“Kita bahkan belum keluar ZEE. Baca peta yang benar, dong,” kata Ben datar.

Alec mengatupkan bibir rapat-rapat, mencegah lenguhan bosan meluncur dari mulutnya. Rasanya sudah lama sekali, dan mereka belum mencapai jarak dua ratus mil?

“Kapan kira-kira kita sampai samudera?” tanya Alec lagi, meski tahu itu akan membuat Ben mencelanya lebih parah. Masih lebih baik daripada tidak ada teman bicara sama sekali.

“Ampun deh, Alec. Masa kau enggak bisa kira-kira sendiri, sih?”

“Um, bisa sih.” Kalau melakukan tugas itu saja belum fasih, John tidak akan mengizinkannya memegang setir perahu. “Tapi, kan sudah ada kamu. Ngapain repot-repot?”

Ben menggerundel tak jelas, Alec menangkap kata ‘terlalu santai’ dan ‘kurang tanggung jawab’. “Kalau anginnya bagus, dan kita mau sedikit kerja keras, mungkin tengah malam ini.”

“Tengah malam, ya,” ulang Alec, berusaha tidak terdengar seperti tukang ngeluh. Yang gagal total.

“Itu sudah paling bagus. Dengan sifat malasmu itu, kurasa kita malah baru sampai besok pagi.”

“Aku enggak malas.”

“Jangan membohongi diri sendiri.”

Sabar, sabar, batin Alec dalam hati. Walau sudah hidup bersama selama tujuh belas tahun, kadang sulit untuk tidak mengambil hati sarkasme Ben yang menjadi bagian dari dirinya seperti jantung yang berdetak.

“Apa menurutmu kita akan diikuti lumba-lumba? Seperti di dongeng-dongeng? Apa mereka akan menolong kalau perahu kita tenggelam?”

“ALEC!”

“Cuma tanya saja, kok.”

“Jangan ngomong yang aneh-aneh. Kita harus bersyukur dengan kondisi stabil ini….”

Membosankan, maksudmu?”

“Lebih sedikit masalah, lebih baik,” kata Ben, tidak menghiraukan interupsi saudaranya. “Dan aku enggak tahu bagaimana denganmu, tapi ‘tenggelam dan ditolong lumba-lumba’ enggak masuk dalam agenda perjalananku. Lagipula, sekarang bukan musimnya lumba-lumba.”

“Yaaaah…..”

“Berhentilah mengeluh!” Ben mulai senewen. Alec hampir bisa memvisualisasikan alisnya yang berkerut seperti orangtua dan cuping hidungnya yang membesar, ekspresi khasnya kalau sedang marah. “Dengar, aku tidak memasang radio itu untuk mendengarkanmu merewel. Kalau ada sesuatu yang tidak memuaskan – yang aku yakin hampir semuanya, karena kau sangat kekanakan – ambil pena dan curhatlah di diari!”

Alec berjengit oleh bentakan saudaranya yang sampai membuat radio berkeresek sedikit. “Beeen…. Jangan marah doong….” Rengeknya. Hal terakhir yang ia inginkan adalah Ben mematikan sambungan radio karena Alec terlalu rewel. Padahal menurutnya, tidak juga tuh. “Aku kan cuma ingin ngobrol,” tambahnya memelas.

Sejenak Ben tak menjawab, dan Alec yakin mendengar suara kekeh geli di latar belakang, agak tersamar deburan ombak.

Ketika bicara lagi, nada bicara Ben berubah drastis – lebih lembut dan bersahabat, seperti saat ia bermain dengan Seara. “Kesepian, nih?” tanyanya menggoda, “belum apa-apa sudah kesepian, dasar anak mami.”

Gantian Alec yang menggerundel. “Enggak, tuh!”

“Iya. Kau kelewat manja, sih.”

“Daripada kau, sok keren.”

“Aku memang keren.”

“Jelek.”

“Bawel.”

“Kolot.”

“Estulto.”

“Ha?”

“Bahasa Spanyol untuk ‘dungu’.”

“Sialan,” kata Alec, meski dengan cengiran menghiasi wajah. Untung radio mereka tidak ada fasilitas 3G-nya, sehingga Ben tidak bisa melihat betapa girangnya dia karena saudaranya itu mau mengikuti permainan lempar-ledekan. Seperti yang sudah-sudah, permainan ini biasanya akan berujung ke adu kosakata, dan itu lebih dari cukup untuk mengisi waktu luang, mengingat sifat Ben yang tidak pernah mau kalah dan selalu ingin menggilas lawan habis-habisan.

Tidak sadar saja dia kalau sudah dijadikan hiburan bagi Alec.

* * *

Senja pertama di laut, ketika ia sudah jontor kebanyakan ngomong dengan Ben, barulah Alec mengaktifkan sistem komunikasi satelitnya. Ia disapa pertama kali oleh John, yang mengajukan pertanyaan standar macam kondisi mesin, cuaca, dan jarak tempuh. Kemudian Jess nimbrung untuk menanyakan pendapat Alec tentang matahari tenggelam di garis jauh lautan. Sebagai seorang cewek dengan selera ‘cewek banget’, bagi Jess itu termasuk pemandangan terindah yang pernah ia saksikan selama melintasi samudera. Bagi Alec, itu tak ada bedanya dengan menyaksikan langit temaram dari jendela kamarnya – hanya saja lebih luas. Tapi dia tidak bilang begitu pada sepupu perempuannya, tentu.

Sesuai perhitungan Ben, mereka berhasil keluar ZEE pada pukul satu dinihari. Badan Alec kaku-kaku setelah seharian bermanuver mengendalikan setir – andai tidak diejek Ben saja, dia sudah minta istirahat dari tadi. Cowok itu ingin membuktikan bahwa, biarpun sedikit, ia sudah mulai berubah. Bukan lagi anak manja yang kerjaanya bermalas-malasan dan main melulu, melainkan pria muda yang cakap, sang penakluk samudera. Alec cengar-cengir sendiri membayangkan predikat keren itu.

Usai menyimpan jaket dan kacamata anti airnya, Alec praktis merambat masuk ke kabin, yakin bakal mati kecapekan kalau tidak segera merebahkan diri ke kasur. Namun baru menarik nafas mencium bau bantal yang menggoda, dia sudah dikejutkan oleh suara radio yang tiba-tiba aktif di sabuk belakang celananya (Alec sengaja menggantung radio itu di situ agar tidak kelupaan).

“Alec, sebelum kau berencana menggulung diri dalam selimut sampai tengah hari besok, tandai dulu peta jalurmu – buat garis merah agar kita bisa melihat sejauh apa jarak tempuh hari ini. Jangan lupa hitung skalanya,” perintah Ben rinci, seperti bicara pada anak buah yang imbisil.

Alec bahkan tidak punya tenaga untuk tersinggung. Ia mengerang penuh derita macam paus sekarat, berharap Ben akan mengira dia sakit dan mengizinkannya langsung tidur malam ini. Matanya sudah setengah menutup, sayang kalau diajak pusing-pusing menghitung skala – pasti nanti dia jadi insomnia.

“Besok kurapel saja, deh,” rengeknya, segala tekad untuk menjadi pelaut sejati terlupakan. Sekarang dia hanya ingin menjadi manusia sejati, dan manusia sejati tidak menyiksa tubuh mereka sendiri dengan memaksa bangun ketika seluruh sistemnya menjerit minta tidur.

“Enak saja. Kerjakan sekarang, Alec. Demi kebaikanmu sendiri.” Sesaat Alec merasa bicara dengan versi cowok dari ibunya.

“Kalau kurang istirahat, artitis rematikku bisa kumat,” kilah Alec sambil menguap lebar.

“Sejak kapan kau kena rematik?”

“Sejak sekarang. Aduh, sudah mulai nih pegalnya,” kata Alec. Memang benar kok, sekujur tubuhnya serasa diinjak-injak gajah. “Cuma malam ini saja, deh. Janji. Pweaseee?”

“Tidak boleh.”

“Kalau aku sampai sakit, kan, kau juga yang repot.” Alec mengeluarkan kartu terakhirnya. Hal yang paling dibenci Ben adalah direpotkan orang lain – yang ironisnya selalu terjadi karena ia bersaudara dengan Alec.

Ben berpikir lama, cukup lama hingga Alec setengah tidur menanti jawabannya. Ketika akhirnya ia mendesah, Alec terbangun kaget.

“Terserahlah. Aku enggak nanggung kalau kau nyasar, lho.”

“Eng….. nggak mungkin kanada k’mu, bilang s’ndiri,” jawab Alec, nyengir mengantuk. Pada saat begini, dia bersyukur berlayar mengikuti Ben, bukannya berjalan solo. Setidaknya masalah jalur, ada yang bisa diandalkan.

Saudaranya menggumamkan protes dari seberang, tapi Alec tidak mendengar lagi. Ia tertidur bahkan sebelum kepalanya menyentuh bantal.

* * *

Dengan desah keras, Ben mematikan radio mininya dan meletakkan benda itu di samping bantal. Dasar, dia sudah mengira Alec bakal kelewat santai dan menyerahkan semua tugas pada dirinya, dan Ben sudah bersumpah akan mendisiplinkan Alec dalam perjalanan ini; tapi tetap saja dia tidak sanggup menolak kalau kembarannya itu sudah memohon-mohon. Pakai mengancam bakal sakit segala, lagi.

Cowok itu mengecek peta jalurnya sekali lagi. Agak kecewa juga melihat garis merah pendek yang tertoreh di sana. Padahal rasanya dia sudah berjuang habis-habisan hari ini, melaju tiga puluh dua mil lebih jauh dari kuota harian mereka, tapi begitu digambar, garis itu bahkan hampir tak terlihat di tengah warna biru tua yang mendominasi kertas. Saking tidak percayanya, Ben sampai mengulang perhitungan skala tiga kali. Sebenarnya salah satu alasan dia menyuruh Alec menggambar adalah agar mereka bisa bertukar pendapat, benar atau tidak mereka hanya merangkak sependek itu dari tadi, tapi seperti biasa, saudaranya itu tak dapat diandalkan. Jangan salahkan John kalau dia memilih Ben sebagai pemimpin ekspedisi.

Ben menggulung peta itu dan meletakkannya di keranjang kecil yang menempel di meja. Ia mengulet meregangkan otot, ingin sekali melompat ke kasur yang sedari tadi memanggil-manggilnya. Tapi masih ada satu hal yang harus ia lakukan sebelum tidur: menulis catatan perjalanan di blog; sesuai janjinya pada media massa yang menanyakan bagaimana cara mereka mengikuti ‘Petualangan Si Kembar’, begitu istilah mereka. Istilah yang kurang nyaman di telinga Ben, sebab itu membuat mereka terdengar seperti tokoh kartun.

Sambil mengunggah beberapa foto matahari terbenam dan video Dusan meluncur menuruni ombak setinggi dua puluh satu kaki (Alec berteriak-teriak kegirangan sepanjang pengalaman itu), Ben mengetik catatan pendek untuk memuaskan keingintahuan para komentator yang sudah menanyakan macam-macam tentang kesan pertama di laut.

16 Januari 2010
SEE YA, ZEE!

Hari pertama perjalanan, cuaca cukup bersahabat. Dengan kecepatan angin 20 knot Pearl dan Dusan melaju pasti membelah laut. Suasana tenang sampai lewat tengah hari, di mana kami berhadapan dengan ombak setinggi 21 kaki. Pearl melewatinya tanpa masalah ( bagaimana aku mengendalikan setirnya, itu lain lagi :P), dan Dusan, dengan ukurannya yang kecil meluncur cantik seperti koki –

Ben berhenti. Oke, menurut opini pribadinya, Dusan memang terlihat seperti koki di tengah laut – kecil tapi lebar, berwarna cerah pula. Tapi sepertinya kurang bijak mengemukakannya dalam blog yang dipublikasikan secara umum, bisa-bisa mereka mengira dia menghina Alec (um, tidak menghina sih, cuma meledek sedikit, tapi sama saja di mata mereka). Ben pun menghapus satu huruf ‘k’ agar nama ikan perumpamaannya jadi lebih ‘jantan’.

– koi merah. Klik DI SINI untuk menonton manuver Dusan dan Alec yang luar biasa.

Selain itu, pagi ini, tepatnya pukul satu lebih tujuh menit, kami resmi keluar ZEE! Yay! Air laut tampak sama saja, tapi ada sensasi tersendiri ketika perahu kami berlayar di laut lepas, sangat mendebarkan XD

Ben memutar bola mata membaca tulisannya sendiri. Dia kok, jadi terdengar seperti Alec, sih?

Tampaknya kami akan menjalani beberapa hari tenang di sini. Tak ada tanda-tanda kecepatan angin akan naik, tetap stabil antara 20-30 knot – tidak menghantam layar terlalu keras, tapi juga menjaga ombak tetap tenang.

Yang artinya aku juga bisa tidur sampai siang, pikir Ben senang.

Kami akan bisa melaju sekitar 600 mil sebelum memasuki perairan berangin kencang. Semoga saja tidak ada badai dadakan atau gempa bawah laut. Pengalaman berkesan pasti, tapi itu akan membuat kami sibuk luar biasa.

Belum lagi kerusakan yang bisa disebabkannya, tambah Ben dalam hati, tapi tidak menambahkannya ke tulisan. Bukan dia yang jadi tukang ngeluh di sini.

Menguap lebar, Ben memasukkan kalimat penutup pendek sebelum mengepos catatan itu.

Oke, semakin larut di sini. Alec dan Dusan sudah tidur satu jam lalu, waktunya aku dan Pearl menyusul. See ya! B.W.

TBC

Read more...