SEASON IN THE SUN CHAPTER 2
Special Interview With Twinchester
Lena (L): Halo, Alec, Ben. Sebentar lagi waktu keberangkatan kalian akan tiba. Bagaimana perasaan kalian?
Alec(A) : Aku enggak sabar menanti momen ini. Aku bahkan menandai kalenderku setiap hari, seperti menunggu ulangtahun saja! (tertawa) Ini akan menjadi sejarah besar dalam hidupku, aku ingin segera melakukannya.
Ben (B): Yeah, setelah kerja keras bertahun-tahun, akhirnya kami berhasil mendapat kesempatan ini. Ini seperti mimpi yang jadi kenyataan. Aku sangat senang.
L: Sejak kapan, sih, kalian bercita-cita menjadi circumnavigator (pelayar yang mengelilingi dunia.red)?
B: Kami berasal dari keluarga pelaut. Kami besar dengan melihat kakak-kakak kami (Dean dan Sam Winchester)berlayar mengarungi samudera. Perjalanan mereka memberi pengaruh besar bagiku, sejak kecil aku tidak memiliki ambisi lain selain mengikuti jejak mereka.
A: Yeah. Aku sudah ingin (menjadi circumnavigator) sejak…. Sejak aku bisa mengingatnya, kurasa. Mimpi itu sudah tertanam bahkan sebelum aku menyadarinya.
L: Apa ada target khusus dalam perjalanan kalian? Memecahkan suatu rekor, misalnya?
A: Tidak, tidak. Kalau mau memecahkan rekor, harusnya kami berangkat waktu umur empat belas. Untuk mengalahkan Jess, kau tahu (Jessica, circumnavigator termuda saat ini, yang juga adalah sepupu si kembar.red)
B: Ini bukan perjalanan mengejar rekor, tapi semacam tradisi keluarga. Seperti Upacara Orang Dewasa di Jepang, atau orangtua yang menuang whisky pertama anak-anak mereka. Kami berlayar untuk membuktikan kedewasaan kami (Alec terkekeh, Ben tersenyum). Tapi bukan berarti kami santai-santai. Kami punya target untuk menyelesaikan ini maksimal delapan bulan. Dan sebisa mungkin berlayar non-stop – ini akan sulit, tapi kami akan berusaha.
L: Delapan bulan! Wow, itu waktu yang lama untuk ‘bergoyang’ di atas laut (si kembar tertawa). Apa saja persiapan kalian untuk perjalanan ini?
B: Banyak orang yang mempertanyakan kesiapan kami, tapi percaya deh, kami sudah menyiapkan segalanya. Bahkan sebelum mengetahui kapan akan berangkat, kami sudah berlatih dalam pelayaran-pelayaran jarak pendek. Kami punya Twinchester Team – mereka Tim Pendukung Perjalanan yang akan memantau kondisi dan menjalin komunikasi secara rutin. Untuk kebutuhan hidup, kami membekali diri dengan makanan dan tangki air berkapasitas tiga ratus liter, plus mesin penyuling air laut untuk keadaan mendesak. Perahu kami beserta perlengkapannya sudah lolos standar keamanan, jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan.
L: Lalu bagaimana kalau kalian kesepian dan kangen keluarga?
B: Oh, yeah… Itu termasuk isu besar kalau kau berlayar sepuluh tahun lalu (nyengir). Tapi sekarang dengan internet dan ponsel, keluarga hanya berjarak satu panggilan telepon. Kami memasang kamera di komputer, jadi tetap bisa bertatap muka dengan mereka. Sekarang, itu bukan masalah lagi.
A: Kurasa akan ada saatnya kami kangen sekali pada rumah…. dan tempat tidur yang nyaman. Tapi kalau kesepian sih, enggak kali ya. Kita ‘kan, berlayar berdua. Setidaknya ada teman senasib, deh. (nyengir pada Ben, Ben memutar bola mata).
L: Oke, pertanyaan terakhir. Apa kalian punya pacar yang menunggu kepulangan kalian? (tersenyum nakal)
A&B: (tertawa salah tingkah)
A: Tidak…. Itu bakal terlalu sinetron.
B: Yeah, kami belum punya pacar (wow, cewek-cewek! Kesempatan nih!). Kasihan kan, dia harus nunggu cowoknya main-main keliling dunia. Yang ada nanti dia cemburu lagi sama Dusan dan Pearl (tertawa). Pokoknya, aku mau fokus ke pelayaran dulu.
A: Aku juga. Kalau sudah pulang nanti, baru deh, aku coba nge-date dengan cewek. Semoga saja dia enggak bosan sama aku yang bisanya ngomong soal kapal melulu, hehehe….
Kalau cowoknya kayak Alec dan Ben sih, enggak bakal bosan ya girls? (LeHan)
(dikutip dari wawancara Lena Hansen, reporter majalah Seventeen! dengan Alec dan Ben Winchester)
* * *
Semakin hari Alec semakin kecewa saja dengan pelayarannya. Awalnya dia mengira bagian laut berangin pelanlah penyebabnya – membuat Dusan berlayar stabil, ombaknya mengayun-ayun badan perahu dengan pelan sehingga bikin ngantuk. Tapi ternyata, ketika sampai di daerah yang anginnya lebih kencang pun, tak ada tantangan berarti. Paling cuma Dusan yang makin bandel dikendalikan, maunya belok-belok keluar jalur terus, dan ombak jahat yang mengguyur dek ketika Alec melepaskan jaket anti airnya – meninggalkan dia basah kuyup macam anjing tercebur kolam. Atau lebih parah, membasahi pakaiannya yang sedang dijemur di tali tiang layar – tega benar sih, padahal Alec kan mencucinya dengan susah payah!
Tidak banyak yang bisa dilakukan untuk membunuh waktu kalau kau dikepung air asin sejauh mata memandang. Alec pernah mencoba memancing mengikuti saran Ben, berharap akan mendapat tangkapan spektakuler – minimal ikan tuna. Tapi dia langsung ngambek begitu mendapati hasil menunggu dua jamnya hanya seekor cumi-cumi. Menggerecoki Ben juga tidak asyik lagi. Tadinya gampang sekali membuat saudaranya itu tersulut hanya dengan pertanyaan omong kosong bernada serius seperti “hei Ben, menurutmu mana yang lebih bergizi untuk makan siang, kornet atau sarden kaleng?” dan “Ben, mungkin enggak ya, kalau kita ketemu The Flying Dutchman?” mendengarkan Ben mencak-mencak di radio lebih menghibur daripada mendengarkan lima ribu lagu di iPod-nya. Tapi kemudian pertanyaan-pertanyaan itu mulai basi dan Ben mulai kebal, sehingga sekarang kalau Alec bertanya sesuatu yang benar-benar penting pun (dalam hal ini, misalnya bagaimana cara mengeringkan baju tanpa diterjang ombak terus-terusan; dan bagaimana menghilangkan bau amis campur garam yang seperti menempel di badannya, tak peduli betapa sering ia mandi) Ben cuma menjawab dengan kalimat-kalimat singkat-padat-jelas. Membosankan.
Orang-orang rumah pun sama payahnya. Berdiskusi soal mekanisme perjalanan dengan mereka memang oke, tapi begitu topik beralih ke kehidupan sehari-hari, yang ada cuma bikin senewen. Alec kapok curhat ke Mary gara-gara disodori kuliah legendaris yang dimulai dengan kata ‘kau harusnya bersyukur!’ ketika ia mengeluh betapa menjemukannya pelayaran itu. Sam jarang bisa dihubungi karena sedang sibuk-sibuknya membuat skripsi. John tidak tertarik membicarakan hal lain selain kondisi Dusan; sedangkan Dean, orang yang paling enak diajak ngobrol, akhir-akhir ini sering digerecoki Seara yang cemburu jika ayahnya bicara dengan Alec, sehingga mereka tidak bisa berbincang lama-lama. Alec sampai heran, salah apa sih dia sama anak itu, sampai-sampai Seara begitu memusuhinya.
Akhirnya, ketika kejenuhan cowok itu sampai pada titik tergoda melompat ke dalam laut hanya untuk cari sensasi, ia menjajal saran (perintah) Ben yang selama ini tidak dihiraukan: ikut mengisi blog. Satu-satunya yang dikeluhkan sang navigator Pearl Wings itu sejauh ini adalah bagaimana Alec tidak mau membantunya meng-update blog, padahal nama blog-nya ‘twinchester’s journal’, yang artinya milik mereka berdua dan HARUSNYA diisi mereka berdua juga.
Jadi sore itu, sambil menenggak minuman penambah energi, Alec membuka internet dan masuk ke halaman blog. Ia langsung disambut catatan-catatan singkat-tapi-informatif buatan Ben. Untuk sesaat Alec hanya bengong menatap deretan kalimat di layar. Mana mampu dia membuat catatan harian seperti itu! Nilai bahasanya di sekolah saja mepet – dia lulus dengan mengerjakan tugas tambahan menulis makalah, yang dibantu (dan diedit habis) oleh Ben. Kalau sampai dia mencoba, bisa-bisa hasilnya dalah tulisan panjang tak bermakna yang tidak jelas maksudnya apa (menyadur pendapat Mrs Thompson, guru Bahasa Inggris; tentang karangan Alec).
Namun berhubung dia terlanjur menyanggupi perintah Ben, Alec berusaha memosting sesuatu yang sekiranya layak. Ia mengambil buku sketsanya yang tersembunyi di bawah bantal (kebiasaan di rumah untuk menyimpan gambar-gambar berharga agar tidak ditertawakan Sam dan Ben benar-benar sudah mengakar), dan sibuk memilah-milah lukisan yang ia buat selama pelayaran. Memang tidak sebagus karya-karya yang menumpuk di rumah – menggambar sambil terayun-ayun dalam perahu dan tanpa alat gambar memadai bukan sesuatu yang mudah – tapi ada beberapa sketsa yang cukup memuaskan. Ia memilih dua lukisan yang membuatnya tersenyum geli, memfotonya, lalu mengunggahnya.
Lukisan pertama diberi judul Pelayaran yang Kubayangkan; memuat Dusan terombang-ambing di tengah ombak ganas dengan sirip-sirip ikan hiu mengelilinginya dan Alec (diilustrasikan sebagai pria muda berotot macam Hercules) berjuang keras mengendalikan layar. Lukisan kedua berjudul Pelayaran yang Sesungguhnya, menggambarkan Dusan mengambang tenang di atas laut tanpa ombak, dan Alec yang melongok keluar – lengkap dengan mata sipit, tulisan ‘zzzz’ dan muka super bosan. Gambar yang jujur, sangat mendeskripsikan keadaan sejauh ini.
Di luar dugaan, orang-orang menganggap gambar Alec sangat kocak dan dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, ia sudah mendapat seribu dua puluh komentar yang memuji bakatnya. Itu bahkan dua kali lebih banyak daripada komentar untuk Ben dan ulasan ilmiahnya tentang salah satu spesies ikan yang bermigrasi pada musim dingin.
Ben tidak mau berkomunikasi dengan Alec selama seminggu setelah itu.
* * *
Kejadian luar biasa datang pada suatu malam di bulan ketiga pelayaran.
Malam itu tak ada angin sama sekali, kedua perahu hanya menggelincir dari bukit ombak satu ke bukit ombak lain – kalau tidak terbiasa, dijamin sudah mabuk laut. Alec berusaha memanfaatkan jam tidurnya semaksimal mungkin tanpa menghiraukan posisi perahu yang miring kesana kemari tidak keruan, sampai-sampai beberapa barang berjatuhan ke lantai.
Tiba-tiba radio berkeresak hidup, membangunkan cowok itu dari tidur-tidur ayamnya. Sambil menggerutu, ia menggapai-gapai mencari alat itu, sebelum akhirnya menemukannya terjepit di antara bangku tidur dan meja. Masih setengah tidur, Alec tanpa sadar menempelkan radionya ke telinga, seperti kalau sedang bertelepon. Ia langsung berjengit dan melempar radio itu begitu Ben bicara, suaranya melaung memekakkan.
“Kau ini ngapain, sih?” tanya Ben heran saat Alec sudah sadar sepenuhnya dan memungut kembali radio itu.
“Harusnya aku yang tanya begitu,” balas Alec sewot sambil menggosok-gosok kupingnya yang masih berdenging. Dia baru menyadari bahwa ternyata Ben kalau ngomong keras sekali. “Ngapain kau ngontak malam-malam begini? Ganggu orang tidur saja.”
“Maaf, deh, kalau aku ganggu,” jawab Ben, tidak terdengar menyesal sama sekali. “Padahal aku cuma ingin menunjukkan sesuatu yang hebat.”
“Sesuatu yang hebat apa?” kuap Alec. Ia terhuyung sedikit dan harus berpegangan pada meja ketika sebuah ombak menghantam sisi perahunya. Laut tanpa angin memang menyebalkan.
“Cepat ke geladak, kau bakal tahu sendiri,” kata Ben, seperti biasa menggunakan nada ikuti-saja-kata-kataku-kalau-mau-hidup-nya yang mengesalkan.
Alec mengambil jaket dan topinya, lalu berjalan terseok-seok keluar kabin menuju udara luar yang dingin dan lembab – cuaca malam khas samudera. Tanpa penghangat tubuh, dia bisa kena paru-paru basah.
Atmosfer di luar terasa menyeramkan. Kegelapan begitu pekat seolah ada kelambu hitam yang membungkus Dusan erat-erat, menekan dan menyesakkan. Bunyi kecipak air menambah cekam suasana – Alec merinding teringat film tentang gurita raksasa yang menyerang sebuah kapal. Bulan sudah tinggi, cahaya redupnya terpantul di air yang beriak-riak. Tak ada yang menarik dari suasana ini. Alec tak habis pikir kenapa Ben membangunkannya hanya untuk merasakan ‘momen horor’ di tengah laut.
“Apanya yang hebat, sih?” tanya Alec gondok sambil menatap Pearl yang merapung tenang di depan. Perahu putih itu tampak menakutkan di malam hari, melayang tanpa beban seperti hantu berjubah. Secara refleks Alec berdoa semoga yang mengontaknya adalah Ben sungguhan dan bukan setan laut iseng.
“Sssh, diam,” bisik Ben pelan suara nafasnya menderu di radio. Alec menghela nafas lega. Setan mana mungkin bisa nafas segala. “Dengarkan baik-baik, deh.”
Alec menajamkan telinga. Awalnya ia tidak mendengar apa-apa selain celepak air ditingkahi derit badan perahu yang bergerak perlahan. Tapi kemudian ia menangkap suara lain: lenguhan berat yang menggema di kejauhan, seolah ada kapal berbunyi di bawah permukaan laut. Kemudian, tanpa aba-aba, muncul semburan air, saling menyusul satu sama lain, bagai air mancur di taman kota. Hanya ada satu makhluk yang bisa menciptakan keunikan itu. Itu…. Itu….
“PAUS!” teriak Alec terpana-pana, matanya melebar, mulutnya melongo besar membentuk ekspresi yang nyaris komikal. “Itu paus! Ben! Kau lihat itu? Gerombolan paus!” Paus-paus itu melenguh keras seolah mengkonfirmasi keberadaan mereka, beberapa bahkan melempar diri ke udara terbuka untuk menunjukkan siluet mamalia besar, persis seperti paus di film Free Willy. Alec begitu terpukau sampai mau pingsan rasanya. Ada rombongan paus sungguhan melintas hanya beberapa kilometer dari tempatnya berdiri! Bahkan Dean pun tidak menjumpai pengalaman sehebat ini.
“Yeah, aku tahu,” ujar Ben, ada geli dalam suaranya. “Untung kau kubangunkan, kan?”
“Yeah.” Alec mengangguk gembira walau Ben tidak melihatnya. Ia nyengir dari kuping ke kuping. “Keren. Makasih, Ben. Kau memang paling top, deh.”
Ben terdiam sejenak, kemudian menjawab dalam gumaman salah tingkah, “Uhm. Tak masalah. Makasih juga…. Uh, untuk pujiannya.”
Cengiran Alec tambah lebar membayangkan ekspresi Ben, tapi ia tak menjawab lagi. Keduanya menonton paus-paus itu bermigrasi dalam keheningan yang menyenangkan, sampai mereka menghilang ke daerah gelap di luar jangkauan pandang.
* * *
Badai pertama menghajar Pearl dan Dusan tiga belas hari setelah malam paus. Angka sial itu memang ada.
Alec dan Ben hampir melintasi separuh rute keliling dunia mereka saat itu. Hari sedang cerah, bukan jenis terang-tapi-berkabut yang lebih sering mewarnai cuaca laut lepas, tapi cerah dengan matahari bersinar terik sampai-sampai si kembar meninggalkan jaket mereka dan berlayar hanya dengan celana pendek – mereka bahkan tidak repot-repot memakai kaos (didukung kenyataan persediaan kaos bersih mereka makin menipis – sulit membuat cowok di daratan untuk merutinkan kegiatan cuci baju, cowok di laut apalagi). Angin memang berhembus lebih kencang dari batas normal, tapi tidak cukup dahsyat bagi mereka untuk menyangka bakal ada badai.
Sampai kemudian, pukul satu siang, ketika Alec sedang berusaha menyelamatkan sarden makan siangnya yang gosong dan Ben mengobrak-abrik kulkas mencari selada beku; mereka menerima sinyal dari NAVTEX – sebuah sistem penyiaran otomatis yang memantau keadaan laut – tentang badai yang menghadang sekitar dua puluh jam dari posisi mereka.
Bisa dibayangkan betapa sibuknya si kembar sepanjang sisa hari itu. Mereka mengontak non-stop Tim Pendukung Perjalanan, meteorologis, dan mendiskusikan ploting posisi badai – kira-kira mereka bisa pindah haluan dan menghindarinya, atau tetap menembusnya. Karena badai itu tidak termasuk besar dan mengambil jalur memutar beresiko bertemu badai susulan yang lebih ganas, akhirnya diputuskan Alec dan Ben tetap menempuh jalan lurus.
Pukul tujuh keesokan harinya, cuaca mulai berubah. Kabut tebal turun begitu rendah, langit biru muda yang kemarin berubah warna menjadi kelabu gelap. Alec mengecek persiapan perahunya sekali lagi, memastikan alat komunikasinya berfungsi dengan baik, lalu mengenakan kostum khusus menghadapi badai: jaket merangkap pelampung, topi, kaus tangan tebal, kacamata anti air, dan sepatu karet untuk berjalan di dek licin. Dusan dan Pearl diset semi-autopilot, untuk meringankan beban navigatornya tetapi masih mungkin disetir menghindari ombak.
Ombak pertama menerjang kedua perahu layar itu pukul delapan lewat empat puluh menit. Bagai sebuah pertarungan yang baru dibuka, setelah itu laut langsung mengamuk, air berputar dan bergejolak, seolah ada sendok raksasa mengaduk-aduknya. Angin mendera dari segala penjuru, berderu seperti seribu kipas angin tua, ditadah layar yang menggelebat keras. Pearl dan Dusan terpaksa menjaga jarak lebih jauh agar tidak ada resiko bertabrakan.
Alec bergumul persis seperti karakter yang digambarkan dalam lukisannya. Tangannya memegangi setir erat-erat, seluruh ototnya menegang dalam usaha mempertahankan Dusan di tengah deraan angin dan hujan. Sebuah ombak besar mendorong bagian belakang perahu kecil itu, dan detik berikutnya, Alec menatap laut yang menggila dari kemiringan hampir sembilan puluh derajat, layaknya salah satu adegan dalam klimaks film Titanic. Ia berteriak sekencang-kencangnya, menghabiskan udara dalam paru-paru, ketika Dusan menukik turun bersama dengan ombak yang bergulung-gulung. Untuk sesaat cowok itu mengira dia akan mati, kemudian Dusan terhempas keras ke air. Bayangan gelap menutupi perahu itu, dan Alec sadar bahwa ia berada di bawah ombak, seperti para peselancar di Hawaii, hanya saja posisinya saat ini lebih mengancam nyawa daripada mereka. Buru-buru ia memutar setir, berlomba dengan waktu untuk keluar dari jangkauan ombak sebelum air yang tingginya dua kali Dusan itu menelannya.
Namun sia-sia. Dengan gemuruh keras ombak itu mengguyur Dusan secara brutal, membasahi setiap senti perahu itu, bahkan sampai kabin-kabinnya. Alec megap-megap, terbatuk dan muntah-muntah, mengerjapkan mata dari air asin yang membuat mata pedih, sambil terus berusaha mengemudikan Dusan. Suara cemas Ben mengumandang dari radio komunikasinya yang tergantung di sabuk dan terbungkus pelindung plastik.
“ALEC! ALEC, KAU ENGGAK APA-APA?! HEI! JAWAB!”
“Y-yeah,” sengal Alec, mengelap mulut. “Cuma ombak biasa. Kami enggak apa-apa, kok,” katanya, menunjuk dirinya dan Dusan.
Ben menghela nafas lega. Dia hampir kena serangan panik waktu melihat Dusan menghilang di balik ombak. Ia meletakkan radio kembali ke sakunya dan berkonsentrasi pada masalahnya sendiri. Sementara Dusan membutuhkan navigator yang lincah untuk menghindari ombak, Pearl butuh navigator yang kuat untuk menjaga keseimbangan. Di hari-hari biasa, Ben harus bekerja fisik lebih keras daripada kembarannya untuk menjalankan perahu yang beratnya minta ampun, tapi di tengah badai begini, rasanya seluruh sendinya hampir copot hanya untuk membelokkan Pearl ke arah yang tepat.
Tiba-tiba ombak besar menghantam sisi kanan Pearl, dan Ben kurang cekatan memutar setirnya. Perahu putih itu oleng dengan bunyi lenguh keras, seperti bunyi air ditumpahkan dari kuali tembaga. Ben tergelincir dari posisi berdirinya, jantungnya melompat ke tenggorokan waktu kedua kakinya tercebur ke air laut yang dingin. Untung refleksnya bagus, ia segera menyambar tali baja khusus yang dirancang untuk menyelamatkan navigator dari bahaya jatuh ke laut, mengangkat tubuhnya ke dek dengan susah payah sementara Pearl terempas kesana-kemari.
Baru separo berdiri dengan satu tangan meraih setir dan yang lain tetap erat berpegangan pada tali, ombak baru muncul, kali ini tingginya tepat mencapai ujung tiang layar Pearl. Ben hanya sempat berpikir, ‘Oh, Tuhan….’, dan kemudian ombak itu mengguyurnya bagai seorang ibu mengusir kucing dengan seember air. Begitu besar debit airnya hingga selama beberapa detik Ben tidak bisa bernafas maupun melihat, hanya ada air dan air menghajar Pearl tanpa ampun. Cowok itu bahkan tidak yakin apa dia masih berada dalam perahu atau sudah terseret ombak dan tenggelam. Baru ketika ombak itu menyurut dan Pearl kembali berdiri gagah di atasnya, Ben membuka mata dan memposisikan diri dengan layak di belakang setir.
“Alec, bagaimana keadaanmu?” tanya Ben, berharap Dusan tidak ikut terserang ombak barusan.
“Oke,” jawab Alec, dan dia memang terdengar oke, tidak ngos-ngosan seperti tadi. “Kami enggak kena ombak itu. Aku menghindar tepat waktu. Kau?”
“Hampir tercebur ke laut, tapi bisa kuatasi.” Mata Ben mengecek cepat kondisi sekitarnya, mencari kalau-kalau ada kerusakan. “Pearl juga aman-aman saja, sepertinya.”
“Bagus. Kurasa aku mulai terbiasa dengan badai ini,” kata Alec, dan dalam situasi begini, Ben bisa menangkap nada puas diri dalam kata-kata adik kembarnya. “Selama badai ini tidak memburuk, kurasa aku bakal selamat.”
“Yeah, aku juga” sahut Ben sambil bermanuver menghindari ombak yang siap mengguncang perahunya lagi. Ha! Dia tak akan melakukan kesalahan dua kali.
Sisa badai itu dilewati dengan cukup mulus, Dusan ‘hanya’ tertelan ombak dua kali lagi dan Pearl nyaris membelok memblokir jalur Dusan karena Ben kehabisan tenaga mengendalikannya, tapi semua bisa ditangani dengan baik. Mereka keluar dari area badai dengan selamat, tanpa cedera maupun kerusakan parah, dan kedua navigator itu menghabiskan waktu tenang mereka berhibernasi, memulihkan kondisi tubuh yang capek, sekaligus menahan rasa mual yang terus-terusan muncul setelah enam jam dikocok dalam badai.
* * *
3 Mei 2010
CATATAN PASCA BADAI
Terkait masalah badai kemarin, kami menerima banyak sekali email yang menanyakan kondisi kami. Aku, Alec, bersama Dusan dan Pearl, baik-baik saja dan berhasil melalui badai itu tanpa hambatan berarti. Ada sedikit kerusakan di layar utama Pearl, bagian ujungnya sobek karena terhantam ombak, tapi itu bukan masalah besar – aku akan memperbaikinya segera setelah kecepatan angin menurun. Sementara itu, Dusan tetap utuh seperti baru, hanya beberapa alat elektronik Alec, seperti iPod dan ponsel yang tidak anti air, rusak ketika ombak masuk ke kabin.
Kelembaban udara saat ini sangat tinggi, kami harus menyimpan gadget-gadget sebagai tindakan preventif terhadap lebih banyak kerusakan. Karena itu, untuk sementara ini aku dan Alec tidak akan mengepos foto maupun video. Walaupun begitu, komputer bawaan perahu didesain khusus untuk perjalanan laut, jadi *semoga* masih tetap berfungsi dengan baik dan kami tetap bisa mengepos jurnal harian.
Terimakasih atas semua doa dukungan kalian, baik dari email, komentar, maupun telepon ke Twinchester Team. Kami benar-benar menghargai dukungan kalian. B.W.
TBC
Read more...
Senin, 30 Agustus 2010
Rabu, 25 Agustus 2010
JERAWAT, WAW WAW!
Pagi hari, Tari masuk kamar mandi, masih setengah tidur. Dia nguap lebaaar banget, sampai ada lalat yang tergoda untuk masuk ke dalam ‘ Gua’ nya. Untung tuh mulut sudah nutup lagi sebelum si lalat sempat menclok, kalau nggak, si lalat pasti menemui ajalnya gara- gara aroma maut mulut belum terbilas odol. Pertama- tama, Tari ngaca dulu di cermin peninggalan buyutnya. Apa yang terlihat? Biasa. Pup ( ups, sorry)nya mata yang gede- gede, upil kering di permukaan hidung, dan, tentu saja, noda putih panjang jalur iler semalam. Tapi.... hei! Ada penghuni baru di wajahnya sekarang. Ia tinggal di antara kedua alis tebal, diatas hidung.
Apakah itu? Ini petunjuknya: dia bulat, berwarna merah. Para gadis takut padanya, walau ia cuma sebesar manik- manik. Nah, apa Anda sudah menemukan jawabannya? Yak, benar! Itu adalah JERAWAT!!! Deng deng deng!
“ AAAAARRRRGGGHH!!!!”
Seisi rumah langsung heboh. Bi Darmi yang latah, langsung deh nuangin setengah botol minyak ke wajan sambil teriak, “ e lha, lha, lha, lha, lha!”. Adek yang lagi gosok gigi, jadi nelen busa odol. Papi kesandung kakinya sendiri pas jogging di tempat. Mami lebih parah, jatuhin semangkuk penuh sup buat sarapan gara- gara kaget. Cuma Mbak Adis aja yang nggak keganggu. Maklum, telinganya emang rada- rada gimanaaa.... gitu!
Mami, adek, dan Bi Darmi tergopoh- gopoh ke kamar mandi. “ Ada apa sih, Ri?”
“ Mam, lihat, nih!” adu Tari, menunjuk jerawatnya.
“ Hahahaha!!” tawa adek meledak. Brul! Brul! Odol menghambur kemana- mana.
“ Iiih, jorok tau! Lagian ada orang kena musibah kok diketawain! Jahat nih!”
“ Habis.... hehehe... habis.... gyahahahahaha!!!!”
Pipi Tari merona merah. Dia tahu persis kenapa adiknya tertawa. Tuh jerawat memang nggak kira- kira nongolnya. Masa dia pilih tempat pas ditengah- tengah dahi? Kan jadi kayak orang India acha-acha!
“ Mam, gimana, dong?”
“ Gimana apanya? Orang sudah punya jerawat, tandanya sudah gede!”
“ Iya juga, ya. Eeh.. tapi, masa Tari harus ke sekolah dengan muka begini?”
“ Lha, emang biasanya mukamu kayak apa?”
“ Mam, please! Maksudnya, ini jerawat diapain gitu lho biar nggak kelihatan!”
Mami diam sejenak, berpikir. Tari mengharap banyak, soalnya air muka Mami tumben serius. “ Yah, ditutupin aja!” katanya kemudian.
Gubrak! Kirain usulnya lebih canggih dari ini. “ Ditutup pakai apa, Mam?”
“ Tau. Mau poni kek, mau sorban kek, terserah. Sekarang Mami mau aerobik dulu, ya. Kamu mandi sana, keburu siang!”
Dan Mami berjalan ke ruang TV untuk menyetel kaset aerobik barunya, meninggalkan Tari sendirian, kerepotan sendiri gara- gara jerawat pertamanya.
* * *
Walhasil, pagi itu Tari berangkat sekolah dengan topi menutupi separuh wajahnya. Kasihan si topi, harus kerja keras menjangkau seluruh permukaan kepala Tari yang gedenya ya ampuuun!
Untungnya, hari ini termasuk satu dari segelintir hari langka, dimana Tari beruntung. Jam pertama dan kedua kosong, soalnya Bu Ika penataran. Fiuh! Padahal beliau guru killer yang belum pernah izin sebelumnya. Anak- anak pada gila- gilaan ngerayain rekor ini. Ada yang syukuran pakai nasi bungkus, nyanyi- nyanyi walau suaranya super fals, sampai joged- joged nggak jelas di depan kelas. Kegembiraan mereka memuncak saat diberi tahu bahwa pelajaran ketiga juga kosong. Berarti nggak ada pelajaran sampai istirahat dong! Yippi.....
Bagi Tari pagi itu berjalan amat sangat menyenangkan. Dia bisa ngobrol sampai kram mulut sama Uwi, teman sebangkunya, dan pastinya, untuk sementara ini, jerawatnya gagal nampang.
Pas istirahat, anak- anak sudah pada capek plus laper, jadi mereka semua langsung menyerbu Parman’s Shop alias Warung Pak Parman di belakang sekolah sana. Semua anak, kecuali Uwi dan Tari. Uwi mengeluarkan lunch box dari tasnya. Dia satu- satunya anak di kelas, dan mungkin juga di sekolah, yang masih bawa bekal dari rumah. Bukannya cupu or alergi sama makanan kantin, tapi Uwi nggak pernah sempat sarapan di rumah. Habis, tiap pagi dia harus menempuh jarak 8 km naik angkot! Jam berapa berangkatnya, coba? Tari sih nggak keberatan Uwi bawa bekal, dia toh nggak terganggu. Malah, kadang- kadang Tari untung, soalnya kalau Uwi lagi bolong, dia dengan sukarela membagi bekalnya. Lumayan juga kan buat ngirit!
“ Uuuuwiiii, bagi dong mie gorengnya,” pinta Tari bernafsu. Dalam hati ia berdoa, semoga hari ini Uwi nggak pelit.
“ Tumben jam segini kamu udah lapar,” kata Uwi heran.
“ Em... aku tadi nggak sarapan, sih,” kata Tari memelas. Memang benar, Tari sekeluarga tadi berangkat dari rumah dengan perut kosong. Gimana mau sarapan, orang supnya sudah jatuh, dan telur dadarnya kerendem minyak?
Uwi jadi iba ( sekaligus ngeri) melihat ekspresi Tari pas ngeliatin bekalnya. Akhirnya dia memutuskan untuk berbagi bekal sama sahabatnya itu.
“ Horeee.... matur thanks ya,” sorak Tari. Ia segera menyerbu mie goreng Uwi.
Tapi dasar Uwi jahil, dia tarik topi Tari sampai lepas. Emang dari tadi Uwi penasaran banget, kok si Tari nggak mau nglepas topi. Uwi sampai curiga, jangan- jangan Tari kena bisul di kepala. Hihihi...
“ Uwiii!!! Nggak usah jahil!!!”
“ Hah! Hwahaha!” Uwi terpingkal- pingkal. “ Ohok! Ohok!” dia tersedak, mie gorengnya keluar dari hidung, kayak cacing uget- uget. Tari puas tapi jijik juga melihatnya.
“ Rasain, makanya nggak usah gitu deh Wi!”
Uwi nggak dengerin. Usai batuk- batuk dia nglanjutin tertawa. Jerawat Tari lucu banget, sih. Udah bulat sempurna, merah, pas ditengah kepala pula. Padahal wajah Tari kan putih mulus. Jadi kayak tombol lampu!
* * *
Hari demi hari berlalu. Jerawat Tari masih tetap bandel, nggak mau minggat. Tari makin lama makin frustasi aja menghadapinya. Dia merasa sudah kalah telak.
“ Uh, Wi... aku pencet aja kali ya nih jerawat. Bikin sebel! Huh-huh-huh!”
“ Eh, jangan, nanti bekasnya bolong, lho,” tegur Uwi.
“Bolong? Kayak abis ditembak gitu?”
“Yep.”
“ Uh, kalau gitu sih mending nggak dipencet sekalian. Terus gimana dong?”
“ Nah, karena aku ini karibmu, aku cariin obat biar tuh jerawat gone with the wind tanpa meninggalkan bekas. Bentar....” Uwi mengaduk- aduk isi tasnya, lalu mengeluarkan kertas yang teremas mengenaskan. Uwi meratakannya di meja.
Disitu tertulis obat tradisional bernama aneh yang bisa mengobati semuaa penyakit kulit dari panu sampai bisul, semua bisa diatasi.
“ Wow, keren! Ini bener- bener manjur, nih?”
“ Iya dong, mujarab banget,” jawab Uwi ngasal. Orang dia sendiri belum pernah nyoba kok ditanyain.
“ Hmm... oke deh. Besok anterin aku ke Kantor Pos ya, buat kirim wesel. Aku mau pesen satu,” ujar Tari yakin. Harganya mahal banget sebetulnya, tapi karena Tari udah nggak betah hidup bareng si jerawat, ya udah, relain aja uang saku sebulannya.
* * *
“ Uuuuwiiiiiii!!!!!”
Uwi terlonjak kaget. PR yang dia kerjain jadi kecoret. Dasar, siapa sih yang ribut- ribut pagi- pagi begini? Jelas, jawabannya ya si Tari.
“ Ri, ngapain sih teriak- teriak segala?”
“ Wi, liat, gara- gara kamu jadi gini deh!”
Tari membuka topinya. Seperti biasa, tawa Uwi meledak, hanya kali ini lebih keras. Di dahi Tari sekarang ada dua jerawat bulat merah, seperti mata kelinci.
“ Uwi! Ada orang susah kok diketawain!” Tari kedengaran hampir nangis. Iyalah, dia kan sudah keluar banyak duit buat beli obat tradisional itu, yang dikirim empat hari lalu. Tari berharap tuh jerawat segera musnah dengan bantuan obatnya, tapi harapan tinggal harapan. Bukannya hilang, si jerawat malah ngajak temannya singgah ke kediamannya segala.
“ Hehe... eh, umm... obatnya nggak terlalu manjur, ya?” Uwi tergagap.
“ Nggak terlalu manjur?? Uwi, bangun dong! Nih jerawat malah tambah subur, tahu! Lihat, sampai beranak segala! Pokoknya kamu harus tanggung jawab!” Tari meledak.
“ APA?! Eh, i..iya deh, jangan nangis dong! Oke, nanti sore kita ke mall, ya. Aku cariin obat jerawat lain!”
* * *
Sorenya, seperti yang sudah mereka sepakati, Uwi dan Tari bakal ketemuan di depan mall. Uwi jadi nyesel nunjukin brosur sialan itu ke Tari. Padahal maksudnya mau membantu, eh, sekarang dia malah harus mengganti rugi pada Tari, membelikannya obat baru.
“ Wi, udah lama nunggunya?” tanya Tari. Dia muncul tiba- tiba entah darimana.
“ Kamu bikin kaget aja! Hah, kamu pakai apaan?” tanya Uwi shock. Gimana nggak, sobatnya pakai ikat kepala norak warna kuning. Iiih, pantas orang- orang dari tadi ngliatin. Mereka mengira Tari pendekar nyasar dari negeri antah berantah.
“ Ini bandana, Wi. Aku pakai gini buat nutupin jerawat. Kamu kan tahu aku nggak punya topi selain buat seragam, dan katanya jerawat nggak boleh ditutupin pakai poni. Nah ditutup pakai ini aja. Keren, kan? Eh, udah yuk, cepetan, nanti keburu malam!”
Tari berjalan masuk ke mall. Uwi mengikuti di belakangnya, berusaha menjaga jarak. Jangan sampai ada orang, apalagi cowok cakep, yang tahu bahwa dia adalah sahabat cewek sinting yang pakai bandana buat nyembunyiin jerawat.
Sore itu menjadi sore paling seru bagi Tari, sekaligus paling sengsara bagi Uwi. Sadar kalau dirinya dibayari, Tari langsung belanja macam- macam. Mulai dari sabun, scrub, kertas penyerap minyak, dan pasukan pembasmi jerawat lain. Nggak tanggung- tanggung, Tari beli yang king size. Alasannya sih, biar nggak usah beli lagi.
Padahal motif sebenarnya ya... buat balas dendam ke Uwi! Waduh!!!
* * *
Pagi hari, Tari masuk kamar mandi, masih setengah tidur. Dia nguap lebaaar banget, sampai ada lalat yang tergoda untuk masuk ke dalam ‘Gua’nya. Untung tuh mulut sudah nutup lagi sebelum si lalat sempet menclok. Kalau nggak, si lalat pasti menemuai ajalnya gara- gara aroma terapi maut dari mulut yang belum dibilas odol. Pertama- tama ia ngaca dulu di depan cermin peninggalan buyutnya. Apa yang terlihat? Biasa. Pup ( ups, sorry) nya mata yang gede- gede, upil kering di permukaan hidung, dan tentu saja, noda putih panjang, jalur iler semalam. Tapi.... hei! Ada yang baru di wajah Tari. Si jerawat telah menemui ajalnya. Kempes. Tewas. Lenyap tak bersisa.
“ HOREEEEEEEEEEEE!!!!!!!”
Seisi rumah langsung heboh. Bi Darmi yang latah, langsung deh nuangin setengah botol minyak ke wajan sambil teriak, “ e.. lha.. lha.. lha.. lha.. lha..!”. adek yang lagi gosok gigi, jadi nelen busa odol. Papi kesandung kakinya sendiri pas jogging di tempat. Mami lebih parah, njatuhin semangkuk penuh sup gara- gara kaget. Cuma Mbak Adis yang nggak keganggu. Maklum, telinganya emang rada- rada gimanaaa.... gitu!
Mai, adek, dan Bi Darmi tergopoh- gopoh ke kamar mandi. “ Ada apa sih, Ri?”
“ Mam, jerawatnya ilang! Jerawatnya ilang, Mam! Jerawatnya IIILLLAANGG!!”
* * *
Siangnya Tari slametan. Aslinya dia mau ngajak Uwi aja, tapi keluarganya emang usil berat. Waktu Tari nelpon Uwi, Mbak Adis dan adek nguping. Terpaksa deh mereka juga ikut ditraktir, makan sepuasnya di warung pojok. Tapi untuk kali ini nggak apalah. Toh Tari juga sedang senang luar biasa. Jerawatnya sudah angkat kaki, membuat wajahnya kembali halus, sehat berseri. Satu pesan buat jerawat: sekali- sekali mampirlah ke wajah Uwi, biar Tari bisa gantian ketawa. Hihihihi!
“ Mbak, mbak! Baksonya satu lagi, ya. Yang banyak gajihnya. Oh iya, es klamudnya juga satu!” kata Mbak Adis antusias.
“ Mbak, udah, dong! Nanti uangnya nggak cukup! Lagian, kok nggak malu, sih. Cantik- cantik eh, makannya seabrek!” tegur Tari setengah jengkel. Heran, kakaknya ini model, putri sekolah yang tampak anggun, langsing, cantik pula. Tapi nafsu makannya, wuih, gila! Kalau nggak ditahan bisa ngalahin Papi. Tadi dia sudah melahap lima tempe goreng, empat tahu isi, dua mangkuk bakso, semangkuk mie ayam, tiga ketupat, tiga pisang goreng, dua gelas es buah, segelas soda gembira, eh, sekarang masih nambah lagi! Jangan- jangan perut Mbak Adis seperti kasih ibu, tak ada batasnya. Tari, Uwi, dan adek saja sampai kenyang cuma dengan melihat Mbak Adis makan.
Setelah semua orang puas ( sebenarnya Mbak Adis belum), Tari mendatangi Pak Parnocoro, yang konon fobia kecoa. Pak Parnocoro menyerahkan bon pada Tari, yang melotot melihat jumlah angkanya. Lima angka diawali angka lima. Glek!
Tari sudah akan membayar ketika.....
...... dia menyadari......
........ bahwa dia bokek! Nggak punya uang sama sekali. Klepek- klepek. Kok, Tari bisa lupa kalau jatahnya bulan ini sudah kandas buat beli obat aneh pengundang jerawat? Huh, dasar jerawat terkutuk! Sudah hilang, masih juga menyisakan derita.
Tari berpikir keras. Mau pinjam uang Mbak Adis, nggak mungkin, dia aja Credit Queen. Adek apalagi, kantongnya kering terus! Uwi, dia sudah bangkrut karena beli obat jerawat yang belum habis dipakai. Gimana nih? Masa mau kredit di warung? Nggak level atuuhh..........
“ Ada apa sih, Ri, kok lama lama bener?” tanya Uwi, melongok dompet Tari. Kosong melompong. Tepat saat itu, kesetresan Tari mencapai puncaknya.
“ AAAAARRRRGGGHH!!!!!!!!!”
“ HAHAHAHAHAHAHAHAHA!!!!!!!”
Read more...
HEROES
Ketika mendengar suara penuh kegembiraan dari taman belakang, aku segera mendapat firasat buruk. Hal-hal yang membuat keluargaku begitu gembira biasanya merupakan bencana bagiku. Khawatir sekaligus penasaran, aku melangkah masuk ke taman, dan mendapati Mama, Papa, serta kakak perempuanku sedang mengerubuti sesosok tanaman berdaun mirip kuping gajah.
“Dan, coba lihat apa yang dibawa Papa!” kata Mama sekaligus sebagai kata sambutan.
“Anthurium crytallinum lho Dan!” seru kakak, seolah aku tahu saja makna di balik nama itu.
Aku mengerutkan dahi, mengamati gerombolan daun dalam pot itu. Tanaman itu bahkan tidak berbunga. Apa sih yang membuat mereka begitu tertarik? Oh iya, aku lupa, keluargaku kan punya Gen Pecinta Tanaman – sesuatu yang tidak menurun kepadaku. Entah aku harus sedih atau bersyukur karenanya.
“Berapa harganya?’ tanyaku curiga. Terakhir kali, Papa membawa bonsai yang harganya setara dengan laptop Apple versi terbaru.
“Papa beruntung punya kenalan yang mau kasih murah. Cuma sepuluh juta,” jawab Papa berpuas diri.
Aku terkesiap. “APA?! Tapi Ma, katanya bulan ini aku mau dibeliin motor?” protesku, mulai merasakan hawa-hawa tidak beres.
“Motor?” ulang Mama bingung.
“Iya, Mama udah janji kan?”
“Oh,” kata Mama, “motornya besok-besok aja ya, Sayang. Sekarang Anthurium-nya dulu. Tuh, cantik banget, kan? Mending juga Anthurium daripada motor. Lagian kamu kan masih bisa numpang Papa ke sekolah.” Mama mengatakan hal itu dengan sangat enteng, tanpa menyadari efeknya bagiku.
Aku menatap Mama tak percaya, lalu mengalihkan pandang pada Papa dan kakak yang kini berdiskusi seru tentang berbagai tumbuhan sejenis. Ingin sekali aku menendang pot itu, menginjak-injak si Kuping Gajah, dan berteriak, “anybody sane here?!”
*
“Kesimpulannya, kamu dikalahin sama Anthurium crytallinum nih?” kekeh Tia usai mendengar ceritaku. Kami berdua berjalan melintasi lapangan menuju halte bus – sesuatu yang tak perlu kulakukan andai tidak ada genus Anthurium di muka bumi.
“Kuping Gajah,” tukasku jengkel. Aku menolak menyebut atau mendengar nama tanaman yang lebih canggih daripada namaku. Teristimewa karena tanaman itu telah menghancurkan hidupku. “Please deh, gara-gara DAUN aku harus bersumpek ria di bus sampai bulan depan. Kadang aku nggak habis pikir sama jalan pikiran keluargaku.”
Tia terkekeh lagi. Oh ya, gampang memang menertawakan orang. Coba dia yang ada di posisiku, bagaimana perasaannya, aku mau tahu?
“Tapi Dan, paling nggak kamu mengurangi emisi yang bisa memperparah Global Warming,” hiburnya.
“Global Warming itu kan....?” aku berusaha sebisa mungkin menutupi nada bertanya dalam kalimatku.
Oke, silahkan panggil aku Dana Dungu. Boleh saja aku ngenet sama seringnya dengan Tia, tapi sementara dia sibuk meng-update berita tentang Obama dan Hillary Clinton, aku sibuk meng-update Friendster-ku. Satu-satunya berita internasional yang kubaca adalah dari perezhilton.com. Jadi, waktu kata Global Warming hinggap di telingaku, yang terbayang adalah.... ehm. Perang Dunia Ketiga. Jangan tanya kenapa.
“Iya, Pemanasan Global, kerasa banget kan, kalau belakangan ini udara tambah panas?”
sahut Tia. Aku bersyukur dia tidak mendengar otakku berseru, oh, jadi Global Warming itu hubungannya sama LINGKUNGAN toh?
“Kenapa nggak punya motor bisa bikin cuaca jadi nggak panas?” tanyaku. Tanpa kata ilmiah macam ‘emisi’, tapi setidaknya sesuai topik.
Sahabatku lalu mengoceh tentang emisi karbon yang dihasilkan kendaraan bermotor sekaligus andilnya dalam pencemaran udara. Aku cuma manggut-manggut, persis boneka anjing pitbull di dasbor mobil Papa. Aku heran kenapa Tia harus berkutat dengan kata-kata rumit untuk mengatakn sesuatu yang intinya ‘asap motor menyebabkan polusi udara’.
Tia masih mengungkit-ungkit Global Warming saat bus kami datang. Jujur, aku telah kehilangan makna dari tiga perempat monolognya, bahkan sampai menangkap kata ‘vampir’ segala – yang jelas merupakan indikasi bahwa aku tidak menyimak (apa kaitan musuh Van Helsing dengan Pemanasan Global?).
Namun aku sempat memikirkan, dan tidak setuju, pada pendapat Tia bahwa tanpa motor aku bisa memperlambat kerusakan bumi. Memang apa pengaruhnya satu motor? Kalaupun aku berkorban sebagai penumpang bus, tetap ada jutaan orang di luar sana yang menghasilkan polusi dari kendaraan mereka – dan aku sama-sama menanggung akibatnya. Kenapa juga aku harus sok jadi pahlawan – yang akhirnya sia-sia?
*
Sorenya aku bela-belain nongkrong di alun-alun buat OL gratis. Nggak lucu dong, kalau Tia tahu sebenarnya aku tak tahu apa-apa soal world issue yang kayaknya lagi booming banget, berdasarkan reaksi kakak dan Mama waktu kutanyai tadi. Aku memang tidak suka mengurusi sesuatu yang ‘sulit’, tapi aku lebih tidak suka jika harus kalah dari Tia.
Kuketik keyword ‘Global Warming’ dan kagetlah aku. Result menunjukkan ada empat puluh delapan juta topik, termasuk di dalamnya polusi, krisis sumber daya alam, pencairan es di kutub dan bla... bla.... bla... istilah-istilah yang aku tidak mengerti maksudnya apa. Hebat. Ini bahkan empat kali lebih banyak daripada result untuk ‘Gossip Girl’. Aku memilih topik yang sekiranya paling gampang dimengerti dan mulai membaca.
*
Dua jam kemudian, aku benar-benar tenggelam dalam Dunia Pengetahuan – region yang baru bagiku (bukan berarti aku tak pernah belajar, tapi kau tahulah maksudku). Makin banyak aku membaca, makin bodoh aku merasa. Betapa cueknya aku selama ini! Dengan fanatik aku memuja parfum dan hairspray, tanpa menyadari ‘pengkhianatan’ mereka. Sama sekali tak terlintas di benakku bahwa benda-benda yang membuatku cantik dan tambah percaya diri, ternyata mengancam orang-orang di negara tropis meninggal karena kepanasan hanya dalam tempo beberapa dekade ke depan. Dan aku juga tidak salah dengar tentang ‘vampir’ rupanya. Ada istilah Energi Vampir, definisinya membuatku bersumpah akan mencabut semua charger nganggur saat sampai di rumah nanti.
Sekarang aku paham kenapa Tia begitu bangga naik angkutan umum. Tanpa motor pribadi, seseorang bisa mengurangi BERTON-TON emisi dari muka bumi. Rasanya tolol sekali orang yang menganggap itu hal sia-sia – dalam hal ini, sayangnya, aku salah satu dari mereka.
Mendadak aku bersyukur belum dibelikan motor. Dengan begitu aku mendapat kesempatan untuk membuka mata. Aku mendapat kesempatan untuk berubah, menjalani hidup yang lebih baik, bukan hanya untukku, tapi juga generasi masa depan. Andai Tia dan Si Kuping Gajah bisa mendengarku sekarang, keduanya pasti akan melambung bangga, sebab diam-diam aku berterimakasih pada mereka.
*
“Apa, coba bilang lagi?”
Aku dan Tia melintasi lapangan yang biasa, menuju halte yang biasa, seperti biasa menunggu bus. Hanya kali ini sahabatku tidak terkekeh, melainkan melongo, matanya membeliak sebesar piring.
“Iya Tia Sayang, aku batal beli motor,” aku menegaskan, gantian terkikik melihat ekspresi Tia yang sama persis dengan keluargaku kemarin. Mereka bagai tersambar petir waktu aku bilang tidak berminat lagi pada motor, dan malah minta diantar ke toko bunga. Yah, wajar saja sih, aku sendiri kaget dengan pilihanku. Mungkin Gen Pecinta Tanaman yang selama ini resesif mulai muncul ke permukaan.
“Tapi Non, masa kamu beli tanaman hias seharga..........”
“Sebelum kamu selesai, nggak, aku nggak beli tanaman itu,” potongku. Meski sudah mulai menyukai tumbuhan, bukan berarti aku mengikuti cara keluargaku yang bisa dikatagorikan sebagai pemborosan tingkat tinggi. “Aku beli bibit pohon terus kusumbangin ke kampung, itung-itung buat reboisasi. Oh, aku juga ikut program... apa itu namanya... yang melihara pohon lewat internet....”
“My Baby Tree?” bantu Tia, tersenyum kecil mendengar deskripsiku.
“Ya, itu. Terus sisa uangnya kutabung, soalnya aku pingin bikin taman kecil deket kamarku,” aku menyelesaikan penjelasan dengan bangga, bukan hanya karena telah melakukan tindakan ramah lingkungan, tapi juga karena mampu menyebut-nyebut ‘reboisasi’ dalam percakapan. Sebuah kemajuan besar bagi seorang cewek yang tadinya tidak tahu Global Warming itu apa.
“Wah, keren Dan. Kamu bener-bener pecinta alam sejati,” puji Tia kagum. Aku meringis. Ada hal-hal yang harus kau rahasiakan dari sahabatmu selamanya, dan keblo’onanku dulu jelas merupakan salah satunya.
Tepat saat itu bus kami datang. Kendaraan jingga dengan angka lima terpampang besar-besar di atapnya – sosok yang dulu aku sangat malu menaikinya – kini tampak sangat keren di mataku. Aku masuk dan melempar senyum pada para penumpang lain yang, sama halnya denganku sebulan lalu, tidak menyadari betapa mereka telah menjadi pahlawan. Bahwa hanya dengan naik sebuah bus, kami semua menyelamatkan bumi dari krisis mengerikan. Mungkin, suatu hari nanti, bakal ada penghargaan khusus bagi para penumpang angkutan umum. Mungkin kami bakal mendapat kesempatan menjajal Hybrid Car secara gratis. Who knows?
* *
Read more...
Senin, 23 Agustus 2010
SEASON IN THE SUN CHAPTER 1
DISCLAIMER: Characters aren’t mine. Same old, same old.
SUMMARY: Follow Alec and Ben's adventure to sail around the world!
Keluarga besar Winchester telah bersahabat dengan laut sejak buyut dari kakek mereka, begitulah cerita yang beredar di antara penduduk kota.
Semua orang tahu tentang keluarga bermata zamrud itu. Mereka menjadi semacam ikon, legenda di kota pelabuhan kecil yang tak pernah banyak menarik wisatawan bahkan di musim liburan terpanjang sekalipun. Keluarga Winchester tersohor dengan anggota-anggotanya yang pemberani. Dari Bruce Winchester, sang kapten kapal yang konon pernah menaklukan bajak laut Pasifik; sampai Hannah, John, dan Luke, tiga keturunan Bruce yang memiliki perusahaan kapal dagang HJL Corp. Jika keluarga lain menuang whisky berumur seratus tahun sebagai perayaan dewasanya anak-anak mereka, para Winchester menandainya dengan mengirim anak-anak itu berlayar mengarungi samudera. Bahkan Jessica, salah satu gadis kebanggaan keluarga, sukses memperoleh gelar sebagai circumnavigator – pelaut yang berlayar keliling dunia – wanita termuda di ulangtahun keenambelasnya. Darah pelaut tak pernah pudar dari nadi mereka.
Kali ini, keluarga besar merangkap Tim Pendukung Perjalanan yang terdiri dari dua puluh tiga orang termasuk para menantu itu tengah berdiri di pinggir pelabuhan Del Rey, California. Masing-masing bergiliran mengucapkan salam selamat jalan bagi sepasang remaja yang tak henti-hentinya tersenyum lebar. Alec dan Ben, pria termuda dalam klan Winchester saat ini, akan memulai perjalanan mereka keliling dunia meneruskan tradisi keluarga.
“Selamat jalan, Kembar,” kata Rachel, adik pertama Jess. Gadis itu sempat merajuk ketika mendengar kedua saudaranya yang hanya lebih tua dua tahun akan pergi berpetualang, sementara dia sendiri masih dianggap terlalu muda. Dia berhenti bicara pada semua orang selama hampir sebulan; sampai akhirnya orangtuanya menyerah dan mengizinkannya ikut Jess berlayar ke Eropa. Tidak bisa dibandingkan dengan jarak yang akan ditempuh si kembar, tapi dari cara Rachel memeluk mereka sekarang, tampaknya gadis itu sudah cukup puas. “Jangan sampai nyasar, ya,” lanjutnya sambil menyeringai.
“Kalau ada aku, sih, enggak mungkin nyasar,” jawab Ben percaya diri, “kalau Alec sendirian, baru deh, kalian harus khawatir.”
“Idih, baru dikasih Pearl Wings saja pedenya selangit,” cetus Alec kesal.
“Bilang saja kau iri karena enggak memegang perahu legenda kita,” seringai Ben setengah bercanda setengah congkak.
Alec memutar bola mata. Dia tidak mengakui, tapi jauh dalam hati menyadari kebenaran kata-kata Ben. Dia iri, bahkan hampir dengki, ketika Dad menunjuk kembarannya sebagai navigator Pearl Wings. Itu adalah perahu layar kesayangan keluarga Winchester. Dengan panjang lima belas meter, berwarna putih keabu-abuan bagai mutiara dan dua layar seputih salju, Pearl tampak sangat mencolok di tengah birunya lautan. Perahu itu jugalah yang telah menemani Dean, kakak sulung mereka, dalam perjalanan solonya mengitari dunia.
“Enggak masalah kau membawa perahu mana, yang penting adalah bagaimana kau mengendalikannya,” bela Sam yang berdiri tak jauh di belakang mereka. Dulu dia juga tidak boleh membawa Pearl Wings, mendapat perahu mungil sepanjang sebelas meter sebagai gantinya, jadi dia juga agak sensitif kalau mendengar Ben berbangga-bangga.
“Dan itu membuktikan kalau aku lebih cakap. Enggak semua orang bisa menavigasi Pearl, dengan berat dan panjangnya itu,” dengus Ben, “kalau kau tidak bisa mengatur keseimbangan layarnya, dia bisa terbalik.”
“Semua perahu juga begitu kali,” gumam Alec jengah. Dia paling malas kalau Ben sudah mulai menyombong – terutama karena yang disombongkannya bukan omong kosong. Ia memang selalu selangkah lebih maju daripada Alec, dari teori dasar sampai praktek lapangan.
“Tapi menavigasi Dusan juga butuh kelincahan. Perahu kecil artinya mudah terpengaruh ombak, hanya yang berpengalaman yang bisa mempertahankan jalurnya.”
Mereka menoleh ke si pemilik suara. Rupanya Dean, yang baru saja turun dari Dusan The Red Hawk – perahu merah milik Alec – sambil menggendong Seara, putri kecilnya. Balita itu menggeliat-geliut usil dalam pelukan sang ayah, mengangkat tangan mungilnya ke arah Lisa, ibunya, yang masih di atas perahu mengecek ransum.
“Sebentar, manis, sebentar lagi Mommy turun,” kata Dean, membetulkan posisi Seara yang melorot. Ia lalu tersenyum pada Alec. “Dusan perahu yang hebat. Kau beruntung bisa mendapatkannya.”
“Yeah,” jawab Alec, tersenyum masam. Dia tahu Dean cuma berusaha menghibur, karena siapa sih, yang akan melirik Dusan, perahu mini macam kutu busuk (bahkan nol koma empat meter lebih pendek dari perahu Sam!) kalau ada Pearl Wings berjalan gagah di depannya, memimpin laiknya kapten besar? Tapi dia sedikit senang dengan fakta bahwa Dean dan istrinya memilih menjadi pengecek perahu Alec daripada Pearl Wings.
Tak beberapa lama, Lisa bergabung dengan mereka, disusul Mary dan John yang baru selesai mengecek Pearl. Setelah yakin kondisi kedua perahu memadai, termasuk ransum untuk delapan bulan, alat komunikasi, dan peralatan medis, kini waktunya melakukan konferensi pers kecil-kecilan yang (terpaksa) diadakan keluarga mereka karena berita tentang cowok kembar berencana menaklukan lautan tiba-tiba tersebar di internet. Sisi baiknya, mereka mendapat sponsor tanpa kesulitan. Sisi buruknya, mereka harus terus menjaga imej.
“Boleh kami mengambil foto untuk NY Times?” tanya seorang wartawan wanita dengan potongan pembawa acara gosip.
“Uh, tentu,” ujar Alec, yang sebenarnya tak perlu. Wartawan itu sudah menggeret lengannya bahkan sebelum cowok itu menjawab, agar ia bersanding dengan Ben di samping (tentu saja) Pearl Wings. Bahkan Dusan tidak cukup gagah untuk dipajang di halaman koran.
Setelah itu acara foto-foto berkembang jadi wawancara. Dua jam kemudian, John, Dean, dan Luke ayah Rachel terpaksa menyudahi tanya jawab yang makin lama makin melenceng dari topik (“apa kalian punya pacar yang menanti kepulangan kalian?”, “apa kalian akan bersaing untuk mencapai finish terlebih dahulu?”) dan memisahkan para wartawan dari si kembar yang tengah bersiap-siap. Sanak saudara sekali lagi mendoakan keberuntungan, Mary memberi kecupan selamat jalan, John menyelipkan kaki kelinci untuk keberuntungan saat bersalaman dengan kedua putranya, Sam menempeleng kepala mereka, Seara mencium Ben dengan berisik dan menjambak rambut Alec (bocah itu tidak pernah mau akrab dengannya, entah kenapa). Lisa memeluk mereka erat-erat sambil berurai airmata. Istri Dean itu memang paling melankolis dalam keluarga, mungkin karena dia satu-satunya yang tidak punya garis keturunan pelaut.
Ben naik ke perahunya penuh gaya, dan Alec, setelah memutar bola mata dan menjulurkan lidah pada kembarannya, juga memposisikan diri dalam perahu yang selama delapan bulan ke depan akan menjadi rumahnya.
Mesin dinyalakan, suaranya keras memekakkan telinga. Hanya mereka yang paham bisa membaca bahwa kondisi kedua perahu sangat prima – secara teoritis sanggup membawa para navigator muda itu melintasi samudera tanpa hambatan. Tapi, tentu saja, kau tidak bisa mengandalkan teori jika berhadapan dengan laut; sudah merupakan prestasi jika Dusan dan Pearl mampu menempuh setengah perjalanan tanpa harus berhenti untuk tune-up ataupun reparasi.
Sesuai kesepakatan, Ben bergerak duluan. Bagai pelayar profesional, ia memisahkan badan besar Pearl dari deretan perahu lain dengan mulus. Alec menyusul setelah tercipta jarak yang cukup, berlabuh diiringi sorak sorai dan siulan pelaut ala keluarganya.
“Maju, Winchester! Taklukan lautan, kembali dengan kejayaan!” John mendentumkan motto nenek moyang mereka, suaranya menembus seruan riuh rendah di sekitarnya dengan mantap.
Ben menoleh, memberi salut sambil berteriak, “aye, aye, Sir!” meskipun ayahnya tak akan mendengar. Di belakangnya Alec juga melakukan hal yang sama. Fotografer mengambil foto dengan rakus, kilatan kamera mereka nyaris membuat pelabuhan itu tampak seperti gundukan permata.
Alec tersenyum lebar. Kalau belum apa-apa saja sudah heboh, ia tak sabar untuk kembali ke pelabuhan ini di musim gugur, saat ia telah resmi menyandang predikat circumnavigator. Semua pasti akan mengaraknya bagai pahlawan.
Menatap bentangan luas membiru di hadapannya, cowok itu mengeratkan pegangan ke setir perahu, tersenyum penuh tekad. Inilah dia, klimaks dari segala persiapan dan latihan yang ia lakukan selama dua tahun. Jawaban dari panggilan jiwa Winchester sejati, petualangan tak terlupakan yang akan diceritakan turun temurun dalam keluarganya. Adrenalinnya terpacu, jantung berdebar penuh antisipasi membayangkan perjalanan yang menegangkan, penuh rintangan, ombak ganas, dan badai.
Menjelajah samudera benar-benar menggairahkan.
* * *
Menjelajah samudera benar-benar membosankan.
Setelah euforia keberangkatan memudar, Alec mendapati dirinya menguap lebar menatap air biru menari-nari tak ada habisnya, hanya diselingi pemandangan Pearl Wings yang melaju pasti tiga ratus meter di depan. Cuaca hari ini bagus, matahari bersinar terik di atas kepala, angin berdesir kuat tapi aman, sama sekali tidak mengindikasikan datangnya badai. Fakta yang membuat Alec makin mengantuk saja.
Ia masuk lagi ke kabin, lebih karena kurang kerjaan daripada yang lain, dan untuk kesekian kalinya mengecek fasilitas Dusan. Sama sekali tidak mengalihkan kejenuhan sebab pada dasarnya ia sudah hafal bagian-bagian perahunya di luar kepala. Tidak banyak yang bisa dilihat dalam perahu layar sepanjang sepuluh meter yang didesain secara fungsional – cuma ada jaket penyelamat, bangku tidur, alat komunikasi sekaligus navigasi, dan celah-celah kosong dirancang untuk tempat menyimpan makanan. Rasanya seperti masuk ke dalam gudang penyimpanan sempit alih-alih sebuah perahu bersertifikat internasional seharga tiga ratus lima puluh ribu dolar – seperenamnya dibayar tabungan seumur hidup Alec plus sumbangan sekolah.
Alec mengambil radio kecil yang tergeletak dalam ruang navigasi. Berbeda dengan alat-alat lain yang sudah terpasang dalam perahu dan berfungsi untuk mengontak dunia luar, radio portabel seukuran walkie-talkie ini dipasang sendiri oleh Alec dan Ben sebagai alat komunikasi khusus mereka berdua. Menggunakan pemancar domestik yang diletakkan di atas tiang perahu, radio ini bisa terus digunakan bahkan ketika cuaca begitu buruk hingga mereka tidak mampu menggunakan satelit – yang diandalkan oleh GPS dan internet – asalkan Dusan dan Pearl berjarak cukup dekat.
“Di sini, Alec, copy,” kata cowok itu sambil berjalan kembali ke dek.
Terdengar kelotak keras ketika radio Ben jatuh, disusul rentetan umpatan pelan, dan kemudian, “jangan tiba-tiba ngomong gitu, dong! Bikin kaget saja, kan!”
“Sori,” jawab Alec tanpa penyesalan. Berbeda dengan saudaranya yang cenderung cuek dan menyepelekan hampir semua hal, Ben selalu menanggapi segalanya dengan serius. Jelas dia tegang sekali di Pearl Wings sana, sampai-sampai dengar suara kecil radio saja terkejut.
“Ada apa?” tanya Ben gusar.
“Enggak apa-apa,” jawab Alec, mengangkat bahu meski Ben tidak bisa melihatnya. “Aku bosan, nih.” Ia meletakkan radionya di besi penyangga setir agar bisa terus bicara tanpa menghambat aktivitasnya.
“Kau mengontakku hanya untuk bilang itu?”
“Uh, sejujurnya iya,” jawab Alec, menggosok belakang lehernya dengan salah tingkah. “Malas saja, kan, menggunakan komunikasi satelit cuma untuk bilang begitu pada orang di rumah?”
Ben tidak menjawab. Alec mengasumsi dia cuma sedang mengambil sesuatu di kabin atau memprediksi kecepatan angin atau apa, tapi setelah sepuluh menit tak ada jawaban, cowok itu mengontak lagi.
“Ben?”
“Apa?”
“Ngomong dong!”
“Malas,” ceplos Ben apa adanya. “Apa kau enggak ada kerjaan lain selain menggangguku?”
Mendengar ini Alec memutar bola mata. Dia sebal sekali kalau Ben bersikap sok dewasa begitu. Seolah Alec adalah anak dari playgroup-nya Seara yang mengekorinya kemana-mana dan mengganggu, padahal yang diinginkan cowok itu hanyalah teman ngobrol. Apa salahnya, sih, ingin ngobrol dengan saudara kembarmu sendiri? Terutama ketika kau hanya berdua saja di tengah lautan, terpisah dari peradaban, tanpa orang lain untuk bergantung.
“Hei, menurutmu kita sudah sampai laut lepas?” Alec berusaha mencari topik yang menarik.
“Kita bahkan belum keluar ZEE. Baca peta yang benar, dong,” kata Ben datar.
Alec mengatupkan bibir rapat-rapat, mencegah lenguhan bosan meluncur dari mulutnya. Rasanya sudah lama sekali, dan mereka belum mencapai jarak dua ratus mil?
“Kapan kira-kira kita sampai samudera?” tanya Alec lagi, meski tahu itu akan membuat Ben mencelanya lebih parah. Masih lebih baik daripada tidak ada teman bicara sama sekali.
“Ampun deh, Alec. Masa kau enggak bisa kira-kira sendiri, sih?”
“Um, bisa sih.” Kalau melakukan tugas itu saja belum fasih, John tidak akan mengizinkannya memegang setir perahu. “Tapi, kan sudah ada kamu. Ngapain repot-repot?”
Ben menggerundel tak jelas, Alec menangkap kata ‘terlalu santai’ dan ‘kurang tanggung jawab’. “Kalau anginnya bagus, dan kita mau sedikit kerja keras, mungkin tengah malam ini.”
“Tengah malam, ya,” ulang Alec, berusaha tidak terdengar seperti tukang ngeluh. Yang gagal total.
“Itu sudah paling bagus. Dengan sifat malasmu itu, kurasa kita malah baru sampai besok pagi.”
“Aku enggak malas.”
“Jangan membohongi diri sendiri.”
Sabar, sabar, batin Alec dalam hati. Walau sudah hidup bersama selama tujuh belas tahun, kadang sulit untuk tidak mengambil hati sarkasme Ben yang menjadi bagian dari dirinya seperti jantung yang berdetak.
“Apa menurutmu kita akan diikuti lumba-lumba? Seperti di dongeng-dongeng? Apa mereka akan menolong kalau perahu kita tenggelam?”
“ALEC!”
“Cuma tanya saja, kok.”
“Jangan ngomong yang aneh-aneh. Kita harus bersyukur dengan kondisi stabil ini….”
“Membosankan, maksudmu?”
“Lebih sedikit masalah, lebih baik,” kata Ben, tidak menghiraukan interupsi saudaranya. “Dan aku enggak tahu bagaimana denganmu, tapi ‘tenggelam dan ditolong lumba-lumba’ enggak masuk dalam agenda perjalananku. Lagipula, sekarang bukan musimnya lumba-lumba.”
“Yaaaah…..”
“Berhentilah mengeluh!” Ben mulai senewen. Alec hampir bisa memvisualisasikan alisnya yang berkerut seperti orangtua dan cuping hidungnya yang membesar, ekspresi khasnya kalau sedang marah. “Dengar, aku tidak memasang radio itu untuk mendengarkanmu merewel. Kalau ada sesuatu yang tidak memuaskan – yang aku yakin hampir semuanya, karena kau sangat kekanakan – ambil pena dan curhatlah di diari!”
Alec berjengit oleh bentakan saudaranya yang sampai membuat radio berkeresek sedikit. “Beeen…. Jangan marah doong….” Rengeknya. Hal terakhir yang ia inginkan adalah Ben mematikan sambungan radio karena Alec terlalu rewel. Padahal menurutnya, tidak juga tuh. “Aku kan cuma ingin ngobrol,” tambahnya memelas.
Sejenak Ben tak menjawab, dan Alec yakin mendengar suara kekeh geli di latar belakang, agak tersamar deburan ombak.
Ketika bicara lagi, nada bicara Ben berubah drastis – lebih lembut dan bersahabat, seperti saat ia bermain dengan Seara. “Kesepian, nih?” tanyanya menggoda, “belum apa-apa sudah kesepian, dasar anak mami.”
Gantian Alec yang menggerundel. “Enggak, tuh!”
“Iya. Kau kelewat manja, sih.”
“Daripada kau, sok keren.”
“Aku memang keren.”
“Jelek.”
“Bawel.”
“Kolot.”
“Estulto.”
“Ha?”
“Bahasa Spanyol untuk ‘dungu’.”
“Sialan,” kata Alec, meski dengan cengiran menghiasi wajah. Untung radio mereka tidak ada fasilitas 3G-nya, sehingga Ben tidak bisa melihat betapa girangnya dia karena saudaranya itu mau mengikuti permainan lempar-ledekan. Seperti yang sudah-sudah, permainan ini biasanya akan berujung ke adu kosakata, dan itu lebih dari cukup untuk mengisi waktu luang, mengingat sifat Ben yang tidak pernah mau kalah dan selalu ingin menggilas lawan habis-habisan.
Tidak sadar saja dia kalau sudah dijadikan hiburan bagi Alec.
* * *
Senja pertama di laut, ketika ia sudah jontor kebanyakan ngomong dengan Ben, barulah Alec mengaktifkan sistem komunikasi satelitnya. Ia disapa pertama kali oleh John, yang mengajukan pertanyaan standar macam kondisi mesin, cuaca, dan jarak tempuh. Kemudian Jess nimbrung untuk menanyakan pendapat Alec tentang matahari tenggelam di garis jauh lautan. Sebagai seorang cewek dengan selera ‘cewek banget’, bagi Jess itu termasuk pemandangan terindah yang pernah ia saksikan selama melintasi samudera. Bagi Alec, itu tak ada bedanya dengan menyaksikan langit temaram dari jendela kamarnya – hanya saja lebih luas. Tapi dia tidak bilang begitu pada sepupu perempuannya, tentu.
Sesuai perhitungan Ben, mereka berhasil keluar ZEE pada pukul satu dinihari. Badan Alec kaku-kaku setelah seharian bermanuver mengendalikan setir – andai tidak diejek Ben saja, dia sudah minta istirahat dari tadi. Cowok itu ingin membuktikan bahwa, biarpun sedikit, ia sudah mulai berubah. Bukan lagi anak manja yang kerjaanya bermalas-malasan dan main melulu, melainkan pria muda yang cakap, sang penakluk samudera. Alec cengar-cengir sendiri membayangkan predikat keren itu.
Usai menyimpan jaket dan kacamata anti airnya, Alec praktis merambat masuk ke kabin, yakin bakal mati kecapekan kalau tidak segera merebahkan diri ke kasur. Namun baru menarik nafas mencium bau bantal yang menggoda, dia sudah dikejutkan oleh suara radio yang tiba-tiba aktif di sabuk belakang celananya (Alec sengaja menggantung radio itu di situ agar tidak kelupaan).
“Alec, sebelum kau berencana menggulung diri dalam selimut sampai tengah hari besok, tandai dulu peta jalurmu – buat garis merah agar kita bisa melihat sejauh apa jarak tempuh hari ini. Jangan lupa hitung skalanya,” perintah Ben rinci, seperti bicara pada anak buah yang imbisil.
Alec bahkan tidak punya tenaga untuk tersinggung. Ia mengerang penuh derita macam paus sekarat, berharap Ben akan mengira dia sakit dan mengizinkannya langsung tidur malam ini. Matanya sudah setengah menutup, sayang kalau diajak pusing-pusing menghitung skala – pasti nanti dia jadi insomnia.
“Besok kurapel saja, deh,” rengeknya, segala tekad untuk menjadi pelaut sejati terlupakan. Sekarang dia hanya ingin menjadi manusia sejati, dan manusia sejati tidak menyiksa tubuh mereka sendiri dengan memaksa bangun ketika seluruh sistemnya menjerit minta tidur.
“Enak saja. Kerjakan sekarang, Alec. Demi kebaikanmu sendiri.” Sesaat Alec merasa bicara dengan versi cowok dari ibunya.
“Kalau kurang istirahat, artitis rematikku bisa kumat,” kilah Alec sambil menguap lebar.
“Sejak kapan kau kena rematik?”
“Sejak sekarang. Aduh, sudah mulai nih pegalnya,” kata Alec. Memang benar kok, sekujur tubuhnya serasa diinjak-injak gajah. “Cuma malam ini saja, deh. Janji. Pweaseee?”
“Tidak boleh.”
“Kalau aku sampai sakit, kan, kau juga yang repot.” Alec mengeluarkan kartu terakhirnya. Hal yang paling dibenci Ben adalah direpotkan orang lain – yang ironisnya selalu terjadi karena ia bersaudara dengan Alec.
Ben berpikir lama, cukup lama hingga Alec setengah tidur menanti jawabannya. Ketika akhirnya ia mendesah, Alec terbangun kaget.
“Terserahlah. Aku enggak nanggung kalau kau nyasar, lho.”
“Eng….. nggak mungkin kanada k’mu, bilang s’ndiri,” jawab Alec, nyengir mengantuk. Pada saat begini, dia bersyukur berlayar mengikuti Ben, bukannya berjalan solo. Setidaknya masalah jalur, ada yang bisa diandalkan.
Saudaranya menggumamkan protes dari seberang, tapi Alec tidak mendengar lagi. Ia tertidur bahkan sebelum kepalanya menyentuh bantal.
* * *
Dengan desah keras, Ben mematikan radio mininya dan meletakkan benda itu di samping bantal. Dasar, dia sudah mengira Alec bakal kelewat santai dan menyerahkan semua tugas pada dirinya, dan Ben sudah bersumpah akan mendisiplinkan Alec dalam perjalanan ini; tapi tetap saja dia tidak sanggup menolak kalau kembarannya itu sudah memohon-mohon. Pakai mengancam bakal sakit segala, lagi.
Cowok itu mengecek peta jalurnya sekali lagi. Agak kecewa juga melihat garis merah pendek yang tertoreh di sana. Padahal rasanya dia sudah berjuang habis-habisan hari ini, melaju tiga puluh dua mil lebih jauh dari kuota harian mereka, tapi begitu digambar, garis itu bahkan hampir tak terlihat di tengah warna biru tua yang mendominasi kertas. Saking tidak percayanya, Ben sampai mengulang perhitungan skala tiga kali. Sebenarnya salah satu alasan dia menyuruh Alec menggambar adalah agar mereka bisa bertukar pendapat, benar atau tidak mereka hanya merangkak sependek itu dari tadi, tapi seperti biasa, saudaranya itu tak dapat diandalkan. Jangan salahkan John kalau dia memilih Ben sebagai pemimpin ekspedisi.
Ben menggulung peta itu dan meletakkannya di keranjang kecil yang menempel di meja. Ia mengulet meregangkan otot, ingin sekali melompat ke kasur yang sedari tadi memanggil-manggilnya. Tapi masih ada satu hal yang harus ia lakukan sebelum tidur: menulis catatan perjalanan di blog; sesuai janjinya pada media massa yang menanyakan bagaimana cara mereka mengikuti ‘Petualangan Si Kembar’, begitu istilah mereka. Istilah yang kurang nyaman di telinga Ben, sebab itu membuat mereka terdengar seperti tokoh kartun.
Sambil mengunggah beberapa foto matahari terbenam dan video Dusan meluncur menuruni ombak setinggi dua puluh satu kaki (Alec berteriak-teriak kegirangan sepanjang pengalaman itu), Ben mengetik catatan pendek untuk memuaskan keingintahuan para komentator yang sudah menanyakan macam-macam tentang kesan pertama di laut.
16 Januari 2010
SEE YA, ZEE!
Hari pertama perjalanan, cuaca cukup bersahabat. Dengan kecepatan angin 20 knot Pearl dan Dusan melaju pasti membelah laut. Suasana tenang sampai lewat tengah hari, di mana kami berhadapan dengan ombak setinggi 21 kaki. Pearl melewatinya tanpa masalah ( bagaimana aku mengendalikan setirnya, itu lain lagi :P), dan Dusan, dengan ukurannya yang kecil meluncur cantik seperti koki –
Ben berhenti. Oke, menurut opini pribadinya, Dusan memang terlihat seperti koki di tengah laut – kecil tapi lebar, berwarna cerah pula. Tapi sepertinya kurang bijak mengemukakannya dalam blog yang dipublikasikan secara umum, bisa-bisa mereka mengira dia menghina Alec (um, tidak menghina sih, cuma meledek sedikit, tapi sama saja di mata mereka). Ben pun menghapus satu huruf ‘k’ agar nama ikan perumpamaannya jadi lebih ‘jantan’.
– koi merah. Klik DI SINI untuk menonton manuver Dusan dan Alec yang luar biasa.
Selain itu, pagi ini, tepatnya pukul satu lebih tujuh menit, kami resmi keluar ZEE! Yay! Air laut tampak sama saja, tapi ada sensasi tersendiri ketika perahu kami berlayar di laut lepas, sangat mendebarkan XD
Ben memutar bola mata membaca tulisannya sendiri. Dia kok, jadi terdengar seperti Alec, sih?
Tampaknya kami akan menjalani beberapa hari tenang di sini. Tak ada tanda-tanda kecepatan angin akan naik, tetap stabil antara 20-30 knot – tidak menghantam layar terlalu keras, tapi juga menjaga ombak tetap tenang.
Yang artinya aku juga bisa tidur sampai siang, pikir Ben senang.
Kami akan bisa melaju sekitar 600 mil sebelum memasuki perairan berangin kencang. Semoga saja tidak ada badai dadakan atau gempa bawah laut. Pengalaman berkesan pasti, tapi itu akan membuat kami sibuk luar biasa.
Belum lagi kerusakan yang bisa disebabkannya, tambah Ben dalam hati, tapi tidak menambahkannya ke tulisan. Bukan dia yang jadi tukang ngeluh di sini.
Menguap lebar, Ben memasukkan kalimat penutup pendek sebelum mengepos catatan itu.
Oke, semakin larut di sini. Alec dan Dusan sudah tidur satu jam lalu, waktunya aku dan Pearl menyusul. See ya! B.W.
TBC
Read more...
Rabu, 18 Agustus 2010
SEVEN THINGS YOU WOULDN’T FIND IN THE MIRROR
1.) Sam’s stomach has irrational hatred towards anchovies, as if both of them were destined to be in eternal hostility since the beginning of the world. He once ate a slice of anchovy-topped pizza to answer the ‘Dare’ part of Truth or Dare he played with his brothers at Alec’s birthday bash (the ‘Truth’ was to tell who’s his crush at the moment and no, Sam wasn’t that stupid to let his bigmouthed brothers know such private secret). He ended up puking his gut out for the rest of the night.
2.) Dean has a thing about fish. He loves them – no, reveres them as one of the most beautiful creature roaming in the world. He got his first goldfish at his 5th birthday and named it ‘Goldie’ and loved it with all his might. He was traumatized, though, when one day he came home from school to find the soon-to-be one year old Sammy playing ‘Cooking Sammy’ with Goldie as his main menu. Dean never wanted a real pet since.
3.) Even after his 15th birthday, Alec’s still afraid of storm. He never get used to the deafening blare of thunder or the blinding light of lightning, it feels like it’s cracking the sky open and the thought of it makes him uncomfortable. He can’t sneak into Dean or Sam’s room anymore now that he’d already grown up (he might be scared the f*ck out but he’s not a freaking baby, thank you very much). So, in the stormy night, Alec would hide under the blanket with headset in both ears, listening to the playlist in his iPod until he falls asleep.
4.) Ben never planned on adopting Caesar from that Animal Shelter downtown. Yes, he wanted a dog because he was sick of being alone in a house that’s too big for him, but he wanted this cute golden retriever at petshop near his school, it looked just like Buddy from Air Bud! He collected some money from his part-time jobs (cutting the neighbors’ lawns, taking Mr. Flicks’ dog to a walk, reading French novels for Mrs. Poechee every Sunday) and after a month, he went to the petshop only to find his already-loved golden retriever sold. Broken hearted, he ran to the shelter instead and when the staff showed him that dirty black Rottweiler…. Well, he kind of wanted to leave it. But then little Caesar looked at him with those sad puppy eyes, and who was Ben to neglect such adorable puppy? Then, as you’ve known, they’re practically unseparateable after that.
5.) Unlike Ben who considered her as a lifetime rival, Rachel never hates Ben. In fact, she wanted to befriend with ‘the green-eyed boy who played violin’ ever since their first collective recital. However, she kept a good distance between them because Jess told her to ‘respect his dignity’. She had no idea what the heck did that mean (she didn’t realize her award winning hurt Ben so bad – still doesn’t), but that’s what Jess said and Jess’ always right. She’s the big sister after all.
6.) Beside his rather unhealthy obsession to collect as much weirdo things as possible like somehow they would save him from apocalyptic, The Day After Tomorrow-like disaster, John had another indulgence that was hard to repress: ruffling his boys’ hair. He likes the feel of Dean’s spiky light-brown hair pricking his palm, or the way Alec’s blond tickling his skin, and especially Sam’s extraordinary mop intertwined with his fingers. But since the boys had become teenagers and even young man, he stopped showing that favorite act of affection. Dean’s hair is now so full of gel it feels sticky and greased-like, Sam’s too tall to get ruffled, and they don’t want their Dad to treat them as a child anyway. Alec’s still happily accepting the gesture (at this point John agreed with his two elder sons that Alec’s way too spoiled it makes him childish at his age), but Alec’s soft blond hair had changed into rugged brown hair so yeah, John had given up that one particular hobby.
7.) There is one ridiculous truth about Mary that no-one except people from her past knows: she is an ex-number one hater of children. It’s one of her deepest secret other than she was a tomboy who knocked three of eight boyfriends she managed to be wit during college years, because the thought that she was gonna give it up to them (yeah, notice the Avril Lavigne reference?). She loathed children and their non-stop silly movements and stupid babbling and everytime she heard them cry, Mary had an irresistible urge to stitch their mouth shut with steal thread. She still didn’t like children so much when she was pregnant with Dean, which worried her to no end. What if she couldn’t be a good mother? What if she couldn’t love the baby? Until one day at January when John’s off to work and she was cooking an apple pie alone that her water broke. The next twelve hours were hectic then, filled with panicked husband, agonizing contraction, doctors and nurses who seemed like they didn’t give a crap to the fact that she Was about to push a watermelon out of orange-sized hole, and she screamed and cried and howled at the entire ordeal. Then suddenly there was another voice, a high-pitched baby wail which usually brought her into rage but that time it sounded like angel’s song – she bnever heard something so sweet before. And when the nurse put the hazel-eyed baby boy to the crook of her arms then that’s it, she just knew she will love the pretty boy who now known as Dean Winchester. The old saying about being a mother once yoy held your baby really worked on her.
Read more...
Addon: 35 Things About the Boys
I send an email for each of my boys; it’s a quiz-about-yourself thing and this is how they answer it.
1. What time did you get up in the morning?
Dean: depends on what day it is.
Sam: about 7 a.m.
Alec: after someone (usually Mom) banging at my door for the billionth time
Ben: 5.30 a.m., then I gotta do the morning training. That sucks.
2. Diamonds or pearls?
Dean: Metal.
Sam: Neither
Alec: What, you think I’m a freakin’ girl? And I like diamond by the way, because it’s shinier. And sharp.
Ben: Pearls
3. What the last film you saw at cinema?
Dean: I watch from DVD since forever.
Sam: The Last Song
Alec: Percy Jackson & the Olympians: the Lightning Thief (and that’s one hell of a movie title)
Ben: Avatar. Kill me now.
4. What is your favorite TV show?
Dean: None.
Sam: CSI: Miami, Grey’s Anatomy, Prison Break
Alec: Gossip Girl. Oh wait, that’s Mom’s favorite *roll eyes*
Ben: Glee
5. What do you usually have for breakfast?
Dean: cereal (Lucky Charms rule!) or anything at downstairs café.
Sam: cappuccino
Alec: oatmeal, banana, sausage, egg and a healthy amount of milk and orange juice
Ben: toast
6. What is your middle name?
Dean: Michael.
Sam: None
Alec: Franz
Ben: Alban, taken from Alban Berg, an Australian composer.
7. What food do you dislike?
Dean: tofu.
Sam: anchovy. Those greenish fish are disgusting
Alec: oatmeal. I blame Aunt Corrie for it
Ben: peanut butter
8. What is your favorite CD at the moment?
Dean: I love Metallica always and forever.
Sam: Boys Like Girls’ Love Drunk
Alec: Humanoid
Ben: Taylor Swift. She made the song for real.
9. What kind of car do you drive?
Dean: My beautiful baby ‘67 Chevy Impala.
Sam: silver Honda Hybrid
Alec: I haven’t even get my driver license, thanks.
Ben: -
10. Favorite sandwich?
Dean: sandwich at downstairs café is really worth dying over. Damn this quiz makes me hungry.
Sam: cheese
Alec: cheese and sausage
Ben: anything
11. What characteristic do you despise?
Dean: introvert
Sam: dishonest
Alec: fussy
Ben: smug
12. Favorite item of clothing?
Dean: leather jacket.
Sam: hoodie
Alec: t-shirt
Ben: t-shirt
13. If you could go anywhere on vacation, where would you go?
Dean: Grand Canyon! Can’t get enough of it!
Sam: Malibu
Alec: Summer Camp
Ben: California Disney Land
14. Favorite brand of clothing?
Dean: None.
Sam: None
Alec: None
Ben: None
15. Where would you retire to?
Dean: Possibly hometown.
Sam: A farmland
Alec: Never really think about it
Ben: someplace peaceful, maybe a cottage on top of hill, like the Berrisfords’ house.
16. What was your most recent memorable birthday?
Dean: I spent my last birthday fixing DLP-19, thanks to Herb for the ‘surprise wine’.
Sam: Candlelight dinner with Maddie
Alec: Will soon come at October 17
Ben: My 16th birthday, Rachel’s Mom made me this huge cake, then we went to this music concert and watch 5 DVD’s and… well, that was great.
17. Favorite sport to watch?
Dean: Football, baseball, soccer.
Sam: basketball, baseball
Alec: baseball
Ben: none, except bicycling around town could be said as sport
18. When is your birthday?
Dean: January 24.
Sam: May 2
Alec: October 17
Ben: October 17
19. Are you a morning person or night person?
Dean: night.
Sam: morning
Alec: afternoon
Ben: morning
20. Pets?
Dean: A goldfish when I was about 5, is that count?
Sam: some motherclingy species called A_ _ _C
Alec: nah, Mom won’t let us have one, something about germs or something.
Ben: Yep. Caesar, my best buddy.
21. What did you want to be when you were little?
Dean: fireman.
Sam: Dean (don’t tell him)
Alec: pianist
Ben: violinist
22. Do you wish on stars?
Dean: I wish on my luck.
Sam: No
Alec: Naaah
Ben: I was, but not anymore.
23. If you were a crayon, what crayon would you be?
Dean: Dean color.
Sam: Blue
Alec: I dunno… red? Like, red bull? That’s sounds cool
Ben: Hazel
24. The first person you spoke on the phone today?
Dean: Mr Bribbs, the mechanic shop owner.
Sam: Maddie
Alec: No-one
Ben: Rachel
25. Favorite restaurant?
Dean: downstairs café.
Sam: this Steak House near Maddie’s apartment
Alec: Pizza Hut
Ben: Ice cream place near the town park.
26. Summer or winter?
Dean: summer.
Sam: summer
Alec: definitely summer
Ben: winter, so I don’t need to do the baseball thing. Or the camp thing.
27. When was the last time you cried?
Dean: it’s gone and forgotten.
Sam: I DIDN’T cry when I watch The Last Song, so if Maddie said so, just ignore her
Alec: You mean cry of happiness? Just 1 hour ago, because this comic I bought is a total joke! Hehe…
Ben: Not long ago
28. What is under your bed?
Dean: mechanical equipment.
Sam: my precious things. Gotta hide ‘em somewhere Alec can’t find.
Alec: something suspiciously looked like teddy bear
Ben: my old violin
29. What did you do last night?
Dean: working on my DLP-19.
Sam: Phoning with Maddie
Alec: Sleep. What else?
Ben: Watch DVD
30. What are you afraid of?
Dean: nothing. Well, I have a very little problem with airplane ride, but I’m not afraid of it. Not AT ALL.
Sam: Making Maddie cry, or sad, or angry
Alec: Mom
Ben: Disappointing someone
31. How many keys on your key ring?
Dean: four.
Sam: five
Alec: one
Ben: a dozen, maybe. That’s what happens when you live alone.
32. Favorite day of the week?
Dean: Sunday morning. Ah… joy!
Sam: Saturday night, especially with Maddie :D
Alec: Saturday
Ben: The free-baseball days.
33. How many towns have you live in?
Dean: two.
Sam: two. My hometown and my college-town
Alec: two
Ben: two
34. What’s the saddest thing in your whole life?
Dean: I think I live a happy life.
Sam: When I broke up with my first girl.
Alec: My certain past event.
Ben: When I got separated with Alec for the first time. Feels like hell.
35. How’s life?
Dean: In a freaking rush. I need to finish my DLP-19 ASAP, dammit!
Sam: So far so good.
Alec: Hmm… let me check. Mom’s still worrying about our well being, Dad’s still trying to fulfill his antics calling, Dean’s still reveres his dolphin robot, Sam’s still an annoying giant. Yeah, everything’s normal.
Ben: commeci-commeca.
36. Describe yourself in three words?
Dean: I am adorable.
Sam: stubborn, argumentative, faithful
Alec: It needs more than three words to describe an Alec, you know
Ben: coy, calm, a bit altruist (which usually cause me more problems than I deserve)
37. Do you have girlfriend and/or boyfriend?
Dean: Yes, Lisa’s the fourth, actually.
Sam: My one lovely Maddie
Alec: Girlfriend AND boyfriend? Are you crazy?! I don’t swing that way!
Ben: Still waiting for the right one
38. What do you like from your girlfriend and/or boyfriend?
Dean: Lisa is very independent, unlike someone’s girl I know.
Sam: Maddie is fun and loving and charming and practically everything I loved
Alec: I don’t know… Don’t have one.
Ben: I like a girl who is smart, kind, and have a good sense of humor. Plus point if played classical instrument too
39. What do you hate from your girlfriend and/or boyfriend?
Dean: Well… sometimes she is unpredictable.
Sam: That scary temper tantrum
Alec: I sure would break up with her if she’s cheating
Ben: I don’t like glamorous girl
40. Own a cell phone?
Dean: Hell yeah!
Sam: Can’t live without it
Alec: What kind of person doesn’t have a cell phone in this time of year, anyway?
Ben: Yes
Read more...
MIRROR IMAGE CHAPTER 12
Seluruh stadion bergetar oleh euforia pertandingan. Penonton gegap gempita meneriakkan dukungan pada tim andalan mereka, dan para pemandu sorak menyanyikan yel-yel penyemangat pada para pemain yang masih di dalam ruang ganti. Namun semua suara itu hanya berbunyi satu bagi Ben: “tamat kau, Ben Anderson! Tamat, tamat, TAMAT!”
“Oke, anak-anak,” kata Pelatih, menepukkan kedua tangan untuk menarik perhatian tim pada wejangan pra-pertandingannya. “Kita sudah kerja keras untuk hari ini. Lakukan yang terbaik dan babat kecebong-kecebong itu!”
Sorakan persetujuan bergema di ruangan itu.
“Dan kau Anderson,” tunjuk Pelatih pada Ben yang sengaja berdiri di belakang menghindari perhatian, “ingat kata-kataku. Menang atau minggat.”
Tamat, tamat, tamat….
Pelatih meninggalkan ruangan dengan dada membusung ala pria sejati, berteriak agar anak-anak didiknya segera mengikuti. Namun Dany, si wakil ketua tim yang otomatis naik pangkat jadi pemimpin begitu Mario lengser, menghimpit Ben sampai cowok itu terjepit antara loker dan badan bongsornya, dan mencengkeram bagian depan kaos Ben dengan mengancam.
Tamat, tamat, tamat, tamat….
“Awas, Benny Boy. Kalau sampai kau mengacaukan pertandingan ini, kami bakal memastikan kau enggak akan, kuulangi, enggak akan pernah melihat hari esok. Catat itu baik-baik di otak bonsaimu yang tolol.”
Ben cuma bisa mengangguk tanpa suara, mulutnya terlalu kering untuk memproduksi kata-kata. Dany tersenyum sadis dan menggebrakkan tubuh Ben ke loker, lalu berlalu menyusul rekan-rekannya. Ben menatap kepergiannya, seluruh tubuhnya gemetar hebat. Ia melorot lemas ke lantai, menekuk lututnya sampai dada dan menyembunyikan wajahnya. Tamat, tamat, tamat, TAMAT, TAMAT!
Ben tidak tahu berapa lama ia bertahan dalam posisi itu, terlalu fokus pada permohonan agar siapapun yang mendengarnya di atas sana mau menyelamatkannya. Sungguh, pada saat ini ia lebih memilih terjadi gempa dan tertimpa reruntuhan ketimbang harus menghadapi lawan di luar sana.
“Ben?”
Cowok itu terkejut oleh sentuhan di bahunya. Ia mendongak dan bertatapan dengan sepasang mata yang identik dengan miliknya.
“A… Alec?” ia tergagap, tak mempercayai matanya. “ALEC?!”
“Enggak usah teriak-teriak begitu,” kata saudaranya, seolah mengharapkan Ben bisa bersikap sesantai dia. Cowok itu merendahkan diri dan duduk bersila di hadapan Ben.
“Sedang apa kau… Bagaimana kau….?!”
“Kalau soal bagaimana dia masuk, kami lewat pintu belakang yang tersambung ke Klinik.”
Ben menoleh begitu cepat ke suara yang amat familiar itu. Rachel tengah bersandar di salah satu loker, kedua tangan terlipat, bibir bawahnya menekuk naik menunjukkan bahwa ada yang membuatnya kesal tapi sedang ditahannya.
“Race?!”
“Hai, Ben.” Ia menelengkan kepala melihat mata Ben yang agak membiru. “Kenapa matamu?”
“Kena bola. Dengar, aku… soal tempo hari aku minta maaf, bukan aku yang… DIA!” Ben menunjuk Alec dengan nada menuduh. “…anak bego ini yang menciummu di Taman Bermain!”
Pipi Rachel memerah sedikit. “Aku sudah tahu,” dengusnya sebal, mendelik pada Alec, yang sedang mengatakan ‘aku enggak bego’ dalam gumam. “Dan aku juga tahu dia yang bikin kau masuk tim inti.”
“Yeah, omong-omong soal itu,” kata Ben, menoleh kembali pada Alec. “Akhirnya kau datang juga. Untung masih keburu. Sekarang kita bisa tukar tempat.” Ia menghela nafas lega. Mungkin riwayat hidup Ben Anderson masih bisa berlanjut.
“Enggak, Ben!” seru Alec mentah-mentah, mencegah saudaranya itu melepas seragam baseball.
Ben mengangkat satu alis penuh tanda tanya. “Apanya yang enggak?”
“Aku enggak akan menggantikanmu. Kau harus main sendiri.”
“APA?! Kenapa?!”
“Mom melarangku.”
“Yeah, ‘Mom melarangku’. Sejak kapan kau jadi anak penurut, huh? Semua kekacauan ini terjadi gara-gara kau jadi anak bandel dan aku enggak mau menanggung akibatnya, terima kasih. Kau harus main.”
“Enggak. Dengar, tadinya aku juga berpikir begitu, dan setelah Mom melarang pun aku masih berniat melakukannya, tapi….”
“Tapi apa? Jangan bilang kau grogi lihat penonton sebanyak itu, karena itu enggak ada apa-apanya dibanding perasaanku sekarang.”
“Ayah dan ibumu menontonmu!”
“Satu lagi alasan agar kau yang main. Aku enggak bisa mengecewakan mereka, Alec.”
“Dan kau memilih bohong?”
“Enggak bakal ada yang tahu!”
“Yeah, benar,” desah Alec, menggelengkan kepala. “Itulah masalahnya. Kali ini memang enggak ketahuan, tapi kau mau bohong sampai kapan? Aku enggak bisa menggantikanmu terus, lho. Kau panik gara-gara aku memasukanmu ke tim dengan kemampuanku. Menurutmu apa yang bakal terjadi kalau aku yang main sekarang?”
“Mereka bakal mempertahankanku dalam tim,” desah Ben, tahu dia kalah berdebat.
“Dan kalau ada pertandingan saat aku sudah kuliah di Juilliard?”
“Kurasa aku bakal bunuh diri. Dan bakal menghantuimu sepanjang sisa hidupmu.”
Alec tertawa kecil dan menepuk-nepuk pundak saudaranya. “Paham maksudku? Aku tahu ini salahku dan aku benar-benar minta maaf. Aku akan melakukan apa saja – kecuali turun ke lapangan – agar kau mau memaafkanku.”
Ben mendengus, kedengarannya seperti dia ingin menangis dan tertawa sekaligus. “Karena kau sudah mengecualikan syaratku, tidak, kau tidak perlu melakukan apa-apa.”
“Enggak seburuk itu setelah kau menjalaninya, kok. Percaya deh.”
“Yeah, gampang saja ngomong begitu karena bukan kau yang diancam hukuman mati oleh seluruh tim PLUS Geng Mario dan terancam enggak punya teman sepanjang tahun seniormu.”
“Soal Mario dan gengnya kau enggak perlu khawatir. Biar aku dan abang-abangku yang mengurus,” cengir Alec sok pahlawan.
“Dan soal teman, kau enggak akan seratus persen sendirian,” timbrung Rachel, membuat si kembar terkejut – mereka telah melupakan keberadaan cewek itu. Namun ia hanya tersenyum manis (yang menyebabkan jantung Alec melompat-lompat di rongga dadanya) dan berkata tulus, “kan, masih ada aku.”
“Dan aku,” sambung Alec.
“Kalian tidak dihitung,” jawab Ben, tapi balas tersenyum kecil.
“ANDERSON! SEDANG APA KAU?!” suara Pelatih mendentum dari pintu masuk.
Ketiga anak itu langsung panik mendengar langkah-langkah berat Pelatih makin mendekat. Ben menemukan sebuah celah di antara loker-loker, mendorong Rachel dan Alec ke dalamnya tepat waktu.
“ANDERSON, CEPAT KE LAPANGAN! SEMUA SUDAH MENUNGGU!” aum Pelatih.
“Baik, Sir,” jawab Ben, mengambil topinya dan bergegas mengikuti pelatihnya.
“Psst, Benny,” panggil Alec pelan. Ben menoleh. Cuma kepala Alec yang menyembul dari balik loker-loker, entah karena takut ketahuan Pelatih atau karena dia terjepit dan tidak bisa mengeluarkan diri.
“Apa?”
“Nanti, kalau mau mukul bola, bayangkan kau mengikuti ritme musik. Kau harus memukul di saat yang tepat untuk menghasilkan nada yang pas.”
Ben mengangkat alis. Kalau memukul bola segampang itu, dia sudah jadi Dewa Baseball sejak dulu.
“Itu selalu berhasil buatku,” jawab Alec, sambil mengangkat bahu juga menurut bayangan Ben.
“Akan kuingat itu,” ujar Ben, lebih untuk menyenangkan kembarannya daripada yang lain.
“Bagus. Semoga sukses!” seru Alec, mengacungkan jempol. Ben tersenyum dan meninggalkan ruang ganti diiringi suara Rachel dan Alec yang saling cek-cok. Yep, mereka memang terjepit.
* * *
“Nah, selesai. Kau harus mengganti plesternya dua kali sehari biar tetap bersih, ya.” Jess menepuk-nepuk pelan luka Sam yang terbalut plester dua kali lebih besar dari luka aslinya.
“Memangnya separah itu,” kata Sam begitu pelan hingga Jes yang sedang merapikan kembali kotak pertolongan pertamanya tidak dengar. “Makasih, omong-omong,” ia menambahkan, bukti kesuksesan ajaran sopan santun ibunya.
Jess mengerutkan hidung dan tersenyum lucu. “Enggak masalah,” jawabnya.
Terdengar suara ‘ting!’ keras dari dapur dan cewek itu bangkit berdiri. “Paiku sudah matang, tuh. Kau mau mencicipi dulu sebelum ke pertandingan?” tawarnya.
“Oh, aku….” Sam merasa kurang pantas, makan di rumah orang yang tidak dikenal, apalagi dia cuma berdua saja dengan Jess. Tapi kemudian ia mencium aroma manis pai yang membuat mulutnya basah oleh air liur dan berubah pikiran. Ada baiknya dia mengisi perut dulu sebelum berangkat – lagipula, dia butuh tenaga ekstra untuk mencari-cari sekolah Ben yang, Sam baru sadar, tidak ia ketahui tempatnya.
“Kalau enggak merepotkan,” kata Sam basa-basi.
Jess tertawa indah, terdengar seperti denting lonceng-lonceng kecil. “Enggak, kok. Ayo ke dapur.”
Aroma kue semakin kaya saja di dapur. Perut Sam berbunyi, dan meski cowok itu meyakinkan diri bahwa cuma dia yang mendengarnya, Jess memberinya sepotong besar pai sambil tersenyum-senyum geli.
“Bagaimana?”
“Luar biasa,” jawab Sam dengan mulut penuh. “Ups, sori,” tambahnya ketika sebongkah pai jatuh dari mulutnya. Jess cuma tertawa.
“Kau pintar masak, ya?”
“Ibuku yang pintar. Aku belajar darinya sebelum berangkat ke Juilliard, biar enggak kangen masakannya terus.”
“Kau anak Juilliard juga?”
“Yep. Kau juga?”
“Bukan, tapi Alec masuk sana tahun ini. Dia menang kontes.”
“Oh! Jadi Ben ke New York gara-gara itu? Mau ketemu Alec?”
“Yeah, kurasa awalnya begitu. Kasihan, dia jadi korban ide gilanya Alec.”
Mereka berpandangan lalu tertawa. Sulit untuk menganggap serius situasi yang menggegerkan keluarga itu kalau orang yang bersangkutan tidak ada. Kalau dipikir-pikir malah kocak – bisa-bisanya dua orang anak bertukar posisi dan tidak ada seorangpun yang tahu?
“Jadi…. Kau sudah tahu ceritanya?” tanya Jess setelah tawanya reda.
“Yeah, dari sudut pandang Alec saja, tapi. Dan aku enggak tahu sesubjektif apa itu.”
“Ceritakan padaku,” pinta Jess penasaran.
Pipi Sam memerah. “Aku enggak pandai bercerita,” gumamnya, teringat cemooh Maddie: ‘Kau ini gimana sih, masuk fakultas Hukum tapi kalau cerita kok enggak ada greget-gregetnya sama sekali!’
“Oh ya? Aku juga,” kata Jess, “Race bilang aku kalau cerita kayak guru mendikte. Bikin ngantuk.”
Memang tidak selucu itu, tapi Sam tertawa sampai keluar airmata. Sudah lama sekali rasanya dia tidak tertawa mendengar gurauan seorang cewek – pertama karena Maddie makin jarang bercanda, kedua karena sumbu pendek Maddie langsung tersulut kalau melihatnya ngobrol dengan cewek lain, termasuk dosennya! Padahal siapa juga yang doyan Prof. Harper, yang sudah kawin-cerai tiga kali?
“Tapi kau jelas pandai melucu.”
“Oh ya? Tunggu sampai kau dengar Rachel ngomong. Dia bahkan bisa membuat Ben terpingkal-pingkal.”
“Wow. Itu baru tukang banyol. Jangan-jangan dia kembaran ketiga dari Alec.”
“Mungkin. Slebornya sih, sama. Sori,” Jess menambahkan begitu sadar dia menjelek-jelekan adik orang lain.
“Ah, santai saja. Memang dia begitu, kok,” senyum Sam. “Oh, ya. Kau kuliah apa di Juilliard?”
Keduanya pun berbincang-bincang seru, hanya terhenti sebentar saat orangtua dan adik bungsu Jess pulang (Sam agak ngeri melihat roman muka ayahnya Jess yang mendapati putri cantiknya berduaan dengan cowok aneh berambut semi-biru, tapi cewek itu berhasil meyakinkan bahwa semua ‘aman-aman saja’). Mereka lalu melanjutkan ngobrol di teras rumah, dan Sam, walaupun ingat harus menyusul keluarganya, tiba-tiba jadi malas pergi dan memilih menemani Jess yang tinggal di rumah karena tidak mengerti apa-apa soal baseball.
* * *
Gara-gara terjepit di belakang loker, Rachel dan Alec melewatkan satu putaran pertandingan. Oke, sebenarnya untuk membebaskan diri cuma butuh kurang dari lima menit. Yang bikin lama itu karena mereka pakai bertengkar dulu (“kau menginjak kakiku!” “dan kau mencubit lenganku!” “bukan aku, kau kegores paku, tahu!”), menyebabkan keduanya jadi banyak gerak dalam celah yang sempit, dan menjatuhkan sederet loker yang menyembunyikan mereka. Untung saja teriakan penonton di luar sangat keras sehingga mereka tidak ketahuan.
“Semoga saja barang-barang di dalamnya enggak rusak,” gumam Rachel sambil membersihkan kedua telapak tangan setelah mengembalikan loker sederet-isi-tiga itu ke tempat semula.
“Ah, palingan cuma isi baju ganti,” kata Alec cuek. “Udah yuk, balik. Aku enggak mau ketinggalan nonton.”
Tidak sulit menemukan keluarga Winchester dan Anderson di antara kerumunan penonton. Mereka memilih tribun paling depan, dan lagipula, di manapun Dean duduk, di situ pasti banyak cewek-cewek ngumpul, entah hanya meliriknya malu-malu (atau takut-takut, kalau yang sial kepergok Mary) maupun yang terang-terangan merayu. Alec tersenyum simpul melihat Mrs Berrisford, mukanya cemberut dan memakai cardigan musim panas untuk menutupi pakaiannya. Bisa ditebak deh, siapa yang nyuruh.
“Kalian kemana saja, sih?” tanya Dean ketika Alec dan Rachel menyisip di sebelah kirinya.
“Melakukan ini-itu,” jawab Alec penuh teka-teki. Rachel tidak menjawab karena sedang mencari-cari posisi Ben.
“Tunggu. Kau Alec, kan?” Dean menyipitkan mata curiga.
“Yeah, Dean. Aku orang yang menggantung celana dalam Snoopy-mu di pintu kamar waktu Jo Harvelle main ke rumah kita.”
Alec menerima tempeleng di kepala untuk umbaran aibnya itu, sementara Rachel menggosok-gosok hidung menyembunyikan tawa.
“Bagaimana skornya?”
“Seri. Tim Ben main dengan prima, tapi lawannya juga enggak kalah canggih. Mereka punya dua pentolan yang sempat lolos dua puluh besar Pemain Junior Nasional.”
“No way,” kata Alec, menepuk dahinya. Seleksi Nasional? Kalau itu, Alec saja belum pasti bisa menang. Bukannya menyombongkan diri, sih.
Tidak terima oleh kata-kata putus asa dua cowok di sampingnya, Rachel meloncat bangun dari bangkunya dan berteriak lantang, “BEEEENN!! JANGAN MAU KALAAAH!!! MAJUUUU!!”
Ini menginspirasi Mrs Anderson, dan segera saja wanita itu ikut-ikutan. “BEENNYYY!!! AYO SAYANG, KAMU PASTI BISA! I LOVE UUUUU!!!”
Habis pertandingan, Ben pasti bakal kena gosip suka menjerat cewek lebih tua.
* * *
Suasana pertandingan makin panas begitu Tim Ben (namanya Wilder Wolf, Rachel memberitahu, dan Alec merasa bersalah karena hal pertama yang terbesit di benaknya adalah ‘nama itu tidak cocok untuk Ben’) mengungguli satu angka. Tim lawan naik darah dan menunjukkan kemampuan maksimal mereka, membuat Wilder Wolf kewalahan. Menjelang akhir pertandingan, kedua tim kembali seri dengan seorang pemain Wilder Wolf – Cormac – terpaksa ditarik karena cedera terkena bola.
“Siapa pemukul penggantinya?” tanya Alec cemas, berharap perhitungan gilirannya salah. Kenapa, pada saat menentukan seperti ini, yang dapat giliran harus….
“Ben,” jawab Rachel tegang, meremas-remas ujung pakaiannya. “Ben yang maju. Oh Tuhan, oh Tuhan, oh Tuhan….”
Alec menatap tanpa berkedip ketika kembarannya memasuki lapangan. Deret keluarga Winchester dan Anderson tiba-tiba sunyi, Mrs Anderson berhenti menjerit-jerit seperti gadis remaja melihat konser penyanyi idolanya, Mary berhenti men-ck-ck-ck-i kelakuan Mrs Anderson, bahkan Dean pun sepertinya menahan nafas saking tegangnya.
Ben tampak begitu kecil di tengah lapangan yang luas, dan Alec teringat masa lalu ketika ia dikepung anak-anak yang dua kali lebih besar daripada dirinya. Sekarang tingginya dan Ben memang sudah sama dengan cowok-cowok sebaya mereka, tapi di tengah permainan baseball dengan lawan sebesar Hulk-mini, Ben terlihat seperti batang lidi. Rasanya seolah Alec menonton reka ulang adegan masa kecilnya dan dia ingin melompat masuk ke lapangan, berdiri di samping Ben untuk menjaganya sebagaimana Dean dan Sam menjaga Alec waktu itu.
Sang pitcher mengambil ancang-ancang, lalu melempar bola. Pukulan Ben meleset jauh – dia baru mengayunkan tongkatnya saat bola sudah diterima catcher yang berjongkok di belakangnya.
Alec langsung lemas, di sebelahnya Dean menghela nafas keras, seolah teriakan “strike!” di bawah mengejutkannya seperti gelegar petir. Tangan Rachel yang berkeringat menggenggam tangan Alec erat-erat tanpa sadar, mulut cewek itu komat-kamit dalam do’a tak terputus.
“DASAR GOBLOK, BEGITU SAJA MELESET, ENGGAK PUNYA MATA, APA?!”
Kedua keluarga otomatis menengok ke sumber suara menyakitkan hati dan telinga itu. Mario tengah duduk dengan gaya bos besar di tribun tiga deret dari mereka, menyantap hotdog dengan tangan kiri sementara tangan kanannya yang dibebat sengaja dipamerkan penuh gaya. Kroni-kroninya terkekeh, menciptakan senyum congkak di wajah Sang Serigala Hitam.
Tidak ada yang lebih diinginkan Alec daripada menerkam Mario saat itu juga dan memukuli mukanya sampai tidak bisa dibedakan dengan kentang tumbuk (walaupun tidak mungkin bisa karena Alec tidak jago berkelahi, tapi yang penting kan niatnya). Namun ia hanya mengepalkan jemarinya erat-erat sambil merapalkan deret hitung dalam hati, berusaha tidak mempedulikan hinaan-hinaan Mario yang pasti membuat Mr dan Mrs Anderson panas. Dia tidak bisa membuat ulah dan mengacaukan momen penting dalam hidup saudaranya.
Tepukan di bahunya membawa Alec kembali dari meditasi sementara. Cowok itu menengadah menatap abangnya yang tersenyum memuji. “Bagus begitu. Diamkan saja mereka, kita urus belakangan,” kata Dean bijak, dan untuk kesekian kalinya semenjak menyandang nama Winchester, Alec merasa Dean benar-benar keren.
Bola kedua dilempar. Alec berjengit ketika teriakan “strike!” itu berkumandang lagi. Rachel merintih pelan, dan samar-samar Alec mendengar Mr Anderson memohon-mohon, “Oh Tuhan, menangkanlah putraku dan aku janji bakal menghafal nama seluruh anak di Kamp!” Mario dan kawan-kawan tidak lagi memaki untuk lucu-lucuan, melainkan benar-benar marah karena kejayaan timnya terancam.
Beruntung pitcher lawan sangat sportif. Sebelum lemparan ketiga, ia memberi waktu bagi Ben untuk konsentrasi. Namun waktu yang diberikannya belum cukup, dan Ben mengangkat tangan meminta perpanjangan sedikit. Sang pitcher menoleh menatap wasit, yang mengangguk, dan ia pun menegakkan diri dari sikap ancang-ancang.
Bahkan dari kejauhan pun Alec melihat, atau mungkin lebih tepatnya merasakan, bagaimana Ben gemetar hebat. Semua orang merasa grogi di pertandingan perdana mereka. Alec juga dulu begitu. Dia oke-oke saja waktu resital, tapi di turnamen dia begitu grogi sampai lupa separuh lagu yang dibawakannya. Usai tampil ia lari ke belakang panggung sambil menangis, bersembunyi dalam pelukan ibunya yang menanti dengan kata-kata penghiburan. Hanya saja yang menanti Ben bukan pelukan kasih sayang, melainkan cercaan tanpa ujung dan kepalan tinju. Alec ingin memutarbalik waktu dan membekap dirinya yang tadi menyuruh Ben maju ke pertandingan, lalu menggantikan kembarannya.
“Alec, Ben melihat ke sini,” bisik Rachel membuyarkan lamunan Alec.
Cewek itu benar. Ben memang sedang menatap ke tribun mereka, entah bagaimana pula dia menemukan posisi kembarannya di antara kerumunan penonton. Alec setengah berasumsi Ben bakal menunjukkan tatapan benci dan menuduh, tapi ternyata tidak. Yang terpancar dari wajahnya hanyalah keputusasaan, jika dilihat lebih dekat matanya pastilah berkaca-kaca memohon pertolongan.
Dan Alec memberikan pertolongan terbaik yang bisa diberikannya dari bangku penonton, ketika ia sulit dibedakan dari orang-orang lain kalau dia tidak berdiri tegap dan menatap Ben lurus-lurus. Ia mengacungkan telunjuk dan menggerak-gerakkan tangannya ke kiri-kanan seperti gerakan menari Sayonara. ‘ritme,’ ia berkata tanpa suara. ‘Pukul sesuai ritme.’
Wajah Ben kosong sejenak, lalu sebuah senyum merekah di wajahnya. Senyum itu masih penuh keraguan, tapi setidaknya ia tak lagi tampak putus asa. Ia mengangguk pada pitcher, meregangkan kaki dan mengangkat tongkat dalam posisi siap.
Waktu terasa diperlambat ketika bola ketiga melayang di udara. Keringat Alec mengalir pelan di garis tulang punggungnya, seolah ikut menunggu momentum bersejarah itu. Suara-suara di sekelilingnya kini hanya berupa dengung tak bermakna, satu-satunya suara yang ia dengar adalah nafasnya yang menderu. Alec tidak tahu darimana dia tahu, tapi dia yakin nafasnya senada seirama dengan Ben.
Kemudian bunyi ‘tung!’ nyaring menggetarkan udara. Tribun penonton bergetar oleh teriakan salut, Rachel menjerit sekencang-kencangnya, dan Alec juga, ketika menyaksikan bola itu terpantul ke sudut jauh lapangan. Ben tampak sama tercengangnya dan untuk sepersekian detik ia hanya berdiri saja di posisinya, tapi kemudian Rachel berteriak, “BEEENNN!!! LARIII! LARIIIIII!” sekuat tenaga, ditiru oleh keluarga Winchester dan suami istri Anderson, dan segera saja Ben melesat menuju base aman, berlomba dengan bola yang melayang kembali ke arena permainan.
Ben melompat dengan gaya harimau menubruk mangsa dan menyentuh base dua detik sebelum bola sampai. Peluit wasit berbunyi nyaring, papan penunjuk skor berkedip berganti angka, speaker nyaris meledak oleh teriakan komentator yang meski harusnya bersikap objektif tetap tak bisa menahan kegembiraan karena dia sendiri alumni sekolah Ben.
“WILDER WOLF MENANG DI SAAT-SAAT TERAKHIR! PENYELAMATAN YANG INDAH OLEH BEN ANDERSON! WILDER WOLF MENANG!”
Alec mungkin tidak akan bisa bicara satu minggu ke depan, namun ia tak peduli. Ia berteriak sampai jakunnya bergetar, meninju udara seperti orang gila. Rachel memeluknya dengan refleks sambil menjerit-jerit “DIA BERHASIL! DIA BERHASILL!! AAAHHH! DIA BERHASIIIILLL!” Dan baru melepaskan diri setelah Alec menunduk menatapnya, pipi keduanya sudah merah semu hitam. Tidak ada yang memperhatikan tapi, karena yang lain sibuk merayakan kemenangan dengan cara masing-masing: Dean berdiri di bangku penonton dan berteriak-teriak sambil berkali-kali mengirimkan kiss-bye ke langit seolah ialah yang mencetak skor kemenangan, Mrs Anderson melepaskan cardigannya, memutar-mutarnya seperti laso – mengalihkan perhatian sebagian besar cowok – dan menjerit-jerit “ITU ANAKKU! ITU ANAKKU! BEEEENNN!! I LOOOOVE UUUUU!!!” lalu Mr Anderson berjongkok dan istrinya naik ke pungggungnya dan mereka berteriak histeris bersama-sama seperti sepasang shaman kesurupan, tapi tak ada yang menegur. Bahkan Mary pun berpelukan dengan John penuh haru dan ‘meloloskan’ tingkah orangtua Ben yang ekstrim.
Para pemandu sorak mulai melolong, yel-yel kemenangan khas Wilder Wolf, dan para pendukung segera mengikuti. Rachel meletakkan kedua tangan di depan mulut membentuk corong, meneriakkan “aaaaaauuuuuuuuu!!!!” panjang. Dean ikut-ikutan, dengan gayanya sendiri tentu, dan dia mengeluarkan lolongan serigala menatap bulan: “aaaaauuuuu-ah-ah-aaaaauuuu!!!!” Itu langsung jadi tren di antara cowok-cowok yang menganggap Dean keren dan cewek-cewek yang terpesona olehnya.
Tapi yang paling membuat Alec bahagia, adalah melihat Ben diterjang rekan-rekannya dan diusung beramai-ramai. Wajahnya terlihat begitu gembira, ia tersenyum lebar dan tertawa tanpa beban. Pada suatu titik mata mereka bertemu pandang, dan Ben mengacungkan jari telunjuk, menggerakkan tangannya seperti yang dilakukan Alec tadi.
Alec tertawa.
* * *
Malamnya diadakan pesta besar-besaran di rumah Ben. Yah, tidak besar-besar amat sih, soalnya yang diundang cuma keluarga Berrisford dan Winchester (tadinya Mrs Anderson mau mengundang seluruh tim juga, tapi Alec masih belum bisa memaafkan ancaman mereka pada Ben – walaupun Ben sendiri sudah – jadi Alec kembali memanfaatkan bakat provokatornya pada sang tuan rumah), tapi hidangannya benar-benar mewah dan mereka merayakannya di halaman belakang rumah sehingga rasanya seperti pesta megah.
Alec dan Rachel mengambil suplai makanan dan memojokkan diri di bawah pohon, sementara para orangtua ngobrol seru – Mrs Anderson berpenampilan rapi kali ini, untuk menghormati ibu-ibu yang lain – dan Ben terjebak di antara mereka sebagai Sang Bintang Pesta, yang harus menjawab pertanyaan bertubi-tubi sambil tetap bersikap sopan. Alec dan Rachel menjulurkan lidah tiap kali Ben melirik ke arah mereka minta diajak kabur, lalu tertawa terbahak-bahak melihat tampang pasrah cowok itu. Bahkan Caesar pun lama-lama risih menemani tuannya dan malah bergabung dengan kedua bocah itu.
Sam dan Jess sudah semakin akrab sepanjang siang ini, dan mereka duduk-duduk di beranda rumah, jauh dari pendengaran orang lain tapi masih dalam jangkauan pandang Mr Berrisford. Keduanya ngobrol seru sambil tertawa-tawa, bahkan beberapa kali Jess menabok lengan Sam. Alec dan Rachel pasang taruhan kapan mereka akan jadian.
“Kalian kapan pulang?” tanya Rachel sambil memotong sosisnya untuk separo dibagikan ke Caesar.
“Enggak tahu. Besok, mungkin?”
“Besok? Cepet banget!”
“Kenapa? Masih kangen sama aku?” seringai.
“Kutarik kembali kata-kataku. Balik ke Lawrence sana.”
“Kau bisa ikut kalau kau mau.”
“Huh, sori ya.”
“Ben juga ikut, lho.”
“Apa?!”
“Yeah, Mom enggak tega membayangkan dia menghabiskan musim panas bareng ibunya!” Alec terkekeh-kekeh. Rachel geleng-geleng kepala, ikut tertawa.
“Hei, jangan ngomongin ibu orang sembarangan,” tegur Ben, tiba-tiba sudah berdiri di depan mereka.
“Oh, kau sudah berhasil melepaskan diri dari sangkar gurita?”
“Diamlah,” kata Ben sambil memutar bola mata, sementara Alec dan Rachel ber-high five. “Omong-omong, aku heran kau masih tertawa-tawa begitu padahal mulai besok kau dihukum kurung,” tambahnya pada Alec, matanya berkilauan mengingat rencana Mary untuk saudaranya itu: dihukum kurung DAN disuruh belajar masak biar cekatan kayak Ben.
“Apa? Hukuman itu masih berlaku? Oh tidaaak, aku bakal mati,” erang Alec, mengusap wajahnya frustasi. “Eh, tapi enggak apa-apa. Kan ada kau.”
“Maaf ya, tapi aku enggak jadi pergi ke rumahmu. Mom harus berangkat lagi besok, jadi enggak ada alasan bagiku untuk ‘berlindung’ di rumahmu.”
“Oh, aku bisa bilang kau masih butuh bantuanku menyelesaikan beberapa masalah. Kau belum baikan dengan Keith, kan?” tanya Alec setengah memohon.
Ben terbahak. “Belum, tapi dia sudah melihat kita berdua waktu pulang pertandingan, dan kurasa dia akan lebih mudah menerima fakta bahwa kita kembar dan kau sempat menggantikanku daripada berpikir paranoid kalau dia melihat shapeshifter.”
“Dan akupun merasakan nyawaku mulai berkurang,” gerundel Alec. Gantian Rachel dan Ben yang tertawa.
Saat itu Caesar memilih untuk menyusupkan hidungnya ke cup es krim jumbo yang sedang dinikmati Rachel. Cewek itu memekik dan berusaha menyelamatkan es krimnya, tapi sia-sia.
“Aku mau ambil es krim dulu,” gerutu Rachel, bangkit berdiri dan berjalan ke lemari es yang diletakkan di dekat jendela. Si kembar terbahak-bahak melihatnya tersandung di tengah jalan.
Alec dan Ben berpandangan saat tawa mereka mulai reda, dan tiba-tiba suasana jadi agak canggung.
“Jadi….” Kata mereka berbarengan.
Ben tersenyum. “Kau duluan.”
“Tidak, kau saja.”
“Kau yang selalu membuka pembicaraan, Alec. Sudah tradisi.”
“Tradisi darimana tuh,” kata Alec, memutar bola mata. Kemudian ia menghela nafas, seolah mengambil ancang-ancang, dan berkata, “maafkan aku, ya.”
“Soal?” Ben mengangkat alis.
“Semuanya,” desah Alec, “soal pertandingan, dan Rachel, dan terutama soal uh, kata-kataku di telepon waktu itu.” Ia menunduk dengan malu. “Aku enggak bermaksud begitu. Dan sama sekali enggak berpikir begitu tentangmu, kalau kau butuh kepastian.”
“Yeah. Enggak apa-apa. Aku sudah tahu, kok,” kata Ben, tersenyum. Kadang, Alec berpikir kelak Ben akan jadi Santo karena sifat pemaafnya. “Aku juga minta maaf sudah membentak-bentakmu.”
“Oh, jadi waktu itu kau membentak? Kukira menggonggong,” seringai Alec.
“Oh, diamlah,” kata Ben, menonjok lengan saudaranya. Mereka tertawa, tawa yang langsung berhenti begitu mendengar Caesar mengeluarkan suara mendengking aneh.
“Caesar, salahmu sendiri. Berapa kali kubilang jangan memasukkan moncong ke dalam cup es krim?” Ben memegangi kepala anjingnya dan mencopot cup yang nyangkut di moncong Caesar sehingga anjing itu tampak seperti tikus mondok. Caesar menggonggong gembira dan menjilat pipi tuannya sebagai tanda terima kasih.
“Oh, dan omong-omong,” kata Alec lagi, setelah Caesar puas menjilati Ben dan meninggalkannya berbaring di rumput. “Aku akan tetap pergi ke Juilliard.”
“Oh ya?” Ben bangkit sambil mengelap wajah. “Kau enggak perlu memaksakan diri, kau tahu. Orangtuamu enggak mengharuskan begitu. Aku juga,” ia menginterjeksikan, “aku sudah tahu bagaimana menderitanya dipaksa melakukan sesuatu yang enggak kau sukai. Walaupun kau pernah suka.”
“Yeah, tapi aku sudah memikirkannya matang-matang, kok,” senyum Alec, “aku mungkin enggak terlalu tertarik lagi…. Tapi aku enggak bisa lepas begitu saja dari piano. Itu sudah jadi bagian diriku. Lagipula, kan itu juga yang membuatku ketemu kamu lagi.”
“Tapi….”
“Enggak apa-apa, aku toh enggak bakal tahan kuliah yang lain. Pelajaran biasa jauh lebih membosankan,” kuapnya. Ben tertawa. “Dan lagi, aku ingin kita sekolah bareng lagi. Kutunggu kau di Juilliard, calon adik kelasku.”
Senyum Ben langsung lenyap. “Entahlah, Alec. Aku mungkin enggak akan masuk ke sana.” Sulit untuk pergi ke sekolah seni kalau dia tidak mendapat pendidikan dasar yang cukup. Seperti ingin jadi insinyur dengan ijazah SD.
“Tapi kau ingin!”
“Yeah, tapi….”
“Ben, ayolah. Di baseball yang kau enggak suka saja kau bisa menang. Kau pasti bisa ke Juilliard.”
“Ayahku….”
“Kau kan belum bicara padanya. Dia pasti mengizinkan kok, percaya deh. Mungkin dengan syarat kau harus masuk tim New York atau apa, tapi pasti boleh.”
Ben tersenyum kecil. “Yeah, baiklah. Aku bakal berusaha.”
“Begitu dong, baru namanya saudaraku.” Alec menepuk-nepuk Ben. “Oh, apa sebaiknya aku mulai memanggilmu Dik? Kau toh bakal jadi juniorku dan aku selalu ingin punya adik.” yang menganggapku keren, tambahnya dalam hati.
“Ha-ha. Tunggu sampai ada hujan kodok dulu.”
“Hujan daun aja, deh,” tawar Alec, mengguncang batang pohon di belakangnya sampai daun-daunnya berjatuhan. “Tuh, sudah hujan, Dik.”
Ben menerkam Alec dan mulai menggelitikinya sambil bilang, “kakak enggak boleh ketawa kalau digelitikin! Enggak boleh ketawa kalau digelitikin!” yang tidak bisa dijawab Alec karena dia sibuk terbahak-bahak sambil menggeliat-geliut. Rachel yang baru kembali dari misi mencari esnya tidak mengerti apa yang terjadi, tapi menyaksikan adegan saling gelitik membuatnya tergoda dan ikut-ikutan menyerang Alec.
Malam itu termasuk salah satu malam terbaik bagi mereka bertiga.
* * *
“Hai, Dean.”
“Lisa! Sudah kutunggu dari tadi. Ayo masuk.”
Dean menyingkir dari ambang pintu untuk membiarkan pacarnya lewat. Gadis itu melenggang masuk sambil mengamati interior kamar yang bergaya aristokrat.
“Kamar yang bagus.”
“Yeah, Mom yang ngotot ingin menginap di hotel klasik.”
“Dean, enggak apa-apa nih, aku datang malam-malam begini?” tanya Lisa cemas, mendudukkan diri di kasur.
Cowoknya menoleh dari anggur yang tengah dibukanya dan tersenyum. “Enggak apa-apa. Justru harusnya aku yang tanya, kau enggak apa-apa kan, datang mendadak dari Lawrence kemari? Liputanmu bagaimana?”
“Sudah selesai, kok,” jawab Lisa, senang Dean menanyakan pekerjaannya. Akhirnya. “Dan aku memang berencana ke New York lagi. Ada pameran seni baru.” Yang ini dia bohong, cuma untuk melegakan Dean saja.
Dean membawa dua gelas berisi cairan merah dan mengulurkan satu pada Lisa, yang menerimanya dengan anggun. “Toss untuk kemenangan Ben hari ini?” ajak Dean.
“Aku enggak ngerti kenapa kita toss sementara orangnya sendiri enggak ada, tapi oke,” tanggap Lisa, menempelkan ujung gelasnya ke gelas Dean. “Untuk kemenangan Ben.”
Mereka menenggak anggur itu bersama-sama.
“Yang lain masih berpesta di rumah Ben,” Dean memberitahu, “kemungkinan besar Alec juga bakal menginap di sana malam ini.”
“Kau enggak ikutan?”
“Enggak. Aku ingin berpesta berdua saja denganmu,” bisik Dean. Lisa merinding, wajahnya panas dan ia ingin menyalahkan anggur, tapi dia baru minum segelas. Sudah lama mereka pacaran dan dia masih tidak tahan kalau Dean sudah bersikap begini.
“Kenapa ingin denganku?” bisik Lisa, berusaha bersikap sama kharismatiknya.
“Karena kau membuat semuanya lebih baik,” jawab Dean, bergeser mendekat. “Semua masalah selesai berkat kamu. Aku ingin berterima kasih.”
“Itu saja?”
“Karena Ben menyarankan agar aku lebih memperhatikanmu.” Bergeser lagi.
“Manis sekali. Tapi itu tidak cukup,” bisik Lisa, melakukan permainan tarik-ulur yang sangat dimahirinya. Inilah yang membuat hubungannya dengan Dean makin menyenangkan.
“Karena aku mencintaimu.” Mereka sudah sangat dekat sekarang, hembusan nafas Dean terasa panas dan lembut di wajah Lisa. Cewek itu melingkarkan kedua tangan ke leher pacarnya.
“Bagaimana dengan robotmu?”
“Aku masih punya tujuh ratus hari lagi untuk memikirkan itu,” desah Dean pelan, mendayu. Dan itu cukup bagi Lisa. Ia menarik Dean dalam cumbuan mesra, yang dibalas dengan penuh gairah, melampiaskan kerinduan akan bukti kasih sayang yang nyata.
Malam itu bintang berkilauan bagai permata, begitu pula hati dan jiwa Lisa. Berbaring di atas ranjang menatap Dean yang tertidur, panas tubuhnya masih melekat di tubuh kekasihnya, cewek itu tahu cintanya mekar lagi bagai bunga matahari yang tumbuh menghadap matahari musim panas. Indah dan pasti. Ia yakin, kisahnya dengan Dean telah mengalami kemajuan berarti.
END
Read more...