Rabu, 18 Agustus 2010

TODAY WAS A FAIRYTALE

Warning: This is a product of an overheated twisted mind. Please bend your mind a little to understand the whole story. Thanks. Based on Supernatural season 1 episode Roadkill.



Vancouver di Minggu siang. Jalanan padat oleh pejalan kaki, mencari tempat strategis untuk makan siang atau sekedar menikmati hari libur. Seorang wanita tampak menyelip-nyelip lincah di antara mereka, rambut coklat gelapnya berkibar ditiup angin kencang yang telah menjadi bagian dari kota itu. Beberapa orang yang menyadari siapa dia berhenti dan menengok mengagumi sosoknya, sedang yang lain tetap melaju ke tujuan masing-masing.


Daneel Harris menyibakkan rambut sambil menjaga agar wajahnya tetap datar tanpa ekspresi. Sudah menjadi aturan dasar bahwa seorang aktris tidak boleh menunjukkan tampang cemberut biarpun sedang kesal setengah mati. Dia harus menjaga imej di depan publik biarpun Jensen, tunangannya yang oh-sangat-tampan-aku-harus-bersyukur-mendapatkannya-biarpun-dibenci-seribu-cewek mendadak membatalkan janji makan siang mereka, tepat sebelum Daneel membuka pintu restoran, hanya karena pria itu ‘ketiduran sehabis pesta semalaman’. Yeah, dewasa sekali.

Tapi Daneel tidak akan menyerah begitu saja. Sudah terlampau lama sejak terakhir kali mereka bertemu secara langsung, bukan cuma via webcam di sela-sela syuting. Dengan Jensen dan Daneel – dan sebagian besar bintang serial televisi lain – mendapat libur lebih awal, terimakasih pada Pemogokan Penulis Skrip Hollywood; harusnya ini adalah saat tepat untuk mempererat hubungan mereka. Wanita itu tidak akan membiarkan rintangan kecil macam Jensen bangun kesiangan atau fakta bahwa mobilnya sudah terlanjur diparkir selama tiga jam ke depan sehingga ia terpaksa jalan kaki ke pangkalan taksi yang akan mengantarnya ke rumah Jensen (rumah Jared, lebih tepatnya) menghalangi rencananya. Membayangkan wajah Jensen yang kaget dengan kedatangan tiba-tibanya membuat Daneel tersenyum sedikit.

Ia tengah melewati deret pertokoan elit, berhimpit-himpit dengan rombongan sosialita yang menghabiskan waktu senggang dengan menghabur-hamburkan isi dompet mereka; ketika bertabrakan dengan seorang remaja – atau kemungkinan besar remaja, karena wajahnya tersembunyi di balik tudung jaket. Orang itu terhuyung sedikit, Daneel buru-buru memegangi lengannya agar tidak jatuh.

“Maaf! Kau tidak apa-apa?” tanyanya cemas.

Orang itu menarik lengannya dengan kasar dan berlalu tanpa mengucap sepatah katapun. Daneel menatap kepergiannya dengan alis terangkat heran. Di cuaca begini ada juga orang yang mau memakai baju serba hitam dan tertutup dari kepala sampai kaki. Mungkin dia backpacker dari luar negeri – melihat ransel besar yang dibawa di dadanya – yang tidak tahu bahwa Kanada juga memiliki hari-hari ibarat teflon di atas api, di luar apa kata orang mengenai iklim negara itu (salahkan Global Warming). Atau mungkin dia cuma salah satu dari remaja-remaja nyentrik yang makin menjamur saja akhir-akhir ini.

Mengangkat bahu, Daneel pun berbalik dan melanjutkan perjalanannya ke pangkalan taksi.

* * *

Daneel mengambil bedak, sisir dan lipstick dari tas tangannya, mematut diri di cermin kecil yang menempel di tempat bedak. Karena hari ini dia sangat beruntung, tidak ada taksi yang mau mengantarnya ke rumah Jared – bahkan sebagian besar sopirnya bersikap acuh tak acuh ketika ia menghampiri, membuat senewen saja. Lain kali dia akan mengingat bahwa sopir taksi juga libur di hari Minggu.

Setelah yakin penampilannya tidak menunjukkan orang yang baru berjalan dengan sepatu hak tinggi di bawah teriknya matahari dan tiupan angin, Daneel memencet bel. Biasanya butuh beberapa waktu bagi penghuni rumah raksasa itu untuk mencapai pintu depan, jadi wanita itu agak terkejut ketika pintu mengayun terbuka dua detik setelah bel berdering, seolah si pembuka pintu telah berjaga-jaga di baliknya.

“Danni, aku sudah menunggumu!” sapa Jensen dengan senyum lebar. Ia memakai kaos polo biru hadiah dari Daneel beberapa bulan lalu, yang sudah nampak kusam. Jensen pasti lupa kaos itu tidak boleh kena banyak deterjen.

“Kau tahu aku akan datang?” Daneel mengangkat alis.

“Uh,” Jensen gelagapan, mengusap lehernya. “Uhm, tentu saja tidak. Tapi kau gampang ditebak,” ia menyengirkan cengiran yang sangat-Dean. Kadang-kadang dia memang susah lepas dari karakter yang sudah tiga tahun dimainkannya itu.

Daneel memutar bola mata. “Apa bisa ditebak juga kalau aku mengharapkan permohonan maaf darimu? Karena membatalkan makan siang di restoran favoritku. Di saat-saat terakhir pula.”

“Yeah, soal itu. Aku benar-benar minta maaf,” kata Jensen, matanya menyayu sedih seolah ia baru saja melakukan kesalahan fatal. “Seandainya aku bangun lebih awal. Kau tidak perlu….” Ia menghela nafas berat, menggantung kalimatnya.

“Tidak perlu jalan kaki ke sini sambil panas-panasan.”

“Yeah.” Jensen tersenyum kecil. “Hei. Tapi aku sudah menyiapkan penggantinya. Kita akan piknik.”

“Piknik?” Daneel tertawa. “Siapa kau dan di mana tunanganku?” Karena kontras dengan pendapat fans-fans ceweknya, Jensen bukanlah tipe cowok yang mau mesra-mesraan di tengah padang rumput sambil menggelar karpet piknik. Dia terlalu malu untuk itu.

Sebelum Jensen menjawab, terdengar gonggongan keras dari dalam rumah, disusul suara wanita yang keras dan tegas, kemudian suara debuman yang kedengarannya seperti seseorang bertubuh besar – Jared – menerkam sesuatu, kemudian seruan “Harley! Saddie! Diam di tempat! Ick, jangan, kau tak boleh ke sana!” dan yang terakhir, “JEN, CEPAT PERGI! KAMI TAK BISA MENAHAN MEREKA LEBIH LAMA!” ditingkahi dengkingan anjing kecil yang terperangkap.

“’Kami’?” Daneel mengangkat satu alis meminta penjelasan.

“Uh, pacar Jared,” jawab Jensen buru-buru. Di latar belakang, Jared dan pacarnya (Daneel sama sekali tidak tahu dia punya pacar – kerja jauh di LA membuatnya terkenal, tapi juga ketinggalan berita tentang orang-orang terdekatnya) berteriak ‘aaah!’, nyaris bersamaan dengan bunyi pot pecah dan salakan bernada tinggi.

“Apa itu Icarus?” tanya Daneel, berusaha mengintip dari balik tubuh Jensen.

“Uh, yeah,” jawab Jensen, sengaja memblokir pandangan tunangannya.

“Aku ingin ketemu dia! Sudah sebesar apa dia sekarang?” ujar Daneel penasaran. Dia sudah kangen sekali pada Icarus dan bulu-bulu putih-kelabunya yang seperti keset. Dan gonggongannya yang seperti anjing dalam film kartun dan mukanya yang lucu.

“Sebaiknya tidak,” jawab Jensen, menyelip keluar dari pintu yang sudah setengah ditutupnya. “Ick, Harley, dan Saddie sedang sangat agresif hari ini. Kau tidak akan senang bertemu mereka.” Seakan mendukung pernyataan itu, Jared berteriak kesakitan dan berseru, ‘Ick, ini tangan tahu, bukan tulang!’

Jensen geleng-geleng kepala dan membanting pintu. “Sudah, ayo berangkat.”

“Tapi….”

“Tidak apa-apa. Ayo, keburu sore nih.” Pria itu mendorong kekasihnya masuk mobil yang telah disiapkan di halaman depan dan langsung tancap gas, seolah khawatir tiba-tiba ketiga anjing itu lolos dan mengejar mereka.

* * *

Entah karena Jensen lupa atau karena satu-satunya jalan ke tempat piknik adalah melalui kompleks pertokoan yang tadi sempat ia lewati, Daneel tidak tahu. Yang dia tahu, mereka jadi terjebak macet di tengah rombongan manusia yang berduyun-duyun membawa tas-tas belanja dengan logo merk ternama terpampang penuh gengsi, dan itu membangkitkan nafsu belanjanya. Sudah lama dia tidak belanja di kompleks ini, dan butik favoritnya pasti sudah menerima barang-barang model terbaru.

“Jen, daripada nunggu macet, berhenti sebentar dong. Aku mau beli baju di butik. Enggak akan lama, kok. Ya?” Ia melapisi permintaannya dengan sesuatu yang sangat mirip saran menguntungkan.

Jensen meliriknya sekilas, lalu kembali ke jalanan yang tidak tampak seperti jalanan lagi, dengan banyaknya orang dan kendaraan yang berjubel jadi satu. “Tidak bisa, Dan.”

“Tapi macetnya parah banget! Kita toh tidak akan keluar dari sini sampai satu jam ke depan.”

“Yeah, dan kalau kau belanja, pasti bakal lebih lama. Lagipula, butik langgananmu itu sudah pindah.”

“Apa? Tidak mungkin. Kapan?”

“Cukup lama.”

“Tapi tadi aku lewat di depannya!” Kemudian Daneel ingat, waktu dia melewati depan ruko di mana butik itu berada, dia bertabrakan dengan orang aneh berbaju salah musim itu. Jadi dia tidak benar-benar memperhatikan toko-toko di sekelilingnya, mungkin saja ia tidak menyadari butik itu sudah tak ada.

“Pindah ke mana?”

“Ke kompleks lain di luar kota.”

“Huh, sayang sekali,” dengus Daneel. Ia lalu mengamati orang-orang yang berlalu lalang di luar jendela. “Aku tadi tabrakan sama orang aneh,” katanya sambil lalu, sekedar mengisi keheningan.

“Oh ya?”

“Mmm. Remaja, sepertinya. Gayanya agak gothic, kau tahu, serba hitam dan seram. Pakai jaket bertudung segala, lagi. Anak zaman sekarang aneh-aneh saja.”

Dari sudut matanya Daneel melihat jemari Jensen mencengkeram setir erat-erat. “Yeah,” jawab Jensen tertahan, “aneh-aneh. Dan kadang gila. Mereka tidak punya nalar.”

Merasakan kemarahan tak beralasan dalam kata-kata itu, Daneel mengerutkan kening tak setuju. “Tidak semua begitu, kan? Kita bisa bertahan di dunia hiburan karena mereka juga. Kau bisa bertahan karena berapa – delapan puluh persen dari penggemarmu adalah remaja cewek?”

Jensen tersenyum kulum. “Iya sih. Apa kau cemburu?”

“Sedikit. Tapi mereka cuma anak kecil.” Daneel melambaikan tangan tak peduli.

“Jangan sampai mereka mendengarmu,” kekeh Jensen.

“Tidak kalau kau tutup mulut,” jawab Daneel.

Keduanya tertawa, dan menghabiskan waktu dalam kemacetan membicarakan fans-fans mereka.

* * *

Hari itu terasa seperti dongeng.

Daneel berbaring di atas rerumputan hijau, merasakan gelitik tumbuh-tumbuhan di permukaan kulitnya. Angin berhembus sepoi-sepoi, sangat berbeda dengan angin besar di kota. Sinar matahari menembus celah-celah dedaunan maple jauh di atas kepalanya, tampak seperti bintang-bintang di siang hari. Suasana begitu tenang, hanya sesekali terdengar derum mobil di kejauhan, tapi selain itu, hanya ada dia dan Jensen dan alam di sekitar mereka. Keheningan yang absurd, memberi kesan seolah ia berada di dunia lain, dunia yang bukan tempatnya. Harusnya itu menimbulkan perasaan damai, tapi sebaliknya, sekonyong-konyong Daneel mendapati hal itu sedikit menakutkan. Ia bergeser dan meletakkan kepalanya di paha Jensen, mencari kenyamanan.

“Darimana kau tahu tempat ini?” tanyanya pada sepasang mata hijau yang membuat dia sendiri pun cemburu. Matanya tidak pernah secantik itu, bagaimanapun ia merawatnya di salon.

“Aku banyak jalan-jalan. Waktu sedang sendirian,” jawab Jensen pelan. Hembusan angin menggerakkan dedaunan di atas mereka, bayang-bayangnya mendistorsi wajah tampan pria itu sehingga untuk sesaat, Daneel merasa menatap seseorang yang sama sekali asing. Bukan Jensen, pria yang terlalu pemalu untuk menyadari betapa istimewa parasnya, dengan siapa ia menjalin hubungan persahabatan sekaligus percintaan putus-sambung hampir sepuluh tahun. Yang dilihatnya adalah versi tua dan lelah dari orang yang dicintainya, bukan secara fisik, melainkan lebih ke jiwa, seolah Jensen menanggung beban berat di pundaknya seperti halnya tokoh yang ia mainkan di layar kaca.

“Jangan ngomong begitu, dong. Kayak kakek-kakek kesepian saja,” canda Daneel, berusaha mencerahkan suasana.

Jensen hanya menunduk menatap wajahnya dan tersenyum kecil, tak menunjukkan tanda-tanda ingin membalas kata-kata tunangannya. Daneel bangun ke posisi duduk dan memegangi wajah Jensen dengan kedua tangan. Ia bisa melihat ekspresi khawatirnya terpantul di mata Jensen yang berkilau jernih.

“Ada apa, Jen? Ada yang salah?” bisiknya cemas.

“Aku….” Jensen menggengam tangan mungil Daneel yang belum melepaskan kontak dari pipinya, memejamkan mata meresapi sentuhan halus itu. “Tidak apa-apa,” jawabnya lembut.

“Tidak mungkin. Kau seperti melayang dari tadi, seperti tidak menikmati piknik ini….”

“Itu tidak benar!” tukas Jensen, lebih kasar dari yang dimaksudkannya. Daneel terlonjak sedikit dan menarik kembali kedua tangannya. Pipi Jensen memerah dan ia menggumamkan maaf tanpa menatap si lawan bicara. “Maaf, aku…. Aku tidak…. Tentu saja aku menikmati hari ini, Danni,” ujarnya, sarat emosi yang sulit ditebak. “Aku sudah menunggu lama untuk hari ini, aku menikmatinya lebih daripada yang kau kira.”

Daneel menelengkan kepala. “Kau tidak terlihat begitu,” ujarnya apa adanya. Salah satu kelemahan sekaligus kelebihannya adalah ia selalu mengutarakan apa yang terbesit di otaknya – sesuatu yang harus ia kontrol baik-baik di tengah dunia hiburan.

“Yeah,” desah Jensen, tertawa tanpa humor. “Aku hanya berpikir…. Aku berpikir betapa baiknya kalau kita bisa lebih sering menghabiskan waktu berdua seperti ini.”

Mendengar jawaban itu Daneel tersenyum. Ia senang bukan hanya dia saja yang mengharapkan lebih banyak waktu berdua, lebih memberi kesempatan pada perasaan masing-masing untuk berkembang. Menginginkan sesuatu yang membuatnya yakin hubungan mereka masih memiliki arti lebih, bukan sekedar sesuatu yang harus dijaga karena mereka berdua terlalu sibuk untuk mencari penggantinya.

“Hei, tidak usah cemas. Kita punya banyak waktu,” kata wanita itu, menyandarkan kepalanya ke leher Jensen. “Kita punya empat bulan sebelum season baru dimulai. Lebih lama, mungkin, kalau mereka belum bisa merundingkan Pemogokan itu. Mungkin kita bisa ‘maju’ lebih jauh?” ia menambahkan penuh canda sambil menggambar lingkaran-lingkaran di dada Jensen dengan telunjuknya.

Pria itu meletakkan hidungnya di atas kepala Daneel, menghirup aroma rambutnya, membuat wanita itu merinding senang dan bersyukur sudah melakukan perawatan rambut terbaik kemarin hari. Ketika Jensen berbisik lagi, suaranya halus diantara desah panjang, menggelitik telinga.

“Aku melakukan kesalahan dua tahun lalu, Danni. Aku melanggar janjiku padamu…. Dan kukira kita tidak akan bisa begini lagi.”

Daneel mengerutkan dahi, mengingat-ingat. Dua tahun lalu, janji apa yang dilanggar Jensen dua tahun lalu? Waktu itu dia sedang sibuk-sibuknya syuting di episode-episode kunci One Tree Hill dan Jensen…. Jensen baru saja menandatangani kontrak untuk season dua. Mereka sempat tidak berkomunikasi selama beberapa bulan, tapi apa yang membuat Jensen berpikir mereka tak bisa bersama lagi?

Oh.

Oh. Joanna Kruppa.

Dan pertengkaran hebat yang menyusul setelah berita tentang Jensen menghadiri acara penghargaan bersama bintang majalah Playboy itu merajalela di internet. Dan Daneel yang membuang cincin pertunangan mereka yang dulu ke toilet, lalu menyesali perbuatannya dua puluh menit kemudian. Dan keputusan untuk mengakhiri hubungan demi kebaikan bersama.

Bukan kenangan manis untuk diingat, tapi seperti hal-hal buruk lain yang terlupakan di bagian paling belakang dari laci ingatan begitu tertumpuk hal-hal menyenangkan, kenangan itu kini membawa seulas senyum geli di wajah wanita itu. Bahkan Joanna dengan liukannya yang sempurna dan kulit coklat mengkilat tidak mampu mencegah Jensen kembali pada Daneel. Butuh lebih dari tubuh indah dan kemampuan di atas ranjang untuk memenangkan hati pria-pria Ackles.

“Tapi nyatanya bisa, kan?” kata Daneel, menyusup ke pelukan Jensen dengan manja namun posesif. “Kita bersama sekarang, dan akan terus begitu. Kau mau, kan?”

“Yeah, aku mau,” jawab Jensen pelan. Daneel tersenyum merasakan kulit di sekitar leher Jensen memanas, dia pasti memerah malu. Manis sekali.

Jika ada penghenti waktu, Daneel akan menekan tombolnya dan mengabadikan momen ini, secara denotatif. Dia bergelung dalam pelukan hangat Jensen, mendengarkan ritme nafasnya, mencium aroma tubuhnya yang bercampur dengan wangi rumput di sekeliling mereka. Dia bisa hidup begini selamanya.

* * *

Sepulang dari piknik, Jensen memberi Daneel kejutan kecil. Mereka tidak kembali ke rumah Jared seperti dugaan wanita itu, melainkan membelok ke pelataran sebuah apartemen. Dia memekik terkesan ketika Jensen mempersilahkannya masuk ke salah satu kamar di lantai paling atas apartemen.

“Selamat datang di apartemenku,” kata Jensen, memegangi pintu dengan sikap gentleman.

Daneel melenggang masuk, melihat sekeliling sambil berdecak kagum. “Ini hebat. Kau…. Wow.” Ia menggeleng-geleng kepala. Memang tidak ada apa-apanya dengan rumah Jared yang dua tingkat dan terdiri dari entah berapa kamar, tapi interior tempat ini begitu sesuai dengan seleranya. Jensen bahkan membuat ruang televisi persis seperti gambar yang pernah ditunjukkan Daneel, dengan jendela kaca besar di satu sisi, menghadap ke gedung-gedung perkotaan. Pipi wanita itu berubah pink mengetahui Jensen telah melakukan sejauh ini untuknya.

“Kau yang merancang temanya.” Daneel mengajukan pernyataan, bukan pertanyaan.

“Yeah, kupikir kau akan suka.” Jensen tersenyum malu-malu dan menunduk sedikit.

“Tentu saja. Fantastis.” Daneel nyengir lebar melihat foto-foto dalam pigura yang terpajang sepanjang koridor masuk. Ada foto kerabat Jensen yang ia rindukan sebagaimana dia merindukan Jensen sendiri; foto kru Supernatural – tengah merayakan akhir season, jika ditilik dari botol-botol bir yang diacungkan sebagian besar orang; dan yang paling manis adalah foto Jensen menggendong Icarus seperti anak laki-laki menggendong anjing pertamanya (dan memang begitu kenyataannya). Icarus sudah tumbuh beberapa inchi sejak pertemuan terakhir mereka, dan beberapa inchi itu pastilah banyak mengingat Daneel bisa membedakan ukurannya padahal Ick masih termasuk makhluk mini.

“Sekarang Ick selalu menyambutku setiap pulang kerja. Dia bakal melesat dari sana….” Jensen menunjuk pintu dapur jauh di belakang, “…. Lalu melompat-lompat seperti per di sekitarku. Lompatannya bisa setinggi ini.” Ia mengangkat tangan sampai dada untuk mendeskripsikan jangkauan lompatan anjing kecilnya.

“Itu karena kau menamainya ‘Icarus’,” tanggap Daneel, tertawa renyah. “Kalau dia burung kenari, kurasa dia sudah terbang pergi dari dulu.”

“Yeah, tapi masih untung kunamai Icarus. Bayangkan kalau Cerberus.” Jensen pura-pura bergidik.

Daneel tertawa lagi, bukan karena banyolan Jensen yang lucu (dari semua bakat tampil yang ia miliki, melawak bukan salah satu di antaranya – itu sudah diserap habis oleh Jared), tapi lebih karena lega Jensen sudah kembali gembira, bukan lagi pria dengan muka menekuk seolah tenggelam dalam kolam kesedihan bertahun-tahun yang bersamanya tadi siang.

“Mau nonton film?” Jensen menawarkan sambil menjatuhkan diri di sofa besar depan televisi. “Kebetulan aku baru dapat film bagus, nih.”

Tidak ada kata ‘kebetulan’ di kamus Jensen (terutama karena pria itu tidak pernah menganggap film romantis itu romantis, kecuali ada Daneel di sampingnya). Dia pasti sudah mempersiapkan segalanya, memilih film bertema cinta yang sedang laris – bahkan mungkin sampai minta saran Kripke, tapi cara ia menyembunyikan fakta itu membuat Daneel makin senang. Jensen selalu sangat pemalu dan itu membuatnya makin manis, bukan hanya .

“Tentu.” Daneel memposisikan diri di samping Jensen begitu rupa agar bisa bersandar manja di dadanya. “Film apa?”

“Umm… Judulnya ‘The Last Song’,” Jensen membaca cover DVD di tangannya.

“Belum pernah dengar.” Dan Daneel agak terkejut juga. Biasanya dia paling mengikuti perkembangan dunia film, terutama yang ada adegan dua sejolinya. Mungkin dia terlalu lama terkurung di lingkungan syuting hingga tak menyadari pergerakan dunia akhir-akhir ini.

“Memang film baru, kok,” ujar Jensen, memasang kasetnya di player. “Yang main Miley Cyrus.”

“Anak kecil itu? Si Hannah Montana?!”

“Dia sudah remaja sekarang,” jawab Jensen, tersenyum. Senyumnya, entah kenapa, tampak agak sedih, jenis senyuman yang ditunjukkan para ayah ketika menyadari putrinya telah tumbuh dewasa. Dan itu aneh karena Jensen jelas bukan penggemar sang Ratu Disney.

“Huh. Waktu berlalu cepat,” celetuk Daneel, mencibir sedikit. “Aku semakin merasa seperti barang antik.”

“Kalau kau sih, selamanya juga akan tetap cantik,” bisik Jensen memuji. Pipinya langsung memerah setelah itu.

“Mmmm. Kau juga, kok,” balas Daneel.

Mereka berciuman diiringi lagu pembuka film.

* * *

Sudah menjelang dini hari ketika akhirnya pasangan itu memutuskan naik ke kamar tidur. Jensen menggendong Daneel seperti menggendong anak kecil, kedua kaki wanita itu terlipat di punggung kekasihnya. Perlahan Jensen merebahkan wanita itu, seolah ia adalah patung kaca yang rapuh, akan hancur dengan hempasan sedikit saja.

“Aku kok ngantuk sekali, ya,” kuap Daneel, menyusup ke bawah selimut. “Malam ini tidak usah main-main, ya,” ia menambahkan, nyengir nakal.

Bahkan dalam cahaya remang-remang dari lampu-lampu kota di luar, Daneel bisa melihat calon suaminya memerah. Jensen harus belajar mengurangi sifat pemalunya, setidaknya di depan wanita yang telah memakai cincin janji darinya!

“Tidak apa-apa,” bisik Jensen, “malam ini aku hanya ingin melihatmu tidur.” Ia tersenyum kecil dan mendekatkan wajahnya ke wajah Daneel, cukup dekat hingga rambut wanita itu menggelitik hidungnya, nafasnya berhembus lembut ke wajah Daneel.

Wanita itu mengerjap. Menatap Jensen dalam jarak sedekat ini, ia melihat apa yang sedari tadi dilewatkannya. Garis-garis usia yang mulai menghiasi sudut matanya ketika ia tersenyum, lekuk-lekuk di dahi yang bertambah seiring berlalunya waktu. Bintik-bintik yang melintasi hidungnya tampak lebih gelap setelah seharian terkena cahaya matahari, dan Daneel bahkan memperhatikan bahwa model serta rambut Jensen sedikit berubah – lebih pendek, juga lebih gelap. Sinar matanya bijak, seolah ia telah menyaksikan lebih banyak hal selama setahun ini daripada Daneel, dan itu membuatnya iri sekaligus sedih. Rasanya kesepian, seakan ia tertinggal jauh di belakang, melewatkan hal-hal penting yang tidak akan pernah diceritakan Jensen.

“Berapa lama kita tidak bertemu?” tanya Daneel, matanya sudah separuh terpejam.

“Cukup lama untuk membuatku merindukanmu,” jawab Jensen, begitu pelan hingga terasa seperti senandung ninabobo. “Dan satu hari kurang dari cukup untuk memuaskannya,” ia menambahkan dalam gumaman sedih.

“Mmm… ‘ku akan tinggal lebih lama,” ujar Daneel, kata-katanya mulai tidak jelas, saling bertumpuk satu sama lain. “M’sih ada banyak waktu s’belum….” Ia menguap, “s’belum syuting.”

“Yeah,” kata Jensen, “yeah. Sekarang waktunya kau tidur, Danni. Selamat malam.” Ia mengecup kening tunangannya.

“Malam,” jawab Daneel, “sampai ketemu besok pagi.”

Hal terakhir yang ia lihat sebelum memejamkan mata sepenuhnya adalah senyum tipis Jensen dan tangannya yang meraih untuk mengelus-elus rambutnya penuh sayang. Daneel mendengkur seperti anak kucing dibelai pemiliknya, dan tertidur.

* * *

Kota terbangun bersama terbitnya matahari. Kicauan burung gereja kota berlomba dengan deru mobil yang tenang, makin lama makin ramai memadati jalan. Lampu-lampu warna-warni digantikan cahaya sejuk mentari pagi, menerobos jendela kaca, menyinari debu-debu yang beterbangan seperti halo mengekspos seorang bintang di atas panggung.

Jensen berbaring di ranjangnya, mata terpejam erat-erat. Ia tidak mau bangun dan menghadapi dunia, teristimewa dunia hari ini, di mana ia tahu segalanya akan terasa lebih menyesakkan, tapi juga ringan di saat bersamaan.

Suara mesin penjawab telepon menyusup dari celah pintu yang terbuka, bergema dalam sunyinya ruangan di pagi hari.

“Jen, aku dan Jared pergi ke luar kota hari ini. Ick ikut, kami akan mengantarnya pulang nanti malam. Kau tunggu di rumah saja, ok?”

Pesan berakhir dengan bunyi ‘biip!’ nyaring. Jensen masih belum mau membuka mata. Faktanya, dia malah belum mau bergerak.

Tak sampai satu menit kemudian pesan kedua menyusul.

“Oh, dan omong-omong. Yang tadi itu aku, Geneive. Aku yakin kau hafal suaraku tapi Jared berkeras aku meninggalkan nama….” Dari latar belakang terdengar seruan tak setuju yang tidak tertangkap kata-katanya, dan Geneive membalas berseru sama samarnya sebelum kembali bicara di telepon. “….Dia takut kau akan mengira Ick diculik atau apa, tapi setelah mendengar pesan ini, kau akan tahu dia baik-baik saja, benar? Yeah. Oke, uh, begitu saja, semoga harimu menyenangkan!”

Bunyi ‘biip’ lagi, dan suasana kembali hening,begitu hening hingga kau menduga bisa mendengar denting paku jatuh, kontras dengan nyanyian kehidupan yang mulai riuh di luar sana. Jensen membaringkan tubuh ke samping, menghadap tempat Daneel tertidur.

Dalam diam airmata meleleh dari sudut matanya, beningnya memantulkan sinar matahari yang mengekspos wajahnya bagai mutiara. Di saat yang sama setiap tahun, suara Geneive terasa seperti pisau yang menusuk-nusuk organ dalamnya, menohok dan mengejek, walaupun wanita yang telah ia anggap sebagai sahabat itu tak melakukan sesuatu yang salah. Kesalahannya bukan pada Geneive yang telah menyandang nama Padalecki, atau Jared yang mengabarkan rencana pernikahan mereka dengan senyum berseri-seri, hanya untuk merasa bersalah beberapa detik kemudian. Kesalahannya ada pada Jensen dan kebodohannya di masa lalu hingga ia tak akan pernah memiliki kisah seindah mereka.

Jensen membuka mata, sedikit demi sedikit, mata hijaunya yang memerah mengintip takut-takut dari balik bulu mata lentik, diiringi do’a yang sama setiap tahun. Do’a yang tak pernah terkabul dan meninggalkannya sedikit lebih goyah daripada sebelumnya.

Tempat tidur Daneel kosong, seprai dan selimutnya rapi seolah tak pernah ada orang berbaring di sana. Aroma parfumnya, campuran peach dan fuchsia yang seharusnya menempel di bantal selama berhari-hari dan pernah menjadi obat kangen Jensen, sama sekali tak berbekas. Hanya tempat dingin di samping Jensen, menambah beban penyesalan mengungkungnya sekian lama.

Jensen meremas seprai coklat muda itu, isakan tertahan meluncur dari bibirnya.

“Sampai jumpa tahun depan, Danni….”

END


0 komentar :

Posting Komentar