Jumat, 16 Juli 2010

MIRROR IMAGE CHAPTER 8


“Potong sisa daging dan pinggir rotinya, Race.”

“Buat apa? Kan sayang kalau dibuang!”

“Biar kelihatan rapi.”

“Toh enggak mempengaruhi rasanya, kan?”

“Ya, cuma bakal ketahuan kalau yang buat baru belajar masak.”


Rachel cemberut dan mengeluarkan sandwich yang sudah dimasukkan dalam kotak makan, memotong pinggiran rotinya semepet mungkin. Jess menggeleng tak setuju, merebut pisau dan sandwich dari adiknya, lalu mulai merapikan makanan kecil itu dengan profesional.

“Nah, begini kan bagus.”

“Tapi jadi sepertiga lebih kecil dari awalnya.”

“Tinggal buat yang banyak. Gampang, kan?”

Si adik mendengus saja dan kembali meletakkan sandwich ke tempat makannya.

Pagi itu Rachel memang sibuk mempersiapkan bekal untuk acara jalan-jalan nanti siang. Ia dan Ben akan mengunjungi Taman Bermain baru yang mereka impi-impikan sejak awal liburan. Cewek itu sengaja bangun lebih pagi demi membuatkan bekal kejutan untuk Ben (sekaligus menanggalkan ejekan sahabatnya itu bahwa dia tak bisa masak). Biarpun ujung-ujungnya harus dibantu Jess dalam membuat kentang goreng dan salad buah, dia cukup bangga karena bisa menyelesaikan sandwichnya sendiri.

“Sisakan beberapa potong buat Sarah, ya,” Jess mengingatkan sambil menunjuk adik bungsunya yang duduk tertidur di kursi makan, dengan Bubble si boneka beruang sebagai bantal. Sarah sangat bersemangat ketika kedua kakaknya bangun untuk membuat makanan kesukaannya, tapi ketiduran lagi sebelum sandwich pertama jadi.

“Iya, iya.” Rachel menyisihkan tiga potong roti lapis itu ke piring, disertai kentang goreng dan sosis yang dibentuk gurita. Kemudian ia memasukkan kotak makan dan botol minumnya ke ransel.

“Kau seperti anak SD saja, bawa-bawa bekal,” goda Jess geli.

“Bawa makan dari rumah lebih sehat,” jawab Rachel, menirukan nasehat ibu mereka.

“Atau mungkin kau ingin mengesankan Ben. Kenapa kalian enggak jadian saja, sih?”

“Aku tidak berciuman dengan sahabatku, Jess,” sahut Rachel sambil memutar bola mata, seolah itu aturan persahabatan yang harusnya diketahui semua orang. Ia menggendong tasnya yang menggembung penuh isi – Rachel memang jenis cewek prefeksionis yang tidak tahan tidak membawa barang-barang untuk ‘berjaga-jaga’ – dan berjalan ke luar dapur. “Berangkat dulu, ya. Bilang sama Mom dan Dad aku mungkin pulang malam.”

Jess mengangguk. “Hati-hati,” katanya sambil melambai. Lalu tersenyum jahil dan menambahkan, “tetap saja, pertimbangkan saranku deh Race. Kalian bakal terlihat manis berdua.”

Rachel mencibir. “Seratus tahun lagi, deh.”

* * *

Ada yang salah dengan keluarga Winchester. Ben bisa merasakan itu sejak ia duduk bersama mereka untuk sarapan. Mereka, kecuali Sam yang belum menunjukkan tanda-tanda mau berdamai, jadi sangat baik tapi canggung padanya pada saat bersamaan. Curahan perhatian Mary jauh lebih hebat dari biasa, ia terus mengelus-elus Ben, menatapnya dengan pandangan aneh itu – pandangan seolah ia anak sakit parah yang dalam waktu dekat akan mati – dan bercerita panjang lebar mengenai masalah dalam keluarga mereka di masa lalu, bagaimana mereka bisa melalui semua itu karena saling mendukung dan terbuka satu sama lain. Ben jadi merasa tidak nyaman, ia menyelesaikan sarapan cepat-cepat lalu mengamankan diri ke kamar sebelum ada yang sadar bahwa ia tidak tahu sama sekali tentang momen-momen yang diungkit Mary.

Ia masih sembunyi dua jam kemudian, membaca buku musik seperti biasa, ketika Dean mengetuk dan membuka pintu.

“Boleh masuk?” tanyanya, mengangkat satu alis.

Ben langsung bangun dari posisi tidurnya dan duduk tegak di pinggir kasur. “Uh, yeah. Silakan,” katanya salah tingkah, secara refleks merapikan rambutnya yang berantakan.

Dean menggeret kursi belajar dari seberang ruangan dan duduk persis di depan Ben, membuatnya merasa seperti pasien yang mau konsultasi dengan Dean, sang dokter.

“Boleh bicara sesuatu?” tanya Dean setelah beberapa saat, menggerakkan kaki dengan gelisah dan mengusap kepala berkali-kali seolah berusaha memilah kalimat yang tepat. Meski punya bank komentar pintar untuk menggoda kedua adiknya, ia tidak pernah terlalu pandai dalam pembicaraan serius.

“Ya?”

“Umm… Kau tahu….” Dean menatap langit-langit, dan dari cara memandangnya, Ben sampai ikut mendongak barangkali di sana benar-benar ada sesuatu yang menarik, atau contekan bagi Dean untuk bicara. Tidak ada. “Kau tahu di keluarga ini kita selalu memberitahu jika ada masalah, kan?”

Ben tidak tahu, tapi dia mengangguk pelan. “Uh-huh?”

“Dan umm…. Kita bisa membicarakan masalah itu dengan siapa saja. Mom, Dad, atau aku, Sam…. Tentu saja kami juga akan bercerita padamu kalau kami punya masalah!” tambah Dean.

“Dean,” kata Ben pelan, mengangkat alis curiga. “Apa kau punya masalah dan ingin membicarakannya denganku?”

“Tidak! Bukan begitu, bukan aku yang punya masalah, aku….” Dean gelagapan, mengingatkan Ben pada Maddie. Jangan-jangan itulah masalah Dean. Jangan-jangan dia selingkuh jadi tidak punya waktu lagi untuk Lisa.

“Apa kau selingkuh?”

“Apa?! Tidak! Kenapa tia-tiba tanya begitu, sih?”

“Soalnya mendadak kau ingin bicara denganku, sementara kemarin aku baru menegurmu tentang Lisa,” jawab Ben, mengangkat bahu. “Kukira kau mau minta saran bagaimana cara ngaku ke dia.”

“Mana mungkin selingkuh, cewek satu saja sudah repot,” gumam Dean lebih pada diri sendiri. Tapi kemudian matanya membulat seolah teringat sesuatu yang penting, dan saat bicara lagi, nadanya jadi lebih percaya diri. “Oh. Tapi memang ada yang mau kutanyakan soal Lisa.”

“Kalau kau ingin tahu dia selingkuh atau enggak….”

“Bukan, bukan itu! Kok kamu jadi seneng banget ngomongin itu sih!” tukas Dean rada senewen. Ia berdeham untuk mengembalikan topik. “Aku mau tanya…. Umm… Lisa benar-benar pingin diperhatiin, ya?”

“Bilangnya sih, begitu.”

“Terus?”

“Terus apa?”

“Aku harus gimana biar dia senang?”

“Ya tanya Lisa sendiri dong. Memang aku juru bicaranya?”

“Masa kau enggak ada saran? Sedikiiit saja.”

“Ajak dia nonton,” jawab Ben, mereferensi tindakan romantis para cowok dalam film-film bertema cinta yang memenuhi televisi tiap Valentine. “Belikan dia bunga, atau coklat. Puji baju yang baru dibelinya….”

“Hei, hei, hei. Aku meminta saran untuk menyenangkan Lisa, bukan untuk menjadi Sam Versi Dua.”

Mau tak mau Ben tertawa. “Yah, begitulah. Memang kelihatannya yang dia lakukan itu merepotkan, tapi bikin cewek senang.” Ia mengatakan itu dengan setengah berbisik, takut Sam dengar dan menuduhnya ‘membicarakan orang lain’.

Dean nyengir. “Begitu ya? Baiklah kalau begitu, nanti kucoba,” katanya enteng; jenis kata-kata yang kau ucapkan hanya untuk menyenangkan hati orang yang telah memberimu masukan, sebab sesungguhnya kau tidak serius menerima masukan itu. Ben agak malu menyadari usulnya yang payah. Sulit memang memberi saran kreatif dan bermutu kalau dia sendiri belum pernah merasakan yang namanya pacaran.

“Nah. Aku sudah menceritakan masalahku. Sekarang gantian,” tuntut Dean tiba-tiba.

Ben mengerjap bingung. “Ha?”

“Kau punya masalah, kan? Ceritakan padaku. Biar kita impas.”

“Aku enggak punya masalah apa-apa.” Setidaknya, aku enggak punya masalah yang bisa dibicarakan denganmu.

“Oh, ya? Kau enggak punya masalah satupun? Wow, hidupmu pasti sempurna banget,” sindir Dean.

“Memang enggak punya, kok!”

“Bagaimana dengan Juilliard? Kau suka di sana?”

“Tentu saja. Semuanya oke.”

“Alec,” desah Dean, menggelengkan kepala. “Jujur saja deh. Aku tahu kok kau sudah enggak pingin sekolah di sana sejak berapa, tiga tahun lalu?”

Perut Ben terasa dingin. “Apa?” bisiknya pelan, tak mempercayai pendengarannya.

“Kau mungkin bisa berpura-pura di depan Mom, tapi tidak di depanku. Aku tahu kau lebih suka main baseball daripada jadi pianis,” kata Dean, tersenyum lembut seolah ialah yang paling mengerti perasaan lawan bicaranya.

“Masa?” tanya Ben, tak menyadari matanya berkaca-kaca.

Perasaan tak menyenangkan itu, bahwa ia tak lagi mengenal saudaranya, mendadak menerjang kembali seperti rombongan gajah. Selama seminggu di New York ia dan Alec sudah akrab, dan untuk sesaat Ben bisa menipu diri bahwa ia tak melewatkan kehidupan Alec sedikitpun, bahwa kembarannya masih sama seperti dulu, bahwa ia masih mengenal Alec dengan baik dan firasat ia sudah berubah sampai akar-akarnya hanyalah kecemasan kosong belaka.

Ben tidak memperhatikan bagaimana Alec tak lagi tertarik pada seni musik. Menganggap remeh omongannya tentang baseball, mengira itu cuma hobi biasa. Dan kemudian di sinilah ia, di kamar dengan si kakak angkat yang memberitahu bahwa Alec tak ingin lagi jadi pianis, tak ingin lagi mewujudkan impian almarhum orangtua mereka. Rasanya seperti Dean meludahi kenaifannya.

Tapi yang membuatnya paling sedih bukanlah perubahan Alec. Hal paling menyedihkan adalah ia, sebagai saudara kandung, tidak tahu apa-apa, sementara Dean, orang yang tidak punya hubungan darah dengan kembarannya, seolah tahu segalanya. Tiba-tiba Ben merasa jadi orang asing. Ada suara kecil menyebalkan dalam kepalanya yang berteriak, “sekarang Alec bukan lagi saudaramu, tapi saudara Dean dan Sam!” Ben ingin balas berteriak menyuruhnya diam.

“….Kita bisa membicarakan ini bersama-sama. Kau tak perlu masuk Juilliard kalau tak mau,” Dean terus bermonolog tanpa menyadari perang batin lawan bicaranya. “Bilang saja, Alec. Jangan menggunakan cara-cara… uh, ekstrim untuk menunjukkan ketidak – kau kenapa?” tanyanya, melihat ekspresi syok adiknya. “Alec?”

Ben menarik nafas dalam-dalam untuk mengontrol emosinya. “Tidak apa-apa,” gumamnya, berusaha tersenyum.

“Kau yakin?”

“Yeah.”

“Alec, kalau ada sesuatu….”

“Tidak ada, Dean,” kata Ben lebih kasar dari seharusnya. Ia memejamkan mata, menegur diri sendiri. “Sori, maksudku…. Dean, bisakah kau tinggalkan aku sendiri sekarang?”

“Alec….”

“Dean,” potong Ben tegas, “aku akan cerita kalau ada masalah, oke? Cuma enggak sekarang. Aku mau sendiri sekarang.” Karena kalau Dean tidak cepat-cepat menyingkir, dia bisa menangis di depannya dan itu akan membuat keadaan makin parah.

“Oh, Oke,” jawab Dean akhirnya. Dengan enggan ia berjalan menuju pintu, jelas sekali meninggalkan si adik seorang diri adalah hal terakhir yang diinginkannya. Tapi Dean sangat menghargai privasi orang lain, sebab ia sendiri pun tak suka diinterogasi berlebihan. Sebelum keluar ia menoleh dan berkata lembut, “tidak apa-apa berubah cita-cita, Alec. Kami akan selalu mendukungmu. Tidak perlu takut.”

Dan ketika Dean menutup pintu airmata Ben mengalir, karena jika Alec tidak takut melepaskan cita-cita masa kecilnya dan keluarga Winchester mendukungnya, maka ia benar-benar kehilangan saudara yang dulu dikenalnya.

* * *

Mengatakan Rachel dan Alec bisa mati kesenangan ketika masuk Taman Bermain rasanya tak berlebihan. Mereka berlari dan melompat kegirangan – secara denotasi – begitu melewati pagar antrian loket, dan saat melihat wahana-wahana spektakuler pemicu adrenalin, keduanya praktis menjerit seperti fans fanatik bertemu penyanyi rock idolanya.

“Naik itu dulu!” tunjuk Alec ke roller coaster dengan tiga rel melingkar. Ia masih memakai sepatu olahraga karena langsung berangkat setelah latihan.

“Enggak, itu dulu!” Rachel menunjuk menara tinggi yang di atasnya ada orang berteriak-teriak.

“Atau itu!” Kereta yang meluncur ke sungai buatan dengan cipratan dahsyat.

“Itu juga bagus!” Wahana tembak-tembakan Space War.

“Ya ampun, semuanya keren-keren aku jadi bingung!” seru keduanya cepat dan berbarengan. Mereka berpandangan lalu tertawa.

“Ayo kita coba dari yang paling dekat,” putus Rachel bijak, menarik tangan Alec ke antrean terdekat.

Ternyata itu antrean ke roller coaster super cepat bernama Red Devil. Berbeda dengan beberapa pengunjung yang langsung angkat tangan dan kabur ke permainan lain begitu diberitahu bahwa roller coaster merah itu melesat seratus lima puluh mil per jam, dan melewati rel setinggi empat ratus dua puluh lima kaki, Alec dan Rachel malah makin girang. Mereka dengan senang hati duduk di barisan paling depan, dengan kekaguman setaraf anak kecil memegang-megang tanduk yang terpasang di moncong kereta sebelum petugas menyuruh para penumpang bersiap di tempat, bersandar ke kursi, dan mengencangkan sabuk pengaman.

“Ayo taruhan,” tantang Alec, nyengir. “Yang teriak lebih keras harus mentraktir es krim.”

“Boleh, siapa takut!” sahut Rachel gagah.

Tepat pada saat itu, kereta meluncur, mendorong tubuh keduanya ke depan. Tak heran petugas menyuruh mereka bersandar! Belum pernah Alec naik sesuatu secepat itu, ia merasakan angin melecut-lecut di wajahnya, matanya berair dan ia tak bisa berhenti berteriak. Di sampingnya Rachel menjerit sama keras, rambut tebalnya berkibar-kibar bagai bendera. Kemudian, sebelum Alec sempat menertawakan cewek itu, kereta mulai mengurangi kecepatan.

Sudah selesai? pikir Alec setengah kecewa, tapi ternyata belum. Mereka kini mulai menaiki rel. Melihat ke bawah rasanya seperti waktu di Empire State Building – semua tampak kecil, seolah Alec melihat dari sudut pandang Godzilla. Hanya saja kali ini ia tidak berpijak di tempat yang solid. Kereta hampir sampai puncak, kecepatannya makin pelan dan Alec yakin benda itu bakal jatuh mundur tapi ternyata tidak. Begitu menyentuh puncak, Red Devil melesat turun dalam kecepatan maksimal. Andai ada alat untuk merekam jeritan kedua penumpang paling depan, alat itu pasti bakal rusak karena frekuensi yang diterimanya terlalu tinggi.

Dan setelah itu, kereta kembali memelan, masuk stasiun. Petugas membukakan sabuk pengaman, Alec mendengar ada orang muntah di deret belakang ketika ia melompat keluar kereta.

“Kau berteriak seperti bayi!” ledek Rachel saat mereka beriringan keluar wahana.

“Dan kau seperti penyanyi sopran. Aaaaah!” Alec menirukan lengkingan Rachel.

“Aku enggak begitu.”

“Iya.”

“Enggak.”

“Iya. Dan itu membuatmu kalah. Traktir aku es krim.”

“Enggak mau! Kau juga menjerit kayak tarzan dikejar bus!”

“Oke, mau bukti? Bagaimana kalau kita coba lagi?”

“Boleh, ayo aja!”

Keduanya berbalik dan ikut antrean Red Devil lagi.

Pada akhirnya, Alec dan Rachel bukan hanya mengulang sekali, tapi dua. Petugasnya sampai geleng-geleng kepala melihat dua bocah yang sedari tadi mengambil posisi terdepan itu. Di putaran ketiga, Alec dan Rachel dengan keras kepala sama-sama menutup mulut rapat-rapat, bertekad tidak berteriak sama sekali. Akibatnya begitu turun dari roller coaster, mereka langsung lari ke toilet untuk muntah.

Permainan selanjutnya tidak kalah seru, sebagian karena wahananya memang oke, seperti lima roller coaster lain yang mereka jajal dan wahana ilusi; sebagian lagi karena antusiasme berlebihan yang membuat bom-bom car pun seseru mobil balap. Keduanya berhenti sebentar untuk makan siang, Alec dengan tidak tahu diri menghabiskan separo bekal Rachel – dia sendiri tidak kepikiran bikin bekal segala – dan cuma mentraktir limun dingin sebagai gantinya. Kemudian mereka kembali mengelilingi Taman dengan semangat penjelajah menjamah dunia baru.

Sore hari, ketika suara mereka sudah habis untuk teriak-teriak dan kaki pegal diajak berkeliling, Rachel dan Alec memutuskan naik bianglala. Dari atas, mereka menghitung dengan bangga jumlah wahana yang berhasil dikunjungi. Mengingat ini musim liburan, sungguh beruntung bisa menaiki sepuluh permainan, belum yang sampai diulang-ulang macam Red Devil dan Space War.

“Lihat tuh, ada parade!” tunjuk Alec ke lapangan utama, di mana ada sekelompok besar penari dan badut unjuk aksi.

“Keren! Kelihatan lebih jelas dari sini,” komentar Rachel, matanya berbinar-binar menatap pemandangan di bawahnya.

“Yeah, aku suka banget nonton parade. Dulu waktu kecil, aku pernah nyasar di Taman Bermain gara-gara keasyikan lihat badut. Saudara-sauda – maksudku, Alec sampai panik,” Alec buru-buru meralat ucapannya.

Tapi tampaknya Rachel tidak menyadari kesalahan itu. Ia malah tersenyum dan bertanya, “kau seneng banget ya, ketemu Alec?”

“Iya dong! Kami kan sudah delapan tahun enggak ketemu.”

“Aku juga senang kalian ketemuan,” kata Rachel tulus, “soalnya setelah itu kamu jadi lebih semangat, lebih cerewet….”

“Aku enggak cerewet.”

“Enggak cerewet dari mana?” Rachel memutar bola mata lalu tertawa. “Kamu kayak mainan habis diganti baterai. Jadi gerak dan bunyi terus enggak berhenti-berhenti.”

“Memang biasanya gimana?”

“Biasanya kamu lebih banyak diam, dan kadang pasang muka begini nih.” Rachel menekuk bibirnya ke bawah seperti anak kecil mau nangis, membuat Alec terbahak.

“Iya deh, aku kayak mainan habis diisi ulang. Tapi jangan pakai baterai, pakai sekrup pemutar saja. Kan lebih ramah lingkungan.”

Rachel meringis. “Sejak kapan kamu jadi pecinta lingkungan?”

“Sejak nonton filmnya Leonardo DiCaprio – tapi bukan Titanic lho, ya.”

Tawa Rachel berderai, merdu dan nyaring seperti alunan musik. Cahaya senja di belakangnya memainkan ilusi, menyebabkan wajahnya berkilau keemasan. Seketika Alec melihat versi vibran dari Jess, bidadari cantik penuh semangat dengan senyum luar biasa manis. Betapa beruntungnya Ben punya sahabat seperti dia….

Tiba-tiba Alec teringat pertama kali ia menyaksikan adegan ciuman secara langsung. Waktu itu sore hari ketika umurnya baru sembilan atau sepuluh tahun, ia masih punya sepeda dan baru pulang dari membelikan Dean sebungkus besar M&Ms – tumben sekali dia juga mau memberi Alec upah. Suasana rumah sunyi, Mary sedang mengunjungi John di bengkel dan Sam belum pulang, ada latihan untuk lomba debat di sekolah. Mendengar suara dari ruang tamu, Alec berjingkat-jingkat dan mengintip, tepat pada saat Dean berciuman dengan seorang cewek pirang. Cahaya matahari jingga yang menerobos jendela waktu itu sama dengan sekarang.

Dan Alec mendapat dorongan gila untuk meniru kakaknya.

“Rachel,” bisiknya pelan, mendekatkan wajah ke rambut Rachel yang berbau matahari. Gelitik lembut di hidungnya membuatnya merinding dengan cara menyenangkan.

“Ya?” Rachel menengok, dan Alec memejamkan mata, tak berani melihat ketika bibir mereka bersentuhan lembut.

Ciuman itu tidak sensasional, bukan jenis yang biasa kau lihat di televisi di mana para pemain seperti mengkonsumsi mulut pasangannya. Lebih tepat jika dikatakan, bibir dua remaja itu menempel selama satu dua detik, Alec bahkan tidak sempat merasakan sisa es krim yang menempel di bibir Rachel. Alasan utama, tentu saja karena dia belum pengalaman, dan alasan pendukung, karena Rachel langsung mendorongnya.

“Apa yang kau lakukan?” dengking Rachel, airmata membayangi matanya.

Seketika Alec tersadar dari transnya, ia merasakan wajahnya panas, dan bukan karena ia duduk menghadap matahari. “Rachel, maafkan aku, aku….” Ia gelagapan sementara Rachel mulai terisak pelan. Betapa cepatnya suasana berubah di antara mereka.

Kadang, momen dramatis memang terjadi dalam hidup, dan ia memilih waktu yang tidak tepat untuk muncul. Seperti kali ini. Bianglala berhenti seolah memberi kesempatan Rachel untuk kabur. Cewek itu tergesa-gesa keluar, hampir jatuh ke bawah bianglala kalau bukan karena petugas yang memeganginya. Ia menggumamkan terimakasih sambil berurai airmata dan lari sebelum Alec sempat berkutik dari posisi duduknya.

Ketika Alec akhirnya cukup sadar untuk keluar, si petugas, seorang cewek dengan kaos pink dan rambut dikucir kuda, berdecak mencela. “Lain kali, jangan putuskan pacarmu dalam bianglala.”

“Yeah,” jawab Alec pasrah, matanya mencari sia-sia sosok Rachel yang telah menghilang di balik kerumunan. “Dan jangan berikan ciuman pertamamu juga.”

* * *

Kecemasan Mary semakin bertambah saja dari waktu ke waktu. Usai menerima laporan dari Dean bahwa ia belum berhasil mengorek keterangan dari Alec – padahal dia sendiri sudah pura-pura curhat, begitu tambahnya setengah jengkel – ibu tiga anak itu harus menyalakan aromaterapi dan duduk bermeditasi dalam kamar selama dua jam penuh untuk menenangkan pikiran. Meditasi itu membawa efek positif seperti biasa, pikirannya jadi lebih jernih, dan mampu menyusun rencana baru untuk mencari tahu masalah Alec.

Wanita itu menjalankan rencananya usai makan malam, ketika Dean dan Sam seperti biasa mencuci piring sambil main perang sabun, John menggeledah kulkas untuk mencari acar sebagai cemilan nonton beritanya, dan Alec mengelap meja dalam diam. Mata anak itu merah dan sembab, dan ia tidak menatap anggota keluarga lain sama sekali. Ada dua kemungkinan: dia habis menangis entah karena apa, atau dia habis memakai….

“Alec,” kata Mary keras-keras, menarik perhatian keluarganya sekaligus menyingkirkan pikiran-pikiran buruk yang mulai menguasai otaknya. “Besok kau ikut ke Rumah Sakit, ya. Kau harus ikut tes kesehatan.”

Cowok itu langsung mengalihkan perhatian dari tugasnya, matanya melebar. Memang bukan saatnya berpikir yang tidak-tidak, tapi benar kata Sam, dia kelihatan seperti kelinci kalau matanya memerah. “Tes… tes kesehatan? Kenapa? Aku sehat, kok,” ujarnya gugup.

“Tidak harus sakit untuk cek kesehatan, kan?” sahut Mary, “kita semua akan dites besok, iya kan?” Ia menatap ketiga anggota keluarga lain dengan tatapan turuti-perintahku-atau-mati.

“Apa? Kenapa kita ju – ouch!” Protes Sam terhenti di tengah jalan ketika Dean menyikut rusuknya.

“Kok mendadak banget, Mom?” tanya Dean hati-hati.

“Bagaimana lagi, aku sudah buat janji untuk besok,” jawab Mary mengangkat bahu. Tapi Dean tahu itu dimaksudkan agar, seandainya dugaannya benar – yang semoga saja tidak, Alec tidak bisa mempersiapkan diri. Dean pernah membaca, butuh dua puluh empat sampai tiga puluh enam jam supaya obat yang kau konsumsi tidak terdeteksi dalam urin. Jika diperkirakan Alec ‘memakai’ hari ini, maka besok siang dia bakal ketahuan.

Ben berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Semua kesedihan sepanjang sore mengenai keretakan persaudaraannya dengan Alec terlupakan, diganti rasa panik menyesakkan. Dia tidak tahu seberapa rinci tes yang akan ia lalui, tapi melihat keketatan Mary dalam menjaga kesehatan keluarga, itu tidak mungkin hanya tes standar macam mengukur tekanan darah, periksa mulut dan gigi, timbang badan, dan tes urin-tinja. Mungkin akan dilakukan rontgen juga, dan ketika mereka melihat tangannya tidak ada bekas patah, maka tamatlah sudah permainan tukar tempat ini. Cowok itu merinding membayangkan reaksi Mary jika tahu anaknya main-main di New Jersey tanpa pengawasan, sementara di rumah ada penyusup kecil yang menggantikannya.

“Apa harus besok?” tanyanya, berusaha terdengar senetral mungkin, namun sayangnya tidak berhasil. Ia berjengit mendengar suaranya sendiri yang melengking tidak normal.

“Tentu saja. Lebih cepat lebih baik. Apalagi kau habis dari New York, barangkali tertular sesuatu tanpa kau sadari.”

“Uh, oke,” jawab Ben sekenanya. Ia lalu kembali mengelap meja, tapi konsentrasinya sudah tidak pada noda sup yang berceceran lagi. Ia bahkan tidak menyadari kasak-kusuk keluarga Winchester di sampingnya, mempertanyakan keputusan Mary.

Yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana membawa Alec yang asli kembali sebelum tes kesehatan besok.

* * *

Malam sudah larut ketika sebuah taksi berhenti di depan rumah keluarga Anderson. Alec turun dengan muka kusut. Ia terpaksa pulang sendirian karena Rachel menghilang dan tak bisa dihubungi setelah bencana bianglala itu. Tadinya dia mau langsung ke rumah cewek itu dan minta maaf, tapi mengurungkan niat begitu teringat Mr Berrisford dan kumis baplangnya yang sangar. Mungkin dia bisa mengurus semua ini besok pagi, saat Rachel sudah lebih tenang dan Alec sudah siap jiwa raga menghadapi kemungkinan terburuk.

“Minggir, Caesar. Aku lagi enggak ingin main,” gerutu Alec ketika anjing itu menyambutnya dengan kibasan ekor. Ia menghempaskan ranselnya begitu saja dan membuka kulkas, meraup tiga batang coklat yang tersisa. Coklat bagus untuk mengurangi stres, begitu menurut majalah kesehatan milik Mom, dan sekarang waktunya ia membuktikan hal itu.

Baru saja mau melahap gigitan pertama, ponselnya berdering. Ia setengah berharap itu Rachel, tapi ternyata nama Ben yang berkedip-kedip di layar. “Apa, Ben? Aku lagi enggak minat ngobrol,” ia ucapkan sebagai salam pembuka.

“Aku juga enggak mau ngobrol! Ada masalah gawat banget!” Ben nyaris berteriak, nafasnya menderu di telepon.

“Hei, tenang. Tarik nafas. Kau tidak bisa memberitahuku apa yang gawat kalau pingsan,” kata Alec, menarik nafas dalam-dalam memberi instruksi. Ben mengikutinya.

“Oke,” kata Ben setelah beberapa saat, tidak lagi terdengar seperti orang yang nyaris hiperventilasi. “Oke. Nah, Alec. Dengar. Aku mau kita tukeran besok pagi.”

“Apa?! Jangan ngaco!” seru Alec, bangkit dari duduk dan berjalan mondar-mandir. Caesar meniru di sampingnya. “Kesepakatannya kan seminggu!”

“Ibumu itu menyuruhku tes kesehatan besok! Aku bisa ketahuan!”

“Tapi….”

“Aku sudah pesan tiket online – pakai uang tabunganku, jadi awas saja kalau kau enggak ganti. Aku berangkat dari sini jam empat, semoga sudah ada taksi. Kau tunggu di bandara, jangan sampai telat.”

“Tidak mau!” tolak Alec keras kepala. “Seminggu ya seminggu! Ini baru tiga hari, Ben!” dia belum sempat tidur di jaring tidur itu, belum puas balapan pakai sepeda, belum mengajak Caesar main frisbee, dan yang pasti, belum menyelesaikan masalah Rachel. Oh, dan belum ikut pertandingan baseball! Dia tidak bisa kembali besok!

“Apa kau mau ketahuan?!” Ben meledak. “Ini bakal jadi masalah besar, Alec. Mikir, dong!”

“Kau harusnya bisa meyakinkan Mom! Bilang enggak enak badan atau apalah!”

“Yang bakal bikin dia makin getol mengajakku. Kau enggak dengar ya, dia mau membawaku PERIKSA KESEHATAN!” Alec sampai harus menjauhkan ponsel dari telinga. Tidak disangka Ben bisa marah-marah sehebat itu.

“Kok malah jadi marah-marah, sih?!”

“Ugh, gimana enggak marah! Kamu ini….” Ben mengeluarkan gerungan frustasi. Ia diam beberapa saat, mengontrol nafasnya lagi, baru melanjutkan, “pokoknya. Kita tukeran besok, oke?”

“Tapi….”

“Tidak ada tapi-tapian!” tukas Ben, “kenapa sih kau susah banget disuruh balik ke rumah sendiri? Atau jangan-jangan di situ kau bikin masalah dan enggak pingin aku tahu, ya?! Hei Alec!”

Jantung Alec serasa melompat ke tenggorokan. Apa itu yang disebut dia seperti buku yang terbuka, sampai-sampai Ben pun bisa menebak ketidakberesan dari Lawrence, ataukah karena mereka kembar dan sekarang ‘ikatan batin’ mereka sedang bekerja?

“Tentu saja tidak semuanya beres,” jawabnya cepat, begitu cepat sampai melupakan koma dan titik.

“Mencurigakan.”

“Sumpah, semuanya beres! Masa kau enggak percaya padaku?”

“Jujur saja enggak.”

“Benny!”

“Lupakan. Kalau memang enggak ada masalah, kau harus mau pulang besok. Atau masalah itu bakal muncul.”

“Tidak bisa di…”

“Tidak, Alec. Besok. Ketemu. Di. Bandara. Titik.” Ben menutup telepon.

Alec menepuk dahi, mengerang kesal. Caesar menggonggong penuh tanda tanya. Alec menatap anjing itu, menggeleng putus asa.

“Mati aku, Caesar.”

* * *

Sejak pulang dari Taman Bermain, Rachel mengurung diri di kamar. Ia tidak mengindahkan pertanyaan-pertanyaan cemas kedua orangtuanya, tidak turun untuk makan malam, tidak mengeluarkan suara sedikitpun yang menandakan ia masih hidup. Dia bahkan tidak cerita sepatah katapun pada Jess, sebagaimana yang selalu dilakukannya tiap ada masalah. Rachel masih terlalu bingung dan kaget dengan peristiwa bianglala sore itu.

Pipinya merona, darah mengalir lebih cepat di seluruh tubuhnya jika mengingat bagaimana bibir Ben yang hangat bersentuhan dengan bibirnya yang manis dan lengket terkena es krim. Saat itu, dalam sekian detik itu, ia merasakan sensasi luar biasa, seolah ada listrik menyetrum seluruh lapisan kulitnya, kembang api meledak di otaknya, meninggalkan ia dalam kondisi senang sekaligus lemas. Ia merinding, tapi bukan karena takut. Dan yang paling parah, ada dorongan tak tertahankan untuk membalas ciuman Ben – meskipun ia sama sekali tak tahu bagaimana berciuman dengan layak. Ia ingin merengkuh dan menikmati lembutnya bibir itu, menghirup aroma manis limun yang masih tersisa di sekitarnya. Butuh segala keberanian untuk mendorong Ben menjauh, dan setelah itu, airmatanya langsung tumpah tak tertahankan.

Kau tidak mencium sahabatmu.

Itu prinsip yang dipegang Rachel sejak dulu, sejak ia akhirnya bersahabat dengan Ben. Ia senang bisa akrab dengan cowok itu, dan menyayanginya dengan tulus. Tapi Rachel sangat yakin rasa itu bukan ‘cinta’. Lebih ke jenis yang konstan tapi tidak romantis, seperti rasa sayangnya pada Jess dan Sarah. Dia seringkali melompat ke punggung Ben minta digendong dan memeluknya sebagai ucapan selamat dan tidak pernah sekalipun jantungnya berdesir tak wajar, tidak ada perasaan canggung membatasi mereka berdua. Ben adalah sahabat Rachel dan itu membuatnya istimewa. Ia tidak mau mereka jadian dan akhirnya kehilangan persahabatan bersamaan dengan putusnya status ‘pacaran’ mereka.

Jadi kenapa, kenapa dia merasa senang ketika Ben menciumnya? Kenapa dia ingin membalas? Semakin dipikir lebih jauh Rachel jadi semakin bingung. Dia memang sayang pada Ben yang pendiam dan kalem, tapi setelah cowok itu pulang dari New York dan seperti terlahir kembali, Rachel jadi makin sayang. Awalnya ia mengira dia hanya ikut bahagia Ben bisa bertemu kembarannya, tapi ternyata tidak. Perasaannya dulu dan sekarang berbeda. Apa ini yang disebut ‘naksir’? apa Ben juga merasakan hal yang sama, dan berusaha menunjukkannya?

Rachel menutup muka dengan bantal dan menggerung tertahan. Dia kesal pada diri sendiri, kesal pada prinsipnya yang konyol, kesal pada Ben, kesal pada masa remaja dan hormon-hormon yang mempengaruhinya, kesal pada New York, kesal pada Alec yang mengubah Ben.

Kesal pada kupu-kupu yang beterbangan di perutnya tiap kali memikirkan adegan bianglala itu.

Kesal pada Jess yang mengusulkan mereka jadian tadi pagi.

Kesal, karena diam-diam dia menyesal tidak bisa mengikuti saran itu.



Jadi remaja cewek memang rumit.

TBC


Read more...

WELCOME LITTLE BROTHER

Mom adalah Sang Penghancur, begitu yang selalu diceritakan John Winchester pada putra-putranya. Ia menghancurkan hati banyak pria. Ia ikut karate waktu masih remaja dan bisa menghancurkan tiga tumpuk bata. Di bulan-bulan pertama pernikahan, ia selalu menghancurkan rasa masakannya.

Sam tidak pernah percaya. Mom adalah wanita paling lembut yang secara refleks minta maaf jika menyenggol orang di jalan, tak mungkinlah ia bisa menghancurkan hati banyak pria – apapun maksudnya itu. Dia membuka tutup kaleng saja tidak kuat, mana bisa memecahkan tiga tumpuk bata. Dan makanan buatan Mom adalah yang paling enak sedunia, Sam tidak bisa membayangkan ibunya tidak bisa masak. Itu sama omong kosongnya dengan mengatakan Superman tidak bisa terbang.

Bagi Sam, Mom adalah manusia paling lembut dan hangat yang pernah ada.

Bagi Sam, Mom adalah orang yang paling menyayanginya, dan juga kesayangan Sam.

Sampai suatu hari, Mom bilang mereka akan punya adik baru. Adik angkat dari Panti Asuhan, yang akan memakai kamar kosong di samping kamar Sam dan merebut posisinya sebagai anak bungsu, dan Mom bahkan tidak mendiskusikannya dulu dengan Sam!

Dad benar. Mom adalah Sang Penghancur. Ia menghancurkan dunia Sam yang sempurna, tempat paling nyaman untuk bermanja dan akses tercepat untuk mendapat sesuatu; dengan sebuah bom atom bernama Alec.

Sam benci Mom. Sam benci Dad yang membela Mom dan membelikan sepeda buat si anak baru tanpa syarat, padahal Sam harus meraih ranking satu untuk mendapatkannya. Sam benci Dean yang cuma mengangkat bahu dan bilang, “kau toh sudah menghancurkan hidupku sekali. Sekarang waktunya pembalasan.” . Padahal Dean kakak Sam, tapi dia ikut sibuk menyiapkan kamar baru Si Bom Atom, bahkan lebih memilih pergi ke toko bangunan membelikan cat untuk kamar itu daripada main basket dengan adiknya!

Sam benci Alec, tikus kecil penyusup yang menguasai keluarganya bahkan sebelum ia masuk ke rumah mereka. Dia bahkan membuat Dad menata ulang ruang keluarga agar bisa memasukkan piano besar ke dalamnya! Apa-apaan coba?

Awas saja, janji Sam penuh tekad, akan kutunjukkan siapa yang berkuasa di sini. Awas kalau dia berani macam-macam!

* * *

“Sammy, senyum dong, nanti Alec bakal mengira kamu gargoyle penjaga rumah, bukan kakaknya!” canda Mary pada putranya yang sedari tadi cemberut terus. Ia bersama kedua putranya tengah berdiri di depan rumah, siap menyambut Alec yang masih dalam perjalanan bersama John.

Sam cuma mendengus. Biar saja dia mengira Sam gargoyle. Mungkin dengan begitu dia akan kabur dan batal jadi bagian keluarga Winchester. Mungkin Dad juga bakal menjual piano itu dan menggantinya dengan Nintendo.

Tak lama kemudian yang ditunggu-tunggu pun tiba. John memarkir mobilnya persis di depan keluarga Winchester, melambai penuh semangat pada istrinya. Mary langsung berlari untuk membukakan pintu penumpang dan membantu Alec turun.

Dia bagaikan peri kecil dalam film kartun: tubuh mungil, mata besar, dan wajah yang bagi para ibu imut sekali. Tapi bagi Sam, dia seperti kurcaci jahat di film horor yang diam-diam ditontonnya bersama Dean waktu Mom dan Dad pergi reuni SMA. Makhluk licik penuh tipu daya yang bakal menjebak keluarga Sam dengan tatapan polos dan muka bayinya. Dan coba lihat penampilannya, seperti anak-anak jaman dulu saja, pakai celana bahan dan kemeja di hari biasa. Norak, Sam dan Dean sih, hanya pakai baju begitu kalau mau ke gereja.

“Dean, Sam, kenalkan adik kalian, Alec,” kata Mary lembut, merangkul Alec dengan sayang.

“Hai, Alec. Aku Dean,” sapa Dean ramah, mengulurkan tangan untuk berjabatan.

Alec menatap tangan itu sejenak, lalu ke wajah Dean yang tersenyum, lalu ke tangannya lagi. Ragu-ragu, ia pun menerima jabatan tangan itu. “Alec,” katanya malu-malu, layaknya anak gadis yang berkenalan dengan cowok yang disukainya.

“Sam, ayo kenalan dong,” Mary menyuruh Sam masih dengan nada halus, tapi matanya berkilat memperingatkan.

Sam mendengus keras tanpa ditutup-tutupi, memanyunkan bibir, dan berjalan sambil menghentakkan kaki ke arah Alec. “Sam,” katanya datar, menjabat tangan Alec lebih keras dari seharusnya. “Apa kau baru pulang dari gereja?” ejeknya kemudian. Dia tahu itu perbuatan nekat dan ia bakal kena masalah sehabis ini, tapi dia benar-benar kesal pada Alec sampai tidak peduli lagi.

“Tidak,” jawab Alec lugu, menggelengkan kepala.

“Oh, aku kira. Habis bajumu resmi banget sih. Aku kira kamu mau ikut Kebaktian, bukan ke rumah baru. Apa kau selalu berpakaian culun begini?”

“Sam!” tegur Mary kaget. Dia tahu putranya masih belum bisa menerima kehadiran Alec sepenuhnya, tapi tidak menyangka dia bakal berbuat nakal pada adik barunya lima menit setelah mereka bertemu.

Perubahan aura di sekitar Dean terasa nyata, senyata angin yang berhembus pelan meniup rambutnya. Mom dan Dad jelas sedang menahan diri untuk tidak mengkuliahi Sam di hadapan anggota baru keluarga mereka. Alec pun tampaknya menyadari bakal ada sesuatu yang gawat, ia bergerak-gerak gelisah di samping Mom, tampak malu, takut, sekaligus merasa bersalah.

Bertindak cepat, Dean menarik tangan Alec dan berkata, “hei. Kami punya ring basket di belakang rumah. Mau lihat?” Ia melirik John meminta persetujuan, dan begitu pria itu mengangguk, Dean langsung membawa Alec pergi.

Sam menatap kepergian kakaknya, yang menggandeng si kurcaci seolah ia memang adiknya, dengan sakit hati. Dean mengajak Alec melihat ring basket – ring basket milik Dean dan Sam – meninggalkan adik kandungnya bersama Mom dan Dad yang tampak siap menghukumnya. Sam ingin menangis dan menjerit dan menendang dan berteriak, karena dunia ini tidak adil. Karena Mom miliknya dan Dad miliknya dan Dean miliknya dan ring basket itu miliknya, dan harusnya tetap begitu sampai ia tua dan punya anak, anak yang harusnya cuma punya satu paman, tapi kemudian Alec datang seperti bola boling pengganggu yang memporakporandakan hidupnya. Dia datang dan mengambil tempat Sam, menggusurnya ke tempat sampah. Sam tidak bisa lagi bermanja-manja pada Mom. Tidak bisa lagi minta digendong Dad di pundak. Tidak bisa lagi mengajak Dean main basket, karena mereka sudah dapat anak bungsu yang baru. Sam ingin menangis.

“Sam, masuk,” perintah John tegas.

“Tidak mau,” balas Sam keras kepala, melipat kedua tangannya.

“Dad bilang masuk, Sam. Kita perlu bicara.”

“Tidak mau.” Ia memantapkan pijakan kaki ke trotoar, seolah dengan begitu ia bisa menanamkan dirinya di situ, tidak perlu masuk rumah lagi selama-lamanya.

“Masuk, Sam. Jangan membuatku menyuruhmu dua kali.”

Jangan membuatku menyuruhmu dua kali. Dad tidak pernah meng-jangan membuatku menyuruhmu dua kali-kan Sam sebelumnya. Itu adalah peringatan untuk Dean, karena dia sudah besar, karena dia telah beranjak remaja yang tidak lagi mempan diancam tidak dibelikan pesawat radio kontrol baru, karena dia adalah seorang kakak dan para kakak harus diperingatkan lebih keras agar bisa menjadi teladan adiknya. Tapi tidak untuk Sam, karena dia masih kecil dan dia masih menginginkan radio kontrol dan dia adalah adik yang tidak perlu ditiru siapa-siapa. Dia adalah adik yang tiba-tiba jadi kakak dan di-jangan membuatku menyuruhmu dua kali-kan hanya beberapa menit setelahnya.

Sam menurut dan masuk rumah. Bukan karena dia harus memberi contoh yang baik, melainkan untuk menghormati Dean yang selalu memberi contoh padanya.

“Sikapmu tadi buruk, Sam,” kata John begitu mereka duduk di sofa ruang keluarga. Piano hitam Alec di sudut ruangan menganga terbuka, seolah menertawakan Sam mewakili pemiliknya.

“Aku tidak nakal,” jawab Sam, masih dengan kekeraskepalaannya. Mom pernah bilang, suatu hari nanti dia bisa jadi pengacara yang hebat dengan sifatnya itu. Tapi sekarang Sam tidak merasa seperti pengacara. Ia lebih mirip terdakwa tak berdaya di depan dua hakim, sementara pengacaranya, orang yang selalu membelanya, sedang di luar terjerat musuh.

“Tentu saja tidak, Sayang,” Mary setuju. Dia tidak pernah memanggil putranya ‘nakal’, sebandel apapun Dean dan Sam. Dia tidak ingin melabeli mereka dengan sesuatu yang buruk. “Karena itu kau tidak boleh bilang begitu lagi pada Alec, ya? Nanti kau minta maaf pada adikmu, ya?”

“Dia bukan adikku,” desis Sam marah, “Mom bahkan tidak melahirkannya!”

“Sam!”

“Memang kenyataaannya begitu, kok!”

“Alec adikmu, Sam. Dia bagian dari keluarga kita sekarang.”

“Dia bukan adikku. Aku satu-satunya adik di rumah ini!”

“Astaga Nak, berhenti bersikap konyol! Dean tidak pernah berbuat begini waktu kau lahir, padahal dia masih empat tahun! Kau sudah sepuluh, Sam, dewasalah sedikit!” John habis sabar. Dia biasanya ayah yang baik, tapi paling tidak sabaran mengurusi ledakan emosi begini.

“Aku BUKAN Dean!” jerit Sam, pipinya merah, airmata kemarahan membayangi matanya. Sungguh mengagumkan bagaimana dia belum menangis sejauh ini.

“Bukan, kau bukan Dean, Sayang. Kau Sam, anak Mom yang istimewa,” Mary berujar lembut, seperti menenangkan anak anjing yang terluka. Ia melirik John dengan pandangan mengkritik, yang membuat pria itu tahu dia akan menghabiskan malam ini mendengarkan pidato istrinya mengenai ‘efek negatif membanding-bandingkan anak bagi mental mereka’.

“Mom bilang begitu cuma biar aku nurut saja.”

“Tidak begitu, Sayang. Mom tidak bermaksud begitu!” Mary mengelak, kemudian menghela nafas pasrah. “Sam, dengar. Alec sangat kesepian, dia baru saja mengalami kejadian yang sangat buruk dalam keluarganya. Dia sedih dan butuh seseorang untuk menghiburnya, Sayang. Dan kau anak luar biasa yang bisa membuat orang di sekelilingmu merasa senang. Mom hanya ingin kau membuat Alec bahagia juga. Dia membutuhkanmu, Sam.”

“Bohong. Kenapa juga dia butuh aku? Dia sudah punya kalian.”

Mary tercekat mendengar kepahitan dalam suara putranya, sedih menyadari ialah penyebabnya. “Itu tidak benar….”

“Tentu saja benar, semua yang kukatakan benar!” tukas Sam, bangkit berdiri dari sofa. Ia benar-benar muak. “Mom hanya tidak berpikir begitu karena Mom tidak melihatnya dari sudut pandangku. Aku benci Mom. Aku benci Dad. Aku benci semuanya!” teriaknya, suaranya pecah di akhir kalimat. Ia berlari ke luar ruangan dan masuk ke kamar, membanting pintu keras-keras agar tak ada yang mendengarnya terisak.

* * *

Dean memandang ke rumahnya dengan perasaan bersalah. Ia tahu Sam pasti sedang dapat masalah, dan di sinilah ia, berdiri di tengah lapangan basket bermain bola bersama adik barunya, adik yang jadi pokok masalah Sam.

Cowok itu merasa berada di tengah-tengah persimpangan, tak tahu harus memihak siapa. Di satu sisi ia tahu betapa beratnya jadi Sam, dia sendiri pernah mengalami ketika dunianya yang sempurna, dunia di mana ia menjadi raja, tiba-tiba direnggut oleh monster kecil merah jambu dalam selimut yang bisanya cuma menangis dan menjerit – dan begitupun tetap dianggap Mary dan John sebagai malaikat. Butuh waktu berbulan-bulan bagi Dean untuk menyesuaikan diri, bukan hanya belajar berbagi tapi juga menjadi kakak yang bertanggung jawab, yang menyayangi adiknya sepenuh hati.

Di sisi lain, dia juga kasihan pada Alec. Dean sudah dengar semuanya dari Mom, bagaimana anak itu kehilangan segalanya setelah kedua orangtuanya meninggal, satu diantaranya bunuh diri. Kau tidak bisa tidak menyayangi anak seperti itu, ditambah lagi Alec anak yang sangat manis, dari penampilan maupun kelakuan, membuat Dean ingin memeluknya dan membuatnya tertawa sepanjang waktu. Andai saja Sam sudah cukup besar untuk mengetahui latar belakang adik angkatnya, dia pasti akan merasakan hal yang sama, karena pada dasarnya Sam anak baik yang tidak tahan melihat orang susah. Tapi Mom memutuskan tidak memberitahu Sam, karena cerita orang bunuh diri terlalu menakutkan untuk anak sepuluh tahun.

Dean mengamati Alec yang sedang men-dribble bola keliling lapangan. Dia anak yang cepat belajar, sudah bisa men-dribble dengan baik padahal setengah jam yang lalu dia tidak tahu apa itu ‘dribble’. Menangkap pandangan Dean kepadanya, Alec berhenti dan nyengir malu-malu.

“Aku sudah bisa basket,” katanya bangga.

Dean tertawa. “Belum, dong. Butuh lebih dari dribble untuk main basket. Kau harus belajar shot.”

“Shot?” ulang Alec, alisnya berkerut. Persis Sam kalau lagi bingung. “Apa kita harus menembak sesuatu juga?” ia celingukan, mencari alat untuk menembak di sekitarnya.

“Begini nih yang namanya shot,” kata Dean, mengambil bola dari tangan Alec dan memasukkannya ke ring.

“Oooh, itu! Aku pernah lihat di televisi!” seru Alec kagum, seolah melempar bola ke dalam ring menyejajarkan Dean dengan para atlet. Ia menatap kakaknya dengan mata berbinar. “Kau keren banget!”

“Aku tahu. Para kakak selalu keren,” seringai Dean.

Setelah itu Alec juga mencoba melakukan shot, tapi tubuhnya masih terlalu pendek dan tenaganya kecil sehingga bolanya cuma melambung menyedihkan beberapa senti sebelum kembali ke tanah, atau lebih parah, nyaris kembali ke muka Alec. Wajahnya membentuk ekspresi cemberut lucu, membuat Dean geli sekaligus tidak tega.

“Alec, sini deh. Kugendong kamu biar bisa memasukkan bolanya, ya?”

Untuk sejenak Alec ragu-ragu, tapi kemudian ia tersenyum senang dan duduk di pundak Dean. Karena ia termasuk kecil untuk ukuran anak seumurnya, Dean gampang-gampang saja memunjinya.

“Hitungan ketiga kau lempar bolanya, ya. Satu, dua tiga!”

Dean berjinjit sedikit dan Alec melempar. Bola masuk ke ring dengan mulus, seolah ring itu ada magnetnya. Keduanya bersorak , Alec melongok dari atas kepala Dean dan bilang lagi bahwa dia keren. Mereka mencoba shot lagi beberapa kali, tanpa menyadari Sam yang memandang mereka dengan iri dari kamarnya.

* * *

Mary berusaha mendamaikan Sam dan Alec saat makan malam, sekaligus menunjukkan bahwa meskipun sekarang ia punya tiga anak, ia tetap menyayangi mereka semua. Terbukti dari menu masakan malam itu yang semuanya kesukaan Dean, Sam dan Alec. Sam masih merajuk, ia cuma mau makan quiche-nya, memelototi Alec dengan galak saat ia ingin mencicipi, sehingga anak itu mengurungkan niat dan cuma menghabiskan makarel yang khusus dimasakkan buatnya. Mary menatap Dean putus asa, minta bantuan, tapi anak sulungnya juga cuma mengangkat bahu.

Selesai makan malam, Mary menyuruh Sam dan Alec bermain game bersama, dengan nada seolah itu ide terbaik yang pernah ada. Sam mengeluarkan suara mengejek yang artinya ‘yang-benar-saja’ dan melengos di depan Alec, menggumamkan, “mending juga tidur!” begitu pelan hingga cuma kurcaci itu yang mendengarnya. Ia naik tangga dengan berisik, tapi langsung berhenti begitu mendengar Mary gantian memasangkan Dean dengan Si Jelek.

Lagi-lagi Dean tercabik antara dua pilihan. Di sampingnya, Alec menengadah menatapnya dengan mata besar penuh harap. Di tangga, tersembunyi dari pandangan orang lain tapi terlihat oleh Dean, ada Sam yang menunggu keputusannya dalam diam. Situasi itu seperti soal ujian opsi ganda: mana yang lebih penting? Adik baru dengan masa lalu suram, atau adik kandung yang kesepian?

Mempertimbangkan peristiwa hari ini, juga fakta bahwa ia telah menghabiskan sepanjang sore bersama Alec dan belum bicara sepatah kata pun pada Sam sejak itu, Dean memutuskan, “Maaf, Mom. Aku harus belajar.” Sengaja ia tak menatap Alec agar tak menyaksikan ekspresinya berubah sedih.

Sam cukup terkejut, tapi juga bisa menduga, keputusan Dean. Ia buru-buru melanjutkan perjalanannya ke lantai dua saat melihat Dean keluar dari ruang makan, tidak ingin kepergok menguping pembicaraan. Tapi kakaknya itu tetap berhasil menyusulnya, dan bukannya mengejek, ia malah mengacak rambut Sam sambil terus berjalan.

Merapikan rambutnya, si adik diam-diam tersenyum senang. Jadi, Dean memilih mengurung diri di kamar daripada menyakiti Sam. Mungkin di rumah ini masih ada yang menyayanginya. Mungkin dia tidak akan membenci Dean seratus persen. Mungkin dia bisa menyelamatkan Dean dari pengaruh Alec.

Sam nyengir. Kakaknya memang benar-benar keren.

* * *

Hari-hari berikutnya berjalan tanpa perkembangan yang signifikan. Sam masih tetap resisten terhadap Alec, Alec tidak berani berakrab-akrab dengannya, dan Mary masih berkeras mendekatkan mereka tiap ada kesempatan. Wanita itu meletakkan keduanya dalam satu ruang sesering mungkin, dengan harapan mereka akhirnya akan mengobrol, tapi sejauh ini usahanya belum membuahkan hasil.

Sementara itu, Dean juga menghadapi masalah yang merepotkan. Agaknya ada persaingan tak tertulis antara Sam dan Alec untuk merebut hatinya. Tiap hari kedua anak itu menempel ke Dean seperti anak ayam mengikuti induknya, bersikap manja dan berusaha menemukan permainan lebih seru dengan harapan sang kakak bakal memilih mereka daripada yang lain. Dean jadi paham kesusahan Mary di bulan-bulan pertama kelahiran Sam, saat anak yang satu mau terus diperhatikan tapi yang lain juga tak bisa ditinggal, dan ia tidak mau ada yang merasa diterlantarkan.

Untungnya, Dean sedang sibuk-sibuknya mengurus kegiatan sekolah. Sebentar lagi tim sepakbolanya akan mengadakan pertandingan persahabatan dengan tim dari distrik sebelah, sehingga ia, sebagai seorang kiper, harus latihan intensif tiap hari. Kadang Dean sengaja mengambil jam ekstra hanya untuk menghindari Sam dan Alec. Ia merasa sedikit jahat karenanya, tapi kalau tidak begitu, dia bakal jadi gila sebelum libur musim panas tiba.

Sampai suatu hari, satu hari sebelum pertandingan Dean, mereka mendapat telepon dari South Dakota. Teman dekat John, Bobby Singer, jatuh sakit sampai harus di-opname. Suami istri Winchester pun memutuskan untuk pergi menjenguknya. Sungguh suatu keputusan berat bagi Mary, pergi ke tempat jauh tanpa membawa anak-anaknya karena di negara bagian itu sedang ada wabah pneumonia. Setidaktega apapun ia meninggalkan ketiga putranya tanpa pengawasan, ia lebih tidak tega melihat malaikat-malaikat kecilnya jatuh sakit. Membayangkan mereka terbaring lemah sambil terbatuk-batuk dan demam tinggi saja hampir membuatnya pingsan.

“Jaga adik-adikmu, ya Dean. Mom sudah meminta tolong Bibi Corrie di sebelah untuk membawakan kalian makanan tiga kali sehari, jadi kalian tidak perlu masak. Jangan main api. Jangan nonton televisi kemalaman. Jangan lupa bikin PR, dan bantu adik-adikmu juga. Jaga kesehatanmu, jangan hujan-hujanan, jangan main air, istirahat yang cukup, kau harus tampil prima untuk pertandingan besok. Oh, Dean, Mom menyesal sekali tidak bisa menontonmu….”

“Tidak apa-apa kok, Mom,” jawab Dean sungguh-sungguh. Tiga belas tahun lebih delapan bulan adalah usia di mana kau merasa malu ditonton orangtua dalam pertandingan olahraga.

“Ada uang di laci dapur untuk keadaan darurat, dan nomor telepon yang bisa dihubungi kalau-kalau terjadi sesuatu. Mom akan menelepon kalian setiap malam jam tujuh, oke? Kami akan pulang empat hari lagi, kalian tidak usah cemas, ya? Baik-baik di rumah, jangan bertengkar.”

“Ya, Mom,” jawab Dean, menahan diri untuk tidak memutar bola mata. “Mom juga tidak usah cemas, ya. Kami akan bertahan hidup, kok.” Karena kalau Mom terus panik begini selama bepisah dengan mereka? Dia bisa memutuskan sepuluh atau sebelas saraf otaknya.

Setelah itu Mary gantian menasehati Sam dan Alec, meminta mereka berjanji untuk tidak memanjat pohon, menyeberang jalan hati-hati, dan tidak main-main dekat kolam – padahal mereka punya kolam saja tidak. Ia lalu memberikan ciuman penuh airmata pada ketiga putranya, seolah ia akan pergi empat tahun, bukan empat hari, dan baru masuk mobil setelah John berteriak mereka bakal ketinggalan pesawat kalau tidak buru-buru.

Ketiga cowok Winchester tersenyum lebar dan melambaikan tangan pada orangtua mereka sampai Impala John menghilang dari pandangan. Setelah yakin mereka sendirian, Alec langsung menarik tangan Dean.

“Dean, main basket lagi, yuk? Gendong aku lagi, ya?” pintanya memanja.

Sam menarik tangan Dean yang satunya. “Tidak boleh. Kau tidak dengar ya tadi Mom bilang apa? Dean tidak boleh kecapekan, besok dia ada pertandingan, tahu,” katanya galak. “Main monopoli sama aku aja, ya?” Ia menambahkan pada Dean, melancarkan serangan mata memelasnya.

Dean menghela nafas. Mungkin empat hari lagi, Mom bukan satu-satunya yang harus dibawa ke rumah sakit gara-gara putus saraf.

* * *

“Benda ini seperti makanan ternak.”

Itu ketiga kalinya Sam mengeluh tentang makanan mereka, dan untuk ketiga kalinya, Dean setuju. Sungguh ironis, Mom yang sangat memperhatikan kesejahteraan anak-anaknya menugaskan Bibi Corrie sebagai koki mereka. Tetangga sebelah itu bahkan tidak bisa menggoreng telur mata sapi dengan baik. Malam sebelumnya anak-anak Winchester langsung muntah begitu menghabiskan makan malam yang super-amis itu. Dan pagi itu, dua jam sebelum pertandingan Dean, ketiganya duduk sarapan dengan oatmeal-yang-warnanya-saja-tidak-seperti-oatmeal di mangkuk masing-masing. Rasa benda itu kasar dan menjijikkan seperti pakan ayam. Dean yakin dia bakal mati keracunan di tengah lapangan kalau menghabiskannya.

Cowok itu mendengus dan mendorong mangkuknya jauh-jauh, seolah aromanya saja bisa membuatnya mual – yang memang iya. Ia bangkit dan pergi ke dapur, kembali beberapa menit kemudian dengan sekotak sereal rasa permen karet, senyum kemenangan menghiasi wajahnya.

“Mom bilang kita tidak boleh makan itu,” kata Sam, mengerutkan dahi tak setuju. Itu adalah sereal yang dibelikan John hampir enam bulan lalu waktu ada sales promo di bengkelnya. Sebenarnya sereal itu enak sekali, manis dan legit, tapi begitu Mary melihat komposisi zat pewarna dan pemanisnya, ia langsung memasukkan makanan itu ke daftar terlarang.

“Terserah. Ini lebih baik daripada pakan ayam itu,” ujar Dean, menuang sereal itu ke mangkuk bersih. Melihat ekspresi Alec yang sepertinya pingin sekali, ia menawarkan, “kau mau juga, Alec?”

Alec tersenyum gembira. “Mau!” katanya antusias.

“Aku juga mau,” sela Sam buru-buru. Dia tidak rela kalau Dean dan Alec makan makanan yang sama.

“Ups, sori Sam. Tinggal dua porsi,” cengir Dean jahil, menuangkan sisa sereal sampai potongan terakhir ke mangkuk Alec. “Kau kurang cepat, sih.”

Dean mengira Sam bakal cemberut dan merengek manja seperti biasa kalau Dean menggodanya. Tapi reaksi kali ini sungguh di luar dugaan, adiknya itu marah besar.

“POKOKNYA AKU MAU ITU!” Teriaknya, menggebrak meja. Pipinya memerah dan matanya berapi-api, begitu sangar sampai Alec mundur ketakutan.

“Sam, santai saja kenapa, sih!” tegur Dean agak kesal. “Mau bagaimana lagi, Alec kan sudah minta duluan.”

“KAU MENAWARINYA TAPI NGGAK MENAWARIKU!”

“Well, maaf deh, tapi kukira kau tidak mau tadi, dengan mengutip larangan Mom segala itu!”

“MOM YANG BILANG, BUKAN AKU! SEKARANG AKU MAU ITU!” Sam menendang kaki meja dengan marah, menyebabkan oatmeal mereka tumpah, berceceran mengotori taplak. “HARUSNYA ITU BAGIANKU!”

“SAM! JANGAN SEPERTI ANAK KECIL!”

Sam terdiam, tergugu. Dean membentaknya. Dean, kakak yang selalu menomorsatukannya itu, membentaknya. Untuk sesaat ia hanya bisa menatap sang kakak tak percaya, yang dibalas Dean dengan ekspresi sama. Mereka sampai lupa keberadaan Alec yang gemetar ketakutan di ujung meja.

“Sammy, dengar, aku….” Dean terbata-bata. Dia kelepasan dan kini wajah sakit hati adiknya itu menamparnya.

“Aku benci kamu,” desis Sam, dan Dean tidak menyangka adik manisnya itu bisa mengeluarkan kata yang begitu keras, begitu penuh…. Kebencian. Sam menoleh pada Alec dan berteriak, “AKU BENCI KAMU JUGA! SEMUA INI GARA-GARA KAMU! KAMU DATANG DAN MEREBUT SEMUANYA! KAMU MENGHANCURKAN SEMUANYA, MENGAMBIL SEMUA MILIKKU! HARUSNYA KAMU ENGGAK PERNAH ADA! HARUSNYA MOM ENGGAK MEMBAWAMU KE SINI! AKU BENCI KAMU! PERGI SANA!”

Belum pernah Sam mengatakan hal itu secara gamblang pada siapapun sebelumnya. Dia hanya menyimpan itu dalam hati karena tahu Mom akan marah jika mendengarnya, tapi sekarang kesabarannya sudah habis. Dia sudah muak.

Alec terkejut sampai tak bisa berkata-kata. Kemudian, perlahan-lahan, bibirnya menekuk dan dia mulai menangis. Alec tidak pernah menangis sebelumnya, kadang wajahnya memang terlihat sedih, tapi dia tidak pernah menangis. Dia berlari meninggalkan ruang makan ke kamarnya.

Dean menatap Sam, yang masih berdiri dengan rahang terkatup, lalu menggeleng kecewa. Ia bahkan tidak perlu mengucapkan apapun. Sam tahu kakaknya kecewa dengan sikapnya, dan ia tidak bisa membela diri. Ia hanya menatap dalam diam ketika Dean juga pergi meninggalkannya, menyusul Alec ke kamar.

Sam berdiri sendirian, mengusap mata berkali-kali untuk menghilangkan airmata yang terus menerus merebak. Ia tidak mau airmata itu sampai menetes karena dia tidak cengeng. Sam Winchester tidak cengeng. Dia keras kepala dan kuat dan suatu hari nanti akan jadi pengacara, dan pengacara tidak menangis. Tapi air di matanya tetap membandel, membuat Sam kesal. Ia berlari ke kamar mandi dan membanting pintu, lalu membasuh mukanya di wastafel sampai kaosnya ikut basah.

Sam tidak tahu berapa lama ia mengurung diri di kamar mandi, airmatanya sudah terbilas habis dan ia duduk diam di atas kloset sambil sesekali memainkan tisu toilet. Tiba-tiba ada ketukan lembut di pintu dan suara Dean mengalir seperti bunyi keran yang gemericik.

“Sam, aku pergi dulu, ya. Sebentar lagi pertandingan mulai,” katanya. Ia diam sejenak, menunggu jawaban dari Sam mungkin, tapi Sam tetap diam. Dean mendesah. “Alec masih di kamar. Kalau kalian butuh apa-apa selama aku pergi…. Uang dari Mom sudah kuletakkan di meja makan. Hati-hati di rumah, ya.”

Dean benar-benar seperti Mom, pikir Sam sambil lalu, tapi dia masih tidak menjawab kakaknya. Sunyi lama setelah monolog Dean, dan tepat ketika Sam mengira ia sudah pergi, suara dari balik pintu kembali terdengar.

“Dan Sam? Jangan khawatir. Berapapun adik yang kumiliki, aku akan selalu ada buat kamu.”

* * *

Lama setelah suara pintu depan terbuka dan tertutup menandakan kepergian Dean, Sam akhirnya keluar dari kamar mandi. Pantatnya kebas karena duduk di tutup kloset yang keras dan dingin, dan perutnya keroncongan. Bahkan oatmeal Bibi Corrie pun terdengar lezat saat ini.

Meja makan sudah dibereskan, taplaknya sudah diganti dan mangkuk-mangkuk oatmeal telah menghilang dari pandangan. Yang ada hanya dua mangkuk berisi sereal rasa permen karet, bersanding dengan sekotak besar susu, dan beberapa lembar uang di tengah meja. Sam jadi merasa bersalah pada Dean, yang pastinya makan oatmeal untuk sarapan, atau bahkan tidak sarapan sama sekali sebelum pertandingan. Cowok itu duduk menghadapi mangkuk serealnya, siap menuangkan susu, tapi mengurungkan niat. Alih-alih, ia memasukkan kembali serealnya ke dalam kotak, menyimpannya untuk Dean. Dean pantas mendapatkan itu karena menjadi kakak yang baik.

Sam naik ke lantai dua, memutuskan untuk menunggu Dean pulang sambil membaca majalah atau tidur siang untuk melupakan laparnya. Namun sebelum masuk kamar, cowok itu mendengar isakan kecil dari kamar sbelah.

Heh, masih nangis juga? Pikir Sam heran. Padahal Sam sendiri sudah tidak ingin menangis sama sekali. Ia bahkan tidak marah lagi pada Alec, faktanya, semua perasaan negatif yang meluap-luap tadi pagi sudah lenyap. Sekarang, dia justru agak kasihan sama anak itu. Apa tadi aku terlalu kasar, ya?

Diam-diam, Sam mengintip ke kamar Alec. Cowok itu sedang duduk di kasur, kedua kaki ditarik sampai ke dada dan wajah tersembunyi di balik lutut. Sam jadi ingat dulu, waktu ia masih kecil dan dijahili anak-anak, dan dia menangis begitu di pojok lapangan sekolah, sampai kemudian Dean datang dan membalas anak-anak nakal itu dua kali lipat. Sam menyeringai teringat kata-kata Dean waktu itu. “Awas kalau kalian berani ganggu adikku lagi, bakal kurobek paru-parumu dan kumakan pakai saos sambel!”

“Hei,” panggil Sam pelan, masuk ke kamar.

Alec mengintipnya dari balik lutut, mata bulatnya memerah sehingga dia tampak seperti kelinci. Ia bertanya sambil terisak, “mau apa ke sini?”

“Aku mau…. Cuma mau menemanimu saja,” jawab Sam, duduk di ujung lain kasur. Dia belum siap minta maaf.

“Katanya benci aku,” tuduh Alec.

“Oh, yeah… soal itu. Aku tidak bermaksud begitu, kau tahu. Tadi pagi aku pingin makan sereal dan Dean menggodaku, dan kau dapat sedangkan aku tidak jadi….” Sam mulai membangun alasan, tapi segera menyadari itu sia-sia. Alec memandangnya dingin, ia jadi salah tingkah. “Oke, mungkin aku memang sedikit bersalah…. Tapi aku tidak membencimu. Kesal, mungkin. Tapi tidak benci. Itu intinya, kan?”

Alec masih diam.

Sam mendesah. “Iya deh, aku salah. Aku minta maaf.” Menimbang-nimbang sejenak lalu menambahkan, “aku harus apa? Kau mau apa biar bisa memaafkanku?” Karena begitulah aturan di antara anak-anak Winchester, si bersalah harus memenuhi syarat tertentu agar bisa dimaafkan. Terakhir kali Sam dan Dean bertengkar, Sam mendapatkan sebuah mobil-mobilan keren yang lagi tren.

“Aku mau pulang,” isak Alec sedih.

“Ini rumahmu sekarang.”

“Enggak. Aku mau sama Benny. Aku kangen sama Benny.”

“Siapa Benny? Kakakmu?” Sam tidak pernah mendengar cerita tentang keluarga aslinya Alec – Mom selalu menghindar tiap kali ditanya, mengatakan belum waktunya dia tahu. Ini membuatnya merasa ditinggal karena ialah satu-satunya di rumah yang tidak punya gambaran kenapa Alec sampai diadopsi.

“Bukan. Benny kembaranku.”

“Wow, jadi kau anak kembar?” tanya Sam takjub, “seperti Thompson dan Thomson, dong? Aku Thompson, pakai ‘p’, dan aku Thomson, tanpa ‘p’,” ia mengutip perkataan detektif kembar dari komik favoritnya, lalu tertawa sendiri.

Alec mengangkat kepalanya sedikit, hingga bukan dahinya yang menempel di lutut, tapi dagunya. “Siapa Thompson dan Thomson?” tanyanya bingung.

“Kau tidak tahu? Mereka detektif konyol yang selalu mengikuti Tintin kemana-mana,” jawab Sam, seolah itu adalah fakta yang harusnya diketahui semua orang. Dan memang harus begitu, Tintin kan komik terkenal! Keren lagi!

“Aku dan Benny tidak konyol,” jawab Alec, agak tersinggung. “Mommy bilang kami mirip Perlman dan Chopin. Tapi mereka tidak kembar, Perlman violinis dari Hebrew dan Chopin pianis dari Polandia.”

“Oh, begitu,” tanggap Sam dungu, tak menangkap apa yang diomongkan adiknya. “Kau suka main piano, ya?”

Alec mengangkat bahu sedikit. “Daddy mengajariku dulu.”

“Kau pintar main piano, dong?”

“Sedikit,” jawab Alec malu-malu, tersenyum kecil.

“Hmm, berarti kalau besar nanti kau sekolah di Juilliard?”

“Jelly-yard?”

“Juil-li-ard,” koreksi Sam geli. “Itu sekolah seni terbesar di Amerika, tahu. Musisi-musisi besar sekolah di sana.” Sebenarnya ia sendiri tidak begitu paham, hanya mendengar sekilas tentang tempat itu dari suatu berita pagi, tapi dia ingin terlihat keren di mata Alec. Gengsi dia kalau Alec bisa menyebutkan nama-nama musisi dunia tapi Sam tidak bisa cerita tentang universitas di Amerika.

Alec mengerutkan dahi tanda berpikir, seolah benar-benar mempertimbangkan perkataan Sam. “Mungkin,” jawabnya akhirnya.

“Bagus kalau begitu.”

Keduanya lalu terdiam, kehabisan bahan obrolan. Ini kali pertama Sam dan Alec bercakap-cakap sejak Alec datang, dan Sam tidak mau mengakui, tapi ternyata adik barunya lumayan juga. Tidak semenyebalkan yang ia bayangkan, paling tidak. Mungkin mereka bisa ngobrol sedikit-sedikit lain kali.

“Kau suka apa?” tanya Alec tiba-tiba. Suaranya pelan dan malu-malu, tapi setelah keheningan cukup panjang di antara mereka, tetap saja membuat Sam terkejut.

“Huh?”

“Emm… Kau suka apa? Apa kau suka main musik juga?” Alec mengulang pertanyaannya tanpa memandang Sam. Entah sejak kapan ia sudah tidak dalam posisi mengkeret lagi, sekarang kedua kakinya disilangkan seperti orang bertapa.

“Aku tidak main musik,” jawab Sam, membayangkan dirinya duduk di belakang piano besar dan memencet-mencet tuts membuatnya ingin tertawa. Yang benar saja! “Aku main basket.”

“Aku juga suka basket!” seru Alec senang, mata merahnya berbinar. Tapi melihat ekspresi kaget kakaknya, ia menunduk lagi, tampak malu. “Umm… aku baru suka. Dean mengajariku main.”

“Yeah, aku tahu,” ujar Sam, tak bisa mencegah dengus kecil dari mulutnya. Beberapa hari ini dia memang sering menyaksikan Alec dan Dean main basket dari kamar, sambil terbakar cemburu tentunya.

“Kau tidak marah, kan? Karena aku main sama Dean?”

“Uh, tentu saja tidak,” dusta Sam. Di waktu lain ia akan bilang, ya, dia marah, MARAH sekali karena Alec merebut Dean dan naik ke pundaknya dan tertawa bersamanya dan memasukkan bola bersama, tapi tidak untuk kali ini. Kali ini, dia ingin mereka ngobrol baik-baik, seperti wakil dua negara bersengketa yang tengah merundingkan perdamaian. “Mungkin besok-besok kita bisa main bersama dan mengalahkan Dean.”

“Tidak mungkin. Dean kan tinggiii banget,” kata Alec, menaikkan satu tangan untuk mengekspresikan postur Dean.

“Yeah, mungkin sekarang dia lebih tinggi. Tapi aku yakin bakal mengalahkannya setelah aku mengalami Ledakan Pertumbuhanku.”

“Ledakan Pertumbuhan?”

“Uh-huh. Saat di mana kita tumbuh tinggi secepat batang bambu,” seringai Sam, gembira membayangkan prospek masa depannya. “Saat itu, aku bakal gantian memanggil Dean, Kuntet.”

Alec terkikik geli. “Aku juga mau Ledakan Pertumbuhan.”

“Kita semua bakal dapat, Alec,” senyum Sam. Ia lalu menatap ke luar jendela di belakangnya, ke ring basket yang berdiri gagah di halaman. Masih dengan senyum di wajahnya, ia menawarkan, “mau main basket sekarang?”

* * *

Satu hal yang menyenangkan dari menjadi anak kecil adalah, kau bisa berteman dengan musuhmu secepat menghabiskan sebungkus permen. Pagi tadi Sam masih menganggap Alec hama yang harus disingkirkan, dan siangnya mereka sudah tertawa-tawa bersama.

“Aku enggak akan bisa main basket sebelum Ledakan Pertumbuhanku,” keluh Alec, setelah usaha keduapuluhnya dalam memasukkan bola gagal lagi.

“Kalau berusaha pasti bisa,” hibur Sam, walaupun yeah, dia mengakui, badan Alec yang dua puluh senti lebih pendek dari anak kebanyakan sama sekali tidak membantu jangkauan lemparannya.

“Kalau aku pakai sepatu hak tinggi, baru bisa,” ralat Alec kecut.

Sam tertawa. “Bagaimana kalau main baseball?” usulnya kemudian.

“Baseball?”

“Yep. Kau tidak perlu jadi tinggi buat main baseball. Sebentar, ya.” Sam berlari ke garasi dan kembali beberapa menit kemudian membawa sarung tangan baseball dan sebuah bola kecil. Dulu, sebelum punya ring basket, dia dan Dean menghabiskan tiap sore main lempar bola.

“Nih, pakai sarung tangan ini.” Sam menyerahkan benda berdebu itu pada adiknya. Semoga saja di dalamnya belum dihuni laba-laba. “Aku akan melempar bolanya dari dekat pohon itu. Kau tangkap, ya.”

Ternyata Alec jauh lebih piawai dalam baseball daripada basket. Dia bisa menangkap semua lemparan Sam dan melempar dengan sama baiknya. Ketika ditanya bagaimana ia melakukan itu, Alec cuma mengangkat bahu dan bilang, “ini mirip mengikuti tempo dalam bermain piano. Kau cuma perlu menangkap di saat yang tepat.”

Mereka terus bermain sampai muka keduanya memerah terbakar matahari dan perut berbunyi minta diisi. Bibi Corrrie sudah mengantarkan makan siang (sup bayam yang kelihatannya lebih mirip lumut dari comberan), dan Sam menyendok sayuran lembek itu ke piringnya karena apa boleh buat, dia sudah kelaparan dan hanya itu yang bisa mengganjal perutnya.

Alec melihat kakaknya dengan kasihan, lalu ke semangkuk sereal jatah makan siangnya. Sereal itu bahkan tidak cukup memuaskan laparnya, tapi dia tidak bisa membiarkan Sam menyantap sup mengerikan itu. Bagaimana kalau nanti dia keracunan?

“Sam, mau barengan?” ia menyodorkan mangkuknya ke arah sang kakak.

Butuh seluruh tekad dalam diri Sam untuk tampil sebagai kakak yang keren seperti Dean untuk menjawab, “tidak usah, kau makan saja. Ini juga enak, kok.” Ia menelan sesendok penuh bayam sebagai bukti, dan seketika tenggorokannya bergejolak. Ia memegangi mulut biar tidak muntah.

“Ih, Sam! Kau benar bisa makan sup kotoran sapi itu?”

Cukup sudah. Sam kabur ke toilet dan sebelum sempat membuka tutup kloset, ia sudah muntah duluan.

Sam muncul tak lama setelah itu sambil mengelap mulut dan mengecap-ngecap jijik. “Lain kali jangan ngomong sembarangan lagi, ya.”

Alec nyengir minta maaf. “Sori, keceplosan.” Ia mendorong mangkuknya ke arah Sam lagi, tersenyum manis. “Masih mau barengan?”

* * *

“Kalian benar-benar manis.”

“Diamlah, Dean.”

“Suer, tadi itu momen Kodak banget.”

“Jangan bahas itu lagi.”

“Tunggu sampai Mom dengar, dia bakal nangis terharu.”

“Kalau kau berani cerita….”

“Oh, tentu saja aku bakal cerita, Sam! Kalian makan sereal semangkuk berdua? Super imut!” gelak Dean, menekankan kata ‘imut’ begitu rupa biar adiknya malu.

Sam, Dean, dan Alec sedang duduk di ruang televisi sambil mengudap pizza yang dibeli Dean pakai uang tabungan (makan malam kiriman Bibi Corrie tergeletak terlupakan di dapur). Hari sudah larut, tapi mereka memutuskan untuk melakukan pesta kecil atas kemenangan sang kakak di pertandingan hari itu, pumpung besok hari Minggu dan tidak ada Mom yang menggerecoki. Dean pribadi lebih suka menyebut pesta itu untuk memperingati hari peresmian kakak-beradiknya Sam dan Alec, tapi Sam dengan tegas dan galak dan ancaman merobek poster Batmannya Dean menolak sebutan itu.

“Jadi, kalian sudah baikan, nih?” tanya Dean sambil menyeruput jus jeruknya.

“Iya, tadi kami main baseball bareng. Sam bilang aku ada bakat,” jawab Alec cepat sebelum Sam sempat berkata-kata. Anak itu lalu mengelendot ke abang keduanya dengan manja. “Besok main lagi ya, Sam?”

“Oh Tuhan, bunuh aku sekarang. Please.” Sam menenggelamkan wajahnya ke tumpukan bantal sofa.

Dean tertawa. “Jadi kau enggak mau main basket lagi, nih.”

“Aku sekarang suka baseball,” jawab Alec mantap, seolah baru saja menentukan pilihan hidupnya. “Berkat Sam, aku jadi tahu baseball itu asyik. Dia benar-benar keren.”

“Aku kan sudah bilang, para kakak selalu keren,” seringai Dean, “tapi, aku tetap kakak yang paling keren.”

“Oh, diamlah,” kata Sam, melempar si sulung dengan bantal. Tapi dalam hati ia tersenyum. Belum pernah ada yang bilang dia ‘keren’ sebelumnya. Semua menyebutnya ‘manis’, ‘lucu’, ‘baik’ atau ‘pintar’, tapi tak ada yang bilang ‘keren’. Kata itu hanya diucapkan oleh seseorang yang kagum padamu, yang menganggapmu cukup dewasa untuk menyandangnya. Dan memiliki pengagum pribadi di rumah, seseorang yang selalu menatapmu seolah kau adalah dewa, meniru apa yang kau kerjakan, menganggap benar tiap kata-katamu – tak peduli apakah kau hanya sok tahu atau tidak, juga menyebutmu ‘keren’ karena hal-hal sepele…. Tidak ada penghargaan yang lebih hebat dari itu.

Sam nyengir lebar. Tak heran Dean bisa segera menerima kehadiran dua adiknya.

Punya adik ternyata asyik juga.


END


Read more...

Rabu, 07 Juli 2010

THE BRIDGE OF DISTANCE

Summary: Sungguh ganjil apa yang kurasa ini. Perasaan yang begitu asing, baru, membuaiku dalam pelukannya yang misterius. Menggodaku, menggelitik hasratku dengan cara yang belum pernah kutahu. Kurasa aku jatuh cinta padamu.

Warning: Lack of narration beware. Main character death.



ruby_genes: hei Dean :D

j_dean: hey Ruby.

j_dean: gimana jalan2nya?

ruby_genes: asik <3 Kita main di pantai sampai basah kuyup.

ruby_genes: terus ke tempat konservasi penyu.

ruby_genes: sayang enggak bisa ikut nglepasin penyu ke laut >,<

j_dean: kenapa?

ruby_genes: belum musimnya 

j_dean: Oooh.

j_dean: emang kapan musimnya?

ruby_genes: katanya sih, tiga bulan lagi.

ruby_genes: nunggu semua burung camar migrasi.

ruby_genes: biar enggak dimakan gitu.

j_dean: kamu mau ke sana pas itu?

ruby_genes: iya dong! Biar pengalaman xD

j_dean: titip salam buat bayi2 penyu ya ;)

ruby_genes: eh Dean.

ruby_genes: kamu ikut aja!

ruby_genes: sekalian kita ketemuan.

ruby_genes: Hehe….

j_dean: :(

j_dean: sori, Ruby.

j_dean: Aku enggak bisa.

ruby_genes: yah :’(

ruby_genes: aku nangis nih.

j_dean: yee… cengeng.

ruby_genes: biarin!

ruby_genes: kenapa enggak pernah mau ketemuan ma aku sih? >,<

ruby_genes: aku kan penasaran.

j_dean: gimana ya….

j_dean: aku takut kamu enggak suka sama aku setelah kita ketemu.

ruby_genes: kenapa?
q
j_dean: umm….

j_dean: tapi kamu bisa jaga rahasia kan?

ruby_genes: apaan sih?

j_dean: bisa enggak?

ruby_genes: bisa dong.

ruby_genes: kamu kan sahabatku.

ruby_genes: apaan sih pakai rahasia2 segala?

j_dean: sebenernya….

j_dean: aku ini….

j_dean: alien dari Mars yang lagi ngumpet di bumi.

ruby_genes: 0_o ?!

ruby_genes: ngaco.

ruby_genes: kirain apaan serius amat.

ruby_genes: huh!

j_dean: hehehe….

j_dean: ngambek ni yee….

ruby_genes: aku off aja ah >:I

j_dean: eits… jangan dong!

j_dean: masa gitu aja marah.

j_dean: nanti cepet tua lho.

ruby_genes: off beneran nih.

j_dean: eeeh… enggak, enggak bercanda ^^v

j_dean: maaf ya, Ruby yang cantik, lucu, baik hati….

j_dean: ….suka menolong, rajin menabung….

ruby_genes: muji kalau ada maunya aja ==a

j_dean: hehehehe….

j_dean: dimaafin dong?

ruby_genes: iya deh.

ruby_genes: aku kan pemaaf.

j_dean: lalalala…. Gak baca….

ruby_genes: AKU KAN PEMAAF.

j_dean: dudududu…

ruby_genes: kalo pura-pura enggak bisa baca…

ruby_genes:…ntar buta huruf beneran lho.

ruby_genes: hayo looo….

j_dean: biarin buta huruf

j_dean: yang penting enggak buta keyboard.

j_dean: week!! :P

ruby_genes: hahahaha….

ruby_genes: konyol kamu.

ruby_genes: tapi beneran lho.

ruby_genes: aku masih penasaran sama kamu.

ruby_genes: kita kan hampir setahun chattingan.

ruby_genes: masa belum ketemu sekalipun?

ruby_genes: aku pingiiiiin banget.

j_dean: aku beneran enggak bisa, maaf ya 

ruby_genes: sekaliii…. Aja.

ruby_genes: please?

ruby_genes: biar kita tambah akrab gitu.

ruby_genes: ya ya ya?

ruby_genes: hoi Dean.

ruby_genes: Deeean….

ruby_genes: halo… halo… ada orang di sana?

ruby_genes: tingtong… tingtong… kok diem aja sih?

ruby_genes: tes… tes.. di sini Ruby.

ruby_genes: haloooo….!

ruby_genes: ketiduran ni pasti.

ruby_genes:bw ==

j_dean: masih di sini kok.

ruby_genes: egh, kaget!

j_dean: hahahaha….

j_dean: kamu lucu kalau sendirian.

j_dean: ngomong sendiri.

ruby_genes: ck… kamu sih diem aja.

ruby_genes: jadi malu :-s

j_dean: hooo… punya malu toh.

ruby_genes: emangnya badak enggak punya malu =_=

ruby_genes: jadi?

j_dean: jadi apa?

ruby_genes: mau ketemuan, kan?

ruby_genes: tadi kamu berhenti lama lagi mikir, kan?

ruby_genes: tahu deeeh…

j_dean: ih, sok tahu.

ruby_genes: tapi bener kan?

j_dean: hmmmph.

j_dean: iya deh.

ruby_genes: yihaaa! XD

j_dean: mau ketemu kapan?

ruby_genes: lusa gimana?

j_dean: enggak sekalian besok?

ruby_genes: enggak, besok aku ada acara.

ruby_genes: jadi pembicara di penyuluhan.

j_dean: oh, gitu.

j_dean: emang penyuluhan apa?

ruby_genes: tentang Global Warming.

ruby_genes: penyuluhannya pakai film pendek yang aku bikin kemarin dulu itu lho.

j_dean: keren!

j_dean: kirimi filmnya dong!

ruby_genes: iya, ntar deh.

ruby_genes: jadi gimana?

j_dean: oke deh, lusa.

j_dean: di mana?

ruby_genes: tahu kedai kopi yang baru buka itu?

j_dean: yang dekat stadion itu?

ruby_genes: bingo!

ruby_genes: di sana ya?

ruby_genes: jam 10.

j_dean: oke deh.

j_dean: kamu jangan ngaret, ya.

ruby_genes: emang aku pernah ngaret?

ruby_genes: tahu darimana?

j_dean: kamu kan cerita sendiri.

j_dean: yang waktu kamu ketinggalan kemping….

j_dean: …gara-gara telat setengah jam.

j_dean: inget?

ruby_genes: oh, iya ya.

ruby_genes: yaaah ketahuan deh.

ruby_genes: >,<

j_dean: hehehehe….

j_dean: jangan ngaret lho pokoknya.

ruby_genes: siap grak! Eh, siap boss!

j_dean: lol

j_dean: eh, udahan dulu ya.

j_dean: ngantuk nih (_ _ )zzZZ

ruby_genes: yee… baru juga jam sembilan.

ruby_genes: kek anak TK aja.

ruby_genes: ya udah.

ruby_genes: bye.

j_dean: bye, Ruby.

ruby_genes is offline.

j_dean is offline.

* * *

“Jensen, disuntik dulu ya.”

‘Enggak mau. Suntik bikin ngantuk. Masih mau ngobrol sama Jarhead.’

“Enak aja Jarhead. Suntik aja dia, Daneel.”

‘Sialan kau, Jarhead. PENGKHIANAT. Teganya kau memilih Daneel Bawel ini daripada sobatmu?’

“Maaf ya kalau aku bawel. Tapi aku harus melakukan tugas ini, kalau enggak aku bakal dikeluarin. Kau enggak mau, kan, aku dikeluarin?”

‘Oh, itu bakal jadi hadiah terindah dalam hidupku.’

“Yakin? Perawat lain enggak bakal mau membawakanmu Cadbury tiap malam Sabtu, lho.”

Jared tertawa. “Kena kau, Jenny.”

‘Kalian berdua bersekongkol melawanku! Aku, Jensen yang lemah dan sakit! Dasar enggak berperikemanusiaan.’

“Terserah kau mau menyebutku apa. Aku masih harus memberikan obat ke sepuluh kamar lain, jadi jangan buang-buang waktuku.”

‘Dasar cewek berhati dingin. Kok bisa sih Rumah Sakit ini memperkerjakanmu?’

“Karena aku pintar, Jensen. Dan tegas. Dan bisa menghadapi orang keras kepala sepertimu.”

‘Dan sombong dan terlalu bangga akan diri sendiri.’

Daneel cuma memutar bola mata. Dia tidak akan termakan omongan Jensen, tahu cowok itu cuma memanas-manasi agar dia ngambek dan meninggalkan kamar tanpa menyuntik – yang jelas tak akan terjadi. Seorang perawat harus melakukan tugas walau si pasien melemparinya dengan pispot berisi.

Jensen menatap Daneel yang mulai memijat-mijat selang infusnya dengan ngeri. Cewek satu ini benar-benar disiplin, tidak akan menunda waktu suntik barang setengah jam saja. Padahal Jensen masih harus memberitahu Jared sesuatu yang penting. Bertindak cepat, ia pun mengeset laptopnya ke volume maksimal dan menyalakan musik tepat sebelum Daneel menyuntikkan obat ke infus.

“Jensen! Bikin kaget saja!”

‘Ha-ha. Kena kau, Nona Bawel.’

“Suntikannya jadi pecah nih!”

‘Ih, jatuh-jatuhin sendiri nyalahin orang. Makanya jadi orang jangan latah.’

Lagi-lagi Jared terbahak, yang langsung terhenti oleh lirikan sadis Daneel. “Uh, sepertinya kau harus ambil suntikan baru, deh.”

“Terimakasih atas sarannya, Jarhead,” kata Daneel sinis. Ia membersihkan serpih-serpih suntikan sambil mengomel pelan tentang waktu yang terbuang sia-sia. Kemudian, setelah selesai, perawat itu mendorong troli obatnya keluar ruangan. “Aku akan kembali setelah selesai memberi obat yang lain. Jangan pikir kau bisa lolos lagi, Jensen,” katanya, mengacungkan jari tanda mengancam sembari menutup pintu.

Jensen menyetel suara kuda meringkik sebagai jawaban, membuat Jared harus mengigit buku-buku jari agar tak tertawa terlalu keras.

“Kau iseng banget sih sama Daneel,” katanya setelah tawanya mereda.

‘Biarin. Dia juga sih, sukanya datang pas kita lagi asyik-asyiknya ngobrol. Nah, sampai di mana tadi?’

“Aku menang undian wisata tiga hari dari popcorn rasa nanas itu.”

‘Eww… Enggak heran deh kau menang. Taruhan, cuma kau saja yang mau ngembat makanan kayak gitu.’

“Oh, Jenny. Kata-katamu melukai hatiku.”

‘Setidaknya tidak merusak lidahmu seperti popcorn menjijikkan itu.’

“Heh, dasar orang enggak tahu seni makanan enak.”

‘Kalau itu definisi makanan enak, aku memilih jadi vegetarian ekstrim yang cuma makan selada.’

“Akan kusampaikan pesanmu ke dapur bangsal. ‘Permisi, mau kasih tahu, Jensen yang di kamar 104 itu, ya, yang sukanya komplain soal rasa bubur, memutuskan untuk berhenti makan apapun kecuali selada. Yeah, akhirnya dia mau mengikuti takdirnya sebagai keturunan kelinci.’ Oh, aku juga akan beritahu Daneel untuk tidak membawakanmu Cadbury lagi.”

‘Pengkhianat.’

“Terima kasih.”

Mereka berpandangan lalu tertawa. Air liur Jensen menetes membasahi dagu dan pipinya. Jared mengelapnya dengan tisu.

‘Kapan kau berangkat?’

“Untuk wisata? Dua minggu lagi.”

‘Jangan lupa kirimi aku foto-foto pemandangannya, ya.’

“Beres.”

Keduanya lalu terdiam, menikmati bunyi-bunyi Rumah Sakit dalam keheningan. Samar-samar terdengar jeritan anak kecil disusul kelontangan cawan medis. Jared menyeringai membayangkan Daneel yang pasti sedang kewalahan. Beberapa perawat berjalan di koridor luar, kelotak sepatu berhak tinggi mereka menggema di udara, ditingkahi bisikan-bisikan halus obrolan. Mesin oksigen Jensen berdengung konstan, hingga kau tidak menyadari lagi bunyi itu ada di sana. Jared begitu terserap dalam suasana damai-tapi-menyesakkan itu, hingga ketika Jensen mengetik lagi, ia terlonjak sedikit.

‘Jarhead, boleh minta tolong sesuatu?’

“Jared. Tentu, minta tolong apa?”

‘Aku punya teman. Namanya Ruby. Bukan nama sebenarnya sih, tapi aku memanggilnya begitu.’

“Pasti kenalanmu dari forum serial Paranormal itu.”

‘Supernatural.’

“Apalah. Heran deh, bisa-bisanya kau suka acara begituan.”

‘Lebih baik daripada serial vampir playgirl favoritmu itu. Setidaknya tokoh Supernatural cowok semua.’

“Jangan bilang kau ngefans sama pemainnya.”

‘Ya enggaklah, dasar bego. Mereka keliling Amerika naik mobil keren. Nonton acara itu rasanya kayak jalan-jalan.’

Perasaan sedih bercampur bersalah yang familiar menyergap Jared begitu membaca jawaban Jensen. Ia menelan ludah lalu berkata sekasual mungkin, “lalu, apa hubungannya dengan Ruby?”

‘Ruby itu salah satu tokoh di –‘

“Itu sih aku tahu. Kalian memakai nama tokoh dalam serial, kan, Dean?” Jared memutar bola mata. “Maksudku, ada apa dengan temanmu itu?”

‘Dia….’ Jensen berhenti sebentar, kemudian menulis lagi, ‘…ingin bertemu denganku.’

“Jensen, kau tahu aku tidak bisa –“

‘Aku tidak memintamu membawaku kabur atau apa,’ potong Jensen. Cuma dia yang bisa memotong omongan orang dengan tulisan. ‘Aku ingin kau menemuinya menggantikanku.’ Pipi pucat Jensen memerah sedikit usai menulisnya.

“Kau bercanda.”

‘Aku serius.’

“Yang benar saja, aku bukan kamu.”

‘Pura-pura sedikit apa susahnya, sih?’

“Bukan itu masalahnya. Enggak enak dong, aku bohong sama orang yang enggak kukenal.”

‘Kau enggak enak bohong sama siapa saja.’

“Nah itu tahu. Jadi jangan paksa aku.”

‘Please, Jared, please…. *puppy eyes*’

“Kenapa kau enggak menolaknya, sih?”

‘Aku sudah menolak berkali-kali. Kasihan dia.’

“Lebih kasihan lagi kalau kau bohongi, kan?”

‘Jared please, tolong aku.’ Dan Jared bisa mendengar permohonan itu, merasakan kesedihan di dalamnya, seolah Jensen benar-benar membisikkannya. ‘Dia teman baikku. Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku punya teman akrab. Aku tidak mau mengecewakannya.’

Jared menatap sahabatnya bimbang.

‘Please? Kau tidak boleh mengecewakan sahabatmu, kan?’ Mata ekspresif Jensen menatap dengan memelas, sedikit berkaca-kaca. Walaupun Jared tahu yang terakhir itu kemungkinan besar hanya akting, tetap saja dia tidak tega.

“Oke deh. Apa yang harus kulakukan?”

* * *

Jared melihat jam tangan untuk ke seratus kalinya, ia yakin. Jensen sudah bilang kalau Ruby suka terlambat, tapi belum muncul empat puluh lima menit setelah waktu yang dijanjikan tanpa memberi kabar, itu sih kelewatan.

Baru saja Jared berpikir untuk meninggalkan kedai, tiba-tiba seorang cewek berambut hitam menyeruak masuk sambil terengah-engah – jelas sekali habis lari blingsatan. Ia hampir menabrak bapak-bapak kantoran yang berdiri dekat pintu, Jared geli menonton cewek itu minta maaf lalu celingukan mencari seseorang.

Jared melambaikan tangan, dalam hati berpikir Jensen pastilah sangat mengenal Ruby sampai-sampai dari deskripsi abstraknya saja Jared tahu yang mana orangnya. Atau mungkin Jared yang pandai menerka. Atau Ruby yang terlalu transparan.

Cewek itu mendekat ragu, Jared mengulum senyum melihat gaya berpakaiannya yang seperti berkiblat pada Indiana Jones.

“Dean?”

“Hai, Ruby.” Jared menggerakkan tangan mempersilahkan duduk. “Seingatku aku minta agar kau jangan ngaret?”

“Sori!” engah Ruby rikuh sambil menghempaskan diri ke kursi di hadapan Jared. Nafasnya masih menderu cepat. “Aku lupa aku kebagian tugas membereskan perlengkapan rafting.”

“Kau ikut rafting?”

“Yeah, kemarin habis dari pantai, kami langsung rafting. Pumpung cuacanya bagus.”

Jared tidak mengerti bagaimana cuaca akhir musim gugur bisa dibilang bagus untuk rafting, tapi tidak berkomentar.

Ruby mengamati Jared dari atas ke bawah. “Jadi…. Kau Dean?”

Bukan, sahabatnya yang jadi korban kebegoannya. “Sudah terlambat untuk berpikir kau salah orang.”

Ruby terkikik. “Kau lebih tinggi dari dugaanku.”

“Memang seberapa tinggi dugaanmu?”

“Segini.” Ruby mengulurkan tangan setinggi meja.

“Ya ampun, aku ini Dean bukan Dopey.”

Cewek itu tertawa lagi. “Sekarang enggak mungkin salah orang. Komentar lucumu itu enggak ada yang nyamain.”

“Yeah?”

“Yap.”

“Kau juga, ngaretmu itu benar-benar jadi ciri khas.”

“Ih, apaan sih. Aku kan cuma telat sekali.”

“Kita juga baru ketemuan sekali.”

Ruby manyun. “Bawel, ah.”

“Satu-kosong!”

“Mengalah dari Dopey artinya pintar.”

“Ah, bisa aja kamu!” tawa Jared. Ruby ikut tertawa.

Mereka terus ngobrol setelah itu, Jared bersyukur dia tidak melakukan kesalahan fatal, bahkan rasanya dia sudah berteman dengan Ruby sejak lama. Mungkin benar kata orang, ia dan Jensen adalah perwujudan dari kata mutiara – sahabat adalah satu jiwa dalam dua tubuh. Siapa yang dikenal Jensen, akan dikenal Jared juga.

* * *

“Kau payah banget main tembak-tembakan.”

“Mengalah dari cewek artinya sopan. Aku menghargai emansipasi wanita, tahu.”

“Menghargai…. Atau jangan-jangan kamu cewek beneran?”

“Jangan-jangan kamu lagi yang cowok.”

“Huh, mana ada cowok ngambil boneka sebagai hadiah?”

“Ada, kamu tuh!”

Ruby melempar muka Jared dengan boneka kelinci merah jambu yang baru saja dimenangkannya. Seandainya Jared lebih pendek, dia yakin cewek itu bakal menjitaknya. Kemudian Ruby mulai mencubit-cubit tangan Jared.

“Aww! Apaan sih? Pedih tahu!”

“Aku enggak akan berhenti sebelum kamu bilang, ‘Ruby adalah cewek sejati dan penembak jitu, lebih hebat daripada Dean.’”

“Ih, males ba – ayayayaya! – Iya deh, iya. Ruby adalah – aduh! – cewek sejati yang suka nyubit – aww! – maksudku, penembak jitu.”

“Yang lebih hebat dari….?”

“Kau enggak lebih hebat dari – adaw! – dari Dean! Lebih hebat dari Dean! Udah dong, sakit nih!”

Ruby menghentikan penyiksaannya dan nyengir penuh kemenangan. Jared menggosok-gosok tangannya yang memerah, cemberut. Tapi cemberutnya tidak bertahan lama karena Ruby lalu menempelkan kelincinya ke hidung Jared – dia harus berjinjit, tentu saja -- dan bilang dengan suara kecil dibuat-buat, “jangan cemberut, Deano. Kau jadi makin mirip troll.”

Jared terbahak.

“Omong-omong,” kata Ruby setelah tawa Jared mereda, “jangan panggil aku Ruby terus dong.”

“Tentu, dengan senang hati. Kebetulan, dari tadi aku ingin memanggilmu Bauksit.”

Ruby menabok Jared, memutar bola mata. “Serius nih. Panggil aku dengan nama asli saja, kita kan sudah temenan.”

“Beneran boleh?”

“Iya.” Ruby tersenyum kecil. “Panggil aku Genie.”

“Oke, Genie. Boleh aku sebutkan permintaan pertama?”

“Tidak sebelum kau sebutkan nama aslimu, Tuan Yang Menggosok Lampu.”

“Oh.” Jared terdiam sejenak, bimbang. Jensen tidak menyuruhnya memberikan nama asli, tapi tidak melarangnya juga. Tapi saat ini, dia, Jared, yang sedang jalan dengan Genie, dan kalau dia bilang namanya ‘Jensen’, maka itu bukan nama asli, kan? Dan bagaimana kalau suatu hari – mungkin saja – Genie bertemu dengan Jensen yang sebenarnya? Atau mungkin – Jared tidak ingin berharap yang aneh-aneh tapi mau tak mau kepikiran juga, terutama karena dia mulai menyukai Genie; sebagai teman tentu! – cewek itu mencarinya setelah ini, dan tidak bisa menemukan seorang pemain rugby dengan tinggi enam kaki bernama ‘Jensen’?

“Halo, Tuan?”

“Huh?”

“Namamu?”

“Oh. Yeah. Umm… namaku dimulai dengan huruf ‘J’,” kata Jared, berusaha mengulur waktu untuk memutuskan, nama mana yang akan ia sebutkan: Jensen atau Jared?

“Sudah kuduga. James!”

“Apa? Bukan!”

“Lho, bukan?” Genie tampak bingung. “Tapi namamu kan j_dean. Kukira….”

“Tebak lagi deh.”

“Umm… Jake?”

“Uh-uh.”

“Jason?”

“Bukan.”

“Jeff? Jay? Justin?”

“Bukan. Bukan. Dan jelas bukan. Amit-amit punya nama sama kayak penyanyi banci itu.”

“Eh, enak saja! Justin imut tahu!” protes Genie, sekarang gantian dia yang cemberut. “Terus, namamu siapa?”

“Namaku….” Jared menimbang-nimbang, dilema berkecamuk dalam dirinya. Genie menatapnya dengan mata besar ingin tahu, dan Jared tak tahan lagi. Dia tidak ingin membohongi mata itu.

“Jared. Namaku Jared, Genie.”

* * *

‘Bagaimana kemarin?’

“Dia ngaret empat puluh lima menit.”

‘Tumben enggak kau tinggal.’

“Aku baru mau pergi pas dia datang.”

‘Terus?’

“Kami ngobrol sambil makan cake kopi – iya, yang kayak kubawakan ini. Dia kayak Tarzan cewek.”

‘Yeah. Orangtuannya pendaki gunung profesional.’

“Pantes! Dia semangat banget kalau diajak ngomong soal alam.”

‘Habis itu?’

“Kami tadinya mau nonton, tapi karena penuh, akhirnya kami jalan-jalan. Lagi ada karnaval dekat gedung SD yang ditutup itu, lho.”

‘Kau kalah main tembak-tembakan ya? Menurunkan pamorku saja.’

“Eh, tahu darimana?”

‘Dia ngungkit-ungkit itu terus pas kita chattingan semalem.’

“Bukan salahku. Aku oke kok, dianya aja yang enggak normal. Masa anak cewek bisa nembak 20/20?”

‘Enggak normal darimana. Kau yang payah, masa cuma bisa 5/20?’

“Jen, kau melukai lubuk hatiku yang terdalam.”

‘Memang kau punya hati.’

“Oh, oh. Sakitnya.” Jared memegangi dada, matanya dibuat berkaca-kaca. Tidak terlalu berhasil, tapi. Jensenlah sang aktor di antara mereka.

Jensen memutuskan untuk tidak menanggapi rajukan sahabatnya. Ia malah bertanya, ‘menurutmu Ruby bagaimana? Selain kayak Tarzan.’

“Orangnya ramai, cerdas, tapi agak sinis. Enggak heran kalian cocok.” Jared nyengir, entah karena komentarnya atau karena membayangkan cewek itu. “Mukanya lucu kalau lagi makan, atau manyun. Dan matanya…. Wow.” Mata Jared yang menerawang berbinar. “Omong-omong, nama aslinya Genie, lho. Jadi inget Aladin.”

‘Oh, sudah sampai tukeran nama asli toh? Kau mengaku sebagai aku?’

“Umm… soal itu. Sebenarnya….” Jared menggosok belakang leher dengan salah tingkah. Harusnya dia tak usah bilang-bilang. Kenapa sih mulutnya selalu bekerja lebih cepat dari otaknya? “Aku umm…. Aku bilang namaku Jared. Maaf, kamu jangan marah, ya! Kemarin aku bingung dan kamu belum bilang aku boleh kasih tahu namamu, dan kalau kamu mau, aku bisa bilang kok ke dia aku bohong dan ngasih namamu. Jangan marah padaku, please?” Jared memberondong cepat dan mengakhirinya dengan tatapan memelas.

Mata Jensen berkilau geli, seolah Jared sedang melucu. ‘Santai saja, Jare. Kau boleh kok, terus pakai namamu sendiri.’

“Bener, nih?”

‘Yep. Lagipula, aku enggak mau kau menyatakan cinta padanya atas namaku.’

Kuping Jared memerah sedikit. “Menyatakan cinta apa?” tanyanya pura-pura polos.

‘Ah, enggak usah ditutup-tutupi deh. Kau naksir dia, kan?’

“Enggak tuh.”

‘Dari cara ngomongmu tentang dia saja sudah ketahuan. Dan kupingmu merah. Sadar?’

“Aku cuma kagum.”

‘Kagum apa kagum?’

“Ugh, Jen! Berhenti ngomong yang enggak-enggak.”

Jensen menyalakan suara kuda meringkik favoritnya, meledek Jared. ‘Salting nih yee.’ Ia berusaha menyeringai, yang hanya membuat pipinya berkedut tak terkontrol selama beberapa saat. ‘Ada rencana ketemuan lagi?’

“Dia ngajak aku ketemuan besok minggu sebetulnya – matikan suara kuda sialan itu! – tapi aku belum memutuskan.”

‘Kok?’

“Umm… aku mau minta persetujuanmu dulu.” Jared mengangkat bahu. “Dia kan, temanmu. Aku bertemu dia cuma sebagai wakilmu.”

‘Ya ampun Jare. Kau bebas ketemu dia kapan saja. Temanku temanmu juga.’ Kalau bisa memutar bola mata, Jensen pasti sudah melakukannya.

“Bener, nih?”

‘Yeah, kau kayak minta izin sama orangtuamu saja. Lagipula, kalian harus sering jalan kalau mau jadian.’

“Oh, diamlah.”

* * *

“Genie, kau suka nonton apa?”

“Horor! Action juga boleh, sih. Atau komedi. Terserahlah. Kau?”

“Umm…. Aku juga pingin horor.”

“Oke, kita nonton horor kalau gitu. Yang thriller?”

“Yap. Makin sadis makin oke.”

“Setuju. Kau beli tiket, aku beli popcorn. Ketemu di pintu studio, ya.”

“Oke!”

* * *

“Aku enggak tahu kau suka Oreo siram saus kacang.”

“Yeah, orang bilang ini menjijikan, tapi mereka cuma tidak tahu seni makanan enak.”

“Kupikir cuma aku yang mikir begitu!”

“Kau suka juga?”

“Yeah! Dan popcorn nanas!”

“Oh, Tuhan. Terimakasih telah mengirim orang yang mengerti aku.”

“Enggak disangka kita sama hampir di tiap hal. Film, makanan, omongan….”

“Dan olahraga. Rugby selalu nomor satu.”

“Rugby lebih jantan dari sepakbola.”

“Rugby olahraga dewa.”

“Hei, besok ada siaran langsung pertandingan Rugby dari Austin, ingat?”

“Tak mungkin lupa.”

“Bagaimana kalau kita nonton bareng di kedai kopi yang waktu itu? Mereka memutarnya di sana. Sekalian ngemil popcorn nanas. Mungkin aku bisa menang hadiah wisata juga.”

“Ide bagus. Umm… mau kujemput di rumahmu atau….?”

“Kau mau menjemput? Tentu! Eh, ehm… maksudku, tapi enggak merepotkan, kan?”

“Enggak. Kujemput jam tujuh, ya.”

“Oke.”

“Jangan ngaret, lho.”

* * *

“Cinta pertamaku waktu kelas satu SMP. Dia penari balet dan selalu pakai baju pink ke sekolah.”

“Ewww….”

“Yeah, aku tahu. Aku sendiri juga malu. Bagaimana denganmu?”

“Kelas enam. Namanya Larsen. Aku berhenti menyukainya ketika melihatnya menendang kucing di jalan. Ironis, padahal aku suka mata hijaunya yang seperti kucing.”

“Mataku juga hijau, lho. Kau suka, dong?”

“Aku enggak bilang begitu.”

“Tapi suka, kan?”

“Nuh-uh.”

“Ngaku aja, mataku memang bagus, kok.”

“Ih, narsis. Bagaimana denganmu? Kau suka mataku?”

“Yeah. Birunya cantik.”

“Oh, well… kalau kau bilang begitu. Matamu juga bagus.”

“Yeah?”

“Yeah.”

“Umm… makasih. Aku senang mendengarnya.”

“Aku juga.”

* * *

“Kapan kau dapat ciuman pertama?”

“Errr… entahlah. Kayaknya waktu TK dulu ada anak cewek yang tiba-tiba nempel…. Apa itu dihitung?”

“Kalau iya, yang selanjutnya sudah berapa kali?”

“Aku yakin aku mencium seseorang saat permainan Truth or Dare waktu kelas tiga. Lalu SMP dan SMA… Entahlah. Banyak. Yang serius empat kali. Kau sendiri?”

“Mmm…. kayaknya waktu TK dulu ada anak cowok yang tiba-tiba nempel…. Apa itu dihitung?”

“Kalau iya, yang selanjutnya sudah berapa kali?”

“Aku yakin aku mencium seseorang saat permainan Truth or Dare waktu kelas tiga. Ditambah SMP dan SMA…Banyak. Yang serius empat kali.”

“Ada rencana yang kelima?”

“Entahlah. Kau?”

“Ummm…. Ada.”

“Aku juga ada, kalau begitu.”

“Kapan kira-kira?”

“Bagaimana kalau… sekarang?”

* * *

ruby_genes: Dean, kamu kapan pulang?

ruby_genes: aku kangen nih >.<

j_dean: hai rby.

ruby_genes: kok cuma hai, sih?

ruby_genes: aku kan tanya kapan kamu pulang?

ruby_genes: katanya cuma wisata tiga hari.

ruby_genes: ini udah seminggu, lho.

ruby_genes: kamu keasyikan ya, di sana?

j_dean: iua

ruby_genes: o.0 ??

ruby_genes: iua?

ruby_genes: apaan tuh?

ruby_genes: nama makanan khas sana?

j_dean: ya.

ruby_genes: ngomongnya yang jelas dong!

ruby_genes: gak ngerti nih aku 

j_dean: sori

ruby_genes: Dean?

ruby_genes: kenapa sih?

ruby_genes: kamu marah sama aku?

ruby_genes: hei.

ruby_genes: kok enggak bawel kayak biasanya sih, kamu?

j_dean: engak.

ruby_genes: ? ? ?

ruby_genes: ngelindur atau apa sih ini orang?

j_dean: suka

ruby_genes: ha?

j_dean: kkkkauyiu

ruby_genes: ? ? ? *confused as hell*

j_dean: egaxjiloejroaj48ruiiiiiiii AA

j_dean: RAEST+RUTJOLRT

j_dean: SNXRUWAI6BRCJIARRFJSskasjakukisnxk

j_dean:aguiiiiiiiiiigsau7ggggggggggnisdfr

ruby_genes: Dean?!

j_dean is offline.

* * *

“Halo?”

“Jared? Jared! Oh, Nak….”

“Mama Ackles? Ada apa?”

“Ini tentang Jensen.”

“Jensen?! Kenapa – dia baik-baik saja, kan?”

“Jare, Jensen. Semalam dia kolaps dan sekarang… Oh, Tuhan….”

“Mama Ackles, tenang. Please. Aku akan – aku akan segera pulang. Tunggu aku. Apa yang lain sudah di sana?”

“Ayah dan ibumu sedang dalam perjalanan. Aku bersama Alan. Jared, please. Cepatlah. Aku tidak tahu kapan Jensen –“

“Dia akan baik-baik saja, Mama. Dia akan baik-baik saja. Aku segera ke sana.”

* * *

Mereka semua duduk di atas perahu kecil. Jared berada di antara kedua orangtuanya, berhadap-hadapan dengan suami istri Ackles. Alan memegangi pundak istrinya, dan Donna menaburkan abu putra tunggalnya sambil berurai airmata.

“Kau bilang kau akan datang ke acara wisudaku. Lihat siapa yang pengkhianat sekarang.”

Pikiran itu terus berkecamuk dalam hati Jared ketika ia memandang hampa pada air laut di bawah mereka. Menjelang musim dingin seperti ini, air tampak kelabu, menelan abu orang yang mereka cintai begitu saja seperti lubang hitam yang menakutkan. Kecuali fakta bahwa itu tidak menakutkan bagi Jensen. Baginya, laut selalu berarti kebebasan, tak peduli apa warnanya.

Jared mengusap mata keras-keras. Dia heran bagaimana airmatanya tak habis-habis juga. Dia sudah banyak menangis. Di perjalanan, ketika teringat Jensen terbaring koma. Di bandara, ketika Mama Ackles mengabarkan dia sudah terlambat. Di Rumah Sakit, ketika dia mendapati Jensen terbaring dingin tak bergerak. Di tempat kremasi, ketika ia sadar ia tak akan melihat Jensen lagi.

Padahal Jared sengaja pergi lebih lama demi mendapatkan foto pemandangan untuk Jensen. Padahal dia belum cerita tentang kencan terakhirnya dengan Genie, betapa manis itu berakhir. Padahal dia ingin Jensen menyambutnya dengan mata berbinar penasaran ketika ia pulang.

Jared merogoh saku dan mengeluarkan sebuah flashdisk, teringat batapa banyak foto yang tersimpan di dalamnya. Ia terisak pelan.

Kerja kerasnya untuk Jensen kini sia-sia.

* * *

“Jensen ingin kau membawa Brunette.”

“Tapi –“

“Ini satu dari beberapa keinginan terakhirnya, kau tahu. Lewat Brunette kalian tetap bisa berbincang-bincang. Dia ingin kau menjaganya.”

Jared menerima laptop coklat itu dari Mama Ackles. Dielusnya dengan sayang stiker yang tertempel di tengahnya, bertuliskan: BJJ: Best Jriend Jorever. Ia tersenyum kecil.

“Terimakasih, Mama Ackles. Akan kujaga dengan baik.”

* * *
Membuka Brunette serasa mengenal Jensen lebih dalam. Jared sudah berteman dengannya dan begitupun masih banyak yang ternyata ia tidak tahu. Dia tidak tahu Jensen masih menyimpan foto mereka saat kelas lima SD, atau ternyata sahabatnya itu suka mendownload lagu-lagu billboard. Tapi yang paling mengejutkan, ia tidak tahu Jensen, si sinis yang sepertinya tidak ada romantis-romantisnya itu, mempunyai sebuah folder berjudul ‘Treasure of My Heart’.

Jared membukanya. Ada beberapa file Word, semuanya diberi judul dengan tanggal.

19 Maret 2010
Dear Ruby,
Semenjak chatting pertama kita, kudapati diriku terpikat padamu. Terus kunanti pesanmu bagai benih kecil merindukan hujan, dan ketika kau datang, kurasakan getar bahagia dalam sanubariku. Kehadiranmu mengubah suara terbising pun menjadi nyanyian malaikat, mengubah persembunyian suramku ini jadi firdaus di muka bumi. Aku begitu ingin merengkuhmu dan tidak membiarkanmu pergi.
Sungguh ganjil apa yang kurasa ini. Perasaan yang begitu asing, baru, membuaiku dalam pelukannya yang misterius. Menggodaku, menggelitik hasratku dengan cara yang belum pernah kutahu.
Rubyku sayang,
Kurasa aku jatuh cinta padamu.

1 Juli 2010
Dear Ruby,
Hari ini hari pertama musim panas. Kau begitu gembira, melihat matahari bersinar cerah di kebun belakang rumahmu. Aku gembira untukmu, namun ketahuilah, hari-hariku telah bersinar sejak detik pertama aku mengenalmu.
Sinarmu menghangatkan hatiku, kaulah cahaya lembut yang menerangi padang hidupku. Kata-katamu menghangatkan tiap sudut taman jiwaku, menebarkan bunga warna-warni yang cantik, secantik dirimu.
Matahariku, Ruby,
Aku mencintaimu.

28 Agustus 2010
Dear Ruby,
Kutulis surat ini sambil memandangi rintik-rintik hujan menerpa jendela kamarku. Aku pun mulai bertanya-tanya, pernahkah kau menangis? Dibalik ceria dan semangat yang berkobar itu, semangat yang membuatku iri akan duniamu, pernahkah kau menumpahkan tetes-tetes duka dari mata indahmu?
Aku ingin menjadi seseorang yang berarti bagimu. Seseorang yang hidup untuk memelukmu dan menghapus airmatamu dan membuatmu tersenyum sepanjang waktu. Karena tanpa kau tahu, kau telah memberikan banyak hal padaku. Gelora cinta ini hanya salah satu.
Kuharap suatu hari nanti, akan tiba saatnya aku bisa berjalan dengan gagah, ksatria yang memenangkan perangnya, merengkuh Sang Putri dalam dekapan sayang. Membawamu ke buaian cinta sejati, selamanya.
Permataku, Ruby,
Peluk cintaku untukmu selalu.

6 September 2010
Dear Genie,
Genie. Andai aku bisa, kan kumainkan namamu di bibirku, menikmatinya bergulir dari lidahku. Sebab namamu begitu indah, seindah jiwamu.
Pagi ini kudengar sahabat terbaikku memujamu. Memperhatikan getar penuh cinta di wajahnya ketika membisikkan namamu. Hatiku sakit, lebih sakit daripada sejuta jarum yang menghujam tiap senti kulitku, lebih sakit dari ketidakberdayaan yang menunggangi setiap detik hidupku.
Dan malam ini, ketika kusadari kau pun memujanya, duniaku runtuh, hancur menjadi puing sedih tak berarti.
Namun begitupun, Sayangku, aku takkan pernah berhenti mencintaimu. Kaulah darah yang mengalir dalam nadiku, mahkota di kerajaan mimpiku.
Jika kau telah memilih pangeranmu, Genie-ku, maka aku akan tersenyum untukmu. Untuk sahabatku. Kalianlah belahan jiwaku, aku tak bisa kehilangan salah satu.
Namun ingatlah, tambatan hatiku,
Cintaku selalu bersamamu.

Untuk keentahberapakalinya, Jared menangis.

* * *

Sepasang kekasih berjalan bergandengan tangan di tepi pantai, angin kencang awal musim dingin tak mengurungkan niat mereka menyusur tanah berpasir putih.

“Aku senang akhirnya kau ikut bersamaku.” Genie tersenyum ke sepasang mata hijau yang dikaguminya. “Menyenangkan kan, melepas penyu? Mengetahui ada mahluk-mahluk kecil yang bisa hidup karena bantuan kita?”

Jared mengangguk tanpa suara. Diajaknya Genie duduk di hamparan pasir, tepat di pinggir batas ombak. Sesaat keduanya menatap deburan ombak dalam diam, tenggelam dalam benak masing-masing.

“Kau tahu, laut selalu mengingatkanku pada seseorang,” kata Jared akhirnya, memecah kesunyian.

“Oh ya? Siapa?”

“Namanya Jensen. Dia sahabatku sejak… entahlah, sejak aku bisa mengingatnya, kurasa.” Jared tersenyum kecil. “Kami selalu ke mana-mana berdua. Banyak yang mengira dia adikku karena tubuhnya yang kecil.”

“Atau karena kau yang kelebihan tinggi.”

Jared cuma tertawa dan menjambak rambut Genie sedikit. “Yeah, mungkin juga. Kami pergi ke sekolah yang sama, dan berjanji untuk kuliah bersama juga. Tapi….” Jared menarik nafas.

“…Dia tidak bisa. Jensen mengidap distrofi otot….” Cowok itu melirik lawan bicaranya untuk memastikan Genie tahu maksud perkataannya. “….kelainan bawaan yang menyebabkan ototnya mengecil. Dia berhasil melewati sepuluh tahun dengan baik-baik saja, tapi kemudian….”

Jared menghela nafas. “… kemudian Jensen harus dirawat di Rumah Sakit.”

Genie hanya menatapnya penuh perhatian, dan Jared berterimakasih untuk itu. Pada bagian ini, biasanya orang-orang akan bertanya penasaran dan tidak beretiket tentang kondisi Jensen, yang membuat Jared tidak nyaman.

“Tapi itu tidak menyulutkan semangatnya, kau tahu. Kadang aku sampai merasa malu padanya. Waktu kecil, dia bercita-cita jadi pilot agar bisa keliling dunia.” Jared tertawa kecil mengingat kenangan itu. “Dia menempel gambar tempat-tempat yang ingin ia kunjungi di dinding kamarnya, dan sering meledek ukuran kakiku dengan bilang, ‘kalau aku ke Himalaya, akan kubelikan kau sepatu Yeti’.”

Mereka berdua terkekeh pelan. “….bahkan ketika dia terbaring di Rumah Sakit pun, dia tidak menyerah pada mimpinya. Dan aku berusaha sekuat tenaga untuk membantunya. Aku pergi ke berbagai tempat, mengambilkan foto-foto, souvenir, video….” Selaput tipis airmata membayangi mata Jared yang menerawang. “….Sampai saat ini, aku masih berharap bisa menunjukkan lebih banyak tempat padanya. Tapi ternyata, dia memutuskan untuk berpetualang sendiri.”

Genie menelengkan kepala bingung, dan Jared menjawab sambil menatap laut dengan rindu.

“Jensen sudah pergi. Orangtuanya mengkremasi dan menaburkan abunya ke laut.”

Sunyi lama setelah itu, Genie tidak mengucapkan kata-kata penghibur, dan Jared juga tidak mengharapkannya. Mereka hanya duduk berdampingan memandangi laut kelabu ala musim dingin.

“Dia akan menjaga penyu-penyu kita, kan?” celetuk Genie, membuat Jared menunduk menatapnya. Gadis itu tersenyum. “Dia akan menjaga penyu-penyu kita. Sambil keliling dunia. Karena penyu kita penyunya juga.”

“Yeah,” tanggap Jared, setengah menangis setengah tertawa. “Yeah, dia akan melakukan itu.” Diremasnya jemari mungil Genie, merasakan lembutnya tangan seseorang yang begitu istimewa, yang menghangatkan hati dua pria.

Dan akan kujaga pertamamu yang paling berharga, Jensen, bisik Jared dalam hati, ketika bibirnya mengecup lembut dahi kekasihnya. Akan kujaga, karena cintamu cintaku juga.

END
Read more...