MIRROR IMAGE CHAPTER 8
“Potong sisa daging dan pinggir rotinya, Race.”
“Buat apa? Kan sayang kalau dibuang!”
“Biar kelihatan rapi.”
“Toh enggak mempengaruhi rasanya, kan?”
“Ya, cuma bakal ketahuan kalau yang buat baru belajar masak.”
Rachel cemberut dan mengeluarkan sandwich yang sudah dimasukkan dalam kotak makan, memotong pinggiran rotinya semepet mungkin. Jess menggeleng tak setuju, merebut pisau dan sandwich dari adiknya, lalu mulai merapikan makanan kecil itu dengan profesional.
“Nah, begini kan bagus.”
“Tapi jadi sepertiga lebih kecil dari awalnya.”
“Tinggal buat yang banyak. Gampang, kan?”
Si adik mendengus saja dan kembali meletakkan sandwich ke tempat makannya.
Pagi itu Rachel memang sibuk mempersiapkan bekal untuk acara jalan-jalan nanti siang. Ia dan Ben akan mengunjungi Taman Bermain baru yang mereka impi-impikan sejak awal liburan. Cewek itu sengaja bangun lebih pagi demi membuatkan bekal kejutan untuk Ben (sekaligus menanggalkan ejekan sahabatnya itu bahwa dia tak bisa masak). Biarpun ujung-ujungnya harus dibantu Jess dalam membuat kentang goreng dan salad buah, dia cukup bangga karena bisa menyelesaikan sandwichnya sendiri.
“Sisakan beberapa potong buat Sarah, ya,” Jess mengingatkan sambil menunjuk adik bungsunya yang duduk tertidur di kursi makan, dengan Bubble si boneka beruang sebagai bantal. Sarah sangat bersemangat ketika kedua kakaknya bangun untuk membuat makanan kesukaannya, tapi ketiduran lagi sebelum sandwich pertama jadi.
“Iya, iya.” Rachel menyisihkan tiga potong roti lapis itu ke piring, disertai kentang goreng dan sosis yang dibentuk gurita. Kemudian ia memasukkan kotak makan dan botol minumnya ke ransel.
“Kau seperti anak SD saja, bawa-bawa bekal,” goda Jess geli.
“Bawa makan dari rumah lebih sehat,” jawab Rachel, menirukan nasehat ibu mereka.
“Atau mungkin kau ingin mengesankan Ben. Kenapa kalian enggak jadian saja, sih?”
“Aku tidak berciuman dengan sahabatku, Jess,” sahut Rachel sambil memutar bola mata, seolah itu aturan persahabatan yang harusnya diketahui semua orang. Ia menggendong tasnya yang menggembung penuh isi – Rachel memang jenis cewek prefeksionis yang tidak tahan tidak membawa barang-barang untuk ‘berjaga-jaga’ – dan berjalan ke luar dapur. “Berangkat dulu, ya. Bilang sama Mom dan Dad aku mungkin pulang malam.”
Jess mengangguk. “Hati-hati,” katanya sambil melambai. Lalu tersenyum jahil dan menambahkan, “tetap saja, pertimbangkan saranku deh Race. Kalian bakal terlihat manis berdua.”
Rachel mencibir. “Seratus tahun lagi, deh.”
* * *
Ada yang salah dengan keluarga Winchester. Ben bisa merasakan itu sejak ia duduk bersama mereka untuk sarapan. Mereka, kecuali Sam yang belum menunjukkan tanda-tanda mau berdamai, jadi sangat baik tapi canggung padanya pada saat bersamaan. Curahan perhatian Mary jauh lebih hebat dari biasa, ia terus mengelus-elus Ben, menatapnya dengan pandangan aneh itu – pandangan seolah ia anak sakit parah yang dalam waktu dekat akan mati – dan bercerita panjang lebar mengenai masalah dalam keluarga mereka di masa lalu, bagaimana mereka bisa melalui semua itu karena saling mendukung dan terbuka satu sama lain. Ben jadi merasa tidak nyaman, ia menyelesaikan sarapan cepat-cepat lalu mengamankan diri ke kamar sebelum ada yang sadar bahwa ia tidak tahu sama sekali tentang momen-momen yang diungkit Mary.
Ia masih sembunyi dua jam kemudian, membaca buku musik seperti biasa, ketika Dean mengetuk dan membuka pintu.
“Boleh masuk?” tanyanya, mengangkat satu alis.
Ben langsung bangun dari posisi tidurnya dan duduk tegak di pinggir kasur. “Uh, yeah. Silakan,” katanya salah tingkah, secara refleks merapikan rambutnya yang berantakan.
Dean menggeret kursi belajar dari seberang ruangan dan duduk persis di depan Ben, membuatnya merasa seperti pasien yang mau konsultasi dengan Dean, sang dokter.
“Boleh bicara sesuatu?” tanya Dean setelah beberapa saat, menggerakkan kaki dengan gelisah dan mengusap kepala berkali-kali seolah berusaha memilah kalimat yang tepat. Meski punya bank komentar pintar untuk menggoda kedua adiknya, ia tidak pernah terlalu pandai dalam pembicaraan serius.
“Ya?”
“Umm… Kau tahu….” Dean menatap langit-langit, dan dari cara memandangnya, Ben sampai ikut mendongak barangkali di sana benar-benar ada sesuatu yang menarik, atau contekan bagi Dean untuk bicara. Tidak ada. “Kau tahu di keluarga ini kita selalu memberitahu jika ada masalah, kan?”
Ben tidak tahu, tapi dia mengangguk pelan. “Uh-huh?”
“Dan umm…. Kita bisa membicarakan masalah itu dengan siapa saja. Mom, Dad, atau aku, Sam…. Tentu saja kami juga akan bercerita padamu kalau kami punya masalah!” tambah Dean.
“Dean,” kata Ben pelan, mengangkat alis curiga. “Apa kau punya masalah dan ingin membicarakannya denganku?”
“Tidak! Bukan begitu, bukan aku yang punya masalah, aku….” Dean gelagapan, mengingatkan Ben pada Maddie. Jangan-jangan itulah masalah Dean. Jangan-jangan dia selingkuh jadi tidak punya waktu lagi untuk Lisa.
“Apa kau selingkuh?”
“Apa?! Tidak! Kenapa tia-tiba tanya begitu, sih?”
“Soalnya mendadak kau ingin bicara denganku, sementara kemarin aku baru menegurmu tentang Lisa,” jawab Ben, mengangkat bahu. “Kukira kau mau minta saran bagaimana cara ngaku ke dia.”
“Mana mungkin selingkuh, cewek satu saja sudah repot,” gumam Dean lebih pada diri sendiri. Tapi kemudian matanya membulat seolah teringat sesuatu yang penting, dan saat bicara lagi, nadanya jadi lebih percaya diri. “Oh. Tapi memang ada yang mau kutanyakan soal Lisa.”
“Kalau kau ingin tahu dia selingkuh atau enggak….”
“Bukan, bukan itu! Kok kamu jadi seneng banget ngomongin itu sih!” tukas Dean rada senewen. Ia berdeham untuk mengembalikan topik. “Aku mau tanya…. Umm… Lisa benar-benar pingin diperhatiin, ya?”
“Bilangnya sih, begitu.”
“Terus?”
“Terus apa?”
“Aku harus gimana biar dia senang?”
“Ya tanya Lisa sendiri dong. Memang aku juru bicaranya?”
“Masa kau enggak ada saran? Sedikiiit saja.”
“Ajak dia nonton,” jawab Ben, mereferensi tindakan romantis para cowok dalam film-film bertema cinta yang memenuhi televisi tiap Valentine. “Belikan dia bunga, atau coklat. Puji baju yang baru dibelinya….”
“Hei, hei, hei. Aku meminta saran untuk menyenangkan Lisa, bukan untuk menjadi Sam Versi Dua.”
Mau tak mau Ben tertawa. “Yah, begitulah. Memang kelihatannya yang dia lakukan itu merepotkan, tapi bikin cewek senang.” Ia mengatakan itu dengan setengah berbisik, takut Sam dengar dan menuduhnya ‘membicarakan orang lain’.
Dean nyengir. “Begitu ya? Baiklah kalau begitu, nanti kucoba,” katanya enteng; jenis kata-kata yang kau ucapkan hanya untuk menyenangkan hati orang yang telah memberimu masukan, sebab sesungguhnya kau tidak serius menerima masukan itu. Ben agak malu menyadari usulnya yang payah. Sulit memang memberi saran kreatif dan bermutu kalau dia sendiri belum pernah merasakan yang namanya pacaran.
“Nah. Aku sudah menceritakan masalahku. Sekarang gantian,” tuntut Dean tiba-tiba.
Ben mengerjap bingung. “Ha?”
“Kau punya masalah, kan? Ceritakan padaku. Biar kita impas.”
“Aku enggak punya masalah apa-apa.” Setidaknya, aku enggak punya masalah yang bisa dibicarakan denganmu.
“Oh, ya? Kau enggak punya masalah satupun? Wow, hidupmu pasti sempurna banget,” sindir Dean.
“Memang enggak punya, kok!”
“Bagaimana dengan Juilliard? Kau suka di sana?”
“Tentu saja. Semuanya oke.”
“Alec,” desah Dean, menggelengkan kepala. “Jujur saja deh. Aku tahu kok kau sudah enggak pingin sekolah di sana sejak berapa, tiga tahun lalu?”
Perut Ben terasa dingin. “Apa?” bisiknya pelan, tak mempercayai pendengarannya.
“Kau mungkin bisa berpura-pura di depan Mom, tapi tidak di depanku. Aku tahu kau lebih suka main baseball daripada jadi pianis,” kata Dean, tersenyum lembut seolah ialah yang paling mengerti perasaan lawan bicaranya.
“Masa?” tanya Ben, tak menyadari matanya berkaca-kaca.
Perasaan tak menyenangkan itu, bahwa ia tak lagi mengenal saudaranya, mendadak menerjang kembali seperti rombongan gajah. Selama seminggu di New York ia dan Alec sudah akrab, dan untuk sesaat Ben bisa menipu diri bahwa ia tak melewatkan kehidupan Alec sedikitpun, bahwa kembarannya masih sama seperti dulu, bahwa ia masih mengenal Alec dengan baik dan firasat ia sudah berubah sampai akar-akarnya hanyalah kecemasan kosong belaka.
Ben tidak memperhatikan bagaimana Alec tak lagi tertarik pada seni musik. Menganggap remeh omongannya tentang baseball, mengira itu cuma hobi biasa. Dan kemudian di sinilah ia, di kamar dengan si kakak angkat yang memberitahu bahwa Alec tak ingin lagi jadi pianis, tak ingin lagi mewujudkan impian almarhum orangtua mereka. Rasanya seperti Dean meludahi kenaifannya.
Tapi yang membuatnya paling sedih bukanlah perubahan Alec. Hal paling menyedihkan adalah ia, sebagai saudara kandung, tidak tahu apa-apa, sementara Dean, orang yang tidak punya hubungan darah dengan kembarannya, seolah tahu segalanya. Tiba-tiba Ben merasa jadi orang asing. Ada suara kecil menyebalkan dalam kepalanya yang berteriak, “sekarang Alec bukan lagi saudaramu, tapi saudara Dean dan Sam!” Ben ingin balas berteriak menyuruhnya diam.
“….Kita bisa membicarakan ini bersama-sama. Kau tak perlu masuk Juilliard kalau tak mau,” Dean terus bermonolog tanpa menyadari perang batin lawan bicaranya. “Bilang saja, Alec. Jangan menggunakan cara-cara… uh, ekstrim untuk menunjukkan ketidak – kau kenapa?” tanyanya, melihat ekspresi syok adiknya. “Alec?”
Ben menarik nafas dalam-dalam untuk mengontrol emosinya. “Tidak apa-apa,” gumamnya, berusaha tersenyum.
“Kau yakin?”
“Yeah.”
“Alec, kalau ada sesuatu….”
“Tidak ada, Dean,” kata Ben lebih kasar dari seharusnya. Ia memejamkan mata, menegur diri sendiri. “Sori, maksudku…. Dean, bisakah kau tinggalkan aku sendiri sekarang?”
“Alec….”
“Dean,” potong Ben tegas, “aku akan cerita kalau ada masalah, oke? Cuma enggak sekarang. Aku mau sendiri sekarang.” Karena kalau Dean tidak cepat-cepat menyingkir, dia bisa menangis di depannya dan itu akan membuat keadaan makin parah.
“Oh, Oke,” jawab Dean akhirnya. Dengan enggan ia berjalan menuju pintu, jelas sekali meninggalkan si adik seorang diri adalah hal terakhir yang diinginkannya. Tapi Dean sangat menghargai privasi orang lain, sebab ia sendiri pun tak suka diinterogasi berlebihan. Sebelum keluar ia menoleh dan berkata lembut, “tidak apa-apa berubah cita-cita, Alec. Kami akan selalu mendukungmu. Tidak perlu takut.”
Dan ketika Dean menutup pintu airmata Ben mengalir, karena jika Alec tidak takut melepaskan cita-cita masa kecilnya dan keluarga Winchester mendukungnya, maka ia benar-benar kehilangan saudara yang dulu dikenalnya.
* * *
Mengatakan Rachel dan Alec bisa mati kesenangan ketika masuk Taman Bermain rasanya tak berlebihan. Mereka berlari dan melompat kegirangan – secara denotasi – begitu melewati pagar antrian loket, dan saat melihat wahana-wahana spektakuler pemicu adrenalin, keduanya praktis menjerit seperti fans fanatik bertemu penyanyi rock idolanya.
“Naik itu dulu!” tunjuk Alec ke roller coaster dengan tiga rel melingkar. Ia masih memakai sepatu olahraga karena langsung berangkat setelah latihan.
“Enggak, itu dulu!” Rachel menunjuk menara tinggi yang di atasnya ada orang berteriak-teriak.
“Atau itu!” Kereta yang meluncur ke sungai buatan dengan cipratan dahsyat.
“Itu juga bagus!” Wahana tembak-tembakan Space War.
“Ya ampun, semuanya keren-keren aku jadi bingung!” seru keduanya cepat dan berbarengan. Mereka berpandangan lalu tertawa.
“Ayo kita coba dari yang paling dekat,” putus Rachel bijak, menarik tangan Alec ke antrean terdekat.
Ternyata itu antrean ke roller coaster super cepat bernama Red Devil. Berbeda dengan beberapa pengunjung yang langsung angkat tangan dan kabur ke permainan lain begitu diberitahu bahwa roller coaster merah itu melesat seratus lima puluh mil per jam, dan melewati rel setinggi empat ratus dua puluh lima kaki, Alec dan Rachel malah makin girang. Mereka dengan senang hati duduk di barisan paling depan, dengan kekaguman setaraf anak kecil memegang-megang tanduk yang terpasang di moncong kereta sebelum petugas menyuruh para penumpang bersiap di tempat, bersandar ke kursi, dan mengencangkan sabuk pengaman.
“Ayo taruhan,” tantang Alec, nyengir. “Yang teriak lebih keras harus mentraktir es krim.”
“Boleh, siapa takut!” sahut Rachel gagah.
Tepat pada saat itu, kereta meluncur, mendorong tubuh keduanya ke depan. Tak heran petugas menyuruh mereka bersandar! Belum pernah Alec naik sesuatu secepat itu, ia merasakan angin melecut-lecut di wajahnya, matanya berair dan ia tak bisa berhenti berteriak. Di sampingnya Rachel menjerit sama keras, rambut tebalnya berkibar-kibar bagai bendera. Kemudian, sebelum Alec sempat menertawakan cewek itu, kereta mulai mengurangi kecepatan.
Sudah selesai? pikir Alec setengah kecewa, tapi ternyata belum. Mereka kini mulai menaiki rel. Melihat ke bawah rasanya seperti waktu di Empire State Building – semua tampak kecil, seolah Alec melihat dari sudut pandang Godzilla. Hanya saja kali ini ia tidak berpijak di tempat yang solid. Kereta hampir sampai puncak, kecepatannya makin pelan dan Alec yakin benda itu bakal jatuh mundur tapi ternyata tidak. Begitu menyentuh puncak, Red Devil melesat turun dalam kecepatan maksimal. Andai ada alat untuk merekam jeritan kedua penumpang paling depan, alat itu pasti bakal rusak karena frekuensi yang diterimanya terlalu tinggi.
Dan setelah itu, kereta kembali memelan, masuk stasiun. Petugas membukakan sabuk pengaman, Alec mendengar ada orang muntah di deret belakang ketika ia melompat keluar kereta.
“Kau berteriak seperti bayi!” ledek Rachel saat mereka beriringan keluar wahana.
“Dan kau seperti penyanyi sopran. Aaaaah!” Alec menirukan lengkingan Rachel.
“Aku enggak begitu.”
“Iya.”
“Enggak.”
“Iya. Dan itu membuatmu kalah. Traktir aku es krim.”
“Enggak mau! Kau juga menjerit kayak tarzan dikejar bus!”
“Oke, mau bukti? Bagaimana kalau kita coba lagi?”
“Boleh, ayo aja!”
Keduanya berbalik dan ikut antrean Red Devil lagi.
Pada akhirnya, Alec dan Rachel bukan hanya mengulang sekali, tapi dua. Petugasnya sampai geleng-geleng kepala melihat dua bocah yang sedari tadi mengambil posisi terdepan itu. Di putaran ketiga, Alec dan Rachel dengan keras kepala sama-sama menutup mulut rapat-rapat, bertekad tidak berteriak sama sekali. Akibatnya begitu turun dari roller coaster, mereka langsung lari ke toilet untuk muntah.
Permainan selanjutnya tidak kalah seru, sebagian karena wahananya memang oke, seperti lima roller coaster lain yang mereka jajal dan wahana ilusi; sebagian lagi karena antusiasme berlebihan yang membuat bom-bom car pun seseru mobil balap. Keduanya berhenti sebentar untuk makan siang, Alec dengan tidak tahu diri menghabiskan separo bekal Rachel – dia sendiri tidak kepikiran bikin bekal segala – dan cuma mentraktir limun dingin sebagai gantinya. Kemudian mereka kembali mengelilingi Taman dengan semangat penjelajah menjamah dunia baru.
Sore hari, ketika suara mereka sudah habis untuk teriak-teriak dan kaki pegal diajak berkeliling, Rachel dan Alec memutuskan naik bianglala. Dari atas, mereka menghitung dengan bangga jumlah wahana yang berhasil dikunjungi. Mengingat ini musim liburan, sungguh beruntung bisa menaiki sepuluh permainan, belum yang sampai diulang-ulang macam Red Devil dan Space War.
“Lihat tuh, ada parade!” tunjuk Alec ke lapangan utama, di mana ada sekelompok besar penari dan badut unjuk aksi.
“Keren! Kelihatan lebih jelas dari sini,” komentar Rachel, matanya berbinar-binar menatap pemandangan di bawahnya.
“Yeah, aku suka banget nonton parade. Dulu waktu kecil, aku pernah nyasar di Taman Bermain gara-gara keasyikan lihat badut. Saudara-sauda – maksudku, Alec sampai panik,” Alec buru-buru meralat ucapannya.
Tapi tampaknya Rachel tidak menyadari kesalahan itu. Ia malah tersenyum dan bertanya, “kau seneng banget ya, ketemu Alec?”
“Iya dong! Kami kan sudah delapan tahun enggak ketemu.”
“Aku juga senang kalian ketemuan,” kata Rachel tulus, “soalnya setelah itu kamu jadi lebih semangat, lebih cerewet….”
“Aku enggak cerewet.”
“Enggak cerewet dari mana?” Rachel memutar bola mata lalu tertawa. “Kamu kayak mainan habis diganti baterai. Jadi gerak dan bunyi terus enggak berhenti-berhenti.”
“Memang biasanya gimana?”
“Biasanya kamu lebih banyak diam, dan kadang pasang muka begini nih.” Rachel menekuk bibirnya ke bawah seperti anak kecil mau nangis, membuat Alec terbahak.
“Iya deh, aku kayak mainan habis diisi ulang. Tapi jangan pakai baterai, pakai sekrup pemutar saja. Kan lebih ramah lingkungan.”
Rachel meringis. “Sejak kapan kamu jadi pecinta lingkungan?”
“Sejak nonton filmnya Leonardo DiCaprio – tapi bukan Titanic lho, ya.”
Tawa Rachel berderai, merdu dan nyaring seperti alunan musik. Cahaya senja di belakangnya memainkan ilusi, menyebabkan wajahnya berkilau keemasan. Seketika Alec melihat versi vibran dari Jess, bidadari cantik penuh semangat dengan senyum luar biasa manis. Betapa beruntungnya Ben punya sahabat seperti dia….
Tiba-tiba Alec teringat pertama kali ia menyaksikan adegan ciuman secara langsung. Waktu itu sore hari ketika umurnya baru sembilan atau sepuluh tahun, ia masih punya sepeda dan baru pulang dari membelikan Dean sebungkus besar M&Ms – tumben sekali dia juga mau memberi Alec upah. Suasana rumah sunyi, Mary sedang mengunjungi John di bengkel dan Sam belum pulang, ada latihan untuk lomba debat di sekolah. Mendengar suara dari ruang tamu, Alec berjingkat-jingkat dan mengintip, tepat pada saat Dean berciuman dengan seorang cewek pirang. Cahaya matahari jingga yang menerobos jendela waktu itu sama dengan sekarang.
Dan Alec mendapat dorongan gila untuk meniru kakaknya.
“Rachel,” bisiknya pelan, mendekatkan wajah ke rambut Rachel yang berbau matahari. Gelitik lembut di hidungnya membuatnya merinding dengan cara menyenangkan.
“Ya?” Rachel menengok, dan Alec memejamkan mata, tak berani melihat ketika bibir mereka bersentuhan lembut.
Ciuman itu tidak sensasional, bukan jenis yang biasa kau lihat di televisi di mana para pemain seperti mengkonsumsi mulut pasangannya. Lebih tepat jika dikatakan, bibir dua remaja itu menempel selama satu dua detik, Alec bahkan tidak sempat merasakan sisa es krim yang menempel di bibir Rachel. Alasan utama, tentu saja karena dia belum pengalaman, dan alasan pendukung, karena Rachel langsung mendorongnya.
“Apa yang kau lakukan?” dengking Rachel, airmata membayangi matanya.
Seketika Alec tersadar dari transnya, ia merasakan wajahnya panas, dan bukan karena ia duduk menghadap matahari. “Rachel, maafkan aku, aku….” Ia gelagapan sementara Rachel mulai terisak pelan. Betapa cepatnya suasana berubah di antara mereka.
Kadang, momen dramatis memang terjadi dalam hidup, dan ia memilih waktu yang tidak tepat untuk muncul. Seperti kali ini. Bianglala berhenti seolah memberi kesempatan Rachel untuk kabur. Cewek itu tergesa-gesa keluar, hampir jatuh ke bawah bianglala kalau bukan karena petugas yang memeganginya. Ia menggumamkan terimakasih sambil berurai airmata dan lari sebelum Alec sempat berkutik dari posisi duduknya.
Ketika Alec akhirnya cukup sadar untuk keluar, si petugas, seorang cewek dengan kaos pink dan rambut dikucir kuda, berdecak mencela. “Lain kali, jangan putuskan pacarmu dalam bianglala.”
“Yeah,” jawab Alec pasrah, matanya mencari sia-sia sosok Rachel yang telah menghilang di balik kerumunan. “Dan jangan berikan ciuman pertamamu juga.”
* * *
Kecemasan Mary semakin bertambah saja dari waktu ke waktu. Usai menerima laporan dari Dean bahwa ia belum berhasil mengorek keterangan dari Alec – padahal dia sendiri sudah pura-pura curhat, begitu tambahnya setengah jengkel – ibu tiga anak itu harus menyalakan aromaterapi dan duduk bermeditasi dalam kamar selama dua jam penuh untuk menenangkan pikiran. Meditasi itu membawa efek positif seperti biasa, pikirannya jadi lebih jernih, dan mampu menyusun rencana baru untuk mencari tahu masalah Alec.
Wanita itu menjalankan rencananya usai makan malam, ketika Dean dan Sam seperti biasa mencuci piring sambil main perang sabun, John menggeledah kulkas untuk mencari acar sebagai cemilan nonton beritanya, dan Alec mengelap meja dalam diam. Mata anak itu merah dan sembab, dan ia tidak menatap anggota keluarga lain sama sekali. Ada dua kemungkinan: dia habis menangis entah karena apa, atau dia habis memakai….
“Alec,” kata Mary keras-keras, menarik perhatian keluarganya sekaligus menyingkirkan pikiran-pikiran buruk yang mulai menguasai otaknya. “Besok kau ikut ke Rumah Sakit, ya. Kau harus ikut tes kesehatan.”
Cowok itu langsung mengalihkan perhatian dari tugasnya, matanya melebar. Memang bukan saatnya berpikir yang tidak-tidak, tapi benar kata Sam, dia kelihatan seperti kelinci kalau matanya memerah. “Tes… tes kesehatan? Kenapa? Aku sehat, kok,” ujarnya gugup.
“Tidak harus sakit untuk cek kesehatan, kan?” sahut Mary, “kita semua akan dites besok, iya kan?” Ia menatap ketiga anggota keluarga lain dengan tatapan turuti-perintahku-atau-mati.
“Apa? Kenapa kita ju – ouch!” Protes Sam terhenti di tengah jalan ketika Dean menyikut rusuknya.
“Kok mendadak banget, Mom?” tanya Dean hati-hati.
“Bagaimana lagi, aku sudah buat janji untuk besok,” jawab Mary mengangkat bahu. Tapi Dean tahu itu dimaksudkan agar, seandainya dugaannya benar – yang semoga saja tidak, Alec tidak bisa mempersiapkan diri. Dean pernah membaca, butuh dua puluh empat sampai tiga puluh enam jam supaya obat yang kau konsumsi tidak terdeteksi dalam urin. Jika diperkirakan Alec ‘memakai’ hari ini, maka besok siang dia bakal ketahuan.
Ben berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Semua kesedihan sepanjang sore mengenai keretakan persaudaraannya dengan Alec terlupakan, diganti rasa panik menyesakkan. Dia tidak tahu seberapa rinci tes yang akan ia lalui, tapi melihat keketatan Mary dalam menjaga kesehatan keluarga, itu tidak mungkin hanya tes standar macam mengukur tekanan darah, periksa mulut dan gigi, timbang badan, dan tes urin-tinja. Mungkin akan dilakukan rontgen juga, dan ketika mereka melihat tangannya tidak ada bekas patah, maka tamatlah sudah permainan tukar tempat ini. Cowok itu merinding membayangkan reaksi Mary jika tahu anaknya main-main di New Jersey tanpa pengawasan, sementara di rumah ada penyusup kecil yang menggantikannya.
“Apa harus besok?” tanyanya, berusaha terdengar senetral mungkin, namun sayangnya tidak berhasil. Ia berjengit mendengar suaranya sendiri yang melengking tidak normal.
“Tentu saja. Lebih cepat lebih baik. Apalagi kau habis dari New York, barangkali tertular sesuatu tanpa kau sadari.”
“Uh, oke,” jawab Ben sekenanya. Ia lalu kembali mengelap meja, tapi konsentrasinya sudah tidak pada noda sup yang berceceran lagi. Ia bahkan tidak menyadari kasak-kusuk keluarga Winchester di sampingnya, mempertanyakan keputusan Mary.
Yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana membawa Alec yang asli kembali sebelum tes kesehatan besok.
* * *
Malam sudah larut ketika sebuah taksi berhenti di depan rumah keluarga Anderson. Alec turun dengan muka kusut. Ia terpaksa pulang sendirian karena Rachel menghilang dan tak bisa dihubungi setelah bencana bianglala itu. Tadinya dia mau langsung ke rumah cewek itu dan minta maaf, tapi mengurungkan niat begitu teringat Mr Berrisford dan kumis baplangnya yang sangar. Mungkin dia bisa mengurus semua ini besok pagi, saat Rachel sudah lebih tenang dan Alec sudah siap jiwa raga menghadapi kemungkinan terburuk.
“Minggir, Caesar. Aku lagi enggak ingin main,” gerutu Alec ketika anjing itu menyambutnya dengan kibasan ekor. Ia menghempaskan ranselnya begitu saja dan membuka kulkas, meraup tiga batang coklat yang tersisa. Coklat bagus untuk mengurangi stres, begitu menurut majalah kesehatan milik Mom, dan sekarang waktunya ia membuktikan hal itu.
Baru saja mau melahap gigitan pertama, ponselnya berdering. Ia setengah berharap itu Rachel, tapi ternyata nama Ben yang berkedip-kedip di layar. “Apa, Ben? Aku lagi enggak minat ngobrol,” ia ucapkan sebagai salam pembuka.
“Aku juga enggak mau ngobrol! Ada masalah gawat banget!” Ben nyaris berteriak, nafasnya menderu di telepon.
“Hei, tenang. Tarik nafas. Kau tidak bisa memberitahuku apa yang gawat kalau pingsan,” kata Alec, menarik nafas dalam-dalam memberi instruksi. Ben mengikutinya.
“Oke,” kata Ben setelah beberapa saat, tidak lagi terdengar seperti orang yang nyaris hiperventilasi. “Oke. Nah, Alec. Dengar. Aku mau kita tukeran besok pagi.”
“Apa?! Jangan ngaco!” seru Alec, bangkit dari duduk dan berjalan mondar-mandir. Caesar meniru di sampingnya. “Kesepakatannya kan seminggu!”
“Ibumu itu menyuruhku tes kesehatan besok! Aku bisa ketahuan!”
“Tapi….”
“Aku sudah pesan tiket online – pakai uang tabunganku, jadi awas saja kalau kau enggak ganti. Aku berangkat dari sini jam empat, semoga sudah ada taksi. Kau tunggu di bandara, jangan sampai telat.”
“Tidak mau!” tolak Alec keras kepala. “Seminggu ya seminggu! Ini baru tiga hari, Ben!” dia belum sempat tidur di jaring tidur itu, belum puas balapan pakai sepeda, belum mengajak Caesar main frisbee, dan yang pasti, belum menyelesaikan masalah Rachel. Oh, dan belum ikut pertandingan baseball! Dia tidak bisa kembali besok!
“Apa kau mau ketahuan?!” Ben meledak. “Ini bakal jadi masalah besar, Alec. Mikir, dong!”
“Kau harusnya bisa meyakinkan Mom! Bilang enggak enak badan atau apalah!”
“Yang bakal bikin dia makin getol mengajakku. Kau enggak dengar ya, dia mau membawaku PERIKSA KESEHATAN!” Alec sampai harus menjauhkan ponsel dari telinga. Tidak disangka Ben bisa marah-marah sehebat itu.
“Kok malah jadi marah-marah, sih?!”
“Ugh, gimana enggak marah! Kamu ini….” Ben mengeluarkan gerungan frustasi. Ia diam beberapa saat, mengontrol nafasnya lagi, baru melanjutkan, “pokoknya. Kita tukeran besok, oke?”
“Tapi….”
“Tidak ada tapi-tapian!” tukas Ben, “kenapa sih kau susah banget disuruh balik ke rumah sendiri? Atau jangan-jangan di situ kau bikin masalah dan enggak pingin aku tahu, ya?! Hei Alec!”
Jantung Alec serasa melompat ke tenggorokan. Apa itu yang disebut dia seperti buku yang terbuka, sampai-sampai Ben pun bisa menebak ketidakberesan dari Lawrence, ataukah karena mereka kembar dan sekarang ‘ikatan batin’ mereka sedang bekerja?
“Tentu saja tidak semuanya beres,” jawabnya cepat, begitu cepat sampai melupakan koma dan titik.
“Mencurigakan.”
“Sumpah, semuanya beres! Masa kau enggak percaya padaku?”
“Jujur saja enggak.”
“Benny!”
“Lupakan. Kalau memang enggak ada masalah, kau harus mau pulang besok. Atau masalah itu bakal muncul.”
“Tidak bisa di…”
“Tidak, Alec. Besok. Ketemu. Di. Bandara. Titik.” Ben menutup telepon.
Alec menepuk dahi, mengerang kesal. Caesar menggonggong penuh tanda tanya. Alec menatap anjing itu, menggeleng putus asa.
“Mati aku, Caesar.”
* * *
Sejak pulang dari Taman Bermain, Rachel mengurung diri di kamar. Ia tidak mengindahkan pertanyaan-pertanyaan cemas kedua orangtuanya, tidak turun untuk makan malam, tidak mengeluarkan suara sedikitpun yang menandakan ia masih hidup. Dia bahkan tidak cerita sepatah katapun pada Jess, sebagaimana yang selalu dilakukannya tiap ada masalah. Rachel masih terlalu bingung dan kaget dengan peristiwa bianglala sore itu.
Pipinya merona, darah mengalir lebih cepat di seluruh tubuhnya jika mengingat bagaimana bibir Ben yang hangat bersentuhan dengan bibirnya yang manis dan lengket terkena es krim. Saat itu, dalam sekian detik itu, ia merasakan sensasi luar biasa, seolah ada listrik menyetrum seluruh lapisan kulitnya, kembang api meledak di otaknya, meninggalkan ia dalam kondisi senang sekaligus lemas. Ia merinding, tapi bukan karena takut. Dan yang paling parah, ada dorongan tak tertahankan untuk membalas ciuman Ben – meskipun ia sama sekali tak tahu bagaimana berciuman dengan layak. Ia ingin merengkuh dan menikmati lembutnya bibir itu, menghirup aroma manis limun yang masih tersisa di sekitarnya. Butuh segala keberanian untuk mendorong Ben menjauh, dan setelah itu, airmatanya langsung tumpah tak tertahankan.
Kau tidak mencium sahabatmu.
Itu prinsip yang dipegang Rachel sejak dulu, sejak ia akhirnya bersahabat dengan Ben. Ia senang bisa akrab dengan cowok itu, dan menyayanginya dengan tulus. Tapi Rachel sangat yakin rasa itu bukan ‘cinta’. Lebih ke jenis yang konstan tapi tidak romantis, seperti rasa sayangnya pada Jess dan Sarah. Dia seringkali melompat ke punggung Ben minta digendong dan memeluknya sebagai ucapan selamat dan tidak pernah sekalipun jantungnya berdesir tak wajar, tidak ada perasaan canggung membatasi mereka berdua. Ben adalah sahabat Rachel dan itu membuatnya istimewa. Ia tidak mau mereka jadian dan akhirnya kehilangan persahabatan bersamaan dengan putusnya status ‘pacaran’ mereka.
Jadi kenapa, kenapa dia merasa senang ketika Ben menciumnya? Kenapa dia ingin membalas? Semakin dipikir lebih jauh Rachel jadi semakin bingung. Dia memang sayang pada Ben yang pendiam dan kalem, tapi setelah cowok itu pulang dari New York dan seperti terlahir kembali, Rachel jadi makin sayang. Awalnya ia mengira dia hanya ikut bahagia Ben bisa bertemu kembarannya, tapi ternyata tidak. Perasaannya dulu dan sekarang berbeda. Apa ini yang disebut ‘naksir’? apa Ben juga merasakan hal yang sama, dan berusaha menunjukkannya?
Rachel menutup muka dengan bantal dan menggerung tertahan. Dia kesal pada diri sendiri, kesal pada prinsipnya yang konyol, kesal pada Ben, kesal pada masa remaja dan hormon-hormon yang mempengaruhinya, kesal pada New York, kesal pada Alec yang mengubah Ben.
Kesal pada kupu-kupu yang beterbangan di perutnya tiap kali memikirkan adegan bianglala itu.
Kesal pada Jess yang mengusulkan mereka jadian tadi pagi.
Kesal, karena diam-diam dia menyesal tidak bisa mengikuti saran itu.
Jadi remaja cewek memang rumit.
TBC
Jumat, 16 Juli 2010
Label:
Alec
,
AU
,
Ben
,
Dark Angel
,
Dean
,
Fanfiction
,
Sam
,
Supernatural
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
0 komentar :
Posting Komentar