HEROES
Ketika mendengar suara penuh kegembiraan dari taman belakang, aku segera mendapat firasat buruk. Hal-hal yang membuat keluargaku begitu gembira biasanya merupakan bencana bagiku. Khawatir sekaligus penasaran, aku melangkah masuk ke taman, dan mendapati Mama, Papa, serta kakak perempuanku sedang mengerubuti sesosok tanaman berdaun mirip kuping gajah.
“Dan, coba lihat apa yang dibawa Papa!” kata Mama sekaligus sebagai kata sambutan.
“Anthurium crytallinum lho Dan!” seru kakak, seolah aku tahu saja makna di balik nama itu.
Aku mengerutkan dahi, mengamati gerombolan daun dalam pot itu. Tanaman itu bahkan tidak berbunga. Apa sih yang membuat mereka begitu tertarik? Oh iya, aku lupa, keluargaku kan punya Gen Pecinta Tanaman – sesuatu yang tidak menurun kepadaku. Entah aku harus sedih atau bersyukur karenanya.
“Berapa harganya?’ tanyaku curiga. Terakhir kali, Papa membawa bonsai yang harganya setara dengan laptop Apple versi terbaru.
“Papa beruntung punya kenalan yang mau kasih murah. Cuma sepuluh juta,” jawab Papa berpuas diri.
Aku terkesiap. “APA?! Tapi Ma, katanya bulan ini aku mau dibeliin motor?” protesku, mulai merasakan hawa-hawa tidak beres.
“Motor?” ulang Mama bingung.
“Iya, Mama udah janji kan?”
“Oh,” kata Mama, “motornya besok-besok aja ya, Sayang. Sekarang Anthurium-nya dulu. Tuh, cantik banget, kan? Mending juga Anthurium daripada motor. Lagian kamu kan masih bisa numpang Papa ke sekolah.” Mama mengatakan hal itu dengan sangat enteng, tanpa menyadari efeknya bagiku.
Aku menatap Mama tak percaya, lalu mengalihkan pandang pada Papa dan kakak yang kini berdiskusi seru tentang berbagai tumbuhan sejenis. Ingin sekali aku menendang pot itu, menginjak-injak si Kuping Gajah, dan berteriak, “anybody sane here?!”
*
“Kesimpulannya, kamu dikalahin sama Anthurium crytallinum nih?” kekeh Tia usai mendengar ceritaku. Kami berdua berjalan melintasi lapangan menuju halte bus – sesuatu yang tak perlu kulakukan andai tidak ada genus Anthurium di muka bumi.
“Kuping Gajah,” tukasku jengkel. Aku menolak menyebut atau mendengar nama tanaman yang lebih canggih daripada namaku. Teristimewa karena tanaman itu telah menghancurkan hidupku. “Please deh, gara-gara DAUN aku harus bersumpek ria di bus sampai bulan depan. Kadang aku nggak habis pikir sama jalan pikiran keluargaku.”
Tia terkekeh lagi. Oh ya, gampang memang menertawakan orang. Coba dia yang ada di posisiku, bagaimana perasaannya, aku mau tahu?
“Tapi Dan, paling nggak kamu mengurangi emisi yang bisa memperparah Global Warming,” hiburnya.
“Global Warming itu kan....?” aku berusaha sebisa mungkin menutupi nada bertanya dalam kalimatku.
Oke, silahkan panggil aku Dana Dungu. Boleh saja aku ngenet sama seringnya dengan Tia, tapi sementara dia sibuk meng-update berita tentang Obama dan Hillary Clinton, aku sibuk meng-update Friendster-ku. Satu-satunya berita internasional yang kubaca adalah dari perezhilton.com. Jadi, waktu kata Global Warming hinggap di telingaku, yang terbayang adalah.... ehm. Perang Dunia Ketiga. Jangan tanya kenapa.
“Iya, Pemanasan Global, kerasa banget kan, kalau belakangan ini udara tambah panas?”
sahut Tia. Aku bersyukur dia tidak mendengar otakku berseru, oh, jadi Global Warming itu hubungannya sama LINGKUNGAN toh?
“Kenapa nggak punya motor bisa bikin cuaca jadi nggak panas?” tanyaku. Tanpa kata ilmiah macam ‘emisi’, tapi setidaknya sesuai topik.
Sahabatku lalu mengoceh tentang emisi karbon yang dihasilkan kendaraan bermotor sekaligus andilnya dalam pencemaran udara. Aku cuma manggut-manggut, persis boneka anjing pitbull di dasbor mobil Papa. Aku heran kenapa Tia harus berkutat dengan kata-kata rumit untuk mengatakn sesuatu yang intinya ‘asap motor menyebabkan polusi udara’.
Tia masih mengungkit-ungkit Global Warming saat bus kami datang. Jujur, aku telah kehilangan makna dari tiga perempat monolognya, bahkan sampai menangkap kata ‘vampir’ segala – yang jelas merupakan indikasi bahwa aku tidak menyimak (apa kaitan musuh Van Helsing dengan Pemanasan Global?).
Namun aku sempat memikirkan, dan tidak setuju, pada pendapat Tia bahwa tanpa motor aku bisa memperlambat kerusakan bumi. Memang apa pengaruhnya satu motor? Kalaupun aku berkorban sebagai penumpang bus, tetap ada jutaan orang di luar sana yang menghasilkan polusi dari kendaraan mereka – dan aku sama-sama menanggung akibatnya. Kenapa juga aku harus sok jadi pahlawan – yang akhirnya sia-sia?
*
Sorenya aku bela-belain nongkrong di alun-alun buat OL gratis. Nggak lucu dong, kalau Tia tahu sebenarnya aku tak tahu apa-apa soal world issue yang kayaknya lagi booming banget, berdasarkan reaksi kakak dan Mama waktu kutanyai tadi. Aku memang tidak suka mengurusi sesuatu yang ‘sulit’, tapi aku lebih tidak suka jika harus kalah dari Tia.
Kuketik keyword ‘Global Warming’ dan kagetlah aku. Result menunjukkan ada empat puluh delapan juta topik, termasuk di dalamnya polusi, krisis sumber daya alam, pencairan es di kutub dan bla... bla.... bla... istilah-istilah yang aku tidak mengerti maksudnya apa. Hebat. Ini bahkan empat kali lebih banyak daripada result untuk ‘Gossip Girl’. Aku memilih topik yang sekiranya paling gampang dimengerti dan mulai membaca.
*
Dua jam kemudian, aku benar-benar tenggelam dalam Dunia Pengetahuan – region yang baru bagiku (bukan berarti aku tak pernah belajar, tapi kau tahulah maksudku). Makin banyak aku membaca, makin bodoh aku merasa. Betapa cueknya aku selama ini! Dengan fanatik aku memuja parfum dan hairspray, tanpa menyadari ‘pengkhianatan’ mereka. Sama sekali tak terlintas di benakku bahwa benda-benda yang membuatku cantik dan tambah percaya diri, ternyata mengancam orang-orang di negara tropis meninggal karena kepanasan hanya dalam tempo beberapa dekade ke depan. Dan aku juga tidak salah dengar tentang ‘vampir’ rupanya. Ada istilah Energi Vampir, definisinya membuatku bersumpah akan mencabut semua charger nganggur saat sampai di rumah nanti.
Sekarang aku paham kenapa Tia begitu bangga naik angkutan umum. Tanpa motor pribadi, seseorang bisa mengurangi BERTON-TON emisi dari muka bumi. Rasanya tolol sekali orang yang menganggap itu hal sia-sia – dalam hal ini, sayangnya, aku salah satu dari mereka.
Mendadak aku bersyukur belum dibelikan motor. Dengan begitu aku mendapat kesempatan untuk membuka mata. Aku mendapat kesempatan untuk berubah, menjalani hidup yang lebih baik, bukan hanya untukku, tapi juga generasi masa depan. Andai Tia dan Si Kuping Gajah bisa mendengarku sekarang, keduanya pasti akan melambung bangga, sebab diam-diam aku berterimakasih pada mereka.
*
“Apa, coba bilang lagi?”
Aku dan Tia melintasi lapangan yang biasa, menuju halte yang biasa, seperti biasa menunggu bus. Hanya kali ini sahabatku tidak terkekeh, melainkan melongo, matanya membeliak sebesar piring.
“Iya Tia Sayang, aku batal beli motor,” aku menegaskan, gantian terkikik melihat ekspresi Tia yang sama persis dengan keluargaku kemarin. Mereka bagai tersambar petir waktu aku bilang tidak berminat lagi pada motor, dan malah minta diantar ke toko bunga. Yah, wajar saja sih, aku sendiri kaget dengan pilihanku. Mungkin Gen Pecinta Tanaman yang selama ini resesif mulai muncul ke permukaan.
“Tapi Non, masa kamu beli tanaman hias seharga..........”
“Sebelum kamu selesai, nggak, aku nggak beli tanaman itu,” potongku. Meski sudah mulai menyukai tumbuhan, bukan berarti aku mengikuti cara keluargaku yang bisa dikatagorikan sebagai pemborosan tingkat tinggi. “Aku beli bibit pohon terus kusumbangin ke kampung, itung-itung buat reboisasi. Oh, aku juga ikut program... apa itu namanya... yang melihara pohon lewat internet....”
“My Baby Tree?” bantu Tia, tersenyum kecil mendengar deskripsiku.
“Ya, itu. Terus sisa uangnya kutabung, soalnya aku pingin bikin taman kecil deket kamarku,” aku menyelesaikan penjelasan dengan bangga, bukan hanya karena telah melakukan tindakan ramah lingkungan, tapi juga karena mampu menyebut-nyebut ‘reboisasi’ dalam percakapan. Sebuah kemajuan besar bagi seorang cewek yang tadinya tidak tahu Global Warming itu apa.
“Wah, keren Dan. Kamu bener-bener pecinta alam sejati,” puji Tia kagum. Aku meringis. Ada hal-hal yang harus kau rahasiakan dari sahabatmu selamanya, dan keblo’onanku dulu jelas merupakan salah satunya.
Tepat saat itu bus kami datang. Kendaraan jingga dengan angka lima terpampang besar-besar di atapnya – sosok yang dulu aku sangat malu menaikinya – kini tampak sangat keren di mataku. Aku masuk dan melempar senyum pada para penumpang lain yang, sama halnya denganku sebulan lalu, tidak menyadari betapa mereka telah menjadi pahlawan. Bahwa hanya dengan naik sebuah bus, kami semua menyelamatkan bumi dari krisis mengerikan. Mungkin, suatu hari nanti, bakal ada penghargaan khusus bagi para penumpang angkutan umum. Mungkin kami bakal mendapat kesempatan menjajal Hybrid Car secara gratis. Who knows?
* *
Rabu, 25 Agustus 2010
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
0 komentar :
Posting Komentar