Jumat, 16 Juli 2010

WELCOME LITTLE BROTHER

Mom adalah Sang Penghancur, begitu yang selalu diceritakan John Winchester pada putra-putranya. Ia menghancurkan hati banyak pria. Ia ikut karate waktu masih remaja dan bisa menghancurkan tiga tumpuk bata. Di bulan-bulan pertama pernikahan, ia selalu menghancurkan rasa masakannya.

Sam tidak pernah percaya. Mom adalah wanita paling lembut yang secara refleks minta maaf jika menyenggol orang di jalan, tak mungkinlah ia bisa menghancurkan hati banyak pria – apapun maksudnya itu. Dia membuka tutup kaleng saja tidak kuat, mana bisa memecahkan tiga tumpuk bata. Dan makanan buatan Mom adalah yang paling enak sedunia, Sam tidak bisa membayangkan ibunya tidak bisa masak. Itu sama omong kosongnya dengan mengatakan Superman tidak bisa terbang.

Bagi Sam, Mom adalah manusia paling lembut dan hangat yang pernah ada.

Bagi Sam, Mom adalah orang yang paling menyayanginya, dan juga kesayangan Sam.

Sampai suatu hari, Mom bilang mereka akan punya adik baru. Adik angkat dari Panti Asuhan, yang akan memakai kamar kosong di samping kamar Sam dan merebut posisinya sebagai anak bungsu, dan Mom bahkan tidak mendiskusikannya dulu dengan Sam!

Dad benar. Mom adalah Sang Penghancur. Ia menghancurkan dunia Sam yang sempurna, tempat paling nyaman untuk bermanja dan akses tercepat untuk mendapat sesuatu; dengan sebuah bom atom bernama Alec.

Sam benci Mom. Sam benci Dad yang membela Mom dan membelikan sepeda buat si anak baru tanpa syarat, padahal Sam harus meraih ranking satu untuk mendapatkannya. Sam benci Dean yang cuma mengangkat bahu dan bilang, “kau toh sudah menghancurkan hidupku sekali. Sekarang waktunya pembalasan.” . Padahal Dean kakak Sam, tapi dia ikut sibuk menyiapkan kamar baru Si Bom Atom, bahkan lebih memilih pergi ke toko bangunan membelikan cat untuk kamar itu daripada main basket dengan adiknya!

Sam benci Alec, tikus kecil penyusup yang menguasai keluarganya bahkan sebelum ia masuk ke rumah mereka. Dia bahkan membuat Dad menata ulang ruang keluarga agar bisa memasukkan piano besar ke dalamnya! Apa-apaan coba?

Awas saja, janji Sam penuh tekad, akan kutunjukkan siapa yang berkuasa di sini. Awas kalau dia berani macam-macam!

* * *

“Sammy, senyum dong, nanti Alec bakal mengira kamu gargoyle penjaga rumah, bukan kakaknya!” canda Mary pada putranya yang sedari tadi cemberut terus. Ia bersama kedua putranya tengah berdiri di depan rumah, siap menyambut Alec yang masih dalam perjalanan bersama John.

Sam cuma mendengus. Biar saja dia mengira Sam gargoyle. Mungkin dengan begitu dia akan kabur dan batal jadi bagian keluarga Winchester. Mungkin Dad juga bakal menjual piano itu dan menggantinya dengan Nintendo.

Tak lama kemudian yang ditunggu-tunggu pun tiba. John memarkir mobilnya persis di depan keluarga Winchester, melambai penuh semangat pada istrinya. Mary langsung berlari untuk membukakan pintu penumpang dan membantu Alec turun.

Dia bagaikan peri kecil dalam film kartun: tubuh mungil, mata besar, dan wajah yang bagi para ibu imut sekali. Tapi bagi Sam, dia seperti kurcaci jahat di film horor yang diam-diam ditontonnya bersama Dean waktu Mom dan Dad pergi reuni SMA. Makhluk licik penuh tipu daya yang bakal menjebak keluarga Sam dengan tatapan polos dan muka bayinya. Dan coba lihat penampilannya, seperti anak-anak jaman dulu saja, pakai celana bahan dan kemeja di hari biasa. Norak, Sam dan Dean sih, hanya pakai baju begitu kalau mau ke gereja.

“Dean, Sam, kenalkan adik kalian, Alec,” kata Mary lembut, merangkul Alec dengan sayang.

“Hai, Alec. Aku Dean,” sapa Dean ramah, mengulurkan tangan untuk berjabatan.

Alec menatap tangan itu sejenak, lalu ke wajah Dean yang tersenyum, lalu ke tangannya lagi. Ragu-ragu, ia pun menerima jabatan tangan itu. “Alec,” katanya malu-malu, layaknya anak gadis yang berkenalan dengan cowok yang disukainya.

“Sam, ayo kenalan dong,” Mary menyuruh Sam masih dengan nada halus, tapi matanya berkilat memperingatkan.

Sam mendengus keras tanpa ditutup-tutupi, memanyunkan bibir, dan berjalan sambil menghentakkan kaki ke arah Alec. “Sam,” katanya datar, menjabat tangan Alec lebih keras dari seharusnya. “Apa kau baru pulang dari gereja?” ejeknya kemudian. Dia tahu itu perbuatan nekat dan ia bakal kena masalah sehabis ini, tapi dia benar-benar kesal pada Alec sampai tidak peduli lagi.

“Tidak,” jawab Alec lugu, menggelengkan kepala.

“Oh, aku kira. Habis bajumu resmi banget sih. Aku kira kamu mau ikut Kebaktian, bukan ke rumah baru. Apa kau selalu berpakaian culun begini?”

“Sam!” tegur Mary kaget. Dia tahu putranya masih belum bisa menerima kehadiran Alec sepenuhnya, tapi tidak menyangka dia bakal berbuat nakal pada adik barunya lima menit setelah mereka bertemu.

Perubahan aura di sekitar Dean terasa nyata, senyata angin yang berhembus pelan meniup rambutnya. Mom dan Dad jelas sedang menahan diri untuk tidak mengkuliahi Sam di hadapan anggota baru keluarga mereka. Alec pun tampaknya menyadari bakal ada sesuatu yang gawat, ia bergerak-gerak gelisah di samping Mom, tampak malu, takut, sekaligus merasa bersalah.

Bertindak cepat, Dean menarik tangan Alec dan berkata, “hei. Kami punya ring basket di belakang rumah. Mau lihat?” Ia melirik John meminta persetujuan, dan begitu pria itu mengangguk, Dean langsung membawa Alec pergi.

Sam menatap kepergian kakaknya, yang menggandeng si kurcaci seolah ia memang adiknya, dengan sakit hati. Dean mengajak Alec melihat ring basket – ring basket milik Dean dan Sam – meninggalkan adik kandungnya bersama Mom dan Dad yang tampak siap menghukumnya. Sam ingin menangis dan menjerit dan menendang dan berteriak, karena dunia ini tidak adil. Karena Mom miliknya dan Dad miliknya dan Dean miliknya dan ring basket itu miliknya, dan harusnya tetap begitu sampai ia tua dan punya anak, anak yang harusnya cuma punya satu paman, tapi kemudian Alec datang seperti bola boling pengganggu yang memporakporandakan hidupnya. Dia datang dan mengambil tempat Sam, menggusurnya ke tempat sampah. Sam tidak bisa lagi bermanja-manja pada Mom. Tidak bisa lagi minta digendong Dad di pundak. Tidak bisa lagi mengajak Dean main basket, karena mereka sudah dapat anak bungsu yang baru. Sam ingin menangis.

“Sam, masuk,” perintah John tegas.

“Tidak mau,” balas Sam keras kepala, melipat kedua tangannya.

“Dad bilang masuk, Sam. Kita perlu bicara.”

“Tidak mau.” Ia memantapkan pijakan kaki ke trotoar, seolah dengan begitu ia bisa menanamkan dirinya di situ, tidak perlu masuk rumah lagi selama-lamanya.

“Masuk, Sam. Jangan membuatku menyuruhmu dua kali.”

Jangan membuatku menyuruhmu dua kali. Dad tidak pernah meng-jangan membuatku menyuruhmu dua kali-kan Sam sebelumnya. Itu adalah peringatan untuk Dean, karena dia sudah besar, karena dia telah beranjak remaja yang tidak lagi mempan diancam tidak dibelikan pesawat radio kontrol baru, karena dia adalah seorang kakak dan para kakak harus diperingatkan lebih keras agar bisa menjadi teladan adiknya. Tapi tidak untuk Sam, karena dia masih kecil dan dia masih menginginkan radio kontrol dan dia adalah adik yang tidak perlu ditiru siapa-siapa. Dia adalah adik yang tiba-tiba jadi kakak dan di-jangan membuatku menyuruhmu dua kali-kan hanya beberapa menit setelahnya.

Sam menurut dan masuk rumah. Bukan karena dia harus memberi contoh yang baik, melainkan untuk menghormati Dean yang selalu memberi contoh padanya.

“Sikapmu tadi buruk, Sam,” kata John begitu mereka duduk di sofa ruang keluarga. Piano hitam Alec di sudut ruangan menganga terbuka, seolah menertawakan Sam mewakili pemiliknya.

“Aku tidak nakal,” jawab Sam, masih dengan kekeraskepalaannya. Mom pernah bilang, suatu hari nanti dia bisa jadi pengacara yang hebat dengan sifatnya itu. Tapi sekarang Sam tidak merasa seperti pengacara. Ia lebih mirip terdakwa tak berdaya di depan dua hakim, sementara pengacaranya, orang yang selalu membelanya, sedang di luar terjerat musuh.

“Tentu saja tidak, Sayang,” Mary setuju. Dia tidak pernah memanggil putranya ‘nakal’, sebandel apapun Dean dan Sam. Dia tidak ingin melabeli mereka dengan sesuatu yang buruk. “Karena itu kau tidak boleh bilang begitu lagi pada Alec, ya? Nanti kau minta maaf pada adikmu, ya?”

“Dia bukan adikku,” desis Sam marah, “Mom bahkan tidak melahirkannya!”

“Sam!”

“Memang kenyataaannya begitu, kok!”

“Alec adikmu, Sam. Dia bagian dari keluarga kita sekarang.”

“Dia bukan adikku. Aku satu-satunya adik di rumah ini!”

“Astaga Nak, berhenti bersikap konyol! Dean tidak pernah berbuat begini waktu kau lahir, padahal dia masih empat tahun! Kau sudah sepuluh, Sam, dewasalah sedikit!” John habis sabar. Dia biasanya ayah yang baik, tapi paling tidak sabaran mengurusi ledakan emosi begini.

“Aku BUKAN Dean!” jerit Sam, pipinya merah, airmata kemarahan membayangi matanya. Sungguh mengagumkan bagaimana dia belum menangis sejauh ini.

“Bukan, kau bukan Dean, Sayang. Kau Sam, anak Mom yang istimewa,” Mary berujar lembut, seperti menenangkan anak anjing yang terluka. Ia melirik John dengan pandangan mengkritik, yang membuat pria itu tahu dia akan menghabiskan malam ini mendengarkan pidato istrinya mengenai ‘efek negatif membanding-bandingkan anak bagi mental mereka’.

“Mom bilang begitu cuma biar aku nurut saja.”

“Tidak begitu, Sayang. Mom tidak bermaksud begitu!” Mary mengelak, kemudian menghela nafas pasrah. “Sam, dengar. Alec sangat kesepian, dia baru saja mengalami kejadian yang sangat buruk dalam keluarganya. Dia sedih dan butuh seseorang untuk menghiburnya, Sayang. Dan kau anak luar biasa yang bisa membuat orang di sekelilingmu merasa senang. Mom hanya ingin kau membuat Alec bahagia juga. Dia membutuhkanmu, Sam.”

“Bohong. Kenapa juga dia butuh aku? Dia sudah punya kalian.”

Mary tercekat mendengar kepahitan dalam suara putranya, sedih menyadari ialah penyebabnya. “Itu tidak benar….”

“Tentu saja benar, semua yang kukatakan benar!” tukas Sam, bangkit berdiri dari sofa. Ia benar-benar muak. “Mom hanya tidak berpikir begitu karena Mom tidak melihatnya dari sudut pandangku. Aku benci Mom. Aku benci Dad. Aku benci semuanya!” teriaknya, suaranya pecah di akhir kalimat. Ia berlari ke luar ruangan dan masuk ke kamar, membanting pintu keras-keras agar tak ada yang mendengarnya terisak.

* * *

Dean memandang ke rumahnya dengan perasaan bersalah. Ia tahu Sam pasti sedang dapat masalah, dan di sinilah ia, berdiri di tengah lapangan basket bermain bola bersama adik barunya, adik yang jadi pokok masalah Sam.

Cowok itu merasa berada di tengah-tengah persimpangan, tak tahu harus memihak siapa. Di satu sisi ia tahu betapa beratnya jadi Sam, dia sendiri pernah mengalami ketika dunianya yang sempurna, dunia di mana ia menjadi raja, tiba-tiba direnggut oleh monster kecil merah jambu dalam selimut yang bisanya cuma menangis dan menjerit – dan begitupun tetap dianggap Mary dan John sebagai malaikat. Butuh waktu berbulan-bulan bagi Dean untuk menyesuaikan diri, bukan hanya belajar berbagi tapi juga menjadi kakak yang bertanggung jawab, yang menyayangi adiknya sepenuh hati.

Di sisi lain, dia juga kasihan pada Alec. Dean sudah dengar semuanya dari Mom, bagaimana anak itu kehilangan segalanya setelah kedua orangtuanya meninggal, satu diantaranya bunuh diri. Kau tidak bisa tidak menyayangi anak seperti itu, ditambah lagi Alec anak yang sangat manis, dari penampilan maupun kelakuan, membuat Dean ingin memeluknya dan membuatnya tertawa sepanjang waktu. Andai saja Sam sudah cukup besar untuk mengetahui latar belakang adik angkatnya, dia pasti akan merasakan hal yang sama, karena pada dasarnya Sam anak baik yang tidak tahan melihat orang susah. Tapi Mom memutuskan tidak memberitahu Sam, karena cerita orang bunuh diri terlalu menakutkan untuk anak sepuluh tahun.

Dean mengamati Alec yang sedang men-dribble bola keliling lapangan. Dia anak yang cepat belajar, sudah bisa men-dribble dengan baik padahal setengah jam yang lalu dia tidak tahu apa itu ‘dribble’. Menangkap pandangan Dean kepadanya, Alec berhenti dan nyengir malu-malu.

“Aku sudah bisa basket,” katanya bangga.

Dean tertawa. “Belum, dong. Butuh lebih dari dribble untuk main basket. Kau harus belajar shot.”

“Shot?” ulang Alec, alisnya berkerut. Persis Sam kalau lagi bingung. “Apa kita harus menembak sesuatu juga?” ia celingukan, mencari alat untuk menembak di sekitarnya.

“Begini nih yang namanya shot,” kata Dean, mengambil bola dari tangan Alec dan memasukkannya ke ring.

“Oooh, itu! Aku pernah lihat di televisi!” seru Alec kagum, seolah melempar bola ke dalam ring menyejajarkan Dean dengan para atlet. Ia menatap kakaknya dengan mata berbinar. “Kau keren banget!”

“Aku tahu. Para kakak selalu keren,” seringai Dean.

Setelah itu Alec juga mencoba melakukan shot, tapi tubuhnya masih terlalu pendek dan tenaganya kecil sehingga bolanya cuma melambung menyedihkan beberapa senti sebelum kembali ke tanah, atau lebih parah, nyaris kembali ke muka Alec. Wajahnya membentuk ekspresi cemberut lucu, membuat Dean geli sekaligus tidak tega.

“Alec, sini deh. Kugendong kamu biar bisa memasukkan bolanya, ya?”

Untuk sejenak Alec ragu-ragu, tapi kemudian ia tersenyum senang dan duduk di pundak Dean. Karena ia termasuk kecil untuk ukuran anak seumurnya, Dean gampang-gampang saja memunjinya.

“Hitungan ketiga kau lempar bolanya, ya. Satu, dua tiga!”

Dean berjinjit sedikit dan Alec melempar. Bola masuk ke ring dengan mulus, seolah ring itu ada magnetnya. Keduanya bersorak , Alec melongok dari atas kepala Dean dan bilang lagi bahwa dia keren. Mereka mencoba shot lagi beberapa kali, tanpa menyadari Sam yang memandang mereka dengan iri dari kamarnya.

* * *

Mary berusaha mendamaikan Sam dan Alec saat makan malam, sekaligus menunjukkan bahwa meskipun sekarang ia punya tiga anak, ia tetap menyayangi mereka semua. Terbukti dari menu masakan malam itu yang semuanya kesukaan Dean, Sam dan Alec. Sam masih merajuk, ia cuma mau makan quiche-nya, memelototi Alec dengan galak saat ia ingin mencicipi, sehingga anak itu mengurungkan niat dan cuma menghabiskan makarel yang khusus dimasakkan buatnya. Mary menatap Dean putus asa, minta bantuan, tapi anak sulungnya juga cuma mengangkat bahu.

Selesai makan malam, Mary menyuruh Sam dan Alec bermain game bersama, dengan nada seolah itu ide terbaik yang pernah ada. Sam mengeluarkan suara mengejek yang artinya ‘yang-benar-saja’ dan melengos di depan Alec, menggumamkan, “mending juga tidur!” begitu pelan hingga cuma kurcaci itu yang mendengarnya. Ia naik tangga dengan berisik, tapi langsung berhenti begitu mendengar Mary gantian memasangkan Dean dengan Si Jelek.

Lagi-lagi Dean tercabik antara dua pilihan. Di sampingnya, Alec menengadah menatapnya dengan mata besar penuh harap. Di tangga, tersembunyi dari pandangan orang lain tapi terlihat oleh Dean, ada Sam yang menunggu keputusannya dalam diam. Situasi itu seperti soal ujian opsi ganda: mana yang lebih penting? Adik baru dengan masa lalu suram, atau adik kandung yang kesepian?

Mempertimbangkan peristiwa hari ini, juga fakta bahwa ia telah menghabiskan sepanjang sore bersama Alec dan belum bicara sepatah kata pun pada Sam sejak itu, Dean memutuskan, “Maaf, Mom. Aku harus belajar.” Sengaja ia tak menatap Alec agar tak menyaksikan ekspresinya berubah sedih.

Sam cukup terkejut, tapi juga bisa menduga, keputusan Dean. Ia buru-buru melanjutkan perjalanannya ke lantai dua saat melihat Dean keluar dari ruang makan, tidak ingin kepergok menguping pembicaraan. Tapi kakaknya itu tetap berhasil menyusulnya, dan bukannya mengejek, ia malah mengacak rambut Sam sambil terus berjalan.

Merapikan rambutnya, si adik diam-diam tersenyum senang. Jadi, Dean memilih mengurung diri di kamar daripada menyakiti Sam. Mungkin di rumah ini masih ada yang menyayanginya. Mungkin dia tidak akan membenci Dean seratus persen. Mungkin dia bisa menyelamatkan Dean dari pengaruh Alec.

Sam nyengir. Kakaknya memang benar-benar keren.

* * *

Hari-hari berikutnya berjalan tanpa perkembangan yang signifikan. Sam masih tetap resisten terhadap Alec, Alec tidak berani berakrab-akrab dengannya, dan Mary masih berkeras mendekatkan mereka tiap ada kesempatan. Wanita itu meletakkan keduanya dalam satu ruang sesering mungkin, dengan harapan mereka akhirnya akan mengobrol, tapi sejauh ini usahanya belum membuahkan hasil.

Sementara itu, Dean juga menghadapi masalah yang merepotkan. Agaknya ada persaingan tak tertulis antara Sam dan Alec untuk merebut hatinya. Tiap hari kedua anak itu menempel ke Dean seperti anak ayam mengikuti induknya, bersikap manja dan berusaha menemukan permainan lebih seru dengan harapan sang kakak bakal memilih mereka daripada yang lain. Dean jadi paham kesusahan Mary di bulan-bulan pertama kelahiran Sam, saat anak yang satu mau terus diperhatikan tapi yang lain juga tak bisa ditinggal, dan ia tidak mau ada yang merasa diterlantarkan.

Untungnya, Dean sedang sibuk-sibuknya mengurus kegiatan sekolah. Sebentar lagi tim sepakbolanya akan mengadakan pertandingan persahabatan dengan tim dari distrik sebelah, sehingga ia, sebagai seorang kiper, harus latihan intensif tiap hari. Kadang Dean sengaja mengambil jam ekstra hanya untuk menghindari Sam dan Alec. Ia merasa sedikit jahat karenanya, tapi kalau tidak begitu, dia bakal jadi gila sebelum libur musim panas tiba.

Sampai suatu hari, satu hari sebelum pertandingan Dean, mereka mendapat telepon dari South Dakota. Teman dekat John, Bobby Singer, jatuh sakit sampai harus di-opname. Suami istri Winchester pun memutuskan untuk pergi menjenguknya. Sungguh suatu keputusan berat bagi Mary, pergi ke tempat jauh tanpa membawa anak-anaknya karena di negara bagian itu sedang ada wabah pneumonia. Setidaktega apapun ia meninggalkan ketiga putranya tanpa pengawasan, ia lebih tidak tega melihat malaikat-malaikat kecilnya jatuh sakit. Membayangkan mereka terbaring lemah sambil terbatuk-batuk dan demam tinggi saja hampir membuatnya pingsan.

“Jaga adik-adikmu, ya Dean. Mom sudah meminta tolong Bibi Corrie di sebelah untuk membawakan kalian makanan tiga kali sehari, jadi kalian tidak perlu masak. Jangan main api. Jangan nonton televisi kemalaman. Jangan lupa bikin PR, dan bantu adik-adikmu juga. Jaga kesehatanmu, jangan hujan-hujanan, jangan main air, istirahat yang cukup, kau harus tampil prima untuk pertandingan besok. Oh, Dean, Mom menyesal sekali tidak bisa menontonmu….”

“Tidak apa-apa kok, Mom,” jawab Dean sungguh-sungguh. Tiga belas tahun lebih delapan bulan adalah usia di mana kau merasa malu ditonton orangtua dalam pertandingan olahraga.

“Ada uang di laci dapur untuk keadaan darurat, dan nomor telepon yang bisa dihubungi kalau-kalau terjadi sesuatu. Mom akan menelepon kalian setiap malam jam tujuh, oke? Kami akan pulang empat hari lagi, kalian tidak usah cemas, ya? Baik-baik di rumah, jangan bertengkar.”

“Ya, Mom,” jawab Dean, menahan diri untuk tidak memutar bola mata. “Mom juga tidak usah cemas, ya. Kami akan bertahan hidup, kok.” Karena kalau Mom terus panik begini selama bepisah dengan mereka? Dia bisa memutuskan sepuluh atau sebelas saraf otaknya.

Setelah itu Mary gantian menasehati Sam dan Alec, meminta mereka berjanji untuk tidak memanjat pohon, menyeberang jalan hati-hati, dan tidak main-main dekat kolam – padahal mereka punya kolam saja tidak. Ia lalu memberikan ciuman penuh airmata pada ketiga putranya, seolah ia akan pergi empat tahun, bukan empat hari, dan baru masuk mobil setelah John berteriak mereka bakal ketinggalan pesawat kalau tidak buru-buru.

Ketiga cowok Winchester tersenyum lebar dan melambaikan tangan pada orangtua mereka sampai Impala John menghilang dari pandangan. Setelah yakin mereka sendirian, Alec langsung menarik tangan Dean.

“Dean, main basket lagi, yuk? Gendong aku lagi, ya?” pintanya memanja.

Sam menarik tangan Dean yang satunya. “Tidak boleh. Kau tidak dengar ya tadi Mom bilang apa? Dean tidak boleh kecapekan, besok dia ada pertandingan, tahu,” katanya galak. “Main monopoli sama aku aja, ya?” Ia menambahkan pada Dean, melancarkan serangan mata memelasnya.

Dean menghela nafas. Mungkin empat hari lagi, Mom bukan satu-satunya yang harus dibawa ke rumah sakit gara-gara putus saraf.

* * *

“Benda ini seperti makanan ternak.”

Itu ketiga kalinya Sam mengeluh tentang makanan mereka, dan untuk ketiga kalinya, Dean setuju. Sungguh ironis, Mom yang sangat memperhatikan kesejahteraan anak-anaknya menugaskan Bibi Corrie sebagai koki mereka. Tetangga sebelah itu bahkan tidak bisa menggoreng telur mata sapi dengan baik. Malam sebelumnya anak-anak Winchester langsung muntah begitu menghabiskan makan malam yang super-amis itu. Dan pagi itu, dua jam sebelum pertandingan Dean, ketiganya duduk sarapan dengan oatmeal-yang-warnanya-saja-tidak-seperti-oatmeal di mangkuk masing-masing. Rasa benda itu kasar dan menjijikkan seperti pakan ayam. Dean yakin dia bakal mati keracunan di tengah lapangan kalau menghabiskannya.

Cowok itu mendengus dan mendorong mangkuknya jauh-jauh, seolah aromanya saja bisa membuatnya mual – yang memang iya. Ia bangkit dan pergi ke dapur, kembali beberapa menit kemudian dengan sekotak sereal rasa permen karet, senyum kemenangan menghiasi wajahnya.

“Mom bilang kita tidak boleh makan itu,” kata Sam, mengerutkan dahi tak setuju. Itu adalah sereal yang dibelikan John hampir enam bulan lalu waktu ada sales promo di bengkelnya. Sebenarnya sereal itu enak sekali, manis dan legit, tapi begitu Mary melihat komposisi zat pewarna dan pemanisnya, ia langsung memasukkan makanan itu ke daftar terlarang.

“Terserah. Ini lebih baik daripada pakan ayam itu,” ujar Dean, menuang sereal itu ke mangkuk bersih. Melihat ekspresi Alec yang sepertinya pingin sekali, ia menawarkan, “kau mau juga, Alec?”

Alec tersenyum gembira. “Mau!” katanya antusias.

“Aku juga mau,” sela Sam buru-buru. Dia tidak rela kalau Dean dan Alec makan makanan yang sama.

“Ups, sori Sam. Tinggal dua porsi,” cengir Dean jahil, menuangkan sisa sereal sampai potongan terakhir ke mangkuk Alec. “Kau kurang cepat, sih.”

Dean mengira Sam bakal cemberut dan merengek manja seperti biasa kalau Dean menggodanya. Tapi reaksi kali ini sungguh di luar dugaan, adiknya itu marah besar.

“POKOKNYA AKU MAU ITU!” Teriaknya, menggebrak meja. Pipinya memerah dan matanya berapi-api, begitu sangar sampai Alec mundur ketakutan.

“Sam, santai saja kenapa, sih!” tegur Dean agak kesal. “Mau bagaimana lagi, Alec kan sudah minta duluan.”

“KAU MENAWARINYA TAPI NGGAK MENAWARIKU!”

“Well, maaf deh, tapi kukira kau tidak mau tadi, dengan mengutip larangan Mom segala itu!”

“MOM YANG BILANG, BUKAN AKU! SEKARANG AKU MAU ITU!” Sam menendang kaki meja dengan marah, menyebabkan oatmeal mereka tumpah, berceceran mengotori taplak. “HARUSNYA ITU BAGIANKU!”

“SAM! JANGAN SEPERTI ANAK KECIL!”

Sam terdiam, tergugu. Dean membentaknya. Dean, kakak yang selalu menomorsatukannya itu, membentaknya. Untuk sesaat ia hanya bisa menatap sang kakak tak percaya, yang dibalas Dean dengan ekspresi sama. Mereka sampai lupa keberadaan Alec yang gemetar ketakutan di ujung meja.

“Sammy, dengar, aku….” Dean terbata-bata. Dia kelepasan dan kini wajah sakit hati adiknya itu menamparnya.

“Aku benci kamu,” desis Sam, dan Dean tidak menyangka adik manisnya itu bisa mengeluarkan kata yang begitu keras, begitu penuh…. Kebencian. Sam menoleh pada Alec dan berteriak, “AKU BENCI KAMU JUGA! SEMUA INI GARA-GARA KAMU! KAMU DATANG DAN MEREBUT SEMUANYA! KAMU MENGHANCURKAN SEMUANYA, MENGAMBIL SEMUA MILIKKU! HARUSNYA KAMU ENGGAK PERNAH ADA! HARUSNYA MOM ENGGAK MEMBAWAMU KE SINI! AKU BENCI KAMU! PERGI SANA!”

Belum pernah Sam mengatakan hal itu secara gamblang pada siapapun sebelumnya. Dia hanya menyimpan itu dalam hati karena tahu Mom akan marah jika mendengarnya, tapi sekarang kesabarannya sudah habis. Dia sudah muak.

Alec terkejut sampai tak bisa berkata-kata. Kemudian, perlahan-lahan, bibirnya menekuk dan dia mulai menangis. Alec tidak pernah menangis sebelumnya, kadang wajahnya memang terlihat sedih, tapi dia tidak pernah menangis. Dia berlari meninggalkan ruang makan ke kamarnya.

Dean menatap Sam, yang masih berdiri dengan rahang terkatup, lalu menggeleng kecewa. Ia bahkan tidak perlu mengucapkan apapun. Sam tahu kakaknya kecewa dengan sikapnya, dan ia tidak bisa membela diri. Ia hanya menatap dalam diam ketika Dean juga pergi meninggalkannya, menyusul Alec ke kamar.

Sam berdiri sendirian, mengusap mata berkali-kali untuk menghilangkan airmata yang terus menerus merebak. Ia tidak mau airmata itu sampai menetes karena dia tidak cengeng. Sam Winchester tidak cengeng. Dia keras kepala dan kuat dan suatu hari nanti akan jadi pengacara, dan pengacara tidak menangis. Tapi air di matanya tetap membandel, membuat Sam kesal. Ia berlari ke kamar mandi dan membanting pintu, lalu membasuh mukanya di wastafel sampai kaosnya ikut basah.

Sam tidak tahu berapa lama ia mengurung diri di kamar mandi, airmatanya sudah terbilas habis dan ia duduk diam di atas kloset sambil sesekali memainkan tisu toilet. Tiba-tiba ada ketukan lembut di pintu dan suara Dean mengalir seperti bunyi keran yang gemericik.

“Sam, aku pergi dulu, ya. Sebentar lagi pertandingan mulai,” katanya. Ia diam sejenak, menunggu jawaban dari Sam mungkin, tapi Sam tetap diam. Dean mendesah. “Alec masih di kamar. Kalau kalian butuh apa-apa selama aku pergi…. Uang dari Mom sudah kuletakkan di meja makan. Hati-hati di rumah, ya.”

Dean benar-benar seperti Mom, pikir Sam sambil lalu, tapi dia masih tidak menjawab kakaknya. Sunyi lama setelah monolog Dean, dan tepat ketika Sam mengira ia sudah pergi, suara dari balik pintu kembali terdengar.

“Dan Sam? Jangan khawatir. Berapapun adik yang kumiliki, aku akan selalu ada buat kamu.”

* * *

Lama setelah suara pintu depan terbuka dan tertutup menandakan kepergian Dean, Sam akhirnya keluar dari kamar mandi. Pantatnya kebas karena duduk di tutup kloset yang keras dan dingin, dan perutnya keroncongan. Bahkan oatmeal Bibi Corrie pun terdengar lezat saat ini.

Meja makan sudah dibereskan, taplaknya sudah diganti dan mangkuk-mangkuk oatmeal telah menghilang dari pandangan. Yang ada hanya dua mangkuk berisi sereal rasa permen karet, bersanding dengan sekotak besar susu, dan beberapa lembar uang di tengah meja. Sam jadi merasa bersalah pada Dean, yang pastinya makan oatmeal untuk sarapan, atau bahkan tidak sarapan sama sekali sebelum pertandingan. Cowok itu duduk menghadapi mangkuk serealnya, siap menuangkan susu, tapi mengurungkan niat. Alih-alih, ia memasukkan kembali serealnya ke dalam kotak, menyimpannya untuk Dean. Dean pantas mendapatkan itu karena menjadi kakak yang baik.

Sam naik ke lantai dua, memutuskan untuk menunggu Dean pulang sambil membaca majalah atau tidur siang untuk melupakan laparnya. Namun sebelum masuk kamar, cowok itu mendengar isakan kecil dari kamar sbelah.

Heh, masih nangis juga? Pikir Sam heran. Padahal Sam sendiri sudah tidak ingin menangis sama sekali. Ia bahkan tidak marah lagi pada Alec, faktanya, semua perasaan negatif yang meluap-luap tadi pagi sudah lenyap. Sekarang, dia justru agak kasihan sama anak itu. Apa tadi aku terlalu kasar, ya?

Diam-diam, Sam mengintip ke kamar Alec. Cowok itu sedang duduk di kasur, kedua kaki ditarik sampai ke dada dan wajah tersembunyi di balik lutut. Sam jadi ingat dulu, waktu ia masih kecil dan dijahili anak-anak, dan dia menangis begitu di pojok lapangan sekolah, sampai kemudian Dean datang dan membalas anak-anak nakal itu dua kali lipat. Sam menyeringai teringat kata-kata Dean waktu itu. “Awas kalau kalian berani ganggu adikku lagi, bakal kurobek paru-parumu dan kumakan pakai saos sambel!”

“Hei,” panggil Sam pelan, masuk ke kamar.

Alec mengintipnya dari balik lutut, mata bulatnya memerah sehingga dia tampak seperti kelinci. Ia bertanya sambil terisak, “mau apa ke sini?”

“Aku mau…. Cuma mau menemanimu saja,” jawab Sam, duduk di ujung lain kasur. Dia belum siap minta maaf.

“Katanya benci aku,” tuduh Alec.

“Oh, yeah… soal itu. Aku tidak bermaksud begitu, kau tahu. Tadi pagi aku pingin makan sereal dan Dean menggodaku, dan kau dapat sedangkan aku tidak jadi….” Sam mulai membangun alasan, tapi segera menyadari itu sia-sia. Alec memandangnya dingin, ia jadi salah tingkah. “Oke, mungkin aku memang sedikit bersalah…. Tapi aku tidak membencimu. Kesal, mungkin. Tapi tidak benci. Itu intinya, kan?”

Alec masih diam.

Sam mendesah. “Iya deh, aku salah. Aku minta maaf.” Menimbang-nimbang sejenak lalu menambahkan, “aku harus apa? Kau mau apa biar bisa memaafkanku?” Karena begitulah aturan di antara anak-anak Winchester, si bersalah harus memenuhi syarat tertentu agar bisa dimaafkan. Terakhir kali Sam dan Dean bertengkar, Sam mendapatkan sebuah mobil-mobilan keren yang lagi tren.

“Aku mau pulang,” isak Alec sedih.

“Ini rumahmu sekarang.”

“Enggak. Aku mau sama Benny. Aku kangen sama Benny.”

“Siapa Benny? Kakakmu?” Sam tidak pernah mendengar cerita tentang keluarga aslinya Alec – Mom selalu menghindar tiap kali ditanya, mengatakan belum waktunya dia tahu. Ini membuatnya merasa ditinggal karena ialah satu-satunya di rumah yang tidak punya gambaran kenapa Alec sampai diadopsi.

“Bukan. Benny kembaranku.”

“Wow, jadi kau anak kembar?” tanya Sam takjub, “seperti Thompson dan Thomson, dong? Aku Thompson, pakai ‘p’, dan aku Thomson, tanpa ‘p’,” ia mengutip perkataan detektif kembar dari komik favoritnya, lalu tertawa sendiri.

Alec mengangkat kepalanya sedikit, hingga bukan dahinya yang menempel di lutut, tapi dagunya. “Siapa Thompson dan Thomson?” tanyanya bingung.

“Kau tidak tahu? Mereka detektif konyol yang selalu mengikuti Tintin kemana-mana,” jawab Sam, seolah itu adalah fakta yang harusnya diketahui semua orang. Dan memang harus begitu, Tintin kan komik terkenal! Keren lagi!

“Aku dan Benny tidak konyol,” jawab Alec, agak tersinggung. “Mommy bilang kami mirip Perlman dan Chopin. Tapi mereka tidak kembar, Perlman violinis dari Hebrew dan Chopin pianis dari Polandia.”

“Oh, begitu,” tanggap Sam dungu, tak menangkap apa yang diomongkan adiknya. “Kau suka main piano, ya?”

Alec mengangkat bahu sedikit. “Daddy mengajariku dulu.”

“Kau pintar main piano, dong?”

“Sedikit,” jawab Alec malu-malu, tersenyum kecil.

“Hmm, berarti kalau besar nanti kau sekolah di Juilliard?”

“Jelly-yard?”

“Juil-li-ard,” koreksi Sam geli. “Itu sekolah seni terbesar di Amerika, tahu. Musisi-musisi besar sekolah di sana.” Sebenarnya ia sendiri tidak begitu paham, hanya mendengar sekilas tentang tempat itu dari suatu berita pagi, tapi dia ingin terlihat keren di mata Alec. Gengsi dia kalau Alec bisa menyebutkan nama-nama musisi dunia tapi Sam tidak bisa cerita tentang universitas di Amerika.

Alec mengerutkan dahi tanda berpikir, seolah benar-benar mempertimbangkan perkataan Sam. “Mungkin,” jawabnya akhirnya.

“Bagus kalau begitu.”

Keduanya lalu terdiam, kehabisan bahan obrolan. Ini kali pertama Sam dan Alec bercakap-cakap sejak Alec datang, dan Sam tidak mau mengakui, tapi ternyata adik barunya lumayan juga. Tidak semenyebalkan yang ia bayangkan, paling tidak. Mungkin mereka bisa ngobrol sedikit-sedikit lain kali.

“Kau suka apa?” tanya Alec tiba-tiba. Suaranya pelan dan malu-malu, tapi setelah keheningan cukup panjang di antara mereka, tetap saja membuat Sam terkejut.

“Huh?”

“Emm… Kau suka apa? Apa kau suka main musik juga?” Alec mengulang pertanyaannya tanpa memandang Sam. Entah sejak kapan ia sudah tidak dalam posisi mengkeret lagi, sekarang kedua kakinya disilangkan seperti orang bertapa.

“Aku tidak main musik,” jawab Sam, membayangkan dirinya duduk di belakang piano besar dan memencet-mencet tuts membuatnya ingin tertawa. Yang benar saja! “Aku main basket.”

“Aku juga suka basket!” seru Alec senang, mata merahnya berbinar. Tapi melihat ekspresi kaget kakaknya, ia menunduk lagi, tampak malu. “Umm… aku baru suka. Dean mengajariku main.”

“Yeah, aku tahu,” ujar Sam, tak bisa mencegah dengus kecil dari mulutnya. Beberapa hari ini dia memang sering menyaksikan Alec dan Dean main basket dari kamar, sambil terbakar cemburu tentunya.

“Kau tidak marah, kan? Karena aku main sama Dean?”

“Uh, tentu saja tidak,” dusta Sam. Di waktu lain ia akan bilang, ya, dia marah, MARAH sekali karena Alec merebut Dean dan naik ke pundaknya dan tertawa bersamanya dan memasukkan bola bersama, tapi tidak untuk kali ini. Kali ini, dia ingin mereka ngobrol baik-baik, seperti wakil dua negara bersengketa yang tengah merundingkan perdamaian. “Mungkin besok-besok kita bisa main bersama dan mengalahkan Dean.”

“Tidak mungkin. Dean kan tinggiii banget,” kata Alec, menaikkan satu tangan untuk mengekspresikan postur Dean.

“Yeah, mungkin sekarang dia lebih tinggi. Tapi aku yakin bakal mengalahkannya setelah aku mengalami Ledakan Pertumbuhanku.”

“Ledakan Pertumbuhan?”

“Uh-huh. Saat di mana kita tumbuh tinggi secepat batang bambu,” seringai Sam, gembira membayangkan prospek masa depannya. “Saat itu, aku bakal gantian memanggil Dean, Kuntet.”

Alec terkikik geli. “Aku juga mau Ledakan Pertumbuhan.”

“Kita semua bakal dapat, Alec,” senyum Sam. Ia lalu menatap ke luar jendela di belakangnya, ke ring basket yang berdiri gagah di halaman. Masih dengan senyum di wajahnya, ia menawarkan, “mau main basket sekarang?”

* * *

Satu hal yang menyenangkan dari menjadi anak kecil adalah, kau bisa berteman dengan musuhmu secepat menghabiskan sebungkus permen. Pagi tadi Sam masih menganggap Alec hama yang harus disingkirkan, dan siangnya mereka sudah tertawa-tawa bersama.

“Aku enggak akan bisa main basket sebelum Ledakan Pertumbuhanku,” keluh Alec, setelah usaha keduapuluhnya dalam memasukkan bola gagal lagi.

“Kalau berusaha pasti bisa,” hibur Sam, walaupun yeah, dia mengakui, badan Alec yang dua puluh senti lebih pendek dari anak kebanyakan sama sekali tidak membantu jangkauan lemparannya.

“Kalau aku pakai sepatu hak tinggi, baru bisa,” ralat Alec kecut.

Sam tertawa. “Bagaimana kalau main baseball?” usulnya kemudian.

“Baseball?”

“Yep. Kau tidak perlu jadi tinggi buat main baseball. Sebentar, ya.” Sam berlari ke garasi dan kembali beberapa menit kemudian membawa sarung tangan baseball dan sebuah bola kecil. Dulu, sebelum punya ring basket, dia dan Dean menghabiskan tiap sore main lempar bola.

“Nih, pakai sarung tangan ini.” Sam menyerahkan benda berdebu itu pada adiknya. Semoga saja di dalamnya belum dihuni laba-laba. “Aku akan melempar bolanya dari dekat pohon itu. Kau tangkap, ya.”

Ternyata Alec jauh lebih piawai dalam baseball daripada basket. Dia bisa menangkap semua lemparan Sam dan melempar dengan sama baiknya. Ketika ditanya bagaimana ia melakukan itu, Alec cuma mengangkat bahu dan bilang, “ini mirip mengikuti tempo dalam bermain piano. Kau cuma perlu menangkap di saat yang tepat.”

Mereka terus bermain sampai muka keduanya memerah terbakar matahari dan perut berbunyi minta diisi. Bibi Corrrie sudah mengantarkan makan siang (sup bayam yang kelihatannya lebih mirip lumut dari comberan), dan Sam menyendok sayuran lembek itu ke piringnya karena apa boleh buat, dia sudah kelaparan dan hanya itu yang bisa mengganjal perutnya.

Alec melihat kakaknya dengan kasihan, lalu ke semangkuk sereal jatah makan siangnya. Sereal itu bahkan tidak cukup memuaskan laparnya, tapi dia tidak bisa membiarkan Sam menyantap sup mengerikan itu. Bagaimana kalau nanti dia keracunan?

“Sam, mau barengan?” ia menyodorkan mangkuknya ke arah sang kakak.

Butuh seluruh tekad dalam diri Sam untuk tampil sebagai kakak yang keren seperti Dean untuk menjawab, “tidak usah, kau makan saja. Ini juga enak, kok.” Ia menelan sesendok penuh bayam sebagai bukti, dan seketika tenggorokannya bergejolak. Ia memegangi mulut biar tidak muntah.

“Ih, Sam! Kau benar bisa makan sup kotoran sapi itu?”

Cukup sudah. Sam kabur ke toilet dan sebelum sempat membuka tutup kloset, ia sudah muntah duluan.

Sam muncul tak lama setelah itu sambil mengelap mulut dan mengecap-ngecap jijik. “Lain kali jangan ngomong sembarangan lagi, ya.”

Alec nyengir minta maaf. “Sori, keceplosan.” Ia mendorong mangkuknya ke arah Sam lagi, tersenyum manis. “Masih mau barengan?”

* * *

“Kalian benar-benar manis.”

“Diamlah, Dean.”

“Suer, tadi itu momen Kodak banget.”

“Jangan bahas itu lagi.”

“Tunggu sampai Mom dengar, dia bakal nangis terharu.”

“Kalau kau berani cerita….”

“Oh, tentu saja aku bakal cerita, Sam! Kalian makan sereal semangkuk berdua? Super imut!” gelak Dean, menekankan kata ‘imut’ begitu rupa biar adiknya malu.

Sam, Dean, dan Alec sedang duduk di ruang televisi sambil mengudap pizza yang dibeli Dean pakai uang tabungan (makan malam kiriman Bibi Corrie tergeletak terlupakan di dapur). Hari sudah larut, tapi mereka memutuskan untuk melakukan pesta kecil atas kemenangan sang kakak di pertandingan hari itu, pumpung besok hari Minggu dan tidak ada Mom yang menggerecoki. Dean pribadi lebih suka menyebut pesta itu untuk memperingati hari peresmian kakak-beradiknya Sam dan Alec, tapi Sam dengan tegas dan galak dan ancaman merobek poster Batmannya Dean menolak sebutan itu.

“Jadi, kalian sudah baikan, nih?” tanya Dean sambil menyeruput jus jeruknya.

“Iya, tadi kami main baseball bareng. Sam bilang aku ada bakat,” jawab Alec cepat sebelum Sam sempat berkata-kata. Anak itu lalu mengelendot ke abang keduanya dengan manja. “Besok main lagi ya, Sam?”

“Oh Tuhan, bunuh aku sekarang. Please.” Sam menenggelamkan wajahnya ke tumpukan bantal sofa.

Dean tertawa. “Jadi kau enggak mau main basket lagi, nih.”

“Aku sekarang suka baseball,” jawab Alec mantap, seolah baru saja menentukan pilihan hidupnya. “Berkat Sam, aku jadi tahu baseball itu asyik. Dia benar-benar keren.”

“Aku kan sudah bilang, para kakak selalu keren,” seringai Dean, “tapi, aku tetap kakak yang paling keren.”

“Oh, diamlah,” kata Sam, melempar si sulung dengan bantal. Tapi dalam hati ia tersenyum. Belum pernah ada yang bilang dia ‘keren’ sebelumnya. Semua menyebutnya ‘manis’, ‘lucu’, ‘baik’ atau ‘pintar’, tapi tak ada yang bilang ‘keren’. Kata itu hanya diucapkan oleh seseorang yang kagum padamu, yang menganggapmu cukup dewasa untuk menyandangnya. Dan memiliki pengagum pribadi di rumah, seseorang yang selalu menatapmu seolah kau adalah dewa, meniru apa yang kau kerjakan, menganggap benar tiap kata-katamu – tak peduli apakah kau hanya sok tahu atau tidak, juga menyebutmu ‘keren’ karena hal-hal sepele…. Tidak ada penghargaan yang lebih hebat dari itu.

Sam nyengir lebar. Tak heran Dean bisa segera menerima kehadiran dua adiknya.

Punya adik ternyata asyik juga.


END


0 komentar :

Posting Komentar