Rabu, 07 Juli 2010

MIRROR IMAGE CHAPTER 3

Bayangkan kau menerima telepon dari saudara kembarmu yang menghilang selama delapan tahun. Bayangkan kau tiba-tiba mendengar suaranya yang malu-malu di tengah hiruk pikuk bandara, menanyakan kabarmu. Lalu bayangkan kau duduk di sebuah café, menyeruput jus mangga sambil menunggu saudaramu itu datang. Alec akan bereuni dengan Ben. Ia nyaris meledak saking semangatnya.

Sudah tiga hari sejak Alec berpisah dengan keluarganya, tiga hari pula ia tidak menikmati tur Juilliard-nya. Telepon dari Ben itu, yang hanya berlangsung sekitar dua menit, membuat perasaannya campur aduk. Ia bahkan tidak memberi ucapan selamat tinggal dengan layak, wajahnya kosong seperti melamun waktu itu, membuat Mary panik. Wanita itu takut anak bungsunya tiba-tiba sakit dan benar-benar berniat akan tinggal di New York ketika akhirnya Alec mendapatkan kembali kesadarannya. Ia bilang ia cuma agak cemas akan terpisah dua ribu mil dari rumah (“Bayi,” ejek Sam). Kebohongan itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Bukan karena keluarga Winchester melarang Alec bicara tentang keluarga aslinya, lebih karena ia merasa tidak enak hati. Mary dan John pernah bilang, dia tidak harus memanggil mereka Mom dan Dad kalau tak mau, tapi Alec selalu mendapat kesan Mom ingin memilikinya seutuhnya. Jadi selama delapan tahun ini, sebisa mungkin ia tidak mengungkit-ungkit kisah masa lalunya.

Alec menelepon Ben lagi sepulang dari bandara. Mereka ngobrol berjam-jam. Ia tak bisa berhenti tersenyum menyadari saudaranya tidak banyak berubah. Ben, yang kini tinggal di sebuah kota kecil dekat New Jersey, masihlah anak cowok pemalu yang tetap santun meski bicara pada kembarannya sendiri. Atau mungkin itu karena mereka sudah lama tak bertemu, hingga hubungan mereka retak. Begitu terpikir akan hal itu, Alec langsung minta ketemuan. Jangan sampai ia kehilangan orang yang sangat disayanginya hanya karena jarak.

Suara pintu café terbuka menarik perhatian Alec. Cowok itu mendongak dan melihat replika dirinya, dengan kulit coklat terbakar matahari, berjalan ragu di antara bangku-bangku café. Tanpa pikir panjang ia langsung melambaikan tangan penuh semangat, bagai anak kecil melambai pada ibunya dari komidi putar.

“Benny!”

Ben menoleh dan ya, senyum itu, betapa Alec sangat merindukannya. Ia bergegas ke tempat duduk Alec, kemudian terlihat salah tingkah begitu sampai di hadapannya.

“Hai, Alec,” sapanya pelan, nyaris bergumam. Ia tampak ragu sejenak sebelum duduk di kursi yang berhadapan. Sikap malu-malunya membuat Alec ikut grogi, dan itu aneh karena seorang Alec tidak pernah merasa grogi.

“Hai, Benny,” cengir Alec untuk mengencerkan suasana. “Ehm, aku sudah pesankan pancake untukmu. Kau masih suka kan? Pancake? Rasa stroberi?”

“Yeah,” jawab Ben simpel, jelas sekali belum bisa beradaptasi dengan suasana reuni ini. Agaknya Alec harus jadi juru bicara.

Alec berdeham. “Jadi, Benny. Apa saja yang terjadi delapan tahun ini?”

* * *

“…. Aku yakin dia hampir kena serangan jantung waktu itu, dan setelah itu Mom langsung menyuruhku homeschooling,” oceh Alec tentang bagaimana ia berakhir menjalani sekolah di rumah selama lima tahun belakangan, sambil sesekali menguntal donat mini yang dipesannya.

Ben menyimak, menjaga bibirnya terus tersenyum. Cowok itu mengamati lawan bicaranya lekat-lekat, membandingkan Alec kecil yang dikenalnya dengan pemuda penuh semangat yang kini berceloteh riang, persis Rachel kalau dia baru pulang dari liburan.

Ada gelenyar tidak nyaman di hatinya ketika ia menyadari betapa banyak Alec telah berubah. Matanya masih memiliki binar istimewa yang membuatnya tampak lebih polos dari seharusnya, dan ia masih bercerita dengan tangan bergerak kemana-mana – sejak kecil Alec memang selalu ekspresif. Tapi Ben bisa mencium perbedaan tajam, bukan macam perubahan aksen, meskipun aksen Alec benar-benar berbeda dengan yang dulu. Tidak, ia bisa merasakan bahwa kembarannya telah bermetamorfosis hingga nyaris akar-akarnya, dan ada rasa sedih menyadari ia tidak ambil bagian dalam prosesnya.

Inilah yang Ben benci tentang perubahan. Ia pergi, berkembang dan tumbuh dewasa, tapi mengharapkan segala yang ditinggalkannya tetap sama. Ketika menoleh kembali, Alec bukan lagi anak kecil dengan kaos Spiderman yang harus naik kursi untuk cuci tangan di wastafel. Ada bekas luka kecil di dahi Alec yang Ben yakin betul tak ada di sana sebelumnya, dan ia tidak tahu apakah anak laki-laki yang dulu tidur sekamar dengannya ini masih terobsesi pada kelereng, atau apa dia masih menyusup ke ranjang kakak-kakak angkatnya, Dean dan Sam, pada malam-malam berbadai seperti yang dulu menjadi rutinitasnya. Rasanya seperti menonton awal dan akhir sebuah film tanpa mengetahui tengahnya, dan keluar dari bioskop tanpa pernah benar-benar memahami apa yang dialami tokohnya.

“…. Rasanya sekolah di sekolah umum?”

Ben mengerjap. Alec tengah menatapnya dengan pandangan penuh spekulasi, seolah mengharap saudaranya akan menuturkan sesuatu yang fantastis tentang kehidupan sosial di sekolah yang tak pernah dijamahnya. Ben jadi salah tingkah. Dia bukan anak populer di sekolah, dan mendengarkan aktivitasnya bakal sama membosankannya dengan mengikuti pelajaran Sejarah.

“Biasa saja,” jawab Ben, mengangkat bahu. Malah agak menyedihkan, tambahnya dalam hati.

“Ayolah, tidak mungkin ‘cuma biasa saja’,” tukas Alec, memutar bola mata. “Maksudku, kau berbaur dengan anak-anak seumuranmu setiap hari. Pasti menyenangkan.”

Yeah, menyenangkan kalau kau adalah cowok atletis tajir yang bikin cewek terpana. Tapi aku? Pernah dengar istilah ‘tak terlihat’? . Ben berusaha mencari sesuatu dalam kesehariannya yang cukup menarik untuk dibagi. “Hmm…. aku masuk tim baseball.” Yang membuatku terpaksa mundur dari Klub Musik dan meletakkanku di bangku cadangan dalam empat pertandingan berturut-turut.

“Wow, asyik banget!” komentar Alec setengah iri. “Mom tidak mengizinkanku jadi anggota tim. Dia takut aku cedera.”

“Aku bakal menuruti nasehatnya kalau jadi kau,” sahut Ben, teringat semua memar dan pegal yang dideritanya hampir setiap hari.

“Tapi kan bosan main piano terus setiap hari.”

“Setidaknya kau dapat penghargaan untuk itu.” Berkebalikan dengan Ben, yang resital biola terakhirnya adalah saat berumur sepuluh tahun, dan itupun ia tak mendapat penghargaan peserta terbaik, kalah oleh Rachel. Itulah sebabnya dulu mereka bermusuhan.

“Dan setidaknya kau bersenang-senang.”

“Kau nggak akan bilang begitu kalau kau jadi aku.”

“Kau juga bakal mati bosan kalau jadi aku.”

“Percaya deh, privat piano lebih menyenangkan.”

“Menurutku baseball tuh surga anak cowok.”

“Seandainya kamu merasakan apa yang aku rasakan,” desah Alec dan Ben bersamaan.

Mereka berdua berpandangan dengan ekspresi sama persis, hingga seandainya ada orang lewat dan memperhatikan, ia barangkali akan menyangka lewat di depan cermin. Lalu mendadak Alec memunculkan senyum ini, campuran antara seringai licik dan senyuman aha-aku-dapat-ide-hebat yang sangat dikenal Ben. Dulu mereka seringkali dapat masalah gara-gara senyum itu. Ia tak perlu bertanya apa yang terlintas di benak saudaranya.

“Jangan berani-berani menyarankan itu,” kata Ben tajam.

“Aku belum bilang apa-apa!”

“Wajahmu mengatakan segalanya,” jawab Ben, seolah itu adalah hal paling jelas di dunia. “Dan aku tidak mau melakukannya.”

“Bahkan demi saudaramu yang malang, yang harus menghabiskan delapan jam sehari berlatih piano?” Alec pasang tampang memelas.

“Jadi kau ingin aku yang merasakan kemalangan itu?”

“Kau bilang sendiri, kau lebih suka main piano.”

“Bukan berarti aku mau melakukan ide gila yang sekarang sedang menjajah akal sehatmu.”

“Ayolah, tidak akan ada yang tahu, dan kita berdua senang. Kau main piano, aku main baseball. Adil, kan?”

“Aku tidak bisa main piano.”

“Setidaknya kau bakal senang.”

“Kulitku terbakar matahari.”

“Bilang saja gara-gara main di New York.”

“Tidak, Alec,” kata Ben, berusaha mengumpulkan seluruh ketegasan dalam suaranya. “aku tidak akan pernah mau BERTUKAR POSISI denganmu. Titik.”

* * *

Pemenang kontes Juilliard benar-benar dimanjakan. Terbukti dari hotel tempat mereka tinggal, jenis hotel yang kuncinya pakai kartu dan apa-apa tinggal pencet tombol. Satu-satunya yang membuat Ben tidak merasa terlalu canggung ketika diundang ke dalamnya adalah karena Alec tampaknya juga baru sekali ini menginap di hotel mewah.

“Salah sendiri pakai kartu segala, kan jadi gampang hilang!” Alec misuh-misuh sambil memasuki kamarnya, setelah perdebatan kurang mengenakkan dengan resepsionis menyangkut kartu kamarnya yang hilang – untuk keempat kalinya.

Ben mengekor saja tanpa mengutarakan pendapatnya, tahu bahwa opininya tentang siapa yang salah akan membuat Alec makin meledak-ledak. Ia menghenyakkan diri di kasur bulu angsa berseprai ngejreng, matanya merambah sekeliling ruangan.

“Kamar yang bagus,” celetuknya, lebih untuk mengalihkan mood Alec daripada memuji. Tentu saja kamarnya bagus, ini kan hotel bintang lima.

“Yeah, saking bagusnya aku sampai merusakkan korden,” jawab Alec rada sinis, mengangguk ke arah korden yang separo tertutup. “Mereka punya tombol canggih untuk membuka-tutup korden, tapi aku menariknya begitu saja. Jadi macet deh.”

Ben terkekeh geli. Ternyata sikap teledor Alec belum berubah. Ia bangkit untuk melihat pemandangan di luar jendela, dan seketika terkesima. Dua puluh tiga lantai di bawahnya, tampak kota New York dalam temaram senja, lampu-lampu berkelap-kelip bagai lautan kunang-kunang. Betapa beruntungnya Alec mendapat kesempatan tidur di kamar sestrategis ini. Yah, keberuntungan itu memang sebentar lagi jadi miliknya, tapi….

“Benny, lihat sini deh.”

Cowok itu menoleh. Alec tengah duduk di sofa, sebuah laptop menyala di hadapannya. Ia memutar gadget itu agar saudaranya bisa melihat foto-foto yang terbuka. “Ini keluargaku. Sini, kutunjukkan mereka satu-satu.”

Dengan enggan Ben mendekat dan bersila di bawah kembarannya. “Aku masih berpikir ini bukan ide bagus, Alec.”

“Kita sudah mendiskusikan ini sebelumnya,” Alec mengingatkan, “kau setuju bertukar denganku selama seminggu.”

Lebih tepatnya, Alec mengerahkan seluruh kemampuan merayu, merengek, membujuk dan memohonnya sepanjang sore, sampai pada poin di mana kau akan mengira dia sekarat atau apa dan permintaan terakhirnya adalah merasakan kehidupan Ben sebentar saja. Dan Ben, yang dari sananya tidak tegaan, dengan berat hati akhirnya menyetujui. Mereka bakal bertukar tempat selama seminggu. Ben bisa mencium bau busuk bencana sejak rencana itu dipatenkan.

“Lihat, ini Mom dan Dad,” kata Alec, memotong protes Ben yang belum sempat keluar. Ia menunjukkan foto seorang pria berjenggot tengah merangkul wanita berambut keriting pirang di depan sebuah kabin. “Ini foto di kabin hutan. Kami sering ke sana kalau liburan, terutama musim semi. Mom suka aroma hutan saat itu.”

“Mereka kelihatannya baik,” komentar Ben, lega bercampur iri karena saudaranya mendapat keluarga yang sempurna.

Alec mengangguk. “Dad oke. Dia punya bengkel sekaligus toko mobil tua di kota. Mungkin gara-gara itu juga dia suka barang antik.” Cowok itu memutar bola mata. “Yang harus kau waspadai itu Mom.”

“Memang kenapa?” tanya Ben, punggungnya menegang. Jangan-jangan wanita ini suka memukul atau menyiksa Alec atau….

“Mom kayak induk ayam. Dia pikir aku anak enam tahun, bukan enam belas.”

“Oh. Aku paham, kok.”

Alec melotot, tapi memutuskan untuk tidak menanggapi saudaranya. Tidak sekarang. “Lanjut. Nah, kalau yang ini Dean dan pacarnya, Lisa.” Seorang cowok berjaket kulit dengan rambut cepak tersenyum macho pada mereka, dan seorang gadis langsing yang duduk di atas atap mobil memeluknya dari belakang. “Mereka kuliah di Truman. Dean dapat beasiswa karena bikin motor hibrid.” Alec tertawa. “Aku masih ingat ekspresi Sam waktu melihat Dean memereteli mobilnya untuk mempelajari mekanisme mesinnya.”

“Wow.”

“Lisa ini seorang jurnalis. Dia juga salah satu mahasiswa Truman yang menuntut pelarangan pemasangan iklan rokok di sekitar kampus.”

“Hebat.”

“Yeah. Oh, dan mobil yang diduduki Lisa itu? Chevrolet Impala ‘67, kesayangan Dean. Aku rasa ini tandanya hubungannya dan Lisa serius, karena dia cewek pertama yang diijinkan menduduki ‘kepala’ mobil itu.”

“Mmm-hmm.”

Foto berganti ke seorang cowok berjaket kedodoran, senyum ala iklan pasta gigi menghiasi wajahnya. Dilihat dari rasio tingginya dengan ring basket di latar belakang, dia pasti masuk golongan manusia jerapah. “Sekarang, perkenalkan, kakak paling jahil sedunia, Sam Winchester.”

“Memang Dean nggak jahil ya?” Ben penasaran. Muka-muka seperti Dean pantasnya jadi raja iseng.

“Yah, sebenernya sih dia lebih parah. Tapi Dean menarget Sam dan Sam menargetku. Begitulah cara kerja rantai keisengan, Saudaraku.”

“Oke, lanjutkan.”

“Sam kuliah hukum di Universitas Kansas, yang praktis cuma setengah jam dari rumah!” Alec mendengus. “Dan dia mengataiku anak mami. Ugh, ngaca dong!”

“Yeah. Terus?”

“Dia punya pacar juga, namanya Maddie. Aku nggak punya fotonya sih, tapi kau pasti bakal tahu begitu melihatnya. Dia sulit dilewatkan, dengan gaya gipsi dan rambut semir birunya itu.”

“Uh-huh.”

“Sam hobi banget berdebat. Tapi kalau bertengkar sama Maddie, dia kayak orang bisu. Bisanya cuma angguk-angguk dan bilang ‘sori’ sampai kiamat.”

“Hmmm.”

Alec berhenti, memandang saudaranya. Ben mengangkat alis. “Apa?”

“Kasih tanggapannya yang asyik dong.”

“Aku nggak tahu harus bilang apa,” jawab Ben, mengangkat bahu. “Kau sepertinya punya keluarga yang oke. Kenapa pingin tukar segala, sih?”

Pertanyaan itu mau tidak mau membuat Alec rada rikuh. Ben terdengar… yah, agak sinis dan pahit. Dan kenyataan bahwa ia sejak tadi belum menceritakan tentang keluarganya membuat Alec cemas akan kehidupan macam apa yang dialami kembarannya ini.

“Tidak seoke yang kau bayangkan, percaya deh,” Alec berusaha meyakinkan. “Coba kau ceritakan tentang keluargamu.”

“Tidak ada yang menarik, kok.”

“Kau tetap harus cerita, Ben, atau aku bakal ketahuan.”

“Lebih baik begitu,” gumam Ben, dan melihat ekspresi kesal Alec, ia melanjutkan, “oke, oke. Aku tinggal bersama Mom dan Dad, mereka… kau tahu, tidak punya anak.”

“Jadi kau anak tunggal?” Alec mulai membayangkan bagaimana rasanya menguasai segala hal tanpa harus berebut dengan dua kakak yang tak pernah mau kalah, atau dianakbawangkan karena dianggap masih kecil.

“Secara teknis sih, iya.” Ben sendiri masih menganggap ia tinggal dengan Alec kadang-kadang, dan saudaranya itu cuma sedang pergi ke suatu tempat, bukan benar-benar tinggal terpisah darinya. “Malah sekarang, aku sering jadi manusia tunggal di rumah.”

“Maksudmu?”

“Mom masuk tim makeup artis. Karena repot bolak-balik, dia pindah ke L.A. dan cuma pulang waktu Natal.”

“Wow wow wow wow, maksudmu, ibumu bekerja dengan aktris dan aktor Hollywood?” Mata Alec bersinar penuh kagum. “Apa dia pernah mendandani Johnny Deep?”

“Aku rasa belum. Sejauh ini dia belum mengirimiku tanda tangan Jack Sparrow, soalnya.”

“Ibumu mengirimimu tanda tangan aktor dan aktris yang didandaninya?”

“Mmm, begitulah.” Tapi sebagian besar dari mereka bahkan belum pernah diliput majalah.

“Super keren,” desah Alec, masih dengan mata besar layaknya bocah melihat gajah pertama kali. “Lalu ayahmu?”

“Dad kerja di pabrik. Tapi kalau musim panas, dia jadi pengelola Kamp Musim Panas New Jersey.” Kamp itu didirikan oleh ayahnya dan empat orang rekan jauh sebelum Ben diangkat menjadi bagian keluarga itu. Ben telah menghabiskan (baca: membuang-buang) sebagian besar liburannya di kamp itu, dan satu-satunya alasan ia tidak ikut kali ini adalah Liga Baseball Musim Panas yang dibencinya. Ironis.

“Apa itu berarti kau bebas ikut kamp selama yang kau mau? Gratis?”

“Yep.” Gara-gara gratis itu, aku WAJIB ikut setiap tahun. Kayak orang kurang kerjaan saja.

“ASYIK BANGET!” Andai perasaan bisa divisualisasikan, Ben yakin di sekitar Alec bakal muncul semburan kembang api. “Aku belum pernah ikut kamp. ‘Bagaimana kalau kau dijahili anak-anak?’, ‘bagaimana kalau makanannya tidak cocok?’, bagaimana kalau kau tenggelam?’” Alec menirukan suara ibunya yang melengking.

“Aku sih, lebih suka di rumah.”

“Oh yeah, aku lupa, kau pasti lebih suka berduaan dengan cewekmu,” goda Alec.

“Rachel bukan cewekku. Dia sahabatku.” Berapa kali sih ia harus mengatakan itu ke orang-orang?

“Oookeee,” kata Alec, dan Ben mendapat firasat ia tidak percaya. “Apa kau punya sahabat lain?”

‘Tidak’ adalah jawaban yang langsung muncul di benak Ben, tapi ia buru-buru mengeditnya. Bahkan Alec pun tak boleh tahu bahwa ia susah sekali berteman. “Umm… aku cukup akrab dengan Keith, dia teman dari klub baseball.” Sebagai sesama cadangan, pikirnya. “Dan aku juga punya Caesar.”

“Biar kutebak. Ceweknya pasti bernama Cleo.” Nyengir.

“Caesar tuh anjingku, tahu.”

“Kau punya anjing?”

“Rottweiler.”

Hening.

“Ya ampun, Benny,” kata Alec setelah sekian detik diam, menenangkan nafasnya. “Kau punya ibu yang ketemu pemain film setiap hari, ayah yang punya kamp, gabung tim baseball, anjing rotweiller, dan bebas di rumah hampir setiap hari. Aku mau deh kita tukeran seumur hidup.”

Ben menghela nafas. Ini memang bukan ide yang bagus.

* * *

Hari sudah larut ketika mereka akhirnya selesai memperkenalkan kehidupan masing-masing, dari orang-orang tedekat, denah rumah, sampai rute-rute yang biasa dilalui. Ben pamit, dia harus mencari losmen untuk menginap malam ini karena bus terakhir sudah berangkat sejam yang lalu, tapi Alec mencegahnya.

“Mau ke mana?”

“Umm, cari penginapan?”

“Ya ampun Benny, ngapain? Kau tidur bareng aku malam ini, kan?” meski menggunakan intonasi pertanyaan, kalimat itu bisa digolongkan perintah.

“Memangnya boleh?” Ben bergerak-gerak gelisah di depan pintu. “Pihak hotel nggak melarang? Ini kan kamar buat satu orang.”

“Percaya deh, anak-anak lain membawa setidaknya separuh teman mereka kemari. Mereka semua tidur di satu kamar, kayak jejeran mayat.”

Ben tertawa kecil. “Tapi cuma ada satu tempat tidur.”

“Awww, Benny, aku terpukul. Kau tidak mau seranjang denganku lagi?” Alec menarik mulutnya sedemikian rupa, mata hazelnya mengerjap-ngerjap.

Ben benar-benar tertawa lepas kali ini, dan ia pun kembali duduk di kasur. “Oke, aku akan tinggal.” Ia menyusup ke bawah selimut.

“Begitu dong, pakai malu-malu segala.” Alec memposisikan dirinya di samping Ben. Mereka berdua berhadap-hadapan, seperti waktu kecil dulu. Baru sekarang ia menyadari betapa ia merindukan saat-saat itu.

“Aku tidak malu. Sejak dulu gaya tidurmu buruk,” jawab Ben, “awas saja kalau kau sampai menendangku. Aku bakal mundur dari permainan bertukar-posisi ini.”

“Ancaman kosong.”

“Beneran! Nggak percaya?”

“Nggak.”

Ben mendengus dan menendang saudaranya di bawah selimut. Alec tertawa.

“Aku sudah nggak sabar pingin segera jadi kamu.”

“Aku masih berpikir ini bukan ide yang bagus.”

“Kita sudah mendiskusikan ini sebelumnya,” balas Alec, lalu diam. “Apa kita harus mengulang kalimat itu berkali-kali?”

“Kalau itu bisa mengubah pikiranmu, ya. Tapi kelihatannya sia-sia.”

“Benar. Jadi terimalah keadaan.” Alec mematikan lampu. Seketika ruangan jadi gelap gulita, masing-masing dari mereka hanya bisa melihat mata cerah saudaranya. “Malam, Benny.”

“Malam, Alec.”


TBC

0 komentar :

Posting Komentar