MIRROR IMAGE CHAPTER 12
Seluruh stadion bergetar oleh euforia pertandingan. Penonton gegap gempita meneriakkan dukungan pada tim andalan mereka, dan para pemandu sorak menyanyikan yel-yel penyemangat pada para pemain yang masih di dalam ruang ganti. Namun semua suara itu hanya berbunyi satu bagi Ben: “tamat kau, Ben Anderson! Tamat, tamat, TAMAT!”
“Oke, anak-anak,” kata Pelatih, menepukkan kedua tangan untuk menarik perhatian tim pada wejangan pra-pertandingannya. “Kita sudah kerja keras untuk hari ini. Lakukan yang terbaik dan babat kecebong-kecebong itu!”
Sorakan persetujuan bergema di ruangan itu.
“Dan kau Anderson,” tunjuk Pelatih pada Ben yang sengaja berdiri di belakang menghindari perhatian, “ingat kata-kataku. Menang atau minggat.”
Tamat, tamat, tamat….
Pelatih meninggalkan ruangan dengan dada membusung ala pria sejati, berteriak agar anak-anak didiknya segera mengikuti. Namun Dany, si wakil ketua tim yang otomatis naik pangkat jadi pemimpin begitu Mario lengser, menghimpit Ben sampai cowok itu terjepit antara loker dan badan bongsornya, dan mencengkeram bagian depan kaos Ben dengan mengancam.
Tamat, tamat, tamat, tamat….
“Awas, Benny Boy. Kalau sampai kau mengacaukan pertandingan ini, kami bakal memastikan kau enggak akan, kuulangi, enggak akan pernah melihat hari esok. Catat itu baik-baik di otak bonsaimu yang tolol.”
Ben cuma bisa mengangguk tanpa suara, mulutnya terlalu kering untuk memproduksi kata-kata. Dany tersenyum sadis dan menggebrakkan tubuh Ben ke loker, lalu berlalu menyusul rekan-rekannya. Ben menatap kepergiannya, seluruh tubuhnya gemetar hebat. Ia melorot lemas ke lantai, menekuk lututnya sampai dada dan menyembunyikan wajahnya. Tamat, tamat, tamat, TAMAT, TAMAT!
Ben tidak tahu berapa lama ia bertahan dalam posisi itu, terlalu fokus pada permohonan agar siapapun yang mendengarnya di atas sana mau menyelamatkannya. Sungguh, pada saat ini ia lebih memilih terjadi gempa dan tertimpa reruntuhan ketimbang harus menghadapi lawan di luar sana.
“Ben?”
Cowok itu terkejut oleh sentuhan di bahunya. Ia mendongak dan bertatapan dengan sepasang mata yang identik dengan miliknya.
“A… Alec?” ia tergagap, tak mempercayai matanya. “ALEC?!”
“Enggak usah teriak-teriak begitu,” kata saudaranya, seolah mengharapkan Ben bisa bersikap sesantai dia. Cowok itu merendahkan diri dan duduk bersila di hadapan Ben.
“Sedang apa kau… Bagaimana kau….?!”
“Kalau soal bagaimana dia masuk, kami lewat pintu belakang yang tersambung ke Klinik.”
Ben menoleh begitu cepat ke suara yang amat familiar itu. Rachel tengah bersandar di salah satu loker, kedua tangan terlipat, bibir bawahnya menekuk naik menunjukkan bahwa ada yang membuatnya kesal tapi sedang ditahannya.
“Race?!”
“Hai, Ben.” Ia menelengkan kepala melihat mata Ben yang agak membiru. “Kenapa matamu?”
“Kena bola. Dengar, aku… soal tempo hari aku minta maaf, bukan aku yang… DIA!” Ben menunjuk Alec dengan nada menuduh. “…anak bego ini yang menciummu di Taman Bermain!”
Pipi Rachel memerah sedikit. “Aku sudah tahu,” dengusnya sebal, mendelik pada Alec, yang sedang mengatakan ‘aku enggak bego’ dalam gumam. “Dan aku juga tahu dia yang bikin kau masuk tim inti.”
“Yeah, omong-omong soal itu,” kata Ben, menoleh kembali pada Alec. “Akhirnya kau datang juga. Untung masih keburu. Sekarang kita bisa tukar tempat.” Ia menghela nafas lega. Mungkin riwayat hidup Ben Anderson masih bisa berlanjut.
“Enggak, Ben!” seru Alec mentah-mentah, mencegah saudaranya itu melepas seragam baseball.
Ben mengangkat satu alis penuh tanda tanya. “Apanya yang enggak?”
“Aku enggak akan menggantikanmu. Kau harus main sendiri.”
“APA?! Kenapa?!”
“Mom melarangku.”
“Yeah, ‘Mom melarangku’. Sejak kapan kau jadi anak penurut, huh? Semua kekacauan ini terjadi gara-gara kau jadi anak bandel dan aku enggak mau menanggung akibatnya, terima kasih. Kau harus main.”
“Enggak. Dengar, tadinya aku juga berpikir begitu, dan setelah Mom melarang pun aku masih berniat melakukannya, tapi….”
“Tapi apa? Jangan bilang kau grogi lihat penonton sebanyak itu, karena itu enggak ada apa-apanya dibanding perasaanku sekarang.”
“Ayah dan ibumu menontonmu!”
“Satu lagi alasan agar kau yang main. Aku enggak bisa mengecewakan mereka, Alec.”
“Dan kau memilih bohong?”
“Enggak bakal ada yang tahu!”
“Yeah, benar,” desah Alec, menggelengkan kepala. “Itulah masalahnya. Kali ini memang enggak ketahuan, tapi kau mau bohong sampai kapan? Aku enggak bisa menggantikanmu terus, lho. Kau panik gara-gara aku memasukanmu ke tim dengan kemampuanku. Menurutmu apa yang bakal terjadi kalau aku yang main sekarang?”
“Mereka bakal mempertahankanku dalam tim,” desah Ben, tahu dia kalah berdebat.
“Dan kalau ada pertandingan saat aku sudah kuliah di Juilliard?”
“Kurasa aku bakal bunuh diri. Dan bakal menghantuimu sepanjang sisa hidupmu.”
Alec tertawa kecil dan menepuk-nepuk pundak saudaranya. “Paham maksudku? Aku tahu ini salahku dan aku benar-benar minta maaf. Aku akan melakukan apa saja – kecuali turun ke lapangan – agar kau mau memaafkanku.”
Ben mendengus, kedengarannya seperti dia ingin menangis dan tertawa sekaligus. “Karena kau sudah mengecualikan syaratku, tidak, kau tidak perlu melakukan apa-apa.”
“Enggak seburuk itu setelah kau menjalaninya, kok. Percaya deh.”
“Yeah, gampang saja ngomong begitu karena bukan kau yang diancam hukuman mati oleh seluruh tim PLUS Geng Mario dan terancam enggak punya teman sepanjang tahun seniormu.”
“Soal Mario dan gengnya kau enggak perlu khawatir. Biar aku dan abang-abangku yang mengurus,” cengir Alec sok pahlawan.
“Dan soal teman, kau enggak akan seratus persen sendirian,” timbrung Rachel, membuat si kembar terkejut – mereka telah melupakan keberadaan cewek itu. Namun ia hanya tersenyum manis (yang menyebabkan jantung Alec melompat-lompat di rongga dadanya) dan berkata tulus, “kan, masih ada aku.”
“Dan aku,” sambung Alec.
“Kalian tidak dihitung,” jawab Ben, tapi balas tersenyum kecil.
“ANDERSON! SEDANG APA KAU?!” suara Pelatih mendentum dari pintu masuk.
Ketiga anak itu langsung panik mendengar langkah-langkah berat Pelatih makin mendekat. Ben menemukan sebuah celah di antara loker-loker, mendorong Rachel dan Alec ke dalamnya tepat waktu.
“ANDERSON, CEPAT KE LAPANGAN! SEMUA SUDAH MENUNGGU!” aum Pelatih.
“Baik, Sir,” jawab Ben, mengambil topinya dan bergegas mengikuti pelatihnya.
“Psst, Benny,” panggil Alec pelan. Ben menoleh. Cuma kepala Alec yang menyembul dari balik loker-loker, entah karena takut ketahuan Pelatih atau karena dia terjepit dan tidak bisa mengeluarkan diri.
“Apa?”
“Nanti, kalau mau mukul bola, bayangkan kau mengikuti ritme musik. Kau harus memukul di saat yang tepat untuk menghasilkan nada yang pas.”
Ben mengangkat alis. Kalau memukul bola segampang itu, dia sudah jadi Dewa Baseball sejak dulu.
“Itu selalu berhasil buatku,” jawab Alec, sambil mengangkat bahu juga menurut bayangan Ben.
“Akan kuingat itu,” ujar Ben, lebih untuk menyenangkan kembarannya daripada yang lain.
“Bagus. Semoga sukses!” seru Alec, mengacungkan jempol. Ben tersenyum dan meninggalkan ruang ganti diiringi suara Rachel dan Alec yang saling cek-cok. Yep, mereka memang terjepit.
* * *
“Nah, selesai. Kau harus mengganti plesternya dua kali sehari biar tetap bersih, ya.” Jess menepuk-nepuk pelan luka Sam yang terbalut plester dua kali lebih besar dari luka aslinya.
“Memangnya separah itu,” kata Sam begitu pelan hingga Jes yang sedang merapikan kembali kotak pertolongan pertamanya tidak dengar. “Makasih, omong-omong,” ia menambahkan, bukti kesuksesan ajaran sopan santun ibunya.
Jess mengerutkan hidung dan tersenyum lucu. “Enggak masalah,” jawabnya.
Terdengar suara ‘ting!’ keras dari dapur dan cewek itu bangkit berdiri. “Paiku sudah matang, tuh. Kau mau mencicipi dulu sebelum ke pertandingan?” tawarnya.
“Oh, aku….” Sam merasa kurang pantas, makan di rumah orang yang tidak dikenal, apalagi dia cuma berdua saja dengan Jess. Tapi kemudian ia mencium aroma manis pai yang membuat mulutnya basah oleh air liur dan berubah pikiran. Ada baiknya dia mengisi perut dulu sebelum berangkat – lagipula, dia butuh tenaga ekstra untuk mencari-cari sekolah Ben yang, Sam baru sadar, tidak ia ketahui tempatnya.
“Kalau enggak merepotkan,” kata Sam basa-basi.
Jess tertawa indah, terdengar seperti denting lonceng-lonceng kecil. “Enggak, kok. Ayo ke dapur.”
Aroma kue semakin kaya saja di dapur. Perut Sam berbunyi, dan meski cowok itu meyakinkan diri bahwa cuma dia yang mendengarnya, Jess memberinya sepotong besar pai sambil tersenyum-senyum geli.
“Bagaimana?”
“Luar biasa,” jawab Sam dengan mulut penuh. “Ups, sori,” tambahnya ketika sebongkah pai jatuh dari mulutnya. Jess cuma tertawa.
“Kau pintar masak, ya?”
“Ibuku yang pintar. Aku belajar darinya sebelum berangkat ke Juilliard, biar enggak kangen masakannya terus.”
“Kau anak Juilliard juga?”
“Yep. Kau juga?”
“Bukan, tapi Alec masuk sana tahun ini. Dia menang kontes.”
“Oh! Jadi Ben ke New York gara-gara itu? Mau ketemu Alec?”
“Yeah, kurasa awalnya begitu. Kasihan, dia jadi korban ide gilanya Alec.”
Mereka berpandangan lalu tertawa. Sulit untuk menganggap serius situasi yang menggegerkan keluarga itu kalau orang yang bersangkutan tidak ada. Kalau dipikir-pikir malah kocak – bisa-bisanya dua orang anak bertukar posisi dan tidak ada seorangpun yang tahu?
“Jadi…. Kau sudah tahu ceritanya?” tanya Jess setelah tawanya reda.
“Yeah, dari sudut pandang Alec saja, tapi. Dan aku enggak tahu sesubjektif apa itu.”
“Ceritakan padaku,” pinta Jess penasaran.
Pipi Sam memerah. “Aku enggak pandai bercerita,” gumamnya, teringat cemooh Maddie: ‘Kau ini gimana sih, masuk fakultas Hukum tapi kalau cerita kok enggak ada greget-gregetnya sama sekali!’
“Oh ya? Aku juga,” kata Jess, “Race bilang aku kalau cerita kayak guru mendikte. Bikin ngantuk.”
Memang tidak selucu itu, tapi Sam tertawa sampai keluar airmata. Sudah lama sekali rasanya dia tidak tertawa mendengar gurauan seorang cewek – pertama karena Maddie makin jarang bercanda, kedua karena sumbu pendek Maddie langsung tersulut kalau melihatnya ngobrol dengan cewek lain, termasuk dosennya! Padahal siapa juga yang doyan Prof. Harper, yang sudah kawin-cerai tiga kali?
“Tapi kau jelas pandai melucu.”
“Oh ya? Tunggu sampai kau dengar Rachel ngomong. Dia bahkan bisa membuat Ben terpingkal-pingkal.”
“Wow. Itu baru tukang banyol. Jangan-jangan dia kembaran ketiga dari Alec.”
“Mungkin. Slebornya sih, sama. Sori,” Jess menambahkan begitu sadar dia menjelek-jelekan adik orang lain.
“Ah, santai saja. Memang dia begitu, kok,” senyum Sam. “Oh, ya. Kau kuliah apa di Juilliard?”
Keduanya pun berbincang-bincang seru, hanya terhenti sebentar saat orangtua dan adik bungsu Jess pulang (Sam agak ngeri melihat roman muka ayahnya Jess yang mendapati putri cantiknya berduaan dengan cowok aneh berambut semi-biru, tapi cewek itu berhasil meyakinkan bahwa semua ‘aman-aman saja’). Mereka lalu melanjutkan ngobrol di teras rumah, dan Sam, walaupun ingat harus menyusul keluarganya, tiba-tiba jadi malas pergi dan memilih menemani Jess yang tinggal di rumah karena tidak mengerti apa-apa soal baseball.
* * *
Gara-gara terjepit di belakang loker, Rachel dan Alec melewatkan satu putaran pertandingan. Oke, sebenarnya untuk membebaskan diri cuma butuh kurang dari lima menit. Yang bikin lama itu karena mereka pakai bertengkar dulu (“kau menginjak kakiku!” “dan kau mencubit lenganku!” “bukan aku, kau kegores paku, tahu!”), menyebabkan keduanya jadi banyak gerak dalam celah yang sempit, dan menjatuhkan sederet loker yang menyembunyikan mereka. Untung saja teriakan penonton di luar sangat keras sehingga mereka tidak ketahuan.
“Semoga saja barang-barang di dalamnya enggak rusak,” gumam Rachel sambil membersihkan kedua telapak tangan setelah mengembalikan loker sederet-isi-tiga itu ke tempat semula.
“Ah, palingan cuma isi baju ganti,” kata Alec cuek. “Udah yuk, balik. Aku enggak mau ketinggalan nonton.”
Tidak sulit menemukan keluarga Winchester dan Anderson di antara kerumunan penonton. Mereka memilih tribun paling depan, dan lagipula, di manapun Dean duduk, di situ pasti banyak cewek-cewek ngumpul, entah hanya meliriknya malu-malu (atau takut-takut, kalau yang sial kepergok Mary) maupun yang terang-terangan merayu. Alec tersenyum simpul melihat Mrs Berrisford, mukanya cemberut dan memakai cardigan musim panas untuk menutupi pakaiannya. Bisa ditebak deh, siapa yang nyuruh.
“Kalian kemana saja, sih?” tanya Dean ketika Alec dan Rachel menyisip di sebelah kirinya.
“Melakukan ini-itu,” jawab Alec penuh teka-teki. Rachel tidak menjawab karena sedang mencari-cari posisi Ben.
“Tunggu. Kau Alec, kan?” Dean menyipitkan mata curiga.
“Yeah, Dean. Aku orang yang menggantung celana dalam Snoopy-mu di pintu kamar waktu Jo Harvelle main ke rumah kita.”
Alec menerima tempeleng di kepala untuk umbaran aibnya itu, sementara Rachel menggosok-gosok hidung menyembunyikan tawa.
“Bagaimana skornya?”
“Seri. Tim Ben main dengan prima, tapi lawannya juga enggak kalah canggih. Mereka punya dua pentolan yang sempat lolos dua puluh besar Pemain Junior Nasional.”
“No way,” kata Alec, menepuk dahinya. Seleksi Nasional? Kalau itu, Alec saja belum pasti bisa menang. Bukannya menyombongkan diri, sih.
Tidak terima oleh kata-kata putus asa dua cowok di sampingnya, Rachel meloncat bangun dari bangkunya dan berteriak lantang, “BEEEENN!! JANGAN MAU KALAAAH!!! MAJUUUU!!”
Ini menginspirasi Mrs Anderson, dan segera saja wanita itu ikut-ikutan. “BEENNYYY!!! AYO SAYANG, KAMU PASTI BISA! I LOVE UUUUU!!!”
Habis pertandingan, Ben pasti bakal kena gosip suka menjerat cewek lebih tua.
* * *
Suasana pertandingan makin panas begitu Tim Ben (namanya Wilder Wolf, Rachel memberitahu, dan Alec merasa bersalah karena hal pertama yang terbesit di benaknya adalah ‘nama itu tidak cocok untuk Ben’) mengungguli satu angka. Tim lawan naik darah dan menunjukkan kemampuan maksimal mereka, membuat Wilder Wolf kewalahan. Menjelang akhir pertandingan, kedua tim kembali seri dengan seorang pemain Wilder Wolf – Cormac – terpaksa ditarik karena cedera terkena bola.
“Siapa pemukul penggantinya?” tanya Alec cemas, berharap perhitungan gilirannya salah. Kenapa, pada saat menentukan seperti ini, yang dapat giliran harus….
“Ben,” jawab Rachel tegang, meremas-remas ujung pakaiannya. “Ben yang maju. Oh Tuhan, oh Tuhan, oh Tuhan….”
Alec menatap tanpa berkedip ketika kembarannya memasuki lapangan. Deret keluarga Winchester dan Anderson tiba-tiba sunyi, Mrs Anderson berhenti menjerit-jerit seperti gadis remaja melihat konser penyanyi idolanya, Mary berhenti men-ck-ck-ck-i kelakuan Mrs Anderson, bahkan Dean pun sepertinya menahan nafas saking tegangnya.
Ben tampak begitu kecil di tengah lapangan yang luas, dan Alec teringat masa lalu ketika ia dikepung anak-anak yang dua kali lebih besar daripada dirinya. Sekarang tingginya dan Ben memang sudah sama dengan cowok-cowok sebaya mereka, tapi di tengah permainan baseball dengan lawan sebesar Hulk-mini, Ben terlihat seperti batang lidi. Rasanya seolah Alec menonton reka ulang adegan masa kecilnya dan dia ingin melompat masuk ke lapangan, berdiri di samping Ben untuk menjaganya sebagaimana Dean dan Sam menjaga Alec waktu itu.
Sang pitcher mengambil ancang-ancang, lalu melempar bola. Pukulan Ben meleset jauh – dia baru mengayunkan tongkatnya saat bola sudah diterima catcher yang berjongkok di belakangnya.
Alec langsung lemas, di sebelahnya Dean menghela nafas keras, seolah teriakan “strike!” di bawah mengejutkannya seperti gelegar petir. Tangan Rachel yang berkeringat menggenggam tangan Alec erat-erat tanpa sadar, mulut cewek itu komat-kamit dalam do’a tak terputus.
“DASAR GOBLOK, BEGITU SAJA MELESET, ENGGAK PUNYA MATA, APA?!”
Kedua keluarga otomatis menengok ke sumber suara menyakitkan hati dan telinga itu. Mario tengah duduk dengan gaya bos besar di tribun tiga deret dari mereka, menyantap hotdog dengan tangan kiri sementara tangan kanannya yang dibebat sengaja dipamerkan penuh gaya. Kroni-kroninya terkekeh, menciptakan senyum congkak di wajah Sang Serigala Hitam.
Tidak ada yang lebih diinginkan Alec daripada menerkam Mario saat itu juga dan memukuli mukanya sampai tidak bisa dibedakan dengan kentang tumbuk (walaupun tidak mungkin bisa karena Alec tidak jago berkelahi, tapi yang penting kan niatnya). Namun ia hanya mengepalkan jemarinya erat-erat sambil merapalkan deret hitung dalam hati, berusaha tidak mempedulikan hinaan-hinaan Mario yang pasti membuat Mr dan Mrs Anderson panas. Dia tidak bisa membuat ulah dan mengacaukan momen penting dalam hidup saudaranya.
Tepukan di bahunya membawa Alec kembali dari meditasi sementara. Cowok itu menengadah menatap abangnya yang tersenyum memuji. “Bagus begitu. Diamkan saja mereka, kita urus belakangan,” kata Dean bijak, dan untuk kesekian kalinya semenjak menyandang nama Winchester, Alec merasa Dean benar-benar keren.
Bola kedua dilempar. Alec berjengit ketika teriakan “strike!” itu berkumandang lagi. Rachel merintih pelan, dan samar-samar Alec mendengar Mr Anderson memohon-mohon, “Oh Tuhan, menangkanlah putraku dan aku janji bakal menghafal nama seluruh anak di Kamp!” Mario dan kawan-kawan tidak lagi memaki untuk lucu-lucuan, melainkan benar-benar marah karena kejayaan timnya terancam.
Beruntung pitcher lawan sangat sportif. Sebelum lemparan ketiga, ia memberi waktu bagi Ben untuk konsentrasi. Namun waktu yang diberikannya belum cukup, dan Ben mengangkat tangan meminta perpanjangan sedikit. Sang pitcher menoleh menatap wasit, yang mengangguk, dan ia pun menegakkan diri dari sikap ancang-ancang.
Bahkan dari kejauhan pun Alec melihat, atau mungkin lebih tepatnya merasakan, bagaimana Ben gemetar hebat. Semua orang merasa grogi di pertandingan perdana mereka. Alec juga dulu begitu. Dia oke-oke saja waktu resital, tapi di turnamen dia begitu grogi sampai lupa separuh lagu yang dibawakannya. Usai tampil ia lari ke belakang panggung sambil menangis, bersembunyi dalam pelukan ibunya yang menanti dengan kata-kata penghiburan. Hanya saja yang menanti Ben bukan pelukan kasih sayang, melainkan cercaan tanpa ujung dan kepalan tinju. Alec ingin memutarbalik waktu dan membekap dirinya yang tadi menyuruh Ben maju ke pertandingan, lalu menggantikan kembarannya.
“Alec, Ben melihat ke sini,” bisik Rachel membuyarkan lamunan Alec.
Cewek itu benar. Ben memang sedang menatap ke tribun mereka, entah bagaimana pula dia menemukan posisi kembarannya di antara kerumunan penonton. Alec setengah berasumsi Ben bakal menunjukkan tatapan benci dan menuduh, tapi ternyata tidak. Yang terpancar dari wajahnya hanyalah keputusasaan, jika dilihat lebih dekat matanya pastilah berkaca-kaca memohon pertolongan.
Dan Alec memberikan pertolongan terbaik yang bisa diberikannya dari bangku penonton, ketika ia sulit dibedakan dari orang-orang lain kalau dia tidak berdiri tegap dan menatap Ben lurus-lurus. Ia mengacungkan telunjuk dan menggerak-gerakkan tangannya ke kiri-kanan seperti gerakan menari Sayonara. ‘ritme,’ ia berkata tanpa suara. ‘Pukul sesuai ritme.’
Wajah Ben kosong sejenak, lalu sebuah senyum merekah di wajahnya. Senyum itu masih penuh keraguan, tapi setidaknya ia tak lagi tampak putus asa. Ia mengangguk pada pitcher, meregangkan kaki dan mengangkat tongkat dalam posisi siap.
Waktu terasa diperlambat ketika bola ketiga melayang di udara. Keringat Alec mengalir pelan di garis tulang punggungnya, seolah ikut menunggu momentum bersejarah itu. Suara-suara di sekelilingnya kini hanya berupa dengung tak bermakna, satu-satunya suara yang ia dengar adalah nafasnya yang menderu. Alec tidak tahu darimana dia tahu, tapi dia yakin nafasnya senada seirama dengan Ben.
Kemudian bunyi ‘tung!’ nyaring menggetarkan udara. Tribun penonton bergetar oleh teriakan salut, Rachel menjerit sekencang-kencangnya, dan Alec juga, ketika menyaksikan bola itu terpantul ke sudut jauh lapangan. Ben tampak sama tercengangnya dan untuk sepersekian detik ia hanya berdiri saja di posisinya, tapi kemudian Rachel berteriak, “BEEENNN!!! LARIII! LARIIIIII!” sekuat tenaga, ditiru oleh keluarga Winchester dan suami istri Anderson, dan segera saja Ben melesat menuju base aman, berlomba dengan bola yang melayang kembali ke arena permainan.
Ben melompat dengan gaya harimau menubruk mangsa dan menyentuh base dua detik sebelum bola sampai. Peluit wasit berbunyi nyaring, papan penunjuk skor berkedip berganti angka, speaker nyaris meledak oleh teriakan komentator yang meski harusnya bersikap objektif tetap tak bisa menahan kegembiraan karena dia sendiri alumni sekolah Ben.
“WILDER WOLF MENANG DI SAAT-SAAT TERAKHIR! PENYELAMATAN YANG INDAH OLEH BEN ANDERSON! WILDER WOLF MENANG!”
Alec mungkin tidak akan bisa bicara satu minggu ke depan, namun ia tak peduli. Ia berteriak sampai jakunnya bergetar, meninju udara seperti orang gila. Rachel memeluknya dengan refleks sambil menjerit-jerit “DIA BERHASIL! DIA BERHASILL!! AAAHHH! DIA BERHASIIIILLL!” Dan baru melepaskan diri setelah Alec menunduk menatapnya, pipi keduanya sudah merah semu hitam. Tidak ada yang memperhatikan tapi, karena yang lain sibuk merayakan kemenangan dengan cara masing-masing: Dean berdiri di bangku penonton dan berteriak-teriak sambil berkali-kali mengirimkan kiss-bye ke langit seolah ialah yang mencetak skor kemenangan, Mrs Anderson melepaskan cardigannya, memutar-mutarnya seperti laso – mengalihkan perhatian sebagian besar cowok – dan menjerit-jerit “ITU ANAKKU! ITU ANAKKU! BEEEENNN!! I LOOOOVE UUUUU!!!” lalu Mr Anderson berjongkok dan istrinya naik ke pungggungnya dan mereka berteriak histeris bersama-sama seperti sepasang shaman kesurupan, tapi tak ada yang menegur. Bahkan Mary pun berpelukan dengan John penuh haru dan ‘meloloskan’ tingkah orangtua Ben yang ekstrim.
Para pemandu sorak mulai melolong, yel-yel kemenangan khas Wilder Wolf, dan para pendukung segera mengikuti. Rachel meletakkan kedua tangan di depan mulut membentuk corong, meneriakkan “aaaaaauuuuuuuuu!!!!” panjang. Dean ikut-ikutan, dengan gayanya sendiri tentu, dan dia mengeluarkan lolongan serigala menatap bulan: “aaaaauuuuu-ah-ah-aaaaauuuu!!!!” Itu langsung jadi tren di antara cowok-cowok yang menganggap Dean keren dan cewek-cewek yang terpesona olehnya.
Tapi yang paling membuat Alec bahagia, adalah melihat Ben diterjang rekan-rekannya dan diusung beramai-ramai. Wajahnya terlihat begitu gembira, ia tersenyum lebar dan tertawa tanpa beban. Pada suatu titik mata mereka bertemu pandang, dan Ben mengacungkan jari telunjuk, menggerakkan tangannya seperti yang dilakukan Alec tadi.
Alec tertawa.
* * *
Malamnya diadakan pesta besar-besaran di rumah Ben. Yah, tidak besar-besar amat sih, soalnya yang diundang cuma keluarga Berrisford dan Winchester (tadinya Mrs Anderson mau mengundang seluruh tim juga, tapi Alec masih belum bisa memaafkan ancaman mereka pada Ben – walaupun Ben sendiri sudah – jadi Alec kembali memanfaatkan bakat provokatornya pada sang tuan rumah), tapi hidangannya benar-benar mewah dan mereka merayakannya di halaman belakang rumah sehingga rasanya seperti pesta megah.
Alec dan Rachel mengambil suplai makanan dan memojokkan diri di bawah pohon, sementara para orangtua ngobrol seru – Mrs Anderson berpenampilan rapi kali ini, untuk menghormati ibu-ibu yang lain – dan Ben terjebak di antara mereka sebagai Sang Bintang Pesta, yang harus menjawab pertanyaan bertubi-tubi sambil tetap bersikap sopan. Alec dan Rachel menjulurkan lidah tiap kali Ben melirik ke arah mereka minta diajak kabur, lalu tertawa terbahak-bahak melihat tampang pasrah cowok itu. Bahkan Caesar pun lama-lama risih menemani tuannya dan malah bergabung dengan kedua bocah itu.
Sam dan Jess sudah semakin akrab sepanjang siang ini, dan mereka duduk-duduk di beranda rumah, jauh dari pendengaran orang lain tapi masih dalam jangkauan pandang Mr Berrisford. Keduanya ngobrol seru sambil tertawa-tawa, bahkan beberapa kali Jess menabok lengan Sam. Alec dan Rachel pasang taruhan kapan mereka akan jadian.
“Kalian kapan pulang?” tanya Rachel sambil memotong sosisnya untuk separo dibagikan ke Caesar.
“Enggak tahu. Besok, mungkin?”
“Besok? Cepet banget!”
“Kenapa? Masih kangen sama aku?” seringai.
“Kutarik kembali kata-kataku. Balik ke Lawrence sana.”
“Kau bisa ikut kalau kau mau.”
“Huh, sori ya.”
“Ben juga ikut, lho.”
“Apa?!”
“Yeah, Mom enggak tega membayangkan dia menghabiskan musim panas bareng ibunya!” Alec terkekeh-kekeh. Rachel geleng-geleng kepala, ikut tertawa.
“Hei, jangan ngomongin ibu orang sembarangan,” tegur Ben, tiba-tiba sudah berdiri di depan mereka.
“Oh, kau sudah berhasil melepaskan diri dari sangkar gurita?”
“Diamlah,” kata Ben sambil memutar bola mata, sementara Alec dan Rachel ber-high five. “Omong-omong, aku heran kau masih tertawa-tawa begitu padahal mulai besok kau dihukum kurung,” tambahnya pada Alec, matanya berkilauan mengingat rencana Mary untuk saudaranya itu: dihukum kurung DAN disuruh belajar masak biar cekatan kayak Ben.
“Apa? Hukuman itu masih berlaku? Oh tidaaak, aku bakal mati,” erang Alec, mengusap wajahnya frustasi. “Eh, tapi enggak apa-apa. Kan ada kau.”
“Maaf ya, tapi aku enggak jadi pergi ke rumahmu. Mom harus berangkat lagi besok, jadi enggak ada alasan bagiku untuk ‘berlindung’ di rumahmu.”
“Oh, aku bisa bilang kau masih butuh bantuanku menyelesaikan beberapa masalah. Kau belum baikan dengan Keith, kan?” tanya Alec setengah memohon.
Ben terbahak. “Belum, tapi dia sudah melihat kita berdua waktu pulang pertandingan, dan kurasa dia akan lebih mudah menerima fakta bahwa kita kembar dan kau sempat menggantikanku daripada berpikir paranoid kalau dia melihat shapeshifter.”
“Dan akupun merasakan nyawaku mulai berkurang,” gerundel Alec. Gantian Rachel dan Ben yang tertawa.
Saat itu Caesar memilih untuk menyusupkan hidungnya ke cup es krim jumbo yang sedang dinikmati Rachel. Cewek itu memekik dan berusaha menyelamatkan es krimnya, tapi sia-sia.
“Aku mau ambil es krim dulu,” gerutu Rachel, bangkit berdiri dan berjalan ke lemari es yang diletakkan di dekat jendela. Si kembar terbahak-bahak melihatnya tersandung di tengah jalan.
Alec dan Ben berpandangan saat tawa mereka mulai reda, dan tiba-tiba suasana jadi agak canggung.
“Jadi….” Kata mereka berbarengan.
Ben tersenyum. “Kau duluan.”
“Tidak, kau saja.”
“Kau yang selalu membuka pembicaraan, Alec. Sudah tradisi.”
“Tradisi darimana tuh,” kata Alec, memutar bola mata. Kemudian ia menghela nafas, seolah mengambil ancang-ancang, dan berkata, “maafkan aku, ya.”
“Soal?” Ben mengangkat alis.
“Semuanya,” desah Alec, “soal pertandingan, dan Rachel, dan terutama soal uh, kata-kataku di telepon waktu itu.” Ia menunduk dengan malu. “Aku enggak bermaksud begitu. Dan sama sekali enggak berpikir begitu tentangmu, kalau kau butuh kepastian.”
“Yeah. Enggak apa-apa. Aku sudah tahu, kok,” kata Ben, tersenyum. Kadang, Alec berpikir kelak Ben akan jadi Santo karena sifat pemaafnya. “Aku juga minta maaf sudah membentak-bentakmu.”
“Oh, jadi waktu itu kau membentak? Kukira menggonggong,” seringai Alec.
“Oh, diamlah,” kata Ben, menonjok lengan saudaranya. Mereka tertawa, tawa yang langsung berhenti begitu mendengar Caesar mengeluarkan suara mendengking aneh.
“Caesar, salahmu sendiri. Berapa kali kubilang jangan memasukkan moncong ke dalam cup es krim?” Ben memegangi kepala anjingnya dan mencopot cup yang nyangkut di moncong Caesar sehingga anjing itu tampak seperti tikus mondok. Caesar menggonggong gembira dan menjilat pipi tuannya sebagai tanda terima kasih.
“Oh, dan omong-omong,” kata Alec lagi, setelah Caesar puas menjilati Ben dan meninggalkannya berbaring di rumput. “Aku akan tetap pergi ke Juilliard.”
“Oh ya?” Ben bangkit sambil mengelap wajah. “Kau enggak perlu memaksakan diri, kau tahu. Orangtuamu enggak mengharuskan begitu. Aku juga,” ia menginterjeksikan, “aku sudah tahu bagaimana menderitanya dipaksa melakukan sesuatu yang enggak kau sukai. Walaupun kau pernah suka.”
“Yeah, tapi aku sudah memikirkannya matang-matang, kok,” senyum Alec, “aku mungkin enggak terlalu tertarik lagi…. Tapi aku enggak bisa lepas begitu saja dari piano. Itu sudah jadi bagian diriku. Lagipula, kan itu juga yang membuatku ketemu kamu lagi.”
“Tapi….”
“Enggak apa-apa, aku toh enggak bakal tahan kuliah yang lain. Pelajaran biasa jauh lebih membosankan,” kuapnya. Ben tertawa. “Dan lagi, aku ingin kita sekolah bareng lagi. Kutunggu kau di Juilliard, calon adik kelasku.”
Senyum Ben langsung lenyap. “Entahlah, Alec. Aku mungkin enggak akan masuk ke sana.” Sulit untuk pergi ke sekolah seni kalau dia tidak mendapat pendidikan dasar yang cukup. Seperti ingin jadi insinyur dengan ijazah SD.
“Tapi kau ingin!”
“Yeah, tapi….”
“Ben, ayolah. Di baseball yang kau enggak suka saja kau bisa menang. Kau pasti bisa ke Juilliard.”
“Ayahku….”
“Kau kan belum bicara padanya. Dia pasti mengizinkan kok, percaya deh. Mungkin dengan syarat kau harus masuk tim New York atau apa, tapi pasti boleh.”
Ben tersenyum kecil. “Yeah, baiklah. Aku bakal berusaha.”
“Begitu dong, baru namanya saudaraku.” Alec menepuk-nepuk Ben. “Oh, apa sebaiknya aku mulai memanggilmu Dik? Kau toh bakal jadi juniorku dan aku selalu ingin punya adik.” yang menganggapku keren, tambahnya dalam hati.
“Ha-ha. Tunggu sampai ada hujan kodok dulu.”
“Hujan daun aja, deh,” tawar Alec, mengguncang batang pohon di belakangnya sampai daun-daunnya berjatuhan. “Tuh, sudah hujan, Dik.”
Ben menerkam Alec dan mulai menggelitikinya sambil bilang, “kakak enggak boleh ketawa kalau digelitikin! Enggak boleh ketawa kalau digelitikin!” yang tidak bisa dijawab Alec karena dia sibuk terbahak-bahak sambil menggeliat-geliut. Rachel yang baru kembali dari misi mencari esnya tidak mengerti apa yang terjadi, tapi menyaksikan adegan saling gelitik membuatnya tergoda dan ikut-ikutan menyerang Alec.
Malam itu termasuk salah satu malam terbaik bagi mereka bertiga.
* * *
“Hai, Dean.”
“Lisa! Sudah kutunggu dari tadi. Ayo masuk.”
Dean menyingkir dari ambang pintu untuk membiarkan pacarnya lewat. Gadis itu melenggang masuk sambil mengamati interior kamar yang bergaya aristokrat.
“Kamar yang bagus.”
“Yeah, Mom yang ngotot ingin menginap di hotel klasik.”
“Dean, enggak apa-apa nih, aku datang malam-malam begini?” tanya Lisa cemas, mendudukkan diri di kasur.
Cowoknya menoleh dari anggur yang tengah dibukanya dan tersenyum. “Enggak apa-apa. Justru harusnya aku yang tanya, kau enggak apa-apa kan, datang mendadak dari Lawrence kemari? Liputanmu bagaimana?”
“Sudah selesai, kok,” jawab Lisa, senang Dean menanyakan pekerjaannya. Akhirnya. “Dan aku memang berencana ke New York lagi. Ada pameran seni baru.” Yang ini dia bohong, cuma untuk melegakan Dean saja.
Dean membawa dua gelas berisi cairan merah dan mengulurkan satu pada Lisa, yang menerimanya dengan anggun. “Toss untuk kemenangan Ben hari ini?” ajak Dean.
“Aku enggak ngerti kenapa kita toss sementara orangnya sendiri enggak ada, tapi oke,” tanggap Lisa, menempelkan ujung gelasnya ke gelas Dean. “Untuk kemenangan Ben.”
Mereka menenggak anggur itu bersama-sama.
“Yang lain masih berpesta di rumah Ben,” Dean memberitahu, “kemungkinan besar Alec juga bakal menginap di sana malam ini.”
“Kau enggak ikutan?”
“Enggak. Aku ingin berpesta berdua saja denganmu,” bisik Dean. Lisa merinding, wajahnya panas dan ia ingin menyalahkan anggur, tapi dia baru minum segelas. Sudah lama mereka pacaran dan dia masih tidak tahan kalau Dean sudah bersikap begini.
“Kenapa ingin denganku?” bisik Lisa, berusaha bersikap sama kharismatiknya.
“Karena kau membuat semuanya lebih baik,” jawab Dean, bergeser mendekat. “Semua masalah selesai berkat kamu. Aku ingin berterima kasih.”
“Itu saja?”
“Karena Ben menyarankan agar aku lebih memperhatikanmu.” Bergeser lagi.
“Manis sekali. Tapi itu tidak cukup,” bisik Lisa, melakukan permainan tarik-ulur yang sangat dimahirinya. Inilah yang membuat hubungannya dengan Dean makin menyenangkan.
“Karena aku mencintaimu.” Mereka sudah sangat dekat sekarang, hembusan nafas Dean terasa panas dan lembut di wajah Lisa. Cewek itu melingkarkan kedua tangan ke leher pacarnya.
“Bagaimana dengan robotmu?”
“Aku masih punya tujuh ratus hari lagi untuk memikirkan itu,” desah Dean pelan, mendayu. Dan itu cukup bagi Lisa. Ia menarik Dean dalam cumbuan mesra, yang dibalas dengan penuh gairah, melampiaskan kerinduan akan bukti kasih sayang yang nyata.
Malam itu bintang berkilauan bagai permata, begitu pula hati dan jiwa Lisa. Berbaring di atas ranjang menatap Dean yang tertidur, panas tubuhnya masih melekat di tubuh kekasihnya, cewek itu tahu cintanya mekar lagi bagai bunga matahari yang tumbuh menghadap matahari musim panas. Indah dan pasti. Ia yakin, kisahnya dengan Dean telah mengalami kemajuan berarti.
END
Rabu, 18 Agustus 2010
Label:
Alec
,
AU
,
Ben
,
Dark Angel
,
Dean
,
Fanfiction
,
Sam
,
Supernatural
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
0 komentar :
Posting Komentar