Rabu, 18 Agustus 2010

BROTHERS IN BOND


Bus sekolah melambat dan berhenti persis di depan gerbang. Alec menarik topi baseballnya sampai menutupi separuh wajah sebelum menyisipkan diri ke barisan anak-anak yang bersiap turun. Dari pengalaman yang sudah-sudah, ia tahu bagian tengah barisan adalah posisi paling aman kalau mau menghindari masalah.


Cowok itu berhasil melintasi separuh halaman dengan selamat, sebelum deretan anak perempuan kelas enam di depannya – pagar yang ia gunakan untuk melindungi diri – tiba-tiba saling berpencar. Mendadak Alec jadi terekspos, matanya melebar ketakutan melihat geng Tom Davidson menyeringai ke arahnya dari undakan sekolah.

Sejak naik kelas empat, entah kenapa Alec jadi sasaran bulan-bulanan mereka. Ia pernah mengira itu gara-gara dia mendapat nilai lebih tingi di pelajaran Matematika daripada Tom, tapi setelah ditilik lebih lanjut, ketua geng itu niat sekolah saja tidak, mana mungkin peduli soal pelajaran. Atau mungkin karena fakta bahwa Alec satu-satunya anak cowok yang tidak bertambah tinggi setidaknya lima senti sepanjang musim panas. Lebih tepatnya, ia tidak bertambah tinggi setidaknya lima senti meski telah melewati dua musim panas, sehingga tingginya sekarang sama dengan anak kelas dua.

Alec mulai cemas jangan-jangan dia bakal kerdil selamanya. Sam sudah mencapai fase Ledakan Pertumbuhan impiannya sejak masuk SMP, dan tengah menyusul Dean dalam kecepatan cahaya. Sedangkan Alec, yah, Petugas Kesehatan Sekolah yang mengukur tinggi tiap satu semester bahkan menanyakan apa dia sudah minum cukup susu.

Dia curiga jangan-jangan ini ada hubungannya dengan menjadi anak kembar. Mommy pernah memberitahu bahwa ia dan Ben lahir prematur, itulah kenapa mereka lebih kecil daripada anak-anak lain. Tapi dulu itu tak pernah jadi masalah, baik baginya maupun orang di sekitarnya. Tidak ada yang meneriakinya “kuntet!” di koridor sekolah, tidak ada yang menyandung kakinya saat membawa nampan makan siang. Malah, dulu Alec dan Ben selalu dapat perhatian istimewa, karena tidak setiap hari kau melihat dua anak berwajah sama. Dulu anak-anak selalu memuji mata hijaunya, bukan menertawakan freckles yang menutupi wajah dan seluruh tubuhnya. Alec berpikir ini tidak adil, karena Dean juga punya freckles sebanyak bintang di musim dingin tapi tidak pernah ada yang mengejeknya – bahkan beberapa cewek menembaknya karena bintik-bintik ‘imut’ itu. Mungkin anak kembar yang terpisah ibarat sepatu mahal kehilangan pasangan, mereka jadi lebih tidak spesial daripada anak biasa.

Alec menarik nafas dalam-dalam. Dia tidak boleh menyesali keadaan – selama apapun ia meratapi nasib Ben tak akan secara ajaib muncul di sampingnya. Dan meskipun Alec takut setengah mati sampai rasanya mau ngompol, dia juga tak bisa terus berdiri di halaman. Selama masih dalam satu pagar sekolah, Geng Tom akan mengincar bagaimanapun caranya. Mereka akan menyetop Alec di undakan, atau menghampiri dan menggojloknya di halaman. Karena ujung-ujungnya berakhir sama, ia berpikir maju duluan akan terlihat lebih gagah.

“Coba lihat siapa yang bersembunyi di belakang kakak-kakak perempuan,” cemooh Tom begitu Alec sampai jarak dengar. Teman-temannya tertawa, persis serombongan hyena.

Alec mempercepat langkah tanpa melakukan kontak mata. Kalau beruntung, dia bisa mencapai pintu masuk tanpa perlu berhadapan dengan anak-anak setan itu.

“Whoops, mau kabur ke mana?” Tiba-tiba seluruh geng mengepung dengan Tom berhadap-hadapan dengannya. Oke, tidak beruntung.

“Minggir, Tom,” bentak Alec – atau dia bermaksud begitu, hanya saja suaranya lebih terdengar seperti dengkingan anjing ditendang. Anak-anak itu tertawa. Alec tak bisa bergerak saking takutnya, macam katak bertemu ular.

“Atau apa, kau mau mengadukanku ke Mommy?”

Mereka terbahak-bahak begitu keras, memblokir semua suara lain. Pipi Alec terbakar. Setelah kepergok dicium pipi oleh Mom beberapa minggu lalu, ia terpaksa menerima ledekan tak habis-habisnya dari mereka – bahkan mungkin tak akan pernah habis. Dia agak bisa menahan jenis ejekan itu tapi, sebab ia sudah menerimanya dari Dean dan Sam praktis sejak jadi anggota keluarga Winchester.

Yang membuatnya merinding adalah kata-kata Tom selanjutnya, diucapkan dengan seringai kejam seperti tokoh antagonis di komik-komiknya Sam.

“Walaupun aku akan hati-hati kalau jadi kamu, Alec. Ibu tiri enggak suka anak cengeng.”

Kalau tadi ia merasakan darah berkumpul di wajahnya, kini Alec merasa darah itu menguar, meninggalkannya sepucat patung marmer. Ia menelan ludah berkali-kali, berusaha menemukan jawaban pintar untuk membantah komentar itu. Tapi yang terucap hanyalah, “a… aku enggak tahu apa maksudmu.”

Tom mendengus. “Ah, pakai pura-pura enggak tahu segala. Sebenarnya aku sudah penasaran dari dulu kenapa kau enggak mirip kakak-kakakmu – lebih goblok, kalau boleh kujelaskan….” Ia berhenti untuk menikmati kekeh gerombolannya. “.... Dan ketika seekor burung kecil membisikkan rahasiamu, klik! Misteri terpecahkan. Kaget ya, aku bisa tahu, Alec Bukan-Winchester?”

Alec tidak tahan lagi. Ia mendorong Tom, tidak cukup keras untuk membuatnya jatuh tapi cukup untuk memberinya celah keluar dari kepungan. Ia berlari cepat menaiki undakan, diiringi suara tawa membahana geng itu.

“Awas, Alec! Ibu tiri juga enggak suka anak nakal! Jangan cari masalah atau kau akan dilempar balik ke Panti!” teriakan Tom berdering lebih keras daripada bel yang mengiringinya.

* * *

Sepanjang sisa hari itu, dan hari-hari sesudahnya, topik ejekan Tom dan kawan-kawan banting setir dari tinggi badan ke status Alec dalam keluarga Winchester. Mereka terus meneror dengan cerita-cerita ibu tiri kejam; mengatakan cepat atau lambat keluarga Winchester pasti akan bosan dengan anak angkat yang bisanya cuma nangis dan mengembalikannya ke Panti, di mana makanannya adalah jeroan sapi terinfeksi rabies. Mereka bahkan mengunci Alec di toilet lalu mem-flush buku catatannya hanya karena ia tak mau memberitahu nama keluarga aslinya. Alec sampai harus menjatuhkan diri dan melukai lututnya agar Mary tak curiga ketika dia pulang sambil menangis.

Sebagian dari dirinya tahu omongan Tom cuma bualan belaka. Keluarga Winchester adalah orang-orang baik yang menyayanginya seperti anak sendiri, dan soal Panti Asuhan, tentu saja mereka tidak memasukkan jeroan sapi sebagai menu utama! Dia kan pernah tinggal di sana! Tapi sebagian lagi, bagian yang tidak tahan didera tekanan mental bertubi-tubi, mulai menjerit panik. Harus diakui, bohong besar kalau Alec tidak pernah sadar akan statusnya sebagai ‘anak angkat’. Meskipun Mary tidak pernah membedakannya dari Dean dan Sam – kalaupun dibedakan malah lebih dimanja, menyebabkan kedua kakaknya memanggilnya ‘bayi’ – Alec terkadang gelisah juga. Dia berusaha melakukan yang terbaik dalam segala hal, agar Mary dan John tidak menyesal mengadopsinya. Dengan sentilan di tempat yang tepat, Tom berhasil mengubah rasa gelisah dan kecenderungan perfeksionis itu jadi paranoia.

“Dean, tolong bersihkan jendela ruang tamu, ya!”

“Aku lagi nyelesein PR!” seru Dean, menambahkan dalam gumam, “PR game maksudnya.” Lalu kembali ke game petualangan favoritnya. “Sammy! Bersihin jendela ruang tamu!”

“Enak saja, kan kau yang disuruh!” Sam balas berteriak dari ruang sebelah. Benar kata John, mereka seperti serigala primitif yang cuma bisa saling lolong untuk komunikasi.

“Aku lagi sibuk!”

“Sama, aku juga!”

“ALEC!” keduanya berseru nyaris berbarengan. Alec, yang sebenarnya duduk di sofa sebelah Dean tapi tidak disadari keberadaannya karena sang kakak terlalu konsentrasi ke game, terlonjak.

“Alec, bersihkan jendela ruang tamu,” perintah Dean setelah menangkap gerakan kaget adiknya.

“Apa? Tapi kan….” Si bungsu baru mau membantah, tapi tiba-tiba cerita Tom tentang anak yang dikembalikan oleh ruang tua asuh gara-gara membantah perintah terlintas di benaknya. Alec mendesah. “Iya deh.”

“Anak baik,” kata Dean sambil lalu, matanya terfokus ke layar televisi.

Alec beranjak dari sofa, mengambil sabun semprot dan lap. Dia harus berlatih jadi anak penurut sekarang; dua tahun ini dia sudah banyak menolak permintaan Mom, Dad, maupun Dean dan Sam. Siapa yang tahu kalau sebentar lagi tiba waktunya mereka muak dan memutuskan untuk mengirimnya kembali ke Panti – Panti yang sudah tidak ada Ben-nya? Keluarga Winchester adalah satu-satunya yang dimiliki Alec sekarang, ia tidak mau kehilangan mereka, terutama hanya karena masalah membersihkan kaca.

* * *

Semakin lama gencetan geng Tom semakin parah saja. Alec tidak berani lapor ke siapapun karena takut akan membawa masalah, dan ‘anak bermasalah’ berhubungan erat dengan ‘kembali ke Panti’. Ini membuat Tom dan gerombolannya makin leluasa. Kini mereka bukan cuma meledeknya atau menghadangnya tiap berangkat dan pulang sekolah atau menumpahkan makan siangnya atau menguncinya di suatu tempat, tapi juga memaksanya melakukan hal-hal memalukan dan membiarkan Big Boy, anjing pitbull milik Fred, salah satu anggota geng, mengejarnya keliling taman. Kadang, Alec juga dikerjai di luar jam sekolah, seperti waktu dia bersepeda ke toserba dan pulang dengan jalan kaki gara-gara bannya ditusuk paku.

Suatu hari di bulan November, Alec baru keluar dari tempat les pianonya (selain privat di rumah dia juga ke tempat les dua kali seminggu, untuk ‘memantau perkembangan yang lain’, begitu kata Mom) ketika ia melihat segerombolan anak, agak tersembunyi di balik pepohonan. Cuaca hari itu mendung, sebagian besar anak dijemput orangtuanya dan tentu saja, peruntungan Alec yang berkhianat memutuskan untuk membuat John tidak bisa menjemputnya karena tengah mendampingi Mary menghadiri reuni geng ceweknya waktu SMA.

Alec mengamati anak-anak itu dengan cemas. Selain geng Tom yang biasa, ada beberapa anak lain yang asing, dan cowok itu mendapat firasat dia bakal dijadikan bahan olok-olok lebih dari biasa. Ia menoleh kanan-kiri, berharap menemukan teman untuk pulang bersama, tapi yang tersisa tinggal mereka yang rumahnya dekat atau yang berlawanan arah, atau yang searah tapi tidak dikenal Alec. Pada saat ini dia menyesal tidak ikut-ikutan Sam merengek minta ponsel.

Akhirnya, karena langit semakin gelap dan nampaknya bakal turun hujan yang tidak akan mampu ditahan mantel, dan tempat les juga sebentar lagi ditutup, Alec nekat menuntun sepedanya keluar gerbang. Ia lebih merasakan daripada melihat ketika anak-anak itu mengambil posisi siap menyerang. Dengan jantung berdebar keras sampai rasanya memecah rusuk, Alec melompat ke sadel dan mengayuh sepeda secepat yang ia bisa.

Anak-anak berandal itu menyusul, seketika di belakang Alec ada hampir selusin bocah mengejarnya. Ini seperti film action, hanya saja Alec bukan lakon jagoan kung fu. Airmatanya mulai merebak, dia terus ngebut sambil menangis, berharap rumahnya lebih dekat, atau ada truk yang tiba-tiba menyambarnya sehingga dia tidak perlu ketakutan seperti itu.

Di tikungan, salah satu anggota geng berhasil menyalip dan membelokkan sepedanya di depan Alec, memblokir jalannya. Anak-anak lain cepat menyusul, dan dalam sekian detik saja Alec sudah dikerumuni anak-anak yang dari wajahnya pun sudah terlihat nakal.

“Lihat, Si Cengeng nangis,” cemooh Tom, menendang sepeda Alec keras-keras sampai cowok itu jatuh tersungkur. Tom melompat turun dari sepeda balapnya yang keren, yang membuat sepeda kecil Alec nampak seperti mainan bayi, dan berdiri di atasnya dengan gaya ngebos. “Kenapa pulang terburu-buru, huh? Kebelet pipis? Lupa enggak pakai popok, ya?”

Anak-anak tertawa. Alec mengusap wajah keras-keras, berusaha menghentikan airmata, tapi sia-sia.

“Padahal kami ingin mengajakmu main,” kata Tom lagi, menarik lengan Alec dengan paksa sampai ia berdiri. “Kau suka main dengan kami, kan, Alec? Daripada mainan keluarga-keluargaan dengan anak-anak Winchester? Iya, kan?” Tom mengguncang Alec keras-keras, seperti anak kecil mengguncang boneka untuk mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.

“Enggak,” isak Alec lirih, “jangan ganggu aku, please. Aku mau pulang.”

“Oooh… kau mau pulang, ya?” tiru Tom, mengatakan ‘mau pulang’ dengan suara cadel dibuat-buat. Gerombolan terkekeh. “Tapi, jasmu kotor tuh. Apa Mommy enggak marah kalau bajumu kotor?” ia menunjuk lumpur yang menempel di siku jas seragam Alec.

Alec menggeleng cepat, ia berusaha berjongkok untuk mengambil sepedanya dan pulang dan tidak keluar rumah lagi seumur hidup, tapi Tom menyentaknya lagi agar ia tetap berdiri. “Jangan bergerak! Siapa bilang kau boleh pulang?!” bentaknya. Lalu lebih lembut mencemooh, “kami kan mau membantumu membersihkan jasmu dulu, iya kan, teman-teman?” ia mengedarkan pandang mencari persetujuan.

“Yeah!” ujar suara di belakang Alec, membuatnya terlonjak. Sebuah tangan gemuk menarik jasnya dengan kasar. “Sini, kubantu melepasnya!”

“Enggak, jangan….” Alec memohon, tapi sia-sia. Ada empat anak mengerubutinya dan detik berikutnya ia melihat dengan ngeri jas seragam lesnya, yang wajib digunakan saat resital, tergantung di tangan Tom yang menyeringai.

“Nah, enaknya dicuci di mana, yaaaa?” Tom celingukan mencari tempat yang tepat. Matanya terhenti pada kubangan lumpur di rerumputan. “Oh, disitu saja!”

“Jangaaan!” Entah mendapat keberanian darimana, Alec melompat menerkam Tom, persis sebelum cowok itu mencelupkan jasnya ke lumpur. Ia terpekik kaget dan membanting jatuh Alec dalam sekali gerakan, wajahnya murka.

Kejadian setelah itu terasa kabur bagi Alec. Ia didorong jatuh ke lumpur bersama jasnya, mukanya digosok-gosokkan ke tanah basah itu dengan kasar. Kemudian kepalanya dihamburi kertas-kertas partitur materi lesnya, dan kaki-kaki menginjak-injak kertas dan jasnya, menenggelamkan semuanya ke lumpur seolah itu bukan benda berharga. Alec bahkan tidak menahan diri untuk menangis keras, dia menangis dan memohon dan berusaha menghentikan anak-anak itu sekuat tenaga, suaranya hilang ditelan guyuran hujan yang tiba-tiba turun, seolah awan juga ingin ikut pesta menyiksa Alec.

Kemudian, tiba-tiba saja, semua berhenti. Anak-anak itu agaknya bosan, atau malas hujan-hujanan, dan meninggalkan Alec begitu saja di tengah kubangan lumpur, sisa-sisa partitur dan jas yang robek mengambang di dekat kepalanya. Alec tidak ingin bergerak, dia ingin tenggelam saja dalam lumpur dan menghilang selamanya. Tapi akhirnya ia bangkit, mengambil jas dan tasnya yang putus, memasukkannya ke keranjang sepeda dan berjalan menuntun hadiah selamat datang dari John itu sebab beberapa besinya peyot parah, mungkin tadi juga diinjak-injak.

Alec masih menangis ketika tertatih-tatih menuntun sepedanya masuk taman, jalan pintas untuk pulang.

Alec masih menangis ketika melihat sebuah kotak telepon umum, sedikit suram tertutup kabut.

Alec masih menagis ketika ia masuk ke dalamnya, mengeluarkan beberapa receh dari saku celana, dan memutar satu-satunya nomor yang terpikir di benaknya.

* * *

Dean menatap ke luar jendela. Hujan deras yang tumpah bagai air dari ember cucian membuat penyakit malasnya kambuh, dia enggan melakukan apapun selain mengonggokkan diri di sofa seperti handuk basah. Suara nyaring Sam membahana dari ruang tamu, ia sedang berlatih pidato bahasa Jepang yang akan dibawakannya untuk menyambut murid pertukaran pelajar. Dean sesekali mendengus tertawa mendengar lidah Amerika adiknya mengucapkan kata-kata aneh.

Dering telepon mengacaukan derai monoton air hujan di atap dan menghentikan monolog Sam. Ada perdebatan singkat, lagi-lagi dengan teknik serigala primitif, sampai akhirnya Dean mengalah dan menyeret tubuhnya ke meja telepon dekat guci yang, menurut John, berasal dari Suku Maya.

“Halo?”

“Dean….”

Satu silabel itu mengirim pisau es ke hati Dean. Ia melirik jam dinding, mengutuk diri sendiri yang tidak menyadari sesuatu lebih cepat. Alec. Alec harusnya sudah pulang sekitar setengah jam yang lalu.

“Alec, ada a – kamu di mana?” Dean berusaha menekan letupan panik di dadanya, walaupun yeah, dari kecepatan bicaranya saja ia tahu usahanya tidak berhasil.

“Dean….” Alec terisak keras, “Dean….”

Lalu sebelum Dean sempat bertanya lebih lanjut, Alec menangis seperti bayi, tepat di telinga sang kakak. Di situasi lain, Dean bakal marah dan menjauhkan telepon untuk melindungi inderanya, tapi saat itu ia hanya bisa mendengarkan sambil terpaku, merasakan ketakutan dan kesedihan Alec via kabel.

“Alec, sssh… sssh… tidak apa-apa, tidak apa-apa. Jangan nangis.” Dean benar-benar berharap bisa memasukkan tangannya ke telepon dan mengelus-elus kepala adiknya. “Tenang, ya. Semua akan baik-baik saja. Sudah, sssh… sssh…”

“Eng… enggak bisa pu… pulang,” Alec sesenggukan.

“Aku akan menjemputmu. Ya, Alec? Aku akan menjemputmu. Kamu di mana?”

Alec tersedak dan menangis lagi, dan Dean harus ber-sssh sssh cukup lama sampai ia bisa bicara lagi. “Ta… taman,” bisiknya diantara isak.

“Taman dekat tempat lesmu? Oke, aku akan ke sana. Tunggu, ya.” Dean menutup telepon dan bergegas mencari jas hujannya di lemari sepatu. Sam menyembulkan kepala dari balik pintu, alisnya berkerut.

“Siapa tadi?”

“Alec,” jawab Dean singkat sambil setengah berlari ke pintu menuju garasi. Ia tidak menjelaskan lebih lanjut, tak perlu. Sam langsung tahu begitu melihat ekspresinya dan ikut mengambil jas hujannya.

Tak sampai lima menit kemudian, mereka berdua ngebut menembus hujan, misi penyelamatan di tangan.

* * *

Kata pertama yang terlintas di benak Dean begitu melihat Alec adalah ‘salah’. Dari semua kata yang ada, ‘diam’ tidak pernah masuk dalam daftar deskripsi adiknya. Ia selalu berlarian kesana-kemari; mengoceh tanpa henti; dan ketika duduk pun kakinya masih naik turun, badannya masih bergoyang ke depan dan ke belakang. Jadi, melihat sosok Alec duduk tak bergerak di bangku taman, tak peduli basah kuyup diguyur hujan, adalah sangat salah hingga nyaris membuat Dean menangis juga.

Alec bahkan tidak mengangkat wajah ketika kedua kakaknya mengerem sepeda di depannya. Dean melompat turun dan berlutut agar bisa melihat wajah adiknya lebih jelas.

“Alec?”

Mata bulat yang biasanya berwarna hazel itu kini memerah, dan Dean membenarkan omongan Sam: adik mereka memang seperti anak kelinci. Seluruh wajah Alec tertutup lumpur, begitu pula dengan rambut pirang-coklat dan kemejanya. Ada luka gores di lutut dan sikunya, memerah oleh darah yang mengalir bersama air hujan.

“Alec, kamu kenapa?” tanya Dean cemas, memeriksa tubuh Alec barangkali ada luka lain yang tersembunyi.

“Ja… jatuh,” isak Alec. Mereka berdua menoleh mendengar suara sepeda roboh. Sam meringis.

“Sori, mau ambil sepedamu,” kata Sam, mendirikan sepeda Alec dan menuntunnya, lalu merantainya ke sepedanya sendiri. Sam memutuskan untuk tidak berkomentar atas besi-besi yang bengkok aneh – tak mungkin gara-gara jatuh, maupun jas yang kotor dan koyak di keranjangnya. Dean mengikuti teladan sang adik, untuk sekarang paling tidak.

“Ayo pulang, nanti masuk angin,” kata Dean sambil memakaikan jas hujan cadangan yang dibawanya ke tubuh mungil Alec yang gemetaran. Ia lalu menggendong sang adik, meletakkannya di boncengan, dan mulai mengayuh sepeda keluar taman.

* * *

Sampai di rumah, Dean langsung memandikan Alec. Di usia sepuluh tahun, Alec sudah kenal yang namanya malu dan risih, tapi kali ini ia tidak protes sama sekali. Bahkan boleh dibilang dia tidak mengeluarkan sepatah katapun sejak masuk rumah, hanya tatapan sayu yang menunjukkan suasana hatinya. Dean jadi tambah khawatir, jangan-jangan Alec cedera lebih parah dari yang terlihat, dan berkali-kali bertanya, “betul enggak ada yang sakit?” dan “kepalamu enggak terbentur, kan?” hanya untuk memastikan.

Mary dan John pulang setelah dikabari Sam. Jangan tanya bagaimana Mary menanggapi luka-luka Alec. Dia nyaris mencapai level histeris, dan entah karena kaget atau alasan lain, Alec jadi menangis lagi. Dia menangis dan tidak mau memberitahu apa yang terjadi persisnya, kenapa sepedanya bisa bengkok atau kenapa jasnya sobek. Dia cuma minta maaf berkali-kali sambil sesenggukan, membuat semua orang tidak tega. Akhirnya John menggendongnya ke kamar, sambil terus berbisik bahwa tidak, dia tidak marah Alec merusakkan sepeda pemberiannya – mereka bisa membeli yang baru kalau Alec mau, dan bahwa tidak apa-apa jasnya sobek, besok Mom akan mengantarnya ke penjahit untuk membuat lagi. Dean dan Sam ditinggalkan di bawah untuk menenangkan ibu mereka.

Malamnya Dean tidak bisa tidur. Hujan belum berhenti, malah jadi makin deras dengan petir menyambar bersahut-sahutan. Ia masih kepikiran tentang Alec, yakin terjadi sesuatu yang sangat mengguncang adiknya sampai-sampai mengubah si pengadu itu jadi pendiam,menolak menceritakan siapa yang menjahatinya. Yeah, Dean tidak bodoh, dia tahu Alec digencet hanya dari melihat kondisi barang-barangnya. Dia juga merasa sangat bersalah tidak segera menyadari penggencetan itu, tidak bisa melindungi adiknya sampai semuanya terlambat.

Mendesah keras, ia bangun dari tempat tidur, memakai sandal bulu hadiah dari pacarnya (hei, sandal itu hangat walaupun bentuknya kepala panda, jadi jangan tertawa!), lalu berjingkat-jingkat ke kamar Alec. Dia agak kaget mendengar Alec masih menangis pelan, biasanya jam segini dia sudah teler. Tapi jika dipikir-pikir, setelah kejadian tadi, dan demam ringan yang menyusul gara-gara kelamaan kehujanan, wajarlah kalau Alec jadi gelisah.

Dean menyusup pelan-pelan. Adiknya hanya berupa gundukan mungil tertutup selimut di atas tempat tidur, sesekali berguncang oleh isakan, dan tidak ada yang lebih diinginkan Dean daripada menghajar siapapun yang membuat Alec jadi begitu. Diam-diam ia duduk di ranjang Alec, meluruskan kaki, kemudian membaringkan diri, satu tangan merengkuh Alec dalam pelukan.

Alec mendesah. “Benny?” bisiknya setengah sadar.

“Bukan, Dean,” Dean balas berbisik, dalam hati sedikit cemburu karena Alec lebih mengingat saudara kembarnya yang kini entah di mana, daripada kakak yang sekarang menemaninya.

“Oh.” Alec bergeser sedikit untuk memberi Dean lebih banyak tempat.

“Enggak bisa tidur?”

Dean merasakan Alec menggeleng di dadanya.

“Pusing?” tanya Dean lagi sambil mengecek plester kompres Alec di balik rambutnya yang lembab. Alec menggeleng lagi.

Tiba-tiba terdengar petir menyambar, begitu keras sampai mereka berdua terlonjak kaget. Alec menegang dalam pelukan Dean, merintih pelan.

“Kamu takut petir?”

Alec mengangguk tanpa suara. Dean mengira dia tidak akan bicara apa-apa, tapi kemudian ia bergumam pelan, “dulu aku sama Ben tidur bareng kalau lagi ada petir.”

“Begitu?” tanggap Dean, terkejut karena setelah dua tahun, masih ada hal yang tidak dia ketahui tentang adiknya. “Kalau begitu, mulai sekarang, kau boleh tidur denganku kalau kau takut. Ya?”


“Mmm,” gumam Alec, dan Dean menunduk untuk melihat bibir mungilnya tersenyum kecil. Dean balas tersenyum.

Pintu berderit pelan, mereka menoleh untuk melihat Sam berdiri di ambang pintu sambil memeluk bantal. “Curang, aku enggak diajak,” katanya, cemberut. Dia memang tidak pernah mau ketinggalan.

“Balik ke kamarmu, Sam. Sudah sempit, nih,” usir Dean.

“Aku juga mau tidur bareng.”

“’Aku juga mau tidur bareng’. Yeah, kau ini dua belas atau dua tahun sih?”

“Sam bisa gabung, kok,” kata Alec pelan, “masih ada tempat buat kita bertiga.”

“Anak baik. Itu baru adikku,” kata Sam riang, naik ke tempat tidur sambil sengaja menginjak kaki Dean. Ia memposisikan diri di belakang Alec sambil memeluknya juga, sehingga mereka jadi seperti hotdog dengan sosis kecil di tengah.

“Kau enggak kepanasan, kan? Lukamu enggak sakit, kan?”

“Enggak apa-apa, kok.”

“Ya sudah.”

Suasana hening, hanya suara desah nafas dan rintik hujan memenuhi ruangan itu. Kemudian, tiba-tiba, Alec bertanya dengan suara kecil melengking seperti menahan tangis, “kalian enggak akan mengembalikanku, kan?”

“Apa? Mengembalikan ke mana?” tanya Dean bingung.

“Ke Panti,” jawab Alec merana, dan airmatanya tumpah tak terbendung. “Katanya anak yang merepotkan akan dikembalikan ke Panti. Aku merepotkan, kan? Aku merusak sepeda dan jas seragam. Tapi aku enggak sengaja. Aku janji enggak akan merepotkan lagi. Jangan pulangin aku, ya,” dia terisak-isak. “Aku sayang kalian. Aku senang punya kakak.” Dan seolah menegaskan itu, Alec menenggelamkan diri lebih dalam ke pelukan Dean dan Sam.

“Tentu saja tidak! Kami tidak akan memulangkanmu hanya gara-gara sepeda,” bantah Sam, mengelus-elus punggung Alec untuk menenangkannya. “Siapa yang bilang begitu, Alec?”

“Tom Davidson,” isak Alec, “dia juga bilang keluarga angkat enggak suka anak cengeng. Dan anak pendek. Dan tukang ngadu dan….”

“Sssh…. Sssh…. Hei, sudah-sudah,” bisik Dean, meletakkan telunjuknya di bibir Alec agar dia berhenti bicara, karena itu membuat hatinya sakit. “Itu enggak benar. Semua yang dia katakan itu bohong. Kami menyukaimu, Alec. Sangat, sangat menyukaimu. Tom Davidson enggak ngerti apa-apa.”

“Siapa Tom Davidson? Apa dia yang menjahilimu tadi sore?” tanya Sam, dan Dean mau tak mau tersenyum bangga. Rupanya adik tengahnya ini juga punya analisa tajam.

Alec tidak menjawab, tapi bahasa tubuhnya, bagaimana ia menegang lalu mengkerut ketakutan, mengatakan segalanya. Dean mengeratkan pelukannya, dan pada saat bersamaan, Sam juga melakukan hal yang sama. Naluri protektif seorang kakak untuk membentengi Alec dari hal-hal buruk bangkit dalam diri mereka.

“Kami enggak akan memulangkanmu, apapun alasannya,” bisik Dean, menggosok-gosokkan dagunya ke rambut Alec. “Kami enggak akan memulangkanmu walaupun kau merobohkan rumah ini. Walaupun kau menolak mencium Bibi Penny – yeah, siapa juga yang mau, dia bau nenek-nenek. Atau walaupun di kepalamu tumbuh semak mencurigakan seperti yang tumbuh di kepala Sam.”

Sam mencubit Dean yang meledek model rambutnya, tapi Alec setengah terisak, setengah terkikik pelan.

“Sudah, jangan nangis,” kata Sam, “kami akan selalu bersamamu, kok. Kau terjebak di antara kami seumur hidup. Seperti sosis di antara roti hotdog, dan Dean roti yang ada wijennya,” ia menambahkan dalam bisikan keras sambil menunjuk bintik-bintik di wajah Dean, membuat Alec makin terkikik.

“Yeah, itu berarti aku yang lebih cakep.” Dean menangkis jari Sam yang mulai menowel-nowel hidungnya untuk membuat Alec tertawa. “Dan yeah, kau adik kami, Alec. Dan selamanya tetap begitu.”

Setelah itu Alec jadi lebih tenang, tak lama kemudian ia bergelung tidur dalam pelukan kedua kakaknya.

* * *

“Awas kalau kau berani ganggu adikku lagi, bakal kurobek paru-parumu dan kumakan pakai saos sambel!”

Dean dan Sam berteriak bersamaan ke gerombolan anak yang lari tunggang langgang, Tom Davidson paling depan. Bocah petentang-petenteng itu baru saja merasakan bagaimana rasanya diangkat dengan kepala di bawah oleh dua anak Winchester, masing-masing sudah SMP dan SMA, dan diberi ancaman yang bakal membuat berandalan di sekolah Dean pun takluk.

Mereka lalu ber-toss, Sam tidak perlu lagi melompat karena sekarang tingginya cuma beberapa inchi lebih pendek dari Dean. Keduanya lalu duduk di bangku halaman SD yang sudah kekecilan untuk pantat mereka, menunggu Mary dan Alec keluar dari sekolah.

Tak lama kemudian yang ditunggu-tunggu muncul. Alec berlari penuh semangat dengan kedua tangan melambai ke mereka macam wiper mobil. Di belakangnya, Mary tergopoh-gopoh sambil membawa berbagai macam berkas.

Setelah kasus penggencetan itu, yang diadukan oleh Dean dan Sam karena Alec masih terlalu takut untuk bicara, awalnya Mary ingin melapor ke polisi. Tapi akhirnya masalah diselesaikan secara kekeluargaan antara keluarga Winchester, Davidson, dan pihak sekolah yang menurut Mary (dan disetujui Dean) ‘lalai menjaga anak didiknya’. Meskipun begitu, Mary trauma membiarkan Alec berada satu gedung dengan ‘si anak berandal’(wanita itu pastilah sangat murka sampai-sampai mengeluarkan labelnya yang langka), dan memutuskan untuk menarik anak bungsunya dari sekolah umum.

“Sekarang sudah resmi! Aku bakal sekolah di rumah!” kata Alec ceria. Ia melompat-lompat dari satu kaki ke kaki lain penuh semangat. Dean baru menyadari betapa jarangnya Alec gembira seperti ini sejak mulai digencet, dan senang melihat wajah berseri-seri itu kembali. “Dan coba tebak? Miss Gilbert yang bakal jadi guru privat Matematikaku!” sudah jadi rahasia umum – atau setidaknya rahasia Dean dan Sam – kalau Alec naksir ibu guru baru dari Kanada itu.

“Bagus. Mari kita rayakan dengan pancake Wilbur’s,” kata Dean, nyengir penuh harap pada Mary sambil mengambil berkas-berkas dari tangan ibunya. Mary memutar bola mata, tapi tidak menolak, jadi Sam dan Alec langsung balapan ke Wilbur’s Café depan sekolah yang terkenal akan pancakenya yang tebal dan punya dua puluh macam sirup.

Dean tersenyum menyaksikan dua adiknya berlari melintasi lapangan rumput, biarpun namanya ‘balapan’ tapi Sam tetap menggandeng tangan Alec agar tidak jatuh. Betapa dia sangat menyayangi keduanya dalam taraf sama, seimbang, tak peduli perbedaan silsilah atau darimana mereka berasal.

Persaudaraan, bagaimanapun juga, tidak selalu dimulai dengan darah.

END

0 komentar :

Posting Komentar