MIRROR IMAGE CHAPTER 4
Meski hanya berencana untuk mengunjungi Alec selama setengah hari, ujung-ujungnya Ben tinggal di New York sampai Tur Juilliard berakhir – apalagi kalau bukan karena paksaan dan, menurut Ben, tipu muslihat Alec. Saudaranya itu tiba-tiba membuat peraturan bahwa mereka baru akan bertukar tempat setelah Tur selesai.
“Yang benar saja. Kau nggak bilang begitu sebelumnya!”
“Yeah. Nah, sekarang aku sudah bilang kan?”
“Aku mau pulang.” Ben meraih ranselnya dan berjalan dengan langkah lebar ke pintu.
“Tunggu dulu! Tukar posisinya….”
“Batal.”
“BENNY!”
“Aku tidak bisa berbohong pada keluargamu selama itu, Alec! Aku bukan pemain teater!”
“Terus kenapa kau pikir bisa membohongi peserta tur ini?”
“Halo? Mereka belum kenal kamu sebelumnya! Enggak bakal ada yang tahu kamu hiperaktif atau enggak!”
“Hei, aku nggak hiperaktif!”
“Terserah deh. Pokoknya aku mau pulang.”
“Oke. Ya sudah kalau itu maumu. Silahkan pulang,” kata Alec, pasang muka cemberut ala anak kecil. “Aku enggak nyangka kamu segitu bosannya sama aku. Padahal aku pingin kita bisa liburan bareng, walaupun cuma empat hari. Kita kan sudah delapan tahun nggak ketemu, aku kangen. Tapi kalau kamu nggak kangen sama aku, ya sudah. Sana, main sama rottweiler kesayanganmu saja.”
“Jangan sok merana deh. Kau tahu bukan itu alasanku pulang.”
“Kalau bukan itu apalagi? Kau nggak akan menolak berlibur denganku kalau kau masih kangen. Kita sudah…”
“…. Delapan tahun nggak ketemu! Iya, oke!” Ben jadi senewen. Dari mana sih, Alec belajar merajuk seperti itu?
Mata Alec berbinar, senyum merekah di wajahnya. “Jadi? Kau mau ikut Tur bareng aku, kan?”
Ben meliriknya sebal, tapi menghempaskan kembali ranselnya ke samping tempat tidur. Alec bersorak.
“Yes! Itu baru saudaraku!”
Ben cuma mendengus dan memutar bola mata, capek menanggapi kembarannya.
Kenyataannya, yang disebut sebagai ‘Ben ikut Tur bareng Alec’ akhirnya berubah jadi ‘Ben ikut Tur menggantikan Alec’. Rupanya konsep dasar tur ini, yaitu mempelajari kesenian di kota New York, tidak menarik minat Alec sehebat Time Square dan Taman Bermain. Tiap kali ada jadwal nonton teater atau pameran seni, ia secara misterius jatuh sakit dan maunya bergelung saja di kasur. Ben sudah menasehati berkali-kali bahwa Alec harus memperhatikan perkembangan dunia seni kalau mau jadi pianis hebat, tapi saudaranya itu cuma melenguh tak jelas. Terpaksa Ben yang masuk bus Juilliard dan berusaha sebisa mungkin mendalami karakter ‘Alec’. Untung saja belum ada yang tahu kalau Alec punya kembaran (Ben agak heran dengan sikap cuek para pemenang ini, mereka bahkan tidak punya inisiatif untuk kenalan satu sama lain) jadi tidak ada yang curiga.
Walaupun demikian, diam-diam ia menikmati juga ikut Tur. Di hadapan Alec ia pura-pura menggerutu layaknya nenek tua, tapi sesungguhnya ia mulai melihat keuntungan di balik semua ini – di antaranya tidak perlu ikut latihan pagi yang menyiksa dan sia-sia bagi pemain cadangan. Selain itu, ketika menyaksikan karya para seniman, hatinya membuncah gembira. Meski terbilang dekat dengan New York, kotanya jarang mendapat informasi mengenai even-even seni, membuat Ben merasa bagai katak dalam tempurung. Bergabung dalam komunitas seniman membuatnya nyaman, ia merasa lebih dekat dengan masa lalu. Ia sudah lupa betapa damainya menyimak konser musik klasik, lupa keindahan teater, dan kemudian tur ini mengingatkannya kembali. Mengembalikan perasaan ‘di sinilah aku seharusnya berada’ yang telah hilang selama bertahun-tahun, tertutup oleh usaha membahagiakan kedua orangtua asuhnya.
Tak terasa, hari awal pertukaran pun tiba. Ben bisa dibilang menyeret Alec yang masih tiga perempat tidur dan belum mandi ke terminal, karena bus yang akan menuju kotanya hanya datang dua kali, pukul enam pagi dan tujuh malam. Karena pesawat Ben berangkat jam sebelas siang, tak ada pilihan lain selain mengikutkan Alec ke bus pagi.
“Kau ingat kan? Setelah bus ini berhenti di terminal, kau naik bus kecil yang warnanya kuning. Turun di halte nomor lima, dan ambil sepedaku di tempat penitipan di seberang jalan. Aku sudah masukkan denah ke ransel, jaga-jaga kalau kau lupa arah. Caesar kutitipkan di tetangga sebelah, Mrs Briston. Jemput dia, dan jangan lupa kasih makan tiga kali sehari…..”
“Hei Benny.”
“Apa?”
“Berhentilah bersikap seperti ibuku.”
“Oh.” Ben mengangkat bahu, seolah ia tidak bersalah. “Sori. Sulit untuk tidak bersikap begitu terhadapmu.”
“Sialan, aku bukan anak kecil, tahu.”
“Kalau begitu bersikaplah dewasa,” jawab Ben sambil lalu, kemudian mengambil ponsel dari saku jaketnya. “Nih, ponselku. Aku sudah menyetel alarm, siapa tahu kau nanti ketiduran dan bablas sampai Delaware.”
“Aku nggak akan ke-ke-ketiduran,” kata Alec sambil menguap lebar.
“Tentu saja tidak,” tanggap Ben, memutar bola mata. Ia memberikan ponselnya dan Alec juga memberikan miliknya. “Hati-hati di jalan.”
“Iya, iya.”
“Oh, dan Alec?” panggil Ben ketika saudaranya sudah naik ke bus. Alec menoleh. “Jangan muntah, ya.”
“Minggat sana,” balas Alec, lalu menghilang di balik deretan kursi.
* * *
Tak disangka, alarm yang dipasang Ben benar-benar menyelamatkan Alec dari bahaya nyasar. Cowok itu tidak sadar kapan ia tidur, semenit ia tengah memandang pinggiran kota New York yang berlalu cepat di luar jendela, menit berikutnya ia tersentak bangun oleh suara nyaring dan getar mengganggu dari sakunya. Memang saat itu bus belum sampai terminal, tapi rasa kaget dan malu cukup membuatnya terjaga sampai tujuan.
Perjalanan selanjutnya dengan bus kuning berlangsung lebih tenang, Alec yang sudah cuci muka di terminal tidak mengantuk lagi dan menghabiskan waktunya ber-SMS dengan Ben. Tak sampai setengah jam, halte nomor lima pun terlihat dan cowok itu melompat turun dari bus dengan gembira.
Udara sejuk yang sangat berbeda dengan New York menerpa Alec, ia menarik nafas dalam-dalam menghirup kentalnya wangi musim panas. Segera ia mengambil sepeda Ben di tempat penitipan (‘Ben! Speda u CANGGIH bgt!’ begitu SMSnya pada Ben) dan memulai perjalanannya ke rumah kembarannya yang, menurut kalkulasi, masih berjarak kurang lebih satu jam dari tempatnya berada.
Sengaja Alec tidak ngebut seperti biasanya kalau tidak di bawah pengawasan Mom. Untuk kali ini, ia ingin menikmati pemandangan pedesaan yang jarang ditemuinya di Lawrence. Sungguh sulit dipercaya bahwa kota ini hanya berjarak tiga jam dari hiruk pikuk kota New York. Ia melewati sebuah bukit kecil dengan rumah besar di puncaknya, pohon ek tua berdiri gagah di halamannya. Berdasarkan cerita Ben, Alec yakin itu pastilah rumah Rachel.
Akhirnya ia sampai juga di rumah yang akan ia tinggali selama seminggu ke depan. Rumah keluarga Anderson sangat mencerminkan pekerjaan kepala keluarganya sebagai pemilik kamp musim panas. Rumah itu besar, terbuat dari kayu, halamannya luas menghijau, dengan sebuah jaring tidur tergantung di antara dua pohon. Alec memasukkan tidur di jaring itu ke dalam daftar hal-hal yang akan dilakukannya selama jadi Ben.
Bagian dalam rumah juga tidak kalah kerennya. Setiap sudut menjeritkan kebebasan, dari aroma gurih pizza bercampur manis minuman ringan dan wangi kayu, sampai furniturnya yang ala pondok berburu. Alec memang belum pernah ikut kamp, tapi tempat itu benar-benar sesuai dengan imajinasinya.
Suara gonggongan anjing dari samping rumah menarik perhatian Alec. Ia keluar dan mendapati seorang wanita tua tengah memegangi tali kekang seekor rottweiler besar. Jelas sekali ia kewalahan menangani makhluk hitam berbulu itu, dan ekspresinya langsung berubah lega begitu melihat Alec.
“Ben! Syukurlah akhirnya kau pulang, Nak. Caesar gelisah terus di rumahku. Kurasa dia kangen padamu atau apa.”
Mengasumsikan wanita itu Mrs Briston, Alec mengambil alih tali kekang Caesar dan tersenyum. “Terimakasih, Mrs Briston. Biar saya urus dia sekarang.”
Mrs Briston mengangguk penuh syukur dan pergi meninggalkan cowok itu bersama anjingnya yang masih saja ribut. Segera setelah wanita itu menghilang dari jangkauan pandang, Alec berlutut dan melepas kekang Caesar.
“Oke, Caesar. Kau kenapa, huh? Lapar? Ayo kita lihat ada apa di da… Aaarrgghh!” jeritnya saat Caesar menerkamnya.
“Menjauh dariku!” serunya, mendorong rottweiler itu ke samping. Caesar jadi makin terusik, ia menggertakkan giginya galak, siap menggigit. Ketakutan, Alec lari terbirit-birit masuk rumah, anjing itu mengejar cepat di belakangnya, menyalak keras.
Alec naik ke lantai dua dan masuk ke ruang pertama yang ditemuinya, sebuah lemari; membanting pintu keras-keras persis sebelum Caesar menyusul. Buru-buru ia menekan tombol panggil cepat ke nomor Ben.
Telepon diangkat setelah dering ketiga. “Halo?”
“Benny! Kau mau membunuhku, ya?!” sentak Alec murka.
“Whoa, ada apa nih?” tanya Ben, berlomba dengan suara berisik di latar belakang. Kemungkinan besar ia sudah di bandara.
“Anjingmu itu!”
“Caesar.”
“Oh yeah, hebat. Kau mementingkan nama anjingmu tapi tidak mementingkan vaksinnya?!”
“Apa maksudmu? Dia baik-baik saja, kan?” Cemas.
“Harusnya kau tanya begitu padaku. Dia nyaris menggigit copot hidungku! Kau yakin dia nggak kena rabies?”
“Enak saja! Caesar anjing paling bersih di seluruh kompleks, tahu! Aku membawanya ke dokter enam bulan sekali!”
“Yah, kalau begitu, Mrs Briston kena rabies dan dia menularkannya ke Caesar. Mana mungkin anjing normal seagresif ini?!” Alec mendekatkan ponselnya ke pintu agar Ben bisa mendengar salakan Caesar. “Dia mengejarku seolah aku ini sandwich isi daging!”
“Benarkah? Anjing pintar.”
“Hei!”
“Memang begitu kenyataannya kok. Caesar nggak kena rabies, dodol. Dia tahu kau bukan aku.”
Hening sejenak sementara Alec menyerap informasi itu. “Masa? Kok bisa? Kita kan mirip banget. Aku bahkan sudah berjemur enam jam sehari biar kulitku terbakar.” Alec berjengit mengingat pengorbanannya minggu lalu demi memperoleh penampilan semirip mungkin dengan saudaranya.
“Anjing nggak membedakan kita dari penampilan, tapi dari bau,” jelas Ben. Kemudian menambahkan dengan nada mengejek, “masa begitu saja nggak tahu.”
“Yah, sori deh aku nggak hafal seribu satu fakta tentang anjing!”
“Jangan emosi gitu dong. Kau jadi mirip Caesar.” Ben kentara sekali menikmati kesenewenan kembarannya.
“Ugh! Berhenti mengejekku!”
“Kau yang bilang lho, aku sih nggak niat mengejek.”
Alec harus menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan sarafnya. Berdebat tidak akan menyelamatkannya dari situasi ini, apalagi melihat jam, sebentar lagi Ben harus mematikan ponselnya untuk naik ke pesawat. “Lupakan. Sekarang, bagaimana caranya menenangkan Caesar? Aku nggak mau menghabiskan seminggu musim panasku di dalam lemari!”
“Kau sembunyi di dalam lemari? Dari Caesar?” Ben terbahak-bahak.
“Yeah, ketawa saja situ. Lihat apa kau masih bisa ketawa begitu pulang dan menemukan Caesar sedang mengudap mayatku.”
“Uh, yeah, oke,” engah Ben, sesekali masih terkikik. “Berikan ponselmu pada Caesar. Biar aku bicara padanya.”
“Kau bercanda?! Dia bakal menjadikanku mainan kunyah begitu kubuka pintunya! Dan memangnya dia ngerti diajak ngomong via ponsel?!”
“Berhentilah mengeluh, Alec. Keluarkan ponselnya lewat lubang di bawah pintu. Dan tentu saja dia ngerti, dia kan anjingku.”
Sambil terus mengomel, Alec melakukan apa yang diperintahkan Ben, setelah sebelumnya mengeset ponsel ke loudspeaker biar Caesar bisa mendengar jelas (dan agar dia bisa menguping kata ajaib apa kiranya yang bisa mengalemkan anjing bar-bar itu).
“Caesar, anak baik, ini aku, Ben.” Nada bicara Ben santai, seperti sedang bicara dengan temannya saja.
Caesar menggonggong dan mengeluarkan suara kebingungan.
“Di sini, anak baik. Di telepon, kau mendengarku?”
Gonggong lagi, kemudian suara mencurigakan yang mengindikasikan Caesar menjilat sesuatu penuh semangat. Alec berdo’a semoga ponselnya tidak konslet.
“Benar, benar. Anak pintar,” puji Ben. Caesar menanggapinya dengan terengah-engah manja. Mau tak mau Alec kagum akan kecerdasan anjing itu.
“Nah, Caesar, dengar. Aku akan pergi selama beberapa hari. Orang aneh di rumah itu….”
“Hei, aku tidak aneh!” timbrung Alec otomatis, meski Ben jelas tidak bakal menggubrisnya.
“…. Bakal tinggal bersamamu selama aku pergi. Jangan khawatir, dia baik kok. Awasi dia ya, jangan sampai dia kena masalah.”
“Aku nggak akan kena masalah,” sahut Alec, sementara Caesar menjawab majikannya dengan gonggongan patuh, beda dengan yang tadi ditujukannya pada Alec.
“Bagus, anak baik,” puji Ben lagi. Lalu, “Alec, sudah beres nih. Dia nggak bakal mencabikmu lagi. Sudahan dulu ya, aku harus ke pesawat. Bye.” Suara tuut… tuut.. tuut… memenuhi udara.
Alec mengumpulkan keberanian, lalu perlahan membuka pintu. Setelah cukup yakin Caesar tidak akan menyerangnya, ia melangkah keluar. Cowok itu terlonjak melihat anjing itu masih duduk di depan lemari, ponsel penuh lendir tergeletak di sampingnya.
“Uh, hai, Caesar,” sapa Alec tolol, membungkuk untuk mengambil ponsel di bagian yang tidak bersimbah ludah. Rottweiler itu membalas dengan salakan bersahabat, yang tetap saja bikin Alec mundur selangkah. “Umm, kita berteman sekarang?”
Salakan.
“Oke, bagus.” Alec mulai menuruni tangga. “Aku lapar. Kau mau ikut makan?”
Caesar bangkit dari posisi duduknya dan membuntuti Alec, matanya tak pernah meninggalkan cowok itu. Meskipun telah berubah ramah, ia tidak mengingkari perintah Ben untuk ‘mengawasi Alec’.
“Jangan memandangku seperti itu, Caesar. Kau mengingatkanku pada ibuku.”
* * *
‘The mist of time is still concealing…’
“Deeann… Bisa diem nggak sih, berisiiiik…”
’The vision that I SEEK…’
“Deeeaaann!”
‘THOSE WHO DIED HAVE ALL….’
“DE…. Ugh!”
Alec terjatuh dari sofa dengan bunyi ‘blugh’ mantap. Ia berbaring menatap langit-langit selama beberapa detik, belum benar-benar sadar. Barulah ketika moncong Caesar yang hangat dan basah mengendus-endus mukanya – memastikan ia masih hidup, mungkin – cowok itu mengerang kesal dan meraba-raba meja. Diraihnya ponsel yang telah mengusik tidur siangnya. Tanpa melihat nama penelepon di layar, Alec langsung mengangkat dan menyentak.
“APA?!”
“Jangan ber-apa padaku, Ben Anderson! Kau lagi ngapain sih?” lengking suara dari seberang. Kalau tidak ingat sekarang sedang jadi siapa, Alec pasti langsung menebak itu Mom.
Cowok itu menatap nama yang berkedip-kedip di layar: Race, lengkap dengan gambar kontak sebuah mobil F1. “Rachel?” tanyanya dungu.
“Bukan, Britney Spears,” jawab Rachel kesal. “Kau baru bangun tidur, ya?”
“Uh, iya.”
“Sudahlah. Cepat mandi dan ke sini. Sebentar lagi makan malam siap, oke? Oke. Bye.” Cewek itu memutuskan sambungan tanpa ba-bi-bu.
Alec menatap ponsel yang berdenging, lalu bangkit dari posisi terlentangnya di lantai untuk melihat keluar lewat pintu kaca geser. Ternyata hari mulai gelap, langit cerah telah digantikan warna kuning pucat. Sejujurnya Alec malas makan malam di tempat Rachel – yang rupa-rupanya sudah jadi kebiasaan Ben – sebab dia punya rencana hidup satu minggu dari makanan pesan-antar. Dia kan sudah makan masakan rumahan selama enam belas tahun! Tapi Alec juga tidak enak hati menolak, maka dengan desah panjang, ia bangun dan terseok-seok menuju kamar mandi, Caesar mengekor di belakangnya.
Usai mandi dan berganti baju (ia harus menipu Caesar dengan sosis agar anjing itu tidak mengawasinya di kamar mandi – ia benar-benar harus menelepon Ben lagi agar dia meralat perintahnya ke Caesar), Alec bersepeda ke rumah Rachel. Beberapa orang menyapanya di perjalanan, yang anehnya lebih banyak orang tua daripada anak sebayanya.
Sesampainya di rumah Rachel, kehabisan nafas akibat tidak biasa menuntun sepeda menaiki bukit, Alec memencet bel. Ia mundur selangkah saat pintu dibukakan oleh… boneka beruang. Atau lebih tepatnya, anak perempuan yang sangat kecil sampai-sampai tertutup boneka beruang yang digendongnya.
“Hai, Ben,” sapa si bone – si anak, melambaikan tangan mungilnya.
“Uh, hai…. Sarah,” sapa Alec, saking kagetnya hampir saja lupa nama anak bungsu keluarga Berrisford itu.
“Suruh ke dapur sama Mom tuh,” kata Sarah sambil menutup pintu.
Bersyukur Ben telah menyuruhnya menghafal denah rumah keluarga Berrisford yang super besar, Alec berjalan menyusuri lorong dan memasuki beberapa ruangan untuk memotong jalan sebelum akhirnya tiba di dapur. Di sana ada dua orang wanita, semua membelakanginya, yang berambut keriting pirang sedang memasukkan buah-buahan ke dalam mangkuk besar, sementara yang lain, Mrs Berrisford kalau dilihat dari perawakannya, tengah mengecek daging di oven.
“Halo,” kata Alec untuk menarik perhatian.
Si pirang berputar anggun, senyumnya merekah begitu melihat siapa yang datang. “Benny! Akhirnya kau pulang juga!”
Alec terkesiap. Cewek itu cantik sekali, bahkan lebih cantik daripada Ruby, mantan pacar Sam yang dinobatkan jadi Ratu Prom (dan langsung putus darinya begitu dapat gelar itu). Rambut keemasan membingkai sempurna wajahnya yang ramah, cara jalannya berkharisma seperti putri, dan sosoknya memancarkan aura pink lembut. Rachel mungkin memang manis, tapi cewek ini? Bidadari.
“Hei. Senang enggak jalan-jalan di New York?” tanyanya sambil menowel hidung Alec. Cowok itu merasakan kupingnya memerah.
“Uh, iya, senang. Banget. Jess,” jawab Alec gelagapan. Andai Dean dan Sam, atau bahkan Ben ada di ruang itu, ini bakal jadi bahan lelucon seumur hidup.
Tawa Jess berderai. “Kota yang asyik, kan? Aku bisa mengajakmu lagi kapan-kapan, bareng Race dan Sarah juga. Aku tahu restoran yang enak, kalian semua harus coba,” katanya, “tapi sekarang, kita mau makan masakan spesial Mom….” Ia nyengir pada Mrs Berrisford yang geleng-geleng kepala. “… dan kau harus membantu. Bawakan koktail ini ke ruang makan, ya.” Ia menyerahkan mangkuk besar yang tadi diisinya pada Alec.
Cowok itu menuruti perintahnya seperti tersihir. Begitu sadar, ia sudah berada di ruang makan, dengan Rachel yang tengah menata piring dengan cekatan.
“Oh, hai Benny,” katanya, menengadah sebentar lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. “Taruh saja koktailnya di situ,” lanjutnya, menunjuk pinggir meja.
Lagi-lagi Alec cuma menurut saja, padahal biasanya dia selalu ribut kalau disuruh-suruh. Dia bahkan membantu Rachel menata serbet makan, meski akhirnya cewek itu harus mengulangi pekerjaannya karena Alec meletakkan serbetnya terbalik.
Tak lama kemudian Mrs Berrisford dan Jess datang membawa ayam panggang madu dan kentang saus jamur. Tanpa aba-aba Sarah dan seorang pria yang pastinya ayah Rachel bergabung, agaknya aroma masakan itu menarik perhatian mereka.
Makan malam di keluarga Berrisford tidak jauh berbeda dengan di Lawrence, sama-sama ribut. Tiap anggota keluarga punya kisah sendiri untuk diceritakan, dan ada saja yang berebut makanan – dalam hal ini Rachel dan Sarah, yang ujung-ujungnya juga melibatkan Alec yang terbawa suasana. Mrs Berrisford juga biasa-biasa saja melihat tingkah kurang sopan sahabat anaknya, mungkin sudah terbiasa dengan situasi makan yang ramai, sama seperti Mary yang sudah menyerah menyuruh anak-anaknya diam. Satu-satunya perbedaan adalah keluarga ini merupakan kerajaan cewek, berkebalikan dengan keluarga Winchester, yang hanya memiliki Mary sebagai penghuni tercantik.
Sehabis makan malam, Mr Berrisford membawa Sarah ke ruang keluarga untuk berlatih piano (tadinya beliau juga mengajak ‘Ben’ berkolaborasi biola, tapi Alec berkelit kupingnya sedang kemasukan air jadi tidak bakal bisa mendengarkan ritme dengan baik). Cowok itu agak bersimpati juga pada Sarah, yang merengek-rengek minta bolos latihan agar bisa bersantai seperti kakak-kakaknya. Persis Alec kalau di rumah, yang harus main piano sampai jari-jarinya pegal sementara Dean dan Sam menderita kram jari gara-gara kebanyakan main game.
Tapi saat ini, ia tidak mau mengingat-ingat tentang rumah. Ia mau bersantai dalam hidup Ben sebagai remaja normal. Dia dan Rachel pergi ke beranda atas, selain untuk menikmati pemandangan kota di bawah bukit, juga untuk menghindari tugas cuci piring.
“Kau ke mana saja di New York?”
“Ke mana-mana,” jawab Alec menggebu-nggebu, “kami pergi ke empat taman bermain, salah satunya khusus wahana permainan air, yang punya roller coaster tinggiii banget dan di bawahnya ada kolam airnya. Aku sampai naik tujuh kali saking asyiknya! Terus kami lihat New York dari Empire State Building dua kali, siang sama ma….”
“Empire State Building? Bangunan tertinggi di New York itu?! Gimana rasanya berdiri di puncaknya?”
“Canggih banget. Rasanya kayak jadi Godzilla dan mobil-mobil di bawah cuma semut yang bisa diinjek….”
“Ya ampun, kayaknya besok aku harus ajak Dad ke sana nih!”
“Harus itu. Terus kami ke Manhattan, mampir di Rockefeller Center. Sayangnya enggak bisa lama-lama soalnya tujuan utama kami bukan ke situ tapi mau nonton teater….”
“Kau pasti nonton banyak teater!” potong Rachel, entah kenapa terdengar senang sekali. “Nonton apa saja?”
“Uh.. emm…” Alec memutar otak mengingat-ingat pertunjukan-pertunjukan yang pernah ditontonnya, atau yang diceritakan oleh Ben. “Banyak. Teater kontemporer, Love Monster, ceritanya keren banget lho, tentang petinju buta di atlantis. Terus ada lagi Lillian Smith Story….”
“Aku pernah nonton itu!” pekik Rachel girang, “kemarin waktu nganter Jess masuk kuliah. Keren banget deh, aktrisnya itu lho, menghayati banget. Sayang aku nggak dapet tempat VIP, jadi nontonnya kurang jelas….”
“Sayang banget. Aku dapet tempat paling depan lho, aktrisnya kayak teriak-teriak di kupingku.”
“Terus-terus, habis itu ke mana lagi?” caranya bertanya dan menyimak akan membuatmu berpikir Rachel anak desa yang belum pernah ke New York, bukan cewek tetangga New York yang tiap tiga bulan sekali ke sana.
“Kami nonton kembang api di Central Park. Kembang apinya gede banget lho, lebih gede daripada kembang api tahun baru. Rasanya kayak langit meletus terus bintang-bintang meledak di sekitar kita. Siuu… siuuu…” Alec memeragakan letusan kembang api dengan tangannya. “Ada juga kembang api bentuk hewan, naga….”
“Naga?! Kayak di Lord of the Ring?!”
“Persis!” cengir Alec, matanya membulat senang teringat kembang api favoritnya itu. “Warnanya biru elektrik dan sayapnya lebaaaarr…” Cowok itu menjauhkan kedua lengannya sebagai empasis. “Di malam terakhir, aku dan Be… Alec, aku dan Alec pergi ke Time Square….”
“TIME SQUARE!” Rachel praktis histeris mendengarnya. “Ya ampun, kau ke Time Square? Beneran?”
“Yep. Percaya deh, tempat itu lebih terang dari seribu Delilah,” cengir Alec, mengutip lagu pop yang sering didendangkan Sam.
“Woow,” desah Rachel menghempaskan diri ke kursi kayu di beranda, tersenyum lebar, matanya menerawang penuh imajinasi. “Dalam empat hari, kau dapat pengalaman lebih banyak dariku yang sudah ke sana puluhan kali. Kamu beruntung banget, Ben.”
“Kau bukan orang pertama yang bilang begitu,” senyum Alec.
Tepat pada saat itu, Jess memunculkan kepalanya dari balik pintu, dahinya berkerut sedikit. “Benny, harusnya kau jadi penetralisir semangatnya Race, bukan pendopingnya,” tegurnya, meskipun wajahnya tampak geli.
“Ups, sori,” cengir Alec, pura-pura polos. “Tapi yang penting dia nggak overdosis, kan?”
Ketiganya tertawa.
* * *
Pukul sembilan malam, Alec menuntun sepedanya menuruni bukit Berrisford, hatinya berbunga-bunga. Belum pernah ia merasa sebebas itu, bermain sampai larut tanpa ada yang menelepon tiap lima menit sekali, atau jadwal berlatih piano menghantui waktu luangnya. Tambah lagi, besok pagi ada latihan baseball, dan ini kali pertama ia bakal main habis-habisan, peduli amat kalau tangannya sampai terkilir.
Alec mengayuh sepedanya sambil bersiul-siul. Udara malam musim panas yang hangat bercampur angin sepoi-sepoi membangkitkan semangatnya. Beginilah harusnya masa muda, dihabiskan untuk bersenang-senang dan memuaskan kegemaran, bukan duduk dalam rumah memainkan alat musik sampai tidak sempat mencari teman. Betapa sempurnanya hidup Ben, pikir Alec, nyengir. Dan betapa beruntungnya ia mendapat kesempatan merasakannya.
Di tengah perjalanan, Alec menengok kanan kiri, memastikan tak ada orang. Puas pada jalanan yang sepi, ia pun mulai bersenandung. Suaranya memang tak sebagus Dean atau se-pas nada Sam, tapi dia juga tidak parah-parah amat, kok.
“This ain't a song for the brokenhearted
No silent prayer for the faith departed
And I ain't gonna be just a face in the crowd
You're gonna hear my voice when I shout it out loud….”
Alec melepas kedua tangannya dari stang, bernyanyi lepas.
”It's my life
It's now or never
I ain't gonna live forever
I just wanna live while I'm alive
It’s my life!”
TBC
Rabu, 07 Juli 2010
Label:
Alec
,
AU
,
Ben
,
Dark Angel
,
Dean
,
Fanfiction
,
Sam
,
Supernatural
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
0 komentar :
Posting Komentar