Rabu, 07 Juli 2010

MIRROR IMAGE CHAPTER 6

Alec duduk di sebuah restoran bertema rock ‘70an, lengkap dengan lagu favoritnya, Apercu, diputar di latar belakang. Sebuah mangkok raksasa berisi es krim mangga berkilau menggoda di hadapannya, sungguh menggugah selera. Ah, akhirnya cita-cita makan es krim sepuasnya tercapai juga!


Tanpa menunggu lebih lama, Alec pun menyantap es krim itu. Ia mengerutkan dahi karena ternyata makanan itu tak berasa. Mungkin sendok esnya terlalu kecil. Ia melupakan sendok dan mulai menjilati es itu dari mangkok, sampai-sampai mukanya celemongan.

Tiba-tiba Mary muncul membawa baskom penuh air dan waslap. “Sudah berapa kali kubilang, jangan makan seperti kucing! Itu tidak sopan dan jorok. Lihat, mukamu sampai kotor begitu,” katanya, memandang Alec dengan mencela. Ia lalu mencelupkan waslap ke dalam baskom dan mulai membasuh muka Alec.

“Mmmffh! Mom, stop, aku bukan anak kecil!” protes Alec, berusaha menangkis tangan ibunya.

“Jangan gerak terus, Alec. Mukamu jadi enggak bersih-bersih,” kata Mary, kembali memasukkan waslap ke air dan mengelapkannya ke Alec tanpa memeras airnya dulu.

“Mom, ugh…. Kainnya masih basah! Ugh…” Alec terbatuk-batuk.

“Hmm… Kok masih kotor juga, ya? Mungkin waslapnya terlalu kecil?” Mary mengeluarkan sapu tangan lebar dari tas tangannya, begitu lebar sampai mirip taplak meja. Benda itu langsung menyerap semua air dalam baskom, dan Mary menempelkannya ke muka Alec.

“Mom! Mom, stop… stop! Aku enggak bisa nafas!” seru Alec panik, tapi ibunya tak menggubris, tetap meraupi wajahnya. “Mom, please!” permohonannya tertelan dalam sapu tangan dan suara musik yang makin lama makin keras sampai rasanya melingkupi Alec. Dia jadi merasa klaustrophobik. “Mom, sudah cukup. Stop! Mom… MOM!”

Alec tersentak bangun, langsung bertatapan dengan sepasang mata coklat besar. Caesar. Anjing itu menduduki dadanya dan menjilati seluruh wajahnya seolah ia adalah tulang karet. Di meja sebelah, ponselnya bergetar hebat, menjeritkan nada dering seperti orang kesurupan.

“Menyingkir dariku, Caesar,” gerutu Alec, mendorong menjauh makhluk hitam itu. Ia bangun, memegangi kepalanya yang masih pening gara-gara kaget, dan meraih ponselnya. Ben. Ngapain sih dia telepon pagi-pagi buta begini?

“Ngapain sih kau telepon pagi-pagi buta begini?!” salak Alec.

“Pagi buta apanya? Kau ada latihan pagi, kan? Pasti lupa deh,” sahut Ben dari seberang, terdengar lebih bugar dari saudaranya.

“Aku enggak lupa. Latihannya jam setengah tujuh,” tukas Alec sambil menguap. Ia melirik jam weker Mickey Mouse (heh) di sampingnya, dan meledak. “Ini masih setengah enam! ‘Pagi buta apanya’ apanya? Ini masih subuh, Ben!”

“Kau kan harus siap-siap sebelum latihan,” jawab Ben kalem, “sarapan dulu sana. Jangan sampai kau pingsan waktu suruh lari keliling lapangan. Bisa hilang pamorku nanti.”

Mengeluh panjang pendek, Alec turun ke lantai dasar, nyaris terserimpet Caesar yang menggelibet di kakinya. Ia agak kaget melihat dapur yang kosong. Biasanya, tiap bangun tidur, dia tinggal duduk dan menyantap apapun yang disajikan Mary.

“Bagaimana keluargaku?” tanya Alec sambil membuka kulkas mencari makan. Setumpuk makanan instan menyambutnya, mulai dari pai-lima-menit sampai steak beku, dan ia mulai bersenang-senang memilih lauk sarapan.

“Gila, aku hampir saja ketahuan! Ibumu itu!”

“Kan, kubilang juga apa.”

Alec mendengarkan kisah kekacauan yang dialami saudaranya sambil memasukkan bakpao ke dalam microwave dan memanaskan susu, sesekali terkekeh. Ben lalu menuntutnya untuk cerita tentang pengalaman memalukan di Deno’s. Awalnya Alec menolak mentah-mentah, tapi setelah Ben mengancam bakal mengaku ke keluarga Winchester, Alec terpaksa memberitahu. Versi betanya, tentu. Cukup Dean dan Sam saja yang tahu betapa memalukan kejadian itu sebenarnya.

Telepon rumah berdering tiba-tiba, membuat Alec terlonjak sedikit. Ia meletakkan ponselnya dan buru-buru mengangkat telepon di ruang tengah.

“Halo?”

“Benny! Bonjour mon bebe, comment vas-tu?” suara wanita berlogat Perancis menyapanya riang.

Alec menatap telepon, bingung. Hah?

“Err…. Siapa ini?”

“Aww, kau memang lucu, mon bebe,” tawa si wanita renyah. “Kapan terakhir kali kita bicara sampai kau lupa padaku, hmm?”

“Uh, tunggu sebentar,” kata Alec, berlari membawa telepon ke dapur dan menyambar ponselnya. “Ben!”

“Apa? Siapa yang menelepon?”

“Itu dia. Seorang wanita beraksen Perancis! Siapa sih?”

“Oh, ya ampun! Itu ibuku!”

“Ibumu orang Perancis?”

“Bukan, tapi dia lagi kursus Bahasa Perancis dan mempraktekkannya tiap ada kesempatan,” jawab Ben, “sori, aku lupa kalau sekarang jadwalnya dia menelepon.”

“Terus sekarang aku harus ngomong apa?!”

“Hmm… begini saja. Kau setel ponsel ini ke loudspeaker, biar aku yang bicara dengannya.”

Alec mengikuti instruksi itu, meletakkan ponselnya di samping telepon agar suara Ben terdengar jelas.

“Halo Mom.”

“Ah, akhirnya kau ingat juga, bebe. Momma-mu ini memang sulit dilupakan, iya kan?” Mrs Anderson menertawakan candaannya sendiri.

“Tentu saja, Mom. Kau Wanita Tak-terlupakan.”

Sang ibu tertawa lagi, dan Alec juga nyengir.

Pada akhirnya, Alec sarapan sambil mendengarkan Ben ngobrol dengan ibunya. Atau lebih tepatnya, sang ibu bercerita panjang lebar dan Benny jadi pendengar setia. Rasanya seperti menyimak talkshow di radio dengan cewek muda cerewet sebagai penyiar dan pemuda calon pendeta sebagai narasumber. Dari pembicaraan mereka juga, Alec jadi tahu saudaranya fasih berbahasa Perancis. Awalnya Ben menjawab semua omongan ibunya, yang sebagian besar salah secara gramatikal, dengan bahasa yang banyak menggunakan monyongan bibir itu. Lama-lama Mrs Anderson jadi keteteran sendiri dan bilang, “sudah ah, Ben! Pakai bahasa normal aja!”

Pada satu titik, Mrs Anderson mulai mendongeng tentang proyek barunya di sebuah film indie, dan menyebutkan nama aktris yang bakal diriasnya – Ellen Page. Jantung Alec seperti melompat ke tenggorokan. Ibunya Ben bakal merias seorang aktris peraih penghargaan! Dia benar-benar habis sabar mendengar Ben menanggapi hal itu dengan biasa-biasa saja, jelas sekali ia tidak tahu aktris mana yang sedang dibicarakan ibunya.

“Kau benar-benar merias Ellen?” seru Alec, menyambar telepon dari meja. Ia mematikan loudspeaker ponselnya. Peduli amat kalau Ben marah, yang penting dia harus tahu detail cerita Mrs Anderson.

“Ya, dan tak heran dia dapat penghargaan, dia memang berbakat,” jawab wanita itu menggebu-gebu. “Dan dia juga manis, beda dengan diva-diva bawel yang sukanya komplain itu. Aku bahkan foto bareng dengannya!”

“Foto bareng dengan Ellen Page?! Wow, Mom beruntung banget!” Alec berkata iri, “bisa mintakan aku tanda tangannya, kan?”

“Tentu bebe, sudah kumintakan. Buat Race juga.”

“Bisakah kau mintakan satu lagi?”

“Apa? Buat siapa?”

“Uh…. Temanku. Teman baikku.”

“Oh, oke. Nanti kumintakan,” jawab si ibu ringan, seolah meminta tanda tangan aktris segampang membeli coklat. “Ah, coba lihat jam berapa sekarang? Aku harus berangkat kerja. Sudah dulu ya, bebe. Kutelepon lagi minggu depan.” Ia mengeluarkan bunyi kecup keras. “ILU, mon bebe. Xoxo.”

“Eh, iya. ILU juga,” jawab Alec gugup. Ya ampun, ibunya Ben kayak anak gadis saja!

Segera setelah telepon ditutup, Alec kembali ke ponselnya untuk menerima omelan Ben. Tidak lama-lama tapi, karena Alec langsung memotong dengan bertanya di mana Ben meletakkan setelan dan sepatu olahraganya – yang malah dijawab dengan ceramah, “harusnya kau menyiapkan semua itu tadi malam!”

Alec berangkat ke sekolah Ben naik sepeda. Tadinya dia masih bertelepon dengan saudaranya itu, tapi begitu tahu kembarannya bersepeda sambil pakai telepon, Ben langsung mengakhiri pembicaraan, takut Alec jatuh gara-gara tidak konsentrasi. Alec memutar bola mata. Ben cocoknya jadi anak kandung Mary.

“Ben! Akhirnya kau ikut latihan lagi!” sapa seorang anak yang agak mengingatkanmu pada tikus tanah, ketika Alec sedang memarkir sepedanya dekat lapangan baseball.

“Uh, yeah, pagi,” jawab Alec, tidak tahu siapa anak itu. Dari kaos yang dipakainya sih, dia anggota tim juga.

“Bagus, aku enggak tahan latihan sendirian. Anak-anak tim inti benar-benar punya stamina kuda. Aku ketinggalan terus kalau lari sama mereka,” keluh si anak, mengerjapkan mata kecilnya dengan cepat seolah kelilipan.

Oh, Keith, pikir Alec sadar, teringat cerita Ben. Memang sih, dari penampilannya sudah kelihatan dia pemain cadangan. Bukannya menghina, tapi dengan badan kurus pendek dan mata kecil yang kayaknya tidak fokus itu, tidak mungkin dia bakal dijadikan pemain inti.

“Hari ini Pelatih ingin kita memutari lapangan sepuluh kali dan latihan pukul-lempar-tangkap sampai siang,” kata Keith, bergidik. Membayangkannya saja dia sudah capek. Anehnya, Ben yang biasanya ikut mengerang malas malah tampak bersemangat. “Kok kau kayaknya senang, sih?”

“Oh, aku memang senang kok,” jawabnya, menyeringai lebar, seolah tak ada yang lebih indah baginya daripada latihan baseball.

Tepat pada saat itu, Pelatih meneriaki mereka dari tengah lapangan. “Parker! Anderson! Cepat ke sini, dasar makhluk-makhluk lamban!”

“Kami datang!” seru Alec, lalu nyengir lebar pada Keith yang kebingungan. “Ayo, kita sikat latihan ini!”

* * *

Usai bertelepon dengan Alec, Ben berdiam di kamar membaca-baca buku lagu milik saudaranya. Tiba-tiba terdengar gerungan menakutkan dari kamar sebelah, seperti beruang mengamuk, diikuti teriakan “DEAAANNN!!” lantang dan derap langkah berat. Penasaran, ia pun keluar dan turun ke lantai utama, di mana suara orang terpingkal-pingkal kini membahana.

Cowok itu mengintip ke ruang keluarga untuk mendapati Dean sedang duduk di sofa, terkekeh-kekeh sambil mengusap airmata, dan Sam, Sam yang rambut coklatnya entah bagaimana kini berwarna biru elektrik; berdiri tegak di depannya, melotot galak.

“Kau masukkan apa ke shampoo-ku, Dean?!” gelegarnya.

“Semir rambut instan!” bahak Dean, “Aku enggak nyangka hasilnya bakal sebagus ini!” Dia menunjuk Sam dan tertawa keras.

“Aku ada kencan dengan Maddie siang ini!” teriak Sam murka. Dia terlihat sangar sekali kalau sedang marah. Wajahnya yang biasanya ramah berubah keras, didukung postur tubuh tinggi besar, dia jadi persis Golliath. Ben heran kok Dean bisa tenang-tenang saja menghadapinya.

“Lho, bagus kan,sekarang kalian jadi makin serasi,”seringai Dean. Ia melihat Ben berdiri di ambang pintu dan berkata, “Oi, Alec! Coba lihat rambut baru Sammy. Bagaimana menurutmu?”

Sam menoleh padanya, masih dengan ekspresi ganas, dan Ben benar-benar ingin kabur ke dapur menghindari konflik. Tapi saat ini dia sedang menjadi Alec, dan Alec tidak pernah menghindar dari masalah, justru melibatkan diri ke dalamnya, menganggap itu sesuatu yang menyenangkan. Saat ini dia sedang menjadi Alec, yang pasti akan melontarkan komentar pintar-tapi-menyebalkan dalam situasi begini. Ben berpikir cepat.

“Kau kayak taman bunga corn,” celetuknya. Ia tidak tahu komentar itu memenuhi standar Alec atau tidak, tapi melihat Dean yang tertawa makin histeris dan muka Sam yang tampak siap merobek-robeknya, mungkin itu cukup bagus.

“Taman bunga corn, katanya! Taman bunga corn!” Dean memukul-mukul sofa saking gelinya. “Anak pintar, Alec!”

Sam menggeram kesal dan menerkam abangnya. “Tunggu pembalasanku, Dean!” serunya.

Ben cuma geleng-geleng kepala dan pergi ke dapur sementara kedua anak Winchester itu bergulat. Seperti anak kecil saja. Lebih baik ia menjauh sebelum terlibat dalam ‘olahraga pagi’ mereka.

Di dapur, Mary sedang memasak sarapan pagi sambil bersenandung, sama sekali tak terpengaruh ribut-ribut di ruang sebelah. Ben tersenyum kecil melihat beragam makanan tersaji di meja, ada roti, sosis, telur, kentang goreng, bahkan minumnya pun ada dua macam, jus jeruk dan susu. Beda memang kalau ada ibu di rumah.

“Selamat pagi,” sapa Ben.

Mary menengok kaget, lalu tersenyum. “Alec, bikin Mom kaget saja. Pagi sayang.” Ia mencium pipi Ben.

Terdengar suara ‘prang!’ keras dari ruang keluarga, disusul seruan ‘oh ya ampun! Kau sih!’-nya Sam dan ‘tidak apa-apa Mom, vas bunganya tidak pecah!’-nya Dean. Mary mendesah sambil mengedikkan kepala.

“Kenapa lagi kakak-kakakmu?”

“Meributkan taman bunga corn,” jawab Ben, mengangkat bahu.

“Heran sama mereka berdua,” kata Mary, tapi ada senyum geli di wajahnya. Ia kembali mengurusi masakannya, kue dadar, dan berkata, “duduk, Alec. Sebentar lagi sarapan siap. Tinggal bikin kue dadar saja.”

“Umm… ada yang perlu kubantu? Aku bisa bantu bikin juga, biar cepat selesai.” Ben menawarkan diri. Ia terbiasa jadi asisten dapur di rumah Rachel, bagaimanapun juga.

Mary mengangkat alis. “Kau yakin?” Alec kan biasanya beralasan ini-itu kalau dimintai tolong. Kenapa sekarang malah mau jadi sukarelawan? Dan memangnya dia bisa masak? “Kau bisa bikin kue?”

“Iya, tenang saja, Mom,” senyum Ben, memanaskan teflon dan menuang adonan dengan terampil. “Aku sudah biasa, kok.”

Di tengah-tengah prosesi masak, ketika Mary memberitahu Ben bahwa biolanya akan diantar besok pagi, Dean mengendap-endap ke dapur untuk mengambil sapu dan kresek. Ia berhenti ketika melihat Ben.

“Buset, Tur Edukasi Juilliard berhasil banget. Mom, tahun depan, masukin Sam ke sana ya.”

* * *

Sam naik ke kamarnya sambil menggerutu. Hari ini jelas bukan hari baiknya. Pagi hari sudah diawali dengan perubahan warna rambut; lalu Dean dengan bodohnya menyampar vas kesayangan Mom itu waktu mereka lagi bergulat, tapi tidak mau mengakuinya seorang diri; dan akhirnya Sam pun ikut kena hukum memotong rumput (tanpa alat!), di bawah matahari musim panas. Sumpah, ejekan anak-anak yang lewat tentang rambutnya itu bikin dia ingin memotong mereka juga.

Cowok itu meraih ponsel dari meja belajarnya dan menelepon Maddie. Hal terakhir yang diinginkannya sekarang adalah kencan dengan ceweknya yang cantik, sementara dia sendiri kayak gorila biru.

“Halo?”

“Halo, Maddie?”

“Ada apa, Sam? Kau mau tahu bunga yang kuinginkan untuk kencan nanti?” Maddie terkikik manis. Ah, Sam paling tidak tega menghilangkan kikik itu darinya.

“Uh, tidak. Begini, Maddie….” Sam berdeham. “Aku kayaknya enggak bisa pergi siang ini.”

Hening sejenak, kemudian, “Apa?!” Maddie bisa dibilang menjerit, beda sekali dengan nada suaranya barusan.

“Yeah, maaf Maddie, tapi aku ada urusan mendadak….”

“Kita sudah merencanakan ini sejak seminggu lalu!”

“Aku tahu! Aku tahu, tapi…. Uh, aku sedang tidak bisa keluar rumah sekarang….”

“Kenapa memang, kau kena cacar air?!” tukas Maddie kesal.

“Umm… lebih buruk. Begini, aku punya masalah dengan rambutku….”

“Biasanya kau tidak malu saja jalan-jalan dengan rambut berantakan!” Maddie menggerundel, “model rambutmu payah, aku kan sudah bilang.”

Sam memutuskan untuk tidak menanggapi cemooh ceweknya. “Bukan begitu! Aku tidak bisa keluar soalnya rambutku sekarang berwarna biru!”

“Rambut biru?” ulang Maddie, ada getar berbahaya dalam suaranya. “Memang apa salahnya kalau punya rambut biru?”

Sam praktis memukul jidatnya sendiri. Gawat! Kok dia bisa lupa kalau Maddie….

“Tidak ada yang salah, Sayang. Tapi itu tidak cocok untukku, kau tahu. Rambut asliku coklat dan….”

“Rambut asliku juga coklat. Apa itu berarti biru tidak cocok buatku?” Sam bisa merasakan radiasi kemarahan Maddie dari telepon.

“Bukan begitu! Kau terlihat oke, tapi aku bakal kelihatan aneh….”

“BILANG SAJA MENURUTMU RAMBUTKU ANEH!” dentum Maddie membara, “AKU BENCI KAMU, SAM! KITA BATAL KENCAN!” Maddie memutuskan sambungan.

Sam menatap ponselnya yang berdenging dengan putus asa. “Itu yang tadi kukatakan,” gumamnya nelangsa.

Hari ini jelas bukan hari baiknya.

* * *

Sudah lewat tengah hari ketika Alec pulang dari latihan, ngebut dengan Rachel berusaha menyusul di belakangnya, senyum lebar terus terpasang di wajahnya. Hari ini jelas salah satu hari terhebat sepanjang hidupnya. Ini pertama kali ia ikut main baseball secara utuh, mulai dari pemanasan sampai pendinginan, bukan cuma masuk di tengah-tengah permainan dan mencetakkan satu angka untuk tim yang nyaris kalah lalu pulang. Dan orang-orang memuji gerakannya, bahkan si pelatih juga bilang dia sempurna. Mungkin kalau Alec yang ikut seleksi tim menggantikan Ben, dia bisa dapat posisi inti.

Rachel mengusulkan agar mereka mampir di warung es krim kecil dekat taman kota, yang langsung disetuji Alec, terbayang es krim mangga impiannya. Mereka baru melintasi seperempat taman ketika melihat seorang cowok kulit hitam bertubuh kekar sedang berkacak pinggang menghadapi seorang cowok culun yang terjatuh di trotoar. Dari bahasa tubuh mereka, Alec mencium aroma penggencetan.

“Oi!” panggil Alec, menjatuhkan sepedanya dan berlari mendekat. Rachel mengikuti teladannya. “Ada apa nih?”

Cowok kekar itu mendongak. Ternyata dia Mario, pentolan tim baseballnya Ben yang punya julukan Serigala Hitam. Seringai mengembang di wajahnya ketika melihat kedatangan Alec.

“Oh hai, Benny Boy, dan cewek pemain biola,” sapanya dengan nada merendahkan. Alec tidak suka anak ini, dia sombong dan suka pamer dan kelihatannya hobi mempermainkan Ben dan Keith.

“Rachel,” ralat Rachel mangkel.

“Ada apa ini?” ulang Alec, berdiri dengan sikap protektif di samping si anak culun. Dari wadah instrumen yang dibawanya, sudah pasti dia anak musik. Mungkin teman Rachel di orkes sekolah.

“Ah, bukan apa-apa,” jawab Mario enteng, melambaikan tangan seolah mengusir lalat. “Cuma, begini. Aku sedang jalan-jalan di taman, menikmati hangatnya musim panas sambil makan keripik kentang, dan kemudian McTwain Si Peniup Flute ini memutuskan untuk menabrakku dan lihatlah!” Mario menunjuk sebungkus keripik kentang yang tumpah di trotoar. Ia menggeleng sedih. “Dia menamatkan keripik kentangku!”

“Maafkan aku, aku benar-benar enggak sengaja!” lengking McTwain panik, dahinya berkilat oleh keringat dingin. Rachel membantunya berdiri dan menawarkan sapu tangan.

“Kau pikir maaf bisa mengembalikan keripikku, hmm?” tanya Mario dengan lagak guru menanyai muridnya. “Mungkin kau butuh sedikit sentilan di matamu, biar lain kali kau lihat jalan!” dia melayangkan tinju ke McTwain, yang hanya memejamkan mata pasrah.

Alec menghentikan tangan Mario sebelum mencapai muka McTwain. “Dia kan enggak sengaja. Lagipula, dia sudah minta maaf,” geramnya dalam, hingga nyaris terdengar seperti Caesar. Dibesarkan dalam keluarga yang saling melindungi, ditambah memiliki Dean sebagai panutan, membentuk Alec menjadi pribadi yang tidak tahan melihat penindasan.

“Jadi kau mau melawanku, Benny Boy?” kekeh si Serigala Hitam, menarik tangannya dari cengkeraman Alec. “Mau main pahlawan-pahlawanan biar dicium cewekmu, hmm?”

“Rachel bukan cewekku,” Alec mengulang perkataan kembarannya. Di saat yang sama, Rachel mengatakan, “aku bukan ceweknya.”

“Terserahlah.” Dan sebelum Alec siap, Mario sudah melancarkan serangan padanya.

Pada detik itu, Alec bersyukur mempunyai dua orang kakak yang suka tiba-tiba iseng sehingga melatih refleksnya. Memang dia tidak bisa menangkis serangan Mario seperti jagoan di film-film, tapi paling tidak, dia sempat berjongkok untuk menghindari pukulan itu.

Mario, di lain pihak, tidak seberuntung itu. Alec yang tiba-tiba menghilang dari pandangan dan pukulannya yang tidak kena sasaran membuatnya kehilangan keseimbangan. Ia terhuyung dan jatuh dengan bunyi berdebam, menindihi tangan yang menjadi senjatanya.

Alec berjengit mendengar bunyi ‘krek’ menyakitkan bersamaan dengan jatuhnya Mario. Ia menoleh dan mendapati penyerangnya itu mengerang tertahan sambil memegangi pergelangan tangannya yang menekuk dalam sudut aneh. Ini bukan pertanda bagus.

“Ka… Kayaknya tangannya patah deh,” kata McTwain gugup, masih dengan suara cemprengnya.

Alec memucat. Oh, tidak….

“Mario, Mario. Sori, aku enggak sengaja. Kubawa kau ke klinik, ya?” dia tidak tahu di mana bisa menemukan klinik di sekitar sini, tapi dia sangat panik sampai tak bisa berpikir jernih. Secara teknis bukan dia yang salah, toh Mario jatuh sendiri, tapi tetap saja….

“Tidak usah!” bentak Mario, susah payah bangkit berdiri tanpa mau menerima bantuan dari ketiga anak sialan itu. Dengan harga diri yang masih tersisa ia mengancam, “awas kau, Ben. Kau bakal menerima pembalasan yang jauh lebih hebat, begitu hebatnya sampai kau bakal menangis dan mencium kakiku memohon ampun. Ingat itu, Ben!” serunya marah, dan ia pergi sambil mendekatkan tangannya yang terluka ke perut, mengutuk sampai menghilang dari pandangan.

McTwain menatap Alec dengan kasihan. “Kau bakal tamat.”

“Yeah,” jawab Alec hampa, menelan ludah. Semoga dia bisa menyelesaikan masalah ini sebelum minggu berakhir…. Atau Ben-lah yang bakal tamat.

* * *

Pertama kalinya Ben keluar rumah keluarga Winchester adalah untuk pergi ke toserba. Saat itu sudah rembang senja, dan Mary secara misterius kehabisan kecap untuk masakan orientalnya (sebenarnya Ben tahu Sam memasukkan sebotol kecap itu ke wadah olinya Dean, tapi dia tidak mengadu. Itu perang mereka, dia tidak mau ikut campur). Karena Dean sedang sibuk dengan robotnya dan Sam bersumpah tidak akan keluar dari batas pagar rumah sebelum rambutnya kembali normal, tinggal Ben yang tersisa untuk pergi membeli kecap. Awalnya Mary agak enggan menyuruhnya, masih berpikir dia harus istirahat, tapi setelah Ben mengingatkan bahwa wanita itu harus menunggui ikan kukusnya agar tidak kelewat empuk; Mary pun melepaskan cowok itu, sekaligus menitipinya beberapa belanjaan lain yang harus dibeli.

Ternyata toserba itu lumayan jauh, entah karena memang jauh atau karena Ben terbiasa naik sepeda jadi berjalan kaki rasanya lama sekali. Di keluarga Winchester memang tak ada lagi sepeda, sejak Dean terserempet mobil waktu mengendarainya, Mary meloakkan ketiga sepeda di rumah itu dan berjanji bakal langsung membelikan mobil begitu anak-anaknya lulus tes mengemudi. Setidaknya mengendarai mobil lebih aman, begitu katanya, walaupun menurut Ben pribadi, keamanan itu tergantung pada pengemudi, bukan kendaraan.

Sampai di toserba, Ben bergerak cekatan mengumpulkan belanjaan yang dituliskan Mary dalam catatan kecil. Biarpun cowok, dia biasa belanja kebutuhan sehari-hari, itu salah satu syarat bertahan hidup sendirian. Tak sampai sepuluh menit, ia siap membayar ke kasir.

Alangkah kagetnya Ben ketika keluar dari balik deretan rak barang, dan langsung melihat adegan ciuman Perancis. Si kasir, seorang pemuda awal dua puluhan, sedang berlilit lidah dengan seorang cewek berambut biru dengan rok panjang menyapu lantai dan asesoris yang membuatnya tampak seperti toko perhiasan berjalan. Mereka berciuman begitu dahsyatnya sampai-sampai Ben cuma mematung di tempat, terperangah.

Beberapa detik yang rasanya bagai berjam-jam berlalu, dan akhirnya si cewek menyadari kehadiran Ben. Ia buru-buru menarik diri, tampak malu. Memang sudah seharusnya, dasar orang-orang tidak tahu sopan!

“Alec, kau lagi belanja?” sapa si cewek blo’on.

Ben mengerjap. Apa cewek ini baru saja memanggilnya? CEWEK MACAM INI KENALANNYA ALEC?! “Uh, yeah. Aku beli kecap,” jawab Ben sama blo’onnya, mengangkat keranjang belanjaan untuk menunjukkan apa yang dibelinya, walaupun tentu saja, cewek itu tidak benar-benar ingin tahu.

“Oh. Umm… Aku cuma mampir ke sini, kau tahu. Brad ini teman lamaku dan umm.. cuma ingin bilang halo,” si cewek berkata cepat, saking cepatnya lidahnya sendiri sampai tergigit.

Ben ingin memutar bola mata karena yeah, tentu saja, berciuman layaknya ikan koi lagi kasmaran sambil mengerang-erang begitu adalah sapaan ‘halo’ buat teman lamamu. Kebohongan orang ini bahkan lebih parah dari kebohongannya – dan Ben bukan orang yang pintar berbohong. Tapi dia cuma mengangguk saja, demi harga diri si cewek juga, yang tampaknya siap menembak kepala sendiri saking salah tingkahnya.

“Oke. Emm… kurasa aku harus pergi sekarang. Bye Alec, bye Brad.” Cewek itu berputar dan berjalan cepat keluar toserba. Tapi sebelum keluar, ia menoleh dan berkata, “Oh iya, Alec. Bilang pada kakakmu aku sudah tidak marah lagi padanya, ya. Bye!”

Dan mendadak semuanya jelas, Ben tahu siapa cewek itu. Maddie Si Rambut Biru. Cewek yang sangat disayangi Sam, yang dipujanya bagaikan dewi. Cewek yang ternyata lebih memilih penjaga kasir toserba daripada dia. Ben meletakkan belanjaannya di meja pembayaran, membalas senyuman salah tingkah si pemuda dengan senyum sinis.

Dia harus bicara serius dengan Sam setelah ini.

* * *

Sam berbaring dengan mata terpejam di kasurnya, membayangkan padang rumput luas menghijau, di mana ia bisa berlari-lari bergandengan tangan dengan Maddie. Sebuah dunia yang damai, tanpa seorang pun menertawakan rambutnya, tempat di mana Maddie adalah gadis polos periang seperti dulu, bukan cewek perengek yang sekarang. Ia nyaris tenggelam dalam kenyamanan imajinasi itu, ketika seseorang mengetuk pintu kamarnya.

“Aku sedang tidur, Mom!” kata Sam malas. Saat ini ia tak berminat jadi tukang icip-icip masakan.

“Ini aku,” jawab suara di balik pintu, dan Sam mau tak mau mengangkat alis heran. Sejak kapan Alec mengetuk pintu? Biasanya dia langsung nyelonong saja, tak peduli privasi kakaknya.

“Mau apa kau? Nertawain rambutku lagi?”

“Aku enggak menertawakanmu. Dan lagipula, aku mau bicara.”

“Yeah, kayak aku bego saja. Kau disogok Dean biar mau masuk kamarku, kan? Apa, kau mau menaburkan bubuk gatal di kasurku?”

“Tidak, Sam. Aku serius. Kita perlu bicara.”

Dan ya, nada Alec yang sungguh-sungguh, seolah ia memang perlu berbincang dengan Sam, membuat cowok itu bangkit dari kasur dan membuka pintu kamar. Jarang-jarang adik bungsunya ngomong serius begitu. Tiba-tiba Sam dapat firasat tidak enak.

“Apa, ayo cepet ngomong,” kata Sam, membuka pintu sesedikit mungkin agar adiknya tak dapat kesempatan menyelinap.

“Kau tidak menyuruhku masuk?” Alec mengangkat alis.

“Yeah, yang benar saja.”

“Aku tidak yakin kau mau aku mengatakan ini dalam jangkauan pendengaran Dean. Atau Mom.”

Sam mengerutkan dahi. “Memang soal apa, sih?”

“Maddie.” Alec membisikkan nama cewek itu seolah ia adalah rahasia terbesar Sam.

“Ada apa dengan Maddie?”

“Aku tidak mau membicarakannya di koridor, Sam.”

Cowok itu mendengus kesal. “Oke, masuk. Tapi kalau sampai kau jadi kaki tangan Dean….”

“Aku bukan kaki tangan siapa-siapa. Percaya deh.”

Alec masuk, Sam waspada terhadap tiap gerak-geriknya. Tapi tampaknya si adik tidak akan melakukan sesuatu yang berbahaya. Malah, dari caranya menyisir seluruh kamar Sam, ia seperti orang yang baru masuk kesitu pertama kali.

“Nah. Sekarang katakan, apa yang perlu kau bicarakan tentang Maddie?”

Alec, yang sedang melihat-lihat koleksi buku Sam dalam rak besar yang memenuhi satu sisi ruangan, menjawab, “aku… bertemu dia di toserba.”

“Itu saja?” Sam merengut kesal. “Kejutan, aku malah baru bertelepon dengannya siang tadi.” Dan bertengkar juga, tambahnya dalam hati.

“Tidak, umm…. Sebenarnya….” Alec menyisir rambutnya dengan jari, tiba-tiba tampak gugup. “Sebenarnya aku melihat dia… umm… kau tahu….” Ia mengerucutkan jari-jari tangan dan menempelkannya satu sama lain.

“Tabrakan?”

“Bukaan… yang begini ini, lho.”

“Apa, meruncingkan kuku?”

“Bukan! Ya ampun, masa enggak ngerti juga sih!”

“Langsung bilang saja kenapa?!”

“Dia berciuman dengan cowok lain,” Alec melepaskan kata-kata itu dengan cepat, lalu menunduk seolah ialah yang bersalah.

“Jangan bercanda, Alec,” ujar Sam tak percaya.

“Aku enggak bercanda! Beneran! Tadi dia berciuman dengan.... uh, kasir toserba langganan Mom itu. Aku lihat sendiri!”

“Apa ini lelucon lain yang kalian buat untuk mengerjaiku? Karena ini tidak lucu.”

“Sumpah, aku enggak bohong!”

“Maddie enggak akan melakukan hal seperti itu.”

“Terus siapa yang kulihat tadi, setan?”

“Mungkin. Mungkin kau kepanasan di New York dan berhalusinasi. Karena harus kukatakan, Alec, kau jadi aneh setelah pulang dari sana.”

“Ugh, kenapa kau tidak mau percaya adikmu sendiri, sih?” Alec berseru kesal, “malah lebih membela cewek enggak jelas kayak gitu! Pilih lagi prioritasmu, Sam!”

Kuping Sam memerah. Oke, cukup sudah! Dia sudah bersabar sepanjang hari menerima kesialan bertubi-tubi, dari rambut biru sialan sampai kemarahan Maddie, dan dia tidak sudi menambah penghinaan adiknya dalam daftar! Maddie cewek baik-baik dan Sam tahu itu, dia lebih mengenalnya daripada siapapun di rumah ini!

“Keluar,” geram Sam, menunjuk pintu. “Dan jangan berani-berani kau menghina Maddie lagi di depanku.”

“Tapi Sam….!”

“Keluar, Alec!”

Untuk sesaat timbul perasaan déjà vu, dulu pernah ada adegan seperti ini, ketika mereka masih kecil dan Sam mengusir Alec gara-gara sereal. Hanya saja tidak ada sereal kali ini, dan Alec tidak menangis lagi, dia hanya tampak tersinggung kemudian melengos melewati Sam. Sebelum keluar dari kamar ia bergumam, “cuma ingin bilang. Menurutku, kau pantas mendapat cewek yang lebih baik.”

Dan bersamaan dengan ditutupnya pintu, api kemarahan terhadap Alec yang telah padam bertahun-tahun silam, kembali menyala dalam diri Sam.

* * *

Adalah insting seorang ibu untuk mengetahui ketidakberesan pada anak-anaknya. Adalah insting seorang ibu untuk menyadari perubahan dalam diri putra-putrinya. Adalah insting seorang Mary untuk mencium kejanggalan pada putra bungsunya.

Ia sudah memperhatikan gelagat aneh Alec sejak ia pulang dari New York, tapi baru hari ini ia yakin, ada yang salah dengan si bungsu. Anak yang biasanya tak bisa diam itu, kini jadi lebih kalem – bahkan bisa dibilang pasif. Dia tidak mau berbaur dengan Sam dan Dean, tidak ikut serta dalam perang kejahilan mereka, dan lebih suka mengurung diri di kamar. Ia tidak menolak dimintai tolong, seolah malas mengeluarkan alasan berbelit-belit, malas bicara kalau tak perlu. Dia jadi gelisah jika dipandang lama-lama, seolah tengah menyembunyikan sesuatu dan takut ketahuan. Puncaknya, entah karena apa, ia dan Sam bermusuhan, padahal biasanya keduanya akrab bagai amplop dan perangko.

Maka malam itu, segera setelah putra-putranya tidur, Mary turun ke ruang keluarga dan membuka internet, mencari informasi tentang apa yang mungkin terjadi pada Alec. Dia curiga ini semua berkaitan dengan Juilliard atau New York. Mungkin Alec belum siap pergi kuliah, karena usianya masih terlampau muda? Mungkin dia mengalami suatu peristiwa buruk saat pergi dan takut menceritakannya? Mary teringat berita di televisi mengenai pelecehan anak-anak di bawah umur, bulu romanya berdiri. Oh Tuhan, semoga itu tidak terjadi….

Cukup lama Mary menjelajah dunia maya, berusaha mencocokkan semua perubahan tingkah laku Alec dan apa artinya. Sampai secara kebetulan, ia masuk ke situs milik panti rehabilitasi remaja. Dadanya sesak membaca ciri-ciri anak kecanduan narkoba, bagaimana mereka menarik diri dari kehidupan sosial dan kehilangan minat pada hal-hal yang dulunya mereka sukai. Makin sesak ketika ia menemukan sebuah kisah nyata tentang seorang ibu dari kota kecil yang anaknya jadi pecandu gara-gara berlibur ke kota besar.

Mary menekap mulut, matanya berkaca-kaca. Mungkinkah malaikat kecilnya…..?

TBC

0 komentar :

Posting Komentar